Ruang Reda bersama kurator pameran Tisna Sanjaya
dan pengelola Tea Huis Galleri. 


Selamat pagi,matahari. Aku nemu sayap pas lagi sapu sapu di halaman. Bagus banget.  Nemu sayap ini seperti menemukan sayap aku yang hilang bertahun-tahun lamanya. Sayap aku itu nanti akan dipamerkan di Thee House Gallery Bandung bareng teman-teman perempuan.


Melalui perempuan-perempuan ini aku belajar banyak, tentang saling dukung untuk terus berkarya ditengah tanggung jawab domestik yang tidak ada berhentinya bahkan ditambah pekerjaan luar rumah.

(Catatan kecil yang aku tulis di beranda facebook pribadi)


 

Bersama Ruang Reda.   Ami mengirim pesan singkat mengajak aku ikut terlibat pameran bersama.  Canggung dan cemas, begitu respons pertama.  Tapi setelah dipikir ulang, konsep pameran ini unik.  Intinya aku diajak untuk bertumbuh bersama, memindahkan karya kami yang hanya di ruang-ruang pribadi ke galeri.  Sehingga berkarya tidak hanya berhenti di ruang pribadi.

 

Pameran Ruang Reda mengangkat tema Jejak ini melibatkan 10 perempuan yang sudah berkeluarga.  Fenomena anak seni yang berhenti terlibat dalam berbagai aktivitas seni (pameran maupun pertunjukan) ketika sudah berkeluarga, terutama sudah punya anak dan bekerja.

 

Awalnya aku bertanya-tanya, kok ya bisa aku diajak padahal bukan "anak seni rupa".  Sempat tidak percaya diri dan takut. Tapi aku pikir konsep pamerannya menarik, menguji diri aku sendiri dan bakal jadi pengalaman baru.  Jadi aku tertarik dan memberanikan diri untuk ikut prosesnya.  Peserta yang terlibat diantaranya Ami, Pritha,  Ratna, Oia, Jane, Nanan, Nunun, Ayi, Gading dan aku-Ima. 

 

Mungkin Ami melihat aku suka "gagambaran" dengan aliran zentangleart atau line art atau doodling atau vignete.  Ami tahu karena aku suka menebar kegembiraan hasil karya di medsos.  Meskipun aku sendiri belum memperdalam utuh empat aliran seni rupa, tapi terpenting aku menikmati teknik menggambarnya.  Menenangkan, mengalir dan asik.  

 

Ide dasar aku menikmati proses menggambar aliran tersebut karena romantisme masa remaja aku sendiri yang sering menggambar bebas.  Lalu aku coba perlahan berkenalan kembali, latihan setiap hari dengan projek dasar Jurnal Healing di masa pandemi.  Sengaja aku share di medsos, ingin tahu sampai sejauh mana aku konsisten berkarya di bidang ini.  Rupanya, melalui proses ini, secara tidak langsung, aku seperti menemukan diri aku kecil yang sering diabaikan oleh diriku sendiri.  Demikian sekilas.

 

Saat diajak pameran muncul perasaan senang-ragu, dua sisi yang saling tarik menarik.  Tapi porsi senang lebih banyak, serasa ada yang membuka pintu dari sekian perjalanan yang aku lewati.  Bersama teman-teman Ruang Reda, pelan-pelan aku belajar banyak tentang teknik melukis, berbincang mengenai kompleksitas perempuan berkeluarga dan berkarya.  Hingga sampai pada kesimpulan bahwa seni ternyata dapat "menyelamatkan" diri dari persoalan-persoalan yang datang-pergi.  Bonusnya berproses menerima diri, melihat lebih dekat pada lingkungan terdekat lalu mewujud dalam bentuk karya.  


 

Sebetulnya buat aku tahun kemarin bisa dikatakan tahun "hadiah" dari Allah.  Aku percaya bahwa situasi baik-buruk di mata kita sebagai manusia, pasti baik buat kita di mata Allah SWT.  Dari sekian "hadiah" yang bikin bahagia dan menyedihkan ini, aku mau cerita tentang hadiah yang bahagia yaitu ikut terlibat pameran seni rupa.  

 

Setelah hampir 2 tahun berproses Pameran Ruang Reda, akhirnya terwujud juga pada tanggal 21 Mei- 4 Juni 2023 di Galeri Dago Tea House.  Ternyata buat aku yang menarik dari pameran ini adalah prosesnya. 

 

Di tengah gegap gempita dunia persenirupaan, kami keluar dengan keringat dingin dan degup jantung yang kencang sambil membawa karya dari dapur masing-masing.  Pameran ini tidak hanya perihal aliran karya dan media berkarya, tapi berhasil melewati proses berdamai dengan diri yang sering kalah berkali-kali oleh berbagai statement dan standar umum.

 


Perlahan, satu persatu dilewati, berulang dan saling melengkapi satu sama lain. Rasa dari masing-masing karya unik dan berbeda-beda.  Setiap garis, warna, pulasan, arsir, lipatan, bentuk memiliki ciri khas sendiri, berharga karena dikerjakan di tengah kesibukan rumah dan pekerjaan.

 

Saya jadi ingat pertemuan pertama setelah sekian lama kami dikumpulkan dan berkomunikasi hanya di grup WhatsApp.  Pagi itu cahaya cerah dan langit terlihat bening.  Aku bersegera ke UPI depan Villa Isola, masih menggunakan masker (masih masa pandemi) membawa bagelen kering dan tumbler isi kopi panas.  

 

Di bawah pohon beringin Villa Isola (kampus UPI) aku bertemu Nunun dan Ami.  Dengan Ami aku sudah kenal, tapi dengan Nunun masih mengira-ngira.  Kami semua dipertemukan di grup WhatssApp.  Belum saling kenal sepenuhnya.  

 

Meskipun begitu, pertemuan di bawah pohon beringina ini mendiskusikan banyak kegelisahan kami sebagai perempuan.  Perlu dan tidaknya berkarya seni dikaitkan dengan situasi sosial.  Chemistry obrolan di grup WhatsApp membuat kami jadi cair begitu saja.

 

Kami berproses bersama mewujudkan pameran secara perlahan dan bertahap.  Melewati banyak pertemuan online dan offline yang cukup instens di zoom maupun grup whatsapp.  Buat kami, waktu bertemu maupun berkarya cukup sulit, sehingga banyak situasi yang kompromis.  

 

Jangankan pertemuan offline, bertemu dalam media zoom saja tidak pernah lengkap.  Berkaitan dengan faktor jarak, situasi keluarga dan pekerjaan yang menjadi prioritas.  Secara sendirinya, ternyata Ruang Reda menjadi reda dan jeda dari fungsi kami sebagai Ibu sekaligus pekerja. 




Bertemu di The Good Life.  Dari bertemu muka ini kami lanjut berkomunikasi di grup WhatsApp, lanjut ketemu muka lagi di The Good Life berkarya bareng sambil ngopi.  Di sana kami berbincang tentang banyak hal.  Seputar anak, pekerjaan, konsep dasar pemikiran masing-masing karya.  Beberapa peserta yang tidak dapat hadir, terhubung dalam bentuk zoom untuk menyampaikan konsepnya.

 

Untuk menghadirkan bounding satu sama lain.  Aku lupa siapa yang menyampaikan ide, kami membeli satu buku sketchbook yang bentukya berlipat.  Setiap sisi diisi oleh masing-masing peserta.  Setelah beres berkarya, buku itu dikirim ke peserta yang lain.  Kami menamakan buku karya bersama itu sebagai travelling book.

 

Setelah diperhatikan, karya-karya setiap peserta berbeda-beda dan unik.  Sebetulnya setiap peserta mendapat waktu berkarya seminggu, tapi karena kondisi yang tidak memungkinkan, ada beberapa peserta yang butuh waktu lebih.  Namanya juga Ruang Reda, terpenting berkarya itu meredakan diri dari perasaan yang menekan, jadi kami memberi waktu sampai dia merasa asoy dengan dirinya agar bisa berkarya dengan keadaan nyaman.

 

Sepertinya kami butuh kurator.  Tahap berikutnya, ternyata kami butuh kurator.  Munculah beberapa nama yang kami diskusikan di dalam grup.  Sempat ada yang kami kirimkan surat, bertemu.  Dari proses pengajuan ini salah satu yang kami ajukan adalah Ceu Asih, sayangnya beliau menolak tapi Ceu Asih lebih mau mendukung membuat konsep display dan tulisan.  Senang sekali.

 

Sampai suatu hari, kakak aku-Kang Tisna Sanjaya mampir ke rumah untuk menengok Ibu.  Aku mengalir saja bercerita tentang aku yang sedang berproses dengan Ruang Reda.  Rupanya Kang Tisna tertarik untuk jadi kurator.  Aku panik karena aku sendiri belum pernah bekerja sama dengan kakak sendiri.  Banyak deh yang dipikirkan sampai over thingking.  Begitu aku sampaikan ke teman-teman, ternyata mereka senang dan menyambut baik.

 

Dengan adanya kurator, proses yang didampingi kurator ternyata menjadi daya dan membuat kami bertahan di dalam rel menuju pameran.  Keren sih, ternyata ya.  Karena meskipun berjalan perlahan, tapi kami jadi disiplin mengikuti jadwal menuju pameran.  Buat kami, situasi ini jadi energi sendiri. Setiap karya dan ide dasar masing-masing didiskusikan bersama via zoom. Oh, ternyata apa yang kami lakukan selama ini bagus dan keren.

 

Singkat cerita, pameran akhirnya terwujud,  Alhamdulillah.  Dua minggu pametran di Dago Tea House seperti punya rumah bersama.  Mungkin acara pamerannya akan aku bikin catatan lagi, karena bisa jadi lebih panjang, seru dan mengalir.

 

Semoga kami terus diberi kekuatan, kesehatan, untuk terus berkarya dan bermanfaat.  Sampai ketemu di pameran Ruang Reda berikutnya. 

 

Bandung, 28 Februari 2024
Ima
Nyawang Bandung


Sudah lama saya tidak kemping, bermalam di alam terbuka.  Begitu mendapat undangan di grup mengenai diklat alam mahasiswa Studi Teater Unisba (STUBA) di Nyawang Parongpong Bandung, saya tertarik hadir.   Kebetulan lokasi diklatnya dekat dengan rumah, dari Terminal Ledeng tinggal naik ke arah Barat. Terbersit ingin ikut sekalian menikmati yang hijau-hijau, wangi dedaunan dan udara segar. 


Meski tertarik, aku sebetulnya agak menahan diri karena baru sekitar 4 minggu beres operasi ca payudara.  Aku sempat meragukan diri sendiri ikut bermalam di alam terbuka.  Sahabat kami, Iskandar atau kami memanggilnya Kondor, mengajak kami untuk hadir.  Kami pikir, kalau pergi bareng Kondor menarik juga, karena dia bawa alat transportasi.  Biasanya beberapa teman yang seangkatan pun bakal tertarik ikut.


Aku pun mengevaluasi kondisi badan sendiri dan Holis meyakinkan kalau aku baik-baik saja, jadi aku pun merasa yakin bisa ikut kemping. Aku pikir, sepertinya aku harus tetap santai, asik, berdamai menghadapi penyakit, jalani kesempatan, menjalani hidup seapa adanya dan menyenangkan.  


Keputusan datang ke acara diklat ini spontan saja.  Kamis saling berkabar, malam Sabtu mengambil keputusan karena berkaitan dengan ada pekerjaan Holis yang bentrok.  Persiapan juga tidak terlalu banyak, kami saling berbagi tugas, saya bawa sleeping bag, lampin, alat masak, piring, gelas, kopi, teh, yang ada di rumah diangkut aja.  Sementara, Kondor bawa tenda, kompor jinjing, terpal.  Lalu kami spontan beli makanan di minimarket Ledeng.  Berangkat sore hari, tiba menjelang Isya.  Benar-benar ikut bermalam, ngopi, bikin mie, lihat suasana dikegelapan.

 

Halo, STUBA! 

Lama tak bersua.  Oh ya, STUBA ini unit kegiatan teater di lingkungan kampus UNISBA.  Waktu kuliah dulu, saya gabung unit kegiatan mahasiswa di tahun 1997.  Diklat alam yang sekarang ini masuk angkatan tiga puluh empat.  Jarak usia kami sudah sangat jauh.  Saya angkatan 8, Holis dan Kondor angkatan 7. 

 

Ki-ka: Kondor, Holis, Bayan, Ima. 


Alhamdulillah, hubungan komunikasi dan silaturahmi dengan beberapa teman di STUBA masih terjaga.  Yang paling terjaga ya hubungan dengan Holis, karena kami menjadi pasangan suami istri (naon sih! haha).  Bisa dibilang, buat saya, teman-teman STUBA tingkat prioritasnya seperti keluarga.  Bukan berarti hubungan kami baik-baik saja, tentu ada saatnya aku juga tersinggung, kesel-keselan, pundung lalu agak menjauh.  Tapi kemudian kembali lagi, lebih cepat sembuhnya.


Sebetulya saya sendiri termasuk minim komunikasi dengan beberapa teman, tapi ketika ada kesempatan pertemuan, hampir sering mengupayakan datang.  Karena buat aku, pada prosesnya ternyata pertemanan di STUBA justru bukan hubungan organisasi saja.  Tapi di sana aku mempunyai teman yang terus bertahan sampai sekarang.  Meskipun tidak berkegiatan kesenian lagi, tapi kami tetap terhubung meski sudah bertahun-tahun tidak berkomunikasi.  Dari masa lucu, polos sampai persoalan hidup yang lebih kompleks mengubah kami.



Acara diklat alam berlangsung dari Sabtu pagi.  Ada beberapa materi dan evaluasi yang dilakukan oleh pengurus STUBA pada calon anggota.  Kami datang hari Sabtu sore, dari awal kami niatkan silaturahmi, hanya ikut ngopi sore dan pagi saja.  Alhamdulillah, senang. 


Perjalanan Ke Nyawang

Kondor pergi dari Cibinong sekitar jam 10.00 wib menuju Ledeng.  Begitu Kondor tiba, kami lanjut perjalanan menuju Nyawang.  Tadinya ada beberapa yang gabung,  Ani, Bulls dan Ardi, tapi akhirnya yang berangkat hanya Kondor, Holis, saya dan Bayan (anak aku yang masih 11 tahun).  Jalan ke arah Nyawang tidak asing, karena aku pernah antar Bayan ujian naik tingkat taekwondo di tempat itu.  


Dari arah Sersan Bajuri kami mengikuti jalan dengan pemandangan tanaman hias.  Langit sudah sedikit redup.  Kami melewati komplek Graha Puspa untuk memotong jalan, karena kalau lihat peta di Gmap harus terus memutar ke arah Parongpong.


Pemandangan kiri kanan menuju Nyawang sangat indah sekaligus ekstrem.  Kami disuguhi pemandangan sunset lengkap dengan awan yang bertumpuk-tumpuk, warna orange dan jingga.  Perbukitan, lembah berundak dipenuhi perkebunan sayuran.  Beberapa ada rumah di tengah kebun dengan model minimalis.  


Namun, makin ke atas, ternyata jalanan terus menanjak.  Tak disangkat ternyata kami melewati Rumah Teduh Sahabat Iin.  Rumah terlihat sangat asri di muka.  Aku jadi ingat kalau Rumah Teduh Sahabat Iin yang terletak di Sukajadi merupakan rumah singgah untuk pasien dan keluarganya yang tengah berobat kanker atau penyakit yang tidak menular.



Jalanan ternyata terus menajak sampai akhirnya mobil Kondor berhenti juga. Tidak kuat.  Saya dan Holis memutuskan untuk turun.  Betul saja, mobil akhirnya bisa naik.  Kami berdua saling pandang, langit makin gelap, meski begitu lihat ke belakang pemandangan Bandung sangatlah indah.  Kami berdiri sejenak sambil melihat sekeliling.  Semua tampak indah dan tentram.  Kemudian terbangunkan lagi, langkah harus kami lanjutkan.  Tidak ada sinyal handphone, kami tunggu jemputan atau terus jalan.  Semua begitu hening dan semakin gelap.  Kiri kanan rumah dengan lebar jalan hanya cukup satu mobil, jalanan terus menanjak.  Kami pun memutuskan perlahan jalan kaki perlahan sambil mengatur nafas saling berpegangan.  


Tak lama kemudian, muncul suara motor dari arah atas, lalu berhenti mendekat. 

"Bapak Ima bukan?"  Sapanya.  

"Hayu ikut saya untuk naik ke tempat perkemahan." Lanjutnya

"Euh, gimana maksudnya?  Saya dulu atau gimana?" Tanya saya.  Terus terang, saya takut pergi sendirian juga meninggalkan Holis di jalanan sepi dan gelap.

"Hayu bisa bertiga, kuat kok!" Pengemudi itu meyakinkan kami.

Kami akhirnya naik motor bertiga, pengemudi, Holis lalu aku.  Aku lupa berat badan, tapi ternyata motor ini kuat membonceng kami yang tambun.  Dengan jalanan yang terus menanjak, aspal yang sudah rusak, kami saling berpegangan.  Tidak begitu jauh tapi cukup menegangkan.  Alhamdulillah, di depan mata ada plang Perkemahan Nyawang dan sebuah mobil yang kami kenal milik Kondor.  Kami pun tiba dengan deg deg an dan penuh tawa.  Alhamdulillah terlewati juga.


Di lokasi, lampu lampu kecil menerangi suasana hutan yang semakin pekat.  Motor kembali di pos, mobil Kondor di parkir dekat warung-warung.  Ternyata pengurus tidak bisa dihubungi karena tidak ada sinyal.  Jadi kami tanya kiri kanan untuk menemukan perkemahan anak-anak.  


Dalam gelap, kami jalan pelan-pelan.  Syukurlan tidak terlalu jauh dan lokasinya berdekatan dengan mushola.  Jadi kami langsung bertemu dengan para pengurus dan anggota STUBA.  Senangnyaa... alhamdulillaah...


Hey, Nyawang, Kami Datang

Kami dan para pengurus akhirnya bertemu di mushola, di sekitar mushola anak-anak STUBA menyediakan beberapa tenda warna orange.  Tenda-tenda berkeliling di bawah pepohonan pinus.  Untuk meredakan rasa perjalanan yang menegangkan, kami duduk-duduk dulu di mushola berbentuk saung dari bambu.  Menentramkan.  Lalu lanjut shalat magrib.  Selesai shalat magrib, kami pun berbincang-bincang.  Tentang acara, tentang pertunjukan dan banyak lagi.


Di ujung pepohonan pinus tak lama kemudian terdengar suara dentuman senapan.  Meski cukup mengagetkan, kami tetap berbincang, Holis dan Kondor memasang tenda.  Suara dentuman senapan cukup kencang, suara teriakan komando menadakan mereka tengah berlatih.  Sesekali terdengar hentakan orang berlari.


Suasana tenda hanya terlihat warna orange dengan minim pencahayaan.  Kami pun memutuskan untuk membuat makan malam: seduh kopi dan roti.  Di kiri kanan pepohonan dan beberapa kumpulan orang bertenda tengah bersenda gurau.  Memainkan gitarnya dan lagu-lagu lawas.  Sesekali saya memandang ke langit, terdengar gemuruh dedaunan pohon pinus.  Saya pikir hujan.  Ternyata deru dedaunan.  Angin cukup kencang, kadang membawa awan lalu bulan terlihat sebagian.  Indah sekali.


Selepas makan malam, kami diajak untuk jadi pemateri untuk para pelajar STUBA.  Saya tidak ikut, istirahat di tenda saja bareng Bayan.  Bayan pun tidak saya izinkan bermain game di handphone demi menghemat daya batre.  Jadi batre hape kami gunakan untuk pencahayaan.  Karena tidak banyak yang kami kerjakan jadi kami menggambar bersama.  


Sekitar 1,5 jam kami menggambar di tenda, tak lama Bayan pun tidur.  Saya masih terjaga karena suara tembakan menggema diantara pepohonan pinus.  Mungkin saya santai, tapi tak terbayang masyarakat Palestine yang hidup sehari-hari dikejutkan dengan letusan senjata dan bom yang datang tiba-tiba. 


Malam Makin Larut

Kalau diklat zaman aku, malam seperti ini kami tampil bergantian.  Ada yang main musik, pertunjukan pendek, baca puisi, performing art.  Tapi acara malam ini selesai materi berbagi dari Holis dan Kondor mereka istirahat dan tengah malam dibangunkan untuk melakukan perjalanan malam sendiri-sendiri.


Kami istirahat di tenda yang kami buat, tapi aku sendiri agak sulit tidur.  Karena meskipun di tengah hutan pinus, ada yang berkemah juga kelompok lain.  Mereka bernyanyi sambil memainkan gitar dan canda tawa mungkin sampai menjelang subuh.  Selain itu, teriakan instruksi kiri kanan diantara pepohonan tipis-tipis terdengar.  Lalu orang berlari sambil memainkan senjata.  Pas suara-suara itu mulai terasa lebih hening, aku pun baru bisa tidur.  Tidak Bayan, alhamdulillah dia lelap dan enjoy banget.  Begitu pun Ayah.


Subuh menjelang pagi kami baru bangun karena baru tidur.  Ternyata Kondor kesulitan tidur juga karena suara-suara.  Meski sedkit tidur, sebetulnya badan terasa lebih tenang, karena posisi tubuh dalam kondisi istirahat.  Wajah Bayan terlihat cerah, pun di luar tenda, perubahan cuaca dari subuh menjelang fajar begitu syahdu.  Udara terasa dingin dan agak berkabut.  Perlahan kami berjalan menuju toilet umum.  Suasana lebih hening, hanya peraduan suara bebatuan dan sepatu, sayup-sayup angin memberi ketenangan tersendiri.  


Perkemahan kami dekat dengan toilet umum, jadi kami cukup mudah untuk membuang hajat, melakukan aktivitas wudhu maupun bersih-bersih.  Meskipun ingin mandi, saya lebih memilih menahan diri.  Beberapa organisasi undangan masih terlelap di balik tendanya.  Beberapa duduk-duduk memainkan peralatan.


Melihat sekita sehening itu, ternyata acara jurit malam masih berlangsung di tempat yang berbeda.  Sayup suara teriak-teriak semangat disela julang pepohonan. "Nah, itu kayanya udah selesai, Teh."  Seorang mahasiswa dari unit kegiatan mapenta (pecinta alam) yang ikut menghadiri undangan dan bahkan ikut membantu acara.




Selesai shalat, kami berempat mendekat ke tempat acara.  Menelusuri warung-warung, lebat pepohonan dan jalan setapak.  Suasana yang menenangkan dan menyengkan.  Ah, Allah, terima kasih karena Engkau memberi kesempatan, kekuatan sehingga kami dapat menikmati alam Mu yang keindahannya tak ada bandingannya.


Di tempat acara, para anggota baru atau mereka menyebutnya pelajar tengah menyebutkan nama angkatan.  Kami datang di akhir acara, berfoto dan memberi beberapa kata semangat untuk pelajar, pengurus juga pembina STUBA.  


Waktu berjalan begitu tenang, sehingga tak terasa aku pernah mengalami situasi yang sama 26 tahun yang lalu.  Rasanya macam-macam, kesal, lelah, membosankan, membingungkan, menyenangkan, semangat, semua naik turun.  Perlahan waktu dan berbagai situasi datang lalu pergi.


Alhamdulillah, berbagai situasi perlahan bisa dilalui dengan izin Allah dengan bantuan Allah dengan cara yang mudah, sulit, cepat, lambat yang disadari akhirnya mengelola segala sisi.  Semua itu menjadi begitu baik hari ini, begitu mudah diterima dan mudah dijalani.  Allah Maha pemelihara, Penguasa Langit-Bumi-Semesta Raya dan segala isinya, waktu begitu tenang, sampai tak terasa kami bisa kembali kesempatan hadir di acara diklat alam stuba dengan jiwa, pikiran dan tubuh yang terus terpelihara dengan caraNya.

Pembina, pengurus, anggota dan pelajar STUBA.
Januari 2024


Terima kasih Nyawang, atas ketenangan dan keperkasaanya.


Bandung, 18 Februari 2024

Ima

Tahun lalu, dua ribu dua puluh tiga, menjadi tahun kembali pada panggung, kembali berkesenian sekaligus menjadi tahun kehilangan yang beruntun.  Kehilangan Ibu juga kehilangan payudara kiri.  Ibu dan bagian tubuh aku yang diambil oleh pemilikNya.  Iya, keduanya diambil kembali oleh Pemilik Kehidupan.

Melepas Ibu dan melepas payudara menjadi fase berpisah yang tidak mudah. Tentu tidak mudah, sesuatu yang sudah biasa melekat dari sejak lahir.  Melewati fase shock, denial, perlahan menata pecahan yang tercecer.  Sampai pada titik menyadari penuh bahwa tubuh, hati, pikiran, segala sesuatu yang melekat dengan tubuh dan di luar tubuh, dari yang tampak hingga kasat mata, semua adalah milik Allah SWT-Maha Pemilik seisi bumi dan langit. Ya, termasuk aku.  Aku adalah milikNya.  Kelak, entah kapan, aku pun akan kembali.  Membawa segala langkah baik dan buruk. 


Saat aku berhenti menjalani hari-hari bersama Amih, ketika Amih pulang pada Pemiliknya, aku bingung.  Ketika masih ada Amih, hampir tidak ada waktu untuk diri sendiri.  Bahkan hampir setahun aku tidak ada waktu mendampingi Bayan belajar.  Menulis juga menggambar hampir tidak ada waktu, ketemu teman benar-benar mencuri waktu, semua serba terburu-buru.  Kadang mencuri waktu untuk minum kopi sejenak di Ind*mart depan rumah sambil sekalian beli pampers dewasa.  


Sekarang ketika banyak waktu, justru bingung.  Entah berkarya, aktivitas apapun menjadi tidak ada energi. Saat itu apapun yang aku lakukan selama ini terasa seperti sia-sia.  Apalagi yang bisa aku upayakan untuk Amih?  Waktu seperti ikut berhenti, sampai akhirnya aku menyadari bahwa aku masih harus terus hidup.  Mulai berobat yaitu kemo, operasi, mengisi hati kembali, merapikan pola pikir, juga memperbaiki tujuan hidup. 


Saat aku sedih dan merasa kehilangan, aku ingat saat Rasulullah kehilangan orang-orang tercintaNya sehingga disebut tahun berduka.  Jadi aku pikir, aku rasa, aku tidak apa-apa bersedih dan tidak ada energi hidup.  Saat tahun berduka itu, Rasulullah sampai diajak Allah melakukan perjalanan Isra Mi'raj, diperlihatkan segala kekuasaan Allah dalam satu malam.  Mungkin itu sebabnya, ketika kita berduka, saat itu kita pun sepertinya sedang diajak untuk berdekatan dengan Allah SWT.


Kalau disadari, kita sebagai manusia sama seperti pegunungan, pepohonan, bunga, bebatuan, air, tanah, tumbuh-bergerak sesuai fungsinya.  Sama-sama makhluk Allah.  Bedanya catatan hidup kita yang sudah tertuliskan di Lauh Mahfidz itu bisa kita imani atau kita tolak.  Kita diberi otak untuk memelihara hidup menjadi lebih baik atau sebaliknya.  Dalam diberi ujian suka dan duka, kita diajarkan untuk terus percaya dan bergantung penuh pada Allah SWT sebagai pemilik isi bumi dan isi langit. 


Dalam proses melepas ini, aku seperti, hmmm, apa ya, hmmm... diajarkan untuk mensifati air.  Terus bergerak, terus berbuat, terus belajar menerima apapun si-aku yang keras kepala-keras hati ini.  Mengikuti semua aliran yang bergerak membentuk air yang lambat, deras, berdiam, menjadi es, menguap, menetes.  Mengikuti alurNya dengan tenang dan yakin pada cara Allah mengelola kita.  Ternyata jika berhenti pada rasa takut dan terus mempertanyakan kesalahan diri/mempertanyakan perbuatan baik yang sudah aku lakukan hanya berakhir pada rasa letih.  Menyalahkan diri sendiri atau bahkan sombong.  Dua sisi yang terus tarik menarik yang tidak memberi jalan keluar sama sekali selain letih dan gelisah.


Melepas tidak mudah, tapi rasa tidak mudah ini tidak perlu dibiarkan terlalu lama.  Karena setiap diri dan apapun yang melekat pada diri adalah milik Allah.