Bulan-bulan ke belakang ini aku berhasil membuat alis mata.  Aku si paling sulit pakai make up, akhirnya harus bersikap manis pada pinsil alis akibat alis mata rontok efek kemoterapi.  Buat sebagian orang, memakai pensil alis menjadi rutinitas yang biasa dan menyenangkan.  Tapi buat aku menggunakan pensil alis perlu pembiasaan baru dan adaptasi yang tidak sebentar. 


Awalnya agak repot juga karena kemana-mana harus merapikan alis, kena wudhu alisnya hilang, tak sengaja bersihkan keringat membuat bentuk alis berubah.  Sempat kesal juga sampai harus menenangkan diri membentuk alis yang pas dan rapi.  Karena bentuk alis yang berbeda membuat kesan wajah yang berbeda.  Kadang merasa asing dengan wajah sendiri.


Mau tidak mau, aku terus mencoba, latihan, mencari referensi, sampai akhirnya mencari foto aku yang masih ada alisnya.  Sejak itu aku patuh pada bentuk alis yang sesuai kodrat.  Lumayan, agak sedikit mengembalikan wajahku yang dulu.


Melalui bantuan si pensil alis disadarkan bahwa bulu alis yang kecil sudah di desain sama Allah agar wajah kita proporsional.  Begitu detil, begitu rapi.  Dulu aku selalu ingin punya alis tebal dan bagus seperti punya orang.  Sementara aku segaris.  Tapi ternyata ketika  alis aku rontok, alis yang nempel di wajahku sudah sesuai bentuknya.  Kalaupun ingin dibentuk-bentuk dalam bentuk yang lain maka harus mengubah detil hidung, bibir, warna pipi juga. 




Kalau dulu sempat berkeluh karena bentuk alis, sekarang tidak lagi agar tidak double keluh.  Aku akhirnya memutuskan small celebration-bersenang-senang dengan membeli pensil alis yang menarik dan enak digunakan.  Aku memutuskan untuk menikmati penggunaan pensil alis lalu menghadiahi diriku sendiri membeli pensil alis yang aku suka. 


Berkaitan dengan small celebration, aku jadi punya prinsip bahwa kebahagiaan itu.  Tapi aku melihat setiap langkah dilewati perlu diapresiasi karena melalui pencarian, pergolakan batin sampai akhirnya menerima, berserah dan menikmati melalui proses pembelajaran yang berharga.


Karena kalau Allah memutuskan proses kita mendapat hasil yang sesuai kita harapkan atau sebaliknya tidak sesuai kita harapkan, ternyata kedua situasi ini harus kita syukuri.  Karena semua situasi yang diputuskan Allah SWT cara Allah merawat kita.  Katakanlah untuk saat ini proses tumbuh rambut alis dan rambut kepala pelan sekali tumbuhnya/tidak merata.  Tapi dengan proses ini aku punya keahlian baru yaitu menggunakan pensil alis dan tidak kagok lagi kalau lihat orang lain menggunakan pensil alis.


Sering kali kita mengabaikan kemudahan yang dianggap kecil di tengah persoalan yang terlihat besar.   Dengan kita berhasil melewati satu persatu jalan dengan tujuan menyelesaikan masalah, sama dengan keberhasilan yang patut dirayakan.  Dirayakan di sini bukan berarti harus dibeli melulu dengan uang, tapi perayaan dengan melakukan aktifitas yang membuat bahagia menjadi situasi yang patut dirayakan.


Seperti tahun lalu ketika aku harus melewati fase biosi untuk mendapatkan hasil patologi.  Seminggu setelah operasi rasa linu, nyeri masih ada.  Ada tekanan sedikit, tidak enak sebadan-badan.  Tapi karena kesal, aku coba cuci gelas, ternyata langsung ada reaksi nyeri dibagian bekas operasi.  Keterbatasan aku mencuci menyadarkan aku bahwa tenaga dan proses merawat rumah yang selama ini aku lakukan kurang dapat apresiasi dari diriku sendiri.  Aku anggap biasa, semua orang bisa melakukannya, atau bahkan berkesan keras pada diri sendir.  Tapi ternyata dalam keadaanku yang serba lemah dan terbatas ternyata hidup aku selama ini bermanfaat, ya. 


Sampai akhirnya sekarang ini aku selalu memberi waktu istrahat pada tubuhku sendiri, mengajak dialog untuk memberi kebahagiaan pada diriku sendiri dengan memberi waktu menggambar.   Kalau dulu ketika rumah berantakan, cucian menumpuk muncul rasa bersalah dan khawatir kalau rumah berabtakan bakal dikomen orang yang mampir ke rumah.  Sekarang aku sesekali memberi waktu toleran pada diriku sendiri ketika rumah masih berantakan sementara aku harus menyelesaikan gambar, baca buku, juga menulis tanpa merasa bersalah ketika gelas piring belum dibersihkan.


Ketika aku sakit ada beberapa buku yang aku baca kunci sehat badan bermula dari menjaga tingkat stress dan mengelola pola pikir aku dalam menghadapi berbagai situasi.  Sekarang pelan-pelan menjalani apapun tanpa rasa beban.  Badan juga suka muncul alarm-nya, ketika pikirannya mulai tidak terkendali akan muncul reaksi tak nyaman dari tubuhku.  Jadi sekarang lebih banyak ruang pemaafan pada diri sendiri, ruang terima kasih dan berusaha mindfull pada kegiatan yang aku lakukan. 


sebetulnya sangat dekat sama aktifitas, lingkungan terdekat dan menerima fisik apa adanya.  Ini rasa syukur tea yang kalau dulu sering dicuekin.  Dulu aku selalu mengira bahwa kebahagiaan itu tercapai cita-cita, kembali sembuh dari sakit, mendapat apa yang diharapkan, kerja di tempat impian, intinya tercapai sesuatu. 

Tapi sekarang beda, tepatnya setelah mengalami situasi yang betul-betul butuh berserah penuh pada Allah SWT, ternyata kebahagiaan itu menerima dan menikmati situasi apapun sekalipun kita sedang berada dalam masalah.

For summer, many women choose to invest in light and breathable pieces. It's the season when people invest in building their physical appearance because cooler clothes generally leave more areas of the body exposed.

Using a piece that makes you comfortable in the heat and even improves your physical shape like a shapewear bodysuit is interesting. In a simple way, you can also boost your personal confidence.


Can I create an Athleisure look with sensuality?

Yes! In fashion you can do anything, never forget that. So, a bodysuit is a great idea to add sensuality to an Athleisure look.

The lace lining compresses the belly area without causing discomfort and gives you a much more symmetrical appearance for the summer. Plus, the 3D shape makes you look even slimmer. Another interesting detail here is the breast support with built-in rim and cups.

As you will be using a drier piece on the top to create a sensual feminine touch, take the opportunity to harmonize the lower region using cargo pants and sneakers with a sporty design. You can also add a cap and make a beautiful ponytail to hold your hair. Here is a perfect casual, fresh and very stylish look for you to enjoy sunny days at full power.


What type of color should I invest in for summer?

You can identify the color palette that suits you best. But in general, opt for neutral colors or lighter tones. So, pink, emerald green or even a shapewear jumpsuit in baby blue could be a perfect choice.

Use it in a cooler look combined with a fluid skirt with tulle or shorts. If you are going to exercise outdoors, this piece can be a great ally and help with your physical conditioning, as you will be able to perform the exercises comfortably and safely.

Bet on a design with a unique cut to create a look unique to you. So, a version with a cut-out effect on the chest and back creates a very light look that you will love.

Furthermore, a seamless piece is perfect for providing flexibility when exercising, leaving you freer. The firm compression defines the abdomen, the soft fabric gives you a very pleasant sensation in contact with the skin. Another important detail is that by investing in a piece made with ecological threads, you can develop your sustainable awareness in fashion.



What type of dress most symbolizes summer?

Dresses that are fresh. It is essential that you wear clothes that can help control your body temperature. So, opt for a design that matches your style, but leaves you feeling fresh. Adjustable straps are important features, as they help the dress adapt to your curves naturally and leave the upper region feeling more refreshing. You can opt for an off-the-shoulder or even a version with flexible half sleeves to wear at night.

You can match your shapewear dress with the shoe color. Bet on maxi bags, which are trends that invaded the catwalks and were quickly adopted by women in street fashion. The shapewear mesh defines the tummy without causing it to be stuffy. And a version with a side slit makes the leg area sexier.

Foto: Ustadzh. Neng Beth.
Darul Iman 2024

Karya-karya ini merupakan sebagian buah tangan dari 150 santri-santri Pesantren Terpadu Darul Iman yang ikut acara workshop.  Saya senang sekali bisa membagikan teknik menggambar ini menjadi kegiatan yang bermanfaat buat mereka.  


Bahagia sekali melihat hasil karya mereka meski lewat foto, katanya mereka antusias dan gembira dalam proses menggambarnya.


Art Therapi

Ramadhan hari ketiga kami berdua menjadi nara sumber acara Gebyar Ramadhan 1445 H di Pondok Pesantren Darul Iman Pandeglang (Banten).  Saya sama Ayah (mereka memanggilnya Ustadz Nung) mengisi materi Terapi Healing dengan Menggambar untuk para santri di pondok pesantren tersebut.  Buat saya ini pengalaman pertama menjadi pemateri di bidang seni rupa.  Sementara aktifitas Ayah sebagai pengajar terapi seni rupa untuk anak-anak berkebutuhan khusus.  Seperti dyslexia, autis, gifted, dll.


Saya sendiri membuat projek kecil-kecilan pada tahun 2019 sebagai objek terapi untuk diri sendiri tepatnya dari awal pandemi.  Biasanya saya membuat jurnal dalam bentuk catatan di blog pribadi.  Namun kali ini menambah aktifitas menggunakan seni rupa sebagai terapi melepaskan diri atau berdamai dengan masa lalu, menyembuhkan luka batin, maupun ingatan buruk di masa lalu.  Tidak terasa proses tersebut telah menghabiskan beberapa sketchbook, note book, kanvas.  Ternyata dengan konsisten, proses ini membuat saya ikut terlibat dalam beberapa acara pameran seni rupa.

Mungkin persepsi sebagian orang kesannya berlebihan, tapi luka batin juga sama seperti luka fisik sama-sama harus diobati.  Bahkan buat sekelompok  orang, luka batin harus ditemani orang ahli agar dapat mencari solusi mengatasi hidupnya dengan tepat. 


Terus terang, saya terkejut diundang oleh adik kami, Ustdzh. Neng Beth & Ustd.Dede Permana.  Kami diundang terlibat jadi nara sumber acara seni rupa sebagai Terapi Healing.  Kami berdua mengatasi persoalan batin kami dalam menghadapi proses pengobatan panjang dengan memelihara kegiatan yang membuat hati gembira.

Ayah pernah 5 tahun sakit (tidak bisa beraktifitas normal dan bekerja), untuk mengatasi kegelisahan hati dan respon tubuh yang tidak enak dengan melakukan kegiatan menggambar.  Begitupun saya, terus merawat mental aku yang naik turun karena harus merawat suami yang sakit, Ibu dan dua anak yang masih kecil.  Lanjut sekarang merawat diri sendiri yang sedang pengobatan sebagai survivor kanker payudara.
 

Suasana Menggambar

Karena posisi kami di Bandung, jadi materi menggambar dilakukan dengan online.  Teman-teman santri bersiap di aula, sementara kami bersiap di studio gambar.  Materi yang Ayah sampaikan neurographic art sementara saya zentangle art. 


Dua materi tersebut beririsan, berupa teknik menggambar yang melatih fokus dan memberi efek meditatif.  Bermain garis dan motif sederhana yang bisa menghasilkan karya seni.  Media yang dibutuhkan hanya dua, kertas HVS ukuran A4 dan spidol hitam.  Media dipilih paling mudah didapatkan dengan efek yang sama dan menghasilkan art.   

Meskipun jarak jauh, Ayah bisa mengajarkan teknik gambar ini setahap demi setahap.  Memperkenalkan  teori seni rupa sederhana, mulai dari bermain titik dan garis dilengkapi dengan bercanda.  Ayah kemudian mengenalkan teknik gambar neurographic art.
 Santri kemudian mendapat instruksi untuk membuat titik, lalu menyambungkan satu titik pada titik lain.  Membuat garis yang meliuk-liuk mengikuti kata hati, tanpa perlawanan pada diri sendiri, lepaskan rasa kesal, marah, sedih tanpa takut salah.  Terus dilakukan sampai merasa cukup.


Selesai membuat garis yang meliuk-liuk, Ayah mengintruksikan membuat lengkungan diantara pertemuan dua garis.  Tiap sudut yang tajam dibuat lengkungan.  Hampir semua merasa “terjebak” karena banyak yang setiap lingkarannya menghasilkan sudut tajam yang banyak. 

Sambil membuat lengkungan pada tiap sudut, Ayah mengajak untuk refleksi bahwa betapa banyak pikiran kita, kemarahan, kesedihan, beban.  Tidak apa-apa.  Kita lembutkan dengan lengkungan pada tiap sudutnya.  Perlahan semua memperbaiki sudut-sudut tajam itu.  Selesai membuat lekukan, materi dilanjutkan pada saya.

Saya sendiri melanjutkan materi yang sudah dikenalkan oleh Ayah.  Saya melanjutkan bermain motif atau saya mengenalnya zentangle art.  Saya sedikit mengenalkan tentang aktifitas harian membuat jurnal healing dengan membuat gambar dengan teknik zentangle art di dalam sketchbook dan kanvas.  Teknis gambar ini ada juga yang menyebutnya doodle, vignette dan membatik. 

Setelah sedikit mengenalkan, saya instruksikan untuk melanjutkan mengisi ruang-ruag kosong pada neurographic art yang sudah dibuat bersama dengan zentangle art.  Sebelum mengisi ruang-ruang kosong itu, saya mengenalkan 3 motif.  Lalu dipraktikan dalam kertas yang lain.   Instruksinya, kami membuat kotak sama sisi dahulu, lalu menggambar sebuah bentuk yang diulang-ulang.   Hasilnya bentuk yang berulang-ulang itu jadi karya yang menarik.  Setelah latihan membuat 3 jenis motif, motif-motif itu dipindahkan ke ruang-ruang kosong pada neurograpchic art yang dibuat bareng Ayah Holis.

Menggambar motif berulang-ulang ini menjadi momen meditasi dan melatih fokus.  Buat saya sendiri, membuat motif yang berulang-ulang ini menenangkan dan sulit dihentikan.  Pikiran kita jadi fokus, masalah seperti terulai begitu saja.  Lebih tenang dan pikiran tidak liar kemana-mana.  Sambil memberi motif pada ruang-ruang kosong itu, saya ingatkan bahwa jangan takut salah, setiap garis itu unik. Kalau merasa kurang lanjut saja, nanti juga jadi bagus.  Jangan membandingan karya diri sendiri dengan orang lain, setiap yang kita bikin unik. Ukuran motifnya bisa kecil-bisa besar, bebaskan saja. 


Karena proses memberi motif ini merepetisi bentuk, jadi kita bisa sambil dzikir, shalawat.  Tidak terasa menyelesaikan satu media gambar bisa sambil shalawat 100 kali bahkan lebih mungkin.  Karya dapat, ibadah mengingat Allah juga dapat.  Selesai menggambar, Ayah menginstruksikan untuk mengangkat gambarnya ke atas.  Seru sekali. 

Diantara proses menggambar itu, Ustzh. Neng Beth mengirimkan suasana proses menggambar para santri ini.  Haru sekali melihat mereka antusias dan menghasilkan karya yang menarik. 

Alhamdulillah, pagi yang menyenangkan bisa berbagi teknis gambar yang sederhana ini.  Semoga bermanfaat dan memberi energi untuk terus semangat berkarya dan semangat mencari ilmu. 


Bandung, 19 Maret 2024
Ima

Sumber Foto: Ustdzh. Neng Beth

Ruang Reda bersama kurator pameran Tisna Sanjaya
dan pengelola Tea Huis Galleri. 


Selamat pagi,matahari. Aku nemu sayap pas lagi sapu sapu di halaman. Bagus banget.  Nemu sayap ini seperti menemukan sayap aku yang hilang bertahun-tahun lamanya. Sayap aku itu nanti akan dipamerkan di Thee House Gallery Bandung bareng teman-teman perempuan.


Melalui perempuan-perempuan ini aku belajar banyak, tentang saling dukung untuk terus berkarya ditengah tanggung jawab domestik yang tidak ada berhentinya bahkan ditambah pekerjaan luar rumah.

(Catatan kecil yang aku tulis di beranda facebook pribadi)


 

Bersama Ruang Reda.   Ami mengirim pesan singkat mengajak aku ikut terlibat pameran bersama.  Canggung dan cemas, begitu respons pertama.  Tapi setelah dipikir ulang, konsep pameran ini unik.  Intinya aku diajak untuk bertumbuh bersama, memindahkan karya kami yang hanya di ruang-ruang pribadi ke galeri.  Sehingga berkarya tidak hanya berhenti di ruang pribadi.

 

Pameran Ruang Reda mengangkat tema Jejak ini melibatkan 10 perempuan yang sudah berkeluarga.  Fenomena anak seni yang berhenti terlibat dalam berbagai aktivitas seni (pameran maupun pertunjukan) ketika sudah berkeluarga, terutama sudah punya anak dan bekerja.

 

Awalnya aku bertanya-tanya, kok ya bisa aku diajak padahal bukan "anak seni rupa".  Sempat tidak percaya diri dan takut. Tapi aku pikir konsep pamerannya menarik, menguji diri aku sendiri dan bakal jadi pengalaman baru.  Jadi aku tertarik dan memberanikan diri untuk ikut prosesnya.  Peserta yang terlibat diantaranya Ami, Pritha,  Ratna, Oia, Jane, Nanan, Nunun, Ayi, Gading dan aku-Ima. 

 

Mungkin Ami melihat aku suka "gagambaran" dengan aliran zentangleart atau line art atau doodling atau vignete.  Ami tahu karena aku suka menebar kegembiraan hasil karya di medsos.  Meskipun aku sendiri belum memperdalam utuh empat aliran seni rupa, tapi terpenting aku menikmati teknik menggambarnya.  Menenangkan, mengalir dan asik.  

 

Ide dasar aku menikmati proses menggambar aliran tersebut karena romantisme masa remaja aku sendiri yang sering menggambar bebas.  Lalu aku coba perlahan berkenalan kembali, latihan setiap hari dengan projek dasar Jurnal Healing di masa pandemi.  Sengaja aku share di medsos, ingin tahu sampai sejauh mana aku konsisten berkarya di bidang ini.  Rupanya, melalui proses ini, secara tidak langsung, aku seperti menemukan diri aku kecil yang sering diabaikan oleh diriku sendiri.  Demikian sekilas.

 

Saat diajak pameran muncul perasaan senang-ragu, dua sisi yang saling tarik menarik.  Tapi porsi senang lebih banyak, serasa ada yang membuka pintu dari sekian perjalanan yang aku lewati.  Bersama teman-teman Ruang Reda, pelan-pelan aku belajar banyak tentang teknik melukis, berbincang mengenai kompleksitas perempuan berkeluarga dan berkarya.  Hingga sampai pada kesimpulan bahwa seni ternyata dapat "menyelamatkan" diri dari persoalan-persoalan yang datang-pergi.  Bonusnya berproses menerima diri, melihat lebih dekat pada lingkungan terdekat lalu mewujud dalam bentuk karya.  


 

Sebetulnya buat aku tahun kemarin bisa dikatakan tahun "hadiah" dari Allah.  Aku percaya bahwa situasi baik-buruk di mata kita sebagai manusia, pasti baik buat kita di mata Allah SWT.  Dari sekian "hadiah" yang bikin bahagia dan menyedihkan ini, aku mau cerita tentang hadiah yang bahagia yaitu ikut terlibat pameran seni rupa.  

 

Setelah hampir 2 tahun berproses Pameran Ruang Reda, akhirnya terwujud juga pada tanggal 21 Mei- 4 Juni 2023 di Galeri Dago Tea House.  Ternyata buat aku yang menarik dari pameran ini adalah prosesnya. 

 

Di tengah gegap gempita dunia persenirupaan, kami keluar dengan keringat dingin dan degup jantung yang kencang sambil membawa karya dari dapur masing-masing.  Pameran ini tidak hanya perihal aliran karya dan media berkarya, tapi berhasil melewati proses berdamai dengan diri yang sering kalah berkali-kali oleh berbagai statement dan standar umum.

 


Perlahan, satu persatu dilewati, berulang dan saling melengkapi satu sama lain. Rasa dari masing-masing karya unik dan berbeda-beda.  Setiap garis, warna, pulasan, arsir, lipatan, bentuk memiliki ciri khas sendiri, berharga karena dikerjakan di tengah kesibukan rumah dan pekerjaan.

 

Saya jadi ingat pertemuan pertama setelah sekian lama kami dikumpulkan dan berkomunikasi hanya di grup WhatsApp.  Pagi itu cahaya cerah dan langit terlihat bening.  Aku bersegera ke UPI depan Villa Isola, masih menggunakan masker (masih masa pandemi) membawa bagelen kering dan tumbler isi kopi panas.  

 

Di bawah pohon beringin Villa Isola (kampus UPI) aku bertemu Nunun dan Ami.  Dengan Ami aku sudah kenal, tapi dengan Nunun masih mengira-ngira.  Kami semua dipertemukan di grup WhatssApp.  Belum saling kenal sepenuhnya.  

 

Meskipun begitu, pertemuan di bawah pohon beringina ini mendiskusikan banyak kegelisahan kami sebagai perempuan.  Perlu dan tidaknya berkarya seni dikaitkan dengan situasi sosial.  Chemistry obrolan di grup WhatsApp membuat kami jadi cair begitu saja.

 

Kami berproses bersama mewujudkan pameran secara perlahan dan bertahap.  Melewati banyak pertemuan online dan offline yang cukup instens di zoom maupun grup whatsapp.  Buat kami, waktu bertemu maupun berkarya cukup sulit, sehingga banyak situasi yang kompromis.  

 

Jangankan pertemuan offline, bertemu dalam media zoom saja tidak pernah lengkap.  Berkaitan dengan faktor jarak, situasi keluarga dan pekerjaan yang menjadi prioritas.  Secara sendirinya, ternyata Ruang Reda menjadi reda dan jeda dari fungsi kami sebagai Ibu sekaligus pekerja. 




Bertemu di The Good Life.  Dari bertemu muka ini kami lanjut berkomunikasi di grup WhatsApp, lanjut ketemu muka lagi di The Good Life berkarya bareng sambil ngopi.  Di sana kami berbincang tentang banyak hal.  Seputar anak, pekerjaan, konsep dasar pemikiran masing-masing karya.  Beberapa peserta yang tidak dapat hadir, terhubung dalam bentuk zoom untuk menyampaikan konsepnya.

 

Untuk menghadirkan bounding satu sama lain.  Aku lupa siapa yang menyampaikan ide, kami membeli satu buku sketchbook yang bentukya berlipat.  Setiap sisi diisi oleh masing-masing peserta.  Setelah beres berkarya, buku itu dikirim ke peserta yang lain.  Kami menamakan buku karya bersama itu sebagai travelling book.

 

Setelah diperhatikan, karya-karya setiap peserta berbeda-beda dan unik.  Sebetulnya setiap peserta mendapat waktu berkarya seminggu, tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan, ada beberapa peserta yang butuh waktu lebih.  Namanya juga Ruang Reda, terpenting berkarya itu meredakan diri dari perasaan yang menekan, jadi kami memberi waktu sampai dia merasa asoy dengan dirinya agar bisa berkarya dengan keadaan nyaman.

 

Sepertinya kami butuh kurator.  Tahap berikutnya, ternyata kami butuh kurator.  Munculah beberapa nama yang kami diskusikan di dalam grup.  Sempat ada yang kami kirimkan surat, bertemu.  Dari proses pengajuan ini salah satu yang kami ajukan adalah Ceu Asih, sayangnya beliau menolak tapi Ceu Asih lebih mau mendukung membuat konsep display dan tulisan.  Senang sekali.

 

Sampai suatu hari, kakak aku-Kang Tisna Sanjaya mampir ke rumah untuk menengok Ibu.  Aku mengalir saja bercerita tentang aku yang sedang berproses dengan Ruang Reda.  Rupanya Kang Tisna tertarik untuk jadi kurator.  Aku panik karena aku sendiri belum pernah bekerja sama dengan kakak sendiri.  Banyak deh yang dipikirkan sampai over thingking.  Begitu aku sampaikan ke teman-teman, ternyata mereka senang dan menyambut baik.

 

Dengan adanya kurator, proses yang didampingi kurator ternyata menjadi daya dan membuat kami bertahan di dalam rel menuju pameran.  Keren sih, ternyata ya.  Karena meskipun berjalan perlahan, tapi kami jadi disiplin mengikuti jadwal menuju pameran.  Buat kami, situasi ini jadi energi sendiri. Setiap karya dan ide dasar masing-masing didiskusikan bersama via zoom. Oh, ternyata apa yang kami lakukan selama ini bagus dan keren.

 

Singkat cerita, pameran akhirnya terwujud,  Alhamdulillah.  Dua minggu pametran di Dago Tea House seperti punya rumah bersama.  Mungkin acara pamerannya akan aku bikin catatan lagi, karena bisa jadi lebih panjang, seru dan mengalir.

 

Semoga kami terus diberi kekuatan, kesehatan, untuk terus berkarya dan bermanfaat.  Sampai ketemu di pameran Ruang Reda berikutnya. 

 

Bandung, 28 Februari 2024
Ima
Nyawang Bandung


Sudah lama saya tidak kemping, bermalam di alam terbuka.  Begitu mendapat undangan di grup mengenai diklat alam mahasiswa Studi Teater Unisba (STUBA) di Nyawang Parongpong Bandung, saya tertarik hadir.   Kebetulan lokasi diklatnya dekat dengan rumah, dari Terminal Ledeng tinggal naik ke arah Barat. Terbersit ingin ikut sekalian menikmati yang hijau-hijau, wangi dedaunan dan udara segar. 


Meski tertarik, aku sebetulnya agak menahan diri karena baru sekitar 4 minggu beres operasi ca payudara.  Aku sempat meragukan diri sendiri ikut bermalam di alam terbuka.  Sahabat kami, Iskandar atau kami memanggilnya Kondor, mengajak kami untuk hadir.  Kami pikir, kalau pergi bareng Kondor menarik juga, karena dia bawa alat transportasi.  Biasanya beberapa teman yang seangkatan pun bakal tertarik ikut.


Aku pun mengevaluasi kondisi badan sendiri dan Holis meyakinkan kalau aku baik-baik saja, jadi aku pun merasa yakin bisa ikut kemping. Aku pikir, sepertinya aku harus tetap santai, asik, berdamai menghadapi penyakit, jalani kesempatan, menjalani hidup seapa adanya dan menyenangkan.  


Keputusan datang ke acara diklat ini spontan saja.  Kamis saling berkabar, malam Sabtu mengambil keputusan karena berkaitan dengan ada pekerjaan Holis yang bentrok.  Persiapan juga tidak terlalu banyak, kami saling berbagi tugas, saya bawa sleeping bag, lampin, alat masak, piring, gelas, kopi, teh, yang ada di rumah diangkut aja.  Sementara, Kondor bawa tenda, kompor jinjing, terpal.  Lalu kami spontan beli makanan di minimarket Ledeng.  Berangkat sore hari, tiba menjelang Isya.  Benar-benar ikut bermalam, ngopi, bikin mie, lihat suasana dikegelapan.

 

Halo, STUBA! 

Lama tak bersua.  Oh ya, STUBA ini unit kegiatan teater di lingkungan kampus UNISBA.  Waktu kuliah dulu, saya gabung unit kegiatan mahasiswa di tahun 1997.  Diklat alam yang sekarang ini masuk angkatan tiga puluh empat.  Jarak usia kami sudah sangat jauh.  Saya angkatan 8, Holis dan Kondor angkatan 7. 

 

Ki-ka: Kondor, Holis, Bayan, Ima. 


Alhamdulillah, hubungan komunikasi dan silaturahmi dengan beberapa teman di STUBA masih terjaga.  Yang paling terjaga ya hubungan dengan Holis, karena kami menjadi pasangan suami istri (naon sih! haha).  Bisa dibilang, buat saya, teman-teman STUBA tingkat prioritasnya seperti keluarga.  Bukan berarti hubungan kami baik-baik saja, tentu ada saatnya aku juga tersinggung, kesel-keselan, pundung lalu agak menjauh.  Tapi kemudian kembali lagi, lebih cepat sembuhnya.


Sebetulya saya sendiri termasuk minim komunikasi dengan beberapa teman, tapi ketika ada kesempatan pertemuan, hampir sering mengupayakan datang.  Karena buat aku, pada prosesnya ternyata pertemanan di STUBA justru bukan hubungan organisasi saja.  Tapi di sana aku mempunyai teman yang terus bertahan sampai sekarang.  Meskipun tidak berkegiatan kesenian lagi, tapi kami tetap terhubung meski sudah bertahun-tahun tidak berkomunikasi.  Dari masa lucu, polos sampai persoalan hidup yang lebih kompleks mengubah kami.



Acara diklat alam berlangsung dari Sabtu pagi.  Ada beberapa materi dan evaluasi yang dilakukan oleh pengurus STUBA pada calon anggota.  Kami datang hari Sabtu sore, dari awal kami niatkan silaturahmi, hanya ikut ngopi sore dan pagi saja.  Alhamdulillah, senang. 


Perjalanan Ke Nyawang

Kondor pergi dari Cibinong sekitar jam 10.00 wib menuju Ledeng.  Begitu Kondor tiba, kami lanjut perjalanan menuju Nyawang.  Tadinya ada beberapa yang gabung,  Ani, Bulls dan Ardi, tapi akhirnya yang berangkat hanya Kondor, Holis, saya dan Bayan (anak aku yang masih 11 tahun).  Jalan ke arah Nyawang tidak asing, karena aku pernah antar Bayan ujian naik tingkat taekwondo di tempat itu.  


Dari arah Sersan Bajuri kami mengikuti jalan dengan pemandangan tanaman hias.  Langit sudah sedikit redup.  Kami melewati komplek Graha Puspa untuk memotong jalan, karena kalau lihat peta di Gmap harus terus memutar ke arah Parongpong.


Pemandangan kiri kanan menuju Nyawang sangat indah sekaligus ekstrem.  Kami disuguhi pemandangan sunset lengkap dengan awan yang bertumpuk-tumpuk, warna orange dan jingga.  Perbukitan, lembah berundak dipenuhi perkebunan sayuran.  Beberapa ada rumah di tengah kebun dengan model minimalis.  


Namun, makin ke atas, ternyata jalanan terus menanjak.  Tak disangkat ternyata kami melewati Rumah Teduh Sahabat Iin.  Rumah terlihat sangat asri di muka.  Aku jadi ingat kalau Rumah Teduh Sahabat Iin yang terletak di Sukajadi merupakan rumah singgah untuk pasien dan keluarganya yang tengah berobat kanker atau penyakit yang tidak menular.



Jalanan ternyata terus menajak sampai akhirnya mobil Kondor berhenti juga. Tidak kuat.  Saya dan Holis memutuskan untuk turun.  Betul saja, mobil akhirnya bisa naik.  Kami berdua saling pandang, langit makin gelap, meski begitu lihat ke belakang pemandangan Bandung sangatlah indah.  Kami berdiri sejenak sambil melihat sekeliling.  Semua tampak indah dan tentram.  Kemudian terbangunkan lagi, langkah harus kami lanjutkan.  Tidak ada sinyal handphone, kami tunggu jemputan atau terus jalan.  Semua begitu hening dan semakin gelap.  Kiri kanan rumah dengan lebar jalan hanya cukup satu mobil, jalanan terus menanjak.  Kami pun memutuskan perlahan jalan kaki perlahan sambil mengatur nafas saling berpegangan.  


Tak lama kemudian, muncul suara motor dari arah atas, lalu berhenti mendekat. 

"Bapak Ima bukan?"  Sapanya.  

"Hayu ikut saya untuk naik ke tempat perkemahan." Lanjutnya

"Euh, gimana maksudnya?  Saya dulu atau gimana?" Tanya saya.  Terus terang, saya takut pergi sendirian juga meninggalkan Holis di jalanan sepi dan gelap.

"Hayu bisa bertiga, kuat kok!" Pengemudi itu meyakinkan kami.

Kami akhirnya naik motor bertiga, pengemudi, Holis lalu aku.  Aku lupa berat badan, tapi ternyata motor ini kuat membonceng kami yang tambun.  Dengan jalanan yang terus menanjak, aspal yang sudah rusak, kami saling berpegangan.  Tidak begitu jauh tapi cukup menegangkan.  Alhamdulillah, di depan mata ada plang Perkemahan Nyawang dan sebuah mobil yang kami kenal milik Kondor.  Kami pun tiba dengan deg deg an dan penuh tawa.  Alhamdulillah terlewati juga.


Di lokasi, lampu lampu kecil menerangi suasana hutan yang semakin pekat.  Motor kembali di pos, mobil Kondor di parkir dekat warung-warung.  Ternyata pengurus tidak bisa dihubungi karena tidak ada sinyal.  Jadi kami tanya kiri kanan untuk menemukan perkemahan anak-anak.  


Dalam gelap, kami jalan pelan-pelan.  Syukurlan tidak terlalu jauh dan lokasinya berdekatan dengan mushola.  Jadi kami langsung bertemu dengan para pengurus dan anggota STUBA.  Senangnyaa... alhamdulillaah...


Hey, Nyawang, Kami Datang

Kami dan para pengurus akhirnya bertemu di mushola, di sekitar mushola anak-anak STUBA menyediakan beberapa tenda warna orange.  Tenda-tenda berkeliling di bawah pepohonan pinus.  Untuk meredakan rasa perjalanan yang menegangkan, kami duduk-duduk dulu di mushola berbentuk saung dari bambu.  Menentramkan.  Lalu lanjut shalat magrib.  Selesai shalat magrib, kami pun berbincang-bincang.  Tentang acara, tentang pertunjukan dan banyak lagi.


Di ujung pepohonan pinus tak lama kemudian terdengar suara dentuman senapan.  Meski cukup mengagetkan, kami tetap berbincang, Holis dan Kondor memasang tenda.  Suara dentuman senapan cukup kencang, suara teriakan komando menadakan mereka tengah berlatih.  Sesekali terdengar hentakan orang berlari.


Suasana tenda hanya terlihat warna orange dengan minim pencahayaan.  Kami pun memutuskan untuk membuat makan malam: seduh kopi dan roti.  Di kiri kanan pepohonan dan beberapa kumpulan orang bertenda tengah bersenda gurau.  Memainkan gitarnya dan lagu-lagu lawas.  Sesekali saya memandang ke langit, terdengar gemuruh dedaunan pohon pinus.  Saya pikir hujan.  Ternyata deru dedaunan.  Angin cukup kencang, kadang membawa awan lalu bulan terlihat sebagian.  Indah sekali.


Selepas makan malam, kami diajak untuk jadi pemateri untuk para pelajar STUBA.  Saya tidak ikut, istirahat di tenda saja bareng Bayan.  Bayan pun tidak saya izinkan bermain game di handphone demi menghemat daya batre.  Jadi batre hape kami gunakan untuk pencahayaan.  Karena tidak banyak yang kami kerjakan jadi kami menggambar bersama.  


Sekitar 1,5 jam kami menggambar di tenda, tak lama Bayan pun tidur.  Saya masih terjaga karena suara tembakan menggema diantara pepohonan pinus.  Mungkin saya santai, tapi tak terbayang masyarakat Palestine yang hidup sehari-hari dikejutkan dengan letusan senjata dan bom yang datang tiba-tiba. 


Malam Makin Larut

Kalau diklat zaman aku, malam seperti ini kami tampil bergantian.  Ada yang main musik, pertunjukan pendek, baca puisi, performing art.  Tapi acara malam ini selesai materi berbagi dari Holis dan Kondor mereka istirahat dan tengah malam dibangunkan untuk melakukan perjalanan malam sendiri-sendiri.


Kami istirahat di tenda yang kami buat, tapi aku sendiri agak sulit tidur.  Karena meskipun di tengah hutan pinus, ada yang berkemah juga kelompok lain.  Mereka bernyanyi sambil memainkan gitar dan canda tawa mungkin sampai menjelang subuh.  Selain itu, teriakan instruksi kiri kanan diantara pepohonan tipis-tipis terdengar.  Lalu orang berlari sambil memainkan senjata.  Pas suara-suara itu mulai terasa lebih hening, aku pun baru bisa tidur.  Tidak Bayan, alhamdulillah dia lelap dan enjoy banget.  Begitu pun Ayah.


Subuh menjelang pagi kami baru bangun karena baru tidur.  Ternyata Kondor kesulitan tidur juga karena suara-suara.  Meski sedkit tidur, sebetulnya badan terasa lebih tenang, karena posisi tubuh dalam kondisi istirahat.  Wajah Bayan terlihat cerah, pun di luar tenda, perubahan cuaca dari subuh menjelang fajar begitu syahdu.  Udara terasa dingin dan agak berkabut.  Perlahan kami berjalan menuju toilet umum.  Suasana lebih hening, hanya peraduan suara bebatuan dan sepatu, sayup-sayup angin memberi ketenangan tersendiri.  


Perkemahan kami dekat dengan toilet umum, jadi kami cukup mudah untuk membuang hajat, melakukan aktivitas wudhu maupun bersih-bersih.  Meskipun ingin mandi, saya lebih memilih menahan diri.  Beberapa organisasi undangan masih terlelap di balik tendanya.  Beberapa duduk-duduk memainkan peralatan.


Melihat sekita sehening itu, ternyata acara jurit malam masih berlangsung di tempat yang berbeda.  Sayup suara teriak-teriak semangat disela julang pepohonan. "Nah, itu kayanya udah selesai, Teh."  Seorang mahasiswa dari unit kegiatan mapenta (pecinta alam) yang ikut menghadiri undangan dan bahkan ikut membantu acara.




Selesai shalat, kami berempat mendekat ke tempat acara.  Menelusuri warung-warung, lebat pepohonan dan jalan setapak.  Suasana yang menenangkan dan menyengkan.  Ah, Allah, terima kasih karena Engkau memberi kesempatan, kekuatan sehingga kami dapat menikmati alam Mu yang keindahannya tak ada bandingannya.


Di tempat acara, para anggota baru atau mereka menyebutnya pelajar tengah menyebutkan nama angkatan.  Kami datang di akhir acara, berfoto dan memberi beberapa kata semangat untuk pelajar, pengurus juga pembina STUBA.  


Waktu berjalan begitu tenang, sehingga tak terasa aku pernah mengalami situasi yang sama 26 tahun yang lalu.  Rasanya macam-macam, kesal, lelah, membosankan, membingungkan, menyenangkan, semangat, semua naik turun.  Perlahan waktu dan berbagai situasi datang lalu pergi.


Alhamdulillah, berbagai situasi perlahan bisa dilalui dengan izin Allah dengan bantuan Allah dengan cara yang mudah, sulit, cepat, lambat yang disadari akhirnya mengelola segala sisi.  Semua itu menjadi begitu baik hari ini, begitu mudah diterima dan mudah dijalani.  Allah Maha pemelihara, Penguasa Langit-Bumi-Semesta Raya dan segala isinya, waktu begitu tenang, sampai tak terasa kami bisa kembali kesempatan hadir di acara diklat alam stuba dengan jiwa, pikiran dan tubuh yang terus terpelihara dengan caraNya.

Pembina, pengurus, anggota dan pelajar STUBA.
Januari 2024


Terima kasih Nyawang, atas ketenangan dan keperkasaanya.


Bandung, 18 Februari 2024

Ima