Tidak dapat dipungkiri, bahwa setiap manusia akan terus bergerak sampai waktu ditentukanNya. Waktu dan usia akan terus bergerak membawa kita pada berbagai kisah. Setiap kisah menjadi fase bagaimana diri beradaptasi dan mengelola dalam menghadapi berbagai situasi. Hal ini dapat mempengaruhi kondisi tubuhnya, garis muka dan pembawaan diri.

Melewati usia 40 tahun membuat saya menyadari bahwa melewati usia tersebut merupakan fase yang paling istimewa sehingga tertulis dalam kitab suci. Fase matang karena melewati perjalanan hidup paling “istimewa”. Pada usia ini, biasanya manusia mengalami kejadian yang paling berat kemudian akan terus berproses dengan berbagai hal yang disikapi dengan ringan hati.

Perasaan ringan hati dilalui secara bertahap, mulai menolak hingga menerima berbagai situasi. Sampai suatu titik membuat diri merasa ajeg pada pilihan dan keyakinan, bahwa berbagai tempaan dan berbagai perubahan sebagai bentuk syukur.

Rasa syukur ini kerap membuka kejadian dan berbagai pertemuan yang membuat hidup bertambah menarik. Kita tidak bisa menghentikan waktu, yang perlu kita kelola yaitu bagaimana kita mengelola waktu dengan menghargai keberadaan diri dan kehidupan. Bentuk syukur itu berproses, bahkan bisa jadi tadinya belum disadari bahwa bersungguh-sungguh dalam proses menjadi bagian dari rasa syukur itu.

Rasa syukur itu ternyata perlu disadari penuh. Proses penyadaran ini seringkali unik dan tidak disangka-sangka. Saat saya membuka folder foto, saya temukan beberapa foto saya saat masih remaja SMA, kuliah juga foto saat punya anak pertama. Ingatan mental saat itu terbangun kembali, saat itu saya tidak pernah merasa cantik karena kulit muka yang tidak bagus. Tapi begitu saya lihat saat ini, pada usia berlipat-lipat, saya seperti melihat sosok perempuan yang harusnya saat itu merasa cantik. Karena ternyata wajah saya cukup menarik juga.

Akhirnya saya coba lebih menyukuri apa yang sudah menerap/kejadian tubuh dan wajah saya sekarang ini. Caranya, saya coba untuk lebih memelihara dan menghargai tubuh yang sudah diciptakanNya. Mau membuka diri untuk mencari tahu cara merawat agar kulit saya yang sudah sering terpapar radikal bebas akan lebih bahagia menjalani hidupnya.

Memelihara diri dalam usia seperti sekarang ini terus dipelajari, karena saya bertekad mau lebih berbuat baik dan mensyukuri apa yang ada dan apa yang saya miliki sekarang ini.




Pertemuan dengan Scarlet Serum

Dulu saya asing dengan serum kulit muka. Saat ini saya menyadari, merawat kulit muka itu penting. Banyak contohnya yang berhasil merawat diri dengan baik dan disiplin bisa membuahkan hasil.

Pertama, harus disadari dulu bahwa apa yang tersimpan di dalam hati akan berpengaruh pada garis muka dan sorot mata. Semua syaraf di hati akan tarik menarik dengan segala unsur syaraf kerut wajah, sorot mata, garis bibir lalu berbagai hormon emosi akan menyampaikan pada berbagai sudut tubuh. Hal ini yang menyebabkan garis-garis halus lebih banyak.

Kedua, kenali kebutuhan tubuh dan wajahmu. Kalau kulit kita berjerawat, berarti wajah perlu perawatan rangkaian face care. Kalau seperti saya membutuhkan serum yang membuat kulit wajah jadi cerah dan menyamarkan garis-garis halus di wajah.

Ketiga, olah raga yang sesuai dengan usia saya sekarang yaitu yoga, jalan kaki dan senam ringan.

Ketiga, mengolah hati dengan beribadah dan baca buku.

Keempat, lakukan hobi, terus berlatih lalu belajar dari orang memiliki keahlian yang bagus.






Saat ini saya menyadari pentingya rutin melakukan face care terutama setelah melakukan perjalanan jauh. Namun rutinnya setiap pagi sesudah mandi pagi. Ah, tidak apa-apa baru menyadari dan diusahanan untuk terus merawat kulit wajah.

Informasi Face Care Scarlett muncul di berbagai beranda media sosial. Saya tertarik untuk mencoba sampai akhirnya terus menggunakan sampai saat ini. Terutama sabun muka, toner, serum dan cream malam. Saya memutuskan menggunakan rangkaian face care dari Scarlett karena cocok dan terasa ringan di kulit muka. Kalau tidak cocok, kulit wajah saya reaksinya cepat, seperti tiba-tiba muncul jerawat, gatal-gatal, kulit kering.

Saat ini serum Scarlett sudah habis, terasa sekali kalau pakai serum kulit wajah jadi terasa lebih lembut dan tidak gatal-gatal karena sering tertutup masker. Rupanya Scarlett mengeluarkan serum baru, yaitu Glowtening Serum Scarlett. Berdasarkan info dari berbagai media, kalau serum ini memberi banyak manfaat, diantaranya:
  • Membantu mencerahkan kulit wajah.
  • Membantu kulit wajah jadi glowing.
  • Membantu memudarkan bekas-bekas jerawat.
  • Menyamarkan garis-garis halus dan flek hitam pada wajah.
  • Menenangkan dan memperbaiki skin barier.

Sebelum memutuskan menggunakan face care Scarlett, saya coba perhatikan secara teliti mulai dari izin dari pemerintah dan memperhatikan bahan-bahan yang terkandung dalam produk tersebut.

Contohnya seperti ini, saya tertarik untuk membeli Glowtening Serum Scarlett karena serum ini baru dikeluarkan oleh Scarlett. Alasan saya membeli dan menggunakan produk tersebut diantaranya:
  • Teruji bebas Mercuri dan Hydroquinone.
  • Registered by BPOM
  • Saya membutuhkan serum agar kulit wajah lebih sehat, terawat dan bersih.

Jadi, tidak ada kata terlambat untuk terus merawat diri. Ini langkah-langkah sederhana tapi rutin yang bisa dilakukan untuk terus merawat perubahan tubuh tetap sehat dalam usia yang terus bertambah.


***Mencari info keaslian produk melalui link: 
https://verify.scarlettwhitening.com/

***Agar lebih aman mendapatkan produk asli, lebih baik order melalui:
https://linktr.ee/scarlett_whitening



Foto: Besti Rahulasmoro

Aku kirim proses sunyi yang berisi gemuruh diantara gemuruh yang memenuhi tiap sudut ruang. Sebuah buku yang dipenuhi berbagai gambar sebagai proses refleksi penemuan dan berdamai dengan diri. Saat proses melakukannya tanpa tujuan atau tak ada pencapaian yang sifatnya membesarkan diri, tapi merasa bahagia saja sudah merasa cukup. Lalu biarkan saja dia menemukan jalannya.

Langkah ini dilakukan sebagai upaya menerima jalan semesta. Sebagai bentuk menghormati diriku sendiri pada setiap proses yang kerap mencari dan memecahkan setiap kesunyian.

Sunyi itu pelan-pelan dipahami sebagai caraNya berkomunikasi dengan diri. Hingga si jiwa menemukan dunia yang menjadi akrab. Dunia laku, kata-kata, nada hingga garis. Setiap kata dibalik kertas, layar, suara menjadi energi yang terus mengalir dan mengisi di setiap sudutnya.

Suatu musim aku dipertemukan kembali dengan si garis yang pernah aku simpan lama. Seperti bertemu sahabat lama, tanganku terus bergerak menggaris membentuk lekuk, titik, lingkaran, segitiga pelan-pelan meredakan setiap luka. Selesai menggaris membuat setiap ingatan luka yang berlapis-lapis pulih begitu saja. Bahwa tubuh dan jiwa ini selalu merasa cukup dan menemukan tempatnya. Semua diri memiliki fungsi masing-masing.

Setiap musim bergerak dan terus berganti, proses sunyi bergerak menangkap setiap tanda. Kadang berjeda, kadang tidak mengenal waktu, setiap garis dan kata menemukan tempatnya sendiri. Lalu perlahan bertumbuh, berbunga lalu berbuah.

Sesaat di balik jendela bayang matahari bermain-main mengajak kita keluar untuk berhenti bergerak. Mengikuti hawa panas dan menjadi bayang. Seolah proses yang dijalani seperti menulis di atas air, lenyap mengikuti alir. Namun seseorang berbisik dibalik setiap ranting, teruslah bergerak, karena Pemilik Semesta tidak pernah tidur.

Lalu aku pun memilih terus bergerak, karena setiap kejadian apapun ternyata baik. Saat dipatahkan, dilukai, dialiri air, menjadi tempat hinggap ternyata dapat menjadi bagian dari proses memelihara dan menumbuhkan. Pemilik Waktu tahu setiap detil bagian dari proses pemeliharaan. Meskipun terkadang berat, nanti akan faham bahwa semua proses merupakan bagian fase bertumbuh. Bahwa setiap kejadian akan menjadi baik dan menambah setiap lapis dirimu.

Semoga gemuruh itu bertemu dengan siapapun yang mengapresiasinya.

Kalau mendengar kata Yordan, imajinasi kita dibawa ke dataran Arab dengan berbagai budaya yang menarik dan peninggalan bangunan bersejarah.  Sebuah negara yang dikelilingi Arab, Irak, Palestina dan berdekatan dengan Mesir.  Terbayang bagaimana situasi, suasana dan budaya yang tumbuh di sana.  Begitupun dengan sea salt, saat ini zat ini sedang jadi perbincangan karena memiliki kandungan yang menarik untuk merawat kesehatan dan kecantikan tubuh. 

Sementara itu, di Yordan juga ada wilayah Yordanian Sea Salt terkenal sebagai laut mati.  Sea salt yang mengelilinginya ini ternyata  mengasilkan kandungan yang banyak dimanfaatkan orang-orang untuk produk kesehatan dan kecantikan.  Tak hanya dimanfaatkan oleh negara-negara tertentu, kini di Indonesia bisa menggunakan manfaat kandungan sea salt dalam bentuk shampoo dan conditioner yang dikeluarkan oleh Scarlett.   

Saya tertarik untuk mencobanya, terlebih begitu baca-baca no animal testing.  Saya dan suami sering mengalami kondisi rambut cepat lepek, kalau stress rambut rontok, agak berkeringat kulit kepala muncul ketombe.  Kondisi kulit kepala yang tidak nyaman ini cukup mengganggu, sangat terasa ketika dibawah matahari langsung atau seharian di luar.  Kondisi rambut jadi tidak nyaman.

Agar praktis, saya coba pesan lewat Shopee.  Sebetulnya selain Shopee ada beberapa pilihan link cara memesan produk Scarlet secara online di sini.  Hanya beberapa hari, paket shampoo dan conditioner Yordanian Sea Salt Scarlett dikirim lewat ekpedisi.  Awalnya saya agak khawatir dengan kondisi pengiriman barang yang sifatnya cair.  Tapi ternyata produk ini dikemas rapi.  Biasanya kalau produk cair akan sulit dikirim karena khawatir terjadi kebocoran.  Namun pihak Scarlett mengirim produk dengan rapi.


Begitu paket sampai di rumah, shampoo dan conditioner dikemas lagi oleh kotak dus, dibungkus oleh bobble wrap.  Tak hanya itu, botol shampoo dan botol conditioner disegel plastik dengan tekstur plastik yang keras.  Kemasan segel plastik saya buka dengan bantuan cutter, plastik yang membantu bagian penutup botolnya.  Kalau nanti mau pesan online Yordanian Sea Salt online lagi, rasa khawatir kebocoran bisa dihiraukan.

Sudah beberapa minggu ini, saya lebih banyak menghabiskan waktu di luar.  Alhasil begitu sampai di rumah, sisa bau asap knalpot, rambut berminyak, kulit kepala gatal dan lepek bercampur jadi satu.  Cuaca juga terasa lebih panas dari biasanya.  Lengkaplah sudah kondisi kulit kepala yang cukup mengganggu.  Saya coba mencium aroma shampoo dan conditioner tersebut, ternyata aromanya membuat saya terasa di dalam ruangan yang bersih, wangi, dikelilingi tanaman hijau terawat.

Aku rasa, mandi dan keramas jadi waktunya me time.  Sejak sore itu saya pergunakan shampoo dan conditioner Yordanian Sea Salt untuk membasuh rambut.  Rasanya semua wangi mempengaruhi suasana hatiku.  Rupanya ini dia wangi khas magnolia yang berkelas,  Seperti mendapat perawatan rambut yang maksimal.  Dalam proses menggunakan shampoo ini rasanya ingin berlama-lama.  Bisa jadi wangi magnolia menentramkan hati dan memberi energi yang menyenangkan hati.

Setelah rutin menggunakan shampoo dan conditioner Sea Salt, kami mendapatkan kondisi rambut yang segar dan berkilau.  Rambut yang biasanya rontok saat shampoo digosok ke kulit kepala.  Kulit kepala terasa lebih bersih.  Ketika rambut kering, wangi kondisi rambut jadi terasa bervolume. 

Ternyata kondisi rambut yang saya rasakan ini sesuai dengan manfaat yang diberikan oleh Yordanian Sea Salt.  Dintaranya:

1.       Membuat rambut lebih berkilau.

2.       Menyehatkan folikel rambut dan kulit kepala.

3.       Mencegah rambut rontok dan bercabang.

4.       Menguatkan akar rambut

5.       Memberikan volume pada rambut.

6.       Membersihkan kulit kepala.

7.       Mengontrol kadar minyak pada kulit kepala.

Kondisi rambut yang makin lama makin terasa bervolume dan berkilau, kandungan Sea Salt ini yang ternyata punya peran penting.  Diantaranya:

1.       Menyerap minyak berlebih pada kulit kepala.

2.       Membantu mengatasi penumpukan kotoran yang melekat di kulit kepala/

3.       Membatu membuka kutikel rambut sehingga perawatan selanjutnya akan menyerap dengan baik.

Kini aktivitas sehari-hari lebih terasa nyaman dan tak perlu khawatir rambut rontok dan berminyak karena harus ditutup kerudung berlama-lama.  Karena nyaman, saya menjadi percaya diri dan bisa bebas melakukan berbagai kegiatan kreatif baik di dalam ruang maupun di luar ruang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 








Sabtu sore ini menjadi ruang hening yang berharga. Ditemani segelas kopi Vietnam drip dan sepotong bolu marmer. Di halaman rumah anak-anak muda berlatih teater, di bawah rimbun pepohonan, langit sendu sedikit gerimis. Lagu Yesterday nya The Beatles jadi tidak terlalu menyayat hati lagi, ya, hari kemarin tidak lagi dirindukan. Saat ini, hari ini memberi ketentraman tersendiri disebabkan hiruk pikuk hari-hari lalu penuh gelombang. Rasa tentram yang dilalui proses “mahal”.

Saat ini saya rindu Holis. Padahal baru beberapa jam lalu dia pergi ke Galeri Pusat Kebudayaan YPK untuk menghadiri pembukaan pameran Marakayangan Drawing. Saya tidak ikut karena Amih tidak ada yang menemani. Biasanya kalau saya harus pergi, kakak saya-Teh Ida-akan menemani Amih di rumah. Tapi hari ini Teh Ida cukup sibuk karena ada 2 orang yang pesan nasi tumpeng, saya fikir dia pasti lelah. Jadi saya memutuskan tidak ikut Holis untuk menemani Amih dan anak-anak.

Lagi pula seminggu kemarin, tiap hari keluar rumah mengikuti proses magang di Rumah Belajar Semi Palar. Bahkan Jumat sore kami kedatangan pasangan #duoraji Kak Wawa dan Kak Satto dari Tangerang bersilaturahmi ke rumah lalu mereka mengajak kami makan malam di luar. Sebetulnya selain makan, lebih banyak menghabiskan waktu dengan diskusi, ngobrol sampai lupa nyeruput segelas kopi.

Obrolan bergulir banyak sekali, terutama proses mereka mengelola komunitas Blogger Crony. Bagaimana kaitan proses hidup yang terjadi sebetulnya dipersiapkan untuk pilihan hidup dia hari ini atau bahkan lebih banyak hidup yang memilihnya.

“Sebetulnya apa yang kita lakukan saat saya jadi jurnalis, EO dan sebagainya menjadi bekal apa yang saya lakukan dalam mengelola komunitas ini. Banyak sekali manfaatnya. Saya selalu percaya, apapun yang kita kerjakan hari ini sudah dipersiapkan di masa lalu.” Ungkap teman.

Saya juga cerita banyak tentang dapat kesempatan magang di Rumah Belajar Semi Palar. Hal yang menakjuban justru karena kesempatan itu hadir di usia saya saat ini. Di tengah persyaratan umum di tengah penerimaan pegawai, usia sering menjadi batasan.

Itulah sebabnya bertahan menikmati menulis dan menggambar sebagai proses memelihara diri. Kedua aktifitas ini tidak mengenal batasan usia, saya menikmatinya. Situasi yang kerap patah tumbuh ini saya serahkan pada semesta, saya fikir selama kita masih dikasih kesempatan hidup ya artinya terus belajar dan mengasah diri berapapun usia kita.

Kejutan lain, proses itu ternyata membuat saya dapat kesempatan ikut pameran Bandung Artist's Book. Saya ikut open call pameran ini karena konsepnya menarik, media yang dipamerkan berupa buku yang berisi berbagai coretan, doodle, permainan kata-kata dan konsep berkarya dari seniman itu sendiri. Kebetulan konsep pameran yang ditawarkan ini sesuai dengan aktifitas yang saya “buat” selama ini. Projek bahagia untuk diri sendiri. Buku ini saya beri judul Jurnal Healing Ima: See. Hear. Feel. Isinya proses latihan menggambar zenart/zentangle atau sekilas orang-orang menyebutnya doodle.

Lagi-lagi, buat saya ini pameran pertama di usia saat ini dan proses panjang menemukan diri di tengah gegap gempita dunia seni rupa. Sangat mungkin akan muncul berbagai persepsi dan berbagai pendapat karena saya bukan seniman spesifik. Saya hanya menjalankan kesempatan untuk memelihara tubuh dan jiwa dengan memilih menulis dan menggambar. Buat saya, proses ini bagian dari penemuan diri dan memberi kesempatan untuk mencintai diri sendiri.

Saya tidak tahu akan tidak mudah atau mungkin akan sangat mudah menghadapinya. Saya yang sekarang rasanya lebih baik-baik saja merespons apapun itu tanpa merasa terbebani. Karena sadar bahwa proses menulis dan proses menggambar ini membuat saya bahagia.

Hal ini disadari ketika banyak hal terjadi hingga satu titik bersetuju untuk berhenti berharap orang lain memberi kebahagiaan, memberi penghargaan dan menaruh perhatian. Diri sendirilah yang membuka kesepatan itu. Merasa cukup dan terus berlaku tanpa menaruh banyak harap. Berapapun besar kesempatan yang ada, kalau kamu tidak percaya pada kemampuan diri dan Pemilik Diri, kita hanya tubuh yang stagnan dan jiwa yang lelah.

Ketentraman yang diberikan segelas kopi Sunda Hejo sore ini, menjadi gambaran panjang proses hidup. Rasa pahit yang dihadirkan kopi membuat segar dan bersemangat. Begitupun hidup, seringkali proses pahit yang dijalani dimasa lalu menjadi energi dan bekal untuk menghadapi hidup saat ini.



Mengenal Diri dari Inner Child

“Tidak mungkin kita bisa menjalin hubungan hangat dengan orang lain, kalau kita belum bisa menjalin hubungan hangat dengan diri sendiri.” - Diah Mahmudah , S. Psi

Saya lahir dari keluarga besar dalam artian jumlah. Banyak pengalaman positif maupun negatif yang didapat dari proses hidup. Saat tumbuh remaja, rasanya makin hari situasi bertambah rumit. 

Kakak saya 15 orang, bahkan ada yang sudah menikah lalu memiliki anak saat saya belum lahir. Saya anak bungsu yang berteman dengan keponakan juga beberapa kakak yang masih sekolah. Sementara kakak-kakak saya yang udah berkeluarga terkuras perhatiannya dengan proses membangun keluarga kecilnya.

Saya kecil ingin banyak tahu dan aktif. Selain mendapat pengalaman batin yang menyenangkan tentu saja mendapat pengalaman buruk pula. Baik dalam lingkungan keluarga maupun luar lingkaran keluarga yang berpengaruh pada iklim suasana pertumbuhan diri. Saya kecil hingga tumbuh dewasa, kerap melihat, mendengar, merasa berbagai masalah. Sehingga saya bisa cepat merasakan suasana kemarahan, permusuhan maupun pengabaian. Mungkin karena itu saya sering mengalihkan pikiran dan perasaan dengan membaca dan duduk di atas atap.

Selain itu, seperti halnya keluarga besar lain dengan ilmu pengasuhan orang tua yang turun menurun. Kami sering mengalami pengasuhan dengan cara dibandingkan, dinilai secara fisik, hingga perlakuan perhatian, sampai kurang apresiasi. 

Sehingga muncul perasaan-perasaan iri, cemburu, menahan amarah, muncul pergesekan dan persaingan satu sama lain yang membentuk masing-masing memiliki sikap, karakter dan kepribadian berbeda-beda. Ada yang mengelolanya menjadi kekuatan namun ada yang menjadi lemah. Meskipun setelah dewasa baru bisa memahami dan menerima, bahwa cara itu “dianggap” salah satu cara orang tua untuk memotivasi.

Proses pengalaman saling dukung, suka bercanda, pergesekan, saling bersaing antar saudara, menjadi referensi mental dalam membentuk pola pikir dan tentu saja mengasah pergulatan diri. Hal ini mempengaruhi pengalaman kehidupan bertumbuh saya. Baik yang diintervensi dari orang tua, kakak-kakak, kakak-kakak ipar hingga keponakan. Semua kejadian dari masa kecil, seperti slide film yang terus menerus mempengaruhi dalam proses naik turun dalam mengelola diri.

Seringkali, saya dihadapkan pada situasi untuk mengambil keputusan. Ternyata, meskipun sudah memaafkan bahkan melupakan, ternyata di alam bawah sadar, seringkali luka dan suka di masa lalu mempengaruhi sudut pandang dan tingkat keberanian/ketakutan dalam melihat masalah.

Bisa jadi ketika masalah muncul, seperti membongkar luka batin maupun rindu kehangatan di masa lalu. Beberapa situasi saat ini memunculkan berbagai emosi, ada yang tepat namun ada yang salah dalam menempatkan emosi. Rupanya semua itu dipengaruhi oleh inner child atau ada masa lalu yang belum pulih.



Memulihkan Inner child




Inner child adalah sekumpulan peristiwa masa kecil yang baik atau buruk yang membentuk kepribadian seseorang. Kompleksitas mental yang mempengaruhi kepribadian itu dipaparkan secara lepas dalam acara Bincang ISB pada hari Sabtu kemarin, 19 Maret 2022.

Saya dan teman-teman ISB (Indonesia Social Blogpreneur) mendapatkan pengetahuan tentang jiwa dan proses batin perilaku manusia yang dipengaruhi oleh inner child. Dengan narasumber pasangan psikolog, Diah Mahmudah , S. Psi dan Dandi Birdy, S. Psi (Psikoterapi dan founder biro psikologi Dandiah) yang dipandu langsung oleh Ani Berta (Blogger dan founder komunitas ISB).

Selama ini prioritas kita mengelola hidup saat ini untuk mendapatkan masa depan yang baik. Namun dalam perjalannya, seringkali sikap, sifat dan prilaku kita dipengaruhi oleh emosi masa lalu.  Ingatan itu, baik rasa maupun pikiran, terus menggelantung dalam ingatan kita. Meskipun saat ini sudah berperan sebagai orang tua, konselor dan profesi lainnya, ternyata akan kesulitan jika kita masih belum membasuh, mengobati dan belum menyelesaikan luka masa lalu.

Emosi yang belum diperbaiki ini akan berpengaruh pada kualitas mindfullnes diri. Seringkali tubuh ada disini, namun pikiran membelah kemana-mana. Situasi semakin rumit dan kacau ketika tubuh ada di sini namun pikiran terbelah ke masa lalu, memikirkan masalah yang terjadi pada saat ini, lalu bercabang pada masa depan.

Mindfullness ini berpengaruh pada cara berinteraksi dan sudut pandang dalam menghadapi hidup. Banyak faktor yang mempengaruhi kualitas mindfulness kita, salah satunya yaitu inner child.

Pada dsarnya, anak perlu tahu dan mengalami berbagai macam rasa/emosi. Baik senang, bahagia, sedih, marah, dan perasaan lainnya sebagai referensi emosi yang berpengaruh pada interaksi dalam hidup. Jika perasaan ini diperoleh lalu dapat mengelolanya, maka kita bisa memiliki kendali yang bagus dalam mengendarai kehidupan. Tentu saja mengelola emosi ini bagian penting dari proses belajar berinteraksi dengan lingkungan.

Mengenal inner child tidak melulu tentang diri yang terluka, bukan hanya sisi gelap saja. Kita dapat memaknai fase ini dengan benar, sungguh-sungguh sehingga kepribadian kita utuh dan penuh dalam menyambut tujuan di masa depan. Berikut kalimat yang pas dari Gus Baha:

“Manusia diberi masalah agar menjadi pintar.”

Inner child ini adalah masalah yang perpengaruh pada pergolakan pikir dan batin manusia yang membentuk karakter. Namun jika kita mampu mengelola inner child dari sisi positif, akan menjadi kekuatan tersendiri dengan melakukan:

Forgiveness (memaafkan)

Empowering

Keberdayaan

Gratefull (bersyukur)




Tujuan mengenal inner child agar kita bisa terus berjalan ke depan.  Tapi ketika pergerakan itu masih ada ganjalan di hati tentu akan menjadi sulit. Karena ketika inner child itu belum dikelola dengan baik, akan membuat tubuh kita tidak sesuai dengan usianya. Meskipun usia kita 40 tahun, namun usia mental kita bisa jadi masih 10 tahun. Yang terjadi, kita kesulitan dalam menghadapi tantangan.

Jika kita tidak dapat mengelola mental sesuai usia tubuh, hal ini akan berpengaruh buruk dalam melakukan hubungan sosial, baik dalam pekerjaan, interaksi dengan pasangan, hingga proses pengasuhan. Ketika usia mental kita masih anak-anak, akan menghadirkan:

1. Egosentris (berpusat pada diri). Sifat ini kerap menuntut orang lain untuk berprilaku baik kepadanya. Seperti:

- Kamu yang kasih, nanti aku kasih

- Kamu yang berubah, nanti aku berubah

- Kalau kamu berbuat baik, aku juga akan berbuat baik padamu



2. Bad angger management

Anak-anak akan mudah terluka batinnya jika diasuh oleh orang tua yang punya kualitas angger management buruk. Oleh karenanya, kenali emosi marah kita lalu kendalikan sesuai proporsinya.

Masalah akan terus hadir sesuai usia dan kemampuan diri, baik dalam bentuk suka maupun luka. Intervensinya dari lingkungan terdekat kita, yaitu orang tua, saudara, teman-teman dan lingkungan sekitar. Menjalani semua proses interaksi itu akan mempengaruhi mental dan sikap kita. 

Situasi yang menyebabkan suka maupun luka akan menjadi kekuatan atau melemahkan tergantung bagaimana sudut pandang kita melihat masalah itu.  Setiap kejadian pasti ada maknanya dengan cara dicari ilmunya agar kita dapat memahami setiap kejadian.

Karena, kita tidak bisa menuntut mengembalikan masa kecil sesuai harapan.  Juga kita tidak bisa terus menerus menyalahkan salah pengasuhan, salah orang tua dan orang lain. Tapi kita bisa memulai dari menerima situasi dan memperbaiki yang ada di dalam diri dengan mengubah sikap dan paradigma berfikir kita. Sikap itu domainnya ada 3:

1. Mengelola mindset dalam melihat masalah

2. Feeling: konten positif atau konten destruktif

3. Acting: Laku. Mindset dan feeling tidak akan terjadi jika masih negative thinking dan negative feeling

Menyelesaikan luka inner child itu bukan untuk mengubah takdir, bukan untuk menyalahkan orang tua. Tapi untuk mengubah reaksi dan sudut pandang kita pada takdir. Karena tetap yang bertanggung jawab memulihkan berbagai hal yang melukai mental kita adalah diri kita sendiri

Saya percaya, setiap orang sebetulnya ingin hidup tenang.  Lelah dengan mengingat sesuatu yang buruk, lelah dengan penyesalan, lelah dengan rasa-rasa negatif dan ingin lepas dari pikiran-pikiran buruk.  

Ternyata kuncinya ada di diri kita, mengubah persepsi dan mengelola hati secara positif.  Mengubah persepsi luka batin masa lalu direspons dengan positif.  Mau menerima berbagai respons negatif dimaknai positif.  Rupanya tidak hanya batin lebih tenang, tubuh pun terasa lebih sehat.