Suasana di Pasar Baru.  Foto: Ima


Covid Test gencar dilakukan pada warga Jakarta.  Alat tes kesehatan yang diperbincangkan di tengah pandemi covid 19 mendapat respon beragam.  Ada yang menerima ada juga yang menolak dalam melakukan Covid Test Jakarta.  Para ahli kesehatan dan relawan masif mensosialisasikan menjaga diri dan mencegah penularan covid 19 ini, namun reaksi masyarakat berbeda-beda. 

Berbagai upaya dilakukan oleh tenaga kesehatan untuk mengontrol peta jalur penularan yang dideteksi melalui Rapid Test. Dengan cara ini, tenaga kesehatan dan pemerintah mengetahui kondisi imun dan mendeteksi adanya virus covid dalam tubuh. Mengingat sebagian masyarakat masih tetap diharuskan beraktifitas di luar rumah dan sebagian masyarakat lain ada juga yang tetap beraktifitas seperti biasa di tengah pandemi. Kedua alasan ini berpotensi penularan covid 19.

Rupanya ada alasan yang mendasari penolakan masyarakat pada Rapid Tes ditengah kerja keras tenaga kesehatan, seperti berita-berita hoax tentang Rapid Test dan ketakutan itu sendiri yang membuat penolakan masyarakat. Sehingga mau tidak mau kita dihadapkan pada meningkatnya grafik penderita covid 19 di pelbagai daerah.

Wabah covid 19 telah berlangsung berbulan-bulan sebelum menular ke masyarakat negara kita. Sampai akhirnya bulan Maret 2020, Indonesia pun dinyatakan salah satu negara yang terkena virus corona. Masyarakat (mestinya) mau tidak mau harus menghentikan segala aktifitas yang melibatkan interaksi sosial secara fisik, kecuali beberapa fasilitas kebutuhan pangan dan kesehatan. Belajar pada negara yang tertular corona, faham akan pelbagai resiko aktifitas sosial fisik terpaksa dihentikan. Bahkan layanan fasilitas kesehatan harus melalui protokoler baru. 




Di rumah sakit jumlah pasien rawat jalan dikurangi, kursi tunggu pasien diatur agar berjarak dengan pasien yang lain. Lalu ketika masuk ke ruang rawat jalan, posisi meja dokter dengan pasien diberi jarak hingga 1 meter. Begitupun ketika proses konsultasi dan pemeriksaan, tidak ada pemeriksaan sentuhan fisik, namun dokter memeriksa pasien dengan detil bertanya ciri-ciri keluhan pada fisik si pasien. Bahkan beberapa pasien dianjurkan untuk konsultasi secara online atau terhubung dengan menggunakan fasilitas alat komunikasi. Langkah ini tentu bentuk upaya mengurangi resiko penularan. 

Begitupun ketika pelaksanaan shalat di masjid dekat rumah saya.  Kini masjid dibuka saat waktu-waktu shalat saja, selebihnya dikunci untuk mengantisipasi penularan covid dari siapapun.  Begitupun saat melaksanakan shalat berjamaah, diberlakukan shalat dengan posisi agak berjarak.


Sudah lama kita mengenal aplikasi HaloDoc, sebuah aplikasi yang bisa mendukung kebiasaan baru (new normal)kita untuk konsultasi kesehatan masyarakat tanpa perlu tatap muka secara langsung. Tentu di tengah pandemi seperti ini, HaloDoc jadi pilihan tepat untuk tempat konsultasi dan mendapatkan obat yang resmi untuk penanganan pertama. Saya fikir HaloDoc bisa jadi rujukan informasi yang tepat saat bingung menentukan pengobatan, mencari jawaban tentang keluhan di badan kita hingga bagaimana cara memproteksi diri.

Tak hanya berupa informasi satu arah, aplikasi HaloDoc bisa jadi teman konsultasi yang akurat. Kita bisa bertanya langsung ke dokter melalui pelayanan chat. Sehingga kita bisa mendapat layanan kesehatan yang profesional meski tetap di rumah saja.

Tak hanya persoalan pelayanan online, di tengah situasi serba tak menentu ini kerap muncul berita-berita yang seolah-olah benar namun tidak teruji secara ilmiah. Bahkan para pemegang medsos bisa “sembarangan” membagikan informasi kesehatan yang tidak dapat dipertanggungjawabkan sehingga menimbulkan rentetan masalah baru. Ini mengerikan.

Setelah pemerintah pusat melakukan himbauan untuk melakukan segala aktifitas di rumah aja kecuali dalam keadaan mendesak, beberapa pemerintah daerah menyesuaikan diri dengan tingkat populasi dan karakter warganya. Sehingga ada yang segera melakukan lock down atau kita mengadaptasinya menjadi PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar).

Namun sayang, ada saja beberapa warga yang lolos melakukan aktifitas keluar masuk zona merah, sehingga muncul para OTG (Orang Tanpa Gejala), ODP (Orang Dalam Pengawasan). Dengan begitu muncul kasus-kasus baru dari daerah yang tadinya zona hijau karena mengabaikan himbauan pada keadaan sekarang ini. 


Sehingga pemerintah daerah dan perusahaan besar seperti di Jakarta menghimbau pekerja/karyawan untuk melakukan Rapid Test. Mengingat populasi penduduk dan aktifitasnya yang tinggi menumbuhkan prilaku masyarakat perkotaan lebih rentan tertular. Sehingga ini yang membuat pemerintah daerah maupun beberapa perusahaan mewajibkan melakukan Rapid Tes bagi masyarakat maupun karyawannya.

Dalam keadaan seperti ini, ada beberapa profesi yang diharuskan melakukan rapid test karena pekerjaan mereka tetap diberdayakan untuk menjaga kebutuhan pangan, kesehatan dan keamanan masyarakat luas. Seperti polisi, tentara, tenaga kesehatan, pedagang, apoteker, wartawan, supir, tenaga teknis sumber daya kebutuhan masyarakat, guru dan masyarakat yang tetap melakukan interaksi yang tinggi di tengah pandemi.  Dengan begitu lebih tercipta suasana yang lebih baik dan masyarakat lebih mampu menyesuaikan diri dengan keadaan pandemi.
Foto: Ima


Terima kasih untuk semua guru kehidupanku yang telah dan mungkin nanti akan dipertemukan kembali dalam berbagai situasi. Sampai juga pada usia 42 di bulan Juni tahun 2020. Proses hidup yang mahal dan tak terbeli. Perjalanan hati yang naik turun, melemah menguat, menyempit meluas. Sering berjalan tanpa banyak tahu, hanya berbekal insting, rasa yang terus bergemuruh, bermain-main pada logika sederhana. Terpikat pada warna, bentuk, cahaya, suara-suara yang hadir ke permukaan.

Pemilik semesta kerap mengajarkan pola hidup yang terkadang sulit mengerti, sulit menerima saat mengalaminya. Sementara impian terus menggantung di dada, melekat pada setiap degup jantung. Di tengah situasi lelah yang bertambah lelah, kejadian demi kejadian yang sudah lewat kerap menjadi bekal penolong yang tak ternilai. 


Foto: Holis

Saat masih anak-anak, mukena lebar berpeniti di bawah dagu dan sarung milik Bapak dipakai untuk mengaji di Masjid. Selepas mengaji, saya masuk ke rumah kakak yang letaknya di sebelah masjid. Melihat-lihat tumpukan majalah dan buku-buku, saya terpikat pada torehan tulisan tangan di sudut lembar pada sebuah buku milik kakak yang sudah lusuh:”Ilmu adalah Cahaya.” Jari-jari saya berulang kali mengusap tulisan itu, mata saya cukup lama beradu pandang, ingatan yang terus mengait pada kalimat yang membawa saya ke berbagai labirin panjang.

Sejak itu, hampir setiap buku catatan sekolah selalu ditorehkan dengan kalimat Ilmu adalah Cahaya di ujung buku catatan sekolah. Kalimat sederhana ini terpatri kuat meski belum faham maknanya. Melalui kalimat sederhana ini, Allah seolah membawa saya menuju satu persatu cahaya itu dengan cara-Nya. Unik, memikat sekaligus mendebarkan. Melalui persoalan, kekecewaan, kasih sayang, cinta yang datang pergi seperti gelombang.

Setiap dihadapkan pada suatu jalan buntu, kita kerap dipertemukan dengan berbagai guru kehidupan. Tidak hanya seseorang yang kerap memberi dengan kasih sayang, bahkan seseorang yang sering melukai sekalipun. Mereka adalah para guru yang mengasah sukma. Melalui tindakan, tatapan, kata-kata. Bertumbuh mengajarkan cara melihat, cara mendengar, cara berbicara, cara bersikap hingga mengolah sukma. Satu persatu proses ini membuka tabir fungsi diri pada setiap langkah.

Foto: Ima


Proses hidup yang mahal. Proses beragam pertemuan pada berbagai kejadian yang kelak mendapatkan alasannya. Beradu pandangan, meragu, gelisah, hati yang mantap hingga patah berkali-kali. Proses-proses tarik menarik yang membutuhkan keberanian untuk memutuskan ya atau tidak, bersiap maupun tidak bersiap dengan keadaan. Situasi kompromis yang digiring semesta menuju proses hidup pada waktu, lingkungan, kesempatan melalui perhitungan yang tepat.

Melalui prosesnya, banyak dipertemukan dengan berbagai kesulitan juga kemudahan. Namun rupanya cara ini bagian dari skenario-Nya untuk mengajarkan kesabaran, ketulusan, mengolah diri kerap berbagi, memperlihatkan keindahan melalui berbagai frame. Kadang situasi sekarang sulit diterima sehingga mengecewakan hati. Namun semakin berdamai dengan keadaan, memaafkan diri, memaafkan orang lain, ternyata banyak hal yang bisa kita dinikmati dan disyukuri. Ada rasa tenang yang memenuhi hati apapun keadaan kita dan berani melepaskan diri tergantung pada Pemilik Semesta. Sehingga kita kerap mendapatkan jawaban, menerima dengan sepenuh hati bahwa Allah punya rencana yang disampaikan melalui cara yang tepat, di waktu yang tepat membawa kehidupan kita menjadi lebih baik setiap waktunya.

Sering saya tidak tahu apa maksud Tuhan memberikan kejadian-kejadian saat ini hari ini detik ini. Baik itu pertemuan dengan seseorang, mengenal sesuatu maupun benda apapun, baik yang direncakan maupun tak direncakanan. Tapi kemudian 5 tahun atau 10 tahun ke depan ketidakmengertian itu pun dapat jawabanya. Begitupun jawaban hari ini merupakan teka teki pertanyaan ketidakmenentuan di masa lampau.

Terima kasih kalian, para guru hidupku, orang tuaku, mertuaku, suamiku, anak-anakku, keluargaku, sahabatku, orang-orang selewat yang membuat diri mengerti dan belajar banyak atas banyak hal.  
Terima kasih atas waktu, ruang, pertemuan, perpisahan, kebahagiaan, kesedihan, para guru kehidupan yang mengajarkan penglihatan, pendengaran yang mengasah sukma. Tanpa kalian, aku tidak banyak mengerti, merasa, berfikir, mencinta.


Ima. 2020
Pandemi mengajarkan kita untuk menyederhanakan hidup, menyederhanakan pikiran, menyederhanakan keinginan, menghargai dan menerima diri.

(matakubesar, 10/06/2020)

Beningnya cuaca langit dan awan di tengah pandemi.
Foto: Ima

Rasanya sulit percaya ketika muncul kabar wabah di Kota Wuhan Cina disebabkan virus corona covid 19. Sulit membayangkan jika kita pun mengalami hal yang serupa, berada di tengah situasi lock down untuk mengatasi resiko penularan covid 19 yang agresif. Pasti banyak hal yang terdampak, selain urusan senang-senang hingga urusan penting-penting. Kekacauan di negeri tirai bambu menimbulkan berbagai persepsi dan analisa dari berbagai sisi, mulai dari perang biologis, perang ekonomi hingga azab dari Tuhan. Lepas dari analisa konspirasi itu semua, sayangnya banyak korban meninggal karena sakit yang disebabkan covid 19.

Suatu pagi selesai shalat dhuha, saya buka buku doa. Saat itu lembaran yang terbuka, doa tentang terhindar dari wabah dan resesi ekonomi. Perasaan yang bercampur aduk muncul, antara ragu dan takut membacakannya karena ada rasa takut, ngeri hingga proses penolakan wabah itu akan sampai di Indonesia. Tapi dengan menguatkan diri, saya pun membacakannya sambil terbata-bata, hingga berhasil melawan rasa takut itu dengan berkali-kali membacakannya. 


Seling beberapa minggu, situasi yang tak diharapkan pun terjadi. Kabar tersiar bahwa covid 19 menelan korban warga Jeman, Itali, Amerika, Korea, Spanyol, Vietnam lalu tiba-tiba mucul pasien covid di Depok. Betul, kota Depok yang berada di Indonesia, hanya menempuh waktu 3 jam dari Bandung. Sejak covid mulai mengenai beberapa orang, aktifitas fisik di sekolah dihentikan mulai 16 Maret 2020. Kegiatan yang menggunakan gedung pemerintah dihentikan/tidak boleh ada, segala aktifitas yang melibatkan keramaian, kerumuman harus dihentikan sementara waktu. 

Jalan Merdeka Bandung di situasi pandemi 
bulan Juni, 10/2020
Foto: Ima

Awalnya memakan korban puluhan pasien, namun karena sifat penularan cocid 19 ini sangat agresif. Lalu mulai banyak yang berteriak di medsos orang-orang yang menganggap enteng keberadaannya dengan berbagai statement. Mulai dari mengangkat ayat Quran, teori konspirasi, menjadi ajang menyalahkan pemerintah bagi yang beda pilihan. Namun ada juga yang bersegera membuat gerakan saling bantu, saling tolong, mengumpulkan dana dengan mengadakan konser musik live di media sosialnya, baca puisi hingga menjual gambar untuk membantu sesama. 

Situasi pameran seni rupa Jabar 2020 yang terhenti karena himbauan 
pandemi covid di GPK Bandung. Foto: Ima

Keadaan ini ternyata terus memanas, muncul 2 kelompok orang yang percaya adanya covid 19 dan orang yang tidak percaya adanya covid 19 ditengah bertumbangan pasien hingga puluhan ribudribu tenaga kesehatan karena covid 19. Sebagian masyarakat Indonesia ini memang unik, ada orang ahli yang bicara tidak dipercaya tapi begitu ada statement yang disebar lewat whatapp group hingga media sosial seperti facebook, twitter dan instagram mudah dipercaya lalu ditelan bulat-bulat. Seolah-olah kebenaran itu harus berpihak pada dirinya.

Sayangnya keadaan ini semakin memburuk. Masuk pada bulan ketiga fase lockdown atau kita mengenal dengan istilah PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), sekarang virus itu mulai menyebar dan mengenai ribuan warga Indonesia. Sudah 3 bulan kami menjaga diri dan lingkungan dengan tinggal di rumah saja selama tidak ada kepentingan yang mendesak.

Satu sisi di tengah situasi yang serba terbatas dan tertekan, saya merasa "istimewa" hidup di tengah pandemi covid 19. Karena mengalami perubahan pola hidup drastis, tak boleh berkumpul, tak boleh bersentuhan, kemana-mana harus pakai masker dan tetap di rumah untuk menghindari penularannya. 

Ima dan Holis
Foto: Ima

Cukup rumit dan ribet saat beradaptasi dengan perubahan ini. Tapi, pelan-pelan dijalani, disadari secara penuh, ternyata kami baik-baik saja. Banyak hal yang menarik yang dilakukan dan bermunculan orang-orang baik yang terus bergerak mengatasi situasi ekonomi yang terbatas karena pandemi.

Kini Jalanan sunyi, toko-toko tutup, berbagai kegiatan berhenti dengan berbagai kegelisahan yang terus hadir ke permukaan. Semakin hari, saya menikmatinya.  Hati yang aneh. Sulit, iya. Khawatir, iya. Terdampak? Tentu. Tapi ini saatnya lebih kita mengasah mata, telinga, mulut, rasa, diri, pikiran untuk mengejawantahkan langkah. Menumbuhkan diri ditengah ruang-ruang terbatas. 

Ketika pemerintah mengeluarkan kebijakan New Normal, hari ini, 11 Juni 2020 saya mulai memberanikan diri membeli gorengan di depan rumah.

Pukul 06.15 wib pergi ke depan cari makanan buat makan pagi dan cemal cemil anak-anak karena mau ditinggal kontrol ke dokter. Kemungkinan siang atau sore baru sampai di rumah. Rencananya mau beli bala-bala dan ulen untuk teman sarapan segelas kopi panas. Begitu sampai di depan, pedagangnya tidak menggunakan masker. Gorengan di atas meja (pinggir jalan) terbuka begitu saja, minimal ditutup plastik pun tidak dilakukannya. Setidaknya ditutup untuk menghindari debu dan angin yang berseliweran.

Museum Kota Bandung (Jalan Aceh) di tengah pandemi covid 2020.
Foto: Ima

Dia melayani sambil ngobrol dengan pembeli, herannya lagi pembeli juga ngambil gorengan pakai tangan kosongnya, tanpa pakai masker, membuka pembicaraan pagi dengan ngeluh sana sini tentang aturan masker dan SOP berasosiasi di tengah pandemi sambil sesekali rapihkan rambutnya yang terurai.

Aku membayangkan banyak droplet, cipratan-cipratan tipis dimulutnya bertebaran di atas gorengan itu. Mungkin juga serpihan ketombe dari uraian rambutnya yang ikut berterbangan.

Akhirnya, setelah terpaku beberapa saat dengan situasi yang dramatis itu, saya pun belok ke warung beli mie instan, telur dan energen. Buyar makan gorengan dengan kopi. Saya pun pulang dengan kekhawatiran yang berlapis-lapis.

Jam 08.15 wib, tiba di rumah sakit tempat suami kontrol ke dokter syaraf. Selama masuk pandemi, pintu keluar masuk pasien dan berbagai pengunjung hanya satu. Setiap orang yang masuk wajib cek suhu tubuh dan cuci tangan. Setelah melewati prosedur itu, kami segera menuju ruang rawat jalan.

Setelah cek tekanan darah dan berat badan, suami saya harus isi form yang wajib diisi yang menerangkan bahwa pasien tidak terjangkit covid dengan sejujurnya. Pertanyaan-pertanyaan dalam form itu berisi keluhan mengarah gejala covid, kalau memberikan jawaban bohong akan dipenjara. Menurutku, ini artinya sebagai upaya melindungi banyak orang. 



Penampilan dokter selama 3 bulan ini berbeda, lebih ketat. Kami mengetahui perubahan ini karena sudah 5 tahun suami saya tidak bisa lepas dari obat sehingga harus kontrol setiap bulan. Kali ini dokter menggunakan penutup kepala, masker, kacamata (face shield), baju khusus untuk melapis bajunya (bukan APD). Begitu masuk ke ruang rawat jalan tidak ada kontak fisik antara dokter dan pasien untuk tes syaraf pada kaki, mata dan degup jantung seperti biasa. Kami hanya diberi beberapa pertanyaan, ngobrol tentang kondisi fisik Ayah setiap bulannya dan membicarakan situasi pasien Covid 19 di rumah sakit ini.

Kata dokter, sekarang ini, setiap hari pasien bertambah 5 orang yang terinspeksi covid. Bahkan beberapa lantai digunakan untuk ruang isolasi. Semua pasien yang masuk lewat UGD apapun sakitnya, harus melewati rapid tes. Jika harus rawat inap sekalipun penyakitnya bukan karena covid 19, perlakuan dokter pada pasien sama. Semua dokter menggunakan standar baju yang digunakan dalam menghadapi pasien covid, yaitu masker, baju APD, kacamata dan tidak boleh bocor. 

Manusia adalah makhluk yang adaptif, saya fikir kita bisa melewati dan mengatasi keadaan ini. Kita harus mulai terbiasa ketika harus tes covid 19 dahulu saat kita jatuh sakit meskipun bukan sakit yang diakibatkan virus corona. Perlakuan ini mesti sikapi dengan tenang, sama seperti harus cek suhu tubuh, tekanan darah dan berat badan sebelum identifikasi penyakit.

Perubahan prilaku mesti disadari ketika harus keluar rumah, kita harus dapat memperkirakan situasi yang dihadapi dan diantisipasi segala kemungkinannya. Mulai pakai baju apa, barang-barang apa saja yang harus dibawa untuk menjaga kebersihan diri ditengah situasi pandemi.

Dengar dan ikuti himbauan, anjuran, pola bersosialisasi di tengah pandemi. Ribet, iya, takut berlebihan juga jangan. Kalau tidak bisa bantu orang, minimal jaga standar kesehatan buat diri sendiri (masker, cuci tangan, tidak berkerumun, nyampe rumah ganti baju). Karena apa yang kamu lakukan, berpengaruh banyak pada kesehatan hidup orang lain.

Asli, sakit dan ngurus yang sakit itu rasanya tidak enak, lho!

Semoga keadaan semakin membaik dan pandemi ini segera berakhir. 

Ima.Juni 2020

Foto: Ima

Suasana pandemi corona di jalan Oto Iskandar Dinata sepi, biasanya ramai dan macet oleh wisatawan di untuk berkunjung ke Pasar Baru Bandung.
Ramadhan hari ke-20 di situasi pandemi corona di Indonesia, hari-hari kian hening, matahari tampak jelas dan udara jernih. Daun gerak pelan tertiup angin, beberapa warnanya semakin hijau. Jalan-jalan reda dari dengung mesin dan degup orang-orang. Hingar tidak lagi di jalan, gedung, lapang, pertokoan bahkan di rumah ibadah, tapi hati jadi ramai.

Rumah-rumah kini riuh, tak hanya interaksi fisik namun hati terlibat kian dalam. Dia berbisik hingga memenuhi ruang hening yang tak berbatas. Meski diantara kita muncul rindu pada situasi sederhana yang dulu terabaikan. Ruang-ruang kecil, interaksi sederhana menjadi istimewa. Perlahan belajar pada situasi sempit, lama-lama meluaskan jiwa, menumbuhkan energi untuk tetap hidup. Seperti tunas-tunas kecil bertumbuhan yang selama ini kerap kecil tak terlihat. Kini, mata, hati semakin terjaga, menjaga, terbiasa. 



Sore di Terminal Ledeng Bandung.

Lalu apa yang terjadi sama diri? Kian hari harus di rumah karena pandemi, aku nyaman, meski tidak awalnya. Cemas, khawatir dan merasa berada di situasi yang tak biasa. Pandemi ini aneh. 14 hari pertama masih terasa asing dengan situasi social distancing, jaga jarak, memakai masker kemana-mana, berbagai aturan menjaga diri dari proses penularan. Masuk pada 14 hari berikutnya, hidupku baik-baik saja. Terbatas segala sisi, iya, tapi harus diakui hidupku lebih terisi dan tenang. 



Halaman parkir RS Santosa Bandung.

Awal masuknya virus ke Indonesia, muncul rasa khawatir, serba tak jelas tentang situasi mengatasi pandemi. Mengharuskan diri berjarak dengan berbagai kehidupan biasa jadi tidak biasa. Meski selama ini, ruang hidup saya 90% dikerjakan di rumah dan sesekali mengharuskan keluar untuk hal penting. Kehidupan normal saya memang seperti ini, bekerja yang dilakukan di rumah. Bedanya, dulu sesekali undangan liputan blogger, datang ke acara pameran lukisan, rapat, lebih luwes. Bisa intuitif keluar kapan saja tanpa perlu merasa khawatir, bisa sesekali makan lontong sayur, roti bakar dan ngopi di pinggir jalan. Kadang menikmati kota di atas jembatan bareng Ayah, ngajak main anak-anak ke taman, sekarang tidak lagi. 


Ruang tunggu apotek RS Santosa Bandung.
Biasanya ramai pasien dan pengantarnya.  Institusi membuat aturan, pasien tidak boleh di besuk dan hanya 1 orang penunggu. 

Untuk persoalan rezeki pun, kami sering berada dalam situasi yang serba tidak pasti, sering tak jelas alurnya karena saya penulis blog biasa-biasa dan Ayah pelukis. Terlebih ketika Ayah sakit, pola rezeki kami lebih aneh dan ajaib. Namun dari awal menikah, mensikapi persoalan rezeki ini, kami selalu yakin pada ayat “rezeki yang tidak diduga-duga”. Meski begitu, dalam menjalaninya cukup mendebarkan, memicu adrenalin. Situasi pandemi ini membuat jiwa lebih terjaga, lebih tenang dengan memperkuat sinyal pada Penjaga dan Penjamin Hidup.


Suasana Jalan Cipaganti Bandung,
Pandemi corona pada Maret 2020

Saat ini hilir mudik berbagai kejadian, cukup membuat polusi , menciptakan luka. Namun di tengah situasi itu banyak sekali tangan-tangan yang terus berbuat dan membasuh luka-luka. Mereka adalah orang-orang yang kerap saling memberi, saling memberi perhatian sesuai kapasitas masing-masing, seperti membuat tulisan, gambar, share info yang berenergi, barang, uang hingga tenaga.

Pergerakan ini membuat saya semakin mengabaikan orang-orang yang kerap melampiaskan lelah, protes melampaui kenyataan, lalu menambah rumit keadaan pandemi sekarang ini. Berputar-putar pada pemikiran yang sama, seperti kucing yang mengejar ekornya. Ternyata situasi ini mengering sendiri, atau mungkin tetap ada tapi aku abaikan. Memilih fokus pada yang ada, pada yang hadir, pada yang menumbuhkan dan orang-orang yang menciptakan solusi. 



Suasana Gang Bapak Eni, Ledeng,
Bandung, Pandemi corona 2020


Kita semua sama-sama berjuang dengan cara masing-masing. Seperti beberapa musisi yang melakukan live konser di instagramnya sambil menggalang dana, pelukis yang menjual lukisannya untuk berbagi pada sesama seniman, pembaca puisi yang live puisi di instagramnya untuk menggalang dana untuk membeli beras untuk masyarakat sekitar, ada yang menggalang dana dengan membuat masker, dan banyak lagi. Situasi pandemi yang menumbuhkan ruang-ruang cinta manusia untuk merawat kehidupan.

Saya sendiri lebih mengolah apa yang paling bisa, menciptakan kegiatan se-normal mungki lalu diterapkan di daam rumah. Jadwal lebih tertib namun luwes mengingat situasi ini sudah cukup menekan karena anak-anak tidak bisa keluar rumah. Kegiatan mulai dari bangun tidur, tetap membiasakan mandi pagi, olah raga, mengerjakan tugas, bersih-bersih rumah, mengaji, shalat jamaah, membaca buku, menulis, menggambar, hingga masak bersama. Ada beberapa jadwal yang yang harus dilakukan di pagi, siang, sore dan malam yang bisa mengolah motorik halus dan motorik kasar. Rumah menjadi rahim, harus disupply berbagai vitamin untuk mengolah tubuh, sukma dan pikir. 



Lengang di Jalan Pasteur, bawah
jalan layang Paspati pada bulan April 2020.

Berbulan-bulan kita melewati situasi yang istimewa. Ini hari ke-66 kita di rumah aja. Lama sekali semua ruang gerak fisik menjadi terbatas. Namun lama-lama aku terbiasa, aku nyaman, seperti meredakan lelah dari segala desir yang saling berburu. Melalui situasi ini, saya belajar banyak dari orang-orang yang memanfaatkan ruang gerak terbatas menjadi meluas. Fasilitas dunia maya lebih terolah dalam bentuk-bentuk kegiatan produktif yang mengasah kreativitas, seperti, diskusi, pelatihan, launcing buku online, pameran lukisan, jual-beli produk, ruang berbagi resep dan interaksi sehat lainnya. Dinding, jarak jadi tidak ada artinya lagi.

Semua aktivitas itu membuat cemas memuai, kini reda lalu bersatu dalam genggamanNya. Setiap orang berproses dalam melebur segala kesempitan dalam bentuk yang berbeda. Tubuh, jiwa, pikiran, mata hati seolah mengalir bersama doa, menghadirkan ruang hidup dan mengikuti genggaman cintaNya.


Koleksi foto pribadi milik Ima @2020

Tentang #dirumahaja #lockdown atau apapun itu.  Saya pernah menjalani itu selama 5 tahun.  Ya, kurang lebih selama itu lah.  Jangan bilang hebat, karena engga hebat-hebat amat, payah sebenarnya.  Saya sampe kena psikosomatik yang berefek ke lambung.  Udah lama pengen bikin status ini, tapi cari tuturan yang tepat biar tidak berkesan heroik atau tampak soleh 🤪😅.  Engga gitu.  

Saat awal suami sakit berhari-hari, berminggu eh ternyata berbulan lalu bertahun-tahun, rasanya semua pintu-pintu rezeki tertutup. Lockdown aslina.  Saya engga bisa kemana-mana, harus ngurus suami dan anak-anak tapi kebutuhan bertambah banyak. Edun, lieur pisan, dilematis aslina.  

Efek benda yang menempel di syaraf otak kiri Ayah ini bikin semua fungsi fisik Ayah engga bisa beraktifitas lagi menjadi seorang desainer grafis. Engga boleh deket sama laptop, handphone dan bersosialisasi. 😅 Lockdown dumay dan nyata!

Mengganti fungsi Ayah untuk kerja keluar rumah pun tidak mungkin, karena suami dan anak-anak hanya bisa diurus langsung oleh saya.  Sementara saya harus mencari celah aliran rezeki materi yang bisa dikendalikan dari rumah: celah itu dapat! Meneruskan hobi saya menulis di blog dan meng-optimasi fungsi media sosial jadi salah satu kesempatan saya paling mungkin dikerjakan.  

Apa memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan kondisi suami yang kebutuhan medisnya tidak terprediksi dari pemasukan aktivitas menulis? Engga juga, sebagai penulis blog biasa-biasa ini juga udah uyuhan pisan lah bisa bertahan.  




Ketika pada titik berhenti berharap pada manusia, kami kerap di supply langsung oleh Allah melalui pintu-pintu rezeki yang tidak diduga-duga.  Allah selalu menggerakan hati yang dikehendakiNya disaat yang tepat untuk menjadi jalan dan memudahkan jalan kami di tengah kesulitan.  Banyak keindahan yang saya lihat dari sudut ini. Eh, iya, Allah teh deket pisaaaan. 

Iya, saya tetap ikhtiar denan menulis, tetap jualan, tetap ngurusin berobat sana sini, tetap mengurus urusan domestik rumah tangga yang berlapis-lapis, kalau berdasarkan perhitungan manusia, rezeki materi/pemasukan seringkali memenuhi kebutuhan bulanan yang jumlahnya sering tidak terduga.   Bahkan jauh lebih besar dari upaya kami dulu  yang kerja siang malam waktu sebelum sakit.

Setiap saya memulai hari (bikin obat, ngasih obat, beberes, masak, dll), mulai menulis, membuka medsos dengan niat shadaqoh, bekerja, minta jadi berkah, mendapat ilmu yang bermanfaat, dan segala niat baik lainnya, Allah seringkali "membayar"/memberi gaji dari upaya itu lewat cara-Nya yang engga bisa diterima oleh logika kita sebagai manusia, tapi sangat mungkin dilakukan oleh Allah.  

Kejadian yang super bikin shock ini rupanya melatih saya berhenti berharap/meminta terhadap siapapun bahkan terhadap diri sendiri dan suami.  Meski kondisi mental ini naik turun, tarik ulur.  Ketika kegelisahan itu muncul karena tubuh saya capek, mental kacau, hingga kurang uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang menipis, harus keluar masuk rumah sakit tiap bulan, melakukan perjalanan antar kota, yang saya lakukan adalah bilang langsung sama Allah. 

Iya, bilang, ngomong langsung, curhat seperti yang sedang berusaha pinjem uang ke seseorang atau sedang curhat ke seseorang atau seperti yang curhat ke teman ketika hati kita disakiti seseorang.  Kalau sedang insyaf, saya sering terbangun oleh kalimat ini, bahwa Allah itu lebih dekat dari urat leher. Dekat sekali.  

Apa dengan menuntut/berharap kebaikan manusia akan jadi solusi?  Engga selalu jadi jalan keluar, malah nambah beban hati dan menumpuk pikiran ketika mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan kita.  

Duh, saya ngomong apa sih?  Intinya, ditengah pandemi yang bikin aktifitas kita jadi terbatas secara fisik, lakukan apa yang paling kita bisa, lakukan saja tanpa banyak perhitungan, kalau mulai berhitung cepat sadar, lalu lepaskan segala urusan sama Allah, semua kejadian ini atas izin Allah kok.  Pasti ada hikmahnya, pasti ada sesuatu yang baik bagi kehidupan kita.  Jadi biarkan Allah ngasih rezeki dengan caranya dan biarkan Allah memberi ruang rahmat dengan caraNya.

*efek hujan, secangkir kopi dan iteawon class 🤪🤣

Berkarya, ikuti kata hati, jadi diri sendiri.
Foto: Ima, 2019

Saya selalu merasa jalan hidup setiap orang unik sesuai kondisi zaman. Berkelok-kelok dan penuh “kejutan”. Salah satu keunikan itu kerap  dipertemukan dengan orang-orang yang berani menjalani hidup apa adanya, berkarya dan berekspresi tanpa kepura-puraan. Kenapa berani? Karena orang-orang yang berani menjalani hidup apa adanya, biasanya mereka punya karakter, visi yang jelas, state of mind, selalu berkarya pada bidang yang disukainya, berekspresi tanpa kepura-puraan dan tanpa syarat ketentuan. Mereka adalah orang-orang yang berani hidup dan berkomitmen pada pilihan hidupnya.

Perlu diakui, tidak semua generasi muda tahu pilihan hidup yang diinginkannya apa. Mudah goyah dan kerap menciptakan ruang hidup yang mudah diterima oleh lingkungannya. Sehingga berkesan terburu-buru dan instan dalam berkarya, hasilnya pun tidak sesuai dengan pribadinya. Apalagi zaman media sosial seperti sekarang ini, banyak yang memanipulasi diri, penuh kepura-puraan, mendapatkan follower palsu untuk menciptakan hidup semu. Padahal setiap orang punya potensi yang beragam dan masing-masing bisa menciptakan karya sesuai kapasitas. 


Jadi diri sendiri dan nikmati setiap momen.
Foto: Cholis


Di era media sosial, setiap orang seolah berburu pengakuan. Perlu diakui, mendapatkan pengakuan dari teman-teman di jejaring media sosial itu menyenangkan. Sayangnya, tak sedikit orang-orang membuat pencitraan tanpa kapasitas diri yang sesungguhnya. Pencitraan dalam frame tertentu memang dibutuhkan, namun kondisi ini akan menjebak diri sendiri jika tidak sesuai kapasitas, melakukan kepura-puraan, banyak basa basi, ada modus, bahkan mendapatkan follower palsu untuk tujuan tertentu.

Era sekarang adalah era keterbukaan informasi yang tanpa tedeng eling-eling. Semua permasalahan bisa ditelisik dan bisa ditelusuri dengan mudah jejaknya. Hal yang harus disadari sepenuhnya bahwa setiap orang bisa menjadi apreasiator, komentator yang artifisial atau jujur dalam menyikapi karya kita. Lebih jauh lagi kumpulan komentator ini ketika bersatu bisa saja menyebarkan “petisi” untuk menjatuhkan siapapun. Mungkin itulah netizen, ruang yang samar tapi ada.

Oleh karena itu, sangat penting jujur menjalani, mengasah dan mempelajari bidang yang kita minat agar menghasilkan karya-karya yang punya karakter. Selain itu, kita mesti memahami pola komunikasi di ranah media sosial agar mental tidak mudah patah ketika menghadapi iklim tuntutan dan pencapaian orang-orang sekeliling kita. 


Jalani pilihan hidup yang kita minati dan jangan berhenti.  Lihatlah, satu persatu setiap pintu akan terbuka menuju jalan yang tidak disangka-sangka sesuai kapasitas diri.

Mungkin kamu merasa, saat ini bidang yang kita jalani seolah kecil dan tidak bermakna.  Tapi suatu hari kita akan mengerti, bahwa hari ini dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih besar. Mungkin bukan besar, tapi berharga dan memberi ruang penuh di hati: bahagia dan rasa tenang.  Kita tidak tahu ada perubahan zaman apa di masa depan, berkaitan dengan sosial, budaya, politik, bahkan kondisi alam yang bisa berpengaruh pada kehidupan sosial. 

Wall text pertama untuk sebuah pameran di Galeri Pusat Kebudayaan.
Foto: Cholis, 2019


Tahun 1996 ketika media informasi masih terbatas, banyak pilihan profesi yang sepi peminat namun kini punya ruang hidup, dinamis dan membuka banyak kesempatan yang menjanjikan. Seperti profesi penulis, pelukis, wartawan, photografer, pemain teater, pemain longser, pembuat film, musisi dan bidang kreatif lainnya. Jangan tanya pembuat iklan, saat itu masih terbatas dan rumah produksi pun hanya dikuasai oleh beberapa kalangan. Karena saat itu orang yang menguasai seni kreatif banyak yang belajar di luar negeri, karena di Indonesia tidak ada sekolah yang memfasilitasi bidang studi seni kreatif yang bisa diterima oleh industri seperti sekarang.

Namun saat itu, muncul orang-orang yang tangguh, terus belajar meskipun otodidak sehingga menghasilkan karya-karya yang menarik. Meski bidang yang mereka pilih menjadi golongan minoritas dikalangan masyarakat. Energi itu rupanya menciptakan jejaring kelompok kecil yang membuat pola “belajar” dengan ruang diskusi namun kaya energi yang melahirkan karya-karya keren dari orang-orang yang punya dedikasi tinggi. Karya dan gerakannya kerap hadir, tumbuh dan menumbuhkan meski saat itu hanya dinikmati dan fahami oleh kalangan terbatas. 



Sebuah acara Festival Reader Festival yang lahir
sekelompok minoritas komunitas yang cinta pada dunia literasi.
Foto: Ima


Sehingga sekitar tahun 2000-an, muncul komunitas-komunitas kecil yang terus bergerak dan memberi nafas pada kaum minor.  Saat itu perlahan muncul penerbit buku indie, mereka (para penulis) menerbitkan buku sendiri mulai dari menulis, editing, cetak hingga distribusi yang disebarkan melalui jaringan terdekatnya. Biasanya buku ini disebar melalui jejaring tertentu. Lalu muncul zines/majalah kecil yang diproduksi dengan di foto kopi. Saat itu dikeuarkan oleh komunitas sebagai upaya mendokumentasikan gerakan, campaign, maupun aktifitas yang dilakukan untuk visi sosial, perdamaian, DIY, dll. Muncul juga film indie dengan durasi sekitar 15 menit yang bisa dinikmati di ruang-ruang galeri, komunitas maupun ruang budaya. Pertunjukan-pertunjukan kecil pun kerap menghangatkan tiap sudut penikmatnya, mulai dari longser, monolog perempuan, performance art hingga pertunjukan-pertunjukan yang kerap menghangatkan gedung pertunjukan.

Gerakan dan langkah-langkah kecil terus dipelihara oleh orang-orang ini, percaya pada bidang yang dipilihnya akan terus hidup, bergerak apa adanya sehingga lahir karya-karya jujur yang inspiratif dan memberi energi lebih. Energi ini agak sulit diterima lingkungan masyarakat kita, namun berdasarkan bergerakan waktu dan jiwa yang terus berkarya dan percaya pada apa yang dilakukannya, langkah ini dapat menembus jejaring antar negara yang mempunyai visi dan perhatian yang sama.

Saat itu bidang studi yang minoritas begitu sulit dimengerti pola kerjanya oleh orang-orang terdekat kita. Baik oleh keluarga, saudara, teman bahkan tetangga. Karena kita mudah menerima pekerjaan maupun hasil karya dengan pola-pola kerja yang hitungan penghasilan yang jelas dan waktu kerja tetap. Ketika pola kerja dan pendapatan hasil kerja tidak jelas dengan waktu kerja tidak menentu, terlalu sulit meyakinkan orang terdekat bahwa bidang yang dipilih bisa menjamin hidup kita. 

Karya jujur mudah menyentuh hati.  
Foto ini di sebuah pameran di Galeri Nasional Jakarta
Foto: Cholis, 2018

Namun percayalah ketika kamu menjalani hidup apa adanya lebih fokus berkarya maka semesta akan mendukungmu. Saat ini mungkin kamu akan merasa sendirian. Suatu saat nanti, semakin diselami bersama proses dan berjalannya waktu akan banyak pintu yang akan membawa karya kamu pada orang-orang yang tepat.

Zaman sekarang bergerak begitu cepat, berbeda dari 20 tahun yang lalu dimana proses efek domino pencitraan diri maupun karya bergerak begitu lamban. Sejak adanya internet dan maraknya berbagai aplikasi media sosial, siapapun menjadi sangat mungkin bergerak menciptakan diri atau mengekspresikan diri tanpa kepura-puraan.  Dengan sendirinya karya yang berkarakter dan jujur, akan mendatangkan followers yang mengapresiasi karya kita dengan tulus dan suka rela.  Kita bahagia mengerjakannya, followers pun senang dan menanti karya/postingan selanjutnya.  Jadi, setiap karya akan bertemu tempatnya.

Tulisan ini terinspirasi dari tema yang digaungkan oleh IM3 Ooredoo untuk anak-anak muda sekarang. Tidak mudah menjadi diri sendiri di tengah iklim pencitraan dan selera umum. Padahal setiap anak muda itu unik dan harus berani mengungkapkan identitas diri apa adanya sehingga karya-karya yang dihasilkannya pun terasa jujur, beragam dan unik. Seperti yang bisa kamu lihat di link ini:







Video art ini menarik sekali, sangat berenergi. Seolah ingin mengajak generasi muda lebih mengenal diri sendiri lalu berani mengekspresikan dalam karya dan menikmatit prosesnya.


Zaman sekarang beragam kemudahan fasilitas yang tersedia, karya bisa terhubung ke berbagai titik dengan menggunakan media layanan telekomunikasi yang simple, bebas syarat ketentuan berlaku seperti Freedom Internet. Media telekomunikasi menjadi bagian yang penting dan tak terpisahkan. Agar karya-karya kita mendapat perhatian luas, sangat penting memilih media telekomunikasi yang tepat agar lebih produktif.

Banyak hal yang bisa kita manfaatkan dengan jaringan internet diantaranya kita bisa mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan karya, jejaring yang tepat hingga proses komunikasi dengan berbagai komunitas yang bisa saling support dan memajukan satu sama lain.


Teruslah berkarya sesuai kata hati, berani hidup apa adanya, kelak karyamu akan menemukan tempatnya sendiri.

Ima, 2020


Cegah Corona Dengan Vitalis

Beberapa bulan ini muncul virus yang cukup masif dan cepat penyebarannya, namanya Virus Corona. Namun meskipun begitu, virus ini dapat dikalahkan oleh jenis detergen. Kandungan ini terdapat dalam sabun manapun, termasuk Vitalis Parfume Mouisturizer Body Wash. Vitalis mengeluarkan sabun mandi? Betul, wanginya harum karena pada dasarnya Vitalis ahli dalam mengolah parfum. 


Dengan adanya himbauan dari pemerintah agar mengurangi kumpulan dan melakukan aktifitas di rumah aja, saya sebagai ibu rumah tangga terpaksa tetap harus pergi ke pasar maupun supermarket untuk membeli kebutuhan pokok. Namun saya harus mengurangi frekuensi kedatangan ke pasar dengan cara membeli bahan setidaknya untuk 3 hari. 

Kata para ahli kita tidak perlu cemas maupun khawatir asal tahu bagaimana cara mencegah dan antisipasi pengaruh virus corona ini. Berikut kata para ahli cara mengantisipasi Virus Corona:
1. Cuci tangan dengan sabun
2. Sepulang dari pasar sebaiknya ganti baju lalu mandi menggunakan sabun. Cara ini sudah bisa membuat virus mati.

Sebelum Virus Corona mewabah ke Indonesia, saya sendiri mandi 1 kali sehari kalau tidak kemana-mana dan kalau tidak mengeluarkan banyak keringat. Namun kalau habis bepergian atau banyak melibatkan aktifitas fisik, baru mandi 2 kali sehari. Biasanya saya mandi menggunakan sabun dengan memperhatikan wanginya. Karena wangi sabun ini sering berpengaruh pada suasana hati harian saya. Kalau wangi dan bersih, rasanya lebih siap menjalani aktifitas harian yang tak ada hentinya.


Jenis Vitalis Body Wash

Sepertinya Vitalis sudah menjadi salah satu produk kecantikan dan merawat kesehatan tubuh yang sudah dikenal sebagain besar perempuan. Koleksi wangi yang dikeluarkan Vitalis mampu merangkum selera perempuan remaja maupun dewasa. Setidaknya setiap perempuan menggunakan satu jenis varian Vitalis untuk membuat tubuhnya tetap cantik dan wangi. Manfaatnya dapat, harganya pun terjangkau. 

Kalau diperhatikan, produk yang dikeluarkan Vitalis itu jenisnya banyak. Sehingga bisa jadi setiap orang menggunakan salah satu produk Vitalis, seperti parfum, lotion, lulur hingga skin care lainnya. Hal ini bisa terwujud karena Vitalis rupanya produk yang berpengalaman memahami karakter kebutuhan perempuan Indonesia. Selain mendapatkan kulit cantik, perempuan selalu menginginkan tubuhnya wangi. Dengan begitu, dia akan merasa nyaman dengan dirinya sendiri dan lebih percaya diri dalam bersosialisasi. 

Kali ini, Vitalis mengeluarkan sabun mandi cair yang isinya lengkap dalam satu kemasan. Kita akan mendapatkan pengalaman menggunakan sabun mandi yang mengandung parfum dan moisturizing. Selain meluruhkan virus, kuman, radikal bebas yang menempel di tubuh, Vitalis Body Wash ini membuat tubuh lebih wangi karena mengandung parfum. Ada tiga jenis wangi Vitalis Parfume Moisturizing Body Wash, diantaranya White Glow, Fresh Dazzle dan Soft Beauty. Selain bersih dan wangi, kita akan mendapat maanfaat lain yaitu kulit lebih lembut karena mengandung moisturizing.




Saya suka jenis yang White Glow, begitu mandi menggunakan sabun yang satu ini, saya berasa mandi parfum.  Wangi parfume perpaduan Cherry dan Raspberry yang dikeluarkan dari sabun Vitalis membuat rileks dan nyaman di hati. Selain itu kulit saya pun jadi terasa lebih halus, lembut dan cerah dari biasanya. Lalu yang Fresh Dazzle, saya gunakan pagi hari, karena membuat hati lebih semangat. Ada kekuatan ekstrak jeruk Yuzu dan Teh Hijau yang menjaga kelembabab kulit, wanginya mengolah suasana hati dan membuat hati lebih percaya diri. Kemudian ketika mencoba yang Soft Beauty, kulit jadi terasa halus. Begitu dituangkan ke telapak tangan dan digunakan ke seluruh tubuh, membuat wanginya menempel lama di kulit. Suasana ini sangat menyenangkan. 


Kenapa saya menggunakan Vitalis Body Wash yang mengandung parfume dan moisturizing? Buat freelancer seperti saya dengan porsi bekerja banyak dikerjakan di rumah, menjaga hati tetap tenang dan asik agar bisa disiplin/patuh pada jadwal yang sudah diatur sendiri adalah kunci. Untuk itu saya harus menjaga mood dan menjaga hati tetap positif dengan mandi parfum biar memelihara hati tetap produktif meski beraktifitas di rumah.


Bekerja di Rumah Agar Tetap Semangat

Ketika memutuskan bekerja di rumah, mau tidak mau saya harus mengatur membagi waktu seefektif mungkin. Mulai merawat anak-anak, suami, kebersihan rumah dan kebutuhan domestik, mengasah diri sambil menyelesaikan satu persatu pekerjaan. Untuk itu saya biasanya memulai hari dengan mandi pagi menggunakan sabun yang mengandung parfum, sedikit make up dan menggunakan baju yang nyaman. Pakaian tidak seperti yang mau ke kantor, tapi gunakan baju yang pantas atau jenis baju yang tak perlu ganti baju kalau tiba-tiba harus pergi keluar rumah. Jadi meski di rumah, saya tidak mau asal-asalan, kalau asal-asalan bawaanya tiduran terus.

Lalu, kalau bekerja di rumah sebetulnya bisa aja kan tidak mandi? Kalau saya sendiri, mandi jadi salah satu keharusan. Selain faktor menjaga kebersihan, mandi bisa meningkatkan mood karena membuat sel-sel tubuh aktif dan parfume-nya bisa menciptakan suasana hati jadi menyenangkan. Kalau sudah malas, banyak pekerjaan yang tertunda sementara pekerjaan rumah itu seperti tidak ada habisnya. 

Jadi seperti yang diceritakan di atas, untuk menjaga hati biasanya saya memulai hari dengan mandi pagi menggunakan sabun yang mengandung parfum seperti Vitalis Parfume Moisturizing Body Wash. Meskipun ada sabun keluarga, saya selalu menyimpan sabun dengan wangi yang enak dan digunakan di waktu-waktu spesial sebagai bentuk “terima kasih” pada tubuh dan hati yang sehat dan mau diajak kerjasama untuk menjalani hari.

Ketika ada himbauan tinggal di rumah aja dari pemerintah, kondisi ini sedikit banyak memengaruhi mental saya. Saya jadi lebih waspada dan menjaga setiap detil kebersihan di lingkungan keluarga. Khawatir, iya, karena pemberitaan tentang virus kayanya lebih banyak dibanding virus yang menyebar ke banyak orang. 

Kondisi ini cukup menyita pikiran dan hati. Re-fresh diri dengan membersihkan beranda media sosial, clear chat grup whatsApp, aktifitas tetap biasa namun tidak melakukan kegiatan di rumah. Kalaupun harus keluar rumah memang dalam keadaan mendesak, seperti ke rumah sakit, apotek, pasar dan supermarket. 

Dengan begitu kita tetap bisa memelihara jiwa dan badan tetap sehat, segar dengan menciptakan suasana menyenangkan pada diri sendiri.  Dengan begitu lingkungan rumah pun terasa lebih menyenangkan.


Demam dan Penyebabnya

Sudah sebulan ini beberapa teman sekelas anak saya kena panas dan demam. Sehingga dalam beberapa pekan, ada saja murid yang izin sekolah karena sakit silih berganti. Isi kelas pun lengang dan proses belajar mengajar jadi kurang optimal. Bisa jadi karena belakangan ini cuaca tidak menentu, bahkan di beberapa titik terkena banjir.

Untuk anak yang daya tahan tubuhnya kurang, mereka mudah sakit menghadapi cuaca ekstrim seperti sekarang. Peralihan cuaca tidak menentu dari panas, mendung dan hujan bisa mengundang penyakit pada lingkungan. Tak hanya cuaca, seringkali demam disebabkan bakteri yang masuk ke dalam tubuh kita melalui tangan kita yang tidak bersih, makanan maupun minuman yang tidak. 


Namun menyalahkan kondisi cuaca ekstrim seperti itu tentu bukan solusi. Mau tidak mau, kita sendiri yang harus menjaga kesehatan diri, beradaptasi dengan keadaan, mengenal cara mengelola daya tahan tubuh/sistem imun. Untuk itu kita perlu menjaga lingkungan terdekat seperti rumah, halaman rumah, wc, lingkungan tempat kita beraktifitas sehari-hari seperti kantor dan sekolah.

Satu sisi, kita diperuntungkan hidup di negara tropis. Karena di negara ini kaya sayur mayur, buah-buahan, daging-dagingan sebagai dasar asupan makanan sehat yang bisa membuat daya tahan tubuh manusia kuat. Dengan memperbanyak porsi makan makanan segar, imunitas tubuh kita akan meningkat dan tidak mudah sakit meskipun pergantian musim tak menentu. Persoalan kita adalah kurang memperhatikan porsi makan, kurang memperhatikan cara pengolahan makanan dan kurang memperhatikan kebersihan lingkungan.

Selain menjaga kesehatan dengan asupan makanan yang baik, kita tetap perlu menyediakan obat-obatan P3K (pertolongan pertama pada kesehatan) di rumah. Isi P3K ini diantaranya: Hansaplast Cooling Fever, Hansaplast untuk luka, kain kasa, antiseptik, obat penurun panas, paracetamol, obat batuk, salep gatal, penghangat badan, vitamin, kapas, termometer dan gunting kecil.



Mengatasi Demam Gak Pake Drama
Setiap orang tua pasti khawatir dan sedih melihat anak-anak kita sakit. Biasa melihat mereka ceria dan semangat, jadi rewel, merengek, diam, tidur terus menerus karena kondisi badannya yang tidak nyaman. Situasi di rumah jadi penuh drama. Beberapa orang tua seringkali mudah terpengaruh mood-nya melihat anaknya yang sakit. Tidak enak pastinya menghadapi anak seperti itu, tapi yang harus kita lakukan adalah berusaha tenang dan fokus pada solusi pengobatan. 


Respons anak seperti ini wajar, karena reaksi demam pada anak seperti nyeri tulang, dingin, pusing cukup menggangu si anak dalam beraktifitas sehari-hari. Demam ini bisa muncul karena ada luka di bagian dalam tubuh anak maupun bagian tubuh luar anak. Seperti sakit perut, sakit gigi, luka bagian tertentu/infeksi, hal ini bisa membuat anak jadi demam.

Namun ada langkah pertama yang bisa kita lakukan untuk mengatasi demam, yaitu:

1. Tempelkan Hansaplast Cooling Fever di dahi anak yang sedang demam. Kompres demam ini perlu disediakan, karena cukup banyak anak-anak yang tidak mau makan obat penurun panas. Langkah ini sebagai pertolongan pertama saat anak kena demam. Agar anak #GakPakeDrama dalam kondisi demam, Hansaplast Cooling Fever menyediakan 2 edisi gambar karakter Marvel Avengers dan Disney Frozen. Anak-anak tidak takut melihat alat pengobatan menempel di dahi, dia pasti merasa senang dan bersahabat dengan alat kompres bentuk gel ini. 


2. Kemudian peluk anak dengan lembut, usap-usap rambut kepalanya dan hibur dengan kegiatan yang membuatnya nyaman. Langkah ini bisa mengalihkan pikirannya dan hati si anak jadi lebih tenang. Seperti dibacakan buku, mendongeng sambil menggunakan boneka tangan, atau dinyanyikan lagu-lagu yang menyenangkan.

3. Kalau ada obat penurun panas, beri sesuai dosis. Karena penggunaan Hansaplast Cooling Fever ini bisa digunakan bersamaan dengan obat yang lain.

4. Beri air mineral agar tidak dehidrasi.

5. Beri asupan vitamin maupun madu.

6. Sediakan makanan diet dan kaya vitamin. 

7. Lihat/cek perkembangan suhu badan dengan menggunakan termometer. Kalau dalam 1-2 hari panasnya tidak turun atau masih di angka 38 derajat segera bawa anak ke dokter untuk mengetahui penyebab demam tersebut dan mendapat pengobatan yang tepat.

Ketika anak kita sakit, sebaiknya tidak perlu panik dan #GakPakeDrama. Namun segera beri perhatian lebih dengan tenang lalu lakukan standar pertolongan pertama.




Malam Sabtu, 10 Januari 2020, Gedung YPK (Yayasan Pusat Kebudayaan) Bandung terasa hangat dan penuh.  Beberapa seniman dan penikmat seni berdatangan untuk menghadiri Pameran Seni Rupa bertajuk Energy.  Desain poster berwarna merah dengan font berwarna putih memberi kesan dalam.  Semacam objek yang menceritakan sosok yang tumbuh kokoh karena telah melalui berbagai proses panjang. 


Seniman lukis-Jeihan-sudah meninggalkan kita 40 hari lalu.  Ada energi yang terus mengalir, karya-karya lukisannya khas dan memberi ruang hidup pada penikmatnya.  Semasa hidup hingga di usia tua, semangat berkaryanya terpelihara.  Karya-karya lukis khas dengan mata hitam legam kerap melekatkan ruang imajinasi.  Berkarakter dan penuh misteri.



Melalui energi Jeihan, penyelenggara melahirkan pameran ini sebagai upaya mewujudkan wasiat Jeihan.  Saat beliau masih ada, Jeihan ingin mengadakan pameran bersama yang menghadirkan karya Joko Pekik, Nasirun, Tisna Sanjaya, Diyanto, Iconk, Sri Warso, Syahnagra, Isa Perkasa, Nadia Tarsanto, Ade Artie, Indah Arsyad, Bibiana Lee, Ida Ahmad.  Akhirnya pameran yang dimimpikan oleh Jeihan terwujud juga dari tanggal 10-20 Januari 2020.  Sebuah pameran yang menarik dan menghadirkan ruang-ruang kontemplasi.  Pameran tersebut seperti memberi energi bagi setiap pengunjung, baik seniman maupun pengunjung dengan berbagai profesi lain. 



Pameran ini mendapat apresiasi yang baik dari Gubernur Jawa Barat-Ridwan Kamil.  Sehingga beliau membuka jalannya acara pameran seni rupa yang diselengarakan di Galeri Pusat Kebudayaan YPK Bandung.  Ini menjadi penanda bahwa seni rupa punya ruang istimewa yang bisa memberi warna pada kota.  Jejak pada setiap karya yang diciptakan oleh masing-masing seniman memberi pesan tersendiri.  Garis, warna, cat, charcoal, memberi kisah dan ruang dialog yang kontemplatif tentang pergerakan kehidupan sosial. 



Memasuki Galeri seperti berjalan pada lorong labirin yang memberi teka teki.  Setiap karya seniman mempunyai karakter, baik dari garis hingga objek yang dimunculkan.  Pengunjung seperti diajak  menyusur berbagai peristiwa yang dihadirkan melalui kanvasnya.  Disana kita dapat membaca bahwa karakter yang hadir pada setiap karya tidak muncul begitu saja.  Mereka pasti melalui berbagai proses penemuan, ketekunan dan spiritual hidup yang tidak sederhana.  Ini yang harus jadi titik temu antara diri seniman dengan karya, sebuah proses yang bisa menghadirkan karakter dan daya sentuh pada penikmatnya.



Pada setiap karya yang terpajang, pikiran kita seakan dibawa ke arah kisah-kisah yang membentang dari proses panjang senimannya.  Kita akan mendapatkan rasa dari setiap karya yang matang karena waktu dan konsistensi pada  proses berkarya.  Hasil karya akan terlihat dari prosesnya, selanjutnya setiap apresiator akan merasakan perbedaanya. 

Ima