Berangkat dari  obrolan sama kakak disuatu pagi, tiba-tiba kalimat ini plesetan dari “Surga dibawah telapak kaki ibu” muncul jadi “Korupsi dibawah telapak kaki ibu”.  Kalimat yang lucu berikut terasa guyonan  yang terasa satir.  Kita semua melihat, membaca berita di web, koran, televisi, twiter, facebook pasti tahu pemberitaan tentang beberapa perempuan-perempuan Indonesia yang masuk bui karena korupsi.  Katakanlah Angelina Sondakh, dan paling mengejutkan adalah Ibu Ratu Atut yang tak lain adalah seorang gubernur Banten dan banyak lagi para Ibu yang harus melewati penjara karena korupsi.

Mereka adalah para ibu, ibu yang melahirkan anak manusia ke bumi dari rasa sakit hingga bertambah sakit.  Perempuan yang melahirkan dan mengelola nilai-nilai kehidupan. 
Ibu adalah akar kehidupan. Dalam tubuh manusia, tumbuh denyut nadi ibu.  Hasil diskusi dengan suami tentang “surga ditelapak kaki ibu”, kalimat ini diartikan sangat luas dan dalam. Surga tidak serta merta bentuk pengabdian anak pada ibu akan memberi jalan surga di akhirat (saja) tapi justru bagaimana peran Ibu mengarahkan keluarganya menjadi calon-calon surga.  Berakhlak dan berprinsip.
Berjuta Rasanya
Penulis: Tere Liye
Editor in Chief: Teuku Chairul Wisal
Editor: Andriyati
Cover: Mano Wolfie
Lay Out: Alfian
Penerbit: Mahaka Publishing, 2012
Hal/ukuran: vi + 205 hal.; 13,5 x 20,5 cm
ISBN: 978-602-9474-03-9
Harga:  Rp 40.000,00



Cover buku bergambar pohon dedaunnya bergambar hati warna-warni.  Dari judul dan dukungan desain cover bisa ditebak buku ini cerita-cerita seputar kisah cinta.  Dari setiap helai daunnya mempunyai kekuatan kisah cinta dengan motivasi dan beragam penafsiran, membuat pohon cinta ini menjadi satu kesatuan yang utuh bentuk cinta: Kehidupan.
Gambar itu semacam simbol yang mewakili beragam warna cinta dan cerita pendek di setiap bagian 15 judul dalam buku “Sejuta Rasanya.”  Tere Liye membangun imajinasi dan pemikiran setiap untaian cerita didalamnya.  Masing-masing mempunyai kekokohan cerita, penuh dan apik.  Cerita cinta Tere Liye mempunyai bentuk yang unik, seringkali pemikirannya diluar membangun sebuah sudut pandang terhadap “persoalan”. 
Sebagai urang sunda biasanya suka dengan makanan yang alami, seperti karedok leunca, lalapan, sambel goang, pepes ayam, dipadu dengan nasi merah dan asin.  Atau makanan yang serba sayuran lainnya seperti gado-gado, lotek, itu sedap sekali dan menggoda perut keroncongan di siang hari, ditutup dengan minuman teh tawar panas.  Sedap! 

Nah, rupanya pengaruh pasangan itu cukup tinggi yah, dalam segala, baik sudut pandang menghadapi hidup, sikap dan banyak yang lainnya, salah satunya menambah selera makan. Dulu paling tidak bisa makan makanan yang bersantan seperti sop Jakarta, sop buntut, belum apa-apa imajinasi tentang banyaknya minyak, gurih, cukup mengganggu tenggorokan, belum apa-apa langsung di hapus dalam daftar makan.  Sekarang sop Jakarta, sop buntut, sate padang, gule kambing, sampai lontong sayur padang menjadi makanan yang menyenangkan.
Ada ribuan nasihat Amih yang selalu diingat, dari bangun tidur, makan, pas mau pergi sampai tidur lagi, Amih tidak pernah berhenti memberi petuah a, petuah b, petuah c dan seterusnya.  Rasanya lelah dan menyebalkan mendengar setiap detik rasanya saya seperti orang yang selalu salah dimatanya.  Nasihat-nasihat ini diterima sebagai “amarah sang ibu”, disaat kita mengambil keputusan dan melakukan sesuatu yang dianggap tidak baik, tidak pantas, tidak oke-lah sebagai orang.  Ada dua kejadian yang saya tulis disini yang memotivasi saya tetap merasa “hidup”.
Tanggal 17 Desember, anak kami, de Bayan ulang tahun.  Ternyata waktu 1 tahun itu tidak terasa padahal banyak sekali kejadian yang terlewati.  Dari hal yang sederhana hingga yang luar biasa, proses batin yang naik dan turun, penentuan sikap dan percepatan dalam mengambil sebuah keputusan.  Disini kita berada, apa yang sudah dicapai selama setahun setelah melahirkan.  Bagaimana perkembangan anak-anakmu dan perkembanganmu sebagai perempuan dan ibu manusia. 
Resensi buku “Storycake for your life: Backpacker”
Penulis: Lygia Pecanduhujan, dkk
Editor: Fridia Novi Arimbi
Perwajahan Isi: Shinzy & Fajarianto
Perwajahan sampul: Mila Hidajat
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Ukuran/ halaman: 135 x 200 cm, 252 hal
ISBN: 978-979-22-9862-8
Harga: Rp 53.000,00



“Panggul ranselmu dan langkahkan kaki untuk melihat dunia!” Kalimat penutup pada judul “Backpacking: bukan sekedar ransel” dari Andreas Dwi Setiawan tampaknya cocok buat kita yang mau memulai jadi backpacker.  Karena menjadi backpacker tidak semudah yang dibayangkan, perlu perhitungan tepat juga mental  dan fisik yang kuat.


Penulis: Evi Sri Rezeki
Penyunting: Dellafirayama
Penyelaras aksara: Novia Fajriani
Penata aksara: Nurul M Janna
Perancang Sampul: Fahmi Ilmansyah
Penggambar ilustrasi isi: Anisa Meiliasyari
Penerbit:  teen@noura
Ukuran/Hal:  13 x 19 cm, 278 halaman
Harga: Rp. 48.500,00


“Dengar, Lena, kemenangan lahir dari proses, dari perjuangan!...”  
Sepetik dialog yang dilontarkan Rizki terhadap Lena pada novel Cine Us karya Evi Sri Rezeki.  Dialog ini seolah merangkum proses dan energi dari 3 sahabat yang selalu bersinergi mewujudkan Klub Film agar tetap hidup dan berkarya. 
Apa sih yang ada di kepalamu, datang ke sebuah acara di beda kota, menempuh 8 jam perjalanan, 3 hari plus perjalanan, sendirian (tanpa suami) sambil bawa anak usia 11 bulan. Lebay atau nekat? Saya malah nekat berangkat dan suamipun memberi hati mengizinkan.  Dan anehnya, kami bisa melewatinya. 

Kiri-kanan: Ima, Efi, Enggi, Erry
Tergiur dengan acara kopdar Blogger di Jogja, akhirnya saya pun mendaftarkan diri di acara Blogger Nusantara 2013 di Jogja, acaranya tangl 30 Nopember – 1 Desember 2013.  Jogja! Kota yang selalu melahirkan imajinasi dan mempertahankan akar budayanya.  Keputusan datang ke acara ini tentunya setelah dapat izin dari suami biar berkah, malah dia yang memberi semangat, mendorong dan memberi keyakinan untuk menyerap ilmu dari acaranya.  Tak lebih dari membaca hidup, kan.  Meskipun hati saya masih dag dig dug belum pesan tiket dan takut anak sakit, kalau anak sakit mau gimana lagi, artinya rencana kepergian harus digagalkan.   
Membaca Alam membaca hidup, melalui bahasanya kita diajak untuk tidak henti mempelajarinya.  Terios 7 wonders memberi kesempatan untuk kita untuk membaca makna.  Karena alam memberi banyak tanda untuk setiap pergerakan yang akan atau telah dilakukan oleh manusia.

PT.  Asta Daihatsu Motor, agen tunggal pemegang merek Daihatsu, telah menggelar acara “Terios 7 Wonders” dengan tema “Hidden Paradise” pada tanggal 1-14 Oktober 2013.  Mereka mengajak 7 orang, diantaranya wartawan, blogger undangan khusus traveling dan blogger melalui kompetisi untuk menjadi “saksi” atas keajaiban  belahan bumi Indonesia tercinta ini.  Selama 14 hari, dengan menggunakan mobil Terios kita diajak “membaca” ketangguhan mesin dan kecantikan bumi Indonesia.  Tim Blogger dilepas di Sentul City Bogor pada tanggal 1 Oktober 2013 jam 08.00 WIB  memulai perjalanan menuju destinasi pertama yaitu Pantai Sawarna.



Mereka yang beruntung mendapat kesempatan menjelajah7 bagian negeri ini bersama Daihatsu Terios diantaranya:

Mumun (http://indohoy.com/)
Lucy (http://lucianancy.com/)
Wira Nurmansyah (http://www.wiranurmansyah.com/)
Bambang (http://simplyindonesia.wordpress.com/)
Puput (http://backpackology.me/)
Maulana Harris (http://maulanaharris.blogdetik.com/)
Giri (http://girisatrio.wordpress.com/)



Melalui tulisan-tulisan dan foto-foto mereka, saya seolah dibawa ikut bertualang apa yang mereka alami.  Menikmati beragam kekayaan alam serta kenyamanan Terios sebagai kendaraan untuk menempuh medan perjalanan yang tidak sederhana serta beragam hambatannya.

Menariknya dari program ini, tim melakukan perjalanan melalui 7 titik yang menjadi tujuan.  Dengan menggunakan Terios, 7 orang blogger ini diberi kesempatan untuk menggunakan ketangguhan mobil Terios, melalui 7 tempat dengan jarak dari Banten ke Pulau Komodo, pesisir Indonesia Selatan.  Rute dimulai dari pulau Sawarna hingga pulau komodo.  Berikut titik-titik tujuan perjalanan tersebut: Pulau Sawarna (Banten), Desa Kinahrejo (Gunung Merapi-Jawa Tengah), Tengger (Bromo), Plengkung (Taman Nasional Alas Purwo), Sade Rambitan (Lombok), Dompu (Nusa Tenggara Barat) dan Pulau Komodo.  Dengan Terios dan Sahabat Petualang Terios, mereka akan menempuh jarak 2.566 km selama 14 hari.


Terios Sahabat Petualang

Melakukan perjalanan dengan jarak tempuh 2.566 km, tentu bukan perjalanan main-main.  Kita sebagai manusia harus siap kesehatan, makanan, pakaian dan kebutuhan-kebutuhan lainnya.  Kendaraan yang digunakan harus ikut mendukung dan menjamin keamanan, kenyamanan dan tentunya mempunyai daya tahan tinggi.  Melihat keterangan di link di web ini, kita bisa mendapati spesifikasi produk Daihatsu Terios sahabat yang cocok untuk melakukan perjalanan jauh.

Terios dan Sahabat Petualang Terios terpilih menjadi teman yang nyaman untuk menempuh perjalanan.  Dengan interior yang bagus membuat perjalanan membuat mereka lebih menyenangkan. 



Membaca tulisan dari masing-masing blog dengan gaya pembawannya, membuka jendela pengetahuan dari banyak sudut pandang yang berbeda tentang keindahan dan potensi alam di bumi Indonesia ini benar nyata.  Saya yang hidup di bawah atap belahan kecil Indonesia, semakin sadar bahwa Indonesia ini luas, indah dan berharga.  Biasanya melihat sore di atas atap rasanya cukup menyenangkan.  Ternyata, melalui mereka impian melakukan “perjalanan” tidak boleh disimpan.  Mungkin masalah waktu dan belum cukup ilmu saja yang belum mengizinkan.

Pantai Sawarna

Setelah membaca beberapa ulasan dari Sahabat Petualang Terios, perjalanan dari Bogor menuju Sawarna memakan waktu 6 jam.  Perjalanan yang ditempuh melalui jalan-jalan yang berliku dan menanjak.  Semua proses ini mampu di lewati karena Terios menggunakan mesin 1500cc WTi.  Biasanya ada saatnya semakin lama perjalanan membuat suasana menjadi lemah dan membosankan.  Musik seringkali menjadi teman yang menyenangkan dan membuat jantung lebih nyaman.  Dengan fasilitas yang ada berupa USB, Aux dan MicroSD suasana nyaman itu bisa terbangun dengan menyalakan musik-musik kesukaan dari MP3 player maupun smartphone.

Sawarna sekarang seolah menjadi primadona baru bagi pelancong dan penikmat alam.  Pantai, karang yang megah, ombak yang mampu menghipnotis jiwa dan menjadi pengalaman alam yang menyenangkan.  Karang-karang ini menjadi tampilan yang menarik.  Apalagi saat peraduan antara ombak dan cahaya matari senja.  Penduduk Desa Sawarna mulai “sadar” wisata, dengan semakin banyaknya wisatawan, tak jarang rumah tinggalnya dijadikan tempat istirahat atau mereka melabeli dengan resort dan hotel.  Jadi buat kita yang tertarik datang ke lokasi ini, bisa dengan mudah mendapatkan tempat istirah setelah jalan-jalan susur pantai dan butu-batu karang.

Siapa yang tidak tergiur dengan alam yang seperti ini:



Desa Kinahrejo (Gunung Merapi-Jawa Tengah)

Menurut tulisan dari blogger Maulana Haris, akhirnya saya tahu jalur dari Sawarna menuju Jogjakarta sebagai berikut:

Pelabuhan Ratu, jalan Cikembar, Sukabumi, Cianjur, masuk tol Padalarang, Bandung, Cileunyi, Nagreg, Tasikmalaya, Banjar, Ciamis, Propinsi Jawa Tengah, Cilacap, Purwokerto, Banyumas, Kota Purworedjo, Sleman dan akhirnya Kota Jogjakarta.

Merapi mengingatkan kita pada Mbah Marijan, juru kunci gunung merapi dengan dedikasi tinggi.  Kekuatan semburan di tahun 2010 membuat siapapun yang menyimpan duka di Jogjakarta, melahirkan kecemasan yang berlebih. 

Desa Kinahrejo, meninggalkan sisa duka.  Lokasinya berada di wilayah garis terluar berbatasan langsung dengan merapi.  Disana kita bisa melihat sisa erupsi merapi berupa lintasan lava putih dan mengering.  Menariknya desa ini menjadi “Lava Tour”, tempat ini sekarang berubah wujud jadi tempat wisata. Ada jeep yang bisa mengantarkan orang-orang yang tertarik untuk menelusuri jejak letusan.  Dengan medan yang cukup terjal dan banyaknya pasir, Terios melewati lokasi lava tour dengan mudah.  Selain menelusuri lokasi, Tim Terios 7 Wonders melakukan misi penanaman 10.000 pohon agar daerah tersebut kembali hijau dna membagikan 10 beasiswa bagi anak yatim yang berprestasi.  Tentu acara ini disambut hangat oleh pemerintah daerah setempat. 



Tengger (Bromo)

Bertolak dari Desa Kinahedjo Jawa Tengah, kendaraan yang gagah meneruskan pergerakanya menuju Kota Malang di Propinsi Jawa Timur.  Waktu perjalanan memakan waktu 13 jam.  Jalur dari Jogjakarta menuju Malang diantaranya:

Wonogori, Pacitan, Trenggalek, Tulung Agung dan Blitar

Informasi jalur ini bisa jadi bekal atau patokan untuk para kita yang merenanakan sebuah perjalanan.  Lagi-lagi menurut Maulana Harris, ada 7 ketangguhan yang dia peroleh dari Daihatsu Terios.  Informasi lengkap ada disin

Di Malang mereka menuju destinasi selanjutnya yaitu taman nasional Bromo Tengger Semeru.  Disana kita bisa menemukan Ranu Pane (pane: danau) seluas 4 hekar, tempat tinggal suku Tengger di Desa Ranu pane, letaknya di kaki bukit Gunung Semeru.  Gunung Semeru adalah gunung tertinggi di Jawa.  Berdasarkan info dari blogger WiraRanupane berada di ketinggian 2200 meter diatas permukaan laut.  Jadi lokasi ini cuacanya sangat dingin. 

Kamu akan menemukan “Hidden Paradise” di malam dan pagi hari.  Malam, langit bertaburan bintang, Tim terios 7 wonders menginap dibawah tenda berselimutkan bintang.  Pagi hari, kamu akan menemukan kabut yang melengkapi semua energi positifmu. 





Taman Nasional Baluran

Taman nasional ini berada di wilayah Banyuputih, Situbondo, Jawa Timur.  Disini Kita bisa menemukan padang Sabana seindah Afrika.   Binatang kijang dan monyet-monyet melengkapi hilir mudik.

“Orang biasa sebut baluran sebagai Africa van Java; karena warna coklat di musim kemarau dan kontur yang kering kerontang memang sedikit banyak mirip tanah di benua hitam disana.” Menurut sumber Wira.



Sade Rambitan (Lombok)

Dari Baluran Jawa Timur menuju Lombok, berhari-har perjalanan darat, berliuk, naik turun gunung selesai.  Selanjutnya tim Terios 7 Wonders harus menyebrangi lautan dengan menggunakan kapal ferry.  Dari Banyuwangi dermaga di Jawa Timur, menyebrang ke Bali lalu bertolak menuju Mataram.

Di Lombok Sahabat Petualang Terios mengunjungi Sade.  Sebuah dusun di Desa Rambitan, Pujut, Lombok Tengah.  Penghuni Desa Rambitan adalah suku sasak, mereka adalah penduduk asli dimana mata pencahariannya sebagai petani dan pembuat kain tenun. 

Kesenian yang terkenal di mereka yaitu Peresehan, berupa perkelahian antara dua pria menggunakan tongkat rotan panjang dan perisai yang terbuat dari kulit sapi.  Dinas pariwisata setempat menjadikannya sebagai desa dan tempat hiburan untuk wisatawan.



Selain menikmati kebudayaan setempat, Sahabat Petualang Terios memberikan buku-buku sumbangan.  Karena misi dari Daihatsu sendiri mengusung misi Pintar BersamaDaihatsu.  Sumbangan buku-buku ini diberikan pada SMA  Al Masyuhadien NW di Desa Kawo, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah.

Di Lombok, tepatnya di Lombok Timur.  Kita menemukan pantai pink, kenapa disebut pantai pink?  Karena dari kejauhan, pantai ini tampak berwarna pink.  Letaknya jauh dari keramaian, sepi dan cocok untuk surfing.  Jalan menuju tempat ini cukup jauh, gersang dan terjal.  Cocok jika menggunakan Terios melalui jalan seperti itu. 

Dompu (Nusa Tenggara Barat)

Menuju Dompu dari Sumbawa, Sahabat Petualang harus menyebrang lautan kembali dan langsung ke kota Dompu.  Lamanya penyebrangan memakan waktu 4 jam.  Ya, kita dapat menikmati lautan yang tidak kalah indahnya.



Pulau Komodo

Dari Labuan Bajo menuju Dermaga Pulai Komodo, harus menyebrang laut selama 5 jam.  Di pelabuhan ini mereka menuju loh Buaya salah satu spot masuk Taman Nasional Komodo.  Di Taman Nasional ini kita bisa mendapatkan binatang langka dan sudah diakui sebagai 7 Wonders of Nature.  Pengunjung trekking keliling taman nasional di ditemani seorang ranger untuk memberikan banyak informasi.  Pemandangan di taman ini pun tidak kalah menarik dan masih alami.



Di tujuan terakhir ini, Terios tidak diturunkan dari perahu karena dikhawatirkan menggangu ekosistem disana.  Jadi, Terios mobil pertama yang berlabuh di taman nasional pulau komodo.

Dari perjalan yang dilakukan oleh Terios dan Sahabat Petualang Terios memberi banyak pengetahuan bagi pembaca blog, traveler dan pecinta petualangan.  Melalui tulisan dan fotonya, memberi banyak gambaran bahwa 7 tempat yang dikunjungi pantaslah disebut Hidden Paradise karena negeri ini seperti pribadi-pribadi yang malu-malu menunjukan jati diri dan budayanya yang demikian "kaya".  



Bukti twitter:





Bukti Follow:












 Sumber:
“Perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang jelek seperti penjual parfum dengan pandai besi. Tidak terlepas bagimu dari penjual parfum itu (bila engkau duduk dengannya) (dua perkara yaitu) bisa jadi engkau membeli parfumnya ataupun (bila engkau tidak membelinya) engkau mendapatkan darinya wangi yang semerbak. Sementara (duduk dengan) pandai besi bisa jadi (api yang ditiupnya) akan membakar rumahmu atau pakaianmu atau engkau dapatkan darinya bau yang busuk.” (HR. Al-Bukhari no. 2101 dan Muslim no. 2628)

Berhubung ini hari Jumat, saya mau sedikit-sedikit menyambungkan hadist yang satu ini dengan kehidupan kita.  Ada seorang teman seperti tidak pernah lelah berkarya, sepertinya tidak ada yang tidak mengenal dia.  Dia selalu dikelilingi oleh orang-orang yang hebat dan cukup sering menarik perhatian orang.   Dengan mudah ia selalu didekatkan dengan orang-orang berkualitas dan kemampuan yang lebih.  Orang yang mempunyai keahlian dan kemampuan biasanya mempunyai banyak teman. Temannya ini selalu membanggakan atau menjadi bahan cerita kepada teman-temannya yang lain.  Dengan mengatakan saya temannya dia  dan seterusnya.  Secara tidak sadar sebenarnya pengakuan ini bisa memperkuat kualitas seseorang tersebut karena ia mempunyai hubungan baik dengan teman tersebut.  Bahkan tak jarang orang yang baru ia kenal bisa langsung menaruh kepercayaan dan timbul kedekatan secara emosional melalui perantara seseorang yang mengaku temannya ini.   Luar biasa bukan? 

foto milik imatakubesar

Ini semacam hukum alam, kamu hidup dengan siapa dan akan menjadi apa.   Kamu akan menjadi orang yang berpengaruh atau orang yang mempengaruhi.  Biasanya orang-orang sekitar kita punya punya andil besar dalam mempengaruhi sudut pandang dan dalam mengambil keputusan hidup.  Pengaruhnya tidak hanya dari nasehat, dialog, curhat-curhatan.  Tapi pengaruh itu bisa lahir dari gesture dan sikap seseorang.  Teman kita malas, kita akan terbawa malas, teman kita gesit akan terbawa gesit, teman kita suka bermusuhan kitapun begitu.  Suasana, energi ini sering menumbuhkan pembawaan dan sikap.  Tidak mutlak memang karena bisa saja pengaruh “rumah” bisa membuat seseorang mempunyai kepribadian yang tahan banting.

Rumah adalah tempat membangun mimpi, melahirkan jiwa-jiwa tertentu.  Rumah seperti telur, seperti kepompong, ketika keluar ia berwujud jadi bentuk yang penuh kejutan.  Luar rumah adalah tempat untuk mewujudkan impian itu, bagaimana ia bersikap dan menunjukan jati dirinya.

Kini media jejaring sosial membuat kita seolah-olah keluar rumah, dunia hanya sejengkal tangan, media ini bisa menghidupkan hati dan dan meluaskan pengetahuan.   Ada pergerakan tanpa fisik, semua bergerak seperti bisik-bisik namun tiba-tiba keluar seperti ombak yang besar.  Media ini; facebook, twitter, blog, tumbl dlsb, bisa menjadi sebuah persoalan, gerakan perubahan, pengembangan diri atau sekedar tahu.  Pilihan ada di masing-masing pemegang mouse dan keyboard komputer.  Di duna maya ini merupakan kekuatan kata, kita tidak dilihat dari bagaimana rupa dan pakaian yang kita gunakan.  Tapi kalimat yang kita sebarkan, menunjukan pakaian dan orang pun bebas menafsirkan.  Kita bisa lihat perkembangang teman lama beragam hal yang mereka tunjukan, kitapun bisa menambah teman karena mempunyai “ideologi” yang sama dan menarik untuk dijadikan teman.

Manusia butuh teman karena setiap orang butuh berbagi.  Pada dasarnya manusia sebagai mahluk sosial memang  tidak bisa lepas dari saling berhubungan.  Bisa jadi itu sebabnya jaringan sosial di dunia maya membuat kebanyakan orang bisa menambah kebahagiaan.  Selain menghubungkan dengan teman lama, bisa menambah teman baru bahkan membantu dan mendukung potensi yang kita punya. 


Buat saya sendiri, teman salah satu bagian penting karena melalui mereka banyak hal yang dapat dipelajari dengan keistimewaan masing-masing.    

Happy Friday :)
Menjelang akhir dan awal tahun tahun itu semacam perpindahan tongkat di lomba lari estafet.   Menciptakan semangat terus menerus menuntaskan satu demi satu menuju pencapaian.  Jadi karena itu, saya berani membangun komitmen mengikuti “Proyek Monumental Tahun2014” di blognya Pakdhe Cholix.

Pakdhe dan teman-teman, seperti tahun-tahun sebelumnya, rutinitas menjelang akhir tahun merupakan kesempatan buat saya membuka kembali buku catatan lama.  Membaca kembali catatan-catatan satu tahun kebelakang bahkan catatan tahun-tahun berikutnya.  Ya, saya masih punya buku catatan semacam buku diary, tapi kalau dulu lebih banyak nulis tentang masa-masa “galau”.  Kalau sekarang “galaunya” beda, galau bangeeeet, hehe….  Karena yang difikirkan tidak hanya saya tapi kami.  Saya, suami dan anak-anak.  Lebih banyak apa yang harus dilakukan setiap hari, pikiran dan hati terbelah-belah, tanggung jawab untuk diri sendiri dan keluarga.  Pada kenyataanya, otak dan hati masih banyak dilatih untuk menciptakan kebiasaan baik, teryata tidak semudah itu.

Buku catatan dari jaman sekolah


Saking banyaknya hal yang menarik, seringkali impian itu terputus dan keluar dari trek.  Buku catatan selalu menjadi penolong, semacam alarm yang memberi peringatan bahwa “hey, mau kamu itu ini lho, itu lho, yang pengen dicapai itu ini nih.”  Akhirnya saya bisa tersenyum kembali meneruskan untuk menekuni apa yang dijalani.  Kembali pada trek.  Cara ini bisa memperkuat imajinasi , hati lebih sehat gembira.  Hehe…

Melalui proses itu maka rencana tahun-tahun berikutnya, khususnya di tahun 2014, ada dua hal yang ingin tetap pada treknya: menulis dan merajut

Tahun ini saya bertekad ingin melahirkan novel, 1 novel 1 tahun.  Setelah memberanikan mengikuti tantangan NaNoWriMo (Thanks so much to EfiFitriyah, yang udah ngajak-ngajak tantangan ini) dan tentunya suami saya Cholis yang mendorong dan memberi semangat tiada henti.  Ternyata saya bisa merangkai kata meskipun belepotan, melalui program NaNoWrimo itu semacam sebuah sistem terapi menulis yang “berhasil untuk saya”: mencukil keberanian (karena pada dasarnya saya ini pemalu dan sulit menghargai diri sendiri).  Saya lebih berani mengeluarkan imajinasi melalui kata-kata, dan mampu melewati 10.000 kata itu buat saya… amazing banget.  Artinya: “Saya bisa, Pakdhe.  Semua harus dikondisikan. Sesuatu itu harus diciptakan.  Kuatkan tekad.”   

Nah, tantangan 2014 berikutnya tentu semakin aktif dan lebih konsisten di dunia per-blog-an.  Karena sampai kapanpun saya tidak akan meninggalkan blog, karena blog ini awal yang melahirkan percaya diri saya dalam mengungkapkan pikiran dalam bentuk tulisan. 

Saya juga suka merajut.  Ini salah satu kegiatan penyeimbang hati saya.  Beberapa rajutan berhasil saya jual dan cukup disukai oleh beberapa teman dan saudara.  Usaha rajutan ini pelan-pelan saya jalani, terus dibangun akan dan mau menjadi seperti apa nantinya.  Sekarang masih mengumpulkan beberapa produk, yang kelak akan menghiasi lalu lintas di dunia jual beli online di http://matakubesar.com/ .



Nah, melalui tantangan yang fenomenal dari Pakdhe rasanya ini bukan waktunya menciutkan kembali proses yang sudah tercapai.  Yah, persoalan saya yang paling berat adalah “rasa percaya diri” yang sering naik dan turun.  Ternyata, dengan semakin sering menulis, upload di blog, ikut lomba penulisan untuk dijadikan buku kompilasi bersama teman-teman membuat rasa percaya diri dan berdaya.  Jadi, saya tidak mau kehilangan perasaan ini lagi setelah proses pengasahan yang cukup lama.

Hidup selalu penuh harapan, kadang rencana itu terhenti ketika ada masalah yang tidak terduga.  Tapi justru dengan begitu kita seolah diberi jeda untuk tak henti belajar dan bernafa.  Kita selalu diberi waktu untuk membaca peta, dimana yang rusak, dimana yang kuat dengan begitu kita bisa menentukan posisi dan langkah selanjutnya.  Terimakasih Pakdhe buat kesempatannya.


Ditengah kegelisan saya mengikuti NaNoWriMo tahun ini dan yang pertama kalinya, tiba-tiba muncul berita di link ini (https://www.facebook.com/JAYALAH.INDONESIAKU) tentang “kondom berserakan di gedung DPRD”.  Jadi mohon maaf, mau berbelok sebentar untuk melepaskan sedikit kegelisahan tersebut.  Setelah membaca pemberitaan tersebut, entar akurat atau tidak semoga tidak benar-benar terjadi.  Mungkin ini semacam harapan emak-emak lugu yang menganggap bahwa anggota dewan kita benar-benar terhormat sikapnya.  Tidak hanya dari pakaian dan kendaraan yang mereka gunakan.

Jika ini benar, rasanya sulit membayangkannya.  Rasanya boleh dong menuntut, berharap, agar mereka berani menunjukan budaya “malu”, mau tidak mau, harus mampu menjadi orang baik. Jika pemimpin melakukan tindakan yang mereka sendiri tahu itu tidak boleh, jangan bilang bahwa mereka adalah manusia biasa dan suka melakukan kekhilafan.  Kalau kekhilafannya disangaja, buat apa jadi pemimpin kalau tidak mampu menahan diri lalu akhirnya menjadi monster bagi masyarakatnya. Berani jadi pemipin artinya berani memimpin dirinya sendiri, lho.  Resikonya, harus mati-matian menahan diri dari tindakan dan keputusan yang a-moral dan merugikan orang banyak.  Karena tindakan dan keputusan mereka ada dua hal yang mungkin, sebagai tombol bom atau tombol yang menyinari ruang gelap.  


Oke, ini masalah moral, mental masing-masing orang, mestinya saya lebih toleran. Karena mereka pasti akan punya segudang alasan.  Segudang pembenaran yang tentunya menguntungkan posisi mereka sehingga masyarakat menerima kenyataan tersebut.  Kalau pemimpin dalam konteks “kita” adalah “pemerintah” yang artinya doyan memerintah, tidak lebih pemimpin adalah majikan bagi masyarakatnya, sehingga kita akan lebih toleran karena negeri ini adalah milik mereka.  Milik para pemimpin itu dan kita numpang tinggal lalu membayar upeti agar anak cucu, cicit kita bisa hidup damai dan tentram tidak lagi nomaden seperti masyarakat jaman dulu.  Seolah pajak (upeti) ini semacam ijin buang air besar, tidur, makan, sekolah, cari uang lalu tidak peduli pemerintahnya seperti apa dibalik bungkusnya yang “layak”. 

Sama halnya ketika kita memilih makanan kemasan di supermarket, seringkali tergiur oleh kemasan dan tagline yang menarik.  Padahal bisa jadi makanan tersebut tidak begitu menjamin membuat tubuh sehat, tapi kesan yang kita dapatkan dari kemasan itu yang membuat tubuh seolah-olah sehat.  Otak seperti dicuci bahwa pemimpin dan makanan yang enak itu adalah kemasan yang layak.  Tapi begitulah memang kenyataannya.  Kemasan, pakaian yang kita pakai, bungkus kripik, botol minuman, rumah dengan model tertentu, dan lain sebagainya, memberi kesan atau sebuah bentuk penggambaran dari isi/penghuni/jiwa seseorang.  Kita begitu teryakinkan bahwa kemasan itu sebagai gambaran dari sesuatu/seseorang.  Jadi, siapa kamu, apakah kamu berani menunjukan sikap dan jati dirimu sesuai dengan kemasannya.

Anggota DPR yang artinya Dewan Perwakilan Rakyat, artinya mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh rakyat untuk menyuarakan hati, impian, harapan masyarakat.  Tentu sebagai pemimpin harus menunjukan kemasan yang layak.  Baik dari pakaian, kendaraan, rumah tinggal,dan lain sebagainya yang menunjukan identitas bahwa mereka adalah pemimpin.  Karena, kemasan merupakan bagian penting dan duta komunikasi secara instan.  Kita bisa mengarahkan pemikiran secara serempak pada sesuatu menjadi baik atau buruk. Tapi tentu isi kemasannya juga harus menunjukan kualitas kemasan itu sendiri. Tidak salah kan saya berharap begitu.


Kembali ke kasus yang terjadi di lingkungan gedung DPR yang dilakukan oleh “penghuninya”.  Sudah selayaknya, kemasan dan kehormatan yang dipercayakan oleh masyarakat, merekapun harusnya mampu menjaga sikap dan kelakuannya.  Tulisan ini hanya sekedar melepaskan kekesalan jika situasi ini memang terjadi.  Atau, kita tidak perlu peduli dengan mereka-mereka yang menganggap dirinya pemimpin negeri lalu teruslah berkarya dan tetap merasa berdaya minimal melakukan apapun yang berarti untuk diri sendiri, keluarga, teman.
Kenapa saya layak memiliki Acer yang satu ini?  Kenapa saya layak?    Karena saya tidak slim tapi lumayan keren (haha!) dan suka menulis. Ahoooy… I need this one!

Seperti BLOGGER yang lainnya, membutuhkan notebook (atau kita lebih kenal dengan istilah laptop) yang praktis dengan prosessor yang menjamin file data kerjaan mereka aman, dan menambah kekerenan identitas si-pemakainya.  Yah, selain otak dan hati keren kita juga sering suka melihat kemasan/tampilan yang keren, kan.

Saya lihat Acer Aspire E1 layak untuk kita (perempuan) yang aktif dan kreatif.  Dunia maya adalah dunia imajinasi, dunia tanpa batas, dunia nalar yang disebarkan bagai benih yang subur atau sebaliknya.  Bagi blogger tentu menginginkan blognya menjadi layak baca dan menarik.  Usaha untuk mencapai itu ada beberapa hal yang mesti diasah agar sebagai “sofeware” kita sebagai manusia jadi lebih oke; buku adalah penunjang utama artinya kita harus banyak baca, tentu hal ini bisa menambah wawasan agar poit of view kita terhadap “lingkungan” sekitar lebih peka dan dinamis.  Merawat keahlian dengan banyak berlatih menulis, seperti seorang petani yang merawat tanamannya, agar menghasilkan panen yang banyak dan berkualitas.   Dan media menulis yang tidak kalah penting sebagai faktor wajib dimiliki tentunya notebook, karena notebook semacam jantung bagi para penulis, seperti juga cangkul bagi para petani, senjata bagi para tentara, mesin jahit bagi para desainer pakaian.  Jadi, tidak salah kita memilih alat yang layak pakai agar keahlian dan kreatifitas saya (kita) lebih bisa terakomodir. 

Dengan banyaknya permintaan dan berkembangnya gaya hidup manusia, banyak keinginan dan harapan agar notebook lebih praktis, murah, hemat daya dan mendukung pekerjaan mereka yang mengikuti percepatan dunia.  Saya salah satunya, membutuhkan notebook jenis ini karena saya adalah ibu yang memiliki 2 orang anak dan harus membagi berbagai anggaran rumah tangga lainnya.  Artinya, kemana-mana saya tidak hanya membawa satu dompet dan alat makeup, tapi bawa tas dengan membawa beragam kebutuhan anak dari makanan, minuman, camilan, baju ganti, bahkan sabun mandi dan telon.  Saya berharap bisa mempunyai notebook yang ringan, tipis dan daya batre yang tahan lama.

Bisa jadi hal ini menuntut kreatifitas para “seniman “ pembuat notebook menghasilkan karya notebook yang dibutuhkan oleh masyarakat, menarik, berkualitas dan tentunya melahirkan tampilan yang bisa membuat pemiliknya lebih tampil keren. AcerSlim Aspire E1, yang didukung oleh  prosesor Intel®. Mulai dari Intel® Celeron® dan Core™ i3, dan 30% Lebih Tipis merangkum permintaan dan kebutuhan itu. 

sumber foto: http://www.acerid.com/wp-content/uploads/2013/10/E1-432.jpg

Acer Aspire Slim E1 adalah salah satunya yang melahirkan notebook yang tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya.  Bahkan bisa membuat para emak-emak blogger tidak kalah heboh berburu si-slim ini agar bisa jadi miliknya.  Termasuk saya.  Karena saya membutuhkannya.  Melihat tampilannya yang tipis, ringan tentu akan lebih asik dan mempermudah kita saat harus membawanya keluar rumah.  Dengan spesifikasi Acer Slim ini, tentu dengan kreatifitas, kita bisa menjadi bagian didalamnya.  Melalui rangkaian huruf, dunia maya dapat membuat kita ada, berkata, bersikap, berdaya dan berkarya.  Dunia maya menjadi media yang bisa membuat kita menjadi bagian didalamnya.  Acer Aspire Slim E1 tentu akan menjadi tool yang tepat bagi perempuan aktif dan kreatif.


Untuk mengembangkan diri agar lebih produktif di dunia maya, tentu membutuhkan alat yang mendukung kecepatan dan kelayakan.  Acer aspire E1 apalagi didukung performa Intel® processor didalamnya membuat kita lebih kreatif dan dinamis.  Karena tool atau alat yang mendukung kreatifitas, akan membuat peluang yang lebih luas. 

Melalui KEB (Kumpulan Emak-Emak Blogger) ada kekuatan kata yang menandakan bahwa perempuan blogger senang berbagi dalam berbagai hal.  Dari berbagi tips craft, inspirasi karya, “manajemen” rumah, menangani anak, berbagi resep makanan berikut proses berkaryanya yang ternyata… kita tidak sendirian mengalami “kericuhan” dalam mengelola beragam kegiatan di rumah.  Yeah!  Sering kita merasa pekerjaan kita di rumah dianggap sederhana oleh orang lain bahkan oleh diri sendiri, tapi begitu pekerjaan ini diuraikan dengan tulisan, kita bisa melihat peta aktifitas rumah yang paciweuh*, penuh romansa tawa, kesedihan bahkah muncul rasa kesepian.   Tapi ternyata, melalui tulisan-tulisan di blog bahwa peran sosok di rumah, di tempat kerja dan lingkungannya itu menjadi jiwa yang akan selalu menghidupkan rumah.  Ternyata kita begitu berdaya hanya sering merasa “lelah”. 

Add caption
Kita, perempuan, memang sering terlihat sebagai sosok yang sederhana.  Tapi jangan salah otak dan hati kita begitu luas, besar dan terbagi-bagi untuk memenuhi berbagai kepentingan.  Rasanya terlalu sayang jika tidak dibagikan melalui karya tulis, yang paling mungkin dan terjangkau diantara kesibukan sehari-hari tentunya menulis di blog.  Hey, dunia blog itu bisa memperluas dan mempertajam hati dan pikiran kita.  Jadi, selain katel, pisau, sabun cuci, lapel, alat mandi, kini saya sebagai emak blogger membutuhkan satu alat yang tepat untuk mempertajam kreatifitas, yaitu notebook Acer Aspire E1-432.  Enjoy, Mak! Life is yours.


“Tulisan ini diikutsertakan dalam event “30 Hari Blog Challeng, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.”

----
*paciweuh: bahasa sunda yang artinya repot
Kerja di  Rumah: Slim Aspire E-1

Untuk orang tua jaman dulu, banyak yang tidak mengerti bagaimana bisa menghasilkan materi tanpa keluar rumah.  Persepsi bekerja artinya dari subuh sudah bangun, mandi lalu pergi pagi dan datang ke rumah sore hari.  Sekarang?  Rumah tidak hanya tempat untuk istirahat tapi bisa dikondisikan dengan beragam aktifitas yang menghasilkan materi. 

Dengan adanya komputer dan jaringan internet, dunia seolah ada digenggaman, membeli dan menjual produk ataupun jasa bisa di balik rumah sambil menunggu masakan matang.  Komunikasi dengan “dunia” menjadi mudah, terutama dengan adanya personal blog dan jaringan sosial seperti facebook, twitter membantu untuk menciptakan brand usaha yang sedang dijalani.  Apalagi dengan teknologi notebook yang semakin menarik dimiliki karena praktis, bisa pindah-pindah tempat (mobile) mengikuti mood dan kebutuhan.  Tengok anggota Kumpulan Emak-Emak Blogger yang menjadikan hobinya bisa membuatnya produktif.

Mengingat kondisi percepatan dunia dan kebutuhan untuk menelurkan ide, Slim Aspire E-1 bisa menjadi pilihan yang tepat.  Apalagi Acer Aspire E-1 didukung performa Intel® processor di dalamnyaIntel® processor merupakan processor yang terpercaya mampu menampung file-file pekerjaan kita yang cukup banyak.  Dari data-data pribadi hinggga membuat tulisan untuk blog, cerpen dan novel.  Kegiatan tulis menulis dan laporan keuangan yang tidak sedikit tentu harus didukung oleh sistem yang terpercaya.  Kita membutuhkan data-data yang bisa bertahan jangka panjang.  Intel® processor bisa diandalkan dan handal dalam mendukung pekerjaan semakin lancar dan mudah.   Processeor menjadi elemen yang paling penting dan membantu produktifitas karya kita.  Karena processor sebuah IC yang mengontrol keseluruhan jalannya sebuah sistem komputer dan digunakan sebagai pusat atau otak dari komputer.

Bermain di Taman sambil Menulis

Pekerjaan saya adalah menjalankan hobi dan mengembangkannya.  Walaupun belum maju seperti orang-orang, tapi sejauh ini saya menikmatinya.  Jadi pekerjaan saya, ya, bisa sekaligus proses bermain dengan keluarga.  Menulis, merajut dan jalan-jalan tiga hal yang menjadi hidup saya dan keluarga lebih berwarna, tentu dilengkapi dengan keluh kesah lainnya- hehe…

Kegiatan menulis tidak bisa dipungkiri membutuhkan modal berupa notebook dan pengetahuan yang bisa didapatkan dari beragam website.  Hobi dan kreatifitas yang melibatkan gadget, seringkali terbatas oleh fasilitas yang ada.  Apakah tiba-tiba notebook yang nge-hang, batre yang nge-drop dan masalah lain sering melibatkan software.  Sehingga kreatifitas sering terpotong oleh masalah-masalah tersebut. 

Saya ini seperti manusia taman, rasanya taman-taman di Bandung pernah dikunjungi, jalan kaki, makan camilan, ngobrol, sesekali menikmati taman dengan menulis di note handphone dan kembali ke rutinitas juga jadi lebih segar.  Saya menulis, suami mencorat-coret ide untuk bikin web, Alif melihat bermain diantara kami.  Kadang saya butuh praktis, jadi handphone sering jadi pilihan untuk menumpahkan ide tulisan.  Saya membayangkan, bila nanti sudah mempunyai Acer Slim Aspire E-1apalagi dengan performa Intel® processor di dalamnya,  bisa membawanya ke taman tentu bisa tampil keren dengan notebook slim yang paling tipis di kelasnya



Paling sering mengunjungi taman di UPI (universitas Pendidikan Indonesia), taman gedung ISOLA yang di selimuti pohon beringin.  Adem dan sejuk dilengkapi dengan kolam ikan yang besar-besar.  Bukan apa-apa, selain bagus memang jarak dengan rumah yang relatif dekat.  Anak kami-Alif-suka melakukan aktifitas ini, seperti halnya melakukan jalan-jalan, kami selalu bawa perbekalan makanan dan minuman.  Kadang suka jajan cemilan cakue atau pukis di gerbang UPI.  Disini tempat yang pas buat “sedikit” mengakrabkan diri dengan alam, karena masih banyak pepohonan dan kolam ikan.    

Mungkin bagi beberapa orang agak aneh juga ada ibu-ibu bawa anak ke kampus untuk bermain.  Tapi saya lebih sering cuek, duduk-duduk di pinggir kolam sambil menikmati makanan , main kejar-kejaran, naik turun tangga.  Kegiatan ini sering diabadikan dengan memotret bahkan merekam gerak geriknya dengan video camera di handphone.  Biasanya, pulang dari sana Alif suka lebih ceria dan badan saya pun terasa lebih bugar.

Hidup bersama anak artinya kita selalu berfikir bagaimana menciptakan permainan setiap harinya.  Foto-foto yang didokumentasikan setelan bermain di UPI, saya pindahkan ke notebook Acer.  Dengan begitu, kami bisa melihat-lihat lagi hasil foto yang kami ambil sambil bercerita dan mengembangan cerita dari foto-foto tersebut.  Kami? Iya, anak batita jaman sekarang sudah tidak asing lagi pada dunia gadget, sesekali dia motret saya dan beberapa objek  menarik yang kami temukan di taman.  Pas ada foto tampil dengan kejadian tertentu, dia menceritakan kembali apa yang dia alami sesuai dengan foto itu.


Gadget dan anak akhirnya bisa menjadi paduan yang menarik, membuat mereka tetap bisa bermain, saya sendiri bisa mengambil ide dari dunia bermain mereka yang dituangkan dalam sebuah tulisan dan tentunya imajinasi anak tetap bisa berkembang.  

Enjoy our life!

"Tulisan ini diikutsertakan dalam event "30 Hari Blog Challenge. Bikin Notebook 30% Lebih Tipis."