"Kamu harus hati-hati, masalah lambung karena psikosomatis ini bisa jadi kanker, lho." dr Elvine Gunawan mengingatkan aku saat rawat jalan di poli psikiatri awal tahun 2019. 



Betul saja, bulan Juni 2023 tepat di hari ulang tahun ke-45 aku kena kanker (ca). Posisi benjolannya ada di payudara, tepat di bawah puting. Ukurannya sangat kecil tapi matil. 


Sebenernya aku cukup lama maju mundur  menuliskan kembali proses menjalani hidup sebagai penyintas ca. Mengingat makin ke sini makin banyak yang kena ca di lingkaran terdekat. Hanya selang beberapa bulan aku menjalani kemoterapi, saudara aku kena kanker hati. Tahun lalu saudara suami pun kena kanker tenggorokan, tetangga aku juga ada yang kena kanker paru-paru, ada juga yang kena kanker payudara, sahabat kakak mengalami situasi yang sama. Lalu terakhir ini aku dapat kabar lagi, ada teman kena kanker rahim. Jadi aku coba tulis mengalir saja.


Beberapa yang terkena ca menghubungi untuk berbagi pandangan, pengalaman dan melepas rasa takut, khawatir melewati proses pengobatan, takut botak, apa yang boleh dan tidak boleh dimakan, aktivitas apa saja yang harus dihindari, dan banyak lagi.


Terlebih ketika mendapat diagnosa dokter, memang seperti mimpi buruk, ya.  Tapi mau gimana lagi kita jalani saja prosesnya berobat yang panjang pada orang yang ahli di bidangnya. Memang ada sedikit rasa tidak menerima, melewati fase denial, melewati kebingungan-kebingungan, mendapat stigma pendosa, sampai akhirnya hingga bisa menerima situasi. Proses penerimaan ini berproses bertahap, terima rasa takutnya, sedihnya sampai pada titik menerima dan berani pulih.  Semoga proses sakit dan berobat ini jadi amal baik, cara Allah SWT mendekap kita.




Memang, awalnya berada di tengah situasi ini cukup membingungkan, kenapa ca ini bisa muncul akibat psikosomatik?


Psikosomatik ini yaitu kondisi pikiran dan emosi memperburuk kondisi fisik. Stress dan cemas berlebih yang tidak disalurkan memicu sistem syaraf dan menyalurkan informasi ke dalam tubuh. Sehingga muncul reaksi fisik yang muncul seperti, masalah pencernaan, pernafasan, nyeri otot, pegal-pegal, dll.


Begitu dapat diagnosa ca mammae dari dokter spesialis onkologi, aku jadi paham bahwa proses munculnya tumor jinak dan ganas itu berawal dari  sel yang menolak mati. Sel ini membelah dan membentuk tumor. Sel ini ada yang bermutasi jadi tumor jinak atau menjadi ganas. Mahluk ini lalu menyusup ke jaringan sehat di sekitarnya, serta menyebar ke organ.


Padahal tadinya aku pikir aku sudah merasa baik-baik saja dengan menjalani hidup dengan menikmati hal sekecil apa pun di berbagai situasi, menjalankan solusi ketika ada masalah. Bahkan awal pandemi aku seperti membangunkan impian masa kecil dengan mengasah kemampuan menggambar dengan tujuan art theraphi pada suami.  Setiap suami mengajar gambar kelas online untuk para pasien anak ABK, aku pun ikut berlatih juga. 





Mundur sedikit ke belakang lagi, sekitar tahun 2016. Sebelum dirujuk konsul ke psikiatri, aku mengalami gastritis kronis cukup lama. Hampir beberapa bulan sekali keluar masuk IGD dan sempat beberapa kali dirawat. Dengan ciri-ciri kalau ada pemantik baik dari makanan, cemas berlebihan, maupun ingatan traumatis, aku akan sendawa terus menerus. 


Untuk kesekian kali aku konsul ke dokter bagian dalam di rumah sakit S. Dokter Poli Dalam menganalisa mata aku, disuruh duduk di kasur, lalu punggung aku ditepuk-tepuk.  Beliau bilang,

"Waaah, tegang banget ini punggungnya. Gasnya juga penuh. Nih, ya, kamu mau menjalani endoskopi, lambungnya diobati pakai obat sebagus apapun kalau pikirannya engga dibenerin, lambungnya bakal kena terus.  Begitupun sebaliknya, kalau lambung kena karena masalah makanan, pikiran akan mudah terpicu, seperti rasa cemas. Terus aja begitu bolak balik. Gak akan beres-beres." 


Dokter menyarankan aku untuk konsul ke poli psikiatri untuk mendapatkan perawatan secara holistik: diperbaiki psikis dan fisiknya.


Tentu saja aku denial mendapat analisa begini dari dokter bagian dalam.  Karena "perasaan" selama ini aku terus berusaha mengelola diri, mulai dari jalan kaki, yoga, menulis, berusaha menerima dan menjalani merawat suami yang saat itu masih butuh perawatan karena sakit, mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari.


Tentu masalah yang menimbulkan stress tentu ada saja, baik dari internal maupun eksternal. Rupanya aku masih kesulitan mengelola emosi dengan baik. Masih sering memendam, mengabaikan perasaan sendiri, kesulitan meminta tolong, gak enakan, kurang mengapresiasi diri sendiri dan sejenisnya. 


Pelan pelan aku terima kondisi karena aku ingin berdaya lagi dalam keadaan sehat. Jadi aku jalanin tiap bulan bolak balik poli psikiatri RS S. Rupanya banyak kemajuan, aku jadi enak minum kopi lagi, pikiran lebih terang, masih terus aktif menulis di blog, terus belajar memahami, menerima berbagai job menulis di blog, ikut kelas-kelas menulis, workshop ini itu dan bergabung dengan beberapa komunitas blogger, sambil terus merawat suami yang saat itu masih sakit, anak-anak masih berusia 7 dan 4 tahun, hidup bersama Ibu yang mungkin saat itu menjelang 90 tahun. Semua kondisi mengarah ke arah yang lebih baik.


Sampai suatu hari, obat yang biasa aku konsumsi habis lalu diganti sama merk yang lain.  Tidak menunggu berhari-hari, aku mengalami sendawa berulang dan kembali ke IGD.  Rupanya obat tersebut yang menyebabkan lambung aku bermasalah. Aku pun menghentikan penggunaan obat tersebut atas arahan dokter jaga IGD.  Tapi masalah kesehatan lambung ini masih ada.


Setelah berpikir ulang, berdiskusi dengan suami. Aku pun mulai lagi ke faskes 1 lalu menceritakan situasi pengobatan aku.  Ternyata kali ini aku dirujuk ke poli psikiatri Rumah Sakit M.  Di sana saya bertemu dengan dr Elvine Gunawan. Dengan proses makan obat rutin dan konsultasi masalah selama 6 bulan yang tadinya target 9 bulan.


Kontrol kesehatan di rumah sakit M ini ternyata lebih menarik, aku digali untuk menceritakan keresahan-keresahan hati yang rasanya tidak mungkin aku ceritakan ke saudara maupun teman-teman.  Lalu obat yang harus dikonsumsi ini berguna untuk memberi nutrisi ke otak. Sebetulnya stress ini merupakan respons alami yang mendorong kita berpikir mendapatkan solusi. Tapi kalau stress yang berlangsung terus menerus tanpa pengelolaan yang baik, maka otak kita akan terluka yang menyalurkan luka ke tubuh yang lain. Jadi obat ini berfungsi memberi nutrisi meringankan beban luka tersebut.


Asiknya konsul ke orang ahli dibidang kejiwaan atau psikiatri, ketika aku menceritakan masalah yang terdalam, psikiater menganalisa dan memetakan masalahnya dengan ilmu prilaku manusia.  Seperti mengurai benang kusut, pelan pelan aku jadi memahami diri, mengenali diri sendiri lagi dan bagaimana harus bersikap pada diri dan orang lain dalam menghadapi berbagai situasi.


Saat konsul pun, aku mendapat pandangan, solusi-solusi yang membuka mata dan hati tentang karakter aku yang menghambat dalam hubungan sosial yang menyebabkan persoalan psikosomatis yaitu masalah fisik yang ditimbulkan oleh pikiran dan kurangnya mengelola emosi.





Ketika aku didiagnosa ca di bulan Juni 2023, jadi menggiring ingatan kembali peringatan dari dr. Elvine. Pelan-pelan kontemplasi, instropeksi memetakan berbagai situasi dari berbagai sisi.  Berusaha tidak terlalu mempertanyakan "kenapa" tapi "bagaimana" langkah yang harus dilakukan.  


Berbekal berusaha di rel yang udah Allah kasih, membaca situasi ini dengan tidak memberi celah pikiran negatif, lebih hati-hati mengolah sudut pandang menghadapi masalah ini. Dengan begini kita jadi sadar penuh, tenang/tidak tergesa-gesa dan logis dalam mengambil keputusan berobat dan menjalaninya. Melihat segala sisi dari sudut pandang yang baik.


Hasil instropeksi tersebut mengerucut pada kesulitan aku menghadapi masalah yang cukup berat dan berulang, belum bisa berdamai dengan beberapa situasi yang harusnya diterima. Akhirnya disadari semua pertahanan jiwa seperti jebol dan kembali amburadul.  Bisa jadi karena kelelahan sampai aku tidak membaca keluhan tubuh sendiri akibat tidak tidur malam, kurang nutrisi, kurang memberi waktu untuk diri sendiri dan tentu saja tidak enak/sulit minta tolong.


Semua situasi yang tidak bisa dihindari harusnya bisa dikendalikan. Tapi situasinya cukup berat, sehingga mau tidak mau memancing emosi yang memang jadi alasan kuat aku kena ca. Meski sempat disesali, tapi situasi ini terjadi juga. Aku harus menghadapinya dan belajar beradaptasi dengan perubahan prilaku diri sendiri demi kebaikan dan memaafkan diri sendiri agar misi sehat terwujud.


Ya, situasi ini yang harus diterima. Situasi ini juga yang pada akhirnya aku bisa lebih bersikap toleran, lebih respek dan bersikap baik/tidak terlalu keras sama diri sendiri.


Tentu muncul beberapa pertanyaan, tapi rasanya itu bukan kuasa kita.  Aku hanya berharap masalah ini jadi berkah bukan musibah dengan cara tidak berpikir gegabah sama Allah SWT yang Maha Tahu jalan terbaik untuk kita.


بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (×٣)


Artinya:"Dengan nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada mudharat sedikit pun baik di bumi dan di langit, dan Ia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui."

 
(Sumber: Hadits Riwayat (HR) Abu Dawud dan Tirmidzi.)


Banyaknya media baca di media digital yang singkat-singkat dan visualnya menarik, apakah kamu masih baca buku?  


Sekarang ini ditemukan podcast, konten medsos mengedukasi kita. Setelah dipelajari, lain halnya dengan podcast, konten reels menjelaskan sesuatu dalam 1 menit seringkali banyak yang salah faham. Selain tidak menyeluruh, proses setiap orang dalam mencerna konten pasti dipengaruhi oleh pengalaman, latar belakang pendidikan, komunitas yang diikutinya hingga kondisi masalahnya saat ini.


Di tengah gelombang informasi, kita tetap harus baca buku fisik agar bisa memegang kendali dan memiliki prinsip. Proses membaca lembar demi lembar buku melatih kesabaran, kesadaran karena si pembaca akan melalui proses perenungan.


Setiap kata, setiap kalimat saling kait mengait menggiring pola pikir kita dalam menganalisa masalah secara komprehensif. Meskipun saya masih suka baca buku mecla mencle, satu buku belum tuntas sudah baca buku yang lain. Proses membaca langsung dalam bentuk fisik memberi benteng tersendiri. 


Sekarang memilih buku lebih pada kebutuhan situasi saat ini. Untuk kebutuhan mencari solusi dari masalah yang sedang muncul, merapikan sisi mental, mengolah fisik, spiritual, intinya meluaskan hati dan mind set aga tidak mudah amburadul.


Seorang ahli sel (akun IG dr. Iqbal Musyaffa) memperlihatkan bentuk neutron otak yang sedang bekerja. Dia menjelaskan bahwa:

“Neutron di otakmu akan kehilangan koneksi ketika kamu berhenti belajar. Otak bekerja dengan prinsip use it or lose it. Saat jarang distimulasi, koneksi antar neutron melemag dan perlahan hilang. Belajar hal baru-sekecil apa pun-membantu menjaga otak tetap aktif dan berkembang, Belajar bukan soal usia, tapi soal bertahan hidup secara mental,” Penjelasan ini dikutip dari akun @solehah2id.



Keren banget, kan. Salah satu cara melatih dan menjaga otak tetap aktif yaitu dengan membaca buku.


Untuk tahun ini (2026), saya sebetulnya ingin nyicil membaca buku bacaan anak saya yang sedang pesantren.  Devdan anak pertama saya, setiap kirim surat suka mencantumkan judul buku yang ingin dikirim. Kebanyakan novel, sekarang buku-buku gendre tentang perang dunia dan politik.


Buku yang dikirim cepat sekali selesai dibaca, dari satu novel ke novel yang lain.  Devdan bacanya cepat, katanya bukunya bisa selesai dibaca sekitar 2-3 hari. Kalau jadwal libur, setidaknya kami menjadwalkan ke toko buku buat baca dan beli buku. Waktu masih SD, dia juga suka baca tapi tidak sebanyak waktu di pesantren. Dulu lebih tertarik nonton youtube, reels dan main game. Bisa jadi minat bacanya meningkat karena di sana lebih konsentrasi dan bertemu dengan teman yang sama-sama punya minat baca.



Beberapa hari lalu, pesantrennya mengadakan acara perdana TADIB (Tadabbur Isi Buku). Santri dilibatkan langsung sebagai pemateri, moderator, mc.  Beberapa ustadz tetap memantau dan mendampingi proses diskusi.


Rupanya acara perdana TADIB pematerinya adalah Devdan, kami sebagai wali santri bisa lihat live di akun medsosnya. Memperhatikan pembawaan Devdan dalam menyampaikan materi isi buku, saya cukup terkejut.  Banyak kosa kata dan istilah baru yang disampaikan oleh Devdan. Selain itu, saya juga melihat dia percaya diri dalam membawakan materi. Tenang, penyampaiannya lancar, sesekali bercanda. Sebagai pembedah buku dia bisa menyampaikan garis besar isi novel dan pesan yang ingin disampaikan novel tersebut.


Salah satu alasan saya pengen nyicil membaca buku-buku yang dibaca oleh anak saya yaitu agar saya bisa memahami sudut pandangnya. Sedikit banyak buku bacaan itu biasanya cukup mempengaruhi pilihan hidupnya.  Apa yang dirasakan akan keluar dalam bentuk sikap.


Selain itu, saya mencoba bertahap menjalani nasihat pimpinan pondok. Katanya, kalau anak kita bisa belajar di pondok, maka orang tuanya di rumah juga menjalani rutinitas yang sama jadwal di pondok.  Meskipun tidak semua jadwal dapat saya lakukan, ada beberapa pola dan jadwal yang coba saya terapkan juga untuk dijalani sehari-hari.  Salah satunya jadwal baca dilakukan Devdan hampir setiap sore. Biasanya, sore hari adalah jadwal kegiatan ekstrakurikuler, anak saya menggunakan waktu ini untuk membaca buku bareng temannya.  


Sebagai Ibu, saya sendiri selama ini membaca buku bisa kapan saja, tapi ternyata cara random seperti ini membuat pekerjaan lain jadi terbengkalai. Banyak buku yang dibacanya tidak tuntas, pekerjaan rumah semakin menumpuk. Karena terbengkalai, muncul rasa bersalah contohnya belum bikin nasi. 


Solusi untuk menghindari situasi berulang seperti ini, saya coba membuat to do list harian di sebuah note book. Semakin dijadwal dan diperkirakan waktunya ternyata lebih efektif dan menenangkan.


Jadwal harian dicatat diantara per waktu shalat.  Berarti membagi 4 waktu dan bisa mengisi list kegiatan di waktu pagi (jam 05.00-12.00), siang (12.00-15.00), sore (15.00-18.00), malam (19.30-21.30). 


Dengan begini, kita menentukan kegiatan disesuaikan dengan kondisi fisik kita.  Hal ini akan berpengaruh pada tangki energi kita.  Karena daya serap memahami bacaan setiap orang beda-beda, bisa dipengaruhi dari tingkat aktivitas, masalah yang ada.


Dari jam 05.00-09.00 WIB lebih banyak kegiatan bersih-bersih rumah, cuci jemur pakaian, memasak buat sarapan dan makan siang. Baru di atas jam 09.30 WIB  dilanjut shalat dhuha, dzikir pagi lalu lanjut membuat karya menulis atau menggambar sampai jam 12.00 wib.   Diantara jam 12.00-15.00 ada waktu istirahat siang, makan siang dan aktivitas lain. Sore, jam 15.00-18.00 di sini ada waktu sholat asyar, dzikir sore, baca buku, jalan kaki dan masak sore.


Baca buku dengan durasi sekitar 20 menit tapi terus menerus setiap hari, membuat satu per satu buku bisa selesai. Dengan begitu, kita bisa mengulang pemahaman dengan mencatat untuk membuat review. Durasi baca buku seperti ini, berlaku untuk jenis buku populer yang bisa dibolak balik. Tapi kadang-kadang tidak berlaku untuk bacaan novel, karena maunya pengen cepat tuntas.


Membaca buku sore ternyata menenangkan, meskipun hanya beberapa lembar, bisa menambah energi dan memperkuat hati dalam menjalani sesuatu. Ibu Aisyah Dahlan menjelaskan dari sisi dokter praktisi neuroparenting, bahwa seorang perempuan itu merupakan makhluk pembelajar. Otaknya terus bergerak, entah memikirkan anak-anak, rumah yang sering bocor, mengelola keuangan untuk memenuhi segala kebutuhan dan banyak lagi.


Oleh karena itu, selain baca buku, perempuan disarankan oleh Ibu Aisyah Dahlan untuk terus belajar, salah satunya ikut kajian. Kajian sebuah kegiatan yang mengajak perempuan untuk mengisi pikiran dengan pengetahuan. Langkah ini juga salah satu cara mencerna masalah dengan ilmu.  Sehingga hati tidak mudah gelisah, tidak grasa grusu dan bisa memilah berbagai informasi. Mana yang bisa kita serap dan mana yang bisa kita singkirkan.

Judul Buku: Sapatualang Edisi Jalan-Jalan ke Bukittinggi dan Padang

Penerbit: Stiletto Book

Cetakan/Tahun: Cetakan 1, Oktober 2025


Buku Sapatualang edisi Bukittinggi dan Padang. 
(Foto: koleksi pribadi)


Yunis Kartika kembali mengeluarkan buku terbaru gendre perjalanan. Kali ini mengangkat judul Sapatualang edisi Jalan-Jalan ke Bukittinggi dan Padang. Melalui penerbit Stiletto Book ini, Yunis menceritakan tentang pelbagai perjalanannya di Bukittinggi dan Padang bersama suami. Perjalanan ditempuh melalui jalur darat, menyusur pulau Sumatera menuju Ranah Minang. Mereka menyetir kendaraan bergantian, saat lelah mereka pun istirahat di beberapa titik peristirahatan. Proses perjalanan yang menarik.


Yunis aktif dipelbagai organisasi, salah satunya jadi anggota Mapala Argawilis (unit kegiatan mahasiswa) saat masih kuliah di jurusan teater di ISBI (Institut Seni Bandung Indonesia) tahun 1997. Sepertinya kegiatan menjadi anggota Mapala Argawilis mengolah keberanian atau fase tumbuhnya inspirasi untuk melakukan perjalanan seperti ini. Tidak hanya melakukan perjalanan intuitif, tapi saya percaya setiap perjalanan yang dilakukannya diiringi dengan bekal ilmu dan kesiapan fisik. Terlihat dari setiap kisah dibalik destinasi yang didatanginya, memberi kekayaan pengetahuan dan nilai hidup masyarakat tersebut.


Melalui Sapatualang, perjalanan penulis ke berbagai lokasi membuka jendela pengetahuan dan mengolah rasa pembaca. Buat yang awam kota Bukittinggi dan Padang, buku ini menimbulkan kesadaran kekayaan hayati, kekuatan akar budaya, kehidupan sosial yang kaya.  


Jam Gadang.
Foto: Akun IG Yunis Kartika

Buku seri Sapatualang ini unik, penulis menghadirkan sepatu sebagai tokoh utama. Seolah-olah sepatu menceritakan setiap langkah kakinya menuju titik-titik destinasi bersama Yunis. Dalam beberapa situasi, sepatu menjadi mata dan rasa pencerita. Sepatu menjadi tokoh perjalanan yang hidup namun pengemasannya tetap realis. Dimana si sepatu mencatat perjalanan menemani Yunis dan suaminya mengikuti petualangannya.


Bisa jadi, ide ini hadir karena Yunis memiliki latar pendidikan teater di ISBI. Sehingga muncul sisi dramatis si sepatu. Seperti muncul situasi sepatu ketika harus melewati jalan yang becek dan berlubang.


Mungkin itu sebabnya judul besar buku ini Sapatualang, gabungan dari Sapatu (sepatu, bahasa Sunda) dan petualang. Buku Sapatualang kali ini merupakan seri ketiga, Saputualang pertama yaitu Jalan-Jalan ke Bangka, lalu seri kedua merupakan catatan Jalan-Jalan ke Belitung. Kamu bisa mengoleksi ketiganya.


Catatan perjalanan dalam buku mungil namun kaya pengetahuan ini dibagi 2 bab. Bab pertama mengangkat kota Bukittinggi yang membahas 6 judul, sementara bab kedua membahas perjalanan ke Padang yang mengangkat 9 judul. Setiap judul memaparkan situasi lokasi yang dikunjungi, waktu yang ditempuh dari satu lokasi ke lokasi lain, tiket masuk ke lokasi wisata, sejarah bahkan kearifan lokal masyarakatnya.


Di Bukittinggi, kita seolah diajak melakukan perjalanan mengenal tokoh bangsa Bung Hatta dengan mendatangi museum rumah kelahirannya, mengunjungi Jam Gadang, Lubang Japang, Ngarai Sianok, Museum Perjuangan Tri Daya Eka Dharma dan Lembah Anai.  


Museum rumah kelahiran Bung Hatta.
Foto: IG Yunis Kartika.

Sementara di Padang, pembaca akan diajak melakukan perjalanan reflektif di Masjid Raya Sumatera Barat, Museum Adityawarman, Museum Randang Padang, Pantai Air Manis (lokasi legenda Malin Kundang), Jembatan Siti Nurbaya, Monumen Korban Gempa Padang, kuliner khas Ranah Minang, jejak sejarah Pantai Buruih sampai ditutup dengan tips lokasi belanja dan transportasi di Padang dan Bukittinggi. 


Setiap kisah destinasi dipaparkan secara detil, baik kondisi fisik maupun nilai-nilai kehidupan suku Minang yang divisualisasikan dengan kata-kata. Melalui catatan penulis, kita menemukan Bukittinggi dan Padang merupakan kota yang istimewa karena identitas budaya yang dijaga kuat. Selain memelihara budayanya, masyarakat setempat memelihara bangunan fasilitas publik di Padang Lama pada masa kolonial Belanda. Ada bangunan yang didirikan pada abad ke-19, gedung De Javasche Bank pada tahun 1830, gedung perusahaan dagang pada tahun 1926, selengkapnya bisa membuka buku Sapatualang.


Gedung peninggalan kolonial Belanda
di Padang Lama. 
Foto: IG Yunis Kartika

Setiap catatan destinasi dari buku mungil ini memaparkan peradaban Ranah Minang dari segala sisi, sehingga memberi gambaran luas nilai kehidupan yang membentuk identitas masyarakat yang dikunjunginya. Sayangnya, foto yang melengkapi catatan kurang begitu jelas, karena ukurannya kecil, hitam putih dengan pencahayaan agak gelap. Meskipun begitu, cukup memberi suasana destinasi yang dikunjunginya. Buat pembaca yang mulai penasaran, bisa jadi mencari foto-foto lokasi di media sosial Yunis Kartika.


Sebagai buku travel, konsep buku ini cocok juga untuk teman perjalanan untuk mengisi suasana dan inspirasi. Ukurannya A5, kecil, bobotnya ringan karena menggunakan kertas jenis bookpaper berwarna krem, sehingga praktis untuk dibawa ke mana-mana. Meski bawa barang banyak, buku Sapatualang bisa jadi buku panduan yang diselap selip di kantung tas.


Membaca seri buku traveling Sapatualang jadi mengingatkan aku pada sepotong adegan film Notting Hill. Film komedi romantis mengangkat tema kehidupan pemilik toko buku di Notting Hill. Menjadi perhatian aku, tokonya ini hanya menyediakan buku-buku spesifik bertema perjalanan; buku-buku referensi destinasi perjalanan. Melihat settingan buku-buku di film tersebut memberi gambaran besar tentang kebutuhan buku bertema perjalanan agar kita bijak ketika menginjakan kaki di tanah orang dan bisa mendatangi lokasi-lokasi yang penting.


Melalui seri buku Sapatualang, kita diajak lebih dalam mengenal nilai budaya, alam, makanan yang mempengaruhi akar budaya setempat. Perjalanan yang diikat dengan dengan tulisan bisa bertahan lebih lama. Kumpulan kata ini menjadi estafet pengetahuan agar siapa pun yang membacanya dapat meluas hati dan pikirannya untuk terus menjaga bumi dan penghuninya.


Ima. Bandung, 13 Desember 2025




Beberapa hari lalu, aku dapat buku yang baru saja dilahirkan oleh Kang Dudi Rustandi berjudul Digital Public Relations. Buku terbitan Simbiosa Rekatama Media pada bulan April 2024 ini memaparkan era fungsi digital informasi yang mempengaruhi gaya hidup komunikasi saat ini. Isinya mengurai dunia digital yang berkaitan membangun reputasi, digital pubic relation (PR) dari era 0.1 hingga 0.5, konsep dasar PR, elemen penting dalam digital PR, strategi hingga digital branding.

Melalui buku ini memetakan fungsi digital dan cara membangun komunikasi digital yang tepat. Sehingga kita semakin memahami kebutuhan dan perkembangan ekonomi, digital PR memberi kekuatan karakter antar individu maupun kelompok di tengah berbagai segmen masyarakat.

Komunikasi di ranah digital saat ini, bisa menghadirkan karakter tertentu. Kedekatan digital PR dapat terbangun dengan baik antar individu, individu dengan publik, publik dengan individu. Saat ini situasi keterhubungan komunikasi digital cenderung lebih cepat dan dekat, yang dapat meringkas ruang dan waktu.

Kalau kita melihat perkembangan ke belakang, media komunikasi dan informasi dibagi berdasarkan metode pengirimannya dan disusun dalam tipe-tipe perusahaan yang berbeda. Penerbit untuk koran, majalah dan buku. Studio untuk rekaman dan gambar hidup. Stasiun untuk radio dan televisi. Kini, dengan adanya internet menyampaikan berbagai media cetak, siaran, film, musik yang dapat dikelola, digunakan bahkan kita dapat mengapresiasinya tanpa batas.

Buku ini mencatat sejarah berbagai teknologi yang mempengaruhi cara berkomunikasi dengan publik yang dapat mempengaruhi reputasi perusahaan maupun individu. Bagaimana setiap generasi ternyata terpengaruh dan berdaptasi dengan cepat dengan pelbagai perkebangan teknologi. Ada yang mampu mempelajari dan mempelajari cara-cara mengelola jaringan dengan kekuatan internet. Namun, tak sedikit yang tetap merasa nyaman mencari informasi dalam sistem media cetak.


 

Seperti yang tertera dalam buku tersebut, pada tahun 1970-an, kita mendapatkan media komunikasi dan informasi berdasarkan sistem penyampaiannya. Kalau media yang berbentuk kertas yang dicetak, saat itu namanya bulletin, koran, majalah, tabloid, buku. Kemudian media yang menggunakan antena, membawa siaran melalui sinyal yaitu radio dan televisi. Lalu musik dan film, membutuhkan kaset, disket, piringan hitam agar kita bisa mengapresiasinya.

Buat generasi Y dan millenial, teori perkembangan teknologi komunikasi tumbuh bersama usianya. Membaca buku PR Digital ini seperti membaca sejarah diri yang beradaptasi secara otodidak, trial and error dalam mempelajari kebaruan berkomunikasi dan membangun diri dalam berbagai platform dan dunia cyber lainnya. Informasi yang hanya dari televisi, radio, koran, lalu terus berubah wujud berkomunikasi menggunakan media sosial berupa aplikasi whatsapp, telegram sampai website yang menampung berbagai informasi dan hiburan.

Saya sendiri termasuk yang tertarik mengeskplore dan mencoba berbagai perkembangan alat komunikasi dan informasi. Mulai dari satu saluran televisi sifatnya central yang mulai menyala hanya dari jam 17.00-23.00 WIB, mencari informasi ke perpustakaan atau berburu majalah bagus ke pasar buku bekas di Cikapundung, hingga kini bisa mendapatkan informasi dari manapun, dari siapapun. Karena semua orang bisa mengolah cerita, berita, tulisan di micro blog dan media sosial. Dari situasi yang banyak upaya hingga begitu mudah mendapatkan berbagai pelajaran dari berbagai platform. Sifatnya meringkas waktu dan tempat.

Buat generasi Y dan millenial, mengalami berbagai evolusi informasi dan komunikasi di tengah masyarakat dunia. Terlebih ketika akhir tahun 2019, masyarakat dunia melewati pandemi corona yang membuat kita berkomunikasi tanpa tatap muka. Mulai dari menjaga hubungan keluarga, pekerjaan, perputaran ekonomi hingga pendidikan semua sistem komunikasi diantisipasi secara online. Semua orang beradaptasi tetap di rumah tapi tetap bisa berkomuniasi dan mengolah diri.

Penulis buku ini dikenal sebagai dosen Prodi Ilmu Komunikasi Telkom, memaparkan dengan lugas dunia digital. Karena selain mempelajari, beliau juga mempraktekan sebagai pengelola persola blog dan tergabung dalam berbagai komunitas blog. Terlihat jelas dalam bukunya, setiap bab menerjemahkan berbagai fungsi digital yang dikelola dengan tepat oleh PR sehingga dapat diterima oleh public yang tepat.

“Kini blogging menjadi salah satu aktivias dan bagian tidak terpisahkan dari pekerjaan Public Relation (PR). PR sadar akan pentingnya eksistensi dan reputasi perusahaan melalui kata kunci positif pada media digital. Oleh karena itu, salah satu yang menjadi mitra kolaborasinya adalah blogger.” (Digital Public Relation, hal. 157)

Begitupun ketika saya bisa mewujudkan kesukaan menulis di media blog. Saat itu tahun 2002, saya baru mempelajari dan menggunakan media sosial sekaligus blog yang bernama Friendster. Beberapa teman yang usianya di atas saya, masih merasa rigid dengan new media komunikasi ini. Merasa canggung dan geli bisa membangun jaringan dengan cara online. Situasi teknologi yang menghadirkan euphoria ilmu pengetahuan yang berdampak pada kehidupan bermasyarakat.

Sesuai usia lahirnya blog saya ini, saya kelola dan isi dalam rangka latihan menulis pada tahun 2002. Ditulis sendiri, diapresiasi sendiri, pembacanya juga kalangn teman-teman dan saudara. Saya jadi asik sendiri dengan dunia menulis yang aku impikan sejak kecil. Blog menjadi titik cerah buat saya yang tidak punya dasar pendidikan di dunia menulis.

Kembali pada tahun 2001, paska keruntuhan pemeritahan Soeharto pada tahun 1998 muncul semacam situasi euphoria kebebasan berpendapat, bersikap, keberanian menjual berbagai buku yang sempat dilarang oleh pemerintah saat itu. Bahkan tak sedikit orang-orang berani menelurkan buku-buku terbitan sendiri dan menghidupkan ruang-ruang kreasi yang sifatnya memfasilitasi kebutuhan komunal. Kalau dulu, kalau ada perkumpulan yang sifatnya komunal, kerap menimbulkan kecurigaan akan menciptakan gerakan yang bisa membahayakan negara.

Masuk tahun 2019 dimana orang-orang diajak untuk melek teknologi karena faktor pandemi corona. Semua generasi termasuk babyboomers mau tidak mau mempelajari teknik berbagi informasi mulai dari aplikasi whatsapp, telegram hingga berbagai aplikasi yang berkaitan dengan file pekerjaan.

Buat generasi Z yang tumbuh di era serba digital, serba cyber, menganggap bahwa teknologi komunikasi internet menjadi makanan sehari-hari. Proses pembacaan dan komunikasi mereka pun punya ciri khas sendiri. Generasi yang sudah dipenuhi banyak informasi dan mengenal banyak kehidupan sosial hampir semua kalangan. Menembus batas ruang, yang terbiasa mengenal sosial budaya antar daerah bahkan negara.

Bagi pengelola digital PR, fenomena percepatan revolusi industri ini menjadi tantangan tersendiri. Pada Bab 5 tentang memahami media digital, kita diajak mengenal lebih jauh tentang karakter audience berinteraksi, bagaimana kita bisa terhubung satu dengan lain. Situasi yang harus diakrabi agar kita bisa berstrategi dan mengelola diital PR dengan tepat agar dapat diterima oleh audiens.

Revolusi ini menghadirkan percepatan gaya hidup akibat digital. Belanja di pasar menggunakan note tablet, pertanian menggunakan smartfarming, pengelolaan keuangan menggunakan akuntansiku, berkomunikasi lewat whatsapp, rapat menggunakan zoom, kursus melalui Udemy, investasi menggunakan crypto, mengais rezeki lewat youtube, membuat konten menggunakan AI (artificial intelligence). (Hal. 76)

Buku ini menarik dipelajari oleh pengelola digital, baik perusahaan maupun individu. Biasanya kita mempelajari berbagai perkembangan digital di berbagai akun youtube, micro blog/website, bahkan reels IG. Tapi jika kita mau mempelajari secara komprehensif, buku yang disusun Kang Dudi Rustandi menjadi media panduan agar kita bisa lebih memahami new media yang jadi bagian revolusi komunikasi saat ini.



“Ciri sabumi cara sadesa.”

Peribahasa Sunda ini sebuah pengajaran etika yang memiliki makna bahwa setiap lingkungan memiliki adat dan ciri khas berbeda-beda. Dengan begitu peribahasa ini memberi bekal untuk manusia agar bisa beradaptasi dengan cara memahami, menyadari, menerima cara berkomunikasi dan bersikap di sebuah lingkungan.

Setiap lingkungan pasti memiliki ritme hidup dan aturan etika yang harus dihormati. Peribahasa Sunda ini memberi pelajaran untuk terampil dan lugas dalam berbahasa/bersikap saat harus berinteraksi dengan berbagai aturan maupun etika yang berbeda. Saat kita masuk ke dalam lingkungan baru, mau tidak mau kita harus bisa beradaptasi dengan keadaan sosial di tempat tersebut.

Begitu pun dalam ayat Quran Al Hujurat ayat 13, yang artinya:

“Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal…”

Maksud ayat ini memaparkan tentang manusia itu pada dasarnya diciptakan berbeda-beda. Agar manusia bisa mempelajari nilai hidup setiap suku bangsa. Dengan begitu antar individu yang berbeda bisa saling menghormati dan bekerjasama untuk berbuat baik dan memelihara kehidupan.

Dari sumber ini, pada dasarnya manusia diciptakan beragam, mulai dari suku bangsa, agama, budaya, adat istiadat. Meskipun berbeda, pada dasarnya tipe kepribadian manusia itu sama, ada yang tipe plematis, melankolis, sanguinis, koleris. (Sumber di sini)

Keberagaman ini mengajarkan manusia untuk berfikir agar bisa membuat kesepakatan sosial baik tata krama, etika, kebijakan yang saling menjaga hak dan kewajiban tiap individu dalam berinteraksi dalam komunitas masyarakat.

Manusia sebagai makhluk sosial tidak bisa lepas dari berbagai elemen bermasyarakat. Baik lingkungan keluarga, tetangga, teman sekolah, teman kerja, komunitas hobi, klien, pelanggan bahkan jaringan pertemanan antar negara. Jangankan perbedaan karakter antar suku, individu yang dilahirkan dari satu Ibu pun memiliki karakter yang berbeda-beda. Karakter yang berbeda ini akan memunculkan perbedaan pandangan dalam menyikapi persoalannya.




Meski perbedaan ini disadari, dalam kenyataan sosial tidak semua orang sanggup beradaptasi, memahami dan menerima tipe kepribadian emosi khas setiap individu. Situasi ini bisa menjadi faktor yang menyebabkan perselisihan. Baik beda pendapat, saling menyalahkan, merasa paling benar, terjadi salah faham, ego dan emosi masing-masing individu yang menghambat kesepakatan dan saling memahami satu sama lain dalam mencapai tujuan yang sama.

Dalam beberapa kejadian di sebuah organisasi maupun tempat kita bekerja, sangat mungkin terjadi perselisihan. Baik antara atasan-bawahan, antar rekan kerja yang seringkali tidak sejalan lagi. Penyebab konflik bisa banyak faktor, seperti perbedaan komunikasi, tujuan dan sikap. (Manajemen Konflik dan Stres oleh Ekawana-menurut Gibson-2021. Sumber di sini)

Oleh karenanya, kita perlu mempelajari teknis berkomunikasi asertif yang tepat agar bisa menghadapi berbagai situasi. Sebuah sikap yang bisa mengatasi perbedaan sudut pandang antar individu maupun kelompok. Karena persoalan mau tidak mau harus dihadapi agar menjaga hak dan kewajiban kelompok.

Secara garis besar, komunikasi asertif adalah suatu bentuk komunikasi yang mencerminkan sikap tegas, jelas, dan terbuka tanpa melanggar hak atau perasaan orang lain (sumber: klik di sini ). Meskipun begitu, seringkali sikap asertif ini pun kadang-kadang sulit diterima oleh sebagian kelompok yang sulit menerima teguran atau merasa diperlakukan tidak adil.

Berdasarkan di atas, sikap asertif ini terbagi dalam beberapa jenis, diantaranya:

1. Asertif Positif
Komunikasi yang melibatkan ekspresi tegas dan jelas, tapi tetap menjaga suasana positif terhadap lawan bicara.

2. Asertif Responsif
Jenis komunikasi yang mendorong seseorang untuk melakukan dialog terbuka dan saling mendengarkan satu sama lain.

3. Asertif Pribadi
Jenis komunikasi yang berfokus pada kebutuhan, hak dan perasaan pribadi seseorang. Individu seperti ini menggunakan komunikasi asertif untuk menyampaikan batasan pribadi dan mengungkapkan keinginannya tanpa jadi agresif.

4. Asertif Bisnis
Merupakan komunikasi yang melibatkan penyampaian pendapat atau kebutuhan dengan professional dan tegas. Komunikasi ini membantu menciptakan lingkungan kerja yang efisien dan produktif.

5. Asertif Sosial
Kemampuan berkomunikasi dalam konteks sosial, seperti dalam pertemanan atau kelompok. Individu yang asertif secara sosial dapat menghormati kebutuhan dan pendapat orang lain sambil tetap setia pada nilai dan prinsip sendiri.

6. Asertif Negosiasi
Kemampuan komunikasi untuk mencapai kesepakatan yang adil dengan saling menghormati kebutuhan dan perspektif masing-masing pihak.


Keterampilan sikap asertif ini bisa terwujud dengan cara mengelola mental kita. Sikap tegas dan berani mengungkapkan masalah bisa terwujud jika dilengkapi dengan rasa percaya diri, berani, empatinya kuat, terampil berkomunikasi dan lingkungannya mendukung. Meski tidak mudah, tapi ketika kita berada di tengah kelompok, artinya kita harus bisa mengendalikan diri sendiri agar bisa bernas melihat persoalan dan mengurainya secara objektif.