Bolu Cinta Siliwangi hadir memperkaya kuliner di masyarakat kita.  Ini karena Indonesia memiliki tanah yang subur dan individu yang kreatif.  Sehingga menumbuhkan beragam sumber pangan yang dapat menghadirkan beragam cita rasa.  Cita rasa ini seringkali mencairkan perbedaan hati dan pikiran, meredakan diri lalu muncul inspirasi.


Beberapa bulan ini saya dan Ayah lagi asik sekali nonton drama Korea. Serial yang kami pilih biasanya cerita dengan latar kerajaan era Joseon. Kebetuan kami berdua suka nonton gendre drama dan action film Indonesia, film Amerika, film festival, film dokumenter dan sekarang film-film Korea. Untuk menikmatinya, biasanya suasana suka di-setting sedemikian rupa terutama menyediakan konsumsi seperti pisang goreng, mie rebus, keripik, bolu, atau camilan semacamnya, lalu kopi tentu tidak ketinggalan. Biar nyaman dan asik.

Ditengah seri kesekian drama yang kami tonton, saya dapat kabar dari kawan kalau tanggal 7 Februari 2021 Bolu Siliwangi mengeluarkan bolu dalam bentuk cinta. Saya suka Bolu siliwangi karena rasa lokal olahan modern.  Perpaduan budaya yang menghasilkan bolu yang penuh cita rasa.  

Bolu cinta ini bentuknya menggoda sekali, seperti Bolu Siliwangi berbentuk persegi panjang, harganya terbilang terjangkau.  Bisa dipesan lewat aplikasi Bolu Siliwangi dan free delivery pula. Jadi, biar suasana rumah terasa lebih beragam, asik dan penuh cinta, jadi saya pesan bolu cinta biar suasana rumah terasa beda.

Sesuai harapan, begitu Bolu Cinta Siliwangi tiba di rumah, anak-anak senang sekali melihat bentuk bolu yang unik dan rasanya yang penuh di mulut. Manisnya pas, tebal dan lumer isiannya. Anak-anak semangat, wajahnya sumringah, melahap terus menerus. Sementara suami saya langsung seduh kopi Sunda Hejo tanpa gula, sementara kopi saya tambah cream dan gula. Suasananya pas sekali dinikmati sambil nonton drama korea, kebetuan lagi nonton drama Shine or Go Crazy, karena kami sedang suka sekali dengan gaya akting Jang Hyuk. 




Saat saya menikmati kopi dan Bolu Cinta, saya ingat penjelasan seorang pecinta kopi. Katanya, yang membuat lambung kembung itu bukan kopi tapi kue penyertanya seperti bolu, brownies. Kebetulan saat itu saya melahap Bolu Cinta Siliwangi rasa brownies cokelat sambil menyeruput kopi. Buat lambung saya yang sensitif, ternyata perut saya tetap nyaman menikmati kopi dan bolu cinta secara bersamaan. Rupanya kawan saya bilang, bolu ini tidak mengandung bahan pengawet. Sangat menyenangkan.

Kemudian saya baru ngeh kalau bulan ini adalah bulan cinta, semacam waktu yang tepat untuk merespons orang-orang tersayang. Bolu Siliwangi menghadirkan bolu karakter dengan tema Bolu Cinta. Unik sekali. Bolu berbentuk hati dengan beragam rasa. Karya terbarunya ini menarik, karena bisa jadi ide buat kita untuk saling berkirim rindu dengan mengirim Bolu Cinta kepada orang tersayang. Karena bentuknya mewakili hati, kemasannya menarik, rapi dan harganya pun sesuai berbagai segmen sosial. Tak hanya itu,ukurannya banyak pilihan, ada yang berisi 4, 8 dan 12 bolu cinta. Secara visual menarik dan berkesan eksklusif untuk berkirim makanan. Jadi kita bisa mengirimkan Bolu Cinta disesuaikan dengan kondisi.

Saya fikir berkirim Bolu Cinta saat ini jadi momen yang tepat untuk menambal momen berbagi rasa dengan orang-orang tercinta.  Terlebih ketika kita semua kehilangan kebersamaan saat virus corona melanda berbagai daerah secara cepat bahkan menyeluruh hampir tiap pelosok Negara mengalaminya. Sehingga kesempatan bertemu muka maupun saling mengunjungi menjadi serba dilematis dan was was. Sebagai alternatif, komunikasi dan beradu rindu pun menggunakan media online. Hanya saja komunikasi seringkali belum merasa terpuaskan jika belum makan dan foto bersama. Ketika saya lihat bentuk, kemasan dan rasa dari Bolu Cinta ini,rasanya sangat pas untuk dikirim ke mereka yang kita sayang untuk mewakili rasa rindu. 

Belajar pada ibu mertua (Bunde) yang tinggal di Kadupandak Pandeglang, kami biasanya suka saling berkunjung dengan membawa buah tangan. Tidak hanya pada hari raya dan liburan sekolah, namun menyempatkan beberapa bulan sekali untuk pulang bertemu muka lalu jalan-jalan ke pantai. 

Kali ini hampir setiap bulan Bunde mengirim camilan khas buatannya sendiri, diantaranya keripik pisang, rengginang mentah,dan beberapa pisang tanduk hasil kebun. Tak hanya itu, ada pula camilan anak-anak seperti cokelat, permen, dan balon. Cara ini kerap dilakukan Bunde untuk menyampaikan rindunya pada anak dan cucunya. Bisa jadi sederhana namun rasanya begitu mewah dan menghangatkan hati. 





Menyampaikan rindu bisa dengan berbagai cara, salah satunya saling berkirim seperti yang dilakukan oleh Bunde. Cara ini dapat memelihara cinta. Cinta kerap memberi kekuatan hidup. Bergerak, melangkah beradaptasi pada perbedaan dan perubahan. Cinta yang menyatukan perbedaan dan memberi kekuatan pada individu-individu dalam mengatasi satu persatu persoalan. Salah satu cara yang kerap dilakukan dalam budaya kita yaitu saling berkirim. Upaya ini menjadi salah satu langkah untuk merekatkan perbedaan, meredakan kegelisahan dan menumbuhkan semangat.

Dalam situasi pandemic, mau tidak mau harus terbiasa dengan keterbatasan. Tapi bukan berarti terbatas untuk memberi perhatian. Selalu ada solusi dan mengubah cara untuk menyampaikan perhatian. Karena diterima atau tidak diterima, setidaknya kita harus menyadari penuh untuk tidak keluar wilayah maupun masuk ke dalam wilayah yang sedang tinggi angka yang terkena penyakit menular. 

Upaya yang dilakukan oleh Bolu Cinta Siliwangi patut diapresiasi, mereka tidak hanya melayani pembelian secara langsung dengan waktu yang ditentukan. Tapi  kita pun bisa memanfaatkan pembelian Bolu Cinta secara online melalui aplikasi maupun nomor whatsapp.

Ini bulan cinta, saya fikir sangat menarik menuntaskan rindu dengan berkirim Bolu Cinta dan doa. Bolu berbentuk cinta ini mampu mewakili perasaan dan perhatian meski jarak jauh. Masing-masing beraktivitas berjauhan, lebih dari setahun tidak bertemu muka. Namun kebersamaannya hadir saat melahap kiriman  meski berjauhan namun memiliki perasaan yang sama: cinta. 







Dengan menambah modal printer paling bagus untuk cetak foto yaitu HP Deskjet Series 2336, pasangan muda-Toni dan Tini- menyulap ruang tamunya menjadi studio desain dan printing. Berbekal ilmu desain grafis dan komputer miliknya sejak kuliah, mereka mengeksekusi mimpi dengan membuka usaha digital printing. Memaksimalkan aset yang paling ada yang paling mungkin, menjadi awal untuk terus membangun mimpi.

Mereka menata meja dan kursi yang ada menjadi ruang usaha menjadi tampak hommy meski sederhana untuk layanan print sehari-hari. Layanan utamanya membangun studio desain, seperti membuat media marketing, logo, kartu undangan, layout buku. Fase ini menjadi fragmen ruang hidup keduanya memulai usaha digital printing dengan memanfaatkan printer yang multiguna.

Matahari pagi kala itu terasa lebih bening dan cerah dari biasanya, mereka memulai hari membuat berbagai schedule desain. Hari-hari dijalani dengan menyenangkan diantara situasi lingkungannya yang beragam. Begitu hidup, begitu produktif. Beberapa warung nasi menyemburkan wangi rempah, pemilik warung grosir sibuk melayani pelanggan, penjual panganan hangat memberi semangat, begitupun usaha print dan desainnya ikut merayap menjadi bagian kehidupan.

Satu persatu masyarakat setempat mulai datang untuk print foto dengan berbagai macam ukuran. Macam-macam keinginannya, ada yang minta diedit jadi lebih bersih, putih, hingga diberi corak ini itu. Seperti pagi itu, seorang ibu datang ke studio menyerahkan flashdisc sambil menjelaskan keinginannya foto-foto tersebut disusun sedemikian rupa dan diberi hiasan dalam ukuran 8R. Toni mulai mendesain, Tini menyiapkan kertas dan mengecek kondisi tinta printer HP Deskjet Series 2336.

Selesai menentukan foto, menyusun dan mendesainnya, Ibu menunggu dengan tenang sambil memainkan handphone-nya. Hanya menunggu 18 detik saja dengan kerapatan warna 4800 x 1200 dpi, Ibu itu mendapatkan hasil foto dalam bentuk print di atas kertas glossy. Hasilnya bening dan tajam sesuai file. Untuk sentuhan terakhir, hati-hati Tini memberi laminasi agar warna foto awet. Wajah ibu itu terlihat ceria, pulang membawa beberapa lembar foto anaknya yang hendak ia beri pigura.

Pelanggan datang silih berganti, kali ini para remaja dan beberapa mahasiswa memberikan file untuk di print dalam bentuk book fold dan dijilid seperti biasa. Dengan adanya HP Deskjet Series 2336 Toni terbantu karena proses print cepat, warna tinta yang tegas, sehingga pelanggan tak perlu menunggu lama untuk menunggu hasilnya.

Seiring dengan waktu, beberapa pelanggan lain memesan media marketing untuk pameran seni rupa di galeri. Media marketing ini berupa desain yang diaplikasikan dalam berbagai kepentingan marketing. Seperti logo, print proposal, surat-surat, poster, katalog, walltext dan caption karya. Toni dan Tini biasanya memberi 3 alternatif desain dalam bentuk digital dan mockup agar mudah memilihnya. 





Mockup dibuat dari hasil print HP Deskjet Series 2336 agar warnanya jelas mendekati hasil cetak. Selain itu dibantu dengan menggunakan color index CMYK untuk memformulasi warna agar sesuai mesin cetak besar. Panitia penyelenggara pameran senang mendapatkan media marketing dengan hasil yang maksimal. Kesan yang dihadirkan dalam sebuah visual ikut mewakili pesan pameran.

Kebutuhan orang-orang mendapatkan hasil print yang bagus berpengaruh sekali untuk hasil akhir dan memenuhi permintaan pelanggan. Oleh karenanya, Toni dan Tini memilih printer yang multifungsi, kualitas hasil printnya bagus, proses waktu print yang cepat. Selain itu hasil dilihat sumber penyedia bahan bakunya dalam hal ini tinta mudah didapatkan dan kemudahan konsultasi jika terjadi kerusakan. Sehingga produktivitas orang-orang akan lebih lancar, kreativitas dan pekerjaan mereka akan terpenuhi.

Aplikasi digital printing.


Situasi saat ini interaksi secara langsung masih dibatasi akibat pandemi, namun pertumbuhan teknologi komunikasi semakin canggih dan proses yang cepat. Permintaan print dan desain tetap ada, hanya saja komunikasi melalui media digital harus lebih ditingkatkan. Sehingga pelanggan bisa terus berkomunikasi dengan mengirim pemesanan lewat whatsapp, e-mail bahkan aplikasi. Hasil jadi bisa dikirim lewat kurir maupun penyedia aplikasi pengiriman barang. Jadi kemungkinan untuk terus berinovasi dan melakukan strategi usaha selalu ada jalan.

Memulai dan membangun usaha studio desain dan digital printing bisa sangat mungkin jadi solusi usaha dengan memaksimalkan perangkat digital. Perangkat digital ini mulai dari alat print, fungsi penggunaannya bisa cepat dan maksimal untuk mendapatkan hasil instan. 
Perlu juga mengembangkan layanan melalui aplikasi yang terhubung dengan nomor layanan khusus dan surat digital. Upaya ini bisa meringkas waktu dan memaksimalkan komunikasi dengan pelanggan.

Zaman seperti sekarang dengan berbagai fasilitas teknologi menjadikan tempat bukan lagi halangan. Tapi membangun komunikasi dan visual menjadi ruang dialog untuk mendapatkan solusi pelanggan.  Sehingga yang dibutuhkan adalah kreativitas dan keberanian untuk terus mempelajari perkembangan dan terus berkarya.
zentangle-rumah

Menjelang tengah malam, menemani Ayah membuat video untuk virtual kelas menggambarnya.  Saya sedikit ikut corat coret zentangle.  Berikut udara dingin sisa hujan sedari sore.  Di halaman rumah beberapa mahasiswa (masih) latihan teater.  Suasana seperti ini rasanya enak sambil diisi sepotong roti bakar isi keju. Hangat. Padahal sejak masuk pandemi, berat badan kian bertambah.  Meski waktu sudah menunjukan pukul 22.15, kami pesan online roti bakar meski sempat berganti pilihan namun kembali pesan roti bakar karena enak dan sesuai budget.


Ternyata seru juga menggambar bersama dalam satu media.  Saking asiknya, saya sempat terbersit pengen bikin mural di dinding halaman rumah dilakukan bertiga.  Saya, Ayah dan Aden.  Kayanya bakal menarik.  Ternyata Aden pun makin enjoy menggambar zentangle.  Dia jadi lebih percaya diri berekspresi menggambar pattern meski masih belum rapi. Sambil nemenin ayah edit video, tak lama kiriman roti bakar datang.  Mata mulai mengantuk, tapi tetap saya susupi roti dengan tumpukan keju yang lembut.  Waduh, bagaimana nasib lemak-lemak yang kian menumpuk di lipatan perut saya.  Tapi, ya sudah, saya nikmati saja.  Oh, ya, ini hasil video zentangle kami:




Nah, kemarin tanggal 11 Januari 2021 merupakan hari pertama anak-anak kembali bersekolah dari rumah.  Tidak seperti sekolah swasta pada umumnya, anak saya sekolah negeri yang tidak melakukan zoom meeting untuk pertemuan pembelajaran.  Saya tidak tahu alasannya.  Tapi yang saya fahami, jangankan pembelajaran dengan media zoom, untuk melakukan komunikasi dan pengumpulan tugas lewat media grup whatsApp dan Google ClassRoom saja masih banyak yang kesulitan.  Baik karena gagap berkomunikasi, mengoperasikannya, faktor fasilitas (sinyal dan sebagainya) dan tentu tingkat ekonomi. Bahkan seringkali terlambat mendapat info tugas karena tidak punya data dan kondisi handphonenya tidak mendukung.  


Selama ini kami mendapat arahan tugas yang disampaikan melalui grup whatsApp, baik mengerjakan buku tema, modul maupun file yang harus kami download, dipelajari sendiri lalu dikerjakan latihannya.  Selain pelajaran, ada jadwal keseharian yang dikirimkan guru mulai dari menyapu, cuci piring hingga jadwal shalat. 


Buat saya ini menarik, saya menggunakan jadwal yang diberikan sekolah untuk mengoreksi kemampuan dan keterampilan anak-anak agar bisa lebih mandiri.  Dalam frame saya, PJJ jadi semi home schooling.  Jadwal dan kurikulum ada di pihak sekolah, sementara kontroling dan proses pembelajaran tanggung jawab kami sebagai orang tuanya.  Situasi ini seperti mengembalikan fungsi pendidikan pada orang tua, atau seseorang pernah bilang bahwa orang tua adalah madrasah pertama.  


Berat badan saya bertambah bukan karena kelebihan makanan, tapi tingkat konsumsi roti bakar yang sulit dikendalikan.  Kopi dan roti itu perpaduan enak saat menemani anak-anak belajar, emosi jiwa bisa dikendalikan sambil meyeruput kopi dan menyelup roti kedalamnya.  PJJ ini membuat saya butuh banyak kunyahan biar tenang menghadapi anak yang lagi "asoy" (hahaaa... alasan).  Sebetulnya banyak orang tua memahami pelajaran, hanya tidak semua orang tua lihai maupun tidak punya kemampuan menyampaikannya.  Jadi belum apa-apa bawaannya marah dan anak jadi tidak mudah memahami pelajaran.  


Proses memang, mengubah pola hidup keseharian dan jadwal belajar di rumah dengan intensitas yang lebih tinggi.  Ibu maupun Ayah perlu adaptasi dan tentu belajar lagi mengelola anak-anak agar bisa memahami pelajaran dengan menyenangkan.  Lalu menata bagaimana meyakinkan kepercayaan pada anak, bahwa orang tuanya pun layaknya guru bisa mengajar ilmu eksak, tentang lingkungan juga seni.


sekolah-jarak-jauh


Anak-anak kerap percaya bahwa guru "sumber ilmu" yang terpercaya ketika menyampaikan pembelajaran.  Sementara dalam benak anak, mereka kerap nyaman ketika fungsi orang tua di ruang yang berbeda, sebagai pendidik hal-hal keseharian seperti mengajarkan bebenah rumah, menyediakan makanan, mengaji bersama dan ruang bercanda.  Anak beradaptasi ketika orang tuanya mengajar matematika, begitupun orang tua kerap berharap banyak anak-anaknya cepat belajar atau menilai anaknya lambat dalam memahami pelajaran matematika yang disampaikannya.  Keduanya berproses ketika berhadapan dengan situasi PJJ ini.


Saat anak sekolah dan berinteraksi dengan guru, anak-anak merasa percaya bahwa pelajaran yang disampaikannya benar.  Begitupun dengan orang tua, merasa aman dan percaya bahwa anak-anaknya bisa pintar ketika diserahkan tanggung jawab belajar dan etika ke guru agar anak-anaknya tumbuh lebih baik.  


Begitu PJJ dilakukan, tentu bagi sebagian orang tua merasa ada mesin yang bocor. Bagaimana dengan nasib pertumbuhan keilmuan anak-anaknya?  Terlebih jatuh pada orang tua yang bekerja di luar rumah maupun yang mempunyai usaha, sehingga tingkat perhatian membagi waktu dan kemampuan menyampaikan pelajaran harus lebih ditingkatkan.  Baik dalam mengatur jadwal belajar, jadwal keseharian dan jadwal bekerja.  



belajar-di-rumah

Sekarang PJJ masuk bulan ke-10, saya sudah makin santai dan terbiasa.  Lebih enjoy sebetulnya.  Kebetulan anak-anak saya keduanya usia sekolah dasar.  Banyak PR dalam list saya untuk mengelola motorik kasar maupun motorik halus.   Baik mengelola keterampilan dasar, mengelola emosi, mengajarkan agama, hingga proses menularkan ilmu pengetahuan.  Saat gelisah dan "merasa gagal" saya selalu ingat beberapa tokoh dunia yang pembelajarannya ditangani langsung oleh orang tuanya.

 

Dari beberapa pelajaran yang disampaikan, ternyata ada pelajaran yang saya fikir mereka sudah menguasainya ternyata mereka tidak bisa.  Antara khawatir, mendiskusikannya dengan Ayah namun berusaha tenang.  Mau tidak mau sambil berusaha untuk menerima kesalahan diri, saya mengajarkan kembali/mengulang pelajaran yang mestinya sudah mereka kuasai.  Kenyataan ini yang membuat saya harus lebih tertib, disiplin tapi tetap santai menjalankannya.  Pelan tapi terus dilakukan.  


Saya malah mulai berfikir ada kekhawatiran jika anak-anak harus kembali ke sekolah lalu harus berhadapan dengan guru yang tidak memahami karakter anak dan tidak mempunyai kemampuan berbahasa dengan anak-anak.  Hanya proses kenyamanan itu muncul ketika berat badan makin bertambah dan banyak celana panjang yang tidak muat.  Ini sungguh menyedihkan.  Tapi, ya, sudah, tidak semua orang mampu beradaptasi dan belajar cepat pada keadaan.  Perlu berproses dalam menerima dan beradaptasi dalam memahami keadaan.  Sekarang saya sedang berfikir, situasi 10 bulan  ini pasti berpengaruh pada kehidupan dan pertumbuhan anak-anak kita 10 tahun ke depan.


Daun cahaya

Banyak kejadian menarik selama setahun ini, 2020. Ya, tahun 2020 sepertinya mencatat sejarah besar bagi semua orang. Situasi pandemic akibat covid 19 berpengaruh banyak bagi situasi sosial di masyarakat. Reaksi orang-orang berbeda-beda, namun tentu manusia makhluk yang bisa beradaptasi dengan keadaan. Kondisi ini sepertinya mengubah sebagian besar mindset setiap orang dalam memahami batas kuasa manusia dan kuasa Tuhan.

Ada yang belajar memetik, ada yang belajar meraup, ada yang kehilangan, ada yang mendapatkan sesuatu, ada yang mendekat, ada yang menjauh, ada yang… ya, banyak. Mungkin bagi kebanyakan manusia, tahun ini menjadi tahun penuh harap, doa bahkan mungkin caci maki.

Buat saya, hidup haruslah terus berjalan apapun yang terjadi. Meski bukan tidak melewati fase tidak aman dan merasa takut. Sama ketika musim hujan datang, kita harus pakai payung dan jaket biar tidak kehujanan dan tidak kedinginan. Ketika tubuh mulai ada gelagat tidak enak, berarti harus diberi makanan segar dan sehat. Begitupun ketika muncul virus corona, yang harus kita lakukan adalah mengikuti semua prosedur kesehatan. Ya, prosedur dan cara menghadapi virus ini cukup menjengkelkan, di awal-awal bisa jadi situasi ini cukup menjengkelkan karena benar-benar membatasi pola hidup sosial kita. 

Zentangle di rumah aja

Lepas dari segala kontroversi dan muncul beragam anggapan konspirasi kepentingan orang-orang, nyatanya penyakit ini ada dan dekat. Tadinya korban covid 19 hanya di berita, kini orang-orang yang kita kenal mulai dari teman hingga keluarga mulai tertular. Namun kabar melegakan hadir ketika satu persatu dinyatakan sehat. Itu ibarat minum teh botol dingin saat haus dan panas.

Awalnya saya takut, tapi situasi ini harus dihadapi. Pikiran dan hati terus menerus diperkuat dengan ibadah, kontemplasi, menatap langit, memotret sekitar rumah, menulis, menonton kdrama, memasak hingga membuat karya-karya yang belum pernah saya buat, seperti musikalisasi puisi dan belajar gambar zentangle.

Saya fikir pandemik ini akan berakhir sekitar 2-3 bulan, seperti situasi wabah penyakit yang sudah-sudah. Ternyata masuk juga bulan Desember, melewati hari-hari istimewa seperti bulan Ramadhan, Idul Fitri, Idul Adha, ujian-ujian sekolah, liburan, hari Natal dan tahun baru. Situasi yang berbeda tapi buat saya, hari-hari istimewa itu seperti biasa tidak disikapi berlebihan seperti liburan ke luar kota maupun jalan-jalan. Jadi ketika melewati hari special itu, cukup dengan makan enak di rumah sudah menjadi tanda “merayakan dan bersyukur”.

Tahun 2020 terlewati dengan tingkat pasien covid 19 yang meningkat pesat. Jadi saya fikir, ya sudahlah, saya percaya masih ada yang bisa kita syukuri dengan melakukan apapun dengan keadaan terbatas ini. Lalu saya coba kembali mengingat-ingat yang sudah dilakukan menjalani hidup sehari-hari di tengah situasi pandemik. Wah, ternyata banyak yang menarik meski sederhana. Saya fikir ini patut dirayakan dengan menyeduh kopi dan mencatatnya.

Oke, saya mulai ingat-ingat, mulai dari bulan Maret 2020. Ini dia:

Maret-Desember 2020 Merupakan proses sekolah yang unik karena dilakukan secara PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh). Full drama tapi tentu bersejarah, menjadi pembelajaran buat para orang tua mengelola diri dan membuat sistem kegiatan sekolah di rumah. Buat saya ini pengalaman yang menarik dan cukup menguras pikiran. Belajar di rumah membuat saya lebih disiplin sebagai Ibu. Saya belajar semua pelajaran lagi, mulai dari matematika, bahasa sunda, bahasa inggris, olah raga, seni rupa, tema, PLH.

Sebetulnya saya suka mengajar anak-anak, namun sering menguras hati karena harus mencari cara yang pas mentransfer pelajaran ke anak-anak. Banyak dramanya, terutama masalah orang tua yang perlu bantuan pengiriman tugas melalui google classroom. Tidak hanya masalah akses namun berkaitan dengan sinyal dan kuota. Belum orang tua yang tetap bekerja di luar rumah yang tidak bisa mendampingi anak-anaknya. Banyak sekali drama yang menguras hati. Tapi saya percaya kita bisa melewatinya.

Maret-Desember 2020 buat saya menjadi proses mengenal lebih dalam mengenai disleksia dan proses menyusur mengenal diri kembali.

Apa? Ya, Ayah dapat pekerjaan baru. Sebetulnya baru mulai bulan Januari 2020. Begitu jalan 2 bulan harus berganti proses pengajaran secara online karena pandemi. Selain mengajar, para pengurus sekolah disleksia yaitu Indigrow, membuat seminar khusus dengan tema Art For Dyslexia. Salah satu pembicara utamanya yaitu Ayah. 

School from home


Hampir setiap hari Ayah mengajar dan menjadi pemateri dengan menggunakan media zoom. Salah satu keuntungan seminar dan mengajar online, saya jadi bisa ikut seminarnya dan mendengarkan materi dari para dokter dan psikolog. Kadang saya nangis dan merasa bersalah karena sering melakukan kesalahan dalam mendidik anak-anak di rumah.

Cara Allah mendidik kami memang keren sekali, bertahun-tahun Ayah sakit dan mengisi proses pengobatannya dengan menggambar. Rupanya setelah ayah bisa dan ahli, Allah memberi obat tambahan anti kejangnya melalui Dr. Purboyo Solek (owner Indigrow). Beliau bilang, kalau kamu makan obat ini dalam satu bulan juga sudah bisa mengajar lagi. Ternyata betul, banyak sekali progressnya, bisa shalat Jumat lagi (setelah 4 th-an), bisa tahan angin dan dingin, bisa ngobrol lama bahkan bisa aktif jadi pengurus DKM dan membuat mural.

Lalu setahun kemudian Dr. Purboyo mengajak Ayah menjadi salah satu pengajar seni di Indigrow. Situasi ini menyenangkan sekali, kesiapan ilmunya seperti dipersiapkan untuk anak-anak disleksia. Selain itu, saya seperti mendapat hujan ilmu parenting dan semakin menyadari karakter diri juga anak-anak (Aden dan Bayan).

Maret 2020, ada kegiatan yang saya ikuti meski tidak terlibat langsung. Keponakan saya Kang Isa Perkasa, suami saya Holis, Kang Anton, Erris dan beberapa yang lain membuat acara Pameran Bergilir Jawa Barat #3 di Galeri Pusat Kebudayaan (GPK) di Gedung YPK-Yayasan Pusat Kebudayaan Naripan. Ini pameran bergilir ketiga, pesertanya melibatkan beragam seniman dari pelosok Jawa Barat. Ruang komunikasi seni rupa antar daerah seperti terjalin kembali dan memberi energy yang kuat untuk berkarya. 

Pameran seni rupa Jabar


Pameran dibuka pada tanggal 14 Maret 2020 jam 19.30 WIB, suasana rame, peserta berdatangan untuk menghadiri pameran. Ada yang dari Garut, Depok, Tangerang, meski belum ada himbauan berkumpul dan jaga jarak, beberapa tamu yang hadir mulai menggunakan masker dan beberapa membawa handsanitizer.

Tadinya panitia mau menyediakan handsanitizer sebagai bentuk antisipasi, tapi saat itu tiba-tiba harganya mahal dan beberapa toko kehabisan stock. Ini cukup menegangkan. Setelah acara pembukaan pameran selesai, beberapa jam kemudian, tepatnya jam 00.00 WIB, panitia mendapat surat himbauan agar tidak melakukan acara yang melibatkan masa di lokasi-lokasi pemerintahan dan umum. Alhasil, setelah pameran dibuka, besoknya galeri langsung ditutup karena mengikuti himbauan pemerintah agar tidak terjadi kegiatan kumpul-kumpul.

April 2020 jadi salah satu momen berharga buat saya dan Aden (panggilan akrab Devdan). Beberapa minggu sebelum ada surat himbauan sosialisasi dari pemerintah, Aden lolos seleksi workshop Anak Bumi yang diadakan oleh Eco Camp Dago Bandung. Mestinya Aden dan beberapa peserta yang lain mengikuti acara di Eco Camp, menginap dan mengikuti berbagai proses jadwal kegiatan Anak Bumi.

Semula saya fikir acara ini tidak jadi, tapi ternyata anak yang terseleksi dihubungi lagi untuk mengikuti acara secara online. Aden dan Dava perwakilan yang lolos dari sekolahnya tapi Dava tidak mau ikut karena ingin mengikuti secara offline. Jadi perwakilan dari SD Isola hanya Aden.

Acara Anak Bumi ini menarik sekali, Aden belajar banyak tentang linkungan. Pendekatan pemateri dalam menjelaskan lingkungan mengenai dampak gaya hidup manusia terhadap lingkungan dan memahami siklus alam. Proses ini membuat Aden lebih faham dan memahami proses tumbuh dan bagaimana memelihara lingkungan.

2020 sahabat kami, Evi Sri Rezeki mencari talent untuk membuat video pembelajaran untuk Sekolah Cinta yang bisa dilihat di TVRI Jabar dan youtube Sekolah Cinta Jabar. Rupanya Evi membutuhkan talent anak laki-laki yang usianya sesuai dengan Aden. Kebetulan Aden tertarik dan mau terlibat.

Sekoper Cinta Jabar


Buat saya dan Ayah, ini jadi kesempatan buat Aden belajar langsung proses dan bagaimana kerja kolektif dalam menghasilkan sebuah karya. Dia menjadi tahu proses reading, penulis naskah, sutradara, cameraman, pengontrol suara, tata make up dan keriuhan lain dibalik layar. InsyaAllah, tentu ini menjadi pengetahuan dan pengalaman yang "mahal" pada usianya.

Hal menarik lagi, saya melihat sisi lain Aden yang begitu "merdeka" berekspresi. Dia enjoy dan bisa beradaptasi dengan proses syuting yang panjang bahkan harus diulang-ulang. Orang-orang yang terlibat pun membuat suasana menjadi nyaman, tenang dan asik. Mungkin karena itu juga, Aden jadi merasa diterima dan ikut merasakan suasana kenyamanan itu.

Oktober 2020 Saya dan keluarga diajak oleh Kak Adi dari Eco Camp untuk mengisi acara penutupan Green Leader Eco Camp. Buat saya ini keren sekali, Aden juga senang karena bisa kami bisa kolaborasi dialog tentang alam lalu saya dan Ayah mengiringi dengan musikalisasi puisi. Ini pengalaman yang berharga menjadi bagian dari orang-orang yang terus “bekerja” untuk memelihara alam. 




Oktober 2020 Di bulan yang sama, kelompok mahasiswa film Telkom mendapat tugas membuat film dokumenter. Rupanya mereka tertarik mendokumentasikan proses kreatif drawing Ayah menjadi media terapi penyembuhan. 

Proses berkarya ini dilakukan di rumah kami dengan sistem wawancara dan menyiapkan berbagai dokumentasi berupa foto dan bukti-bukti medis. Setiap pertanyaan dari mereka membuka ingatan kejadian satu persatu perjalanan panjang pengobatan Ayah. Tidak hanya pengobatan medis namun aktivitas yang membuat Ayah tetap semangat ditengah proses penyakit beratnya.

Kami memaparkan awal (banget) Ayah sakit hingga semua jalur aktivitasnya terhenti berbulan-bulan. Lalu masuk pada fase menemukan aktivitas baru berupa menggambar dari tidak bisa menjadi bisa. Hingga berbagai kegiatan yang membuka kembali jalan sosialnya setelah (kurang lebih) 5 tahun tidak dapat melakukan aktivitas sosial seperti manusia pada umumnya. Kemudian akhirnya masuk pada fase menemukan obat yang tepat bisa beraktivitas normal lagi. 


Bulan-bulan lainnya, waktu saya belajar kembali dunia blog dan bahasa Inggris. Saya bergabung di beberapa komunitas blogger. Alhamdulillah salah satunya seperti ISB (Indonesian Sosial Blogerpreneur) kerap membuat kegiatan workshop blog secara gratis. Mulai dari dunia menulis, mengolah SEO hingga cara membaca Google analityc. 

Keikutsertaan saya di workshop ini memicu semangat nge-blog lagi setelah lemah dan berjarak dengan laptop karena pengaruh situasi pandemik dan drama PJJ. Saya benar-benar menjaga mental agar tetap stabil, sehingga tidak terlalu memaksakan diri untuk melakukan sesuatu yang membuat psikis saya terganggu. 

Mural di gang



Saya kerap melakukan sesuatu yang ringan dan menyenangkan. Entah bagaimana, energi menulis saya seperti berjarak. Saya seperti takut menulis, karena energi mengkritisi lagi tinggi-tingginya melihat polemik masyarakat di tengah pandemik. Sehingga tema yang muncul di kepala saya selalu seputar kritik dan kemarahan.

Jadi saya lebih memilih menahan diri dan mengalihkan fokus pada anak-anak. Jadi akhirnya saya memilih jadi “guru” anak-anak, membimbing orang tua murid yang kesulitan menggunakan gawai-nya dan pelajaran sekolah, membuat puisi, musikalisasi puisi, membuat kegiatan baca buku mingguan setiap hari Jumat sore bersama Ayah, memasak bareng anak-anak. Buat saya ini kesempatan membangun sekolah di rumah. Anggap saja PJJ ini menjadi semi home schooling. Ternyata untuk menciptakan home schooling atau istilahnya rumah adalah pesantren pertama itu luar biasa. Perlu disiplin diri dulu, baru mengajak anak-anak.

Mungkin itu sebagian kegiatan di rumah selama pandemik. Meski di rumah saja, ternyata banyak hal yang bisa dipelajari terutama kembali mengenal diri, memicu kreativitas dan menjadi kesempatan untuk belajar kembali.
Zentangle Rumah


Hening pagi ini, menepi pada sudut-sudut rumah

Menyimpan sunyi pada segelas roti hangat

Secangkir kopi hadirkan senyum diri

Menjeda pada alunan para pemimpi



Hening Pagi 2020



Hening di awal-awal masa pandemi, menggiring saya menghadirkan beberapa bait musikalisasi puisi. Adalah musikalisasi puisi kedua yang saya buat, sementara instrumennya diolah Ayah. Sementara yang pertama membuat Musikalisasi Puisi pertama saat mau sumbang isi acara penutupan online Anak Bumi yang diikuti oleh anak kami di Eco Camp Dago. Rupanya proses ini hasilnya indah meski sederhana lalu memancing kami untuk bikin lagu lagi.

Gelisah yang sama, semangat yang sama, pemilihan diksi yang penuh energi menjadi bagian menarik. Rupanya proses dan langkah ini menyadarkan bahwa apa yang pernah dilakukan di masa lalu tetap bersisa dan memberi energi pada setiap karya yang kita buat. Hanya saja seringkali keadaan yang membuat kita tetap menjalankan, belok atau berhenti. Saya seperti menelusuri diri dan mengembalikan "cinta".

Setelah sekian lama meninggalkan kegiatan seni teater, ternyata setiap kesempatan kerap beririsan kembali dengan teman-teman yang pernah berkegiatan bersama. Bahkan semakin menyadari bahwa kegiatan yang saya lakukan ikut memberi “isi” pada apapun yang saya lakukan. Lebih dari itu, ternyata proses yang kami jalankan di masa lalu, ikut memelihara energi pada teman-teman untuk bertahan menggapai mimpinya dan tidak berhenti berkarya.

Mereka banyak yang terus bergerak pada bidang yang mereka cinta, tapi saya berhenti atau dihentikan. Beriring dengan waktu, pertemuan membawa kami pada ruang yang sama. Pertemuan ini seperti kembali mengenal diri, memahami diri melalui teman-teman yang pernah bergiat bersama bahwa setiap proses di masa lalu begitu mempengaruhi dan membekas pada profesi mereka kini. Saya tidak menyadarinya sampai satu persatu mengungkapkannya. Hingga hati ini rasanya penuh dan pengap, senang sekaligus takut. Semoga energi baik yang mereka raup.



Hening pagi di tengah pandemi menjadi momen panjang berlama-lama minum kopi sambil berbincang dan refleksi dengan Ayah (suami). Mulai dari berbincang situasi politik, tentang manusia, masa lalu, anak-anak, dan tentu tentang cinta. Saya beruntung punya teman hidup yang asik berbincang apa saja. Termasuk teman nonton drama Korea, film serial. Kami menyiapkan segala untuk nonton, mulai dari kopi, mie instan dan kripik. Upaya ini cukup memelihara perjalanan jiwa hari demi hari kehidupan situasi di rumah saja.

Memelihara iklim di rumah (saja) sudah lama dijalani ketika suami sakit tahun 2014-2017. Adaptasinya cukup lama yang menggoda perasaan. Saat itu kondisi suami dan anak-anak sulit sekali ditinggalkan, saya ambil pilihan aktivitas meraih rezeki yang bisa dijalankan di rumah. Bertahan menjalankan dunia menulis menjadi pilihan karena dapat dilakukan sambil merawat keluarga. Saya berusaha fokus yang dekat dengan diri, hal yang paling saya punya, baik modal fisik maupun hal yang paling saya bisa. Rupanya hasil rangkuman dari sekian list yang ada, beririsan dengan dunia tulis menulis dan seni. Sehingga ketika pandemik muncul, kami meneruskan aktivitas biasa namun lebih hati-hati saja ketika harus beraktivitas di luar.

Hidup 9 bulan di tengah pandemi, menggiring kita untuk menafsir dengan hati-hati cara pandang langit. Masa ini jadi momen memahami kembali lipatan masa lalu juga harapan. Setiap kejadian baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah, begitupun sebaliknya. 

 Melalui situasi ini, saya belajar beragam karakter setiap orang tampak satu persatu. Ada yang mementingkan diri sendiri, ada yang berusaha keras tetap berbagi, ada yang terus bertahan untuk mempertahankan penghuni sampan. Ada yang memanfaatkan momen ini untuk menyembuhkan luka, pun ada yang menebaskan luka. Belajar dari diksi yang diurai dan beragam hal yang dilontarkan di ruang silaturahmi digital: media sosial.

Allah punya cara yang unik dalam memberi kejutan pada tiap jalan yang dipilih. Melaluinya membukakan beragam ilmu dengan cara mengolah fikir dan mengolah jiwa. Agar kita lebih faham, lebih mengerti dan mudah menjalani setiap pola iman.


Proses fase penolakan, mempertanyakan keadaan atas kejadian menjadi bagian krisis untuk menggali, mencari untuk mengambil keputusan-keputusan. Pertanyaan-pertanyaan itu kerap menggiring pada proses perang melawan diri sendiri. Sampai rasanya babak belur kemudian mengerti bahwa kejadian apapun menjadi proses berdamai dengan luka karena harus kehilangan rencana yang tengah dibangun bahkan hancur berantakan. Kehilangan, beragam situasi membuat jiwa lemah, kuat, terus begitu sampai akhirnya lebih mudah berdamai dengan qadha dan qodar.

9 bulan mengikuti protokol kesehatan seperti membawa kembali mengenal diri, mengisi dan memahami apa yang selama ini tak tersentuh, tak terlihat, tak terasa padahal dekat. Selama ini denyut pagi terasa bergerak terburu-buru, kini terasa lebih mengalun dan bergerak mengikuti pergerakan partikel bumi. Ketika nafas, gerak, langkah dibatasi dengan sungguh-sungguh kita semua seolah bergerak di atas sampan dengan “bekal” laku di masa lalu. Pandemi menjadi momen yang tepat mengenali kembali diri, orang-orang terdekat, rumah dan seisi rumah.

Banyak situasi yang saya syukuri melalui tahun 2020 ini, mulai dari bertambah dekat dengan seisi rumah, hingga berbagai kegiatan online yang menarik. Semakin mengerti dan menerima situasi tidak enak di masa lalu bahwa setiap kejadian di masa lalu, dipersiapkan untuk melewati masa-masa saat ini. Di tengah situasi serba “terhimpit” ini, saya mengalami jiwa dan situasi yang diluaskan. Pelan memahami melalui matahari, awan, langit yang bersih.

Pandemi ini alam terus bergerak dan beradaptasi dengan keadaan, semetara manusia yang bertanggung jawab atas kehidupan seperti diberi jeda untuk memahami fungsi diri. Situasi kali ini Allah seperti memperkuat sinyal dialog dalam menuturkan ilmuNya yang digurat pemilik hidup kali ini terasa dekat dan semakin dekat.

Setiap luka akan sembuh, setiap "cinta" akan mengembalikan dirinya seberapa jauh kamu melepasnya.  Tulisan ini semacam refleksi dan dialog dengan diri sendiri, entar benar atau salah, wallohualam.