Foto: Ima
Mobil123.com merupakan portal yang menyediakan informasi jual beli mobil baru dan bekas bagi anak muda.  Jumat kemarin, mereka mengadakan talkshow “Memilih Mobil Terbaik untuk Anak Muda” di Athmosphere Coffe and Lounge Bandung. Tempat yang sangat nyaman, berkelas dan elegan, sesuai dengan tema talkshow kali ini. Pembicara yang terlibat di acara talkshow ini membukakan mata kami, bahwa kondisi anak muda masa kini mempunyai style dan mengalami kemajuan dan kemapanan secara finansial. Mereka yang berbagi adalah Dani Rohmat (Sales Supervisor Auto 2000 Cab. Soekarno Hatta Bandung), Indra Prabowo (Managing Editor Mobil123.com) dan Irwan Nurfiandi (Head of Marketing Mobil 123.com). Antusiasme undangan cukup tinggi, pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan menarik, karena portal ini memberi solusi bagi anak muda yang ingin mempunyai mobil impiannya.

Kini performa alat transportasi lebih beragam dan mengikuti karakter anak muda.  Pilihan jenis mobil banyak, seringkali anak muda tidak mengerti harga dan fasilitas mobil seperti apa yang cocok untuk kebutuhan masing-masing.  Bagaimanapun, fasilitas transportasi pribadi, bisa membuat nyaman penggunanya dan tenang  sebagai teman perjalanan. Dengan adanya mobil,aktifitas sehari-hari jadi lebih mudah.  Seperti harus mendatangi suatu tempat yang jauh, pergi bekerja, bersilatuhami, mengangkut barang dagangan, bersosialisasi, mengantar anak-anak sekolah, travelling, dan banyak lagi. 



Foto: Mobil123.com


Tentu saja setiap orang atau anak muda, ingin memperoleh hidup yang lebih baik, salah satunya memiliki kendaraan sendiri. Begitu seseorang punya mobil maupun motor, seolah menjadi syarat bahwa hidup seseorang sudah mapan. Tidak sekedar memfasilitasi kebutuhan, tapi punya nilai prestise sendiri ketika seseorang menggunakan kendaraan sendiri.  Ada anggapan keberhasilan seseorang itu karena sudah punya mobil pribadi. Setidaknya, itu yang terjadi di Indonesia. 

Seringkali, calon pembeli kesulitan mencari info alat transportasi yang pas, tepat dan sesuai harapan. Sebelum membeli, mereka biasanya mencari model mobil, harga yang sesuai budget dan beragam informasi tentang mobil tersebut. Biasanya para pembeli akan langsung mendatangi showroom, pameran-pameran otomotif, untuk meyakinkan keunggulan masing-masing kendaraan dari berbagai sisi.   

Menyadari animo dan gaya hidup masyarakat yang menaruh minat tinggi membeli mobil, mobil123.com tepat dijadikan patokan untuk mendapatkan informasi khusus jenis mobil. Portal ini menyediakan beragam info yang dibutuhkan, diantaranya:

1. Info mobil baru
2. Mobil bekas
3. Motor
4. Pasang iklan
5. Berita Mobil
6. Bantuan


Point-point yang disediakan mobil123 tidak terlalu rumit dan loading foto juga cepat dan identitas produknya juga lengkap.  

Melalui internet, dunia bergerak mudah dan cepat. Bagi pengusaha apapun jenis badan usahanya, dunia digital bisa dimanfaatkan fungsinya untuk meluaskan pangsa pasar. Begitupun dengan pembeli, mereka bisa dengan mudah mencari berbagai informasi di berbagai portal khusus yang menyediakan produk/jasa yang dibutuhkan. 

Keadaan ini menciptakan perubahan gaya hidup sosial masyarakat yang tadinya harus menyisihkan waktu yang banyak observasi, kita tinggal mencari info di depan laptop ataupun handphone.  Tapi jangan salah, kita memang dengan perkembangan teknologi yang cepat sekaligus hidup dengan berbagai generasi.  Generasi yang belum mengenal teknologi, generasi yang baru mengenal teknologi dan mengikuti perubahannya dan generasi yang sudah kenal dengan teknologi.  

Generasi Baby Boomers (1946-1960) dan generasi X (lahir tahun 1960-1980), i sekarang, mereka cenderung lebih pasif.  Sementara generasi lain yang lahir tahun 1990-an, 1981-1995 (generasi Y) dan generasi yang lahir setelah 1995 (generasi Z), cenderung aktif memanfaatkan internet untuk segala aktifitasnya.  

Sehingga portal-portal jual beli seperti mobil123.com, menangkap kebutuhan pangsa pasar generasi muda yang kerap mencari produk kesukaannya melalui cara online. Alat informasi yang digunakan generasi Y dan Z sudah menjadi kebutuhan primer, rata-rata anak-anak muda ini punya laptop, handphone dan smartphone, sebagai media bersosialisasi.

Semua alat komunikasi tersebut masih mudah dipelajari oleh generasi Y dan Z dan perkembangannya selalu dicari. Namun, anak muda ini pun dibagi 2 generasi, anak muda mapan dan anak muda yang sedang berkembang. Antusias anak muda di rentang usianya, menaruh minat pada kebutuhan fashion, kuliner, traveling, alat transpotasi dan mulai membeli/menyicil rumah. Generasi masa keemasan dan produktif seperti itu, selalu muncul keinginan dapat pengakuan dari masyarakat.

Kebutuhan anak muda bertambah, terutama buat mereka yang sudah bekerja maupun wirausaha. Mempunyai kendaraan pribadi menjadi impian semua orang, tanpa terkecuali. Karena alat transportasi ini bisa memfasilitasi produktifitas kerja, semua aktifitas bisa dikondisikan. Anak muda yang ingin punya mobil pribadi bukan berarti mengerti jenis mobil, keungggulan maupun harganya. 

Oleh karena itu, portal mobil 123 memfasilitasi kebutuhan masyarakat. Portal ini tidak menjual mobil, tapi menyediakan media yang menghubungkan penjual (dealer resmi maupun perorangan) dengan calon pembelinya. Web mobil 123 ini juga mudah diakses, fotonya banyak, informasi dan berita-berita tentang mobil juga lengkap.  Bapak Irwan Nuri menekankan, setelah merasa cocok dengan mobil pilihannya, sebaiknya ketemu fisik untuk melihat langsung keadaan mobil, surat-surat dan history penggunaan.  Jadi tetap proses maya dan bersentuhan langsung tetap harus dilakukan.  Apalagi benda jual beli yang  punya nilai tinggi, tetap harus dilakukan secara langsung.  Melalui portal mobil123, kita bisa leluasa mencari info selengkap-lengkapnya.  Setidaknya, proses pencarian dan menuju pembelian, bisa 80% dilakukan dengan menghemat banyak waktu.

Bandung, 30 Oktober 2016
@imatakubesar

 

Pagi itu, ada kejutan dari Ina-sahabat SMA-, dia mengabarkan bahwa Dewi dan Susi ada di Bandung.  Saya kaget, senang, bingung, karena hari itu ada acara.  Setelah diskusi degan suami, saya pun memutuskan untuk menemui teman-teman.  Karena ini momen yang langka, sudah 20 tahun kami tidak bertemu sejak lulus SMA.  Setelah Dzhuhur saya pun mendekat ke lokasi tempat mereka berkumpuldi Farm house.  Saya tak bisa membayangkan, apakah mereka masih menerima saya atau tidak.  Bagaimana sikap mereka, saya takut mereka berubah.  Pikiran dan hati saya beragam. 

Begitu sampai, saya segera mencari tahu posisi mereka dan tak sulit menemukannya.  Pertama saya melihat Susi lalu Ina kemudian Dewi, meski sudah dalam balutan baju khas pedesaan Belanda, saya ternyata masih mengenal mereka.  Rasanya senang sekali, seperti mimpi, ditambah bangunan-bangunan unik disekitarnya, membuat pertemuan ini terasa lebih ajaib.  Seperti baru kemarin kita berfoto bersama selepas acara perpisahan. 

“Imaaa… kamu gemukan.”  Ujar Susi yang baru datang dari Palembang.
“Iyah, iyah.”  Jawabku tak banyak.  Saya peluk mereka.
Sok atuh, ganti baju dulu.  Kita tunggu di sini, Im.”  Ajak Dewi.

Glek!  Saya tersenyum kecut, lalu memandang Ina.  Sebenarnya saya paling tidak bisa di foto kecuali rame-rame, ditambah saya tidak bisa membayangkan harus pakai baju tradisional itu.  Rasanya semua orang akan melihat saya, duh, saya malu.  Saya menahan gelisah.
Sepertinya Ina memahami raut muka saya yang agak berbeda.

“Ayo, Ma, Ina juga pakai.  Mau dianter?”  Ajaknya lembut.

Lamunan saya terpecah oleh kalimatnya.  Saya pun tersenyum, karena tadinya saya terfikir untuk jadi juru foto mereka saja, tapi saya fikir kapan lagi kita seru-seruan seperti ini.  Demi keseruan hari itu, saya pun mau pakai baju itu.  Saya pun memberanikan diri, lampaui batas rasa malu, pergi ke ruang penyewaan, selembar demi selembar baju dipasangkan ke tubuh saya.  Taraaa…


Begitu keluar ruang, saya tarik nafas panjang, melangkah satu persatu, meyakinkan diri dan mulai tak pedulikan orang sekitar.  Kami pun mulai keliling, di foto di berbagai sudut yang menarik.  Saya mau hari ini kita merayakan pertemuan, berbagi kebahagiaan dan keceriaan demi 20 tahun yang lalu tanpa pertemuan. 

Untuk hari ini, persahabatan dan perjalanan hidup.


Bandung, 30 Oktober 2016
#lampauibatas
@imatakubesar
Foto: Ima

Suara serak Janis Joplin meneriakan lagu Summertime membuka keberanian saya untuk mulai menulis. Okeeeeh… karena awalnya sih bingung mau mulai dari mana. Jadi saya mulai dari apa yang saya dengar. 

Pagi yang dingin, sebentar mendung, sebentar cerah, sambil mengunyah donat cokelat beli di depan sekolah SD dan meneguk kopi gayo seduhan suami pakai kalita wave. Mulut dan pikiran dibawa kemana-mana, dimulai dari saya suka beli komik Casper di Borma, suka jalan sendiri, menikmati pepohonan dan langit, suka nonton teater, berproses di panggung pertunjukan beberapa tahun, sampai akhirnya kembali ke rumah. Jadi kapan saya suka menulis? Sejak kecil kalau ada tugas menulis, saya senang sekali mengerjakannya. Saya fikir, saat itu, dulu sekali, kalau mau menulis harus diberi tugas dulu sama guru, hahhaaa… Hidup saya penuh dengan instruksi, jadi kalau mau inisiatif agak sulit sampai akhirnya insaf begitu ketemu teman. Kata teman, kalau mau melakukan sesuatu, ya, buatlah, lakukan, ciptakan sendiri dan lakukan secara terus menerus.

Suatu hari, sudah lama sekali, di meja kasir Tobucil sekitar tahun 2003-an, saya dan teman-teman ngobrol sana sini sampai berujung buka akun di blogger dot kom. Kalau mau, saya menulis dan posting di blog, kalo engga mau, saya engga menulis dan engga posting di blog. Jadi maunya apa? Maunya saya yaitu bisa keliling dunia, karena saya mau liat pohon, sungai, laut, menikmati suara burung di hutan, mau naik kereta, mau mencoba beragam khas makanan, mau nonton pertunjukan seni khas daerah, tapi kelilingnya dibayarin dan diongkosin. Maksudnya, keliling dunia memang karena pekerjaan, hehehe. Abaikan alasan ini, karena engga nyambung. 

Dengan banyak maunya ini, bukan berarti jadi galau karena kejadian ini belum terwujud sampai detik ini. Tapi saya menikmati yang apa yang paling mungkin saya kerjakan sekarang. Dan yang paling mungkin saya lakukan sekarang yaitu menulis sok keren di blog, kata orang Bandung mah, “Nu penting gaya.” (Nu ini artinya yang) Ternyata dari nu penting gaya ini, ternyata membukakan banyak pintu. Dengan ada blog, saya jadi ada keberanian untuk menulis satu kata demi kata, kalimat-kalimat, pikiran, hati, diolah dalam sebuah tulisan dari apa yang saya lihat, apa yang saya rasa dan apa yang saya dengar. Tadinya saya fikir tulisan saya ini cuma saya aja yang baca, sampai suatu hari tiba-tiba ada yang menanggapi di kolom komen, atau ada yang inbox, ada beberapa teman yang ternyata apresiatif. Wih, saya takut, saya jadi agak hati-hati menulis di blog. Idih, ternyata ada juga ya yang mau baca tulisan saya. Duh, sumpah maluuuu (awalnya), dari sana saja jadi lebih hati-hati dan mempelajari banyak hal dunia menulis dan teknis nge-blog.

Meskipun saya masih mencoba terus untuk komitmen dan mengasah pendirian untuk terus menulis.  Ternyata dari menulis di blog, membuat saya masuk ke dalam beberapa pertemuan yang melibatkan penulis blog lain dan dari sana saya melihat banyak warna kehidupan. Banyak hal menarik yang saya serap dan pola hidup yang unik. Melalui geliat blog ini, saya jadi mengolah banyak hal, membuka banyak ruang kehidupan dan mengikuti dunia digital. Disana juga ada reaksi alami dunia pertemanan, dari saling berkenalan sampai akhirnya punya hubungan sangat baik atau bahkan saling menjatuhkan. Eitss… yang bener? Saya rasa, dilingkungan manapun, kejadian ini alami, pribadi orang beda-beda. Semakin dewasa dan masuk ke dunia blog semakin meluas, untuk mendapatkan teman yang klik dan “seiman” itu ternyata sulit. Banyak faktor yang mempengaruhi, sehingga manusia dewasa banyak was was nya. Meskipun begitu, lebih baik jadi diri sendiri dan teman-teman “seiman” maupun dengan warnanya sendiri, akan datang dengan tingkat kepercayaannya.

Foto: Ima

Sampai saat ini, saya masih cukup nikmat menulis dan posting di blog, apalagi kalau postingannya dibayar atau barter dengan produk, mengekpose tempat, mencoba beberapa makanan restoran maupun café dan hadir di beberapa acara. Itu menjadi salah satu kegiatan yang sedang ramai, meski di luar negeri, kondisi sosial ini sudah berlangsung lama. Semakin banyak tempat yang dikunjungi, pertemuan-pertemuan, obrolan-obrolan, semakin membuka banyak pandangan saya tentang beragam hentakan dan degup jantung di luar sana. Meski sampai saat ini, saya belum ada keberanian untuk mengirimkan tulisan ke media cetak maupun membuat buku solo. Bertahun-tahun melengkapi hidup dengan menulis sebatas di blog pribadi, ikut lomba menulis di blog dan tergabung dalam beberapa kompilasi buku. Rasa percaya diri saya memang sangat payah, meskipun kata teman-teman dekat, saya orangnya pemberani. Saya aminkan saja dan semoga lebih baik dari yang teman-teman saya perkirakan. Uuuyeaaah!

Instrumen musik Janis Joplin masuk ke Ball and Chain, hentakan drum dan gitar elektiknya edun banget. Di luar masih hujan, wangi kopi gayo habis, jadi saya seduh lagi. Suara seraknya, membuat saya berfikir, ada energi yang ‘gila’ banget dari musisi perempuan ini. Ruang-ruang sunyi, ruang-ruang gelisah yang diangkat ke atas panggung menjadi karya seni musik dan mewakili suara banyak orang. 

Nah, begitupun begitu saya membaca beragam tulisan para blogger perempuan ini, tulisannya banyak "meneriakan" hal-hal yang masuk ke diri, kadang sangat spiritual dan inti kehidupan itu sendiri.  Seperti tentang keluarga, catatan harian, lifestyle, atau bahkan analisanya tajam ke persoalan sosial lainnya dengan gaya tulisan yang seolah-olah berdialog langsung. Ulasan dan pengolahan kalimatnya bagus-bagus, temanya tak lepas membagi pengalaman pribadi dan diolah menjadi bacaan yang menarik. Banyak juga tulisan edukatif diolah dengan pembawaan yang ringan, jadi terasa lebih mudah diserap. Masing-masing blogger ini meneriakan jiwa dan pikirannya dengan cara yang unik.  Suara perempuan di dunia digital ini sangat ramai dan hidup, media ini tentu menjadi sangat berarti bagi perempuan.  .

Mendengar suara dan musik Janis Joplin ini seperti mewakili pergerakan para blogger-blogger perempuan ini belakangan ini. Lepas apakah masing-masing tulisan punya misi atau tidak, sedikit banyak, tulisan ini banyak mempengaruhi pembacanya. Masing-masing akan menemukan alirannya.

Pssst! Saya nulis apa ini? Jadi, apa yah, kalau kamu suka menulis, tulislah dan bebaskan. Bebaskan tulisan kamu di media yang kamu suka, mau blog, buku, zines, di poto kopi terus dibagikan, koran, majalah, dan lihatlah bagaimana dunia membawa kamu ke berbagai ruang-ruang kehidupan yang penuh kejutan dan siap dengan berbagai resikonya. Intinya, menulislah, pelajari ilmunya, buat hubungan baik, teruslah menghargai siapapun, jadi diri sendiri. Lalu kamu akan bertanya, bagaimana saya bisa mendapatkan uang dari menulis? Tenang, setiap orang yang bersungguh-sungguh dan tulus, pasti punya jalan rezeki dengan caranya sendiri dan kamu akan dibukakan pada kehidupan yang luas, luaas, luaaas, luaaaas.

Selamat Hari Blog Nasional. Keep your hand writing, dunia ini banyak warna dan dengan sendirinya kamu akan menemukan warna duniamu sendiri. Berbahagialah.

Bandung, 27 Oktober 2016



@imatakubesar



Sumber foto: Disini.


"Tidak ada yang salah dengan anak Ibu, semua anak terlahir sempurna."  
Salah satu klu dialog paling dalam 
di film Wonderful Life.

Begitu dialog ini keluar, jantung terasa tertohok lalu ingatan saya melesat ke rumah, menuju anak-anak.  Menonton film Woderful Life, seperti sebuah cermin bagi penontonnya, khususnya bagi saya.  Beberapa kejadian,  menarik emosi yang dalam antara Amalia (Ibu Aqil) dan Aqil (anaknya).  Beberapa kondisi Aqil menjadi persoalan sendiri dan ditangkap sebagai reaksi yang “menjengkelkan” berikut mengkhawatirkan bagi seorang manuasia dewasa. Karena, Aqil tidak tumbuh seperti anak-anak pada umumnya di usianya yang sama.  Tak hanya itu, adegan pun dilengkapi dengan suasana alam yang sangat bagus, suasana khas pedesaan cuaca tropis di Indonesia.  Sawah, hutan, danau, langit, semua berkolaborasi melengkapi keindahan energi cinta yang perlahan tumbuh antar Amalia dan Aqil.  Atiqah Hasiholan sebagai Amalia dan Sinyo yang berperan sebagai Aqil berperan sangan alami dan indah.  Keduanya akting layaknya ibu dan anak sungguhan.  Chemistry keduanya tertangkap pada gesture, mimik muka dan kelugasan mereka berdua dalam bermain.  Sangat indah. 

Sumber foto: di sini.

Film dengan tema cerita parenting ini unik, diangkat dari kisah nyata tentang perjalanan hidup seorang Ibu yang mempunyai anak disleksia.  Disini kita bisa melihat bagaimana karakter si-ibu pekerja yang begitu tertekan menghadapi kondisi lingkungan terhadap anaknya.  Sosok ibu menjadi tokoh yang banyak menuntut pada anaknya, dalam keadaan tertentu Amalia yang modern, pintar dan pemimpin handal di perusahaan hebat, justru tidak faham dengan keadaan anaknya dan berusaha dengan mencari berbagai pengobatan hingga datang ke dukun.  Dia selalu berfikir bahwa semua penyakit ada obatnya dan bisa ditangani oleh uang (bayar orang ahli).  Bisa jadi, hal ini lahir dari rasa Cinta terhadap anaknya dengan harapan anaknya dapat menjadi seseorang sesuai standar Amalia. 

Sumber foto: Disini.

Ini menariknya, upaya yang dilakukan oleh Amalia ini menjadi titik nol proses batin pertemuan antara dirinya sebagai Ibu dan pribadi Aqil yang unik.  Perlahan Amalia melihat Aqil dalam bersosialisasi, berkomunikasi, berekpresi dan apresiasinya terhadap berbagai lingkungan yang dia lewati.  Di film ini, perlahan penonton pun seolah ikut dibukakan matanya, bahwa kemampuan dan apresiasi anak-anak terhadap lingkungan sangat unik.       

Jalan cerita sederhana dan klise, seorang ibu yang berjuang mencari pengobatan kemana-mana dengan mengorbankan banyak hal hingga mempertaruhkan pekerjaannya.  Hal yang menarik dari film Indonesia ini, kita akan diajak untuk mengeksplore berbagai tempat pengobatan alternatif khas Indonesia.  Dari pengobatan tenaga dalam, jamu-jamuan hingga dukun.  Melalui orang-orang ini dan berbagai situasi yang terjadi, si-ibu seolah mendapatkan berbagai klu satu persatu keluar dari ketidakfahamannya.  

Proses eksplore Amalia dan Aqil melewati satu tempat ke tempat lain, menjadi proses petualangan tersendiri yang indah bagi Aqil dan keindahan tersendiri bagi penonton.  Banyak pemandangan alam pedesaan di Indonesia yang diperlihatkan dengan sangat indah.  Rentang perbedaan masing-masing suasana kota dan desa terbangun kuat, karakter orang-orang desa dengan orang kota melahirkan suasana dan pembawaan yang berbeda.  Angga Dwimas Sasongko sebagai sutradara, saya rasa telah berhasil mengeksekusi cerita dengan apik dan handal menangkap jiwa masing-masing situasi dan adegan. 

Seringkali cinta melahirkan seribu satu sikap dari masing-masing orang. Bahkan, kadang kala cinta sering melahirkan ego sendiri lalu menghancurkan dan menutup mata kita untuk memahami dunia orang lain, dalam hal ini sulit mengerti anaknya sendiri

Di film ini, kita diajak untuk melihat, mendengar, merasa, semua menjadi satu kesatuan hidup yang mengasah kepekaan dan belajar memahami kondisi anak. Selama kita mau membuka hati dan cara pandang, disitu kita akan menemukan keistimewaan masing-masing anak. 

Seringkali, nilai-nilai moral dan informasi baik sangat mudah disampaikan melalui visual.  Film merupakan media yang tepat untuk merangkul sudut pandang masyarakat yang beragam dalam menghadapi anak-anak.  Jadi saya fikir, film ini sangat baik dan film yang sangat menyentuh untuk dinikmati semua kalangan terutama keluarga, pemerhati pendidikan sebagai media kontemplatif dalam menghadapi anak-anak. 

Bandung, 17 Oktober 2016
@imatakubesar

  
Link trailer film Wonderful Life:



Milea dan Dilan.
Foto: Ima


"Tujuan pacaran adalah untuk putus.  
Bisa karena menikah, bisa karena berpisah."
Pidi Baiq (1972-2098)

Membaca buku Milea: Suara dari Dilan, seperti proses membaca kota dan degupnya. Disana penulis menuturkan situasi jalan-jalan kota dan sudut-sudut kota yang memberi rasa dan kekuatan romatisme sendiri. Tak hanya itu, Pidi Baiq sebagai seniman gambar, musisi juga penulis, melengkapi bukunya dengan ilustrasi. Sekalipun isi cerita novel ini tentang kisah cinta pasangan remaja antara Dilan dan Milea era 90-an. Tapi saya rasa, Pidi Baiq bercerita tentang kota dari berbagai sisi dengan cara yang sangat halus. Kehidupan remaja yang penuh energi, juga ”kegelisahan” kondisi sosial saat itu. Cerita cinta Milea, Dilan dan orang-orang disekelilingnya menjadi jembatan. Ini bukan buku remaja biasa, karena kamu akan menemukan sikap dan gaya obrolan yang nyaman antara Dilan dan Milea yang asik dan unik dalam menunjukan cintanya.

Di halaman 119, Dilan dan Milea jalan-jalan ke Cikapundung. Di halaman itu kamu akan dijelaskan apa itu Cikapundung. Ada dialog yang asik antar mereka:

“Mau majalah Playboy?” Kutanya Lia saat sedang memilih-milih majalah

“Gak!”

“Mang, ada Playboy?” Kutanya pedagangnya.

“Engga, Mang!” kata Lia menoleh sebentar sambil memilih-milih majalah.

“Ada, kalau mau,” jawab tukang jualnya sambil sibuk membereskan tumpukan buku dan majalah. Aku senyum.

“Engga, Mang,” Kata Lia.

“Anak baik kita mah. Carinya Prayboy. Ada, mang?” kutanya pedagangnya.

“Prayboy?” tanya si tukang dagangnya untuk meyakinkan majalah apa yang aku cari.

“Pray,” kataku. “Prayboy.”

“Prayboy?”

“Iya, Pray. Doa.”

“Oh… buku doa?” tanya si tukang jualan.

“Ha ha ha.” Lia ketawa.

“Ada, nih,” jawab tukang jualan, menyodorkan buku kumpulan doa mustajab.

Lia ketawa lagi.

“Udah, yuk?” Lia mengajak pergi tidak lama dari itu.

“Ini, mau?” kutanya Lia sambil ememgang buku kumpulan doa itu.

“Engga,” jawab Lia. “Udah hafal.”

“Engga katanya, Mang,” kataku sambil meletakan buku itu. “Dia mah bukan seksi rohani, Mang, tapi seksi jasmani.”



Foto: Ima

Sebagai pembaca yang bukan remaja lagi, membaca novel remaja ini bisa membangun energi cinta yang kering. Kepala akan dibawa merasakan kehangatan cinta yang riang gembira dan saling membebaskan, seperti infuse yang membuat tubuh kembali segar.  Saya malah melihat Dilan itu sosok spontan dan ekspresif khas Pidi Baiq dalam kemasan remaja. Kesimpulan ini begitu saja muncul karena saya sudah membaca Buku Harian Drunken Monster, dan rangkaian buku-buku Drunken Monster yang lain. Sementara, Milea menjadi sosok perempuan yang riang, senang tertawa dan gembira karena melalui Dilan, dia menemukan suasana dan sikap-sikap yang unik dan berbeda.

Dilan menjadi sosok remaja yang menjadi magnet semua orang, berani, spontan dan unik. Dia menjadi sosok remaja yang suaranya selalu di dengar karena cerdas melihat berbagai persoalan dari sudut pandang yang berbeda dan menyenangkan suasana. Karena kepribadian Dilan yang unik, dia mempunyai teman dengan beragam karakter. Dari tukang gorengan, tukang mabuk, sampai laki-laki yang keperempuanan dan banyak lagi. Di usianya, Dilan menjadi sosok yang toleran selain dia selalu berkumpul dengan teman-teman geng motor.

Hidupku adalah ceritaku. Diriku adalah diriku, baik ketika sendiri atau ketika bersama orang lain. Aku tidak tertarik untuk mengubah seseorang agar sama dengan diriku, dan jangan ada yang tertarik untuk mengubah diriku agar sama dengan dirimu.



(Milea: Suara dari Dilan, halaman 114)


Yang “menghidupkan” sosok Dilan menjadi Dilan yang berbeda, bisa jadi karena “kontribusi” Bunda dan Ayah Dilan. Kadang ketika Pidi Baiq bercerita tentang Bunda, saya suka cemburu pada Dilan karena betapa asiknya Dilan punya Bunda yang bisa diajak becanda dan suka saling bermain kata-kata. Rumah Dilan seperti keluarga impian semua orang, sekalipun Ayahnya jarang pulang karena tugasnya sebagai tentara. Biarpun Ayahnya tentara, dia bukan Ayah yang kaku tapi justru senang “mempermainkan” Dilan dan suka mengajak Dilan mengeksplore beberapa tempat yang tak biasa. Kamu bisa lihat dan ikut tergelak begitu melihat halaman 26 dan beberapa situasi romantis antar anak dan orang tua.

Selain tokoh-tokoh yang hidup di sekeliling Dilan dan Milea, saya suka dengan cerita dengan latar belakang Kota Bandung tahun 1990-an. Cuaca dingin dan sepi kendaraan, kabut saat pagi, hujan, dingin, sore, pepohonan. Suasana kota seperti menyerap romantisme tersendiri. Bandung, kotaku, kesayanganku.

Seperti salah satu paragraph yang dituliskan pada halaman 75:

Terima kasih, Tuhan, untuk Dago Atas dan cuaca 18 derajat Celciusnya sore itu. Dago atas yang ku Maksud adalah Dago Atas tahun 1990, yang masih tenang, dan udaranya masih segar.

Dulu belum ada bangunan-bangunan aneh atau yang sama seperti itu, hanya bukit dan hijau. Hanya langit dan biru, yang jika senja akan ditambahi warna merah dan jingga. Hanya lembah dan subur oleh aneka macam yang tumbuh di sana.

Salah satu ilustrasi di buku Milea.
Foto: Ima
Semakin dalam membaca buku Dilan dan Milea, saya seperti berada dalam ruang pertemanan mereka. Iklim dialog Dilan dengan teman-temannya terasa hidup dan spontan. Keakrabannya, solidaritas khas remaja, cara becanda gaya anak-anak “Bandung” pisan, ringan dalam melemparkan candaan dan spontan. Semua saling mengisi ruang-ruang eksistensi sekumpulan remaja itu. Buat orang Bandung, mengikuti obrolan Dilan dan teman-temannya menjadi ruang kenyamanan tersendiri, sering kali dialog dilontarkan dengan bahasa Sunda berikut diikuti artinya. Saya bisa faham itu, karena lontaran-lontaran keakraban lokalitas agak sulit diterjemahkan. Nada becanda begitu diartikan maka rasa dan energinya menjadi agak terkikis. Saya selalu ingat hubungan pertemanan saya dan teman-teman pun selalu penuh becanda. Dan kalau dibecandain, tandanya dia teman yang diterima, disayangi dan dirindukan. Mengikuti obrolan Dilan dan kawan-kawannya, mewakili dan menghidupkan kerinduan situasi itu. 

Foto: Ima

Milea adalah rangkaian buku ketiga dari Dilan: Dia adalah Dilanku, Dilan 2: Dia adalah Dilanku. Dalam buku ketiga, semakin menjelaskan siapa dan bagaimana situasi Dilan sebenarnya. Jadi kalau kamu baca langsung ke buku ketiga, semua terasa hambar, karena di buku pertama dan kedua, kejadian selalu dari perspektif Milea. Sementara buku ketiganya, situasi cerita dituturkan dari sudut pandang Dilan.

Lalu, apakah ceritanya selalu riang gembira terus, dimana masalahnya? Apakah Geng motor, perempuan ketiga atau laki-laki ketiga? Sebaiknya membaca sendiri biar mengerti.


Bandung, 15 Oktober 2016

@imatakubesar
Ayam Dingin Segar.
Foto: Ima

1

Ayam dingin segar itu adalah ayam yang dijaga kesegarannya dengan melewati proses rantai dingin yang tepat, yaitu sejak disembelih, dipotong, dibersihkan, dijual dan disimpan.* Lalu apa menariknya membahas tema ini, toh, semua orang tahu memilih daging ayam itu, ya, yang segar, tidak berbau. E, ternyata ada yang kurang, sedikit sih, tapi sangat penting dalam proses pengolahan makanan yang bakal masuk ke tubuh kita. Dan apapun yang masuk ke tubuh akan diserap ke semua sel, menyatu dengan darah, menyebar ke seluruh unsur tubuh. Harapan kita, makanan yang masuk ke tubuh kita akan memberi manfaat, membuat tubuh sehat dan kuat. Lalu apa jadinya jika makanan yang kita konsumsi malah membalik menyerang tubuh dengan rasa sakit. 


Salah satu kendali dalam mengurangi menurunnya kondisi kesehatan ada ditangan para peracik makanan. Karena penyakit itu berawal dari perut, artinya tergantung apa yang kita makan dan minum. Sebaiknya, mau tidak mau kita harus mulai memilah dan mengendalikan jenis makanan mana yang baik untuk tubuh dan mana yang tidak karena taruhannya adalah tubuh kita sendiri. Apalagi yang dicari dalam hidup ini kalau bukan mempertahankan kesehatan jiwa dan raga.

2

Daging Ayam Kesukaan Semua Orang

Sebelum saya jelaskan ke arah sana, saya mau sedikit cerita tentang apresiasi masyarakat pada makanan dengan bahan dasar ayam ini. Saya rasa, manusia yang senang makan daging-dagingan terutama daging ayam, jumlahnya sangat banyak. Olahan daging ayam ini rasanya selalu enak, gurih dan kurang lengkap jika tidak terhidang di momen-momen spesial. Begitu pun ketika kita jalan-jalan ke suatu tempat, salah satu yang kita eksplore adalah makanan khasnya. Makanan merupakan bagian dari sebuah identitas budaya suatu daerah, kekayaan yang membangun kehidupan romatisme pergerakan masyarakatnya. Banyak cerita yang bisa kita gali dari masing-masing makanan dan bumbunya yang melatar belakangi sebuah budaya, politik, ekonomi dan kehidupan sosial. 





Foto: Ima
Beberapa kota atau daerah, olahan ayam dingin segar selalu menjadi salah satu menu istimewa. Rasa, aroma dan kenikmatan menu makanan membuat kita bergairah saat menikmatinya. Seperti pepes ayam, ayam betutu, ayam teriyaki, ayam panggang, opor/kari ayam, semur ayam, lontong sayur, ayam kecap, chicken cordon bleu, chicken burger dan banyak lagi jenis daging olahan ini. Masing-masing makanan tersebut menjadi bukti adanya percampuran budaya manusia. Hmmm… harum rempah seperti ada di ujung hidung, begitu saya menuliskan beragam menu ayam ini.

3

Pola Pikir Masyarakat Terhadap Ayam Segar

Orang-orang yang senang masak, maunya semua bumbu dan bahan baku yang akan kita gunakan lengkap untuk mengolah daging ayam dingin segar untuk hasil yang terbaik. Ada satu hal yang baru saya tahu tentang daging ayam yang biasa saya makan. Buat saya, daging ayam bukan hal yang aneh lagi, tidak bermaksud apa-apa, tapi karena bapak saya adalah pedagang ayam. Waktu almarhum masih ada, dia sendiri yang menyembelih, ini berlangung sejak beliau berdagang ayam sekitar tahun 60-an hingga tahun 2000-an. Sementara pekerjalah yang memasukan ke dalam air mendidih, mencabuti bulu-bulunya dan mengeluarkan jeroannya. Alasannya sederhana, karena dia tidak percaya pekerjanya bisa menyembelih dengan cara halal. Namun, ada satu kekurangan yang bapak saya tidak dilakukan yaitu daging ayam tidak dimasukan ke dalam potongan es maupun freezer. Karena jangankan bapak, informasi ini baru disebarkan sekarang dan saya baru tahu beberapa hari lalu ketika Kementrian Pertanian melakukan sosialisasi jenis daging ayam yang layak konsumsi. Selain itu, karena bertahun-tahun pembeli “percaya” bahwa daging ayam dalam keadaan panas adalah ayam segar, jika dalam keadaan dingin pembeli takut ayam yang kita jual hasil sembelih kemarin. Agak sulit mengedukasi pembeli, karena anggapan ayam hangat dianggap segar sudah kuat disebagian banyak pembeli kita. Yanng ada, pembeli menolak membeli ayam yang disimpan di dalam es dan freezer.

4

Rantai Dingin? Ini dia!

Ini lho, rupanya ayam yang layak konsumsi yaitu daging ayam yang melewati perlakuan proses rantai dingin yang tepat. Yaitu cara baik dalam proses penyembelihan hingga penyimpanan daging berada dalam suhu ruang di 4ᵒc. Lalu selesai disembelih, daging ayam yang dalam keadaan panas langsung dimasukan ke dalam air air yang berisi es. Sehingga tadinya suhu ayam berada di 37ᵒc langsung turun menjadi 7ᵒc. Nanti saat daging ayam dijual chilled, turunkan lagi suhu daging ayam dengan cara dimasukan ke dalam tangki-tangki yang ditambah es lagi, sehingga suhunya 4ᵒc. Kalau frozen, setelah dari tangki yang tadi suhunya di 7ᵒc, langsung dibekukan ke dalam freezer dengan suhu maksimum -8ᵒc. Sementara dalam memperlakukan jeroan ayam, sebaiknya jeroan ayam harus segera dikeluarkan dari daging ayam. Bahkan dalam penyimpanan pun tidak boleh disatukan, harus terpisah dengan daging. Kalau terpaksa, maka gunakan plastik untuk memisahkannya. 

Foto: Ima

Selama ini orang/tempat pemotongan biasa jarang sekali memperhatikan proses rantai dingin ini. Padahal kalau kita menjual dengan frozen, ayam dingin segar jika dikemas baik dan disimpan di chiller (suhu di bawah 4ᵒc) dapat bertahan 1-2 hari. Sementara ayam dingin segar jika dikemas baik dan disimpan di freezer (suhu dibawah -18ᵒc) dapat bertahan sampai 6 bulan. Sehingga, terhadap konsumen kita bisa menjaga kualitas dan menjamin keamanan daging ayam. Juga, dia lebih tidak rentan terhadap fluktuasi harga. Kalau sekarang, begitu harga ayam di peternakan naik sedikit maka akan berpengaruh pada harga ayam. Sebenarnya pelaku/produsen seharusnya menggunakan rantai dingin sudah lama, pemerintah mengeluarkan aturan ini sejak tahun 1992. Tapi mereka tidak melakukan ini, karena konsumen kita tidak cerewet, padahal idealnya lebih kurang dari 4 jam, ayam ini sudah habis dikonsumsi.

5

Kenapa Kementrian Harus Mengurus Ini?

Dari mana saya tahu penjelasan semua informasi yang sangat bermanfaat ini. Nah, hari Kamis, 6 Oktober 2016 di Hotel Aston Priority Jakarta, Kementrian Pertanian Republik Indonesia membuat langkah besar. Yaitu mulai melakukan edukasi pada masyarakat di wilayah Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang dan Bekasi) untuk mengenalkan bahwa daging ayam yang baik adalah ayam dingin segar. Langkah besar ini mestinya sudah dilakukan 10 tahun yang lalu, karena beberapa hal maka baru dilaksanakan tahun ini. Lalu kenapa tidak melakukan edukasi ini ke rumah-rumah pemotongan ayam pada umumnya, rupanya langkah ini sudah dilakukan berulang-ulang. Tapi pihak pemotongan ayam biasa tidak melakukan himbauan ini dan sebagian besar rumah pemotongan ayam dicabut izinnya karena operasional pemotongan ayamnya tidak sesuai aturan. Hal ini membahayakan kesehatan masyarakat luas yang mengonsumsi olahan daging ayam.

Kementrian Pertanian, Direktorat Kesehatan Masyarakat,
Ditjen Peternakan dan Kesehatan Masyarakat, duta Ayam Dingin Segar,
dan tim publikasi.
Foto: Ima

Dengan peningkatan ekonomi masyarakat, maka permintaan konsumsi masyarakat Indonesia dalam mengonsumsi ungas pun bertambah. Namun bersamaan dengan itu, beragam penyakit pun bertumbuhan dengan jenis yang baru. Hasil penelitian ditemukan beberapa persen virus HI, flu burung ada di daging ayam dan penyakit rentan ditemukan di tempat-tempat penampungan ayam di pasar. Virus Zica ini penyakit baru muncul, perantaranya dari nyamuk. Penyakit-penyakit baru ini, semua berasal dari hewan, kalau tidak dikendalikan semakin banyaklah manusia-manusia yang tertular. Contohnya, rabies. Jadi 70% penyakit yang menular itu berasal dari hewan, seperti ebola. Karena sekarang ini banyak binatang yang mendekati manusia karena banyaknya hutan-hutan yang ditebang, sehingga binatang liar ini terekspose dengan manusia karena mencari makan. Sehingga, banyak binatang yang ada penyakit, di binatang itu tidak apa-apa, namun begitu menular ke manusia menjadi penyakit macam-macam. Seperti orang hutan punya penyakit hepatitis, di orang hutan tidak apa-apa, tapi begitu kena ke manusia menjadi berbahaya.

Pun perubahan konsumsi makanan pada manusia, seperti manusia mulai banyak yang mengonsumsi makanan-makanan binatang liar seperti buaya, ular. Padahal dalam tubuh hewan liar mengandung banyak mengandung samuniela yang berbahaya bagi tubuh manusia.

6

Titik Kampanye

Dengan kampanye ini, pemerintah ingin meningkatkan awareness dari masyarakat. Jadi pemerintah mengarahkan dari arah konsumen, kalau konsumennya punya tuntutan a, b, c, d, tentunya penjual akan berusaha memenuhi kebutuhan konsumen. Jadi, pihak pemerintah mencoba merubah strategi yang tadinya pendekatan pada penjual sekarang pendekatan ke konsumen. 

Pengalungan apron, sebagai tanda diluncurkannya
'Kampanye Ayam Dingin Segar" untuk Masyarakat Indonesia lebih sehat.
Foto: Ima
Ada 20 titik tempat kampanye Ayam Dingin Segar, masih fokus di wilayah Jabodetabek (Jakarta Barat, Tangerang, Jakarta Selatan, Depok, Bogor, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, Bekasi, Jakarta Timur). Diharapkan, dengan adanya gerakan dari pusat, fungsi pengawasan dinas daerah akan melakukan hal yang sama. Agar fungsi public awareness yang dicantumkan dalam perda no. 4 2007 dapat tercapai merata, berupa:

1. Kesehatan lingkungan

2. Kesehatan produk

3. Kesehatan masyarakat

Nah, dimanapun manusia hidup, manusia tak akan lepas dari makanan dan minuman. Manusia akan mengolah makanan sedemikan rupa disesuaikan dengan kondisi alamnya. Ketika tinggal di daerah musim dingin, manusia punya cara terteam menyimpan bahan makanan untuk persediaan musim dingin. Ketika manusia tinggal di daerah gurun, mereka punya cara sendiri dalam membuat tubuhnya kuat dengan meminum air dari akar-akaran dan menyimpan daging di dalam tanah. Sementara, di daerah tropis bisa dibilang sebuah surganya dunia, karena tumbuhan bisa tumbuh subur dan hewan-hewan tidak kekurangan makanan. Hanya saja, seringkali karena kondisi alam yang baik ini kurang dipelihara dan diperlakukan dengan bijak, tumbuhan dan hewan yang tumbuh sehat ini membalik menjadi menyerang kita berupa penyakit karena “keteledoran” kita. Kita sering “malas” menggali pengetahuan untuk menyimpan bahan makanan yang benar agar tetap segar dan bermanfaat untuk tubuh. Karena kita sering seenaknya memperlakukan alam dan hewan demi meraup keuntungan sebesar-besarnya tanpa memperhatikan siklus alam, sehingga seringkali kita mengabaikan cara memelihara persediaan bahan makanan dan minuman yang baik yang berdampak pada kesehatan kita sendiri.

7

Nah, setelah “sedikit” panjang lebar, lalu daging ayam yang seperti apa yang segar, praktis dan serbaguna ini. Ini ada beberapa tips memilih ayam dingin segar*:

1. Belilah daging ayam dingin atau beku di akhir waktu belanja kamu siap pulang.

2. Pilih daging ayang yang berwarna krem kemerahan, bukan kuning atau kehijauan.

3. Pilih daging ayam yang teksturnya kenyal (bila ditekan atau dipencet, tekstur daging ayam segar akan kembali normal atau tidak lembek).

4. Periksa keterangan tanggal kadaluarsa yang tertera di kemasan yang ada.

5. Periksa dengan seksama apakah daging mentah tersebut dikemas dengan layak dan aman, dan kemasan tidak robak atau bocor.

Foto: Ima


Buat ibu bekerja dan sibuk, ada cara praktis untuk menyimpan daging ayam tetap segar dan bisa dioalah kapan saja. Ini tips menyimpan daging ayam agar menjaga rasa, aroma dan kualitas asli daging tetap terjaga untuk diolah menjadi masakan terbaik bagi keluarga.*

1. Pisahkan bagian jeroan dengan daging ayam.

2. Keringkan daging ayam yang telah dicuci, lap dengan tisu dapur yang bersih.

3. Buang lemak pada ayam (bila ada).

4. Bungkus dengan plastik atau tempatkan dalam wadah yang tertutup rapat sesuai porsi 1x masak.

5. Beri label dan tanggal penyimpanan.

Rasa peduli pemerintah dalam menggulirkan memilih Ayam Dingin Segar, tentu baik dan perlu mendapat apresiasi masyarakat luas. Sebuah langkah kecil dan sederhana ini bisa membuat perubahan yang besar pada gaya hidup dan berdampak besar pada kesehatan masyarakat luas. Semua gerakan baik ini berawal dari rumah dan rasa peduli dapur-dapur rumah makan/warung/restoran yang bertanggung jawab atas kesehatan manusia. Semua langkah ini hanya membutuhkan modal sedikit dan rasa peduli pada kesehatan dan hal ini bisa berdampak baik pada semua unsur kehidupan dan kesehatan tubuh jangka panjang.

Yuk, buat pelaku, mulai memperlakukan daging ayam dengan benar dengan mengikuti rantai dingin dan buat pembeli mulailah kebisaan memilih daging dingin segar. Agar tetap daging ayam tetap segar, praktis digunakan dan serbaguna.



Bandung, 11 Februari 2016

@imatakubesar



*Sumber: Direktorat Kesehatan Masyarakat Veteriner.

www.ayamdinginsegar.com

Facebook: Ayam Dingin Segar

Twitter: @ayamdinginsegar

IG: @ayamdinginsegar

Email: ayamdinginsegar@gmail.com





Sepenggal luka,
Seribu Cinta

1
Pagi ini saya berada di halaman rumah Mama, lengkap dengan gunung, awan, udara dingin dan beragam suara binatang yang sudah langka di perkotaan.  Riuh suara santri melantunkan ayat-ayat Tuhan menjadi denyut jantung pagi itu.  Tuhan betul-betul punya rencana yang seringkali sulit untuk difahami.  Tak ada lagi gelisah, tak ada lagi perlawanan, tak ada lagi pertanyaan atas kejadian.

2
Seminggu lalu saya pergi ke Serang begitu mendengar kabar Ayah masuk rumah sakit.  Dengan modal keyakinan, pasti Allah punya maksud dibalik kejadian ini.  Akhirnya, saya titip anak-anak ke Teh Ida dan Amih, mereka membesarkan hatiku, Allah membesarkan hati mereka, kalau tidak, saya pasti bingung antara harus pergi ke Serang untuk merawat suami atau mengurus anak-anak di Bandung.  Sementara itu, begitu Ayah sakit di Pandeglang, dia langsung dibawa Neng ke  RS Sari Asih Serang sambil bawa Tanisa-anaknya yang masih balita dan ditemani ustadzah.

3
Selepas magrib, suara mesin bis membawa saya pada satu kota, kota dengan denyut jantung yang berbeda.  Beberapa pedagang asongan datang hilir mudik, aku beli permen tolak angin dan lontong.  Sebisa mungkin, selama perjalanan saya memilih tidur di kursi penumpang agar kepalaku tetap tenang, menyimpan energi untuk nanti dengan istirahat.  Memikirkan anak-anak di Bandung dan kondisi Ayah di Serang adalah berat, jadi saya memilih melepaskan diri untuk percaya bahwa setiap orang-termasuk saya-ada yang jaga.  Melakukan apa yang paling bisa dilakukan dan prioritas mana yang paling mungkin dilakukan sekarang.

Pas keluar tol pukul 22.30 wib, saya turun di dekat patung.  Disana banyak taksi dan ojek yang siap mengantar ke berbagai tempat. Dengan menggunakan ojek, sampailah saya di rumah sakit yang jaraknya tak jauh dari pintu keluar tol Serang.  Saya bersegera menuju ruang rawat B12.  Begitu tiba, kondisi tubuh Ayah sedang menggigil, seluruh badannya bergetar dan seperti kedinginan.  Suster bilang, dia kena demam, katanya sudah diberi obat demam dan antibiotik.  Saya hanya bisa memijat kaki dan mengompres bagian-badan tertentu.  Seperti sela tangan dan sela kaki.  Pertolongan ini cukup membantu menurunkan temperatur badan Ayah yang panas tinggi.



Demam berlangsung cukup lama, lalu reda.  Disusul suhu badan yang mulai menurun, dia merasa kegerahanan.  Keringat keluar deras hingga kaos yang dia pakai dibuka, agar udara dingin yang menyerap ke kaos tidak membalik menyerang badannya jadi masuk angin.  Punggungnya diselumuti dengan kain pantai, perbekalan yang saya bawa dari Bandung, agar keringatnya menyerap ke kain itu sampai kain itu basah kuyup dan diganti dengan kain yang lain.  Keringat mulai reda, Ayah mulai bisa istirahat, dia lupa doa tidur,
"Ma, doa tidur Ma apa?  Doa tidur, Ma."  Saya pun membimbingnya, dia mendengus lalu tertidur.  Menjelang tengah malam, Neng pun pulang.  

4
Kembali ke rumah sakit, untuk yang kesekian kali saya membiasakan diri lagi dengan suasana rumah sakit.  Saya berusaha senyaman mungkin dan tetap beraktifitas seperti di rumah.  Dalam satu ruang ini, ada 6 pasien.  Masing-masing bed dibatasi dengan tirai, luasnya sekitar 2 m x 1 m.  Ada suara kecil, besar, suara oksigen di balik pasien sebelah, doa-doa yang tak berhenti, keluhan suara kakek pada istrinya yang sama-sama tua menimbulkan perdebatan, suara ibu-ibu yang kencang  tak bosan selalu menanyakan waktu pulang anaknya yang tengah dirawat, suara keluar masuk orang ke toilet, bunyi air di toilet, batuk-batuk dan obrolan-obrolan kecil.  Segala macam suara, harum obat dan bau tubuh bercampur.  Doa-doa dan keluhan masing-masing pasien beragam.  Ada kekuatan cinta dimasing-masing tirai.




5
Saya kembali mengolah dan membebaskan pikiran pada anak-anak dan kondisi fisik Ayah.  Seperti mandi pagi, sarapan pagi, merapikan pakaian, menyuapi suami dan bolak balik ke bagian perawat kalau ada keluhan.  Hari itu, perut sebelah kanan Ayah sakit.  Katanya, seperti ditusuk dan dicengkram.  Alhasil, sepanjang pagi itu Ayah tidak enak duduk, tidak enak dalam berbagai posisi.  Kelihatan suster tampak kewalahan, saya bolak balik bagian perawatan dan suster selalu bilang sudah diberi obat tinggal nunggu reaksinya.  Tapi badan suami terlihat semakin kesakitan.

Suster datang, membawa suntikan dan entah isinya apa yang dia masukan ke selang infuse.  Suster memberi petunjuk,"Luruskan kakinya, turunkan kepalanya ke atas bantal, tenang, tenang, tenang, tidur."  Ayah pun tidur,"Bu, Pa Ahmad diberi obat yang sudah dikonsultasikan ke dokter anestesi." Glek, dalam hati saya, ya ampun suami saya beri obat penenang.  Meskipun masih bertanya-tanya tentang beberapa hal dalam penanganannya, saya memutuskan tidak banyak bertanya,"Terima kasih, Kang."  Suster itu pun pergi.

6
Merebahkan kepala pada ujung ranjang, melihat-lihat berita di media sosial agar kepala tetap terbuka pada yang ada di luar sana.  Ketika sedang baca-baca, teman kami-Ulfi- datang menjenguk.  Kebetulan Ulfi tinggal di Serang.  Dia mengajak saya makan siang, tapi saya sudah makan jadi kami ngobrol di kamar.  Tak lama, datang teman Teh Imas-kakak saya, namanya Kang Kodrat.  Dia menengok karena Teh Imas memberi kabar saya ada di Serang.  Dia bawa 4 dus nasi komplit dari warungnya-Warung Nasi Ciganea.






Rasanya lega ada yang menengok dan menganggap kami saudara.  Obrolan berlangsung dinamis karena keduanya, Ulfi dan Kang Kodrat punya passion yang sama yaitu senang wirausaha.  Ulfi baru resign sebagai kepala cabang JNE, sementara Kang Kodrat ini pensiun dini dari PNS dan membuka usaha warung nasi.  Salah satunya Warung Nasi Ciganea dan Warung Nasi Sambal Hedjo di Serang.  Tak lama, datang Yudi Ayu Budhi, dia teman kami di unit kegiatan Teater kampus Unisba (stuba).  Setelah dia lulus tahun 2000, kami tak pernah bertemu lagi.  Hari itu, situasi yang tak terduga Yudi datang menengok kami di RS Sari Asih.  Suasana hati tambah senang, menghibur hati yang duka.  Ternyata, Yudi punya hubungan baik dengan Almarhum bapak mertua di NU dan MUI Banten.  Kami terlibat obrolan yang asik tentang seluk beluk dunia wirausaha, sementara Ayah tidur nyenyak tapi sempat bangun sebentar, tersenyum lalu tudur lagi akibat efek obat bius yang dimasukan ke dalam tubuhnya.  Obrolan sangat menyenangkan namun waktu besuk terbatas, jadi mereka pun pulang.

7
Jam 14.00 wib, suami saya masuk ke ruang radiologi.  Disusul kemudian kami kedatangan Om Ola (adiknya Ayah) bersama Teh Umroh (istrinya), mereka tak bisa masuk bersama-sama karena bukan waktu besuk.  Waktu besuk di Rumah Sakit Sari Asih dari jam 11.00-13.00 wib dan 17.00-19.00 wib, sementara mereka datang jam 14.00 wib.  Jadi kami ngobrol di Cafetaria sambil nunggu proses tes USG di Radiologi.  Tes USG di ruangan cukup lama, alhasil Om Ola dan Teh Umrah pulang, karena hari mau hujan.  Kami cukup senang bisa bertemu dan saling menguatkan.  Saya pun kembali ke ruang rawat inap, menunggu di sana.

Selesai tes di radiologi, datang Teh Mumu.  Teh Mumu ini teman Ila-kakak saya, dulu Teh Mumu kos di tempat kami.  Tapi komunikasi tetap baik. Hubungan dengan saya pun baik, bahkan sangat baik.  Begitu  saya menikah dengan Ayah dari Banten, komunikasi terjalin lagi.  Kami pernah menginap di rumahnya, makan duren sama-sama, kuliner ikan bakar di Serang, main ke Ancol menikmati Sea World dan menginap semalam di cotage itu.  Banyak kenangan manis dengan Teh Mumu.  Kalau ada temannya bertanya tentang saya, dia selalu bilang bahwa saya adalah adiknya.  Ada rasa hangat dan haru atas pengakuan yang kerap dilakukan Teh Mumu.

8
Pas di rumah sakit, Kang Ade Truna kirim pesan, dia mau kirim madu untuk Ayah.  Tapi mengingat kondisi, kami belum bisa memastikan kapan kami pulang.  Jadi madu Brazil dia kirim ke rumah sakit saja.  Saya coba konsul ke Ulfi, kalau teman saya mau kirim madu.  Kata Ulfi, kirim ke kantor JNE cabang Serang saja atas nama Ulfi, nanti dipantau posisinya.  Betul saja, sore dikirim, pagi sampai di Jakarta dan siang kurir kiriman Ulfi sampai di Rumah Sakit.  Tangan-tangan sahabat yang ajaib seperti berbaur mengantarkan cinta.  Madu sampai dan segera saya buka.  Rasanya enak, hangat di perut dan Ayah langsung mencampur madu dengan potongan marie sebagai cemilan, bahkan begitu menu makan malamnya tidak nyaman di perut.  Dia mengganti makan malam dengan melahap campuran potongan marie yang diseduh air dan sesendok madu.  Senang.

9
Rasanya, seperti mimpi kami berada di rumah sakit lagi.  Terakhir waktu Alif dan Ayah harus dirawat di RS Salamun 5 bulan lalu.  Berarti, suami saya keluar masuk rumah sakit sudah ke-8 kali.  Saya jadi punya pengalaman kultur dan sikap pelayanan masing-masing rumah sakit.  Dalam setiap kejadian berat seperti ini, saya selalu merasa yakin, bahwa setiap kejadian pasti ada maksud didalamnya.  Satu masalah, selalu diikuti oleh dua kemudahan.  Kebaikan-kebaikan, perhatian-perhatian yang datang dari orang-orang tidak kita duga, datang dan pergi saling bergantian.  Dan satu hal, jangan pernah berharap kebaikan dari siapapun, biarkan Allah menggerakan hati siapapun datang mengulurkan kebaikan melalui caraNya.  Let it flow, ikuti saja,  kita hanya butuh waktu untuk memahami Ilmu Hidup Nya.



Hatur Nuhun anu kasuhun atas cinta, doa, perhatian, pertolongan yang menggerakan kita semua.  Hanya Allah yang mampu membalas kebaikan kalian.

Pandeglang, 3 Oktober 2016
@imatakubesar