zentangle-rumah

Menjelang tengah malam, menemani Ayah membuat video untuk virtual kelas menggambarnya.  Saya sedikit ikut corat coret zentangle.  Berikut udara dingin sisa hujan sedari sore.  Di halaman rumah beberapa mahasiswa (masih) latihan teater.  Suasana seperti ini rasanya enak sambil diisi sepotong roti bakar isi keju. Hangat. Padahal sejak masuk pandemi, berat badan kian bertambah.  Meski waktu sudah menunjukan pukul 22.15, kami pesan online roti bakar meski sempat berganti pilihan namun kembali pesan roti bakar karena enak dan sesuai budget.


Ternyata seru juga menggambar bersama dalam satu media.  Saking asiknya, saya sempat terbersit pengen bikin mural di dinding halaman rumah dilakukan bertiga.  Saya, Ayah dan Aden.  Kayanya bakal menarik.  Ternyata Aden pun makin enjoy menggambar zentangle.  Dia jadi lebih percaya diri berekspresi menggambar pattern meski masih belum rapi. Sambil nemenin ayah edit video, tak lama kiriman roti bakar datang.  Mata mulai mengantuk, tapi tetap saya susupi roti dengan tumpukan keju yang lembut.  Waduh, bagaimana nasib lemak-lemak yang kian menumpuk di lipatan perut saya.  Tapi, ya sudah, saya nikmati saja.  Oh, ya, ini hasil video zentangle kami:




Nah, kemarin tanggal 11 Januari 2021 merupakan hari pertama anak-anak kembali bersekolah dari rumah.  Tidak seperti sekolah swasta pada umumnya, anak saya sekolah negeri yang tidak melakukan zoom meeting untuk pertemuan pembelajaran.  Saya tidak tahu alasannya.  Tapi yang saya fahami, jangankan pembelajaran dengan media zoom, untuk melakukan komunikasi dan pengumpulan tugas lewat media grup whatsApp dan Google ClassRoom saja masih banyak yang kesulitan.  Baik karena gagap berkomunikasi, mengoperasikannya, faktor fasilitas (sinyal dan sebagainya) dan tentu tingkat ekonomi. Bahkan seringkali terlambat mendapat info tugas karena tidak punya data dan kondisi handphonenya tidak mendukung.  


Selama ini kami mendapat arahan tugas yang disampaikan melalui grup whatsApp, baik mengerjakan buku tema, modul maupun file yang harus kami download, dipelajari sendiri lalu dikerjakan latihannya.  Selain pelajaran, ada jadwal keseharian yang dikirimkan guru mulai dari menyapu, cuci piring hingga jadwal shalat. 


Buat saya ini menarik, saya menggunakan jadwal yang diberikan sekolah untuk mengoreksi kemampuan dan keterampilan anak-anak agar bisa lebih mandiri.  Dalam frame saya, PJJ jadi semi home schooling.  Jadwal dan kurikulum ada di pihak sekolah, sementara kontroling dan proses pembelajaran tanggung jawab kami sebagai orang tuanya.  Situasi ini seperti mengembalikan fungsi pendidikan pada orang tua, atau seseorang pernah bilang bahwa orang tua adalah madrasah pertama.  


Berat badan saya bertambah bukan karena kelebihan makanan, tapi tingkat konsumsi roti bakar yang sulit dikendalikan.  Kopi dan roti itu perpaduan enak saat menemani anak-anak belajar, emosi jiwa bisa dikendalikan sambil meyeruput kopi dan menyelup roti kedalamnya.  PJJ ini membuat saya butuh banyak kunyahan biar tenang menghadapi anak yang lagi "asoy" (hahaaa... alasan).  Sebetulnya banyak orang tua memahami pelajaran, hanya tidak semua orang tua lihai maupun tidak punya kemampuan menyampaikannya.  Jadi belum apa-apa bawaannya marah dan anak jadi tidak mudah memahami pelajaran.  


Proses memang, mengubah pola hidup keseharian dan jadwal belajar di rumah dengan intensitas yang lebih tinggi.  Ibu maupun Ayah perlu adaptasi dan tentu belajar lagi mengelola anak-anak agar bisa memahami pelajaran dengan menyenangkan.  Lalu menata bagaimana meyakinkan kepercayaan pada anak, bahwa orang tuanya pun layaknya guru bisa mengajar ilmu eksak, tentang lingkungan juga seni.


sekolah-jarak-jauh


Anak-anak kerap percaya bahwa guru "sumber ilmu" yang terpercaya ketika menyampaikan pembelajaran.  Sementara dalam benak anak, mereka kerap nyaman ketika fungsi orang tua di ruang yang berbeda, sebagai pendidik hal-hal keseharian seperti mengajarkan bebenah rumah, menyediakan makanan, mengaji bersama dan ruang bercanda.  Anak beradaptasi ketika orang tuanya mengajar matematika, begitupun orang tua kerap berharap banyak anak-anaknya cepat belajar atau menilai anaknya lambat dalam memahami pelajaran matematika yang disampaikannya.  Keduanya berproses ketika berhadapan dengan situasi PJJ ini.


Saat anak sekolah dan berinteraksi dengan guru, anak-anak merasa percaya bahwa pelajaran yang disampaikannya benar.  Begitupun dengan orang tua, merasa aman dan percaya bahwa anak-anaknya bisa pintar ketika diserahkan tanggung jawab belajar dan etika ke guru agar anak-anaknya tumbuh lebih baik.  


Begitu PJJ dilakukan, tentu bagi sebagian orang tua merasa ada mesin yang bocor. Bagaimana dengan nasib pertumbuhan keilmuan anak-anaknya?  Terlebih jatuh pada orang tua yang bekerja di luar rumah maupun yang mempunyai usaha, sehingga tingkat perhatian membagi waktu dan kemampuan menyampaikan pelajaran harus lebih ditingkatkan.  Baik dalam mengatur jadwal belajar, jadwal keseharian dan jadwal bekerja.  



belajar-di-rumah

Sekarang PJJ masuk bulan ke-10, saya sudah makin santai dan terbiasa.  Lebih enjoy sebetulnya.  Kebetulan anak-anak saya keduanya usia sekolah dasar.  Banyak PR dalam list saya untuk mengelola motorik kasar maupun motorik halus.   Baik mengelola keterampilan dasar, mengelola emosi, mengajarkan agama, hingga proses menularkan ilmu pengetahuan.  Saat gelisah dan "merasa gagal" saya selalu ingat beberapa tokoh dunia yang pembelajarannya ditangani langsung oleh orang tuanya.

 

Dari beberapa pelajaran yang disampaikan, ternyata ada pelajaran yang saya fikir mereka sudah menguasainya ternyata mereka tidak bisa.  Antara khawatir, mendiskusikannya dengan Ayah namun berusaha tenang.  Mau tidak mau sambil berusaha untuk menerima kesalahan diri, saya mengajarkan kembali/mengulang pelajaran yang mestinya sudah mereka kuasai.  Kenyataan ini yang membuat saya harus lebih tertib, disiplin tapi tetap santai menjalankannya.  Pelan tapi terus dilakukan.  


Saya malah mulai berfikir ada kekhawatiran jika anak-anak harus kembali ke sekolah lalu harus berhadapan dengan guru yang tidak memahami karakter anak dan tidak mempunyai kemampuan berbahasa dengan anak-anak.  Hanya proses kenyamanan itu muncul ketika berat badan makin bertambah dan banyak celana panjang yang tidak muat.  Ini sungguh menyedihkan.  Tapi, ya, sudah, tidak semua orang mampu beradaptasi dan belajar cepat pada keadaan.  Perlu berproses dalam menerima dan beradaptasi dalam memahami keadaan.  Sekarang saya sedang berfikir, situasi 10 bulan  ini pasti berpengaruh pada kehidupan dan pertumbuhan anak-anak kita 10 tahun ke depan.


Daun cahaya

Banyak kejadian menarik selama setahun ini, 2020. Ya, tahun 2020 sepertinya mencatat sejarah besar bagi semua orang. Situasi pandemic akibat covid 19 berpengaruh banyak bagi situasi sosial di masyarakat. Reaksi orang-orang berbeda-beda, namun tentu manusia makhluk yang bisa beradaptasi dengan keadaan. Kondisi ini sepertinya mengubah sebagian besar mindset setiap orang dalam memahami batas kuasa manusia dan kuasa Tuhan.

Ada yang belajar memetik, ada yang belajar meraup, ada yang kehilangan, ada yang mendapatkan sesuatu, ada yang mendekat, ada yang menjauh, ada yang… ya, banyak. Mungkin bagi kebanyakan manusia, tahun ini menjadi tahun penuh harap, doa bahkan mungkin caci maki.

Buat saya, hidup haruslah terus berjalan apapun yang terjadi. Meski bukan tidak melewati fase tidak aman dan merasa takut. Sama ketika musim hujan datang, kita harus pakai payung dan jaket biar tidak kehujanan dan tidak kedinginan. Ketika tubuh mulai ada gelagat tidak enak, berarti harus diberi makanan segar dan sehat. Begitupun ketika muncul virus corona, yang harus kita lakukan adalah mengikuti semua prosedur kesehatan. Ya, prosedur dan cara menghadapi virus ini cukup menjengkelkan, di awal-awal bisa jadi situasi ini cukup menjengkelkan karena benar-benar membatasi pola hidup sosial kita. 

Zentangle di rumah aja

Lepas dari segala kontroversi dan muncul beragam anggapan konspirasi kepentingan orang-orang, nyatanya penyakit ini ada dan dekat. Tadinya korban covid 19 hanya di berita, kini orang-orang yang kita kenal mulai dari teman hingga keluarga mulai tertular. Namun kabar melegakan hadir ketika satu persatu dinyatakan sehat. Itu ibarat minum teh botol dingin saat haus dan panas.

Awalnya saya takut, tapi situasi ini harus dihadapi. Pikiran dan hati terus menerus diperkuat dengan ibadah, kontemplasi, menatap langit, memotret sekitar rumah, menulis, menonton kdrama, memasak hingga membuat karya-karya yang belum pernah saya buat, seperti musikalisasi puisi dan belajar gambar zentangle.

Saya fikir pandemik ini akan berakhir sekitar 2-3 bulan, seperti situasi wabah penyakit yang sudah-sudah. Ternyata masuk juga bulan Desember, melewati hari-hari istimewa seperti bulan Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, ujian-ujian sekolah, liburan, hari Natal dan tahun baru. Situasi yang berbeda tapi buat saya, hari-hari istimewa itu seperti biasa tidak disikapi berlebihan seperti liburan ke luar kota maupun jalan-jalan. Jadi ketika melewati hari special itu, cukup dengan makan enak di rumah sudah menjadi tanda “merayakan dan bersyukur”.

Tahun 2020 terlewati dengan tingkat pasien covid 19 yang meningkat pesat. Jadi saya fikir, ya sudahlah, saya percaya masih ada yang bisa kita syukuri dengan melakukan apapun dengan keadaan terbatas ini. Lalu saya coba kembali mengingat-ingat yang sudah dilakukan menjalani hidup sehari-hari di tengah situasi pandemik. Wah, ternyata banyak yang menarik meski sederhana. Saya fikir ini patut dirayakan dengan menyeduh kopi dan mencatatnya.

Oke, saya mulai ingat-ingat, mulai dari bulan Maret 2020. Ini dia:

Maret-Desember 2020 Merupakan proses sekolah yang unik karena dilakukan secara PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Full drama tapi tentu bersejarah, menjadi pembelajaran buat para orang tua mengelola diri dan membuat sistem kegiatan sekolah di rumah. Buat saya ini pengalaman yang menarik dan cukup menguras pikiran. Belajar di rumah membuat saya lebih disiplin sebagai Ibu. Saya belajar semua pelajaran lagi, mulai dari matematika, bahasa sunda, bahasa inggris, olah raga, seni rupa, tema, PLH.

Sebetulnya saya suka mengajar anak-anak, namun sering menguras hati karena harus mencari cara yang pas mentransfer pelajaran ke anak-anak. Banyak dramanya, terutama masalah orang tua yang perlu bantuan pengiriman tugas melalui google classroom. Tidak hanya masalah akses namun berkaitan dengan sinyal dan kuota. Belum orang tua yang tetap bekerja di luar rumah yang tidak bisa mendampingi anak-anaknya. Banyak sekali drama yang menguras hati. Tapi saya percaya kita bisa melewatinya.

Maret-Desember 2020 buat saya menjadi proses mengenal lebih dalam mengenai disleksia dan proses menyusur mengenal diri kembali.

Apa? Ya, Ayah dapat pekerjaan baru. Sebetulnya baru mulai bulan Januari 2020. Begitu jalan 2 bulan harus berganti proses pengajaran secara online karena pandemi. Selain mengajar, para pengurus sekolah disleksia yaitu Indigrow, membuat seminar khusus dengan tema Art For Dyslexia. Salah satu pembicara utamanya yaitu Ayah. 

School from home


Hampir setiap hari Ayah mengajar dan menjadi pemateri dengan menggunakan media zoom. Salah satu keuntungan seminar dan mengajar online, saya jadi bisa ikut seminarnya dan mendengarkan materi dari para dokter dan psikolog. Kadang saya nangis dan merasa bersalah karena sering melakukan kesalahan dalam mendidik anak-anak di rumah.

Cara Allah mendidik kami memang keren sekali, bertahun-tahun Ayah sakit dan mengisi proses pengobatannya dengan menggambar. Rupanya setelah ayah bisa dan ahli, Allah memberi obat tambahan anti kejangnya melalui Dr. Purboyo Solek (owner Indigrow). Beliau bilang, kalau kamu makan obat ini dalam satu bulan juga sudah bisa mengajar lagi. Ternyata betul, banyak sekali progressnya, bisa shalat Jumat lagi (setelah 4 th-an), bisa tahan angin dan dingin, bisa ngobrol lama bahkan bisa aktif jadi pengurus DKM dan membuat mural.

Lalu setahun kemudian Dr. Purboyo mengajak Ayah menjadi salah satu pengajar seni di Indigrow. Situasi ini menyenangkan sekali, kesiapan ilmunya seperti dipersiapkan untuk anak-anak disleksia. Selain itu, saya seperti mendapat hujan ilmu parenting dan semakin menyadari karakter diri juga anak-anak (Aden dan Bayan).

Maret 2020, ada kegiatan yang saya ikuti meski tidak terlibat langsung. Keponakan saya Kang Isa Perkasa, suami saya Holis, Kang Anton, Erris dan beberapa yang lain membuat acara Pameran Bergilir Jawa Barat #3 di Galeri Pusat Kebudayaan (GPK) di Gedung YPK-Yayasan Pusat Kebudayaan Naripan. Ini pameran bergilir ketiga, pesertanya melibatkan beragam seniman dari pelosok Jawa Barat. Ruang komunikasi seni rupa antar daerah seperti terjalin kembali dan memberi energy yang kuat untuk berkarya. 

Pameran seni rupa Jabar


Pameran dibuka pada tanggal 14 Maret 2020 jam 19.30 WIB, suasana rame, peserta berdatangan untuk menghadiri pameran. Ada yang dari Garut, Depok, Tangerang, meski belum ada himbauan berkumpul dan jaga jarak, beberapa tamu yang hadir mulai menggunakan masker dan beberapa membawa handsanitizer.

Tadinya panitia mau menyediakan handsanitizer sebagai bentuk antisipasi, tapi saat itu tiba-tiba harganya mahal dan beberapa toko kehabisan stock. Ini cukup menegangkan. Setelah acara pembukaan pameran selesai, beberapa jam kemudian, tepatnya jam 00.00 WIB, panitia mendapat surat himbauan agar tidak melakukan acara yang melibatkan masa di lokasi-lokasi pemerintahan dan umum. Alhasil, setelah pameran dibuka, besoknya galeri langsung ditutup karena mengikuti himbauan pemerintah agar tidak terjadi kegiatan kumpul-kumpul.

April 2020 jadi salah satu momen berharga buat saya dan Aden (panggilan akrab Devdan). Beberapa minggu sebelum ada surat himbauan sosialisasi dari pemerintah, Aden lolos seleksi workshop Anak Bumi yang diadakan oleh Eco Camp Dago Bandung. Mestinya Aden dan beberapa peserta yang lain mengikuti acara di Eco Camp, menginap dan mengikuti berbagai proses jadwal kegiatan Anak Bumi.

Semula saya fikir acara ini tidak jadi, tapi ternyata anak yang terseleksi dihubungi lagi untuk mengikuti acara secara online. Aden dan Dava perwakilan yang lolos dari sekolahnya tapi Dava tidak mau ikut karena ingin mengikuti secara offline. Jadi perwakilan dari SD Isola hanya Aden.

Acara Anak Bumi ini menarik sekali, Aden belajar banyak tentang linkungan. Pendekatan pemateri dalam menjelaskan lingkungan mengenai dampak gaya hidup manusia terhadap lingkungan dan memahami siklus alam. Proses ini membuat Aden lebih faham dan memahami proses tumbuh dan bagaimana memelihara lingkungan.

2020 sahabat kami, Evi Sri Rezeki mencari talent untuk membuat video pembelajaran untuk Sekolah Cinta yang bisa dilihat di TVRI Jabar dan youtube Sekolah Cinta Jabar. Rupanya Evi membutuhkan talent anak laki-laki yang usianya sesuai dengan Aden. Kebetulan Aden tertarik dan mau terlibat.

Sekoper Cinta Jabar


Buat saya dan Ayah, ini jadi kesempatan buat Aden belajar langsung proses dan bagaimana kerja kolektif dalam menghasilkan sebuah karya. Dia menjadi tahu proses reading, penulis naskah, sutradara, cameraman, pengontrol suara, tata make up dan keriuhan lain dibalik layar. InsyaAllah, tentu ini menjadi pengetahuan dan pengalaman yang "mahal" pada usianya.

Hal menarik lagi, saya melihat sisi lain Aden yang begitu "merdeka" berekspresi. Dia enjoy dan bisa beradaptasi dengan proses syuting yang panjang bahkan harus diulang-ulang. Orang-orang yang terlibat pun membuat suasana menjadi nyaman, tenang dan asik. Mungkin karena itu juga, Aden jadi merasa diterima dan ikut merasakan suasana kenyamanan itu.

Oktober 2020 Saya dan keluarga diajak oleh Kak Adi dari Eco Camp untuk mengisi acara penutupan Green Leader Eco Camp. Buat saya ini keren sekali, Aden juga senang karena bisa kami bisa kolaborasi dialog tentang alam lalu saya dan Ayah mengiringi dengan musikalisasi puisi. Ini pengalaman yang berharga menjadi bagian dari orang-orang yang terus “bekerja” untuk memelihara alam. 




Oktober 2020 Di bulan yang sama, kelompok mahasiswa film Telkom mendapat tugas membuat film dokumenter. Rupanya mereka tertarik mendokumentasikan proses kreatif drawing Ayah menjadi media terapi penyembuhan. 

Proses berkarya ini dilakukan di rumah kami dengan sistem wawancara dan menyiapkan berbagai dokumentasi berupa foto dan bukti-bukti medis. Setiap pertanyaan dari mereka membuka ingatan kejadian satu persatu perjalanan panjang pengobatan Ayah. Tidak hanya pengobatan medis namun aktivitas yang membuat Ayah tetap semangat ditengah proses penyakit beratnya.

Kami memaparkan awal (banget) Ayah sakit hingga semua jalur aktivitasnya terhenti berbulan-bulan. Lalu masuk pada fase menemukan aktivitas baru berupa menggambar dari tidak bisa menjadi bisa. Hingga berbagai kegiatan yang membuka kembali jalan sosialnya setelah (kurang lebih) 5 tahun tidak dapat melakukan aktivitas sosial seperti manusia pada umumnya. Kemudian akhirnya masuk pada fase menemukan obat yang tepat bisa beraktivitas normal lagi. 


Bulan-bulan lainnya, waktu saya belajar kembali dunia blog dan bahasa Inggris. Saya bergabung di beberapa komunitas blogger. Alhamdulillah salah satunya seperti ISB (Indonesian Sosial Blogerpreneur) kerap membuat kegiatan workshop blog secara gratis. Mulai dari dunia menulis, mengolah SEO hingga cara membaca Google analityc. 

Keikutsertaan saya di workshop ini memicu semangat nge-blog lagi setelah lemah dan berjarak dengan laptop karena pengaruh situasi pandemik dan drama PJJ. Saya benar-benar menjaga mental agar tetap stabil, sehingga tidak terlalu memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang membuat psikis saya terganggu. 

Mural di gang



Saya kerap melakukan sesuatu yang ringan dan menyenangkan. Entah bagaimana, energi menulis saya seperti berjarak. Saya seperti takut menulis, karena energi mengkritisi lagi tinggi-tingginya melihat polemik masyarakat di tengah pandemik. Sehingga tema yang muncul di kepala saya selalu seputar kritik dan kemarahan.

Jadi saya lebih memilih menahan diri dan mengalihkan fokus pada anak-anak. Jadi akhirnya saya memilih jadi “guru” anak-anak, membimbing orang tua murid yang kesulitan menggunakan gawai-nya dan pelajaran sekolah, membuat puisi, musikalisasi puisi, membuat kegiatan baca buku mingguan setiap hari Jumat sore bersama Ayah, memasak bareng anak-anak. Buat saya ini kesempatan membangun sekolah di rumah. Anggap saja PJJ ini menjadi semi home schooling. Ternyata untuk menciptakan home schooling atau istilahnya rumah adalah pesantren pertama itu luar biasa. Perlu disiplin diri dulu, baru mengajak anak-anak.

Mungkin itu sebagian kegiatan di rumah selama pandemik. Meski di rumah saja, ternyata banyak hal yang bisa dipelajari terutama kembali mengenal diri, memicu kreativitas dan menjadi kesempatan untuk belajar kembali.
Zentangle Rumah


Hening pagi ini, menepi pada sudut-sudut rumah

Menyimpan sunyi pada segelas roti hangat

Secangkir kopi hadirkan senyum diri

Menjeda pada alunan para pemimpi



Hening Pagi 2020



Hening di awal-awal masa pandemi, menggiring saya menghadirkan beberapa bait musikalisasi puisi. Adalah musikalisasi puisi kedua yang saya buat, sementara instrumennya diolah Ayah. Sementara yang pertama membuat Musikalisasi Puisi pertama saat mau sumbang isi acara penutupan online Anak Bumi yang diikuti oleh anak kami di Eco Camp Dago. Rupanya proses ini hasilnya indah meski sederhana lalu memancing kami untuk bikin lagu lagi.

Gelisah yang sama, semangat yang sama, pemilihan diksi yang penuh energi menjadi bagian menarik. Rupanya proses dan langkah ini menyadarkan bahwa apa yang pernah dilakukan di masa lalu tetap bersisa dan memberi energi pada setiap karya yang kita buat. Hanya saja seringkali keadaan yang membuat kita tetap menjalankan, belok atau berhenti. Saya seperti menelusuri diri dan mengembalikan "cinta".

Setelah sekian lama meninggalkan kegiatan seni teater, ternyata setiap kesempatan kerap beririsan kembali dengan teman-teman yang pernah berkegiatan bersama. Bahkan semakin menyadari bahwa kegiatan yang saya lakukan ikut memberi “isi” pada apapun yang saya lakukan. Lebih dari itu, ternyata proses yang kami jalankan di masa lalu, ikut memelihara energi pada teman-teman untuk bertahan menggapai mimpinya dan tidak berhenti berkarya.

Mereka banyak yang terus bergerak pada bidang yang mereka cinta, tapi saya berhenti atau dihentikan. Beriring dengan waktu, pertemuan membawa kami pada ruang yang sama. Pertemuan ini seperti kembali mengenal diri, memahami diri melalui teman-teman yang pernah bergiat bersama bahwa setiap proses di masa lalu begitu mempengaruhi dan membekas pada profesi mereka kini. Saya tidak menyadarinya sampai satu persatu mengungkapkannya. Hingga hati ini rasanya penuh dan pengap, senang sekaligus takut. Semoga energi baik yang mereka raup.



Hening pagi di tengah pandemi menjadi momen panjang berlama-lama minum kopi sambil berbincang dan refleksi dengan Ayah (suami). Mulai dari berbincang situasi politik, tentang manusia, masa lalu, anak-anak, dan tentu tentang cinta. Saya beruntung punya teman hidup yang asik berbincang apa saja. Termasuk teman nonton drama Korea, film serial. Kami menyiapkan segala untuk nonton, mulai dari kopi, mie instan dan kripik. Upaya ini cukup memelihara perjalanan jiwa hari demi hari kehidupan situasi di rumah saja.

Memelihara iklim di rumah (saja) sudah lama dijalani ketika suami sakit tahun 2014-2017. Adaptasinya cukup lama yang menggoda perasaan. Saat itu kondisi suami dan anak-anak sulit sekali ditinggalkan, saya ambil pilihan aktivitas meraih rezeki yang bisa dijalankan di rumah. Bertahan menjalankan dunia menulis menjadi pilihan karena dapat dilakukan sambil merawat keluarga. Saya berusaha fokus yang dekat dengan diri, hal yang paling saya punya, baik modal fisik maupun hal yang paling saya bisa. Rupanya hasil rangkuman dari sekian list yang ada, beririsan dengan dunia tulis menulis dan seni. Sehingga ketika pandemik muncul, kami meneruskan aktivitas biasa namun lebih hati-hati saja ketika harus beraktivitas di luar.

Hidup 9 bulan di tengah pandemi, menggiring kita untuk menafsir dengan hati-hati cara pandang langit. Masa ini jadi momen memahami kembali lipatan masa lalu juga harapan. Setiap kejadian baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, begitupun sebaliknya. 

 Melalui situasi ini, saya belajar beragam karakter setiap orang tampak satu persatu. Ada yang mementingkan diri sendiri, ada yang berusaha keras tetap berbagi, ada yang terus bertahan untuk mempertahankan penghuni sampan. Ada yang memanfaatkan momen ini untuk menyembuhkan luka, pun ada yang menebaskan luka. Belajar dari diksi yang diurai dan beragam hal yang dilontarkan di ruang silaturahmi digital: media sosial.

Allah punya cara yang unik dalam memberi kejutan pada tiap jalan yang dipilih. Melaluinya membukakan beragam ilmu dengan cara mengolah fikir dan mengolah jiwa. Agar kita lebih faham, lebih mengerti dan mudah menjalani setiap pola iman.


Proses fase penolakan, mempertanyakan keadaan atas kejadian menjadi bagian krisis untuk menggali, mencari untuk mengambil keputusan-keputusan. Pertanyaan-pertanyaan itu kerap menggiring pada proses perang melawan diri sendiri. Sampai rasanya babak belur kemudian mengerti bahwa kejadian apapun menjadi proses berdamai dengan luka karena harus kehilangan rencana yang tengah dibangun bahkan hancur berantakan. Kehilangan, beragam situasi membuat jiwa lemah, kuat, terus begitu sampai akhirnya lebih mudah berdamai dengan qadha dan qodar.

9 bulan mengikuti protokol kesehatan seperti membawa kembali mengenal diri, mengisi dan memahami apa yang selama ini tak tersentuh, tak terlihat, tak terasa padahal dekat. Selama ini denyut pagi terasa bergerak terburu-buru, kini terasa lebih mengalun dan bergerak mengikuti pergerakan partikel bumi. Ketika nafas, gerak, langkah dibatasi dengan sungguh-sungguh kita semua seolah bergerak di atas sampan dengan “bekal” laku di masa lalu. Pandemi menjadi momen yang tepat mengenali kembali diri, orang-orang terdekat, rumah dan seisi rumah.

Banyak situasi yang saya syukuri melalui tahun 2020 ini, mulai dari bertambah dekat dengan seisi rumah, hingga berbagai kegiatan online yang menarik. Semakin mengerti dan menerima situasi tidak enak di masa lalu bahwa setiap kejadian di masa lalu, dipersiapkan untuk melewati masa-masa saat ini. Di tengah situasi serba “terhimpit” ini, saya mengalami jiwa dan situasi yang diluaskan. Pelan memahami melalui matahari, awan, langit yang bersih.

Pandemi ini alam terus bergerak dan beradaptasi dengan keadaan, semetara manusia yang bertanggung jawab atas kehidupan seperti diberi jeda untuk memahami fungsi diri. Situasi kali ini Allah seperti memperkuat sinyal dialog dalam menuturkan ilmuNya yang digurat pemilik hidup kali ini terasa dekat dan semakin dekat.

Setiap luka akan sembuh, setiap "cinta" akan mengembalikan dirinya seberapa jauh kamu melepasnya.  Tulisan ini semacam refleksi dan dialog dengan diri sendiri, entar benar atau salah, wallohualam. 



 Setiap karya menghasilkan sentuhan yang berbeda-beda karena melibatkan jati diri atas proses hidup masing-masing. –Art Space Humanika


Pertama kali saya memanfaatkan blog sebagai proses menulis saat bekerja di Tobucil (Toko Buku Kecil), sebuah toko buku alternatif berbasis komunitas.  Disana saya bertemu dan berinteraksi dengan beragam orang dari berbagai komunitas.  Salah satunya kenal dengan salah satu komunitas Food Not Bom yang kerap menyuarakan Do It Yourself yaitu melakukan kegiatan dan memenuhi kebutuhan sendiri dengan membuat sendiri.  Banyak program yang mereka lakukan mulai dari musik sampai mengolah sisa makanan layak makan dari beberapa dapur hotel, dll. 


Melalui mereka saya jadi faham fungsi blog dan bagaimana efektivitas blog bisa menghubungkan pesan dan memperkuat jaringan komunikasi antar komunitas yang memiliki vibrasi yang sama.  Tahun-tahun itu, sekitar 2002-2005 saat saya bergerak aktif di sana, komunitas menjadi wadah yang menarik dalam menampung “para pemimpi” yang kerap bergerak mengikuti kata hati dianggap minoritas di tengah masyarakat saat itu.  Seperti menjadi musisi, penulis, handmader, perupa, penggiat teater dimana peminatnya segelintir orang bahkan fasilitas pendidikan di bidang tersebut masih sedikit.



Selama beraktivitas di Tobucil, saya pun aktif latihan untuk pertunjukan teater.  Meskipun saat itu saya lulusan Ekonomi Manajemen, aktivitas saat di unit kegiatan mahasiswa membawa jiwa saya berlari pada gerbong seni pertunjukan teater.  Dengan iklim teater di Bandung-agar saya bisa bertahan hidup-harus diimbangi dengan bekerja freelance.  Karena, latihan teater pun seringkali dilakukan berjam-jam, sama halnya pekerjaan pada umumnya, mulai dari siang ke sore bahkan dari sore ke larut malam.  Saya sering pulang malam, bisa karena selesai latihan atau karena ada acara diskusi buku yang kerap diadakan sore hingga malam hari di toko.


Kalau pendapat kebanyakan orang, proses ini adalah sekadar kegiatan atau hobi, tapi buat saya proses ini bagian dari pilihan pekerjaan yang saya ambil.  Selepas beres kuliah, saya kerap diajak oleh beberapa kelompok teater yang mengasah kemampuan analisa naskah, karakter, olah sukma dan olah raga dalam mewujudkan sebuah peran/tokoh.  Pola ini terus menerus dilakukan, beres pertunjukan satu lanjut pada pertunjukan yang lain, otomatis proses ini kerap membuat otak dan hati mampu mempertajam berbagai situasi.



Bisa proses menganalisa ini banyak terpengaruh oleh kebiasaan mata saya menangkap beragam kejadian sejak kecil.  Amih sering ajak saya ke pasar atau saya memaksa Amih ikut berdagang ayam di Pasar Baru.  Menangkap riuh rendah pasar, warna suara, mengenal beragam kulit, pembawaan orang-orang yang memberi nada pergerakan berbagai karakter manusia.  Cahaya sendu dari lampu-lampu bohlam di tiap los pasar dililit sarang laba-laba menghitam dan tebal.  Sesekali laba-laba menerkam lalat yang gagah berani terbang disekitarnya, terjebak lekat, lalu perlahan kehabisan nafas. 


Sementara mata berganti pandang pada laki-laki berbadan pendek kokoh mengangkut belanjaan seorang nyonya.  Diantaranya penjual makanan dan tukang kopi berkeliling menawarkan sarapan pada tiap pedagang.  Ada yang menolak, ada yang menikmati.  Sebuah pertunjukan yang berulang, berganti peran tiap babaknya.


Wajah Bapak bergantian frame dengan wajah Amih menjadi pusat perhatian pedagang di tengah pasar, mendengung, merayap, bergerak serupa sarang tawon.  Saya kecil duduk terkesima kadang menyelusup diantara mereka untuk menyusur setiap lorong pasar yang becek, warna lampu yang temaram, bau sampah bercampur bau daging, ikan, sayur dan beragam rempah.  Beberapa sudut mengeluakan wangi makanan serupa gudeg dan kare.  Saya lebih memilih berdesakan dengan ibu-ibu yang memilih kue-kue basah.  Lalu segera kembali ke jongko ayam Bapak, kembali duduk menikmati kue basah di sebelah tolombong.





Tak hanya di pasar, hampir tiap hari rumah kedatangan tamu silih berganti.  Kadang saya mengambilkan makanan juga mendengarkan perbincangan mereka.  Kadang tamu itu menangis, kadang cerita tanpa koma dan titik.  Amih dan saya hanya mendengarkan, tak lama Amih pergi, lalu kembali sambil menyelipkan beberapa lembar kertas yang diselipkan saat salaman ketika tamu itu pamit.


Saya arahkan pandangan ke halaman rumah kerap ramai teriakan teman-teman bermain.  Segera berlari dari kedatangan tamu yang lain dengan menggunakan sandal swallow lalu ikut permainan galah asin, sorodot gaplok, disambung permainan lain di Ci Iim.  Sementara di tempat lain sekumpulan orang dewasa kerap mengolah kegiatan keagamaan untuk anak-anak, mengenalkan huruf dan mengenalkan alam.  Suasana dan kecenderungan beragam kelas komunitas ini menghadirkan karakter individu-individu yang bersifat kolektif.  Mulai dari gesture, gaya bicara, berpakaian, hingga kecenderungan sudut pandang dalam mengatasi keadaan. 


Mata, telinga, rasa, terbiasa melihat dan menganalisa hal-hal sederhana terlihat asik, dramatis bahkan romantis. 





Ditengah gegap gempita kehidupan, mata ini pun kerap ditarik meredakan diri di sawah, jalan-jalan setapak, riuh pepohonan, bambu, angin, bermain air di mata air.  Melalui nyanyian tongeret di pagi kadang sore hari, tubuh ini, hati ini, pikiran ini, pergerakan ini selalu dibangunkan dari tidur lelap bahwa diri bagian dari pergerakan alam.  Dua dunia yang ramai dan dunia yang tenang mengisi ruang-ruang kosong. 


Tubuh manusia tak lebih makhluk yang bergerak, diberi jalan karena doa-doa, harapan-harapan, mimpi yang pelan-pelan menjelma pada setiap bentuk pada waktu yang tepat pada saat jiwa kita sudah dianggap kokoh layaknya pohon yang matang bertumbuh melahirkan buah.  Kelebihan kita sebagai manusia, diberi keleluasaan untuk berfikir, meraup ilmuNya dan bagaimana melahirkan bentuknya menjadi apa.


Alam dan manusia yang bergerak diantaranya kerap memberi pembelajaran tak berkesudahan.  Semakin dipertanyakan semakin dicari lalu bergerak didalamnya.  Kejadian-kejadian pun memberi berbagai gambaran mengenai langkah yang harus dilakukan saat menghadapi kegelisahan, ragu, dilematis.  Kadang kehilangan kendali, bertentangan hingga akhirnya mengerucut pada sebuah pertemuan pada pertemuan yang sesuai pandangan diri.



Menulis di blog memberi ruang keleluasan dalam berekspresi.  Ketika saya berhenti beraktivitas teater dan berhenti bekerja, hati saya berontak, ada sesuatu yang kurang.  Kalau kembali lagi berkarya teater, rasanya tidak mungkin karena tanggung jawab domestik masih sulit ditebak.  Kondisi kesehatan saya pun masih harus dijaga karena melahirkan cesar.  Sementara kerja teater merupakan kerja kolektif jika ada satu pemain yang tidak bisa latihan efeknya produksi teater akan tersendat. 


Lalu saya mulai merunut berbagai kesukaan, hal yang bisa saya lakukan dan proses yang pernah dilakukan dengan situasi yang paling mungkin.  Rupanya proses-proses itu berakhir pada dunia menulis di media blog.  Blog menjadi wadah buat saya mengekspresikan berbagai pandangan dan sebagai laboratorium berkarya.  Dia menjadi bagian dari proses pembelajaran diri, belajar pada kesalahan diri yang berulang, kebodohan pun belajar terhadap situasi sosial yang dinamis dan beragam.


Sempat saya sendiri sering merendahkan proses-proses hidup yang dijalani dan kerap merendahkan diri.  Cenderung merasa biasa-biasa saja.  Namun setelah ada kejadian yang “luar biasa” selama bertahun-tahun sehingga saya merasa kehilangan “hidup”.  Justru ingatan masa kecil, ingatan saat berteater, ingatan kegiatan-kegiatan lain di masa lalu menjadi referensi dan memperkokoh dalam menyerap berbagai tanda lalu hadir dalam bentuk semangat-semangat hidup lalu melahirkan tulisan.


Saya cenderung pelupa, tulisan-tulisan di blog cukup sering membatu dalam proses merunut dan menganalisa masalah dalam melahirkan beragam solusi.  Tak hanya merumuskan masalah, namun langkah dan tindakan yang harus dilakukan kerap melibatkan intuisi dan memahami waktu yang pas dalam mengambil langkah.  Proses-proses itu justru yang menggiring dan membantu saya bertahan dan proses menulis kembali.


Hey, pencipta blog dan orang-orang yang berhasil bertahan dengan nge-blog, selalu berkarya dan terus belajar pada hidup. 

Salam.



Membawa ingatan pada lorong dan tirai rumah sakit.  Berminggu, berbulan, bertahun.  Waktu meringkas ingatan pada tiap lembar hasil MRI, CT Scan, berlembar hasil tes darah, surat pengantar, wangi wipol tiap pagi dan sore, notifikasi pesan singkat diberbagai media social, jam-jam besuk dan beragam pergerakan hidup.  Pertemuan dengan beragam nama, ekspresi muka, reaksi, suasana.  Belajar pada tiap terang yang mengintip dibagian kecil pori-pori jendela, dinding, daun, pintu, kursi, lampu, tirai.


Bertahun, usai sudah babak pengap yang panjang, serba terbatas, kikis segala ingin.  Belajar pada luka, cinta, teman sekejap, buku, al quran, sahabat, saudara, orang tua, semangkuk bubur, setangkup roti, sebungkus nasi, sebotol air mineral, selembar resep, wangi wipol, jadwal harian setiap rumah sakit, kopi, kereta, bis, mobil, hujan, karakter tiap daerah, pertemuan, perpisahan, musik, langit, awan, matahari pagi, udara malam, sepi, ramai, tawa, perkenalan, kebaikan, keramahan, kesedihan, kemarahan, reuni, perpecahan, kecurigaan, kepercayaan.  Hidup, nafas, diri.


Seringkali cara Allah sulit dipahami, sulit diterima bagaimana diri memandang berbagai keadaan.  Mengajarkan segala hal melalui beragam ketakutan dan kerisauan. Melalui cara-Nya, saya seperti diajarkan melihat segala situasi dari berbagai sisi.  Mengajarkan tubuh, hati, diri melepas diri pada Pemilik Hidup.  Tumbuh rasa syukur, melepaskan luka perlahan, memaafkan.  Kini semua terasa ringan melalui proses yang tentu tidak ringan dan bertahap.  Tentu melalui prosesnya, kerap melukai diri bahkan orang lain.


Saya takut hari kemarin, sekaligus senang sampai pada akhirnya memahami ilmuNya melalui caraNya.  Pelajaran hati yang memainkan beragam situasi, sulit dimengerti, hingga setiap kejadian kerap membawa pada kisah-kisah istimewa. 


Seringkali yang membuat diri bertahan di tengah persoalan-persoalan berat adalah ingatan-ingatan masa kecil, ingatan duduk terdiam di depan Kabah, berproses teater dan beraktivitas di toko buku berbasis komunitas.  Ingatan-ingatan bahagia ini yang membuat diri tetap bertahan, memberi nafas, jeda lalu menghidupkan kebuntuan.  Rindu ini yang bisa menghibur ruang-ruang lelah menciptakan ruang-ruang semangat.


Setiap detik saat itu tampak istimewa jika dilihat pada hari ini, berenergi dan sangat bernilai.  Proses-proses yang ajaib.  Di tengah situasi yang mengisi jiwa saat itu bukan berarti tanpa masalah, tetap ada tekanan dan terjal.  Tapi jiwaku begitu terisi, otakku terus bergerak.  Energi saat itu kerap saya pinjam untuk pertahanan diri.  Proses-proses panjang yang melelahkan menjadi berarti.


Ketika keluh mulai menggelitik hati, masa lalu kerap mengingatkan bahwa hari ini akan sangat berarti untuk dilewatkan begitu saja.  Apa yang kita lewati akan bermanfaat suatu hari nanti, tidak hanya untuk diri tapi meluaskan manfaat bagi orang lain.  Allah Maha punya rencana terbaik.  Lakukan saja apa yang paling kamu bisa dan maksimalkan upaya.  Perasaan-perasaan keluh itu rupanya reda begitu saja.