Sabtu sore ini menjadi ruang hening yang berharga. Ditemani segelas kopi Vietnam drip dan sepotong bolu marmer. Di halaman rumah anak-anak muda berlatih teater, di bawah rimbun pepohonan, langit sendu sedikit gerimis. Lagu Yesterday nya The Beatles jadi tidak terlalu menyayat hati lagi, ya, hari kemarin tidak lagi dirindukan. Saat ini, hari ini memberi ketentraman tersendiri disebabkan hiruk pikuk hari-hari lalu penuh gelombang. Rasa tentram yang dilalui proses “mahal”.

Saat ini saya rindu Holis. Padahal baru beberapa jam lalu dia pergi ke Galeri Pusat Kebudayaan YPK untuk menghadiri pembukaan pameran Marakayangan Drawing. Saya tidak ikut karena Amih tidak ada yang menemani. Biasanya kalau saya harus pergi, kakak saya-Teh Ida-akan menemani Amih di rumah. Tapi hari ini Teh Ida cukup sibuk karena ada 2 orang yang pesan nasi tumpeng, saya fikir dia pasti lelah. Jadi saya memutuskan tidak ikut Holis untuk menemani Amih dan anak-anak.

Lagi pula seminggu kemarin, tiap hari keluar rumah mengikuti proses magang di Rumah Belajar Semi Palar. Bahkan Jumat sore kami kedatangan pasangan #duoraji Kak Wawa dan Kak Satto dari Tangerang bersilaturahmi ke rumah lalu mereka mengajak kami makan malam di luar. Sebetulnya selain makan, lebih banyak menghabiskan waktu dengan diskusi, ngobrol sampai lupa nyeruput segelas kopi.

Obrolan bergulir banyak sekali, terutama proses mereka mengelola komunitas Blogger Crony. Bagaimana kaitan proses hidup yang terjadi sebetulnya dipersiapkan untuk pilihan hidup dia hari ini atau bahkan lebih banyak hidup yang memilihnya.

“Sebetulnya apa yang kita lakukan saat saya jadi jurnalis, EO dan sebagainya menjadi bekal apa yang saya lakukan dalam mengelola komunitas ini. Banyak sekali manfaatnya. Saya selalu percaya, apapun yang kita kerjakan hari ini sudah dipersiapkan di masa lalu.” Ungkap teman.

Saya juga cerita banyak tentang dapat kesempatan magang di Rumah Belajar Semi Palar. Hal yang menakjuban justru karena kesempatan itu hadir di usia saya saat ini. Di tengah persyaratan umum di tengah penerimaan pegawai, usia sering menjadi batasan.

Itulah sebabnya bertahan menikmati menulis dan menggambar sebagai proses memelihara diri. Kedua aktifitas ini tidak mengenal batasan usia, saya menikmatinya. Situasi yang kerap patah tumbuh ini saya serahkan pada semesta, saya fikir selama kita masih dikasih kesempatan hidup ya artinya terus belajar dan mengasah diri berapapun usia kita.

Kejutan lain, proses itu ternyata membuat saya dapat kesempatan ikut pameran Bandung Artist's Book. Saya ikut open call pameran ini karena konsepnya menarik, media yang dipamerkan berupa buku yang berisi berbagai coretan, doodle, permainan kata-kata dan konsep berkarya dari seniman itu sendiri. Kebetulan konsep pameran yang ditawarkan ini sesuai dengan aktifitas yang saya “buat” selama ini. Projek bahagia untuk diri sendiri. Buku ini saya beri judul Jurnal Healing Ima: See. Hear. Feel. Isinya proses latihan menggambar zenart/zentangle atau sekilas orang-orang menyebutnya doodle.

Lagi-lagi, buat saya ini pameran pertama di usia saat ini dan proses panjang menemukan diri di tengah gegap gempita dunia seni rupa. Sangat mungkin akan muncul berbagai persepsi dan berbagai pendapat karena saya bukan seniman spesifik. Saya hanya menjalankan kesempatan untuk memelihara tubuh dan jiwa dengan memilih menulis dan menggambar. Buat saya, proses ini bagian dari penemuan diri dan memberi kesempatan untuk mencintai diri sendiri.

Saya tidak tahu akan tidak mudah atau mungkin akan sangat mudah menghadapinya. Saya yang sekarang rasanya lebih baik-baik saja merespons apapun itu tanpa merasa terbebani. Karena sadar bahwa proses menulis dan proses menggambar ini membuat saya bahagia.

Hal ini disadari ketika banyak hal terjadi hingga satu titik bersetuju untuk berhenti berharap orang lain memberi kebahagiaan, memberi penghargaan dan menaruh perhatian. Diri sendirilah yang membuka kesepatan itu. Merasa cukup dan terus berlaku tanpa menaruh banyak harap. Berapapun besar kesempatan yang ada, kalau kamu tidak percaya pada kemampuan diri dan Pemilik Diri, kita hanya tubuh yang stagnan dan jiwa yang lelah.

Ketentraman yang diberikan segelas kopi Sunda Hejo sore ini, menjadi gambaran panjang proses hidup. Rasa pahit yang dihadirkan kopi membuat segar dan bersemangat. Begitupun hidup, seringkali proses pahit yang dijalani dimasa lalu menjadi energi dan bekal untuk menghadapi hidup saat ini.



Mengenal Diri dari Inner Child

“Tidak mungkin kita bisa menjalin hubungan hangat dengan orang lain, kalau kita belum bisa menjalin hubungan hangat dengan diri sendiri.” - Diah Mahmudah , S. Psi

Saya lahir dari keluarga besar dalam artian jumlah. Banyak pengalaman positif maupun negatif yang didapat dari proses hidup. Saat tumbuh remaja, rasanya makin hari situasi bertambah rumit. 

Kakak saya 15 orang, bahkan ada yang sudah menikah lalu memiliki anak saat saya belum lahir. Saya anak bungsu yang berteman dengan keponakan juga beberapa kakak yang masih sekolah. Sementara kakak-kakak saya yang udah berkeluarga terkuras perhatiannya dengan proses membangun keluarga kecilnya.

Saya kecil ingin banyak tahu dan aktif. Selain mendapat pengalaman batin yang menyenangkan tentu saja mendapat pengalaman buruk pula. Baik dalam lingkungan keluarga maupun luar lingkaran keluarga yang berpengaruh pada iklim suasana pertumbuhan diri. Saya kecil hingga tumbuh dewasa, kerap melihat, mendengar, merasa berbagai masalah. Sehingga saya bisa cepat merasakan suasana kemarahan, permusuhan maupun pengabaian. Mungkin karena itu saya sering mengalihkan pikiran dan perasaan dengan membaca dan duduk di atas atap.

Selain itu, seperti halnya keluarga besar lain dengan ilmu pengasuhan orang tua yang turun menurun. Kami sering mengalami pengasuhan dengan cara dibandingkan, dinilai secara fisik, hingga perlakuan perhatian, sampai kurang apresiasi. 

Sehingga muncul perasaan-perasaan iri, cemburu, menahan amarah, muncul pergesekan dan persaingan satu sama lain yang membentuk masing-masing memiliki sikap, karakter dan kepribadian berbeda-beda. Ada yang mengelolanya menjadi kekuatan namun ada yang menjadi lemah. Meskipun setelah dewasa baru bisa memahami dan menerima, bahwa cara itu “dianggap” salah satu cara orang tua untuk memotivasi.

Proses pengalaman saling dukung, suka bercanda, pergesekan, saling bersaing antar saudara, menjadi referensi mental dalam membentuk pola pikir dan tentu saja mengasah pergulatan diri. Hal ini mempengaruhi pengalaman kehidupan bertumbuh saya. Baik yang diintervensi dari orang tua, kakak-kakak, kakak-kakak ipar hingga keponakan. Semua kejadian dari masa kecil, seperti slide film yang terus menerus mempengaruhi dalam proses naik turun dalam mengelola diri.

Seringkali, saya dihadapkan pada situasi untuk mengambil keputusan. Ternyata, meskipun sudah memaafkan bahkan melupakan, ternyata di alam bawah sadar, seringkali luka dan suka di masa lalu mempengaruhi sudut pandang dan tingkat keberanian/ketakutan dalam melihat masalah.

Bisa jadi ketika masalah muncul, seperti membongkar luka batin maupun rindu kehangatan di masa lalu. Beberapa situasi saat ini memunculkan berbagai emosi, ada yang tepat namun ada yang salah dalam menempatkan emosi. Rupanya semua itu dipengaruhi oleh inner child atau ada masa lalu yang belum pulih.



Memulihkan Inner child




Inner child adalah sekumpulan peristiwa masa kecil yang baik atau buruk yang membentuk kepribadian seseorang. Kompleksitas mental yang mempengaruhi kepribadian itu dipaparkan secara lepas dalam acara Bincang ISB pada hari Sabtu kemarin, 19 Maret 2022.

Saya dan teman-teman ISB (Indonesia Social Blogpreneur) mendapatkan pengetahuan tentang jiwa dan proses batin perilaku manusia yang dipengaruhi oleh inner child. Dengan narasumber pasangan psikolog, Diah Mahmudah , S. Psi dan Dandi Birdy, S. Psi (Psikoterapi dan founder biro psikologi Dandiah) yang dipandu langsung oleh Ani Berta (Blogger dan founder komunitas ISB).

Selama ini prioritas kita mengelola hidup saat ini untuk mendapatkan masa depan yang baik. Namun dalam perjalannya, seringkali sikap, sifat dan prilaku kita dipengaruhi oleh emosi masa lalu.  Ingatan itu, baik rasa maupun pikiran, terus menggelantung dalam ingatan kita. Meskipun saat ini sudah berperan sebagai orang tua, konselor dan profesi lainnya, ternyata akan kesulitan jika kita masih belum membasuh, mengobati dan belum menyelesaikan luka masa lalu.

Emosi yang belum diperbaiki ini akan berpengaruh pada kualitas mindfullnes diri. Seringkali tubuh ada disini, namun pikiran membelah kemana-mana. Situasi semakin rumit dan kacau ketika tubuh ada di sini namun pikiran terbelah ke masa lalu, memikirkan masalah yang terjadi pada saat ini, lalu bercabang pada masa depan.

Mindfullness ini berpengaruh pada cara berinteraksi dan sudut pandang dalam menghadapi hidup. Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas mindfulness kita, salah satunya yaitu inner child.

Pada dsarnya, anak perlu tahu dan mengalami berbagai macam rasa/emosi. Baik senang, bahagia, sedih, marah, dan perasaan lainnya sebagai referensi emosi yang berpengaruh pada interaksi dalam hidup. Jika perasaan ini diperoleh lalu dapat mengelolanya, maka kita bisa memiliki kendali yang bagus dalam mengendarai kehidupan. Tentu saja mengelola emosi ini bagian penting dari proses belajar berinteraksi dengan lingkungan.

Mengenal inner child tidak melulu tentang diri yang terluka, bukan hanya sisi gelap saja. Kita dapat memaknai fase ini dengan benar, sungguh-sungguh sehingga kepribadian kita utuh dan penuh dalam menyambut tujuan di masa depan. Berikut kalimat yang pas dari Gus Baha:

“Manusia diberi masalah agar menjadi pintar.”

Inner child ini adalah masalah yang perpengaruh pada pergolakan pikir dan batin manusia yang membentuk karakter. Namun jika kita mampu mengelola inner child dari sisi positif, akan menjadi kekuatan tersendiri dengan melakukan:

Forgiveness (memaafkan)

Empowering

Keberdayaan

Gratefull (bersyukur)




Tujuan mengenal inner child agar kita bisa terus berjalan ke depan.  Tapi ketika pergerakan itu masih ada ganjalan di hati tentu akan menjadi sulit. Karena ketika inner child itu belum dikelola dengan baik, akan membuat tubuh kita tidak sesuai dengan usianya. Meskipun usia kita 40 tahun, namun usia mental kita bisa jadi masih 10 tahun. Yang terjadi, kita kesulitan dalam menghadapi tantangan.

Jika kita tidak dapat mengelola mental sesuai usia tubuh, hal ini akan berpengaruh buruk dalam melakukan hubungan sosial, baik dalam pekerjaan, interaksi dengan pasangan, hingga proses pengasuhan. Ketika usia mental kita masih anak-anak, akan menghadirkan:

1. Egosentris (berpusat pada diri). Sifat ini kerap menuntut orang lain untuk berprilaku baik kepadanya. Seperti:

- Kamu yang kasih, nanti aku kasih

- Kamu yang berubah, nanti aku berubah

- Kalau kamu berbuat baik, aku juga akan berbuat baik padamu



2. Bad angger management

Anak-anak akan mudah terluka batinnya jika diasuh oleh orang tua yang punya kualitas angger management buruk. Oleh karenanya, kenali emosi marah kita lalu kendalikan sesuai proporsinya.

Masalah akan terus hadir sesuai usia dan kemampuan diri, baik dalam bentuk suka maupun luka. Intervensinya dari lingkungan terdekat kita, yaitu orang tua, saudara, teman-teman dan lingkungan sekitar. Menjalani semua proses interaksi itu akan mempengaruhi mental dan sikap kita. 

Situasi yang menyebabkan suka maupun luka akan menjadi kekuatan atau melemahkan tergantung bagaimana sudut pandang kita melihat masalah itu.  Setiap kejadian pasti ada maknanya dengan cara dicari ilmunya agar kita dapat memahami setiap kejadian.

Karena, kita tidak bisa menuntut mengembalikan masa kecil sesuai harapan.  Juga kita tidak bisa terus menerus menyalahkan salah pengasuhan, salah orang tua dan orang lain. Tapi kita bisa memulai dari menerima situasi dan memperbaiki yang ada di dalam diri dengan mengubah sikap dan paradigma berfikir kita. Sikap itu domainnya ada 3:

1. Mengelola mindset dalam melihat masalah

2. Feeling: konten positif atau konten destruktif

3. Acting: Laku. Mindset dan feeling tidak akan terjadi jika masih negative thinking dan negative feeling

Menyelesaikan luka inner child itu bukan untuk mengubah takdir, bukan untuk menyalahkan orang tua. Tapi untuk mengubah reaksi dan sudut pandang kita pada takdir. Karena tetap yang bertanggung jawab memulihkan berbagai hal yang melukai mental kita adalah diri kita sendiri

Saya percaya, setiap orang sebetulnya ingin hidup tenang.  Lelah dengan mengingat sesuatu yang buruk, lelah dengan penyesalan, lelah dengan rasa-rasa negatif dan ingin lepas dari pikiran-pikiran buruk.  

Ternyata kuncinya ada di diri kita, mengubah persepsi dan mengelola hati secara positif.  Mengubah persepsi luka batin masa lalu direspons dengan positif.  Mau menerima berbagai respons negatif dimaknai positif.  Rupanya tidak hanya batin lebih tenang, tubuh pun terasa lebih sehat.

 




Di tengah keadaan pandemic yang cukup menekan, sebetulnya ada momen yang paling saya rindukan jika wabah sudah benar-benar hilang. Saya merasa suasana di tengah pandemic seperti dibawa kembali pada masa kecil dan remaja. Terutama masalah cuaca dan rendah polusi.

Setiap pagi cahaya matahari tajam menembus kabut, dedaunan hijau segar, hujan putik sari berjatuhan begitu angin menempa lembut. Setiap pagi tongeret memainkan suaranya menyelinap diantara peophonan. Kali ini tupai berlari tidak seekor tapi dua hingga tiga ekor tupai tampak melompat. Bahkan ada tiga tokek menetap di tiga sudut rumah bersahutan, pagi, sore dan malam.

Dua tahun sudah pandemic terlewati dengan cerita sedih dari setiap beranda. Berita kematian di toa masjid seperti pengumuman barang hilang di tempat wisata. Begitupun sirine ambulance, bolak balik hilir mudik semakin menyadarkan ada sesuatu yang tidak aman. Meskipun kematian semakin banyak sering, bukan berarti jadi biasa, kematian tetap saja menyisakan luka dan kesedihan.

Situasi awal tahun 2022 lebih baik bahkan mulai biasa dengan keadaan. Jalanan kembali penuh, tempat-tempat wisata alam menjadi tujuan menghela nafas dari situasi yang serba terbatas.

Meski di halaman rumah saya rimbun dan ramai binatang yang bersarang di sana, jalanan utama kembali riuh dan padat. Sekarang situasi yang serba terbatas itu pelan-pelan melonggarkan ikatannya. Awalnya saya sedikit menggerutu asap knalpot dan jalanan kembali penuh. Tapi, ya, situasi pandemic yang memaksa kita harus menjauhkan diri dari keramaian betul-betul membuat berbagai sisi tertekan. Terutama masalah mental dan pendapatan.

Melakukan perjalanan keluar rumah, menikmati jalan, lihat pepohonan, bertemu kawan, bekerja temu muka dan menikmati makanan di luar bisa melepas berlapis-lapis kepenatan. Ya, tentu sebagai mahluk sosial, pertemuan dan perjalanan memberi energi tersendiri.

Melalui pandemic, saya jadi banyak waktu “belajar” sama Gus Baha, Hanan Attaki, Nadirsyah Hosen, dan … suami saya. Mereka selalu mengajarkan, bahwa setiap kejadian itu cara Allah mengajarkan kita sesuatu. Bahkan yang kita anggap buruk, menekan bahkan musibah, bisa jadi sesuatu yang bakal kita syukuri dikemudian hari. Memang, beberapa masalah membutuhkan waktu buat kita belajar bertahan bahkan jadi “pintar” untuk menjadi merasa cukup dan menerima penuh berbagai keadaan. Karena, seringkali cara Allah menyelamatkan kita itu sulit dimengerti tapi suatu hari pasti membuat kita mengerti dan menerima.

Selamat datang 2022 semoga tahun ini kita bisa menjalankan hidup dalam keadaan lebih baik dalam berbagai sisi. Belajar apa kamu selama pandemic?-Imatakubesar


Waktu pandemic, saya lebih banyak melakukan kegiatan di rumah dan bergerak seputar teras rumah. Sekalinya keluar rumah pun sekalian melakukan kegiatan penting lainnya. Perhatian saat itu hanya mengolah makanan sendiri, menjaga kebersihan rumah, lantai, wc, mencuci pakaian yang habis dipakai dari luar rumah. Begitu berulang.

Saking perhatian sama kebersihan rumah, saya lupa ngasih perhatian sama kebersihan kulit wajah. Bahkan sekalinya ingat membersihkan kulit wajah hanya menggunakan facial wash (sabun wajah) lanjut dibubuhin pelembab wajah. Karena biasanya efek sabun muka ini sering membuat kulit berasa ditarik dan kencang. Kurangnya perhatian merawat wajah mungkin karena ada anggapan kalau di rumah aja tidak perlu merawat wajah secara maksimal. Ternyata pikiran saya itu sok tahu.

Ternyata meskipun di rumah saja, proses facecare tetap harus dilakukan, lho. Selama “di rumah saja” saya abai sama kesehatan wajah, efeknya kulit wajah jadi kusam dan mulai muncul bruntus (titik-titik kecil).

 

Facecare, apaan sih? Apa tidak cukup pakai sabun muka saja lalu dibubuhkan bedak tabur saja biar tampak segar. Owh! ternyata tidak, untuk perawatan luar kulit wajah yang sehat dan segar kuncinya dengan melakukan facecare.

Sebelum berbagi secuil pengalaman saya melakukan facecare, saya pengen berbagi sedikit tentang pentingnya merawat kulit wajah. Penting, ya? Rasanya semua sepakat bahwa merawat kulit wajah itu perlu, tapi saya sendiri sering abai karena saya lebih seneng beres-beres rumah dibanding merawat diri. Aneh memang, padahal tingkat stress dan beban kerjaan di rumah juga sama tingginya, tapi cuek merawat diri.



Akhirnya dengan mengelola pikiran dan menyadari pentingnya merawat wajah, ternyata saya mulai enjoy merawat diri secara santai dan tulus. Tidak mudah buat saya yang cuek dan merasa cukup memakai sabun dan cream/lotion lalu menambah kebiasaan merawat diri dengan menggunakan rangkaian perawatan kulit wajah yang “serius”. Apalagi buat saya yang “nasib” kulitnya sensitif dan gampang “protes” kalau rangkaian perawatannya tidak cocok.



Mengenal Kulit Wajah Sendiri

Hal yang harus disadari betul bahwa wajah merupakan identitas seseorang, tampilan utama yang terlihat secara kasat mata. Melalui wajah ini, kita bisa mengenal satu sama lain. Ada nama disana, ada ekspresi, ada pembawaan yang membuat kita bisa mengenal satu sama lain. Saya sering mengingat seseorang hanya melihat pipinya, matanya, hidungnya, dari cara bicaranya. Karena aku punya ingatan tidak sebaik teman-teman. Jadi copying strategi saya mengingat seseorang maupun sesuatu dengan memperhatikan poin-poin uniknya.

 

Mau menerima atau menolak, bahwa setiap orang memiliki jenis kulit, proporsi tubuh dan karakter wajah yang berbeda-beda. Ada kulit yang berwarna kuning, putih, hitam, sawo matang. Melalui perbedaan warna tersebut, kita bisa mengenal asal negara dan suku bangsa seseorang. Bahkan banyak juga yang memiliki karakter warna wajah unik karena lahir dari orang tua campuran.

Tak hanya itu, melalui garis wajah dan pancaran mata seseorang, secara kasat mata kita dapat memperkirakan situasi kesehatan seseorang atau bahkan bisa menimbulkan persepsi tertentu bagi yang melihatnya. Keren, kan? Situasi ini, seringkali dilupakan bahkan sering diantara kita menanggapi dengan “aneh” perbedaan itu.

Hampir setiap orang berharap keberadaan dirinya dapat memberi kesan menarik ketika melihat wajah kita. Sehingga tak sedikit orang-orang melakukan langkah perawatan untuk mendapatkan wajah yang didambakannya. Seringkali wajah yang menarik mendapat apresiasi dari lingkungan sosialnya. Bisa jadi alasan inilah yang membuat orang-orang lebih peduli memperhatikan penampilan diri untuk membuatnya lebih percaya diri agar bisa diterima lingkungannya.

Tindakan ini tidak salah bahkan bisa jadi dibenarkan, karena merawat kulit wajah dan badan penting. Merawat diri merupakan bentuk syukur atas kondisi fisik yang ada. Efek menjadi menarik itu adalah bonus disamping alasan utama untuk mendapatkan kesehatan kulit.


Kalau difikir-fikir, kulit kita, apapun warnanya, merupakan organ tubuh yang memiliki peran luar biasa.  Berikut fungsi kulit:*

1. Pelindung bagi sistem pertahanan atau pelindung tubuh dari kuman, cuaca, pencemaran, sinar matahari terutama ultraviolet, dan melindungi organ dari cedera.

2. Menjaga keseimbangan antara air dan garam dalam tubuh.

3. Menjaga suhu tubuh

4. Indra perasa.

5. Mencegah kehilangan air pada tubuh.

6. Menyimpan energi dari lemak pada lapisan subkutaneus.

7. Tempat dihasilkannya vitamin D.

Itulah sebab kita mesti memberi perhatian pada kesehatan kulit wajah karena kulit menjadi tampilan utama. Perhatian pada kesehatan kulit wajah ini tidak hanya diharapkan oleh perempuan saja, laki-laki pun ingin menampakan fisik yang menarik. Perawatan kulit wajah tidak melihat gendernya, sudah seharusnya dilakukan secara rutin agar mendapatkan hasil maksimal.



Cara Merawat Kulit Wajah

Untuk mendapatkan wajah segar terawat, kita harus memberi perhatian secara menyeluruh. Menurut Zainah Moktar dari buku Rahasia Awet Muda (Rahasia Kesehatan Holistik), untuk mendapatkan kulit wajah yang sehat dan segar harus dirawat dari dalam dan dari luar. Mengelola kesehatan “hati” dari stres, menjaga nutrisi makanan juga minuman, dan perawatan nutrisi dari luar. Karena ada beberapa faktor yang mempengaruhi kondisi kulit wajah, diantaranya radikal bebas, banyak mengonsumsi makanan dengan kadar gula tinggi dan tentu saja stress.


Sahabat saya selalu mengingatkan, sebaiknya kita mulai “mendengar” kondisi tubuh sendiri, karena kondisi kulit dan tubuh setiap orang berbeda-beda. Oleh karenanya, apa saja sih yang perlu diperhatikan untuk merawat fisik dari dalam dan luar, yaitu:

· Kita perlu persiapan pikiran yang mantap dan konsisten.

· Mempunyai daya tahan terhadap stres; memiliki kemampuan mengatasi dan melihat stres secara tepat.

· Mengonsumsi air mineral dan memperhatikan pola makan.

· Olah raga rutin atau rutin beraktivitas, untuk mengontrol DNA dan menyeimbangkan hormon.

· Konsumsi vitamin.

· Perawatan kulit.

Seringkali kita melihat wajah seseorang yang tampak enak dilihat, segar dan menarik padahal wajahnya biasa saja. Wajah yang biasa namun terawat akan terpancar keindahannya. Sama seperti rumah yang memiliki model biasa, namun terawat kebersihannya akan membuat tamu dan penghuni rumah merasa nyaman dan istimewa.

Untuk perawatan kulit, sebaiknya kita menggunakan rangkaian face care yang sesuai dengan keadaan kulit kita. Saya sendiri biasanya hanya menggunakan sabun muka dan pelembab muka. Ternyata tidak hanya menggunakan sabun muka tapi sebaiknya dilanjut dengan tonic, serum, day cream dan night cream. Langkah ini dilakukan untuk memberi nutrisi menyeluruh untuk memelihara kesehatan kulit wajah.

 

Selama pandemi saya kurang perhatian dengan kondisi kulit wajah, karena jarang keluar rumah. Awalnya saya fikir tidak perlu merawat sampai menggunakan rangkaian fececare karena di rumah saja, tidak terpapar matahari, radikal bebas tapi ternyata anggapan saya ini salah. Karena ternyata lama-lama disadari kondisi kulit wajah kualitasnya jadi menurun. Meskipun banyak di rumah saja, facecare tetap harus dilakukan untuk menjaga nutrisi kulit dan mengangkat kulit mati. Kalau muka kita terlihat kusam, itu ternyata kulit mati yang mesti diangkat caranya kulit diberi cream day dan cream night bahkan lebih maksimal lagi sebelumnya menggunakan serum.

Sekarang ini kulit wajah saya tidak berjerawat, jerawat hanya muncul sesekali saja tidak sesubur saat remaja. Mengingat kondisi kulit wajah yang kusam dan tidak segar, akhirnya saya coba lagi konsisten facecare dengan menggunakan Rangkaian facecare series dari Scarlett.


 
Rangkaian facecare series dari Scarlett ini ada 2 jenis, produk facecare acne (untuk kulit berjerawat dan beruntusan) dan facecare brightly (untuk mencerahkan). Melihat kondisi kulit saya yang kusam dan kurang cerah, jadi saya memilih produk Facecare Scarlett Brightly. Rangkaian produk Cream Scarlett ini ada 5 jenis, diantaranya:

1. Brightly Facial Wash

2. Brightly Essence Toner

3. Brightly Ever Serum

4. Brightly Ever After Cream Day

5. Brightly Ever After Cream Night

Saya pilih Scarlett karena bebas Mercuri dan Hydroquinon, teregistrasi oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan). Selain itu, dari beberapa pengalaman teman-teman yang menggunakan rangkaian facecare Scarlett ini cocok dan membuat kulit wajah jadi lebih lembut.

Mengunakan Facecare Brightly Scarlett ini cukup mudah,

Pertama bersihkan wajah dengan seksama menggunakan facial wash. Keringkan wajah dengan handuk yang bersih.

Kedua tuangkan secukupnya Brightening Essence Toner ke tangan, dapat digunakan dengan atau tanpa kapas. Usapkan secara merata sampai meresap sepenuhnya ke wajah.

Ketiga teteskan 2-3 serum, usap dan pijat secara perlahan samapai merata pada kulit wajah. Diamkan beberapa saat agar serum meresap ke kulit wajah.

Keempat pakai Scarlett Brightly Ever After Cream Day pada wajah yang bersih dan kering, atau setelah pemakaian serum. Pijat lembut sampai merata. Cream Day ini digunakan waktu aktivitas pagi, sementara Cream Night digunakan pada waktu malam. Urutan penggunaan nutrisi kulit sama saja, facial wash, toner, serum lalu pakai cream untuk hasil yang maksimal.


Ternyata begitu saya coba beberapa hari, manfaat yang ditawarkan oleh produk ini mulai terasa. Kulit lebih lembut dan mulai enak dilihat. Tinggal rutinnya saja, karena begitu saya coba serum, terasa wangi dan tekstur cair serum ini seperti vitamin yang siap menutrisi kulit dan siap menjaga kulit dari radikal bebas.

Jadi, menjaga kulit dan mengurangi penuaan dini ini bisa kita upayakan dengan rutin melakukannya. Karena perubahan kearah baik itu butuh proses dan hasilnya pun akan terasa jangka panjang. Selamat mencoba.

*Untuk peran kulit, lihat misalnya Connor, S. 2003. The Book of Skin. New York: Cornell University Press. Hal. 176



Pandemi virus corona mengubah segala pola dan gaya hidup.  Sambil menunggu para ahli medis dan pemerintah mengatasi virus corona, akhirnya setiap aktivitas yang membuat kita berkumpul dan menimbulkan kerumunan jadi terhenti.  Tidak terkecuali aktivitas belajar mengajar di sekolah tingkat SD, SMP, SMA, perkuliahan.  Meski begitu setiap lembaga pendidikan selalu mencari cara agar proses pendidikan tetap berjalan termasuk solusi bimbel online, agar anak-anak tetap mendapatkan pengajaran yang sesuai.  


Fenomena Belajar Online

Awalnya kita semua berharap situasi hanya sebentar dapat segera teratasi, karena memang tidak mudah beradaptasi “bertemu” secara online.  Ternyata jangka waktu pandemi terjadi begitu lama, sehingga proses belajar mengajar online yang tadinya membingungkan justru menjadi habit di tengah masyarakat kita. 

Meski begitu, habit baru ini bukan berarti tanpa diawali oleh persoalan.  Akibat dari pembelajaran jarak jauh, muncul berbagai masalah lain, seperti keterbatasan komunikasi saat beberapa pelajaran harus dilakukan secara tatap muka, keterbatasan guru menjelaskan hingga anak-anak yang sulit konsentrasi ketika mendapat pelajaran secara online dan ada persoalan lain yaitu orang tua yang harus membimbing belajar langsung anak-anaknya di tengah situasi yang serba terbatas.  Tidak semua pengajar dan orang tua mampu melakukan bimbingan belajar online melalui medium baru ini.   



Kesulitan atau kebingungan dalam menemani belajar, banyak dialami guru dan orang tua sekarang.  Tentu kita sering mendengar kalau orang tua mengalami kebingungan mengajarkan kembali pelajaran yang disampaikan guru.  Di beberapa sekolah, guru-guru hanya memberi instruksi untuk membaca teori pada halaman tertentu dan siswa diberi tugas untuk mengerjakan latihan soal.  Selebihnya yang mengulik, proses ajar mengajar sepenuhnya jadi tanggung jawab orang tuanya.  

Seperti yang kita tahu, kemampuan orang tua berbeda-beda dalam mengajarkan kembali pelajaran.  Beberapa orang tua mengaku kesulitan menjelaskan meskipun dia memahami materinya.  Hanya saja sering mengalami kesulitan cara menyampaikan yang tepat kepada anaknya agar anak mudah memahami pelajaran tersebut.  

Seringkali komunikasi orang tua saat mengajarkan anak mata pelajaran tidak mudah diterima oleh anaknya.   Ditambah berbagai persoalan disebabkan pandemic, ternyata banyak mempengaruhi mental parenting keluarga baik positif maupun negatif.  Beda ketika guru ahli yang menerangkan, anak-anak akan lebih mudah menerima dan mengerti. 

Faktor keterbatasan orang tua dalam membimbing anaknya sekolah serba online sering jadi persoalan.  Fenomena di tengah masyarakat sekarang ini menggulung seperti bola salju.  Situasi pandemic ini sudah cukup menekan, mulai dari masalah ekonomi, orang tua yang dipecat, usaha gulung tikar, cemas khawatir tertular virus.  Kepala terasa begitu penuh.  Ketika orang tua mendapat tanggung jawab penuh mengajarkan mata pelajaran, tidak hanya anaknya yang tertekan, orang tua pun mengalami mental yang sama.  Sehingga bisa jadi alasan ini yang membuat berbagai kejadian yang tidak mesti ditanggung anak-anak, seperti mendapat kekerasan kata-kata bahkan kekerasan fisik.  

Tak hanya itu, ada saja jalan pintas dilakukan orang tua ditengah kebingungannya, seperti mengerjakan tugas anaknya, tapi ada juga orang tua yang menyerah lalu tidak mengirimkan tugas sama sekali.  Oleh karena itu, ada bagusnya  orang tua memanfaatkan fasilitas bimbingan belajar online terbaik. Karena dengan adanya bimbingan belajar online, siswa akan banyak terbantu lebih memahami pelajaran dari para ahli professional.


Era Bimbingan Belajar Secara Online

Rupanya, ditengah kesulitan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat masyarakat makin kreatif bahkan lebih terbuka dan cair dalam penggunaan aplikasi belajar secara online, seperti Google Classroom dan Zoom.  Siswa-siswa mulai bisa mendapatkan fasilitas bimbingan belajar online dari bimbel online terbaik meski beda kota.  




Akhir tahun 2021 akhirnya Dinas Pendidikan mulai mencoba melakukan sekolah tatap muka secara bertahap, dengan waktu yang terbatas dan protokol kesehatan ketat.  Meski sudah tatap muka, banyak pelajaran yang disampaikan dengan waktu yang terbatas, jadi tetap saja pendalaman materi dilakukan di rumah.  Terlebih tahun 2022 siswa-siswa sekolah SD, SMP dan SMA dihadapkan pada banyak ujian kenaikan kelas.  

Anak-anak perlu dibantu memahami materi sekolah dengan mendapatkan bimbingan belajar online.  Seperti yang dilakukan oleh Sinotif Indonesia , mereka memberi solusi pada situasi sekarang ini dengan membantu siswa memahami materi tuntutan di sekolahnya.  Caranya metode belajar disesuaikan dengan kondisi siswa serta target belajar/hasil yang ingin dicapai siswa.  

Seperti yang kita tahu, jenis sekolah ada beberapa jenis diantaranya sekolah nasional dan internasional.  Sinotif Indonesia mempersiapkan tenaga ahli untuk membantu siswa-siswa dari kedua jenis ini.  Mulai dari tingkat SD, SMP dan SMA atau usia 6-19 tahun dengan kurikulum kurikulum yang dapat dipilih sesuai dengan kebutuhan siswa.    

Masyarakat semakin merasa bahwa media online menjadi medium yang menarik untuk dimanfaatkan berbagai aktivitas.  Para siswa sekarang akhirnya banyak mencari bimbingan belajar online agar mendapatkan tambahan waktu belajar dan pembelajaran dari para ahli tanpa perlu keluar rumah.  Ya, konsep bimbingan belajar online yang diselenggarakan Sinotif Indonesia ini unik, karena membuat para siswa belajar online terasa seperti tatap muka.  


Jadi maksudnya, meskipun dilakukan secara online, kamu bisa merasakan konsep belajar secara live dan interaktif, tatap muka 2 arah, dimana guru dan siswa aktif dalam belajar mengajar.  Pengajaran Sinotif Learning Method ini disukai oleh siswa karena rasa dan kualitas pengajaran yang sama dengan belajar offline.




Tidak semua pengajar mempunyai kemampuan mengajar online.  Karena upaya mengajar online dan tatap muka berbeda.  Pengajar Sinotif mempunyai keunggulan mengajarkan pelajaran secara online, mempunyai kepiawaian mengajar secara asik sehingga tetap terasa tatap muka.  Sehingga upaya tersebut mampu membuat siswa semangat dan tetap berminat untuk menguasai pelajaran.  

Bimbel online live interaktif ini punya beberapa kelebihan, diantaranya:

  1. Metode yang digunakan sistematis dan fokus pada kebutuhan siswa, tuntutan sekolahnya dan target belajar yang ingin dicapai.

  2. Cocok untuk anak milenial.

  3. Orang tua hemat waktu, tidak perlu mengantar di tengah kemacetan.

  4. Siswa hemat waktu, bisa les yang lain atau melakukan tugas yang lain.

  5. Efektif fokus pada pembelajaran.

Karena terbatasnya waktu pembelajaran tatap muka di sekolah, persoalan pemahaman materi yang terbatas oleh waktu pun dirasakan oleh orang tua dan siswa.  Banyak orang tua merasa bahwa anak-anaknya tetap membutuhkan bantuan bimbingan belajar online terbaik, apalagi berkaitan dengan pelajaran eksakta yang harus dipelajari siswa di sekolahnya, diantaranya matematika, fisika dan kimia.  

Selama ini orang tua kesulitan mendampingi anak-anaknya mempelajari 3 mata pelajaran ini.  Makin tinggi tingkat sekolah tentu saja tingkat kerumitan pelajarannya makin bertambah.  Dalam mempelajari eksakta ini perlu bimbingan orang-orang ahli dan berpengalaman.  Oleh karena itu, ada beberapa pilihan paket belajar online yang ditawarkan oleh Sinotif Indonesia, diantaranya:

  • Paket Privat, siswa hanya 1 orang

  • Paket Semi Privat, siswanya hanya terdiri dari 2-5 orang saja

  • Paket Klasikal, siswa terdiri dari 6-15 siwa

Untuk paket Privat dan Semi Privat siswa dapat materi sesuai kebutuhan, ada tes kemampuan setiap bab, siswa bisa memilih jadwal.  Berbeda dengan Paket Klasikal, materi ditentukan oleh guru, tes penguasaan tiap bab dan siswa mengikuti jadwal yang ada.

Oleh karena itu, masalah-masalah pembelajaran sering muncul, mulai dari pemahaman materi, PR hingga persiapan ulangan harian.  Les Online cocok untuk belajar anak-anak milenial, sehingga bisa lebih siap untuk:

  • Membantu memahami materi untuk berbagai kebutuhan ulangan harian (class or monthly test), ulangan tengah semester (mid semester assessment), ulangan umum kenaikan kelas (final examination or assessment).

  • International school exams preparation: O level, IGCSE, A level, As level, IB diploma SL/HL.

  • Persiapan tes masuk sekolah dan universitas, dalam negeri maupun luar negeri.

  • College, foundation or University Preparation.

  • Semua les mengajar online mengajar dan membantu siswa sesuai apa yang dibutuhkan.

Jadi, situasi pandemi ini mengajarkan habit baru, kita seolah diajarkan untuk tetap kreatif, menciptakan kebiasaan baru dan membuka peluang lain.  Awalnya membuat beberapa kegiatan langsung terbatas, namun menciptakan metode belajar online yang menyenangkan, efektif waktu dan lebih nyaman untuk konsultasi tak terbatas oleh jarak. Secara langsung, kita pun akhirnya tetap dapat mengupayakan fasilitas terbaik sehingga kemampuan anak-anak tetap terasah sesuai kapasitas dan menjadi manusia unggul.