Jembatan di tengah hutan Gunung Puntang.


Bersama anak-anak calon anggota stuba, saya melakukan olah sukma atau semacam meditasi. Menikmati cuaca Puntang yang dingin, desir pepohonan, suara binatang, tawa anak-anak. Sangat menenangkan. Ada kesadaran penuh, bahwa tubuh ini, kaki ini berdiri, melangkah, merasa. Nafas ini mengisi setiap rongga paru, menyusur ke seluruh sel tubuh.

Gunung Puntang. Layaknya kopi yang dilahirkannya, lekat, kokoh sekaligus anggun. Hutan pinus berjajar tentram, menari pelan dimainkan angin, dingin, daun-daun pun riuh. Satu persatu bajing berlari dari pohon ke pohon, sementara jangkrik memainkan suaranya seakan menyambut sore selepas hujan.

Bertahun-tahun tidak berdekatan dengan hutan, pepohonan rindang, desir jernih sungai. Hari itu langit menjadi begitu akrab, hanya sekali hujan menyapa lalu matahari sore mendekap erat menghangatkan pohon pinus dan beringin yang rimbun. Mereka seolah menyambut kami dengan ribuan rindu. 




Seperti mendapat hadiah akhir tahun, kami berkesempatan menikmati alam terbuka selama 2 hari, 23-24 Desember 2018, saat anak-anak mulai libur sekolah. Semua keputusan dilakukan dengan tiba-tiba, seorang teman mengajak kami ikut acara Diklat Alam yang dilakukan oleh STUBA (Studi Teater Unisba) angkatan 29. 29? Dari sana saya tersadar bahwa kami terpaut jauh sekali hingga 21 angkatan. Bisa jadi ada orang tua mereka seumur kami, calon kakak-kakaknya. 





Sebelum saya punya anak, artinya sekitar 10 tahun, setidaknya setahun sekali kami kemping. Tidak hanya mengikuti acara, tapi “hadiahnya” berupa self healing. Otak dan hati serasa mendapat segelas vitamin saat kaki bersentuhan dengan alam, tubuh terlentang menatap langit, pepohonan, menghirup udara, menyentuh ilalang, menangkap angin.



Menuju Puntang

Awalnya kami dapat undangan di whatsapp grup dari mahasiswa pengurus STUBA, kalau mereka akan mengadakan Diklat Alam di Bumi Perkemahan Gunung Puntang. Tadinya saya hanya sekedar tertarik saja ingin datang ke acara tersebut, rupanya Yudi Buls dan Iskandar merespons baik. Mereka mengajak Ayah untuk datang ke acara diklat alam. Saya dan Ayah pun akhirnya mau datang, lagi pula Iskandar bawa mobil dari Cibinong jadi kami ikut nebeng.

Obrolan di Whatsapp pun jadi rame, koordinasi teknis pertemuan dan keberangkatan. Akhirnya diputuskan kalau Iskandar mau menginap dulu hari Sabtu di rumah saya, sementara Yudi buls dan Ariq (anaknya Yudi) juga Ardhi berangkat duluan di hari Sabtu menggunakan motor. Barulah hari Minggu pagi kami berangkat bersama ke Puntang. 



Karena tidak bersama anak-anak, persiapan dilakukan malam hari. Saya dan suami hanya membawa sepasang baju ganti, mukena, handuk, alat mandi, obat-obatan pribadi, lotion, alat makan, handphone dan powerbank, hanya senter yang tak terbawa. Ada beberapa barang lain yang PENTING dibawa, yaitu: alat seduh kopi, seperti teko dan V60. Kami mau ke hutan, sayang sekali tidak menikmati teduhnya hutan dengan segelas kopi.

Sambil berangkat, saya minta mampir dulu di mini market untuk beli beberapa camilan. Meskipun kata teman yang sudah ada di lokasi perkemahan, disana pun ada warung nasi dan jajanan lainnya. Tapi kita tidak tahu kondisi alam seperti apa, jadi saya bawa camilan padat seperti marie, permen, cokelat, teh, minuman cokelat seduh, keripik dan roti sobek. Biasanya kalau cuaca dingin dan kumpul dengan teman-teman, maunya ngemil-ngemil dan ngopi bareng sambil ngobrol. Cuma saya lupa bawa jagung mentah untuk dibakar di lokasi.

Tips saya kalau pergi berkemah tipis-tipis, bawalah baju ganti secukupnya. Setidaknya baju ganti digunakan kalau kena air hujan dan kena nanjis. Bawa makanan pun secukupnya saja, setidaknya untuk memenuhi kebutuhan tubuh kita selama kita di gunung. Cari menu makan yang bergizi dan paktis agar tubuh kita tetap bugar.



Lokasi Puntang

Gunung Puntang letaknya di Desa Puntang, Kecamatan Cimaung, Banjaran, Bandung, kalau dari arah Bandung kota kita bisa masuk lewat jalan tol Pasteur mengikuti jalur Soreang. Rupanya di pertengahan jalan ada 2 sign sistem yang menunjukan Soreang ke kanan dan Soreang-Pangalengan ke kiri. Waktu berangkat kami mengikuti Soreang ke kanan maka keluarnya lewat gerbang tol Kopo. Dari sini kami melewati jalan perkotaan, bukan tol lagi. Lain lagi kalau ambil jalur Soreang Pangelangan ke arah kiri, kita akan diarahkan keluar gerbang tol Soreang sehingga lebih memotong waktu perjalanan. 





Dari Soreang kamu bisa mengikuti petunjuk arah ke arah Pangalengan, manfaatkan masyarakat setempat sebagai petunjuk atau gunakan GPS. Untuk beberapa provider tertentu, masuk keketinggian di pegunungan Puntang jaringan mulai hilang, tapi begitu kita masuk ke jalan yang memang sudah ke arah Gunung Puntang, kita sudah aman kok, karena tidak ada jalur atau belokan lain yang membingungkan kita untuk memilih jalan.

Nah, kalau kamu memilih menggunakan transportasi umum, bisa naik angkot dengan tujuan akhir Soreang atau Dayeuh Kolot. Setelah itu, perjalanan dilanjutkan lagi dengan naik angkutan umum yang menuju ke arah Cimaung dan turun di Bumi Perkemahan Gunung Puntang. Perjalanan dari Bandung kota menuju lokasi sekitar 1 jam 30 menit dalam keadaan lancar dan tidak banyak berhenti.



Suasana di Gunung Puntang

Begitu masuk ke gerbang Gunung Puntang, kita akan ditarik tiket Rp. 25.000/orang. Bisa jadi tarif agak tinggi karena waktu liburan. Tingkat wisatawan yang datang cukup banyak, kiri kanan banyak sekali tenda yang berdiri. Warna-warni, lengkap dengan alat masak dan beberapa kayu bakar yang sudah dipersiapkan untuk menyiapkan waktu malam. Sekelompok anggota keluarga dan sekelompok remaja liburan di alam terbuka. Ada tawa, permainan gitar, beberapa tengah jalan kaki sambil menggunakan ponco. Jalanan agak becek, sepertinya baru selesai hujan. Menyenangkan sekali. Kami sampai cukup kesulitan mencari tempat parkir. 




Akhirnya mobil Iskandar pun parkir di dekat warung-warung yang berajajar di dekat perkemahan. Beberapa adik stuba menyambut kami, hangat. Beberapa pengurus perempuan tengah memasak menyiapkan makan siang untuk para calon anggota.

Kami diarahkan untuk melapak tenda, tepat di sebelah tenda pengurus. Sebetulnya agak lucu juga sih, tenda yang kami pasang hanya berjarak sekitar 20 meter ke arah warung dan toilet umum. Jadi jangan dibayangkan kita berada di hutan yang sepi, jauh kemana-mana dan harus membuat toilet darurat. Lokasi kami sangat dekat dengan anak sungai, bahkan toilet yang terbilang bersih untuk posisi di perkemahan. Bahkan kalau mendadak lapar, bisa jalan ke warung untuk beli nasi bungkus, telur dadar dan bala-bala.

Meskipun sudah banyak warung dan tersedianya toilet, di perkemahan ini menarik, ada sungai-sungai deras dan mengalir ke anak-anak sungai yang bersih dan bening. Air sungai ini yang dimanfaatkan penduduk dan para wisatawan untuk mandi, cuci, kakus yang disalurkan ke toilet umum. Air bersihnya terus mengalir, sehinga kalau kamu mau mandi sepuasnya pun tidak akan habis-habis. Airnya dingin sekali seperti baru keluar dari dalam kulkas. Meskipun dingin, tapi saya merasa sangat bersih buat cuci tangan, wudhu sampai mandi. Hhmmm... tidak berani sampai mandi juga, sih. Heheheee... 



Disekitar kami tempat mendirikan tenda, ada bekas reruntuhan bangunan seperti bekas sebuah pemukiman. Reruntuhan bangunan itu batunya besar-besar, khas bangunan yang dibuat oleh orang Belanda. Bisa jadi sisa reruntuhan itu tadinya bekas rumah pengelola stasiun radio Hindia Belanda terbesar pada zamannya. Karena susunan reruntuhan itu serupa bangunan rumah berbentuk persegi. Saya jadi membayangkan suasana saat itu. 



Saya dan Ariq-anaknya Yudi- lalu keliling bumi perkemahan, ya, mungkin karena musim liburan, jadi lokasi perkemahan cukup penuh dengan tenda-tenda kecil maupun besar. Meskipun di hutan, tapi beberapa titik tetap rame oleh pengunjung. Sekalipun rame, kondisi hutan masih cukup terjaga, kiri kanan pohon lebat, baik pohon pinus yang menjulang, pohon cemara, ilalang, jalanan masih tanah dan bebatuan. Semua masih alami.

Ditengah perjalanan, saya bertemu dengan para calon anggota dan pengurus tengah melakukan pengarahan di bawah pohon beringin. Indah. Seketika hujan cukup deras tapi airnya tertahan oleh pohon yang lebat. Hanya sebentar, hanya 1-2 menit saja. Lalu disusul oleh cahaya matahari sore. Seperti percampuran teh baru diseduh dengan air panas, warna coklat muda keluar lembut. Dia memankan warna dan kehangatan sore melalui celah-celah dedaunan. Mereka begitu hidup, begitu nyata. 





Setelah keliling-keliling, saya kembali ke tenda untuk menikmati kopi sore, beberapa roti sobek dan sekeping kue marie. Hari itu, membuat hati begitu ringan. Terima kasih, Allah.

Semangatnya Hadir di Reuni 

Puncak Bogor sore itu sendu, musim hujan, ada kabut di ujung sana. Kiri kanan pohon-pohon cemara, lengkap dengan kebun teh, tempat peristirahatan seperti villa dan hotel-hotel yang disediakan untuk para pelancong yang mau berlibur. Cocok sekali buat kita yang ingin meredakan diri dari riuh rendah suasana perkotaan.

Beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2016, saya ikut reuni pesantren angkatan suami saya di Puncak Bogor. Saat itu mereka menyewa satu Villa yang besar untuk menampung puluhan orang. Suasana reuni saat itu masih berkesan di hati saya, menyenangkan, ceria, dan ada kedekatan emosional yang tinggi antar masing-masing teman. Bisa jadi bukan lagi teman atau sahabat, hubungan mereka tidak lagi teman tapi berubah jadi keluarga kedua. 





Bagaimana tidak, mereka tinggal bersama mulai dari tsanawiah kelas 1 (setingkat SMP) hingga aliyah kelas 3 (setingkat SMA). Bentuknya mondok, belajar dan tinggal bersama dalam satu bangunan selama bertahun-tahun. Menjalani hidup susah senang ditanggung bersama, kalau dapat kiriman makanan dari Bunde untuk 1 bulan tapi yang terjadi habis hanya dalam beberapa hari saja. Karena persediaan tidak dimakan sendiri tapi paket akan dibongkar dan dimakan bersama-sama.

Suasana itu yang terasa, meskipun saya tidak mondok dan bukan teman mereka, tapi saya merasa jadi bagian hidup mereka. Seolah tidak ada jarak, teman-teman suami yang perempuan selalu bertanya dan mengajak ngobrol. Menanyakan dan bercerita tentang banyak hal prihal kondisi keluarga dan khususnya kesehatan suami.

Ya, tahun itu sebetulnya kondisi suami saya masih belum stabil. Tubuhnya mudah lemas kalau cuaca dingin dan tidak bisa berinteraksi terlalu lama dengan banyak orang dan menguras emosi. Baik emosi terlalu senang maupun sebaliknya maka tubuhnya cepat lemas. 



Saat suami saya bilang ingin ikut gabung di acara reuni Ash Shidiqiyyah Islamic Collage (AIC) Jakarta angkatan ’96. Karena dari sejak lulus tahun 1996 baru kali ini ada reuni lagi tahun 2016 dengan skala besar.  Yang saya rasakan, reuni kerap membuat kita bersemangat datang, apalagi kalau bukan untuk melepas rindu setelah bertahun-tahun terpisah. Begitu suami saya mendengar kabar dari temannya bahwa akan ada Reuni Ash Shidiqiyyah Islamic Collage (AIC) angkatan ’96, dia tampak antusias dan ingin menghadiri acaranya.

Saya agak khawatir karena saat itu musim hujan dan bisa di pastikan udara di Puncak Bogor sangat dingin. Keinginannya kuat ketika ingin ikut reuni, tapi saya lihat dia begitu semangat. Jadi saya fikir tak apa, bisa jadi dengan suasana puncak yang indah dan pertemuan dengan teman-temannya lebih bisa mencerahkan hatinya dan lebih semangat sembuh.  Selain itu pemandangan perjalanan dan lokasi disana akan memanjakan mata dan hatinya.

Keputusannya untuk datang ternyata disambut hangat oleh panitia dan teman-temannya. Suami saya sampai dikasih kamar khusus kalau-kalau butuh ruang tenang. Karena mereka sudah paham sekali dengan kondisi kesehatan suami saya. Betul saja, di acara itu dia terlihat tenang dan cerah. Lihat interaksi suami dengan teman-temannya, saya sangat terharu.



Menuju Puncak Bogor

Saya lupa bagaimana ceritanya, kenapa sebelum reuni posisi saya ada di Bandung dan suami saya sedang ada di Pandeglang. Tapi yang saya ingat, kalau dia sedang ingin tinggal di Pandeglang (rumah ibunya) atau Serpong (rumah kakaknya) alasannya karena masalah cuaca yang sedang musim hujan di Bandung. Dia butuh cuaca panas agar kondisi tubuhnya lebih stabil. Meskipun di Pandeglang dan Serpong hujan juga, tapi cuacanya tidak sedingin di rumah kami di Bandung.

Tapi saya ingat betul, saya ajak anak saya Aden untuk ikut ke Puncak dengan menggunakan Bis sampai Cibinong. Lalu dijemput oleh sahabat kami Iskandar untuk pergi bersama keluarganya. Sementara suami saya pergi dari Pandeglang menggunakan mobil, diantar supir dan ikut gabung beberapa temannya. Jadi kami pun bertemu di puncak Bogor. 





Acara berlangsung di akhir pekan, kalau weekend orang-orang sudah mafhum, kalau jalan ke Puncak Bogor selalu macet. Lokasi cantik selalu jadi tujuan wisatawan lokal maupun asing, disana banyak sekali Villa dan hotel-hotel bertumbuhan di seputar Puncak Bogor untuk refreshing maupun gathering. Bisa kita lihat di portal pegipegi berbagai jenis hotel di Puncak Bogor lengkap dengan harganya. Tarifnya beragam diatas IDR1 juta hingga IDR 200 pun tersedia dengan kondisi penginapan yang disesuaikan kebutuhan masing-masing.



Tutup Buka Menuju Puncak Bogor

Saking banyaknya pelancong ke arah puncak Bogor, setiap akhir pekan atau liburan selalu diberlakukan sistem tutup buka untuk jalur ke puncak. Ada yang tertahan 1-3 jam karena menunggu giliran naik maupun turun. Ya, tinggal sabar saja, karena lokasinya memang indah jadi begitu tiba di puncak bogor, semua lelah dan proses antri, macet terobati dengan keindahan alamnya.

Menurut perkiraan Iskandar, kita akan terkena sistem tutup buka jam 14.00 wib. Tapi saya pikir tidak apa-apa, jadi kita bisa ngopi-ngopi dulu atau tidur sampai nunggu jalur ke Puncak Bogor dibuka. Jadi nikmati saja. Perjalanan dari Cibinong ke Bogor tidak terlalu jauh. Bersama Ai-istri Iskandar dan kedua anaknya cukup membuat suasana di mobil ceria. Kebetulan anak Iskandar dan anak saya umurnya tidak jauh berbeda, jadi mereka main bersama sambil sesekali lihat youtube untuk menghibur diri. 





Begitu tiba di pintu masuk menuju puncak Bogor, hanya selang satu mobil pintu ditutup. Jadi kami pun terpaksa menunggu giliran. Banyak yang menawarkan jalur khusus dengan tarif tertentu, tapi dipikir-pikir tak perlu lah, santai saja. Ternyata, waktu tutup buka pintu tidak terlalu lama. Kami pun segera berangkat ke puncak. Begitu masuk jalanan puncak, waaah! Indah sekali. AC langsung dimatikan, jendela kiri kanan dibuka, wangi daun, sisa hujan, merebak ke udara. Pepohonan hijau mengisi setiap lekukan puncak gunung. Tenang sekali.

Jalan ke lokasi villa di Puncak Bogor cukup jauh, menanjak dan kerkelok-kelok. Tadinya saya khawatir nyasar melihat jalur ke lokasi, tapi ternyata ada beberapa mobil lain melewati jalur yang lebih naik. Jadi kami pun merasa tenang dan geli melihat kekhawatiran sendiri.



Kami Pun Tiba

Sampailah kami di villa tempat reuni AIC’96, sudah banyak mobil yang parkir, beberapa peserta sedang ikut lomba, anak-anak main game beregu, seru sekali. Ini semacam family gathering. Kiri kanan tawa anak-anak dan para ibu-bapak terdengar renyah. Suami saya menyambut dengan tenang, dia tidak bisa terlalu larut dalam emosi suka maupun duka, jadi dia berusaha senang secukupnya. 





Kamipun menyipan segala tas di kamar yang sudah sediakan, saya ajak Ai, Iskandar dan anak-anaknya satu ruangan untuk menyimpan tas dan istirahat. Tak hanya kami saja yang bawa keluarga, ada salah satu teman suami membawa mertuanya dan barang-barang jualannya. Unik dan seru sekali. Alhamdulillah... 


Vila ini ukurannya besar sekali, ada kamar-kamar, ruang makan, dapur, ruang pertemuan, kolam renang, tempat parkir yang luas, ruang bermain di depan dan di belakang. Pemandangan puncak Bogornya dapat banget, kiri kanan  puncak dan lembah menghampar hijau.  Dihiasi kabut-kabut menyelinap disetiap pohon.  Hati dan paru-paru serasa dapat refil. Segar!


Untuk memenuhi makan, panitia reuni AIC menyewa jasa katering villa tersebut. Kita tidak perlu memasak sendiri sehingga bisa intens komunikasi, kangen-kangenan, mengikuti games-games dan rangkaian acara lainnya. Rupanya tim katering ini orang lokal, jika kita sewa villa kita bisa kontak mereka untuk mengatur masak memasak dan memenuhi kebutuhan ransum.

Ada adegan seru pas giliran makan, mereka (teman-teman suami) antri seolah sedang antri makan sewaktu di pondok.  Ungkapan dan saling lempar becandaan satu dengan yang lain.  Suasana tambah rame karena antri sambil menambuh piring.  Ada beberapa yang menggunakan satu piring makan berdua, saling potong-potongan kerupuk dan tempe goreng.  



Karena ada kolam renang, anak-anak pun semangat berenang meskipun air kolam terasa dingin. Beberapa teman suami menyapa dan berbincang tengang segala hal, termasuk menanyakan kondisi kesehatan suami saya. Sambil makan dan ngemil sana sini. Beberapa ada yang bawa berbagai cemilan, jadi kami saling coba dan saling comot.

Acara reuni yang menyenangkan, ada kedekatan secara emosional antara suami dan teman-temannya terlihat sekali.  Tidak ada rasa canggung maupun sekat pemisah antara satu dengan yang lain apapun kondisinya saat itu.  Pertemuan itu seolah-olah melihat interaksi mereka kembali pada zaman anak-anak - remaja tapi dalam tubuh dewasa.


Perpisahan beberapa tahun ternyata tidak menghilangkan rasa, masing-masing sudah tumbuh dewasa, bahkan berkeluarga.  Semua bertumbuh dengan pilihan jalan hidup yang harus diambil dengan beragam resiko dan proses yang tidak sederhana.  Tak ada sakit, tak ada duka, tak ada lelah, semua terobati dalam suasana alam dan pertemuan yang menyejukan.




Pura Luhur Lempuyangan.

Kamu butuh tempat rekreasi yang indah, berhawa sejuk, sekaligus menenangkan? Kunjungi lima pilihan destinasi wisata Bali ini, yuk.
Sebagai pulau wisata, Bali menyuguhkan beragam atraksi menarik dan eksotis. Kita bisa memilih tempat liburan di kawasan pegunungan, pantai, perkotaan, candi, atau pedesaan. Namun, sebenarnya Bali lebih dari itu—banyak area rekreasi tersembunyi yang punya pemandangan menawan.
Penasaran, kan? Simak ulasan lima pilihan destinasi wisata Bali berikut ini, yah.
1.       Pura Luhur Lempuyangan
Tak sekadar tempat ibadah, Pura Luhur Lempuyangan juga menjadi destinasi wisata di Pulau Bali. Letak pura berada di puncak bukit Bisbis, berdekatan dengan Gunung Agung. Bangunan epik tersebut diyakini sebagai tempat suci sehingga pengunjung harus menjaga sikap dan perkataan saat berkunjung ke sini.
Kerenanya, untuk mencapai lokasi pura, Kamu harus naik 1.750 anak tangga. Konon, siapa pun dilarang mengucap kata “lelah” tatkala melewati tangga. Sampai di Pura Luhur, Anda bisa melihat beberapa atraksi. Salah satunya Tirta Pingit—air suci yang bersumber dari tiga buah rumpun bambu.
Selain Tirta Pingit, gapura setinggi empat meter juga menjadi spot foto favorit para wisatawan. Gapura tersebut langsung menghadap ke arah Gunung Agung. Uniknya, letak gunung tepat di tengah gapura sehingga tampak presisi.
2.       Air Terjun Nungnung
Setelah mengunjungi pura, cobalah menjelajah ke Air Terjun Nungnung. Kawasan air terjun bisa ditempuh selama 1,5 jam berkendara dari ibu kota Denpasar. Kamu bisa menggunakan kendaraan pribadi ataupun menyewa mobil untuk menuju ke sana.
Air Terjun Nungnung termasuk legendaris karena beroperasi sejak tahun 1996. Letaknya yang berada di dasar lembah menjadikan air terjun tampak eksotis. Meskipun ketinggian air hanya 50 meter, debitnya cukup deras.
Di sekitar air terjun terdapat vegetasi tanaman tropis. Sebelum memasuki area air terjun, Kamu bisa melihat panorama persawahan dan perbukitan. Pun harus melintasi jembatan tinggi bernama Tikad Bangkung. Dari sini, Kamu dapat menyaksikan lanskap lembah hijau nan mengagumkan.

3.       Bukit Campuhan
Kamu suka berpetualang atau hiking di pegunungan? Bukit Campuhan bisa menjadi pilihan destinasi wisata di Bali yang tepat. Bukit eksotis ini memiliki trek rapi sepanjang 2 kilometer. Kanan kiri trek diselimuti panorama perbukitan nan hijau dan asri.
Sampai di Bukit Campuhan, kita bisa mengunjungi Pura Gunung Lebah. Dari pura, tampak lanskap sungai membentuk lembah-lembah hijau. Tidak ketinggalan, pepohonan tropis dan padang rumput ikut menghiasi pemandangan di Bukit Campuhan.
4.       Danau Tamblingan
Danau Tamblingan merupakan danau terkecil yang ada di Pulau Bali. Suasana di sekitar danau sarat hutan lebat, pohon hijau, dan hamparan rumput. Menariknya, nuansa spiritual di Danau Tamblingan terasa kuat.
Kekuatan spiritualitas di Danau Tamblingan terbukti dengan adanya 11 pura yang berdiri di sana. Dua di antara pura tersebut merupakan peninggalan kuno; tepatnya abad ke-10. Beberapa pura yang juga dianggap sebagai tempat sakral, antara lain Dalem Tamblingan, Pura Gubug, Pura Endek, Pura Naga Loka, dan Sang Hyang Kangin.
5.       Pantai Karma Kandara
Pantai di Pulau Bali tak hanya Kuta, Jimbaran, atau Tanjung Benoa; Pantai Karma Kandara pun layak untuk kamu jadikan destinasi wisata. Karena letaknya tersembunyi, Pantai Karma Kandara mendapat julukan the hidden paradise.
Lokasi Pantai Karma Kandara tepat di balik tebing tinggi. Pasirnya berwarna putih; berkilau saat diterpa sinar matahari. Di samping itu, laut di Karma Kandara tampak biru bening dan memberikan efek tenang.

Demikian ulasan seputar lima pilihan destinasi wisata di Bali untuk liburan akhir tahun. Dapatkan kemudahan transaksi pemesanan tiket masuk ke berbagai tempat wisata di Bali melalui situs online, seperti Traveloka.





Menikah.  Hamil.  Seolah sebuah proses yang sederhana dan alur hidup yang mesti dihadapi oleh seorang perempuan.  Persoalannya adalah, ada beberapa sikap dan proses kepribadian diri yang mesti diolah agar perempuan mampu menghadapi persoalan pernikahan yang tidak sederhana.

Kementrian Kesehatan kerap mensosialisasikan tentang pentingnya kesehatan masyarakat.  Kali ini saya tertarik menyoroti perhatian Kemenkes pada kesehatan perempuan dalam hal reproduksi tubuh perempuan.  Perempuan sudah dari sananya mempunyai rahim yang berkaitan erat dengan tumbuh janin dan lahirlah bayi manusia.  Sumber kehidupan.

Persoalannya kapan tubuh dan mental perempuan ini siap menghadapi dan mendidik kedatangan anak manusia di muka bumi ini.  Mulai dari memelihara bayi yang tidak tahu apa-apa hingga tumbuh besar, mandiri, menjadi atau tidak menjadi apa-apa.  Kuncinya ada ditengah orang tua bahagia dan tangguh dalam memelihara dan mendidik anaknya.  Lalu bagaimana jika yang terjadi, para perempuan tidak memahami bagaimana menghargai dan kesadaran terhadap tubuhnya sendiri.  


Persoalan Reproduksi Perempuan

Perempuan tidak akan bisa lepas dari kemolekan dan keindahan tubuhnya.  Tubuhnya haruslah dipelihara dari sejak dini.  Sebab kelak dia harus mempersiapkan tubuhnya untuk menyimpan janin dan melahirkan anak.  Jika Ibu sehat maka anak pun akan terbawa sehat, baik secara mental maupun tubuhnya.  Karena segala unsur yang ada di tubuh Ibu, akan memberikan kontribusi genetik pada si-anak.  

Sehingga akan lebih baik, jika perempuan yang berniat ingin menikah dan mempunyai anak, sebaiknya di atas usia 19 tahun.  Kenapa usia 19 tahun?  Karena di usia ini, tubuh perempuan sudah siap menerima janin dan melahirkan anak.  Resiko melahirkan di bawah usia 19 tahun salah satunya kematian dan anak yang kurang gizi (stunting).

Jadi, jika ada yang ingin menikah di usia remaja, sebaiknya tidak hamil dulu sampai usia perempuan siap menerima janin.  Misalnya hamil di usia 20- 23 tahun agar tubuh si-Ibu siap dan lebih kokoh begitupun bayinya pun mendapatkan gen yang baik sesuai dengan kondisi tubuh Ibu.  


Hamil Muda Karena...

Penyebab hamil muda ada beberapa alasan, ada karena kawin paksa lalu hamil dan hamil diluar nikah.  Herannya dan kenyataannya, yang menanggung akibat semua itu adalah si perempuan.  Dia akan menanggung malu juga dirinya tidak lagi bisa berdaya dan menciptakan eksistensi/manfaat di masyarakat.  

Perempuan dimanapun seringakali terjebak oleh berbagai tatanan sosial dan budaya prihal pernikahan.  Terutama tuntutan keluarga dalam memenuhi kebutuhan status sosial.  Sehingga tak jarang jika keluarga mempunyai anak perempuan, seolah tidak punya banyak pilihan selain segera dinikahkan dengan laki-laki yang mempunyai kedudukan tinggi agar bisa memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.  Banyak alasan selain ekonomi keluarga, mereka lebih mementingkan status sosial.  

Seringkali karena kasus ini, anak perempuan dibawah usia 19 tahun merasa harus berbakti pada orang tua memutuskan menikah atas pilihan keluarga.  Tanpa memikirkan tubuhnya, hatinya, dan kesiapan mentalnya dalam menghadapi kehidupan barunya.

Tak hanya masalah tekanan keluarga, masalah sosial seperti hamil diluar nikah kerap terjadi dikalangan remaja usia di bawah 19 tahun.  Banyak hal yang berpengaruh negatif, secara mental dia mendapat tekanan dari lingkungan keluarga maupun masyarakat. Baiklah, yang menjadi korban akibat dari ini adalah perempuan lagi.  Dia tidak bisa lagi melanjutkan sekolah dan harus mengurus anaknya di usia polosnya.

Tanggung jawab Ibu tidak hanya sekedar menikah, hamil, melahirkan. Dalam sosok perempuan, haruslah hadir sebagai sosok yang sehat.  Untuk sehat, dia harus punya bekal yang tinggi tentang kehidupan dan memelihara keluarga.   

Oleh karena itu, Kemenkes menanggulangi kejadian ini dengan melakukan penyuluhan keberbagai kalangan.  Karena seringakali masyarakat masih awam dan merasa tidak punya hak atas tubuhnya dan tidak bisa menjaga kondisi anak perempuannya.  



Rasaya baru kali ini nonton film komedi yang durasinya 110 menit terasa singkat. Seringkali saya menikmati trailer maupun proses kreatif (di belakang layar) film tertentu, ternyata begitu nonton, hasilnya tidak sesuai harapan. Baik jalan cerita, akting para aktor, eksekusi pengambilan gambar, intonasi dialog, dan unsur lainnya. Tapi film Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta dan Rangga), pesan yang ingin disampaikan penulis naskah melalui dialog dan sutradara melalui adegan-adegan dengan kemasan komedi, membuka sudut pandang tersendiri mensikapi realitas masalah hidup yang diangkat ke layar lebar. 

Sudah lama saya mengikuti proses di belakang layar film Milly & Mamet (Ini Bukan Cinta dan Rangga) di akun instagram @MillyMametTheMovie. Suasana yang dibangun dari setiap video sangat menyenangkan, energi asiknya terasa. Banyak suasana lucu dan manis. Dengan postingan-postingan dibalik layar ini, berhasil memikat hati saya memutuskan nonton filmnya di bioskop di hari pertama tayang. Engga tau bagaimana, hari itu, tanggal 20 Desember, tepat di hari pertama film Milly & Mamet tayang, ternyata pas dengan jadwal kontrol ke dokter yang tak jauh dari Cinemaxx Istana Plaza Jl. Pasir Kaliki Bandung. Saya perkirakan, jam 11.30 WIB, proses kontrol dan pengambilan obat beres, jadi kami berdua bisa sekalian nonton yang jam 12.40 WIB. Dan ajaibnya, terwujud. Jadi sore sudah ada di rumah lagi. Alhamdulillah, mestakung. Kamipun bisa nonton dengan tenang dan pulang dengan gembira. 





Kalau kamu pernah nonton film Ada Apa Dengan Cinta (AADC) dan AADC 2, di adegan AADC 2 kita dapatkan Milly menikah dengan Mamet. Kita tahu sendiri kalau Milly berada di lingkaran Geng Cinta yang punya kelas tersendiri. Di film ini, Milly & Mamet menunjukan sisi segar dari kehidupan lingkaran Geng Cinta. Mamet SMA berbeda dengan Mamet dewasa, kini dia hadir sebagai sosok unik, cair, menyenangkan, bahkan tegas, bukan lagi Mamet yang gugupan.

Bisa jadi karena referensi Ernest Prakasa basic-nya sebagai comic, ketika menjadi sutradara jadi lebih jeli menangkap detil komedi. Jalan cerita rumah tangga Milly & Mamet diolah sedemikian rupa, tak hanya berhasil menciptakan tawa tapi hadirkan proses kontemplatif. Saya seperti terlibat dalam ruang hidup mereka, ketika Mamet berpolemik dengan Ayah Milly, bergaul dengan sahabat-sahabatnya dan ketika Alex (Julie Estele) hadir di tengah hidup rumah tangga. Lalu mereka harus mengambil berbagai keputusan penting yang berpengaruh pada perubahan ritme hidup. Dari setiap kejadian, kekuatan mereka dalam mengambil keputusan ada dikalimat ini,”Kalau tidak dicoba, bagaimana kita bisa tahu.”

Kalimat ini yang akhirnya saya faham bagaimana Milly dan Mamet bisa bersatu dan saling mendukung satu sama lain. Mamet yang kita tahu sebagai tokoh culun dan kerap dihindari oleh Geng Cinta, ternyata menjadi ruang hidup sendiri. Dia sebagai tokoh dewasa dengan terjun bidang kuliner demi Ayahnya yang kena sakit, justru melalui jalan ini dia menemukan visi hidupnya.

Menurut saya, film Milly & Mamet yang diolah dengan gendre komedi ini seperti melahap bertangkup-tangkup ice cream. Manis, lembut dan segar. Setiap adegan yang diangkat berhasil memainkan ketukannya sehingga menjadi kisah cinta yang indah dan dewasa. Dialog yang dilempar dari tokoh ke tokoh lain terbangun rapi. Setiap tempat punya momen dengan dihadirkan karakter-karakter yang pas. Dari awal adegan sampai akhir film benar-benar membuat saya puas menontonya, tidak sia-sia menanti tanggal 20 Desember 2018 untuk menonton film ini.

.

Biasanya saya selalu “gagal” nonton film komedi Indonesia. Berusaha lucu tapi ternyata hasilnya garing, ketukan tidak dapat, dialog maksa, ekspresi dan gestur seringkali kurang greget. Tapi di Milly & Mamet kadar lucunya pas dan berhasil membuat kita mikir berikut tertawa.

Milly (Sissy Priscillia) dan Mamet (Dennis Adhiswara) hadirkan komposisi yang pas sebagai pasangan suami istri. Naik turun emosi mulai dari becanda, merasa nyaman hingga bersitegang menjadi bentuk akting yang mengalir. Saya melihat bagaimana karakter Milly remaja dan dewasa, konsisten dengan kadar karakter pembawaan ‘manja’ namun dewasa seperti Milly di AADC. Begitupun dengan Mamet yang dibeberapa situasi tertentu berusaha memposisikan diri sebagai kepala rumah tangga yang tegas, suka merajuk, menenangkan, namun beberapa situasi muncul lagi sosok Mamet SMA yang takut sama istrinya. Ini unik sekali, berhasil membuat saya larut.

Passion Mamet di bidang kuliner menambah suasana film ini jadi lebih berisi. Kita akan melihat sisi Mamet yang culun berubah jadi sosok jenius ketika memasak dan platting. Kedekatan Mamet dengan Alex membawa mereka pada hubungan yang profesional. disini kita akan menemukan Isyana Sarasvati seorang sekretaris yang eksentrik. Dengan wajahnya yang klasik dan pucat, sebuah simbol perusahaan yang membawa Mamet mewujudkan pasionnya.

Situasi yang khas terasa sekali waktu penonton dibawa ke adegan-adegan di pabrik kain. Kita akan mengamini komunikasi para karyawan pabrik dengan beragam karakter. Bagaimana pemilik pabrik kain (Roy Marten) sebagai tokoh pemarah, tegas dan disiplin memperlakukan para karyawan dengan pembawaanya yang keras dan diktator. Namun tingkah para karyawan di pabrik akan membuat kita tergelak. Salah satu adegan yang mengejutkan ketika karyawan pabrik dipanggil menggunakan pengeras suara dengan cara seenaknya. Lalu muncul lontaran obrolan antar karyawan yang saling meledek dengan logat betawi yang kental. Disini kita bisa mendapatkan keberagaman karakter orang yang dimainkan oleh aktor yang pas. Rata-rata semua aktor asik memainkan karakternya, berkesan natural dan saling menghidupkan.

Jadi menurut saya, film ini harus ditonton buat kamu yang butuh hormon endorfin. Dijamin bahagia.
Rosemary Treatment 



Kalau mendengar kata rosemary, ingatan saya langsung melayang ke sebuah daratan Eropa. Salah satu unsur dedaunan yang identik dengan bumbu masakan. Para ibu kerap menggunakan dedaunan ini untuk bumbu tambahan membuat masakan olahan daging dan saus. Begitu ikut perawatan rambut di Lineation Salon program Rosemary Hair Treatment, rambut saya berasa dibalur dedaunan. Wanginya menyebar ke seluruh tubuh, memberi efek “berasa bersih” dan tenang. Sama halnya kalau selesai makan sajian khas italia, muncul perasaan senang dan tenang.

Di Lineation saya menemukan “ramuan” rosemary ini dalam bentuk shampoo dan tonik yang diracik oleh Dr. David. Mungkin karena kulit kepala saya sensitif, begitu mencoba paket Rosemary Treatment, masalah-masalah di kulit kepala dan rambut saya perlahan makin membaik. Memang sih tidak langsung sehat begitu saja. Tapi ada proses yang cukup lama, yaitu 4x perawatan dengan hitungan 7 hari 1 X langsung datang ke tempat untuk dirawat dengan menggunakan cream, serum dan lain-lain. Sehari-hari kita merawat dan mencuci rambut menggunakan Shampoo dan tonik yang sama sehingga hasilnya maksimal. Pengalaman pertama saya ada di link ini





Shampoo Awet

Begitu ikut paket Rosemary Treatment, saya dapat 2 botol tonik dan 1 botol shampoo 200 ml dengan bentuk botol yang ada pulp-nya. Ukuran jumlah cairan yang keluar pun sesuai takaran. Satu botolnya harganya lebih mahal dari harga shampoo biasa. Tapi selama 40 hari penggunaan, hanya 1/3 isi shampoo yang sudah digunakan dan masih ada 1 botol tonik. Saya biasa menggunakannya 2 hari sekali. Kadang kalau sudah keluar rumah dan dirasa banyak keringat, saya menggunakan shampoo 1 hari 1x. Bisa dibilang shampoo dan tonik ini penggunaannya sangat awet. 



Selama 4 minggu penggunaan mulai banyak kemajuan, awal-awal gatal di kulit mulai berkurang. Makin kesini kondisi rambut saya jadi terasa lebih kokoh dan bervolume. Biasanya setiap mencuci rambut, ada saja rambut yang lepas berhelai-helai. Sehari saja tidak keramas, rambut langsung lepek. Kalau seharian kepala ditutup kerudung, biji-biji ketombe bertumbuhan. Sekarang jumlah helai rambut yang lepas paling 3-4 helai saja, itupun saat keramas dan menyisir rambut.

Nah, waktu pertama kali pakai shampo rosemary di rumah, saya agak kaget juga dengan kondisi rambut saya. Begitu beres keramas, disiram dengan air hangat/dingin lalu dibalut dengan handuk, setelah agak kering handuk pun dilepas. Begitu menyisir, rambut terasa agak keset dan agak sulit di sisir. Alhasil, banyak juga rambut lepas dan nyangkut di sisir. Agak “kejed” mungkin shampoonya tidak mengandung conditioner.



Tip Mencuci Rambut Rosemary

Sampai akhirnya saya menemukan cara mencuci dan menyisir rambut dengan menggunakan shampoo Rosemary ini. Biasanya saya keramas dengan menarik rambut ke depan dengan posisi kepala menunduk, sekarang mencucinya dibiarkan terurai ke belakang laiknya keramas di salon. Setelah kepala dan rambut disiram air, ambil beberapa tetes shampoo, tambah air sedikit agar tidak terlalu kental. Tangan menggosok rambut dari atas kepala hingga ujung rambut bagian bawah. Pelan-pelan kulit kepala digosok merata sampai helai rambut bagian bawah. Lalu kepala agak dipijat pelan agar urat syarafnya lebih santai. 



Setelah terasa enak dan terasa bersih. Biarkan selama 5 menit agar kandungan obat dalam shampoo meresap dengan baik. Baru bersihkan kepala dengan air mengalir dari atas kepala, menyusur dari atas ke bawah dan jangan diacak-acak. Ini efeknya nanti biar rambutnya tidak terlalu kusut dan lebih mudah menyisirnya. Nah, setelah rambutnya agak kering, sisir rambut perlahan agar rambut tidak ikut nyangkut dan lepas.

Iya biasanya saya menyisir dengan agak cepat, jadinya banyak rambut kusut yang terlepas. Kalau shampoo ini sepertinya tidak mengandung conditioner jadi membuat rambut agak keset. Begitu rambut sudah rapi, baru teteskan tonik di kulit kepala lalu sisir rambut sampai rapi (tidak kejed lagi). Lalu untuk mengeringkan rambut, kalau tidak punya hairdryer seperti saya, kipas-kipas rambut dengan buku tipis atau kertas tebal sampai agak kering sehingga lembabnya tidak lama. Nanti kamu akan merasakan rambutnya terasa lebih lembut dan bervolume. 



Setelah 4 minggu konsisten menggunakan shampoo dan tonik keluaran Lineation, masalah rambut saya semakin berkurang dan bertambah baik. Biasanya rambut saya cepat lepek, berminyak, setiap sisir rambut ada saja rambut yang lepas, sekarang rambut yang lepas lebih sedikit. Warna rambut pun tampak lebih bercahaya dan menarik. Dibagian tertentu bermunculan satu satu rambut-rambut pendek.



Merawat Bentuk Rasa Syukur

Memelihara kesehatan dan kebersihan anggota badan termasuk salah satu bentuk rasa syukur. Dengan rajin memelihara diri, tidak hanya faktor luar yang akan tampak terpelihara. Anggota tubuh kita akan lebih sehat dan segar, pembawaan hati terasa lebih nyaman dan rasa semangat pun lebih terpancar.

Seringkali ketika kita merasa bersih di dalam, pembawaan kita juga jadi lebih asik dan menjaga kebersihan tubuh lalu menjalar menjaga kebersihan lingkungan rumah. Sangat menyenangkan. Dari menjaga kebersihan rambut, berdampak kemana-mana.

Foto: Holis, 2017

1

Sore ini, lebih lega dari biasanya. Awalnya sudah lama saya ingin ikut kajian seperti di Percikan Iman, Daarut Tauhid dan beberapa kajian khusus tentang ilmu-ilmu agama. Baik dari segi ilmu ketuhanan, ilmu sosial, adab/etika, hukum Islam. Akhirnya saya mulai mencari jadwal-jadwal kajian yang posisinya dekat dari rumah. Saya mau banyak tahu dan mendapatkan nikmat agama yang saya anut. Ingat sepotong dialog dengan Pak Djohari Zein-CEO Paxel, dia bilang, saya tidak hanya ingin menjadi islam tapi seorang muslim, jadi saya dekati dan perdalam isi Quran.



2

Kegelisahan itu selalu saja muncul, naik turun, bergelombang mereda. Obat hati yang kerap saya lakukan adalah browsing kajian di YouTube tentang sesuatu yang saya gelisahkan. Mulai dari rezeki, menghadapi masalah dan cara membuat hati lebih tenang. Biasanya ketika saya gelisah, menganalisa masalah yang sedang saya hadapi, ada saja jawaban dari berbagai sisi lalu diperkuat dengan pertemuan ilmu hidup dari isi Quran, hasil analisa disampaikan oleh para ahli agama menjadi ruang kontemplasi sendiri dalam memecahkan masalah dan langkah yang harus dijalankan.

Karena situasi yang kurang memungkinkan, biasanya saya mencai kajian tentang ilmu fiqh, akhlak dan tauhid hasil ceramah para ahli agama di Youtube. Seperti Ustd. Hanan Attaki, Ustd. Adi Hidayat, yang kerap saya ulang-ulang setiap pagi. Kajiannya menarik, memelihara hati yang banyak gelisahnya jadi lebih slow dan lebih berani mengambil beberapa keputusan.

3

Beberapa hari yang lalu, saya menguatkan niat ingin ikut kajian secara langsung. Browsing sana sini mencari jadwal pengajian, sampai akhirnya jatuh di kajian Percikan Iman (PI). Biasanya rutin berlangsung setiap hari Minggu dari jam 7.30-10.30 WIB. Kebetulan kali ini jadwal kajian berlangsung di dekat rumah, di Masjid Darul Ihsan-Telkom Gerlong. Pengumuman kajian itu saya dapat di facebook lalu saya klik “going”, memberi tanda saya akan datang ke acara tersebut.

Saya ingat, hari Minggu pagi ini harus mereview tempat kecantikan di sudut kota Bandung. Jadwal bentrok, tapi saya usahakan bicara ke teman-teman untuk ganti jadwal di hari Sabtu, Minggu siang atau Senin siang. Ternyata tidak bisa. Keinginan saya kuat sekali sampai saya katakan dalam hati, ya sudah, tidak apa-apa meskipun keinginan itu masih menggelantung di pikiran saya.

Lalu, hari Sabtu pagi kemarin cukup menyibukan, kakak ipar saya masuk ICU karena stroke dan keponakan saya operasi kista di rahimnya. Saya harus menengok-bisik saya. Sementara di hari yang sama pun, saya harus ambil surat pengantar untuk suami saya dari dokter syaraf di Santosa. Waktunya dari jam 08.30 – 12.00 WIB. Artinya saya harus ngebut bergrilya, mulai antar anak ke sekolah yang sedang ujian jam 08.30 WIB, menengok teteh dan keponakan di RS Salamun, lalu ambil surat rekomendasi ke Santosa.

Tiba-tiba Teh Dey menghubungi saya, dia dapat pesan dari salon kecantikan itu apa saya bisa datang ke Salon hari itu jam 11.00 WIB untuk melakukan perawatan? Saya langsung lihat jam, saat itu menunjukan pukul 09.10 WIB posisi saya sudah ada di jalan sedang naik ojek online menuju ke RS. Salamun. Itu artinya saya punya waktu 2 jam berkunjung ke beberapa titik. Saya sangggupi bisa datang tapi jam 11.30 WIB. Pikiran saya agar bisa datang ke kajian PI besok pagi jam 08.00 WIB. Bismillah, akhirnya Sabtu pagi dari pagi hingga tengah hari jadwal “ngider” saya padat merayap. Saya bisa datang menengok keponakan, teteh, ambil surat pengantar dokter dan makan batagor di depan RS Santosa (LAPAAAR, hehehe...). Sesuai perkiraan, saya pun bisa sampai Salon sesuai jadwal. Senang!

Itu artinya, saya bisa datang ke kajian PI di Masjid Darul Ihsan di Gerlong. Alhamdulillah...

Mestakung. Seperti ada sesuatu yang ingin Allah sampaikan. Ternyata benar, ilmu kajian hari itu menyembuhkan titik-titik luka saya (beuh!). Tentang ridho: kalau boleh diartikan versi saya-nya yaitu berdamai dengan keadaan. 



Foto: Ima

4

Minggu pagi, sebetulnya sudah sangat “kesal” sama persiapan pergi ke acara. Tapi jalan keluarnya cuma satu, berusaha menahan diri. Saya tidak mau segala sesuatu dimulai dengan marah-marah. Tapi, ya, hati saya tetap kesel, tapi, ya, sudahlah. Setelah anak-anak mandi dan makan, kami pun berangkat jam 08.10 WIB yang artinya telat datang ke acara kajian. Dari rumah naik grab car, karena dari jalan utama ke lokasi acara cukup jauh sementara lihat tarifnya sama saja kalau kami harus naik angkot. Naik Grab Car harganya tidak jauh dari naik angkot, malah kalau naik Grab Car lebih cepat dan langsung ke tujuan.

Tentu saja acara sudah berlangsung, ternyata kekesalan saya sungguh ‘mubadzir’. Acara utama yang saya tunggu ternyata belum mulai. Ada acara tambahan selain ceramah, yaitu ada penjelasan tentang kalender tahun 2019 langsung dipaparkan oleh desainernya, kemudian dilanjut acara pelantikan. Saya jadi ingat nasehat suami saya beberapa tahun lampau, katanya: “Apa yang kamu fikirkan belum tentu serumit apa yang terjadi.”

Kebiasaan jelek saya nih, sering sekali mengira-ngira sesuatu yang belum terjadi. Seperti kejadian pagi itu, saya berfikir sudah telat datang ke acara kajian PI dan telat menyimak pembahasan dari Pak Aam Amirudin. Itu artinya saya bakal terima ilmunya sepotong-sepotong. Padahal kesempatan untuk datang sudah ada jalannya, tinggal pergi deh istilahnya. Eh, ternyata acara kajiannya dimulai dulu dengan acara yang lain. Alhamdulillah. Mestakung



5

Ceramah utama dimulai jam 09.45 WIB, saya masih belum paham maksud Allah memberi kesempatan kami bisa datang ke acara PI dengan proses yang unik. Pertama tadinya waktu review bentrok, tiba-tiba diajak ganti waktu review dan itu pun pihak salonnya yang minta, kemudian kami telat datang ke acara tapi ternyata kajiannya belum mulai. Untuk apa? Ternyata uraian kajian hari ini menembus hati dan merangkum segala kegelisahan saya tentang proses masalah yang datang dan pergi dan keadaan pola rezeki saya yang luar biasa unik.

Awalnya begitu dengar tema yang akan disampaikan tanggapan saya biasa saja, tapi begitu mendengarkan dan mencatat uraian Pak Aam hasilnya menarik. Tema yang kontemplatif tentang makna rezeki dan proses aplikasinya yang tidak sederhana. Tapi saya percaya, setiap masalah pasti mudah dijalani karena ada Allah.

Menurut Pak Aam, mengartikan rezeki yang ridho dalam genggaman itu tidak melulu masalah harta, tapi termasuk di dalamnya adalah ilmu yang diamalkan, anak yang soleh, teman-teman yang soleh, umur yang berkah, harta halal, jodoh.

Ada 5 cara membuka pintu rezeki:

1. Ridho dengan pemberian-Nya.

Saya baru tahu, bahwa makna RIDHO yaitu menerima segala pemberian dari Allah dan biasanya konteks ridha itu berhubungan dengan keadaan yang tidak enak.

Misalnya, seorang istri mempunyai suami yang tidak soleh. Tapi istri tersebut ridha, maka Allah akan membukakan pintu rezeki yang lain. Misalnya usaha jual beli baju si-istri disukai banyak orang dan laku di pasaran. Itu artinya si-istri dibukakan rezekinya dari pintu yang lain.



Berdasarkan hadis Imam Ahmad:

“Sesungguhnya Allah menguji hambanya melalui apa yang diberikan kepadanya. Jika ia ridha dengan pemberian-Nya (Allah) maka rezeki orang itu akan diluaskan dan diberkahi.”



Rezeki setiap orang itu beda-beda, rezeki sehat, tenaga, ilmu, harta. Allah akan menguji hamba dengan pemberian-Nya.



2. Bersyukur atas pemberian-Nya.

Sementara konteks BERSYUKUR, berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Ada 3 nikmat yang Allah berikan kepada manusia:

- Nikmat umur

- Nikmat kesehatan, termasuk di dalamnya nikmat kemampuan berfikir.

- Nikmat hidayah



3. Istiqomah dalam kebaikan

4. Membantu orang-orang lemah (meringankan orang-orang lemah)

Bukan berarti hanya membantu orang-orang miskin, tapi maksud lemah ini suka meringankan beban orang-orang yang lemah. Contoh sederhana dengan membantu orang tua yang mau menyeberang jalan.



Contoh sifat Rasulullah yang tertuang dalam hadist Bukhari:

“Carilah (keridaan)ku melalui orang-orang lemah diantara kalian diberi rizki dan ditolong dengan sebab orang-orang lemah diantara kalian.”



5. Memperbanyak silaturahmi

Sepertinya poin-poin ini tampak sederhana dan sering sekali disampaikan oleh berbagai para ahli agama. Sederhana tapi aplikasinya itu luar biasa kompleks, melibatkan organ tubuh yang paling utama: hati. Tapi, tidak tahu, ya, kali ini upaya yang berusaha disampaikan Pa Aam lebih ‘nancleb’ ke hati, begitu mudah setiap kalimat-kalimat dan makna yang disampaikannya masuk dan mengobati setiap luka-luka hati. Pelan-pelan syaraf-syaraf melembut, saya menarik nafas panjang, betapa keberadaan anak-anak, suami, Amih, keluarga, sahabat, begitu berharga.

“Ikhlas, Ma, Ikhlas. Gak perlu lagi risau, ada Allah yang selalu menolong dengan cara-Nya yang nanti bakal kamu paham. Sayangi hidupmu hari ini, mereka adalah kesempatanmu yang berharga.” Bisik saya ke hati.

Kadang, memang, di satu titik saya pernah sama sekali tidak bisa (lagi) manangis, saya sudah tidak bisa lagi berdoa selain berbisik menyebut nama “Allah” berulang-ulang, duduk di atas sajadah setelah shalat tanpa berdoa apa-apa selain diam dan menutup mata, benar-benar tak ada harapan, tapi saya terus bergerak, pelan, melemah. Dalam keadaan seperti ini tiba-tiba ada saja bantuan kiri kanan dari arah yang tidak terduga-duga. Apapun itu bentuknya.

Meski rasa yakin ini naik turun dengan muncul perasaan takut, khawatir, bingung, gelisah, rasa syukur sering berkurang. Tapi ditengah perasaan itu saya selalu berusaha mengingat-ingat berbagai kejadian yang luar biasa. Bersama kesulitan ada saja kemudahanan, saya hanya harus lebih menguatkan diri untuk terus sabar. Maksudnya terus doa dan ikhtiar.

Sehingga tumbuh lagi keyakinan, Allah bersama kita, Allah selalu ada, Allah selalu memberi jalan yang terbaik sekalipun kita harus melewati kejadian-kejadian yang menyakitkan. Allah tahu, kita bisa melewati rasa-rasa gelisah itu sehingga kita semakin mengejar Allah, mengikuti pola hidup yang luar biasa dan semakin menikmati keindahan hidup dari sudut pandang-Nya.

Lahaola walakuwata illabillah...