Self Love. Foto: Ima

Hei, manusia kecil.  Menjadi kecil bukan berarti hidupmu terbatas.  Menjadi kecil bisa melihat berbagai keindahan dan keluasan hidup dari berbagai sisi dan detil. 

Nuhun karena selalu bertahan dan perpegangan melewati berbagai fase.

Nuhun atas apapun yang sudah kamu lakukan selama 43 tahun ini.

Aku memaafkan kamu.  Peluk diri.

Hey, nuhun sudah bertahan menjadi diriku.  Apapun kamu kini, sangat berarti.

Luaslah jiwa.  Luaslah pikiran.  Luaslah langkah.

 

Kalimat di atas merupakan ungkapan self love pada hari ulang tahun saya.  Saya lakukan ini sebagai bentuk apresiasi pada diri sendiri dibanding menyesali situasi.  Apresiasi ini saya buat dengan kesadaran, menerima penuh proses dan keputusan hidup yang membuat proses jatuh bangun-patah tumbuh pembentukan yang tidak disadari.  Karena saya percaya, apapun yang terjadi pada hidup kita merupakan cara Allah berkomunikasi dan cara Allah memberi kita ilmu hidup.

Dulu-dulu saya masih belum bisa menerima dan sering merasa upaya yang dilakukan biasa saja.  Perasaan ini hadir begitu melihat pencapaian teman-teman yang terlihat baik secara status sosial maupun kedudukan dalam bidang pekerjaannya.  Sementara saya yang teguh pada pilihan hidup berkesenian, penulis paruh waktu, dan memilih menjadi ibu penuh waktu merasa pencapainnya biasa saja. 

Saya melewati fase yang cukup panjang untuk mencintai diri sendiri.  Perasaan yang tarik menarik antara yakin dan tidak yakin cukup mengganggu dan menghabiskan banyak waktu.  Seperti, sering merasa tidak baik-baik saja dengan keadaan fisik, pencapaian yang diperoleh, cukup sering membandingkan pencapaian diri dan orang lain, sering merasa kurang dan suka mengeluh.  Ini sungguh perasaan insecure (baca: menyebalkan) yang menyebabkan semangat mudah terpatahkan dan hilangnya rasa syukur.  Gelombang naik turun rasa yakin dan percaya dengan pilihan hidup kerap membuat saya mudah goyah.  Tapi satu sisi, saya punya prinsip yang menyebabkan sering mengambil pilihan hidup tidak aman secara financial. 

Berdasarkan prosesnya, berbagai fase hidup selalu hadir, baik-buruk, naik-turun, berat-ringan, besar-kecil, menjadi proses mengolah banyak sisi mental, membuka sudut pandang saya terhadap berbagai keadaan dalam menjalani proses hidup, memaknai sukses dan pencapaian hidup.  Lama-lama saya menyadari bahwa terpenting dalam hidup adalah terus berusaha, berdoa dan merasa “cukup” berapapun kita dapatkan dan kita berikan ternyata dapat mencukupkan nilai diri.  Lalu menyadari bahwa setiap manusia mempunyai fungsi dan tempatnya masing-masing.  Masalah besar, hebat, keren bukan urusan manusia lagi tapi urusan Allah yang menilai. 



Self love adalah kondisi dimana kita menghargai kita sendiri, menghormati proses dengan cara memaknai setiap laku yang dikerjakan dengan tulus dan sungguh-sungguh.  Setiap detil adalah ilmu, setiap langkah adalah berkah, sehingga kita semakin memperhatikan dan menyadari banyak hal yang penting tapi tidak kita sadari.  Menghargai diri sama saja dengan menghormati dan menyukuri Sang Pencipta.  Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk memelihara diri dengan cara mengelola tubuh, jiwa dan spiritual menjadi lebih baik.

 

Pertama: Kenali Diri Sendiri

Kalau saya sedang kehilangan arah atau tidak merasa aman dengan pilihan hidup kita.  Saya biasanya mulai kembali menuliskan satu persatu bidang yang saya suka dan tidak saya suka.  Lalu merunut kembali berbagai pengalaman yang sudah dikerjakan selama ini.  Nanti akan terlihat berapa banyak pengalaman yang kamu kerjakan, baik yang berkesan hingga kamu dapat sesuatu dari kegiatan itu.  Baik berupa nilai materi ataupun nilai hidup.  Proses ini akan membagun ingatan bahagia bahkan mungkin ingatan menyedihkan namun akan muncul rasa syukur.   

Cara ini dilakukan agar diri menghormati dan menghargai setiap proses diri yang pernah dikerjakan.  Karena sering kali kita lupa bahkan menganggap biasa atau terasa sangat bodoh, namun bisa jadi semua proses itu bisa jadi sangat menarik dan bermanfaat dikemudian hari.  Cara ini cukup bagus untuk mengontrol diri dari pengaruh atau pandangan lingkungan yang membuat kamu jatuh dan merasa tidak berguna.   

Selain itu, langkah ini dapat membangun kesadaran bahwa setiap orang punya potensi masing-masing dan memberi manfaat bagi kehidupan dengan cara yang berbeda.  Bayangkan kita bisa menikmati makanan enak dari orang-orang yang pintar masak.  Bisa menikmati cerita dari orang-orang lihai menulis, bisa menggunakan pakaian yang keren dari para ahli fashion dan seterusnya. 



Atensi dan hati bergerak pada bidang yang sesuai kemampuan minat dan kemampuannya.  Kalau kemampuan ini disadari, keahlian ini bila digabungkan akan menjadi sistem yang menghadirkan energi budaya kehidupan yang berenergi.  Jadi tidak ada yang unggul, karena setiap orang punya kontribusi atau keahlian masing-masing menghadirkan sebuah bentuk.

Katakanlah sebuah mobil, dibutuhkan ahli mesin, begitu mesin bisa meluncur, maka dibutuhkan orang desain agar mesin itu bisa digunakan secara pantas dan menarik.  Tak hanya orang desain, kita membutuhkan ahli interior agar pengguna mobil bisa nyaman duduk melakukan perjalanan di dalam mobil.  Agar investor mobil dapat keuntungan dan pekerja dapat untung, maka dibutuhkan ahli keuangan untuk menghitung berbagai cash flow dana.  Begitu seterusnya.  Jadi setiap manusia itu penting. 

 

Kedua: Mengolah Jiwa dan Fisik

Ketika tubuh dalam keadaan sehat, seringkali kita abai.  Makan, minum dan beraktifitas tanpa kendali yang lama-lama tubuh pun lemah.  Kalau tubuh lemah maka aktifitas pun dapat terhenti.  Oleh karena itu, kita perlu memberi perhatian pada tubuh dengan cara olah raga dan memperhatikan pola makan sehat. 

Hormati dan rawat tubuh dengan memberi nutrisi yang baik.  Selain itu kamu bisa coba berkomunikasi dengan tubuhmu sendiri dengan memberi ucapan terima kasih dan permintaan maaf pada setiap organ tubuh kita.  Dengan begitu, kita menyadari bahwa setiap unsur tubuh kita sangat berharga dan penting. 

Tubuh ini ibarat pohon, kalau tanahnya subur akan membuat pohon tumbuh besar, sehat, berkembang dan berbuah.  Begitupun dengan tubuh, beri cinta yang banyak untuk tubuh kita dengan memperhatikan nutrisi dan ungkapan-ungkapan yang baik. 

Cobalah beri ucapan terima kasih  mata, mulut, wajah, tangan, rambut, kaki, perut, jari, lutut, dan organ tubuh lain.  Bagaimanapun bentuknya, warnanya, berhenti terpengaruh oleh standar cantik maupun ganteng.  Setiap hari.  Dengan sendirinya hati akan terasa ringan dan bahagia bahwa tubuh ini sangatlah berharga.  Hidup kamu akan jauh lebih berharga dan lebih keren dari yang kamu sadari.

Jadi berhenti merasa insecure dengan pencapaian orang lain yang tampak mulus dan menganggap hidup kamu tidak seberuntung orang lain.  Karena sebetulnya setiap orang berjuang melawan dirinya dan berjuang memelihara hidup dengan cara dan kemampuannya masing-masing.  Setiap orang bergerak sesuai keahlian, kesukaan dan kapasitas dirinya.  Tidak semua orang sama, baik tingkat kenyamanan, tingkat kebahagiaan dan integritas masing-masing orang berbeda.  Selain itu, proses pencapaian dan kepuasan seseorang itu tidak ada yang instan.  Kita semua bergelut dengan proses-proses panjang belajar dari kekurangan-kesalahan-keberhasilan, terus berlatih, terus mengolah diri dan mengisi semua waktunya untuk berkarya. 

Jadi, kenali diri, kenali mimpi, raba jiwa kita lalu berbuat apa yang paling kita bisa dengan kesungguhan hati lalu biarkan semesta bergerak untukmu.

Apa itu konten marketing dan bagaimana mengoptimalkan bisnis dengan konten marketing? pada artikel kali ini membahas sedikit perihal konten marketing seperti yang disampaikan oleh CEO Seon Indonesia Dedi Kartaji dalam blog pribadi dedikartaji.com

Pentingnya konten marketing


dedi kartaji ceo seon indonesia
Dedi Kartaji CEO SeOn Indonesia

Dengan banyaknya bisnis yang mendigitalkan segalanya, kompetisi di pasar online telah berkembang kencang. Ini karena semua tipe perusahaan telah membangun kerajaan mereka agar audiens target mereka bisa mengakses informasi dan mungkin melakukan pembelian secara online.


Walaupun ada banyak perusahaan yang menawarkan layanan yang berbeda, hanya ada satu pelanggan, dan sistem untuk memenangkan pelanggan kian sedikit setiap hari.

Anda, sebagai pemilik bisnis perlu memutuskan bahwa, website website perusahaan lebih baik daripada pesaing Anda, dan wajib menerapkan sistem pemasaran yang akan memberikan peringkat website website yang lebih tinggi untuk meningkatkan pendapatan dan lalu lintas.


Sebab alasan inilah mengapa pemasaran adalah elemen penting saat ini untuk bisnis online. Walaupun ada banyak taktik pemasaran yang bisa dipakai untuk menjual bisnis online, hanya satu yang ternyata paling berkontribusi, apa itu ? Konten Marketing !


Konten Marketing adalah tulang punggung pemasaran di dunia bisnis online, dan adalah alasan mengapa mengadopsinya untuk pencarian dan peringkat yang lebih baik di mesin pencari.


Metode Menjalankan Konten Marketing Saat Ini


dedi kartaji ceo seon indonesia
Konten Marketing Untuk Bisnis


Walaupun Anda mungkin mempunyai website website yang hebat dengan konten yang hebat, pemasaran membutuhkan semua prosedur yang diperlukan untuk memutuskan bahwa semua audiens target terpenuhi dengan baik.

Berikut adalah sebagian sistem pemasaran konten.


1. Optimasi website di seluler


Jumlah tertinggi orang saat ini menerapkan perangkat seluler mereka untuk mengakses website website untuk mendapatkan informasi dan bahkan untuk membeli produk secara online.


Artinya website developer perlu memahami hal ini dan membuat website yang gampang diakses lewat telepon seluler dan mensupportnya dengan baik. Dengan evolusi telepon seluler saat ini, hampir semua orang mengandalkan telepon seluler ini untuk mendapatkan informasi dan tanda arah, itulah alasan mengapa Anda perlu menekankan pada pengoptimalan website website seluler.


2. Manfaatkan semua plugin media sosial yang bisa Anda temukan


Pemasaran mewajibkan seseorang untuk pergi ke kedalaman terdalam dalam mencari pelanggan, dan sebagian besar pelanggan saat ini berada di website sosial. Kalau Anda berkeinginan mengoptimalkan lalu lintas website ke bisnis Anda, Anda wajib memutuskan untuk menerapkan website seperti Twitter, Facebook, Pinterest, LinkedIn, Google plus, dan YouTube untuk menjual bisnis Anda.


Alasan mengapa Anda perlu memanjakan diri dalam hal ini adalah karena, kebanyakan orang menerapkan website sosial ini untuk berinteraksi satu sama lain, dan lalu lintas dalam jumlah besar bisa didapatkan dari website hal yang demikian.


Supaya plugin sosial bisa mengoptimalkan konten dan pemasaran informasi, Anda perlu terus memperbarui pengguna di setiap website sosial perihal apa yang sedang dan akan terjadi dalam bisnis. Anda juga perlu menikmati perbuatan non-resmi lainnya di website seperti mengomentari pos dan pin orang lain untuk meningkatkan aktivitas.


3. Menjalankan surat elektronik marketing dalam mencari prospek


Walaupun pemasaran surat elektronik telah menjadi sesuatu dari masa lalu hari ini, masih berkontribusi sekitar 3% dari semua lalu lintas di bisnis besar.


Ini berarti Anda tak boleh mengacuhkannya dan menerapkan semua sistem yang mungkin untuk mendapatkan prospek. Memenangkan satu pelanggan untuk mengunjungi website website sendirian dalam sehari adalah kemajuan besar, meskipun Anda wajib memutuskan konten website website sungguh-sungguh kaya dan informatif untuk menarik pengunjung.


Demikianlah artikel perihal konten marketing, semoga berguna untuk kita semua.


Saat ini saya berusia 43 tahun, ya, ya, angka yang ajaib dilewati. Saya melewati proses panjang menata percaya diri karena tidak merasa cantik.  Tapi saya sendiri tidak nyaman menggunakan make up agar terlihat cantik, lalu lebih memilih perawatan sewajarnya agar wajah segar, berusaha cuek dalam kondisi wajah berjerawat. Alih-alih tidak mau memakai make up, saya memilih skincare dan rutin menggunakan serum wajah.  Merawat kulit muka sensitif yang saya miliki tidak mudah, ini dia petualangan saya menggunakan Green Glow Maresha Skincare agar kulit muka tetap segar tanpa make up. Selamat membaca. 

Sejak dulu, saya tidak pernah merasa cantik atau keren secara penampilan luar. Sehingga yang saya lakukan adalah merawat diri dan banyak kegiatan. Cara ini dilakukan pengaruh dari majalah remaja yang memberi tips cantik, katanya kalau bersih pasti akan terlihat cantik.  Lalu, katanya lagi, kalau kamu tidak cantik setidaknya harus pintar.  Masalahnya, kulit muka saya sangat sensitif sehingga berbagai skin care dicoba jerawat tetap hidup damai di atas kulit wajah saya.

Saya remaja punya masalah kulit muka yang panjang, yaitu berjerawat dan kusam. Kalau menggunakan sabun cuci muka, kulit pipi lama-lama menjadi kering sementara kulit hidung semakin mengkilat. Kalau pakai pelembab bedak padat, jerawat semakin makmur. Untuk jenis kulit berminyak dan sensitif seperti saya, harus hati-hati memilih skincare dan make up. 

Karena kulit muka saya tidak kunjung membaik, saat remaja/remaja-dewasa saya merasa jelek dan tidak ada yang bisa dibanggakan.  Tidak diam begitu saja, saya lebih milih aktif berkegiatan dengan ikut unit kegiatan siswa/mahasiswa. Setidaknya meskipun tidak cantik, hidup saya akan terasa lebih berarti karena melakukan sesuatu. 

Waktu SMP saya ikut paskibra, saat SMA ikut ekskul pecinta alam namun hanya setengah jalan karena Amih melarang saya ikut kegiatan ini. Meskipun sebentar semua materi sangat menyerap, mungkin karena saat itu saya sangat bahagia dan merasa berharga. Saat masuk pecinta alam, rasa percaya diri saya mulai naik. Tapi begitu berhenti, rasa itu turun lagi bahkan merasa bersalah.

Tidak berhenti disitu, saat kuliah saya memilih kegiatan teater kampus. Karena merasa lebih bisa bertanggung jawab, saya mempertahankan pilihan untuk tetap berkegiatan. Meskipun kendalanya masih sama yaitu tidak dapat izin dari Amih dan muncul berbagai stigma negatif karena sering pulang malam. Namun saat itu saya berfikir, dalam usia seperti ini saya harus memanfaatkan waktu untuk untuk hidup saya. Karena waktu tidak bisa diulang dan tidak bisa dibeli, jadi saya mempertahankan pilihan untuk tetap berkegiatan.

Sejak masuk teater kampus, saya lebih percaya diri, nyaman dan mengalami beberapa perubahan sikap.  Mungkin karena pikiran dan hati lebih tertuju pada proses berkarya, saya tidak terlalu risau dengan kondisi wajah. Ketika berhasil menyelesaikan satu pertunjukan, tumbuh percaya diri.  Pikiran saya hanya bagaimana cara mewujudkan pertunjukan, berhadapan dengan berbagai masalah yang harus diputuskan dalam program kegiatan.

Akhirnya saya lebih cuek sama penampilan dan lebih memikirkan kegiatan. Meski saya belajar make up untuk kebutuhan make up aktor panggung, dalam keseharian saya memilih polos tanpa lipstik sedikit pun. Ketika hampir semua teman perempuan saya merawat diri di salon dan mempercantik dengan make up, saya kemana-mana pakai sandal swallow, paduan celana jeans-kemeja kotak-kotak dan memakai bedak tabur secukupnya saja. Karena lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, kemana-mana saya bawa alat mandi buat cuci tangan dan sesekali nebeng mandi. Buat saya penting merasa bersih, nyaman dengan sesuatu yang saya pakai, merasa menyatu dengan diri dan hati.

Meskipun begitu, saya tetap memilih melakukan skincare wajah dan tubuh karena kulit saya sangat sensitif. Salah makan atau perubahan cuaca maka kulit akan terasa gatal dan kering. Setiap hari tidak lupa menggunakan body lotion, sabun sabun muka dan menggunakan bedak tipis-tipis karena takut berjerawat. Meskipun jerawat tetap bermunculan, saya menyadari bahwa semua itu dipengaruhi karena masalah hormon. Namun begitu menikah entah bagaimana kulit muka saya lebih baik, padahal perawatan muka semua sama. Hanya sabun muka dan sesekali pakai face moisturiser. Jerawat lebih jarang tumbuh kecuali sedang stress dan menjelang hari haid.

Setelah berusia 40 tahun, saya memberanikan diri menggunakan rangkaian skin care agar kulit lebih terawat. Agak sedih juga melihat garis-garis tipis di sekitar mata dan jidat. Salah satu upaya saya yaitu mulai rutin menggunakan Green Glow dari Maresha. Saya melakukan ini saya percaya kondisi kulit kita tergantung pada proses perawatan luar dalam. 

Pertambahan usia akan terus berjalan, lama-lama akan berpengaruh penurunan fungsi tubuh. Semakin bertambah usia, tingkat stress berulang-ulang, pola makan yang tidak terkontrol, pola hidup dan jam tidur betul-betul memengaruhi kesehatan kulit wajah. Kondisi ini yang dapat memicu flek hitam, garis-garis halus akibat penuaan dini dan kantung mata yang semakin terlihat jelas.
 

Buat saya yang tidak terlalu suka menggunakan foundation dan rangkaian lapisan make up lainnya, saya lebih memilih menggunakan Green Glow by Maresha mencerahkan wajah sekaligus mencegah penuaan dini. Serum multifungsi ini merupakan rangkaian skin care yang ringan di kulit muka saya yang sensitif. Kata anak-anak saya, “Wah, muka Mama kelihatan lebih cerah dan dewy.” Bisa jadi betul penilaian anak-anak saya, karena katanya serum multifungsi dari Green Glow ini mencerahkan kulit sampai 3 kali lebih cepat bekerja sebagai anti aging.

Terkadang, kalau lihat foto saya zaman kuliah (tahun 1996-2001) muka saya terlihat kencang meskipun ada beberapa titik jerawat. Saat ini, saya yang sudah menginjak usia 43 tahun, merasa kagum pada saya yang saat itu berusia 20 tahunan. Ternyata saya cukup lucu dan menarik juga, saya membatin, kenapa saat itu saya tidak merasa cantik, ya? Kalau saja mental saya sekarang hadir saat usia 20 tahunan, mungkin masa depan saya yang sekarang berusia 43 tahun bisa jadi beda dan lebih asik.

Oke, itu hanya pikiran selintas, kita kembali lagi pada masa sekarang. Jadi sebetulnya, menggunakan serum seperti Green Glow dari Marisha ini sebaiknya dari usia 20 tahun. Kenapa? karena tingkatan radikal bebas zaman sekarang semakin tinggi, seperti pencemaran udara, obat-obatan,trauma, penyakit, kuman, dan pemicu stress yang cukup tinggi.

Rupanya kandungan yang terdapat dalam Green Glow memiliki fungsi anti aging untuk mengurangi garis-garis halus akibat penuaan, membantu meregenerasi sel dan mengencangkan kulit. Kandungan itu bernama Acetyl Glucosamine Phospate dan Acetyl Hexapeptide-3. Namanya agak rumit, ya. Meski asing pengucapannya di lidah kita, namun kandungan itu mujarab memelihara kulit muka kita yang mudah terkontaminasi akibat radikal bebas ini.

Sementara kandungan lainnya Tranexamic Acid membantu menghilangkan flek, mencerahkan, meratakan warna melindungi kulit dari sengatan sinar matahari. Lalu Sodium Hyaluronate berfungsi untuk melembabkan wajah sehingga wajah kenyal dan lembut.

Kenapa sih harus tahu kandungan serum, padahal Maresha Skincare sudah BPOM? Tentu saja, sesuatu yang kita konsumsi harus kita tahu kandungannya, karena benda itu akan menempel dan bereaksi dengan sel tubuh kita. Semua bisa kok dipelajari semudah kita mengetahui bahwa didalam kopi mengandung caffein dan kita faham reaksi yang akan muncul setelah menyesap segelas kopi. 

 


Kalau kita lihat jajaran kosmetik di supermarket, belakangan ini kita banyak menemukan serum untuk muka dan tubuh. Hanya tidak semua produk kecantikan boleh atau aman digunakan untuk perempuan hamil dan menyusui. Perempuan hamil penting lho merawat diri, agar tetap bersemangat dan berasa berarti. Maresha skincare aman untuk ibu hamil dan menyusui, sehingga ibu hebat ini tetap bisa asik merawat diri selain merawat bayi di perut dan di pangkuannya.

Sejak dulu saya mencintai kulitku, apapun keadaannya. Oleh karenanya saya selalu hati-hati memilih skincare dan makeup. Jangankan eye shadow dan pewarna pipi, untuk memilih lipstick saja bisa satu jam karena merasa tidak pas. Akhirnya, saya punya beberapa koleksi lipstick dengan warna senada: brown. Ya, ya, sesekali saya suka memakai make up (dalam hal ini eye shadow) untuk hadir dalam acara-acara khusus. Meski jadi sangat awet karena jarang digunakan. 

Saat ini saya lebih perhatian terhadap kesehatan kulit dan tubuh. Ya, saya selalu ingin di usia senja nanti menua tapi tetap terawat dan bahagia. Serum dan skin care jadi pilihan terbaik saya untuk pertahanan, agar kulit muka tetap segar sekalipun radikal bebas berkeliaran di sekitar kita.




Air.  Foto: Ima

Hidup adalah proses berdialog menangkap Langit.  
-Ima

Harapan besar? Banyak hal baik yang terlintas, membuat saya jatuh hati, dan menetap dalam hati saya. Tentu berkaitan tentang pencapaian materi, kebermanfaatan pilihan hidup dan pengakuan. Bertahun-tahun dipertahankan, diperjuangkan, sampai hampir titik puncak harus dilepaskan. Melangkah lagi, terus begitu hingga ambruk, jatuh, berulang-ulang. Harapan itu belum juga terwujud.

Sampai pada suatu titik, saat ini saya kesulitan memahami harapan besar saya apa. Bahkan sesekali saya menduga, jangan-jangan harapan itu tidak disukai oleh Allah. Sehingga yang muncul bukannya kebahagiaan dan kesuksesan, namun patah dan runtuh berulang-ulang. Ketika tema one day one post kali ini tentang harapan-harapan besar saya apa, mendadak kosong karena sekarang ini saya pada fase merasa cukup dan mempertahankan sisa-sisa keikhlasan (pinjam judul lagunya Payung Teduh).

Pertanyaan harapan besar ini nadanya sama dengan pertanyaan saya tentang kenapa harus saya yang harus tinggal di rumah ini? Saya yang punya harapan keluar dari rumah ini, segala upaya dilakukan untuk pindah, keluar, ternyata berbagai situasi selalu menarik saya kembali tinggal di rumah ini. Lagi-lagi, jangan-jangan harapan besar itu harus digali disini, di rumah ini. Jangan-jangan banyak yang harus diperbaiki dulu, rumah ini ibarat hati yang harus sering-sering dipelihara, dirawat dan diperbaiki.

Harapan itu ada, dia hadir seperti akar yang terus menerus mengalirkan energi ke setiap unsur sel otak dan hati. Kadang begitu realis tapi begitu surealis, keduanya hadir kadang-kadang semu kalau tidak ingat kekuatan Allah. Ya, tentu saja saat muncul harapan itu, sesekali kehabisan bahan bakar, kehabisan akal sehat, kehilangan frekuensi dengan Allah. Hidup saya selalu dikondisikan oleh semesta, ibarat benda yang bergantung pada hembusan angin dan aliran air. Mengalir mengayuh mengikuti setiap denyut jantungnya, bergerak menyatu menjadi bagian dari pergerakan itu.

Saat ini saya (kembali) belajar tidak mudah tergoda untuk mengerjakan yang lain. Cukup melakukan sesuatu yang saya bisa lalu terus melangkah menggunakan kemampuan yang ada. Apalagi yang bisa dilakukan oleh manusia selain terus berusaha. Meski kondisi saya tidak berlebihan tidak juga kekurangan (lebih banyak kekurangannya sih sebetulnya) tapi yang saya suka, hati saya tetap tenang.

Saat ini kami sedang menguatkan pikiran dari kekhawatiran yang dimunculkan oleh diri sendiri dan penilaian orang lain. Mengambil keputusan bergerak di dunia seni secara utuh, awalnya membuat saya panas dingin. Tentu hal ini berkaitan memenuhi kebutuhan pendidikan, sandang, pangan dan papan keluarga. Kehidupan kami sebelum Ayah sakit, meski masih beririsan dengan dunia kesenian namun ada usaha lain yang bisa mengimbangi kekurangan biaya.

Menangkap awan.  Foto: Ima

Ketika Ayah sakit, kami seolah diajarkan untuk fokus bergerak pada bidang yang kita kuasai dan biarkan semesta mengarahkan jalur-jalur dan pintu rezekinya seperti apa. Bertahun-tahun, saya dan Ayah tidak punya banyak pilihan, situasinya selalu kembali pada saya menulis dan Ayah menggambar..  Kesempatan usaha lain betul-betul tidak ada.  Sejak saat itu, saya selalu merasa bahwa harapan itu ya saat ini, percaya kita hanya perlu sadar setiap manusia memiliki fungsi dan keahlian masing-masing. Hal ini yang membuat manusia merasa cukup, ketika rasa cukup itu hadir selalu ada jalur yang dibuka. Masalahnya, kita ambil lalu bersikap amanah atau menolak jalur tersebut.

Saya harap Ayah bisa pameran karya drawing ke berbagai kota dan beberapa Negara. Mungkin diberi kesempatan juga bisa menggali ilmu lagi dengan cara apapun melalui jalan yang dibuka seperti apa. Seperti residensi atau apapun itu. Sementara saya sendiri menuliskan setiap proses keilmuannya, konsep dan berbagai dokumentasi lainnya. Semoga dicukupkan, menularkan manfaat dan menjadi amal yang terus mengalir hingga kehidupan kami kelak. Entah bagaimana, Allah maha tepat perhitunganNya.

Sebelumnya, saya mempunyai harapan bisa mewujudkan pameran drawing tunggal Ayah. Tidak hanya pameran, ingin dilengkapi dengan catatan proses art therapi yang kurang lebih 4 tahun dilakukan oleh Ayah. 

Saya ingin mewujudkan pameran ini diperuntukan bagi orang-orang baik yang terus mengalir, menambal setiap jalur kami yang ambrol dan bolong. Sebuah rasa syukur dan bentuk terima kasih, kebaikan yang teramat banyak yang tidak bisa kami balas dalam bentuk apapun. Dengan kami bertahan hidup, Ayah yang kembali sehat dan berkarya menjadi bentuk terima kasih yang ingin bisa segera kami wujudkan. Tanpa hati yang dianugerahkan pada mereka, rasanya tidak mungkin kami bisa bertahan sejauh ini.

Untuk saya sendiri, saya punya harapan meluaskan manfaat menulis sehingga bisa menjadi mata pencaharian yang mencukupkan segala kebutuhan anak-anak dan meluaskan kehidupan. Meski masih berjalan pelan menjalani proses menulis di blog dan media sosial, harapan saya langkah ini dapat menguatkan fondasi kehidupan kami. 

Kalau difikir-fikir proses hidup kami unik dan berliku, meremas dan tarik menarik berbagai unsur hati. Namun lama kelamaan, situasi ini membawa kami percaya bahwa setiap proses yang menghasilkan sesuatu yang menggembirakan ataupun yang mengecewakan sebagai bentuk mengolah mengaitkan rasa. Rasa yang terus mengait dan menggenggam Pemilik Hidup. Harapan itu ada, setiap proses yang dijalaninya memberi nilai hidup yang mahal. Ketika sampai, menjadi cukup, bukan kita yang kuasa tapi Dia yang menjadikannya.
Foto: Ima


Mengatur keuangan menjelang Lebaran selalu penuh kejutan, bikin hati senang namun juga membuat hati ketar ketir. Apalagi di tengah pandemi seperti sekarang.  Pemasukan dan kondisi keuangan yang serba tidak pasti, sementara kebutuhan dan biaya yang harus dibayar tetap jalan.  

Meski begitu, maunya hari Lebaran ini tetap diperlakukan spesial. Bagaimana kami bisa menggunakan baju yang istimewa, makanan yang lezat, menyediakan segala macam kudapan, minuman khas Lebaran dan rumah yang lebih bersih wangi. Artinya kita harus menyisihkan anggaran lebih untuk merayakan hari raya serta berbagi kebahagiaan bersama saudara dan tetangga.

Lalu bagaimana sih kita mengatur keuangan menjelang Lebaran? Sebetulnya mudah sih mengatur keuangan asal mau disiplin dan sepakat dengan pasangan kita. Karena seringkali ada pembelian diluar rencana padahal bisa jadi jamuan untuk hari raya sudah cukup. Saking senangnya merayakan hari Lebaran, sepertinya ada saja ingin nambah ini dan itu sehingga membeli sesuatu padahal tidak terlalu butuh. Cung yang seperti ini? (sayaaa…)

Nah, buat kita-kita yang tidak bergantung pada gaji dan THR, harus dicatat segala kebutuhan hari raya dan paska hari raya. Karena seringkali yang kita pikirkan adalah beli semua untuk Lebaran, bagi-bagi uang buat anak-anak, dan jalan-jalan/silaturahmi sambil bawa kiriman.  Seminggu kemudian tinggal makan serba tumis, makanan yang dihangatkan berkali-kali, kalau benar-benar habis baru beranjak pada semangkuk mie instan. Sepertinya kejadian seperti ini klise, ya.

Kudapan saat hari raya. Foto: Ima




Lalu apa yang harus dilakukan, sih? Hmmm, saya menulis ini bukan karena jago mengatur keuangan, ya, tapi berbagi pengalaman karena sering kebobolan karena ulah sendiri. Nah, untuk menghindari kekeliruan dalam menyediakan segala untuk menyambut hari raya bisa mencoba cara ini:

Pertama, catat menu makan untuk hari raya.

Catat mulai dari makanan berat, kudapan, teh, kopi, air galon. Setelah dapat menu makan, lanjut merinci biaya bahan baku yang dibutuhkan. Dari sini kita mendapatkan angka. Lalu simpan uang tersebut untuk sajian makanan. Perkirakan harga bahan baku lebih mahal dari hari-hari biasa untuk menghindari kekurangan anggaran.  Terlebih saat pandemi yang tidak menentu ini, atur menu yang tampak spesial namun jatuhnya akan lebih murah.  

Kedua, pertimbangkan lagi, apa perlu beli baju untuk kamu, pasanganmu dan anak-anak? Cek lemari baju, kalau untuk orang dewasa kaya saya dan suami, sepertinya bisa mix max baju lama jadi terlihat baru sudah cukup ya. Tinggal cuci bersih, kasih pewangi. Beres!

Tapi saya sendiri ingin membelikan baju buat anak biarpun hanya sepasang. Ingin membuat mereka terlihat bagus dan pantas saat merayakan hari yang spesial. Kalau hanya mau membeli baju untuk anak-anak, alokasikan berapa dan upayakan sesuai dengan yang kita siapkan.

Ketiga, rinci kebutuhan kebersihan rumah dan kesehatan. Catat mulai dari sabun mandi, sabun cuci tangan, pembersih lantai, sabun cuci, lap pel, lap piring, lap meja, hingga pewangi badan dan pewangi pakaian.

Keempat, hitung hari raya hingga 2-3 bulan berikut, biaya apa saja yang harus dikeluarkan. Cara ini sebagai bayangan agar kita harus melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kelima, anggarkan biaya kebutuhan untuk buka dan sahur disesuaikan dengan dana yang ada.

Pada dasarnya mengatur keuangan menjelang hari raya harus lebih disiplin. Meskipun keuangan rumah tangga, tetap harus menggunakan buku catatan. Nanti akan kelihatan keluar masuk keuangan agar lebih terkontrol pengunaan uang tersebut memang sesuai kebutuhan atau banyak digunakan diluar kebutuhan. Karena kita seringkali membeli jajanan yang harganya kadang terlihat murah. Tapi ternyata setelah dikalkulasi pengeluaran harian kita lebih banyak untuk jajan atau beli kebutuhan yang tidak perlu.

Beli sesuatu yang menyenangkan boleh saja, seperti beli minum botolan dan kripik.  Tapi kalau setiap hari dilakukan, anggaran jajan ini totalnya bisa sama untuk anggaran beli sayuran, teh bahkan setengah kilo gram telur. Dengan dicatat kita bisa memantau apa saja yang pernah kita beli dan merasa cukup. Setidaknya bisa nge-rem keinginan jajan lagi dan merasa cukup dengan makanan yang ada.

Jadi intinya, catat perkiraan setiap kebutuhan harian, kebutuhan untuk hari raya dan hari-hari setelah hari raya. Ketika ada sisa anggaran, uang itu bisa digunakan untuk jajan di luar atau beli camilan di mini market sebagai teman nonton atau ngemil selepas sahalat taraweh.  Semoga sesuai yang dibutuhkan, ya.

Foto: Ima


“Mah, Bacain!” Begitu permintaan Bayan (8 tahun) sebelum tidur. Salah satu bacaan pilihan Bayan yaitu Asterix. Iya, kadang-kadang dia minta bacain komik Asterix. Komik kesukaan saya ketika masih anak-anak (tahun 1986-an). Saya ingat betul, kayanya cuma komik Asterik yang bisa menghibur saya paska operasi usus buntu. Saat itu saya kelas 3 SD. Sekarang komik ini masih dibaca sama anak-anak, menghibur saat mau tidur atau mulai bosan mengerjakan ini itu.

Kalau dipikir-pikir, saya banyak terselamatkan karena membaca, saya belajar banyak hal. Kenapa? Karena saya hidup tumbuh dalam keluarga besar, anak bungsu dari anak ke-16. Iya, 16 bersaudara. Saat saya lahir, saya sudah mempunyai keponakan yang seumur bahkan usianya lebih tua dari saya. Tahu sendiri kan, mengurus 2 anak saja butuh segelas kopi dan setangkup roti agar hati tetap fokus dan riang gembira.

Tentu saja perhatian orang tua lebih banyak tersita pada masalah-masalah besar dalam keluarga. Atensi saya terhadap sesuatu tidak terlalu mendapat perhatian laiknya ortu milenial jaman now. Saya hanya mendengar kata jangan, marah, suruhan saja dari orang tua maupun kakak-kakak. Bayangkan, Ima kecil pernah melakukan tantangan tidak makan 3 hari bisa tidak ketahuan orang tua. Tidak ketahuan oleh Amih/Bapak tidak juga oleh kakak-kakak yang banyak itu. Sampai perut melilit dan senang karena menang tantangan.

Saya serumah tidak hanya dengan kakak dan orang tua, tapi ada beberapa kamar digunakan oleh kakak dan keluarganya. Belum saudara Amih yang sesekali menginap disini, bisa sepekan atau bahkan sebulan. Rumah ini penuh sekali. Tapi Ima kecil tidak peduli, dia lebih memilih menenggelamkan diri dengan bacaan, serodotan, dan bermain di sawah sampai senja. The balangsak girl pokoknya. Saat itu saya senang sekali membaca majalah Bobo. Sengaja saya sisihkan uang jajan harian agar bisa membeli majalah Bobo tiap hari Kamis di kios seberang rumah.

Bermain dari sejak pulang sekolah hingga magrib. Begitu magrib langsung pergi ke masjid untuk mengaji. Di Masjid pun saya seringkali menenggelamkan diri membaca komik-komik bernuansa “keagamaan”. Jangan bayangkan komik keagamaan itu sebagus sekarang, berwarna dan menstimulasi otak kita menjelajah ke berbagai nilai-nilai hidup dengan cara yang asik dan penuh cinta. Tapi imajinasi kita menjelajah ke negeri surga dan neraka dangan gambar-gambar yang mengerikan. Tantangan sekali mau baca komik seperti ini.

Pulang mengaji selepas shalat Isya saya lebih senang menunggu Dunia Dalam Berita. Soalnya saya selalu tertarik dengan berita perang Iran Irak, sampai-sampai saya berfikir kalau peperangan ini terjadi dari sejak dulu dan sebuah kejadian biasa. Begitu terus sampai ketiduran di atas kursi lalu dipindahkan ke kamar oleh kakak.

Selain majalah Bobo, kakak saya suka beli komik kolaborasi Goscinny dan Uderzo. Kisah tentang masyarakat kuat di sudut belahan Galia yang tidak tertaklukan oleh Romawi. Gaya bercandaan dan kelucuan dari tingkah karakter Asterix, Obelix dan berbagai tokoh unik di Galia muncul mempengaruhi gaya bercanda saya. Hanya saya jadi orang yang beda, karena agak sulit nyambung bercanda dan ngobrol dengan teman-teman. Ya sudahlah, saya simpan kegembiraan dan kenikmatan cerita Asterix oleh diri sendiri dan saudara saya yang suka membaca komik itu.

Mimpi saya bisa keliling dunia, menjadi penulis dan senang menganalisa itu ketika mulai baca Tintin. Bagaimana tokoh Tintin seorang wartawan yang bisa memecahkan berbagai kasus pencurian dan kejadian yang menjadi teka teki. Wow, saya selalu senang memakai sweater woll juga sepertinya karena pakaian yang suka dipakai Tintin.

Imajinasi mulai dimainkan ketika mendapat buku Alice in The Wonderland. Buku ini unik, ketika masuk ke halaman tertentu kita diberi plihan untuk melanjutkan ke halaman berapa. Pilihan halaman itu akan menentukan bagaimana cerita Alice berlanjut.

Keinginan saya bisa ke Eropa dan membayangkan menjadi seorang penari, keinginan bisa menggambar pun muncul ketika membaca karya-karya HC Andersen. Saya suka sekali dengan gambar-gambarnya yang berwarna lembut dan halus. Kisah-kisahnya sering mengangkat perjuangan orang-orang terpinggirkan yang terus bertahan berbuat kebaikan lalu hidupnya berakhir lebih baik. Imajinasi dan rasa suka itu merasa terlengkapi karena dulu sesekali meminjam kaset video kartun karya HC Andersen. Seperti Gadis Penjual Korek Api, Boneka Prajurit dan Boneka Balerina, Cinderella, Peter Pan, dan banyak lagi. Keinginan saya meledak-ledak dan ingin menguasai banyak hal. Ya, menulis, ya, menggambar, ya, menari. Saya suka semua.

Aha! Saya ingat komik dari Malaysia. Saat itu kakak saya punya komik terbitan Malaysia. Saya membaca berulang-ulang dan menyimpannya sampai kertasnya melipat-lipat saking sukanya. Tokohnya kemana-mana cuma pake seluar. Paling susah pakai baju. Bahagia rasanya kalau sudah baca komik ini. Judulnya The Kampung Boy bikinan Dato Lat. Aduh, itu komik kemana, ya, perginya. Huhu… 

Foto: akun Shopee

Saking sukanya membaca, kalau di sekolah, saya lebih senang masuk ke perpustakaan dan memilih buku cerita sendirian. Saya ingat perpustakaan saat saya SD itu tempatnya kecil, cahaya ke ruang itu lebih banyak cahaya matahari. Karena beberapa keeping atapnya memakai genting kaca. Sepi, kecil, sunyi dan bertumpuk. Ada kategori-kategori buku menempel di sisi rak. Kadang mejanya berdebu dan berdempetan.

Saking suka buku, saya simpan buku-buku itu ke dalam kantung belanja bekas. Buku-buku itu saya simpan di bawah ranjang, kadang di bawah lemari, kadang di dalam lemari, kadang di atas atap, karena takut hilang. Saking sukanya, kadang saya bawa kemana-mana. Sampai suatu hari saya susun buku-buku itu di teras rumah untuk saya sewakan. Buat mereka yang mau baca harus bayar.

Terus terang, sebetulnya saya lupa-lupa ingat pernah membuat perpustakaan di teras rumah. Ingatan ini dibangunkan oleh teman saya, dia suka meminjam komik. Oh, ya, teman saya ini koleksi boneka banyak sekali. Meski saya mau beli boneka juga, sampai dewasa saya tidak pernah punya boneka. Kemanapun perginya, saya lebih memilih beli komik.

Nah, kembali pada paragrap awal. Kenapa saya merasa terselamatkan oleh bacaan. Karena melalui komik-komik yang saya baca ini, secara tidak langsung menstimulasi otak, logika berfikir, lebih mudah menganalisa berbagai masalah. Banyak pelajaran merawat diri, mandiri, mengenal karakter orang “diajarkan” dari majalah dan komik-komik. Saya baru tahu perubahan biologis dari anak-anak menuju remaja pun dari bacaan. Bagaimana menjaga diri, merawat diri, bersikap dalam menghadapi masalah justru banyak tahu dari bacaan. Ya, karena di rumah banyak sekali orang, banyak saudara, tingkat perhatian, tingkat apresiasi orang tua juga kurang karena terbelah-belah. Jadi saya yang banyak keinginan dan katanya pemberani sepertinya banyak dipengaruhi oleh bacaan dan lingkungan teman-teman.

Intinya, Ima sekarang merasa sangat bersyukur saat kecil suka membaca komik dan bacaan anak lainnya. Meski sekarang sering sedih banyak koleksi yang hilang. Kalau ada yang meminjam bisa sangat sembarangan sampai akhirnya hilang entah kemana. Hanya saja, saat itu saya lebih sering kesulitan berbahasa sosial, karena kosa kata yang muncul ketika berbahasa dengan teman-teman lebih banyak kalimat baku/tidak umum.

Menuliskan ini rasanya senang sekali, memori bahagia masa kecil dengan berbagai bacaan ini membuat saya kembali bersemangat.

Foto: Ima


Bertahun-tahun saya hidup berorganisasi sampai akhirnya hidup berumah tangga selalu membuat target, rencana dan menciptakan sesuatu yang sifatnya jangka pendek dan jangka panjang. Ketika muncul masalah yang disebabkan diluar diri, seperti sakit, orang tua ikut ikut campur, atau hal-hal besar lain, maka hidup tanpa resolusi menjadi ruang berdamai dengan keadaan. Hal terpenting terus memelihara asset diri atau kemampuan diri, lalu terus bergerak di atas rel yang sama dengan amunisi yang kadang-kadang penuh, sedikit bahkan habis sama sekali.

Sampai kapan? Sampai merasa harus mengeksekusi ide meski sederhana.

Seperti tahun 2020, saya punya resolusi menghadirkan 1 buku perjalanan hidup. Ternyata situasi pandemi pada awal-awal bulan cukup menguras sebagian mental. Sehingga resolusi tahun 2020 yaitu lebih memilih melakukan sesuatu yang membuat tubuh sehat dan jiwa lebih bahagia saja, cukup. Karena buku yang tadinya mau saya susun bisa memicu psikosomatik dan lambung saya kembali bermasalah. Akhirnya saya memilih bersunyi-sunyi, mengikuti ritme alam dan mendengarkan kebutuhan tubuh dan hati. Memilih, mengeksekusi ide, mengisi diri yang tidak terlalu menekan diri sendiri. 

Foto: Ima

Tapi tunggu sebentar, kita harus bisa membedakan antara mendengarkan diri dan malas mengerjakan. Ketika sadar bahwa tidak mengerjakan karena malas, maka segera bangkit dan menyadari bahwa: kita hanya butuh waktu sebentar kok untuk menyelesaikan (tulisan/memasak/beres-beres rumah, mendampingi anak belajar atau apapun itu), lambat laun akan selesai juga dan semua orang akan mendapatkan manfaatnya.

Lanjut, ya. Nah, Lalu apa yang dilakukan hidup tanpa resolusi, bisa? Saya fokus pada satu kegiatan yang harus tetap di atas rel, yaitu: menulis. Selebihnya memilih mengikuti kegiatan yang ada, belajar bersama anak-anak, menulis, menonton, membuat roti, menonton drama korea, mendengarkan live IG, mengikuti program orang-orang secara online, memotret, mengambil kegiatan karena diajak orang. Kalau kegiatan itu membuat hati saya senang, saya ambil, kalau tidak sreg lebih baik melepaskan.

Ternyata dengan mendengarkan tubuh dan hati, pengaruh negatif lebih tersamarkan. Semesta mendukung berbagai kegiatan yang betul-betul kami butuhkan dan sungguh-sungguh kami kerjakan. Tak menyangka, tahun 2020 yang tengah dilanda ketegangan ternyata banyak kegiatan menarik dikerjakan selama tahun 2020.

Lalu bagaimana dengan tahun 2021? Saya kembali mendengarkan kebutuhan tubuh dan hati yang disesuaikan dengan asset yang dimiliki: saya menulis, Ayah melukis dan anak-anak mengamalkan tugas belajar PJJ dan bermain dengan gembira. Intinya terus bergerak, terus berkarya, setia dan disiplin pada bidang yang kami kerjakan.

Ternyata ketika saya mengerjakan yang lain, selalu kembali pada dunia menulis di blog. Godaan untuk berhenti banyak, terutama saat kami kehabisan uang. Terlebih masuk 2020 situasi betul-betul tidak dapat diprediksi. Ketika godaan itu muncul, yang kami lakukan adalah terus berkarya, berdoa, mengasah diri dan meluruskan dari niat.

Karena rel yang kami jalani adalah menulis, melukis dan dunia anak, jadi resolusi tahun 2021 melakukan kegiatan yang sifatnya self healing alias ngobatan maneh. Mengikuti kebutuhan pikiran, hati dan tubuh. Mengikuti program yang ada dan menghadirkan kegiatan yang sesuai apresiasi diri, seperti:

1. Menulis. Menulis. Menulis. Dengan kesadaran penuh bahwa menulis di blog matakubesar sebagai media menabung amal. Sehingga ketika banyak orang yang mendapatkan manfaat dari tulisan kita, bisa menjadi amal jariah yang terus mengalir.

2. Menjadi orang tua bermain.

Memenuhi kebutuhan anak-anak, seperti, menggambar bersama, membuat puisi, membuat lirik dan musik, menghafal quran, becanda.

3. Menyiapkan anak lebih mandiri:

Seperti, mengaji dan shalat bersama, melibatkan anak-anak merawat rumah, dan memasak

4. Menyusun tulisan-tulisan di blog untuk dibukukan

5. Menyusun rencana pameran tunggal

6. Kolaborasi Live IG baca buku mingguan bareng Ayah

7. Menghindari lingkungan yang menyebabkan melukai diri 


Jadi tahun ini berjalan tanpa resolusi, hanya meletakan diri sesuai kapasitas sambil terus menerus diperbaiki dan terus menerus mengasah "asset" yang dimiliki dengan kecepatan lari marathon. Pelan tapi terus, lama-lama akan sampai pada yang kita inginkan atau bahkan melampaui pada apa yang kita rencanakan, Saya percaya, apa yang dilakukan dengan hati akan sampai pada orang-orang yang memang membutuhkan. Setiap kata, setiap langkah, akan bertemu dengan lingkungan yang satu ritme, satu vibrasi.
Saya baru dengar istilah burnout begitu Komunitas ISB memberi tema untuk one day one post (ODOP) hari ketiga. Ini apa, ya, sejenis makanan, kah? Bukan, bukan. Ternyata begitu cari-cari saya dapat penjelasannya. Burnout syndrome adalah kondisi stress kronis akibat pekerjaan yang ditandai dengan rasa lelah, kesal dengan pekerjaan dan merasakan ketidakpuasan. Kondisi ini bisa dirasakan secara fisik maupun emosional. 


Kalau membaca dari beberapa referensi yang terpercaya, sepertinya saya pernah mengalami hal yang serupa. Dalam kondisi tertentu, otak saya jadi agak sulit mencerna sesuatu yang baru. Pernah saya mencoba ikut kelas asuransi, semua materi seperti mantul entah kemana. Tapi begitu dipelajari lagi kemudian dalam keadaan hati dan pikiran lebih slow, ternyata apa yang disampaikan di kelas itu materi yang sangat mudah. Saat itu, ketika saya pelajari dalam keadaan tertekan, rasanya cepat lelah, cemas, merasa tertekan, ingin muntah dan dada terasa pengap. Menyadari pilihan yang saya ambil ditolak oleh tubuh sendiri akhirnya memutuskan untuk berhenti dan mengerjakan pekerjaan yang saya suka dan kuasai.

Lalu apa sih kaitannya burnout di tengah pandemi? Situasi pandemi banyak memungkinkan memicu burnout. Alasannya, pertama, kita harus beradaptasi bekerja dari rumah, kegiatan yang menimbulkan kerumunan diberhentikan, mengajarkan anak-anak belajar di rumah, dengan berbagai perubahan pola interaksi. Setiap hari begitu, berulang. Manusia terbiasa berinteraksi langsung dengan manusia, biasa bertemu tatap muka, kemungkinan besar akan kesulitan beradaptasi mengatasi perubahan pola hidup. Begitupun orang-orang yang masih harus bekerja keluar, mengalami dilemma antara mengerjakan kewajiban dan cemas dengan kondisi kesehatannya.

Sebetulnya saya tidak merasakan burnout selama pandemi, justru saya merasa lebih menerima mengikuti semua protokol kesehatan ditengah pro kontra dan tarik menarik situasi pandemi. Bukan menikmati ketegangannya, hanya saja semakin merasa baik-baik saja bekerja di rumah saja tanpa perlu perlawanan lagi. Meski beberapa situasi pandemi ini cukup menekan, jadi saya fikir yang perlu kami lakukan yaitu mengerjakan sesuatu yang menggembirakan, yang paling mungkin, yang paling bisa. Nikmati apa yang paling bisa dikerjakan dalam berbagai situasi yang serba terbatas.  Ya, mirip-mirip konsep bermain sambil belajar, bermain sambil bekerja. 

Kami berdua, saya menulis dan Ayah menggambar.  Setiap anak-anak belajar,  kami pun ikut belajar bersama anak-anak, saat kami merawat rumah maka anak-anak pun ikut terlibat juga. Agar suasana rumah bervariasi, kami melakukan berbagai kegiatan yang disepakati bersama.

Semesta seperti membuka jendela hidup bahwa bekerja, bermain, menikmati hal sederhana jadi istimewa dari rumah itu sangat mungkin. Walaupun sering kotar katir kekurangan, tapi ya kan rezeki kita semua sudah dijamin sama Allah. Jadi ya sudah keep it on aja, terus menulis, terus menggambar, terus mempromosikan usaha orang-orang lewat tulisan saya. Percaya The power of aksara dan the power of medsos bisa jadi bagian dari amal jariah yang terus mengalir (amin) dan rezeki mah insyaAllah ada, Allah pasti mengapresiasi semua usaha kita. Jadi gimana nih, tentang burnout? Oke, sebentar.

Katanya stress itu wajar, karena dengan stress membantu otak kita berfikir cepat dan bersegera mengambil langkah/keputusan-keputusan. Namun jika stress terus menerus tanpa jeda, lama-lama sistem syaraf akan terluka. Dalam kondisi kita bekerja pada bidang yang kita cinta pun ada masanya mengalami burnout. Saya fikir wajar, tapi akan menjadi tidak wajar jika situasi burnout berlarut-larut dan tidak segera teratasi.

Jadi saya mau berbagi sedikit pengalaman upaya self healing untuk menyelamatkan dari burnout yang ya mungkin bisa saja cocok sama teman-teman:

1. Beri jeda antara diri sendiri dengan pekerjaan kita.

Beri waktu pada diri untuk bernafas lega dengan cara mengalihkan pikiran pada hal lain. Caranya, olah nafas, lalu kerjakan sesuatu yang membuat kamu rehat sebentar. Katakanlah kamu sudah merasa enek ditengah pekerjaan yang tak kunjung selesai, maka hentikan saja, beri waktu 30 menit untuk betul-betul buat diri sendiri.

Katakanlah ambil kopi arabika kesukaan kamu, lalu seduh kopi, nikmati dengan menyadari penuh rasa kopi, pada proses seduh membayangkan pegunungan pepohonan kopi, lalu duduk tenang menikmati pepohonan di teras rumah. Sambil tutup mata dan nikmati berbagai suara di sekita tanpa perlu melawan atau merespons balik

                                         

2. Kerjakan hobi yang kamu suka.

Hobi setiap orang beda-beda, ada yang nonton film, merawat bunga, membaca buku, membuat kue, menggambar, membuat puisi, olah raga, dll. Lakukan tanpa perlu merasa bersalah, tubuh kamu butuh “nutrisi” agar bisa beraktifitas dengan riang gembira dan penuh energi.

Kalau kamu suka jalan kaki, maka lakukan. Nikmati diri sendiri sambil bawa handphone. Ketika jalan kaki menemukan objek menarik, maka tak perlu segan mengambil fotonya, dengarkan keinginan tubuh dan hati kamu. Ketika merasa sudah cukup puas, pulang dan susun lagi rencana hari itu, lalu kerjakan satu satu pekerjaan. Dengan kesadaran penuh bahwa lama-lama semua pekerjaan itu akan selesai juga.

3. Bersyukur atas tubuh yang sehat

Di tengah pandemic seperti ini apa yang paling kita syukuri? Ya, udara dan tubuh yang mampu mengerjakan sesuatu. Baik itu pekerjaan orang ataupun pekerjaan rumah. Tidak semua orang mendapat kesempatan seperti itu. Hari ini berarti, lalu kerjakan apapun sisa-sisa yang kita bisa kita lakukan.

4. Tulis atau ingat-ingat hal menyenangkan meski sederhana

Seringkali kita merasa lelah dan perasaan cemas lainnya karena berfikir berlebih bahkan berfikir pada sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Cobalah untuk mengingat kejadian lucu, asik, sederhana namun sering kita abaikan karena ingatan negative kerap menguasai pikiran. Misalnya anak-anak bisa mandi sendiri dan menyimpan baju kotor di tempatnya, lalu ketika beli sayur mendapat diskon 1000, senang bisa menjemur badan sambil ngobrol dengan Ibu, senang karena berhasil membersihkan kulkas, dan sebagainya. Tanpa disadari ternyata persoalan kita hanya 1 dan situasi yang menyenangkan bisa jadi lebih banyak.

5. Tidur

TIdur? Iya, tidak semua orang bisa tidur dalam keadaan banyak masalah. Maka upayakan tidur sekitar 30 menitan saja. Nyalakan alarm agar tidak terlalu lama. Katanya, tidur adalah obat meredakan stress yang paling mujarab, karena syaraf kita akan dibuat istirahat.

6. Lakukan permainan anak-anak

Gunting, batu, kertas! Bikin permainan anak-anak dengan orang rumah, gunakan waktu secukupnya, biarkan jiwa anak-anak kamu keluar lalu gunakan kesempatan untuk bergembira.

7. Berhenti ingin di apresiasi oleh rekan kerja

Lakukan saja pekerjaan kamu semampu kita, karena tanpa kamu semua itu tidak akan terwujud.

Ketika pikiran kita kembali santai dan sederhana, pekerjaan yang setumpuk dan penuh tekanan itu jadi terasa ringan dan kembali berenergi. Perlu disadari juga, bahwa setiap manusia memiliki fungsi masing-masing. Ketika salah satu berfungsi, maka tujuan bersama akan terwujud dengan baik. 


Foto: Ima


Seorang guru ngaji saya pernah bilang, bahwa ilmu yang kita ketahui itu ibarat setetes air di lautan. Saya mendengar petuah ini saat masih sekolah dasar, belum ngerti maksud Kang Guru itu apa. Karena pernyataannya ini unik dan menimbulkan imajinasi visual di kepala. Lama saya selalu ingat kalimat ini, “Setetes di lautan, setetes di lautan,” saat melamun kalimat ini cukup sering mengusik sistem syaraf ingatan saya.

Ternyata kalimat ini maknanya luas sekali, tidak sekadar bermakna ilmu yang kita tahu itu sangat sedikit dibandingkan ilmu yang terkandung di alam semesta ini. Tapi kalimat ini mengajarkan pula untuk meneguhkan diri agar tetap buka hati, buka mata, buka telinga untuk memahami segala sisi. Karena kita bisa belajar dari siapapun ketika berada dalam lingkungan sosial yang beragam. Disini hati kita diuji untuk menangkap setiap “ilmu” dari siapapun itu.

Kadang-kadang merasa remuk karena merasa sudah belajar banyak, rupanya semakin melangkah lebih jauh, ilmu ini seperti tak berbatas. Selalu ada yang baru, selalu ada situasi yang mengejutkan yang menyadarkan bahwa bumi ini sungguh luas. Sepertinya tak ada ruang untuk membanggakan diri, tidak juga merendahkan diri atau bahkan merasa paling berilmu.  

Foto: Ima



Kebetulan saya pernah aktif dalam organisasi teater saat kuliah dulu, sehingga sampai sekarang komunikasi masih terjalin untuk sesekali berbagi pikiran. Melalui teman-teman pengurus itu, saya menemukan bagaimana mereka mengelola masalah dan memecahkan solusi dalam bentuk karya. Energi ini seperti menular dan selalu mengingatkan saya agar terus berkarya berapapun usia dan kondisi kita saat ini. Melalui pergerakan dan program kegiatan yang mereka lakukan, saya sering menemukan ilmunya yang luas dan meluaskan, pergerakannya selalu segar dan inspiratif. Pelan-pelan saya pelajari dan serap disesuaikan dengan kondisi saya saat ini.

Lalu saat kami membangun studio desain bersama teman-teman Ayah yang lebih muda, kami belajar memiliki sikap saat harus bekerja sama dalam mengeksekusi pekerjaan. Meski usia terpaut cukup jauh, pola komunikasi kami terasa cair. Karena komunikasi cair, proses kreatif lebih dikerjakan dengan professional dan menyenangkan. Tidak ada yang merasa lebih tua maka dia lebih jago begitupun sebaliknya. Semua proses dan ide dikomunikasikan untuk mendapatkan kesan hasil desain yang disepakati bersama.

Begitupun ketika saya masuk pada dunia tulis menulis, saya belajar banyak dari penulis yang usianya lebih muda namun kaya ilmu menulis. Saya menyadari hobi menulis saya tidak disertai dengan ilmu kepenulisan. Sehingga ketika pelan-pelan masuk dunia blog lalu menemukan komunitas blogger, disini berbagai “tuntutan” keilmuan menulis, etika bermedia sosial, keahlian mengambil foto, mengatur aplikasi blog, membangun branding, memelihara disiplin berkarya dan banyak lagi cabang lain harus dipelajari. Melalui beberapa teman yang lebih muda, saya belajar teknis mengelola blog dan bagaimana mensikapi dunia blogger yang dinamis dan penuh kejutan.

Situasi yang sering terjadi ketika kita tahu ada lingkungan lain dengan percepatan ilmu yang kita miliki, kita memilih berhenti. Atau tak jarang merasa tidak perlu belajar lagi karena sudah merasa lebih dulu berkiprah. Keadaan ini yang membuat kita terjebak karena merasa cukup banyak tahu dan besar sendiri.

Perlu disadari, pertumbuhan dan pergerakan ilmu di era sekarang ini sangat cepat. Oleh karena itu, mau tidak mau, buat saya yang melewati fase belum ada internet hingga fase informasi itu ada di smart phone menjadi tantangan tersendiri untuk membuka diri untuk terus belajar pada siapapun. Bagaimana dulu kita kesulitan mencari referensi, sekarang anak-anak muda jauh lebih memahami bagaimana mendapatkannya dan mengelolanya menjadi industri. Pergerakan hobi lalu mengoptimasi menjadi penghasilan menjadi pergerakan sosial yang lumrah. Jadi, dalam mempelajari sesuatu tidak ada kata terlambat meski dari anak muda, masalahnya adalah mau atau tidak.

Foto: Ima

Rasanya semua merasakan hal yang sama, bulan Ramadan selalu terasa beda. Tentu saja berbeda, karena setiap muslim wajib melakukan puasa pada siang selama 1 bulan penuh. Menjalani puasa sambil melakukan aktivitas seperti biasa menjadi tantangan sendiri. Seringkali hilang konsentrasi dan semangat saat mengerjakan berbagai pekerjaan. Lapar dan mengantuk sering menjadi alasan kita mengurangi aktivitas karena khawatir kelelahan lalu batal puasa.

Namun pernah tidak disadari, upaya mengurangi aktivitas itu karena dipengaruhi oleh pikiran sendiri. Muncul perasaan khawatir dan takut beraktivitas saat puasa. Padahal bisa jadi tubuh dan kesehatan kita jauh lebih baik dari yang kita perkirakan saat tubuh menjalani puasa. Oleh karena itu ada bagusnya mengolah mindset dengan mengisi energi keinginan untuk makan dengan membuat kegiatan yang menyenangkan.

Belajar pada anak-anak, mereka selalu membebaskan pikiran untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan. Kita yang bejibun tanggung jawab bisa mulai mengisi kegiatan itu dengan energi yang menyenangkan. Hal yang harus disadari, setiap orang punya kapasitas dan keahlian yang berbeda-beda. Itulah sebabnya, apapun aktivitas yang kita lakukan sekarang, harus dilakukan dengan luas hati. Puasa merupakan ibadah yang wajib dikerjakan oleh umat muslim, sayang sekali jika kesempatan ini dijalani dengan beban dan keluh. Tanpa disadari waktu dan energi akan terlewat tanpa isi.

Puasa itu tidak mengisi perut dan menahan emosi negatif. Secara tidak sadar, umat muslim sedang diisi ulang dari rutinitas yang seringkali melupakan tujuan hidup sebagai pemelihara di muka bumi. Setidaknya menjadi pemelihara untuk lingkungan terdekat kita: keluarga. 

Foto: Ima



Ramadan waktunya menghidupkan ruang-ruang cinta yang terabaikan. Dalam dua kali Ramadan ini, kita melewatinya dalam kondisi pandemic covid 19. Manusia seolah tengah diajarkan untuk pause emosional dan play mengikuti ritme alam. Seperti juga Ramadhan, ada waktunya puasa ada waktunya makan pada waktu yang sudah ditentukan. Belajar berserah diri secara penuh pada pemilik waktu juga pemilik semesta.

Lalu apa kebiasaan yang bisa kita bangun untuk membuat Ramadhan kamu jadi terasa menyenangkan. Karena pada bulan Ramadan, kegiatan kita bernilai ibadah mendapat pahala yang berlipat. Sebelum memulai kegiatan, baca basmallah, luruskan niat, agar setiap gerak gerik kita bernilai ibadah. Nah, jadi kamu boleh mencoba berbagai kegiatan kreatif saat Ramadan, sehingga membuat hidup kamu lebih berisi:

1. Taraweh

Taraweh merupakan peristiwa yang hanya bisa dinikmati satu bulan saja selama satu tahun. Biasanya muslim melakukan shalat malam sendiri saja di rumah masing-masing. Taraweh memberi energi tersendiri karena dilakukan secara bersama-sama (berjamaah) di masjid setelah shalat isya.

Menjadi ajang silaturahmi antar teman, tetangga, saudara. Suasana ini bisa menghidupkan hati dan inspirasi, memberi semangat hidup karena kita semua sama, menunduk di hadapan Allah SWT.


2. Melakukan Kegiatan Kreatif

Pada hari biasa, biasanya kita menyeduh kopi atau melahap camilan untuk menemani aktifitas sepanjang hari. Begitu puasa, kebiasaan ini berubah sehingga siklus tubuh beradaptasi dengan kebiasaan baru. Oleh karena itu, pikiran dan hati kita perlu dipelihara agar ritme harian tetap sama. Bedanya hanya tidak makan dan minum saja.

Untuk mengatasi pikiran dari lapar dan haus, kegiatan yang kreatif bisa membuat aktifitas harian tetap asik karena pikiran dan hati kita teralihkan pada kegiatan yang mencuri perhatian. Kamu bisa membuat teknik baru menggambar, lalu praktikan bersama anak-anak.  Selain keahlian menggambar bisa terasah, anak-anak merasa senang, perasaan menyenangkan perlahan akan melupakan rasa haus dan lapar.


3. Mencoba Memasak Menu Baru Untuk Buka dan Sahur

Waktu buka merupakan saat yang ditunggu-tunggu, sementara waktu sahur merupakan waktu makan yang penting namun sering terganggu oleh rasa kantuk. Kamu bisa mulai buka-buka aplikasi menu olahan baru untuk menemani waktu makan yang special itu.

Tapi makan special disini bukan berarti harus mahal dan banyak, ya. Kita bisa mengolah makan enak tapi murah. Seperti mencoba bikin roti pita dengan cocolan saus mayonnaise, tahu diberi tepung krispi diolesi kecap dan cabe. Atau kita bisa mencoba bahan baku biasa jadi tidak biasa. Kalau kamu suka bala-bala, bisa coba bala-bala dengan saus korea agar terasa beda.

 
Foto: Ima


4. Jalan Sore

Memilih jalan sore sepertinya pilihan baik dibandingkan memilih jalan pagi. Kalau kita mulai haus, waktu menjelang buka tidak akan menunggu terlalu lama.

Jalan sore terasa menyenangkan setelah seharian kita bekerja. Buat yang bekerja di luar rumah bisa lebih rileks begitu melihat langit berwarna orange. Begitupun buat yang bekerja di rumah, jalan sore akan menumbuhkan persepsi dan inspirasi baru. Selain itu, saat Ramadan suka ada pasar sore yang menyediakan berbagai macam tajil dari masyarakat setempat. Suasana ini yang menyenangkan, kita bisa memilih berbagai aneka camilan dan menjadi ruang temu dengan tetangga.


5. Kuliner Malam Hari

Kuliner malam hari bisa jadi salah satu variasi mengisi hari-hari di bulan Ramadan. Kita bisa leluasa makan baso, burger, ayam krispi, roti bakar di tempat-tempat kuliner. Hanya perlu diingat saat pandemic seperti ini harus lebih waspada.

Memilih kuliner di rumah tentu pilihan tepat saat situasi pandemic belum kembali baik, cobalah memesan makanan melalui aplikasi online. Suasana makan di rumah pun bisa ditata sedemikian rupa, misal makannya di teras rumah, di balkon, sambil menonton film kesukaan, dan sebagainya. Apapun bisa dibikin senang apapun situasinya.


Sebetulnya kebiasaan menyenangkan itu sangat dekat dengan keseharian kita. Ketika kita masuk bulan puasa, kegiatan yang biasa kita kerjakan pada bulan-bulan lain jadi terasa istimewa karena ada waktu yang membatasi kita menjalankan kegiatan yang biasa itu jadi terasa special. Jadi, setiap waktu itu memberi kesempatan untuk kita melakukan hal-hal yang kreatif sehingga setiap waktu menjadi terasa menyenangkan apapun kondisinya. Ramadan menjadi proses “vaksinasi” yang menarik untuk membuat mental dan tubuh kita menjadi lebih baik.

Foto: Ima. Maret 2021
                                              

Perjalanan pulang kampung bertemu keluarga suami beberapa minggu lalu terasa istimewa. Tentu saja rasanya beragam karena hampir dua tahun tidak pulang terhalang pandemic. Ketika adiknya suami mengatakan akan mengirim mobil dari Pandeglang (Banten) menuju Bandung jadi kabar yang menyenangkan buat anak-anak. Itu artinya mereka dapat ketemu Bunde (nenek), melakukan perjalanan lagi, bermain di tengah lapang, sawah dan tentu bisa bermain bersama sepupu-sepupunya.

Paling seru ketika anak-anak mulai packing tas mereka masing-masing dengan membawa perbekalan. Anak-anak bersemangat sekali, kami pun beli perbekalan ke mini market yang lokasinya terselang beberapa rumah saja. Mereka memilih perbekalan sendiri, mulai dari masker, vitamin, hand sanitizer, susu Morinaga Chil Go, roti, kripik dan permen. Begitu tiba di rumah langsung packing sendiri dan segera menyimpannya di ruang depan, alasannya,”Biar cepat sampai.”

Mereka begitu bersemangat sampai membawa segala, seperti buku gambar, pensil warna, buku bacaan kesukaan mereka dan dede dino (boneka dinosaurus), sehingga setengah tas Bayan ditempati dede dino.

Saya dan anak-anak (11 dan 8 tahun) ngobrol-ngobrol kegiatan apa saja yang mau dilakukan. Lalu tercetus ingin mencari tutut ke sawah dan menggambar bersama sepupu-sepupu yang dipandu oleh Ayah. Oh, ya, kebetulan Ayah ini pengajar seni rupa untuk melatih executif function anak-anak dyslexia. Mereka anak-anak istimewa yang biasanya kemampuan IQ nya tinggi namun sering terbolak balik mengidentifikasi aksara dan kesulitan berbahasa. Nah, saat itu kami berencana akan membuat kolase bareng anak-anak dan keponakan. Sepertinya akan seru sekali.

Menurut analisa para ahli, menjaga daya tahan tubuh itu ada dua faktor yang penting yaitu menjaga asupan nutrisi dan rasa bahagia yang bisa memelihara semangat.

Foto: Ima. Maret 2021

Ketika pandemic mulai masuk ke Indonesia, saya jadi lebih ekstra peduli kebutuhan nutrisi anak-anak. Setidaknya berusaha tetap mengolah makanan yang bergizi, tetap enak dan menggembirakan anak-anak. Tentu disesuaikan dengan budget yang dimiliki dengan mengolah makanan yang murmer tapi tetap kaya gizi. Untuk mengantisipasi resiko kurang zat gizi karena kesalahan pengolahan bahan baku, saya memberi mereka tambahan madu, vitamin maupun susu seperti Morinaga Chil Go. Susu ini menarik, karena mengandung serat inulin, 9 vitamin dan 5 mineral untuk mendukung daya tahan tubuh. Kualitasnya teruji di laboratorium kalbe nutrition dan morinaga Jepang.

Nah, sedangkan untuk memelihara rasa bahagia, kami lebih banyak melakukan bersama aktivitas sehari-hari. Situasi pandemic, mau tidak mau cukup mempengaruhi kondisi anak-anak. Oleh karenanya, saya dan Ayah berusaha membuat suasana di rumah tetap asik meskipun banyak tugas sekolah dan menjaga kebiasaan anak-anak tidak tergantung pada permainan game saat jenuh. Ritmenya masih sama, pagi-pagi belajar hingga jam 12.00 siang, setelah dzuhur semacam bermain sambil belajar dan menerapkan beberapa kebiasaan baik memediasi kultur sekolah.

Kami mulai hari dengan mandi agar segar, lalu makan pagi bersama. Aktivitas mandi dan sarapan pagi ini dasar. Selanjutnya banyak yang bisa kami lakukan agar sehari-hari terasa beda, seperti merapikan kamar, bersih-bersih rumah, mendampingi belajar PJJ (pembelajaran jarak jauh), menggambar bersama, menanam tanaman bareng, menyalakan musik, download film lalu menonton bersama, mencoba resep baru. Meskipun di rumah saja, sebisa mungkin memindahkan aktivitas luar dipindahkan ke dalam rumah agar executive function anak-anak dapat terolah dengan baik.

Beberapa hari saja kami tinggal di Pandeglang, menikmati udara segar pegunungan, bersilaturahmi ke rumah Bunde dan menikmati kopi pagi di rumah adik. Sesuai rencana, selain bermain menyusur jalan perkampungan, kami jalan mengikuti pematang sawah dan mengmabil beberapa tutut yang hidup di antara padi. Anak-anak sangat antusias, apalagi Bayan (8 tahun) bersemangat mengambil sendiri tututnya lalu memasukannya ke dalam wadah.


Foto: Ahmad Nurcholis. 2021

Lalu kami membuat kolase bersama para keponakan (anak-anak adiknya Ayah) yang kebetulan seumuran dengan Aden dan Bayan. Sehingga proses pembuatan kolase begitu menyenangkan. Masing-masing membuat kolase sendiri yang diarahkan oleh Ayah. Hasilnya sangat menarik, tiap anak punya imajinasi sehingga menghasilkan karya yang berbeda-beda.

Situasi pandemi ini sepertinya semakin menyadarkan banyak orang tua. Selama ini porsi hidup lebih menjaga kewajiban mencari nafkah, kali ini kita diajak untuk menjaga pertumbuhan anak-anak dengan menstimulasi kemampuan anak-anak. Menjaga bukan berarti “ngintil” terus menerus, tapi dengan kesadaran penuh mengajarkan keahlian dasar agar menjadi pribadi mandiri. Karena suatu hari mereka akan terus tumbuh dan melangkah lebih jauh.

Anak-anak kita merupakan generasi platinum, akan berhadapan dengan perbagai perubahan zaman yang berpengaruh pada prilaku. Mereka akan beradaptasi dengan percepatan informasi, perubahan alam, situasi sosial dan beragam budaya.

Oleh karenanya, situasi pandemi ini menjadi menjaga kesempatan baik untuk membekali diri dan mengejar kteretinggalan ilmu pengasuhan yang baik. Anak-anak merupakan penerus estafet kehidupan, mereka akan melangkah dan berlaku atas “bekal” yang ditularkan melalui orang tua dan bagaimana menyerap prilaku sosial di lingkungannya.


Foto: Ima. 2021

Beberapa hari di Pandeglang merupakan kesempatan yang berharga. Ya, kami datang ke Pandeglang dan kembali ke Bandung dalam keadaan sehat. Hal yang disyukuri paling disyukuri (akhirnya) bisa menengok keluarga Ayah adalah kami bisa bertemu lagi dalam keadaan sehat. Hampir dua tahun kami sekeluarga berusaha menjaga daya tahan tubuh, memelihara mental dan mengikuti 5M (menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, mengurangi mobilitas dan mengurangi kerumunan). Perlu kreativitas yang tinggi agar tubuh, hati dan pikiran memiliki daya tahan yang baik sehingga tetap berdaya dalam berbagai situasi.
Foto: Ima. 2021

Pernah pada suatu titik yang berulang-ulang saya merasa buruk rupa dan tidak bisa berharap pada siapapun. Karena buruk rupa dan tidak ada yang bisa diandalkan, saat itu saya merasa harus memperjuangkan sesuatu yang membuat saya bahagia dan berharga. Yaitu memperjuangkan bidang yang saya suka dan saya harus mendapatkan pasangan hidup yang menerima saya apa adanya, menganggap saya manusia yang ada.

Bisa jadi proses imun itu hadir karena sejak kecil saya kurang apresiasi, sering dibandingkan sebagai subjek yang kalah, lemah, jelek, bodoh. Tapi satu sisi sebagai anak bungsu, saya juga sering mendapat prilaku iri dari sekeliling. Situasi yang kontradiktif. Harus lemah ditengah kalang kabut rasa percaya diri yang kusut. Sesekali mendapatkan rezeki atau prestasi atau apapun yang baik-baik, rasanya jadi biasa saja, meski sesekali saya mencuri-curi untuk merasa senang dan bangga sebentar saja.

Kita tidak pernah minta dilahirkan melalui orang tua mana maupun hidup dilingkungan mana. Karena kita tidak pernah tahu ada misteri apa dibalik pintu dan jalan yang kita tempuh. Hingga lama-lama saya percaya setiap keanehan, kekacauan, situasi dalam tiap tahap proses hidup menjadi personal immunity (kalau boleh meminjam istilah itu).

Satu hal yang menyelamatkan saya adalah bacaan. Saat sekolah hingga kuliah (bahkan sekarang), tempat “bersembunyi” dari kekacauan mental saya adalah perpustakaan dan toko buku. Datang diam-diam, membiarkan tubuh dan mata terkoneksi pada kebutuhan hati. Setiap buku yang saya ambil dan habiskan biasanya menyembuhkan infeksi pada hati saya. Setiap kata, kalimat dalam quran, buku, komik, majalah, puisi, potongan quote perlahan menumbuhkan kembali ranting-ranting yang terpatahkan satu persatu.

Lambat laun masing-masing akan memahami bahwa setiap proses kejadian yang baik-buruk menjadi imun tersendiri. Tak perlu lagi berharap orang selain diri bersikap seperti yang diharapkan, terus saja bertahan lalu cari jalan yang membuat diri berharga. Itu cukup.

Jadi, simpulkan sendiri lalu tumbuhlah.