Setiap karya menghasilkan sentuhan yang berbeda-beda karena melibatkan jati diri atas proses hidup masing-masing. –Art Space Humanika


Pertama kali saya memanfaatkan blog sebagai proses menulis saat bekerja di Tobucil (Toko Buku Kecil), sebuah toko buku alternatif berbasis komunitas.  Disana saya bertemu dan berinteraksi dengan beragam orang dari berbagai komunitas.  Salah satunya kenal dengan salah satu komunitas Food Not Bom yang kerap menyuarakan Do It Yourself yaitu melakukan kegiatan dan memenuhi kebutuhan sendiri dengan membuat sendiri.  Banyak program yang mereka lakukan mulai dari musik sampai mengolah sisa makanan layak makan dari beberapa dapur hotel, dll. 


Melalui mereka saya jadi faham fungsi blog dan bagaimana efektivitas blog bisa menghubungkan pesan dan memperkuat jaringan komunikasi antar komunitas yang memiliki vibrasi yang sama.  Tahun-tahun itu, sekitar 2002-2005 saat saya bergerak aktif di sana, komunitas menjadi wadah yang menarik dalam menampung “para pemimpi” yang kerap bergerak mengikuti kata hati dianggap minoritas di tengah masyarakat saat itu.  Seperti menjadi musisi, penulis, handmader, perupa, penggiat teater dimana peminatnya segelintir orang bahkan fasilitas pendidikan di bidang tersebut masih sedikit.



Selama beraktivitas di Tobucil, saya pun aktif latihan untuk pertunjukan teater.  Meskipun saat itu saya lulusan Ekonomi Manajemen, aktivitas saat di unit kegiatan mahasiswa membawa jiwa saya berlari pada gerbong seni pertunjukan teater.  Dengan iklim teater di Bandung-agar saya bisa bertahan hidup-harus diimbangi dengan bekerja freelance.  Karena, latihan teater pun seringkali dilakukan berjam-jam, sama halnya pekerjaan pada umumnya, mulai dari siang ke sore bahkan dari sore ke larut malam.  Saya sering pulang malam, bisa karena selesai latihan atau karena ada acara diskusi buku yang kerap diadakan sore hingga malam hari di toko.


Kalau pendapat kebanyakan orang, proses ini adalah sekadar kegiatan atau hobi, tapi buat saya proses ini bagian dari pilihan pekerjaan yang saya ambil.  Selepas beres kuliah, saya kerap diajak oleh beberapa kelompok teater yang mengasah kemampuan analisa naskah, karakter, olah sukma dan olah raga dalam mewujudkan sebuah peran/tokoh.  Pola ini terus menerus dilakukan, beres pertunjukan satu lanjut pada pertunjukan yang lain, otomatis proses ini kerap membuat otak dan hati mampu mempertajam berbagai situasi.



Bisa proses menganalisa ini banyak terpengaruh oleh kebiasaan mata saya menangkap beragam kejadian sejak kecil.  Amih sering ajak saya ke pasar atau saya memaksa Amih ikut berdagang ayam di Pasar Baru.  Menangkap riuh rendah pasar, warna suara, mengenal beragam kulit, pembawaan orang-orang yang memberi nada pergerakan berbagai karakter manusia.  Cahaya sendu dari lampu-lampu bohlam di tiap los pasar dililit sarang laba-laba menghitam dan tebal.  Sesekali laba-laba menerkam lalat yang gagah berani terbang disekitarnya, terjebak lekat, lalu perlahan kehabisan nafas. 


Sementara mata berganti pandang pada laki-laki berbadan pendek kokoh mengangkut belanjaan seorang nyonya.  Diantaranya penjual makanan dan tukang kopi berkeliling menawarkan sarapan pada tiap pedagang.  Ada yang menolak, ada yang menikmati.  Sebuah pertunjukan yang berulang, berganti peran tiap babaknya.


Wajah Bapak bergantian frame dengan wajah Amih menjadi pusat perhatian pedagang di tengah pasar, mendengung, merayap, bergerak serupa sarang tawon.  Saya kecil duduk terkesima kadang menyelusup diantara mereka untuk menyusur setiap lorong pasar yang becek, warna lampu yang temaram, bau sampah bercampur bau daging, ikan, sayur dan beragam rempah.  Beberapa sudut mengeluakan wangi makanan serupa gudeg dan kare.  Saya lebih memilih berdesakan dengan ibu-ibu yang memilih kue-kue basah.  Lalu segera kembali ke jongko ayam Bapak, kembali duduk menikmati kue basah di sebelah tolombong.





Tak hanya di pasar, hampir tiap hari rumah kedatangan tamu silih berganti.  Kadang saya mengambilkan makanan juga mendengarkan perbincangan mereka.  Kadang tamu itu menangis, kadang cerita tanpa koma dan titik.  Amih dan saya hanya mendengarkan, tak lama Amih pergi, lalu kembali sambil menyelipkan beberapa lembar kertas yang diselipkan saat salaman ketika tamu itu pamit.


Saya arahkan pandangan ke halaman rumah kerap ramai teriakan teman-teman bermain.  Segera berlari dari kedatangan tamu yang lain dengan menggunakan sandal swallow lalu ikut permainan galah asin, sorodot gaplok, disambung permainan lain di Ci Iim.  Sementara di tempat lain sekumpulan orang dewasa kerap mengolah kegiatan keagamaan untuk anak-anak, mengenalkan huruf dan mengenalkan alam.  Suasana dan kecenderungan beragam kelas komunitas ini menghadirkan karakter individu-individu yang bersifat kolektif.  Mulai dari gesture, gaya bicara, berpakaian, hingga kecenderungan sudut pandang dalam mengatasi keadaan. 


Mata, telinga, rasa, terbiasa melihat dan menganalisa hal-hal sederhana terlihat asik, dramatis bahkan romantis. 





Ditengah gegap gempita kehidupan, mata ini pun kerap ditarik meredakan diri di sawah, jalan-jalan setapak, riuh pepohonan, bambu, angin, bermain air di mata air.  Melalui nyanyian tongeret di pagi kadang sore hari, tubuh ini, hati ini, pikiran ini, pergerakan ini selalu dibangunkan dari tidur lelap bahwa diri bagian dari pergerakan alam.  Dua dunia yang ramai dan dunia yang tenang mengisi ruang-ruang kosong. 


Tubuh manusia tak lebih makhluk yang bergerak, diberi jalan karena doa-doa, harapan-harapan, mimpi yang pelan-pelan menjelma pada setiap bentuk pada waktu yang tepat pada saat jiwa kita sudah dianggap kokoh layaknya pohon yang matang bertumbuh melahirkan buah.  Kelebihan kita sebagai manusia, diberi keleluasaan untuk berfikir, meraup ilmuNya dan bagaimana melahirkan bentuknya menjadi apa.


Alam dan manusia yang bergerak diantaranya kerap memberi pembelajaran tak berkesudahan.  Semakin dipertanyakan semakin dicari lalu bergerak didalamnya.  Kejadian-kejadian pun memberi berbagai gambaran mengenai langkah yang harus dilakukan saat menghadapi kegelisahan, ragu, dilematis.  Kadang kehilangan kendali, bertentangan hingga akhirnya mengerucut pada sebuah pertemuan pada pertemuan yang sesuai pandangan diri.



Menulis di blog memberi ruang keleluasan dalam berekspresi.  Ketika saya berhenti beraktivitas teater dan berhenti bekerja, hati saya berontak, ada sesuatu yang kurang.  Kalau kembali lagi berkarya teater, rasanya tidak mungkin karena tanggung jawab domestik masih sulit ditebak.  Kondisi kesehatan saya pun masih harus dijaga karena melahirkan cesar.  Sementara kerja teater merupakan kerja kolektif jika ada satu pemain yang tidak bisa latihan efeknya produksi teater akan tersendat. 


Lalu saya mulai merunut berbagai kesukaan, hal yang bisa saya lakukan dan proses yang pernah dilakukan dengan situasi yang paling mungkin.  Rupanya proses-proses itu berakhir pada dunia menulis di media blog.  Blog menjadi wadah buat saya mengekspresikan berbagai pandangan dan sebagai laboratorium berkarya.  Dia menjadi bagian dari proses pembelajaran diri, belajar pada kesalahan diri yang berulang, kebodohan pun belajar terhadap situasi sosial yang dinamis dan beragam.


Sempat saya sendiri sering merendahkan proses-proses hidup yang dijalani dan kerap merendahkan diri.  Cenderung merasa biasa-biasa saja.  Namun setelah ada kejadian yang “luar biasa” selama bertahun-tahun sehingga saya merasa kehilangan “hidup”.  Justru ingatan masa kecil, ingatan saat berteater, ingatan kegiatan-kegiatan lain di masa lalu menjadi referensi dan memperkokoh dalam menyerap berbagai tanda lalu hadir dalam bentuk semangat-semangat hidup lalu melahirkan tulisan.


Saya cenderung pelupa, tulisan-tulisan di blog cukup sering membatu dalam proses merunut dan menganalisa masalah dalam melahirkan beragam solusi.  Tak hanya merumuskan masalah, namun langkah dan tindakan yang harus dilakukan kerap melibatkan intuisi dan memahami waktu yang pas dalam mengambil langkah.  Proses-proses itu justru yang menggiring dan membantu saya bertahan dan proses menulis kembali.


Hey, pencipta blog dan orang-orang yang berhasil bertahan dengan nge-blog, selalu berkarya dan terus belajar pada hidup. 

Salam.



Membawa ingatan pada lorong dan tirai rumah sakit.  Berminggu, berbulan, bertahun.  Waktu meringkas ingatan pada tiap lembar hasil MRI, CT Scan, berlembar hasil tes darah, surat pengantar, wangi wipol tiap pagi dan sore, notifikasi pesan singkat diberbagai media social, jam-jam besuk dan beragam pergerakan hidup.  Pertemuan dengan beragam nama, ekspresi muka, reaksi, suasana.  Belajar pada tiap terang yang mengintip dibagian kecil pori-pori jendela, dinding, daun, pintu, kursi, lampu, tirai.


Bertahun, usai sudah babak pengap yang panjang, serba terbatas, kikis segala ingin.  Belajar pada luka, cinta, teman sekejap, buku, al quran, sahabat, saudara, orang tua, semangkuk bubur, setangkup roti, sebungkus nasi, sebotol air mineral, selembar resep, wangi wipol, jadwal harian setiap rumah sakit, kopi, kereta, bis, mobil, hujan, karakter tiap daerah, pertemuan, perpisahan, musik, langit, awan, matahari pagi, udara malam, sepi, ramai, tawa, perkenalan, kebaikan, keramahan, kesedihan, kemarahan, reuni, perpecahan, kecurigaan, kepercayaan.  Hidup, nafas, diri.


Seringkali cara Allah sulit dipahami, sulit diterima bagaimana diri memandang berbagai keadaan.  Mengajarkan segala hal melalui beragam ketakutan dan kerisauan. Melalui cara-Nya, saya seperti diajarkan melihat segala situasi dari berbagai sisi.  Mengajarkan tubuh, hati, diri melepas diri pada Pemilik Hidup.  Tumbuh rasa syukur, melepaskan luka perlahan, memaafkan.  Kini semua terasa ringan melalui proses yang tentu tidak ringan dan bertahap.  Tentu melalui prosesnya, kerap melukai diri bahkan orang lain.


Saya takut hari kemarin, sekaligus senang sampai pada akhirnya memahami ilmuNya melalui caraNya.  Pelajaran hati yang memainkan beragam situasi, sulit dimengerti, hingga setiap kejadian kerap membawa pada kisah-kisah istimewa. 


Seringkali yang membuat diri bertahan di tengah persoalan-persoalan berat adalah ingatan-ingatan masa kecil, ingatan duduk terdiam di depan Kabah, berproses teater dan beraktivitas di toko buku berbasis komunitas.  Ingatan-ingatan bahagia ini yang membuat diri tetap bertahan, memberi nafas, jeda lalu menghidupkan kebuntuan.  Rindu ini yang bisa menghibur ruang-ruang lelah menciptakan ruang-ruang semangat.


Setiap detik saat itu tampak istimewa jika dilihat pada hari ini, berenergi dan sangat bernilai.  Proses-proses yang ajaib.  Di tengah situasi yang mengisi jiwa saat itu bukan berarti tanpa masalah, tetap ada tekanan dan terjal.  Tapi jiwaku begitu terisi, otakku terus bergerak.  Energi saat itu kerap saya pinjam untuk pertahanan diri.  Proses-proses panjang yang melelahkan menjadi berarti.


Ketika keluh mulai menggelitik hati, masa lalu kerap mengingatkan bahwa hari ini akan sangat berarti untuk dilewatkan begitu saja.  Apa yang kita lewati akan bermanfaat suatu hari nanti, tidak hanya untuk diri tapi meluaskan manfaat bagi orang lain.  Allah Maha punya rencana terbaik.  Lakukan saja apa yang paling kamu bisa dan maksimalkan upaya.  Perasaan-perasaan keluh itu rupanya reda begitu saja. 




Mencari Obat

Di Bandung banyak apotek lengkap, namun tidak semua apotek menyediakan obat-obat khusus.  Dari sekian banyak apotek, saya hanya merekomendasikan beberapa apotek terlengkap di Bandung.  Hal ini berdasarkan pengalaman saya cari obat khusus untuk Ayah dan saya sendiri.


Sebelumnya, saya mau sedikit berbagi pengalaman ketika “berburu” obat phenytoin yang harus dikonsumsi oleh suami saya.  Suami saya pernah ada TBC otak yang menyebabkan epilepsy simptomatic (kejang terus menerus) pada tahun 2014, lalu melakukan operasi otak tahun 2015.  Begitu benjolan TBC ini diangkat, epilepsy tetap ada, sehingga obatnya harus terus dikonsumsi sampai sekarang.  Lalu tahun 2018 baru ada tambahan obat untuk mengurangi beberapa keluhannya. 


 


Tak hanya itu, saya pun pernah pengalami psikosomatic, obatnya hanya tersedia dibeberapa apotek saja.  Begitupun ketika kakak saya harus membeli oksigen saat asamanya kambuh.  


Nah, untuk kasus suami saya, dokter memberi obat epilepsy jenis baru yang memang mengurangi banyak keluhan akibat percikan listrik di otaknya dan konsumsi obat phenytoin.  Obat baru ini namanya topomax sprinkle, harganya lumayan mahal buat saya dan saat itu tidak ditanggung BPJS.  Selain mahal, obat ini tidak mudah didapatkan dan hanya tersedia di apotek tertentu.  Meski begitu, mau tidak mau obat ini harus dikonsumsi agar aktivitas Ayah kembali normal.


Berdasarkan informasi dari apoteker, rupanya ada beberapa apotek yang lengkap menyediakan obat.  Bahkan beberapa rumah sakit, kerap menghubungi apotek tersebut untuk memenuhi kebutuhan obat pasien yang rawat inap.  


Apotek Terlengkap

Nah, berikut apotek terlengkap di Bandung hasil perburuan obat kami:

1. Apotek Kimia Farma

Apotek terlengkap yaitu Kimia Farma yang di Jalan Supratman 72 Bandung.  Kalau ingin memastikan kesediaan obat, kamu bisa nelepon dulu ke nomor 022-7271413 atau HP/WA 08112157640.  Apotek ini biasanya menyediakan berbagai obat yang mamang jarang dan sigap menyediakan obat-obat khusus.  


Kalau memang sedang kosong, kamu bisa nelepon dulu dan memesannya.  Kalau di Kimia Farma yang kita datangi tidak menyediakan obat yang dibutuhkan, mereka mempunyai sistem mengecek ketersediaan obat di Kimia Farma cabang lain.  Kita pun bisa segera datang ke Kimia Farma cabang yang mempunyai stok obat yang kita butuhkan.  


Rasanya semua orang sudah tidak asing dengan Apotek Kimia Farma.  Kalau di Bandung, Kimia Farma ini hampir ada di tiap belokan.  Namun, tidak semua apotek ini menyediakan obat-obat khusus seperti topomax.  Bahkan di beberapa Kimia Farma, kita harus pesan seminggu sebelumnya. 


Awal-awal saya biasanya pesan obat ini di apotek Kimia Farma terdekat, namun dengan resiko obat itu tidak ada di detik-detik terakhir.  Situasi ini cukup menegangkan, karena kalau telat dimakan obatnya bisa menyebabkan epilepsy.  Jadi saya lebih memilih segera datang ke Kimia Farma Supratman untuk mengurangi resiko kehabisan obat.  Perlu diperhatikan juga, waktu buka tiap Kimia Farma berbeda-beda, ada yang dari jam 08.00-21.00 WIB dan ada yang melakukan pelayanan selama 24 jam. 


2. Apotek Vita Farma

Apotek terlengkap di Bandung selain Kimia Farma Supratman adalah Apotek Vita Farma.  Alamatnya ada di Jalan Pasirkaliki 171 dan jika ingin memastikan bisa nelepon ke 022-6015760.  Lokasinya tidak jauh dari perempatan jalan layang Paspati.  Untuk waktu pelayanan dari jam 08.00-20.30 WIB.  


Kalau lihat bangunannya, apotek ini tidak begitu meyakinkan, papan penanda pun sudah mulai karatan.  Apotek Vita Farma bertempat di bangunan rumah peninggalan Belanda yang tidak begitu “terurus”.  Namun jangan salah, segala obat ada disini dan dilayani oleh para apoteker yang sudah berpengalaman.  Keluarga pasien yang dari RS Hasan Sadikin, rata-rata membeli obatnya disana.


Tapi, jangan harap mendapat pelayanan standar ramah dan menenangkan, karena kamu tidak akan mendapatkannya.  Terpenting dapatkan obatnya, bayar, orang tersayang kita mengonsumsi obatnya.  Enjoy aja!  


3. Apotek Perintis

Apotek ini ada di tengah kota, lingkungan ramai Pasar Baru, Terminal Stasiun Hall dan dekat dengan Rumah Sakit Santosa.  Tepatnya Jl. Pasar Barat No. 4-6 Kebon Jeruk Bandung dengan jadwal buka dari jam 08.00-20.00 WIB.  Beberapa obat khusus dapat diperoleh disini dengan harga lebih murah dari apotek pada umumnya.  


Namun kita akan berhadapan dengan anteran yang cukup panjang.  Siapkan mental jiwa raga, kalau perlu bekal es kopi dingin agar hati tetap slow saat antre.


4. Apotek Bona Farma

Apotek ini langganan aku untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang buka dari jam 08.00-20.30 WIB.  Selain jenis obat relatif lebih lengkap pelayanannya pun cepat.  Apotek Bona Farma ini lokasinya ada di Jl. Setiabudhi No 170 J.  Letaknya ada lokasi ramai di antara Supermarket Griya, Radio, tempat kuliner, toko anak, toko roti yang banyak dikunjungi orang.  

Selain apotek, disana pun setiap sore pagi ada pelayanan praktek dokter diantaranya dokter umum, dokter dalam, dokter anak, dokter gigi yang handal dan praktek di rumah sakit terkemuka di Bandung.  Kalau kita harus tes ini itu, disana pun ada laboratorium, USG dan EKG.  Meski tempatnya kecil, namun pelayanannya lengkap dan cukup memfasilitasi kebutuhan pasien.  

4 apotek yang saya rekomendasikan ini berdasarkan pengalaman, kebutuhan pribadi dan lokasi rumah saya menuju apotek-apotek tersebut.  Tidak ada kaitannya dengan standar kesehatan yang tidak saya ketahui.  Bisa jadi masih banyak apotek lain yang mempunyai pelayanan yang sama namun tidak saya ketahui karena masalah jarak lokasi dan kebutuhan yang sudah terpenuhi.

Tetap semangat, ya, karena berani hidup itu hebat.  Setiap apa yang kita lakukan dan upayakan pasti diapresiasi yang Maha Pemilik Hidup.  


Aplikasi Deteksi Dini Alzheimer

“Yah, wajar lah udah sering banyak lupa lupa, lagian kan umurnya sudah tua.”  Begitu lontaran ringan yang sering terjadi antara teman.  Untuk beberapa orang yang sudah mulai menginjak usia di atas 40, 50 bahkan lebih, pikun ini menjadi situasi yang dikhawatirkan.  Siapa yang tidak mau tetap sehat dan hidup berkualitas di usia senja, rasanya menjadi salah satu keinginan semua orang.  Pasti nikmat jika di usia senja punya dana pensiun, melakukan hal yang asik, produktif dan sehat.   

Amih dan keluarga kecilku.

Aku tinggal bersama ibuku yang sudah berusia 90 tahun, mungkin saja lebih.  Karena seringkali orang tua zaman dulu banyak yang tidak mencatat tanggal lahirnya.  Kemungkinan besar Amih ibu lahir sekitar tahun 1930-an ketika Gedung Baretty dibangun, sekarang kita mengenalnya Villa ISOLA UPI (Universitas Pendidikan Indonesia).   


Berada di usia senja, kualitas hidup Amih cukup baik.  Betul kata hadist Nabi, bahwa kita harus  memelihara hati diri sendiri dan memperlakukan orang tua kita dengan baik.  Rupanya kualitas hati ini berpengaruh banyak pada pemeliharaan syaraf otak.  Hal ini diperkuat oleh para dokter syaraf, bahwa meningkatkan kualitas hidup seseorang itu dengan memelihara hatinya bahagia, melakukan kegiatan yang menyenangkan, rupanya cara ini dapat memperlambat penyakit alzheimer bahkan tidak akan terkena penyakit lupa.


Seringkali kita menganggap sepele dan wajar pada penyakit pikun ini.  Padahal gejalanya berpengaruh pada berbagai pola kehidupan pasien maupun orang-orang disekitar kita.  Bagi orang dalam pikun akan menambah beban fisik , psikologi, stigma dan beban ekonomi.  Tak jarang orang yang terkena alzheimer di usia produktif dapat berdampak pada daya personal tersebut dan menjadi beban Negara. 


Memahami situasi ini, perlu buat kita untuk deteksi dini tanpa memandang usia.  Kini upaya deteksi dini alzheimer dapat menggunakan aplikasi IMS Sahabat.  Aplikasi ini merupakan E-memory screening yang baru saja diluncurkan di acara Hari Alzheimer Sedunia.  Semakin dini terdeteksi potensi alzheimer, semakin berpeluang mencegah kepikunan.


Langkah responsif yang dilakukan oleh PERDOSSI  yang di support oleh PT Eisai Indonesia ini menjadi strategi menarik sehingga patut diapresiasi oleh masyarakat.  Kini semakin banyak masyarakat yang peduli dan mendengarkan kesehatan tubuh dan jiwanya.  Aplikasi IMS Sahabat ini menarik, pemilik akun bisa mendeteksi diri dan orang lain bahkan dapat mendeteksi satu kampung.  Artinya, aplikasi ini tidak hanya digunakan untuk screening pemilik akun, namun bisa membantu saudara, sahabat, tetangga untuk deteksi dini sebagai upaya pencegahan.

 

Mengenal Pikun

Alzheimer ini merupakan penurunan kemampuan kognitif secara berangsur-angsur, sering bermula dengan lupa atau kehilangan daya ingat.  Lupa yang tidak normal ini kita kenal dengan istilah pikun.  Pikun seringkali dikaitkan dengan orang yang sudah tua, padahal bisa jadi terkena pada usia yang lebih muda karena kurang mengelola gaya hidupnya. 


“Jangan ada lagi pernyataan pikun itu wajar bagi orang tua, kita harus sepakati itu.  Karena pikun adalah penyakit yang bisa diobati.”  Ungkap Direktur Keswa Kemenkes-Siti Khalimah (spesialis kesehatan jiwa).


Meskipun pada umumnya orang tua mengidap penyakit alzheimer, saya memerhatikan Amih tidak pikun meski sesekali suka lupa.  Amih pun masih bisa jalan kaki normal meski sudah lambat, bisa merawat diri bahkan masih sering minum kopi dan reaksinya masih bagus ketika ada sesuatu.  Dia masih selalu ingat hari, jam waktu shalat, suka menceritakan masa lalu, analisa masalah masih kuat dan cepat berhitung. 




Menurutku sifat lupa pada Amih masih kategori normal.  Misalnya sesekali lupa pada orang yang sudah lama tidak menemuinya, lupa menyimpan dompet dan printilan lainnya.  Sifat pelupa Amih dan aku tidak jauh berbeda, padahal usia saya jauh dibawah Amih.


Bisa jadi karena Amih sering melakukan aktifitas yang dapat mencegah penyakit pikun, diantaranya:

 M 1.    Menjaga kesehatan jantung
2.       Berolahraga
3.       Rajin mengonsumsi buah dan sayur
4.       Menstimulasi fisik, otak, spiritual
5.       Bersosialisasi dan beraktivitas positif

Meskipun ibuku tidak rajin olah raga, namun beliau orangnya aktif.  Dia selalu bergerak, aktif membuat acara pengajian, suka beres-beres, cepat respon jika ada yang kesulitan, disiplin dalam menjalani hidup sehari-hari, otaknya selalu diolah dan selalu semangat. 


Nah, rupanya teka teki ini terjawab melalui acara Festival Digital Alzheimer Sedunia.  Acara ini menjadi alarm buat kita lebih mendengarkan reaksi tubuh dan jiwa kita.  Karena pikun ini adalah jenis penyakit yang bisa terkena pada siapapun dan beragam usia, seperti yang punya masalah otak (seperti tumor otak) dan kurang nutrisi pada tubuh.  Nutrisi tubuh ini bisa jadi dipengaruhi gaya hidup yang tidak sehat, tidak memerhatikan asupan makan gizi seimbang sehingga berpotensi untuk merusak otak. 


Karena aku punya sifat pelupa,  tadinya merasa khawatir, jangan-jangan aku sudah ada gejala alzheimer.  Tapi menurut dr.S.B. Rianawati, SpS (K) tidak sama antara pelupa dan pikun.  Pikun adalah ketika seseorang butuh waktu lama untuk mengingat atau lupa dengan apa yang mereka lakukan sebelumnya.  Dalam dunia medis disebut demensia, yaitu penurunan fungsi otak seperti menurunnya daya ingat dan kecepatan berpikir serta berprilaku. 


Ini adalah gejala pikun yang mesti kamu ketahui:

1.     1.        Gangguan daya ingat atau sering lupa
2.       Disorientasi, bingung dan sering lupa waktu dan tidak tahu pulang
3.       Menarik diri dari pergaulan
4.       Perubahan prilaku
5.       Sulit melakukan pekerjaan yang familier
6.       Sulit fokus
7.       Kesulitan memahami visuospatial (sulit mengukur jarak dan tidak dapat membedakan warna)
8.       Gangguan komunikasi
9.       Salah membuat keputusan
10.   Menaruh barang tidak pada tempatnya

 

Cara Mengobati Pikun

Aku baru mengerti begitu dr. Junita Maja Pertiwi memaparkan pentingnya deteksi dini alzheimer.  Manusia merupakan makhluk yang mempunyai kelebihan dibanding makhluk lainnya  dari kemampuan berfikirnya.  Menghasilkan cipta, karya, rasa sehingga menghasilkan pelbagai peradaban.


Banyak potensi seseorang akan terhambat jika seseorang terkena alzheimer.  Gangguan ini  akan terjadi perubahan prilaku, seperti:   

1.      1.       Melihat sesuatu tetapi tanpa realita.
2.       Sering  berlebihan tanpa alasan/euforia.
3.       Perilaku yang menyimpang.
4.       Gelisah dan mudah marah
5.       Halusinasi
6.       Depresi
7.       Apatis
8.       Cemas

Agar situasi tersebut tidak bertambah parah, penderita tidak boleh dianggap sepele dan tidak boleh dibiarkan.  Dia harus melakukan diobati layaknya penyakit fisik lainnya.  Upaya ini dilakukan untuk mengurangi gejala alzheimer, memperlambat perkembangan penyakit, membuat penderita dapat hidup semandiri mungkin.  Beberapa penanganan meliputi: mengatasi penyebab pikun, memberikan obat-obatan, terapi stimulasi kognitif, memberikan perawatan paliatif.




Situasi ini mau tidak mau akan dihadapi oleh para pasien alzheimer dan pihak yang merawatnya.  Namun ada berbagai cara berhadapan dengan pasien seperti ini.  Karena gangguan otak ini, maka pasien sering mengangap kita sebagai pengganggu, drama menjadi nyata, takut akan malam hari, wajah asing di cermin, mudah berubah pikiran, momen normal.


Cara menghadapi situasi orang yang kita sayang yang mengalami alzheimer, tentu kita harus lebih sabar dan memahami orang yang pikun dengan banyak cinta dan banyak mengalah.  Bantu dia dalam menyelesaikan masalahnya dan mengatasi ketakutannya. Seringkali dia merasa asing dengan dirinya ketika melihat cermin karena wajahnya terlihat tua sementara dia ingatnya pada wajahnya yang masih muda.  Maka bantulah dengan tidak memasang cermin disekitarnya agar dia nyaman dengan dirinya.


Jika dibiarkan, gangguan otak itu berpengaruh banyak pada sisi kognitif dan prilaku.  Seperti tingkat atensi, konsentrasi, memori, bahasa, orientasi, berfikir abstrak, menilai diri sendiri, berprilaku dan berwawasan/pengertian.  Selain perubahan cara pandang pasien dalam menyikapi hidupnya, sudut pandang masyarakat terhadap pasien pun akan berubah.  Oleh karena, keadaan ini harus di support oleh lingkungan terdekat, keluarga maupun sahabat agar jiwa pasien tetap terpelihara.


Pagi buta maupun pagi tampak, tiap sebulan sekali menghadirkan warna tersendiri.  Menyiapkan berkas BPJS, surat rujukan dan surat pengantar rawat jalan menciptakan nada dan denyut jantung berbeda.  Wangi kopi, angin pagi, desir daun yang terlewati tiap jalur dinginnya Bandung utara menjadi jantung.  Warna matahari bermain-main diantara celah daun, angin menepa wajah lesu menuju ritme yang meluaskan resah dan kisah. 


Merawat kehidupan sebagai bentuk terima kasih pada Pemilik Semesta.  Bertahan dan tetap hadir di jalur yang Allah siapkan meluaskan pandangan tentang diri dan kehidupan.  Perjalanan tiap sebulan sekali kontrol ke rumah sakit ibarat melakukan perjalanan traveling.  Ada ruang renung dan menjernihkan mata.  Tentang cinta dibalik segala kesulitan menjadi rahasia makna. 


Setiap bulan sekali saya menyiapkan lembar kartu BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial) dan lembar surat kontrol dari faskes A.  Tak hanya itu, botol minum di isi air mineral, segelas kopi dimasukan ke dalam gelas traveling, handsanitizer, tissue basah, masker cadangan dan pouch isi obat-obatan.  Semua perlengkapan itu dibawa ke dalam tas untuk persiapan rawat jalan.  Begitu siap jiwa raga, kami pun berangkat menggunakan angkot.  Tiba di puskesmas, kami harus antre untuk mendapat pelayanan dari dokter.  Ternyata ada pengumuman, bahwa website BPJS tidak dapat di akses.  Kami pun kembali pulang, menunda dan tetap memelihara jiwa tetap mengada.   



 

Kejadian website yang tidak dapat di akses bukan kali pertama, persoalan seperti ini pernah saya alami beberapa kali.  Lalu berakhir pulang lalu minum kopi di suatu tempat atau nge-bakso.  Meski ada beberapa pasien yang menunggu website BPJS dapat di akses, kami lebih memilih kembali esok hari.  Sedikit kesal lalu merasa lucu menjadi rakyat jelata yang suka sok seru mengambil hikmah dibalik kesulitan.  Kadang suka heran, kok ya aku baik-baik aja. 


Sebetulnya rasa sebal itu mampir, tapi sebentar lalu cepat teralihkan pada situasi yang lebih menarik.  Seperti memotret beberapa situasi lalu mengenyangkannya dengan semangkuk bakso dan sebotol teh dingin. 


Saya cuma berfikir apakah tidak ada antisipasi lain ketika website BPJS tidak dapat di akses ketika ada pasien yang ingin diperiksa.  Beda kasus kalau kaya Ayah yang minta surat rujukan dengan kondisi fisik yang fit.  Bayangkan ketika ada pasien yang panas dingin, perut melilit, kepala nyut nyutan, demam, lalu duduk antre bareng pasien yang lain dengan susah payah ke puskesmas untuk mendapatkan pemeriksaan dari dokter.  Ternyata begitu sampai, melakukan antre yang cukup lama, ternyata karena website tidak dapat di akses jadinya pasien tidak mendapat pelayanan lanjutan. 


Terus terang ini menyedihkan.


Masalahnya, dampak website BPJS yang tidak dapat diakses itu berhadapan dengan masalah tubuh bahkan mungkin nyawa manusia.  Ketika aplikasi zoom tidak dapat dibuka untuk kegiatan seminar saja rasanya kesal.  Apalagi ketika tubuh butuh diobati bahkan mungkin perlu mendapat tindakan yang cepat.


Satu sisi, fasilitas BPJS ini banyak membantu dalam menangani kesehatan Ayah, saya dan anak kami.  Khususnya Ayah yang mendapatkan fasilitas kesehatan dari awal tahun 2015 hingga sekarang, mulai operasi otak di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo) lalu keluar masuk rawat inap, rawat jalan di berbagai rumah sakit.  Begitupun saya yang keluar masuk rumah sakit hingga rawat jalan di poli psikiater di RS Melinda karena persoalan lambung.  Anak saya yang kena pneumonia dan lalu harus rutin berobat karena kena TBC paru-paru.  Hidup saya banyak ritmenya.



Kami datang ke puskesmas untuk minta surat rujukan agar bisa rawat jalan di faskes 3.  Kebijakan baru ini muncul sekitar 2 tahun lalu, tahun 2018.  Sebelumnya, kalau kita sudah ditangani di faskes 2 maupun 3 tidak perlu lagi minta rujukan dari faskes 1 dan kedua.  Perubahan ini rupanya biar tidak terjadi penumpukan pasien.  Memang terasa sih jumlah antrian pasien lebih lengang, biasanya antre numpuk tumplek menyebabkan antrian yang panjang dan dokter seringkali kelelahan. 


Kalau dulu untuk mendapatkan nomor antrean BPJS itu bisa dari subuh, lalu jam 7 memasukan berkas, belum selesai baru di panggil satu persatu untuk mendapatkan eligibilitas BPJS agar bisa diperiksa dokter dengan jaminan BPJS. 


Satu sisi saya mengerti strategi ini, namun kasus pasien itu beragam.  Seperti kasus Ayah yang harus rutin rawat jalan (selamanya), obat yang tersedia dan ditanggung BPJS itu hanya di faskes 3.  Situasi ini cukup merepotkan, karena harus mengurus surat rujukan setiap 3 bulan sekali.  Dulu saat suami mengalami kejang lagi, segera saya bawa ke IGD RS Santosa agar dapet penanganan cepat.  Karena di rumah sakit ini merupakan tipe rumah sakit A swasta setara RS Hasan Sadikin, memiliki alat-alat kesehatan yang lebih lengkap.  Terlebih jika harus tes MRI dimana tidak semua faskes menyediakan.  Apa itu MRI?  Browsing aja, yah.  Hahaaaa…


Perlu diketahui, hampir 4 tahun sejak Januari tahun 2014, kondisi fisik Ayah harus dijaga betul.  Dia cepat terpicu aura kejang (bahkan sampai kejang) jika terpapar udara dingin, ngobrol beberapa menit saja, membawa beban berat, situasi yang membuat hati terlalu bahagia atau terlalu sedih.  Saat itu hidupnya seperti terisolir.   




Tahun 2018 Ayah dapat masukan dari Dr. Purboyo Solek untuk konsumsi obat tambahan.  Alhamdulillah, satu bulan sejak makan obat tambahan, pelan-pelan keluhan dan situasi yang memicu aura kejang/kejang semakin berkurang, membaik bahkan kembali normal.  Kamu pernah melihat bunga yang layu, beberapa daunnya mulai berguguran, lalu kembali tegak, daunnya segar dan tumbuh berkilau. Begitulah Ayah. 


Kok, aku mau-an dan ngusahain banget dapet obat yang di tanggung BPJS?  Persoalannya, obat ini harus terus  di makan.  Kebetulan saat itu obat yang dikonsumsi Ayah ini jenis obat baru, harganya cukup tinggi, hanya tersedia di apotik dan rumah sakit tertentu.  Jadi dokter mempertimbangkan masalah harga dan kemungkinan obat ini tetap ada.


Selain itu saya mengalami pengobatan dari era mandiri hingga era muncul kebijakan kesehatan yang diatur pemerintah.  Sebagai anak generasi lahir akhir tahun 70-an, saya mengalami proses pengobatan mandiri.  Kebetulan dari kecil saya “hobi” ketemu dokter, rawat inap dan pernah beberapa kali operasi dari sejak SD.  Saya mengalami lika liku berobat dari satu dokter praktek ke dokter praktek lain, antre apotik, rawat inap hingga operasi di rumah sakit.  Biaya yang keluar tidak sedikit, cukup mengerucutkan hati, bikin tubuh tambah sakit.  Oleh Karen itu, saya bisa membedakan bagaimana rasanya berobat menggunakan BPJS dan tidak menggunakan BPJS.



Biaya yang dikeluarkan untuk rawat jalan pun lumayan, setidaknya harus pegang beberapa ratus ribu rupiah, untuk biaya dokter, obat dan ongkos.
  Tidak hanya persoalan biaya yang harus dikeluarkan, proses antre pun kerap membuat hati tak menentu.  Situasi yang tarik menarik  rasa sakit badan berkaitan dengan rasa takut terhadap diagnose dokter.  Belum menunggu struk harga obat dari apoteker.  Bikin…


Lalu sekitar tahun 2013 pemerintah mengeluarkan BPJS.  Fasilitas ini dikeluarkan karena berbagai persoalan kesehatan di tengah masyarakat yang tidak tuntas.  Penyebabnya karena masalah biaya pengobatan, perawatan dan hal lain yang menakutkan.  Mungkin diantara kalian pernah baca buku Orang Miskin Dilarang Sakit, ini bentuk kritis terhadap pelayanan kesehatan zaman dulu.  Untuk beberapa kelompok orang lebih memilih menahan rasa sakit dibanding harus berobat.


Saya mulai mendaftarkan diri, suami dan anak-anak pada tahun 2015.  Itupun karena suami saya harus menjalankan operasi otak di RSCM (Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo).  Di tahun-tahun pertama muncul BPJS ini, manfaatnya bisa langsung digunakan setelah daftar jadi peserta.  Hanya saja, untuk bisa mendapatkan manfaat BPJS kuncinya harus sabar (dengan huruf besar, ditebalin, dengan ukuran font yang besar).  Maksud saya, kita harus rela jiwa raga untuk mengantre mulai belasan hingga ratusan pasien.  Mulai antre BPJS, antre di poliklinik, lanjut antre obatnya. 


Kenali proses pendaftaran untuk mendapatkan eligibilitas BPJS.  Karena setiap rumah sakit itu karakternya beda-beda.  Ada yang mudah, ada juga yang ribet.  Untuk pengambilan nomor pasien, ada yang bisa daftar melalui aplikasi.  Jadi kita bisa datang sesuai nomor panggilan, bisa agak siang atau lebih pagi sesuai nomor yang didapatkan.  Begitupun ada rumah sakit yang harus antre dari subuh untuk mengambil nomor antrian, lalu datang lagi jam buka BPJS jam 07.00 WIB.  Proses antre ini bisa 2-3 jam.  Kemudian setelah mendapat eligibiltas BPJS, antre lagi di poli yang kita tuju.  Setelah diperiksa, mendapatkan surat rawat jalan, biling harga dokter dan obat.  Kemudian masuk ke ruang biling BPJS setelah semua beres baru lanjut antre untuk pengambilan obat di apotek rumah sakit.


Banyak yang mengeluh dengan proses ini, saya sendiri sudah tidak ada ruang lagi untuk melukai diri sendiri karena situasi yang bukan dalam kendali saya.  Saya hanya perlu mengendalikan layar perahunya dan mengayuh dengan sepenuh hati.      




Note:

Sekadar info tentang tipe faskes yang mesti kamu tahu, agar mengerti pola dan memahami berbagai jenis faskes yang melayani pasien BPJS:   

1.   Faskes tingkat 1 diantaranya puskesmas, klinik, praktik dokter, dan rumah sakit kelas D.

2.    Faskes tingkat 2 diantaranya rumah sakit kelas B dan C.

3.    Faskes tingkat 3 diantaranya rumah sakit kelas A.

Nah, rumah sakit terbagi menjadi beberapa klasifikasi:

1.    Rumah sakit khusus kelas A

Contoh: Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, RSU Hasan Sadikin Bandung, RSU Soetomo Surabaya, RS Cicendo, RS Rotinsulu, RS Santosa Kebon Jati Bandung.

 

2.    Rumah sakit khusus kelas B

Contoh: RS Harapan Kita Jakarta, RS Advent Bandung, RS Al Islam, RS Salamun, RS Immanuel, RS Santosa Kopo Bandung, RS Borromeus.

3.    Rumah sakit khusus kelas C

Contoh: RSUD Kota Tangerang, RS Halmahera Siaga.