Satu rumah dengan Amih (panggilan untuk Ibu) dengan usia sepuh (87 tahun), tidak hanya berusaha memahami karakter emosinya tapi harus menyiapkan berbagai kebutuhan kesehatan P3K. Seperti vitamin D3 1000 untuk memelihara daya tahan tubuhnya, obat paracetamol jika terkena panas/pusing/flu, juga ctm bila mulai gatal-gatal, penghangat badan dan salep.

Situasi hampir dua tahun membuat setiap orang harus saling memproteksi berbagai kemungkinan penularan virus. Tak hanya vitamin D3 1000, diatas rak disiapkan 1 pax masker dan handsanitizer. Meski sudah disiapkan tetap saja harus terus diingatkan untuk menggunakan masker jika ada saudara maupun tetangga datang menjenguk. 

Meski tidak mudah, tetap saja harus terus disiapkan saat waktunya mengonsumsi vitamin dan memakai masker. Mengingat situasi pandemi beberapa bulan kebelakang belum juga membaik, mau tidak mau kita harus terus berusaha terbaik mengubah gaya hidup sesuai anjuran para ahli kesehatan.

Pandemi yang menyerang bagian pernafasan ini menyadarkan hampir semua orang, bahwa memelihara imun menjadi kunci menangkal penularan. Biasanya menu makan yang mengandung vitamin sering terabaikan karena merasa cukup “jajan” makanan enak yang semakin beragam. Kenyang di dalam perut, namun kebanyakan nutrisi dalam makanan tidak memenuhi kebutuhan tubuh. Sehingga tak jarang pasien yang mendapat cap gizi buruk yang menyebabkan imum tidak bagus padahal proporsi tubuh proporsional.

Sebetulnya alam ini memenuhi kebutuhan vitamin manusia secara gratis. Zat paling akrab yaitu paparan sinar matahari. Sinar matahari ini dapat bereaksi bersama hormon tubuh penghasil kolesterol yang menghasilkan vitamin D3 yang bermanfaat untuk tubuh. Sama halnya dengan nutrisi makanan yang kurang terperhatikan, sinar matahari pun seringkali dianggap sekadar penanda siang hari.

Namun pandemi kali ini, menyadarkan kita secara penuh bahwa sinar matahari menjadi sumber kekuatan penting dan memperbaiki partikel dalam tubuh. Tidak hanya menghangatkan bumi dan membuat tanaman menjadi subur, sinar matahari memberi peran kehidupan pada setiap unsur tubuh manusia, hewan dan tumbuhan.



Kalau dipelajari ternyata manfaat vitamin D3 bagi manusia ini banyak sekali, diantaranya:

1. Menjaga kesehatan otot dan tulang

2. Membantu tubuh melawan infeksi pernafasan akut dan pneumonia

3. Meningkatkan kesehatan mental, mengatur suasana hati dan manangkal depresi

4. Menjaga kesehatan jantung

5. Membantu menurunkan berat badan

Poin-poin tersebut memberi gambaran dan membuka mata kita bahwa vitamin D3 memelihara kesehatan tubuh dan mental manusia secara holistik. Unsur yang ada dalam tubuh saling memberi reaksi menyalurkan vitamin yang membuat daya tahan tubuh manusia lebih baik dan kuat.

Lalu selain sinar matahari, ada juga jenis makanan yang mengandung vitamin D yang bisa memelihara tubuh dari dalam, diataranya:

1. Ikan laut: salmon, tuna, dan tongkol.

2. Ikan haring

3. Minyak hati ikan kod

4. Susu dan olahannya, seperti: keju, yoghurt.

5. Kuning telur

Semakin hari kondisi tanah, udara dan air mengalami pencemaran lingkungan dari asap, sampah yang tidak terurai, limbah pabrik dan limbah rumah tangga yang bercampur dengan air sungai dan laut. Untuk mengurangi resiko konsumsi makanan yang tercemar, sebaiknya diimbangi dengan mengonsumsi suplemen vitamin. Pilihan vitamin juga banyak tersedia di toko online vitamin. Jadi kita bisa memilih vitamin sesuai keluhan tubuh/jiwa dan usia kita.


Store resmi Siliwangi Bolu Kukus.



Silih Asah, Asih, Asuh, begitu tagline yang terpampang pada dinding utama menyambut pengunjung yang masuk ke dalam store Siliwangi Bolu Kukus (SBK). Bolu kukus yang dikenal dengan menghadirkan berbagai rasa lokal ini melakukan launching store resmi ke-8 di Padasuka Cimahi pada tanggal 17 Juli 2021, kemudian re-opening tanggal 10-11 Agustus 2021. Pada hari yang sama, SBK melakukan launching store resmi ke-9 berlokasi di Jalan Raya Bogor-Cimandala Kabupaten Bogor.









Untuk penikmat Siliwangi Bolu Kukus bisa mendapat kesempatan PROMO BELI 2 dapat 3 di store resmi Cimahi dan Raya Bogor. Agar tidak terjadi penumpukan pengunjung, mereka membagi waktu kedatangan 50 pengunjung dari jam 09.00-13.00 WIB lalu dilanjut sore harinya dari pukul 15.00-19.00 WIB untuk 50 pengunjung store.

Pembatasan pengunjung ini dilakukan untuk mengurangi resiko penularan c-19. Selain itu, lokasi store resmi memberlakukan protokol kesehatan dengan menyediakan cek suhu tubuh, handsanitizer dan wajib menggunakan masker.

Upaya ini patut diapresiasi dengan baik, karena langkahnya bagus untuk menjaga terjadinya kemungkinan penularan baik pengunjung maupun pegawai. Pegawai tetap merasa aman dan optimal melayani pengunjung dengan baik. Begitupun pengunjung dapat memilih bolu dan panganan lainnya untuk dikonsumsi sendiri maupun berkirim pada orang-orang yang disayanginya.










Ditengah pandemic seperti ini, segala keterbatasan rupanya menjadi semangat dan memberi ruang kreativitas sendiri bagi SBK. Bayangkan saat ini banyak usaha yang mengibarkan bendera putih, namun SBK tetap bertahan bahkan menghadirkan store resmi di dua lokasi. Sehingga saat ini, produk SBK sudah bisa didapatkan di beberapa lokasi, diantaranya Jambi, Bengkulu, Padang, Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, DI Yogyakarta, Palembang dan Lampung.

Bolu kukus selalu mengingatkan saya pada makanan favorit Amih. Beliau hobi membuat bolu kukus, kalau sedang membuat bolu kukus beliau suka bercerita masa mudanya yang sering mendapat pesanan dari kawan kerabatnya. Usaha itu berhenti karena ikut berdagang ayam bersama Bapak. Namun setiap hari spesial seperti hari raya, beliau kerap menyempatkan membuat bolu kukus.

Sekarang ini Amih sudah semakin sepuh, jadi kalau ingin menikmati bolu kukus selalu terlintas Siliwangi Bolu Kukus. Bolu yang mengingatkan saya pada kehangatan rumah, selain itu bolu kukus buatan Siliwangi ini memberi keunikan tersendiri karena menghadirkan berbagai variasi rasa. Meskipun bolu merupakan makanan peninggalan Belanda, melalui kreatifitas peracik Siliwangi Bolu Kukus kita dapat memilih berbagai rasa lokal khas tanah Pasundan dalam setiap tekstur empuk dan tebal potongan bolu kukusnya.

Selain itu, variasi rasa yang disediakan dan packaging SBK yang rapi dan apik, SBK bisa jadi pilihan berkirim makanan buat kawan dan saudara sebagai bentuk menuntaskan rindu. Tentu kerinduan ini langsung dulu. Betapa berharganya nilai sebuah pertemuan atau interaksi secara langsung.

Sebagai referensi, Siliwangi Bolu Kukus terdapat 16 pilihan rasa. Lalu terus berinovasi hingga sekarang terdapat 20 variasi yang dapat memanjakan kenikmatan rasa. Bahkan saat opening store di Cimahi dan Raya Bogor, menghadirkan Siliwangi Bolu Kukus rasa durian montong. Tentu buat penikmat durian menjadi kejutan yang menarik dan menstimulasi ruang bahagia. Seperti bolu yang sebelumnya, rasa yang dihadirkan begitu menyatu dan lengkap pada setiap kunyahannya. Saya rasa, bolu dengan rasa durian montong akan menjadi salah satu best seller juga.

Makanan khas Pasundan mempunyai cita rasa yang unik. Sehingga membuat orang-orang ketagihan untuk kembali dan mendapatkan kenangannya dengan cara menikmati makanan lokal. Melalui Siliwangi Bolu Kukus, kita dapat menyajikan kembali kenangan itu dalam bentuk bolu dengan berbagai rasa yang diracik secara pas.

Saat ini Siliwangi Bolu Kukus mempunyai pilihan rasa untuk memelihara khazanah makanan lokal. Diantaranya peuyeum Bandung, red velvet, pisang kapok, pandan wangi, martabak, kopi Bogor, Kacang Ijo, Talas Bogor, Kurma Ajwa, Talas Aren, Madu Odeng, Alpukat Mentega, Brownies Cokelat, Stroberi Ciwidey, Ketan Kelapa, Talas Oren, Mangga, Susu, Ubi, Jeruk hingga yang terbaru yaitu durian montong membawa kegembiraan dan kehangatan tersendiri.




Rasa lokal yang diolah dalam bentuk bolu sebuah keberanian yang ditawarkan bagi masyarakan luas. Namun ternyata dengan berbagai variasi rasa yang dihadirkan oleh SBK memunculkan banyak pelanggan yang memiliki “adventure” rasa, mereka yang berani mencoba berbagai panganan inovatif dalam bentuk dan rasa. Tak hanya itu, kita menjadi bagian yang bisa memelihara rasa dan panganan hasil bumi di tanah Pasundan.

Sejak pandemi, prokes (protokol kesehatan) menjadi proses yang wajib dilakukan.  Selama ini kita selalu abai dan kurang memperhatikan kebersihan tangan dan kebersihan lainnya.  Lihat saja lingkungan masyarakat kita yang masih seenaknya membuang sampah, kurang memperhatikan pola hidup sehat, makan sembarangan lalu merasa pola hidup selama ini dianggap baik-baik saja.

Sampai akhirnya kita "ditegur" dengan cara yang sangat ekstrim: pandemi covid 19 yang penularannya sangat mudah.  Ternyata untuk mencegahnya dengan cara menjaga prokes yang selama ini sering dikampanyekan, yaitu: cuci tangan pakai sabun.  Oh, well!  

Cuci tangan pakai sabun udah mesti deh tidak ada tawar-tawar lagi kalau kamu tidak mau tertular oleh mahluk super duper kecil yang lincah ini.  Mahluk kecil yang memporak porandakan sistem hidup sosial manusia.  Sistem hidup paling dasar: bertemu, berbicang, berpelukan, berpegangan, bersalaman, bersentuhan, berkumpul.  

Tentu proses sosial ini tidak hanya menghentikan aktifitas silaturahmi secara tatap muka tapi berbagai aktifitas yang berkaitan dengan kesehatan, kegiatan keagamaan, kegiatan pendidikan, kegiatan kesehatan, kegiatan perdagangan dan banyak lagi.

Meski begitu, saya tetap baik-baik saja lalu membangun perasaan dengan menjaga prokes adalah aktifitas baik dan barsahabat.  Semua ini mudah kok, seperti:

1.  Keluar rumah dengan memakai masker, membawa sabun cair, dan hand sanitizer.
2.  Begitu sampai di rumah, menggantung masker di tempatnya sesuai nama pemiliknya.
3.  Membeli masker kain dan masker medis.
4. Membuat gantungan khusus masker yang sudah dipakai agar tidak disimpan dimana saja.
5. Membuat tempat cuci tangan dari galon dan menyediakan sabun tangan.
6. Menyediakan sabun tangan di tempat cuci piring.
7. Segera melepas dan mencuci baju bekas pakai dari luar.  Bila tempat yang didatangi beresiko tinggi penularan.  Seperti: rumah sakit, pasar dan tempat latihan.
8. Setiap hari mengepel lantai rumah menggunakan cairan yang mengandung disinfektan.
9. Setiap barang yang dibeli, bungkusnya segera dipisahkan ke dalam tempat sampah.
10. Mencuci tangan dengan sabun setiap habis memegang barang yang beresiko tinggi penularan.  
11. Tamu dipersiapkan kursi di teras rumah.
12. Buat tamu yang tetap masuk rumah, disiapkan hand sanitizer dan masker sekali pakai.  Karena ada saja tamu yang tidak percaya virus covid lalu biasa saja peluk dan salam sama Amih.  
13. Menemani (baca: menjaga) Amih (89 tahun) ketika ada tamu yang langsung masuk dan bersikap seenaknya.  Biasanya saya rapikan masker Amih lalu berusaha bersikap biasa.  Ketika tamu pulang, segera tangannya saya beri hand sanitizer.
14. Anak-anak tetap bermain dan belajar di rumah/halaman rumah.
15. Jika harus keluar dan jajan, harus pakai masker walaupun teman-temannya abai prokes.  
16. Bungkus jajan harus dicuci terlebih dahulu atau segera dipindahkan isinya ke tempat yang lain lalu bungkusnya dibuang ke tempat sampah.
17. Tangan dan kaki sesampai di rumah harus dicuci pakai sabun.
18. Menjemur jaket atau baju yang kiranya tidak terlalu berinterakasi dengan lokasi yang beresiko.
19. Memperhitungan frekuensi keluar rumah dengan prinsip "kalau harus keluar mesti sekalian sambil melakukan yang penting" dan kalau tidak penting, cari solusi lain.
19. Segitu saja lalu jalani dengan baik-baik saja.


Sebetulnya prokes ini mengubah pola hidup baik yang bisa memelihara kesehatan kita.  Kalau virus ini dapat teratasi, saya fikir pola hidup ini bagus juga terus dijalani, terutama masalah cuci tangan dan kaki, mencuci barang-barang dari luar, menjemur jaket.  Ini sebagai bentuk keramahan pada diri sendiri.  

Lalu, apakah kita bisa betul-betul berhenti, rebahan, duduk-duduk santai selama di rumah saja?  Tentu tidak, setidaknya kita tetap harus menunggu tukang sayur lewat dan pergi ke ATM untuk melakukan bayar listrik dan beli roti untuk teman ngopi.  

Demi menikmati hidup ditengah pandemi, ya saya nikmati saja.  Meski sudah biasa di rumah saja, tentu beradaptasi menjadi merasa biasa berproses juga.  Ya, berproses mengendalikan rasa takut, rasa khawatir, rasa lebih hati-hati dalam melakukan aktifitas yang mengharuskan keluar rumah dan menyentuh beberapa barang yang berada di ruang publik, seperti di mini market, supermarket, apotek, ATM, duduk dan bayar ongkos angkot, mendapatkan paket dari ekpedisi.  

Saya pribadi betul-betul mengolah situasi ini menjadi "baik-baik saja" dengan beradaptasi dari situasi yang "tidak baik-baik saja".  Artinya prokes ini sebagai fase yang bersahabat dan sebagai bentuk berdamai dengan keadaan.  

Jadi berbagai situasi di rumah dinikmati saja, menyaring berbagai informasi dengan melakukan apa yang paling saya bisa.  Membuka mata lebar-lebar, mengingat-ingat kembali apa yang bisa dilakukan, sentuh lagi hati apa yang ingin dipelajari, diolah, tapi selama ini dilupakan atau bahkan ditumpuk oleh rasa malas. 

 
“Literasi terhadap aspek finansial menjadi salah satu hal paling penting yang sebetulnya wajib Millennial & Gen Z pahami. Untuk itu, Fortune ingin menjadi sumber informasi yang lengkap, akurat, dan terpercaya, serta membantu membuka perspektif baru terkait fokus mereka pada aspek finansial.”  Ungkap Winston Utomo, CEO IDN Media.

Langkah yang dilakukan oleh IDN Media dengan menggaet Fortune Indonesia ini menarik.  Seperti yang diungkapkan oleh Winston Utomo, literasi menjadi aspek penting dalam menjalani bisnis.  Saya fikir Fortune Indonesia akan menjadi sumber media yang penting untuk mengasah pengetahuan dalam mengelola usaha.  Karena selama ini saya sering kekurangan referensi dan informasi seputar wilayah bisnis.

Seperti kita tahu, pertumbuhan bisnis di dunia selalu mendapat kejutan-kejutan di tengah bisnis yang sudah ada.  Kita melihat dinamika masyarakat dalam menghadirkan karya menarik, inovatif hingga kolaborasi cukup berani dan unik.  Begitupun dengan upaya pemerintah menggerakan Usaha Kecil Menengah (UKM) di tengah masyarakat kita beberapa tahun kebelakang.  Mulai dari pengajuan proposal, mengelola promosi hingga pendampingan bagi wirausaha baru. 

Saat ini masyarakat millennial dan Gen Z berada pada masa memiliki banyak kemungkinan dan kesempatan dalam menjalani bisnis (wirausaha) di berbagai lini produk dan jasa.  Hanya saja kesempatan dan semangat ini harus terus dipupuk oleh berbagai informasi mengenai pola bisnis, financial, ekonomi, perbankan, investasi, market research dan keuangan.   



Melalui Fortune Indonesia ini akan membekali proses merintis maupun melanjutkan usaha yang sedang dijalankan Millennial dan Gen Z.
 

1.    Akses pada informasi yang berkualitas 

Selama ini Fortune memiliki target pembaca para pebisnis professional.  Meskipun begitu, IDN Media berharap akan memberi energi dan efek positif bagi para para Millennial dan Gen Z.  Berbagai hal sudah dipertimbangkan sebelum resmi memutuskan membawa Fortune ke Indonesia. 

Dengan hadirnya Fortune, diharapkan akan memperkaya ekosistem bisnis di IDN Media.  Jenis yang disediakan oleh para publisher pun bergam dengan tingkat akurasi dan kredibilitas informasi yang dapat memperkaya wawasan dan pengetahuan para Millennial dan Gen Z.

2.    Literasi terhadap aspek financial penting bagi Millenial dan Gen Z

Dari masa ke masa, seseorang atau kelompok manusia yang kuat literasi dapat menguasai informasi dan pengetahuan sehingga mereka bisa menghadirkan kekuatan yang berbeda.  Literasi yang dipelihara dalam pendidikan formal harus diasah oleh informasi yang berkualitas agar memperkaya wawasan dan pengetahuan seseorang. 

Iklim sosial dunia ini dinamis, harus terus diiringi oleh berbagai informasi yang lengkap, akurat dan terpercaya.  Sehingga Fortune dihadirkan di Indonesia agar Millennial dan Gen Z bertumbuh menjadi masyarakat yang memiliki perspektif baru dalam mengelola aspek finansial.

3.    Millennial dan Gen Z, kolaboratif dan berjiwa wirausaha

Saat ini Millennial dan Gen Z merupakan kelompok masyarakat yang mengambil resiko.  Banyak pengaruh yang mempengaruhi impian mereka membangun langkah finansial.  Mewakili IDN Media, Winston Utomo berpendapat bahwa dia percaya bahwa generasi ini kerap melakukan langkah kolaborasi untuk memperkokoh langkahnya di bidang wirausaha. 

“… mereka akan menggunakan kinerja tim sebagai landasan dalam membangun bisnis.” Demikian lanjut Winston.

Mereka memiliki kecerdasan berkomunikasi dan kerap menambah wawasan sebagai satu kesatuan yang dapat mewujudkan kolaborasi yang efektif.  Sebuah pepatah memberi gambaran bahwa kolaborasi menjadi elemen penting:

“Collaboration allows teachers to capture each other’s fund of collective intelligence.” 

Oleh karena itu, untuk membangun kerjasama dengan Millennial dan Gen Z beri #PositifImpact dengan menghadirkan Fortune Indonesia di tengah mereka.  Perkembangan dan percepatan bisnis di dunia ini begitu tinggi yang dipengaruhi oleh berbagai hal, terutama kekuatan kreatifitas, teknologi dan informasi.  Fortune Indonesia akan menjadi literasi penting yang bisa mengolah situasi dinamika bisnis yang terjadi.

Self Love. Foto: Ima

Hei, manusia kecil.  Menjadi kecil bukan berarti hidupmu terbatas.  Menjadi kecil bisa melihat berbagai keindahan dan keluasan hidup dari berbagai sisi dan detil. 

Nuhun karena selalu bertahan dan perpegangan melewati berbagai fase.

Nuhun atas apapun yang sudah kamu lakukan selama 43 tahun ini.

Aku memaafkan kamu.  Peluk diri.

Hey, nuhun sudah bertahan menjadi diriku.  Apapun kamu kini, sangat berarti.

Luaslah jiwa.  Luaslah pikiran.  Luaslah langkah.

 

Kalimat di atas merupakan ungkapan self love pada hari ulang tahun saya.  Saya lakukan ini sebagai bentuk apresiasi pada diri sendiri dibanding menyesali situasi.  Apresiasi ini saya buat dengan kesadaran, menerima penuh proses dan keputusan hidup yang membuat proses jatuh bangun-patah tumbuh pembentukan yang tidak disadari.  Karena saya percaya, apapun yang terjadi pada hidup kita merupakan cara Allah berkomunikasi dan cara Allah memberi kita ilmu hidup.

Dulu-dulu saya masih belum bisa menerima dan sering merasa upaya yang dilakukan biasa saja.  Perasaan ini hadir begitu melihat pencapaian teman-teman yang terlihat baik secara status sosial maupun kedudukan dalam bidang pekerjaannya.  Sementara saya yang teguh pada pilihan hidup berkesenian, penulis paruh waktu, dan memilih menjadi ibu penuh waktu merasa pencapainnya biasa saja. 

Saya melewati fase yang cukup panjang untuk mencintai diri sendiri.  Perasaan yang tarik menarik antara yakin dan tidak yakin cukup mengganggu dan menghabiskan banyak waktu.  Seperti, sering merasa tidak baik-baik saja dengan keadaan fisik, pencapaian yang diperoleh, cukup sering membandingkan pencapaian diri dan orang lain, sering merasa kurang dan suka mengeluh.  Ini sungguh perasaan insecure (baca: menyebalkan) yang menyebabkan semangat mudah terpatahkan dan hilangnya rasa syukur.  Gelombang naik turun rasa yakin dan percaya dengan pilihan hidup kerap membuat saya mudah goyah.  Tapi satu sisi, saya punya prinsip yang menyebabkan sering mengambil pilihan hidup tidak aman secara financial. 

Berdasarkan prosesnya, berbagai fase hidup selalu hadir, baik-buruk, naik-turun, berat-ringan, besar-kecil, menjadi proses mengolah banyak sisi mental, membuka sudut pandang saya terhadap berbagai keadaan dalam menjalani proses hidup, memaknai sukses dan pencapaian hidup.  Lama-lama saya menyadari bahwa terpenting dalam hidup adalah terus berusaha, berdoa dan merasa “cukup” berapapun kita dapatkan dan kita berikan ternyata dapat mencukupkan nilai diri.  Lalu menyadari bahwa setiap manusia mempunyai fungsi dan tempatnya masing-masing.  Masalah besar, hebat, keren bukan urusan manusia lagi tapi urusan Allah yang menilai. 



Self love adalah kondisi dimana kita menghargai kita sendiri, menghormati proses dengan cara memaknai setiap laku yang dikerjakan dengan tulus dan sungguh-sungguh.  Setiap detil adalah ilmu, setiap langkah adalah berkah, sehingga kita semakin memperhatikan dan menyadari banyak hal yang penting tapi tidak kita sadari.  Menghargai diri sama saja dengan menghormati dan menyukuri Sang Pencipta.  Ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk memelihara diri dengan cara mengelola tubuh, jiwa dan spiritual menjadi lebih baik.

 

Pertama: Kenali Diri Sendiri

Kalau saya sedang kehilangan arah atau tidak merasa aman dengan pilihan hidup kita.  Saya biasanya mulai kembali menuliskan satu persatu bidang yang saya suka dan tidak saya suka.  Lalu merunut kembali berbagai pengalaman yang sudah dikerjakan selama ini.  Nanti akan terlihat berapa banyak pengalaman yang kamu kerjakan, baik yang berkesan hingga kamu dapat sesuatu dari kegiatan itu.  Baik berupa nilai materi ataupun nilai hidup.  Proses ini akan membagun ingatan bahagia bahkan mungkin ingatan menyedihkan namun akan muncul rasa syukur.   

Cara ini dilakukan agar diri menghormati dan menghargai setiap proses diri yang pernah dikerjakan.  Karena sering kali kita lupa bahkan menganggap biasa atau terasa sangat bodoh, namun bisa jadi semua proses itu bisa jadi sangat menarik dan bermanfaat dikemudian hari.  Cara ini cukup bagus untuk mengontrol diri dari pengaruh atau pandangan lingkungan yang membuat kamu jatuh dan merasa tidak berguna.   

Selain itu, langkah ini dapat membangun kesadaran bahwa setiap orang punya potensi masing-masing dan memberi manfaat bagi kehidupan dengan cara yang berbeda.  Bayangkan kita bisa menikmati makanan enak dari orang-orang yang pintar masak.  Bisa menikmati cerita dari orang-orang lihai menulis, bisa menggunakan pakaian yang keren dari para ahli fashion dan seterusnya. 



Atensi dan hati bergerak pada bidang yang sesuai kemampuan minat dan kemampuannya.  Kalau kemampuan ini disadari, keahlian ini bila digabungkan akan menjadi sistem yang menghadirkan energi budaya kehidupan yang berenergi.  Jadi tidak ada yang unggul, karena setiap orang punya kontribusi atau keahlian masing-masing menghadirkan sebuah bentuk.

Katakanlah sebuah mobil, dibutuhkan ahli mesin, begitu mesin bisa meluncur, maka dibutuhkan orang desain agar mesin itu bisa digunakan secara pantas dan menarik.  Tak hanya orang desain, kita membutuhkan ahli interior agar pengguna mobil bisa nyaman duduk melakukan perjalanan di dalam mobil.  Agar investor mobil dapat keuntungan dan pekerja dapat untung, maka dibutuhkan ahli keuangan untuk menghitung berbagai cash flow dana.  Begitu seterusnya.  Jadi setiap manusia itu penting. 

 

Kedua: Mengolah Jiwa dan Fisik

Ketika tubuh dalam keadaan sehat, seringkali kita abai.  Makan, minum dan beraktifitas tanpa kendali yang lama-lama tubuh pun lemah.  Kalau tubuh lemah maka aktifitas pun dapat terhenti.  Oleh karena itu, kita perlu memberi perhatian pada tubuh dengan cara olah raga dan memperhatikan pola makan sehat. 

Hormati dan rawat tubuh dengan memberi nutrisi yang baik.  Selain itu kamu bisa coba berkomunikasi dengan tubuhmu sendiri dengan memberi ucapan terima kasih dan permintaan maaf pada setiap organ tubuh kita.  Dengan begitu, kita menyadari bahwa setiap unsur tubuh kita sangat berharga dan penting. 

Tubuh ini ibarat pohon, kalau tanahnya subur akan membuat pohon tumbuh besar, sehat, berkembang dan berbuah.  Begitupun dengan tubuh, beri cinta yang banyak untuk tubuh kita dengan memperhatikan nutrisi dan ungkapan-ungkapan yang baik. 

Cobalah beri ucapan terima kasih  mata, mulut, wajah, tangan, rambut, kaki, perut, jari, lutut, dan organ tubuh lain.  Bagaimanapun bentuknya, warnanya, berhenti terpengaruh oleh standar cantik maupun ganteng.  Setiap hari.  Dengan sendirinya hati akan terasa ringan dan bahagia bahwa tubuh ini sangatlah berharga.  Hidup kamu akan jauh lebih berharga dan lebih keren dari yang kamu sadari.

Jadi berhenti merasa insecure dengan pencapaian orang lain yang tampak mulus dan menganggap hidup kamu tidak seberuntung orang lain.  Karena sebetulnya setiap orang berjuang melawan dirinya dan berjuang memelihara hidup dengan cara dan kemampuannya masing-masing.  Setiap orang bergerak sesuai keahlian, kesukaan dan kapasitas dirinya.  Tidak semua orang sama, baik tingkat kenyamanan, tingkat kebahagiaan dan integritas masing-masing orang berbeda.  Selain itu, proses pencapaian dan kepuasan seseorang itu tidak ada yang instan.  Kita semua bergelut dengan proses-proses panjang belajar dari kekurangan-kesalahan-keberhasilan, terus berlatih, terus mengolah diri dan mengisi semua waktunya untuk berkarya. 

Jadi, kenali diri, kenali mimpi, raba jiwa kita lalu berbuat apa yang paling kita bisa dengan kesungguhan hati lalu biarkan semesta bergerak untukmu.

Apa itu konten marketing dan bagaimana mengoptimalkan bisnis dengan konten marketing? pada artikel kali ini membahas sedikit perihal konten marketing seperti yang disampaikan oleh CEO Seon Indonesia Dedi Kartaji dalam blog pribadi dedikartaji.com

Pentingnya konten marketing


dedi kartaji ceo seon indonesia
Dedi Kartaji CEO SeOn Indonesia

Dengan banyaknya bisnis yang mendigitalkan segalanya, kompetisi di pasar online telah berkembang kencang. Ini karena semua tipe perusahaan telah membangun kerajaan mereka agar audiens target mereka bisa mengakses informasi dan mungkin melakukan pembelian secara online.


Walaupun ada banyak perusahaan yang menawarkan layanan yang berbeda, hanya ada satu pelanggan, dan sistem untuk memenangkan pelanggan kian sedikit setiap hari.

Anda, sebagai pemilik bisnis perlu memutuskan bahwa, website website perusahaan lebih baik daripada pesaing Anda, dan wajib menerapkan sistem pemasaran yang akan memberikan peringkat website website yang lebih tinggi untuk meningkatkan pendapatan dan lalu lintas.


Sebab alasan inilah mengapa pemasaran adalah elemen penting saat ini untuk bisnis online. Walaupun ada banyak taktik pemasaran yang bisa dipakai untuk menjual bisnis online, hanya satu yang ternyata paling berkontribusi, apa itu ? Konten Marketing !


Konten Marketing adalah tulang punggung pemasaran di dunia bisnis online, dan adalah alasan mengapa mengadopsinya untuk pencarian dan peringkat yang lebih baik di mesin pencari.


Metode Menjalankan Konten Marketing Saat Ini


dedi kartaji ceo seon indonesia
Konten Marketing Untuk Bisnis


Walaupun Anda mungkin mempunyai website website yang hebat dengan konten yang hebat, pemasaran membutuhkan semua prosedur yang diperlukan untuk memutuskan bahwa semua audiens target terpenuhi dengan baik.

Berikut adalah sebagian sistem pemasaran konten.


1. Optimasi website di seluler


Jumlah tertinggi orang saat ini menerapkan perangkat seluler mereka untuk mengakses website website untuk mendapatkan informasi dan bahkan untuk membeli produk secara online.


Artinya website developer perlu memahami hal ini dan membuat website yang gampang diakses lewat telepon seluler dan mensupportnya dengan baik. Dengan evolusi telepon seluler saat ini, hampir semua orang mengandalkan telepon seluler ini untuk mendapatkan informasi dan tanda arah, itulah alasan mengapa Anda perlu menekankan pada pengoptimalan website website seluler.


2. Manfaatkan semua plugin media sosial yang bisa Anda temukan


Pemasaran mewajibkan seseorang untuk pergi ke kedalaman terdalam dalam mencari pelanggan, dan sebagian besar pelanggan saat ini berada di website sosial. Kalau Anda berkeinginan mengoptimalkan lalu lintas website ke bisnis Anda, Anda wajib memutuskan untuk menerapkan website seperti Twitter, Facebook, Pinterest, LinkedIn, Google plus, dan YouTube untuk menjual bisnis Anda.


Alasan mengapa Anda perlu memanjakan diri dalam hal ini adalah karena, kebanyakan orang menerapkan website sosial ini untuk berinteraksi satu sama lain, dan lalu lintas dalam jumlah besar bisa didapatkan dari website hal yang demikian.


Supaya plugin sosial bisa mengoptimalkan konten dan pemasaran informasi, Anda perlu terus memperbarui pengguna di setiap website sosial perihal apa yang sedang dan akan terjadi dalam bisnis. Anda juga perlu menikmati perbuatan non-resmi lainnya di website seperti mengomentari pos dan pin orang lain untuk meningkatkan aktivitas.


3. Menjalankan surat elektronik marketing dalam mencari prospek


Walaupun pemasaran surat elektronik telah menjadi sesuatu dari masa lalu hari ini, masih berkontribusi sekitar 3% dari semua lalu lintas di bisnis besar.


Ini berarti Anda tak boleh mengacuhkannya dan menerapkan semua sistem yang mungkin untuk mendapatkan prospek. Memenangkan satu pelanggan untuk mengunjungi website website sendirian dalam sehari adalah kemajuan besar, meskipun Anda wajib memutuskan konten website website sungguh-sungguh kaya dan informatif untuk menarik pengunjung.


Demikianlah artikel perihal konten marketing, semoga berguna untuk kita semua.


Saat ini saya berusia 43 tahun, ya, ya, angka yang ajaib dilewati. Saya melewati proses panjang menata percaya diri karena tidak merasa cantik.  Tapi saya sendiri tidak nyaman menggunakan make up agar terlihat cantik, lalu lebih memilih perawatan sewajarnya agar wajah segar, berusaha cuek dalam kondisi wajah berjerawat. Alih-alih tidak mau memakai make up, saya memilih skincare dan rutin menggunakan serum wajah.  Merawat kulit muka sensitif yang saya miliki tidak mudah, ini dia petualangan saya menggunakan Green Glow Maresha Skincare agar kulit muka tetap segar tanpa make up. Selamat membaca. 

Sejak dulu, saya tidak pernah merasa cantik atau keren secara penampilan luar. Sehingga yang saya lakukan adalah merawat diri dan banyak kegiatan. Cara ini dilakukan pengaruh dari majalah remaja yang memberi tips cantik, katanya kalau bersih pasti akan terlihat cantik.  Lalu, katanya lagi, kalau kamu tidak cantik setidaknya harus pintar.  Masalahnya, kulit muka saya sangat sensitif sehingga berbagai skin care dicoba jerawat tetap hidup damai di atas kulit wajah saya.

Saya remaja punya masalah kulit muka yang panjang, yaitu berjerawat dan kusam. Kalau menggunakan sabun cuci muka, kulit pipi lama-lama menjadi kering sementara kulit hidung semakin mengkilat. Kalau pakai pelembab bedak padat, jerawat semakin makmur. Untuk jenis kulit berminyak dan sensitif seperti saya, harus hati-hati memilih skincare dan make up. 

Karena kulit muka saya tidak kunjung membaik, saat remaja/remaja-dewasa saya merasa jelek dan tidak ada yang bisa dibanggakan.  Tidak diam begitu saja, saya lebih milih aktif berkegiatan dengan ikut unit kegiatan siswa/mahasiswa. Setidaknya meskipun tidak cantik, hidup saya akan terasa lebih berarti karena melakukan sesuatu. 

Waktu SMP saya ikut paskibra, saat SMA ikut ekskul pecinta alam namun hanya setengah jalan karena Amih melarang saya ikut kegiatan ini. Meskipun sebentar semua materi sangat menyerap, mungkin karena saat itu saya sangat bahagia dan merasa berharga. Saat masuk pecinta alam, rasa percaya diri saya mulai naik. Tapi begitu berhenti, rasa itu turun lagi bahkan merasa bersalah.

Tidak berhenti disitu, saat kuliah saya memilih kegiatan teater kampus. Karena merasa lebih bisa bertanggung jawab, saya mempertahankan pilihan untuk tetap berkegiatan. Meskipun kendalanya masih sama yaitu tidak dapat izin dari Amih dan muncul berbagai stigma negatif karena sering pulang malam. Namun saat itu saya berfikir, dalam usia seperti ini saya harus memanfaatkan waktu untuk untuk hidup saya. Karena waktu tidak bisa diulang dan tidak bisa dibeli, jadi saya mempertahankan pilihan untuk tetap berkegiatan.

Sejak masuk teater kampus, saya lebih percaya diri, nyaman dan mengalami beberapa perubahan sikap.  Mungkin karena pikiran dan hati lebih tertuju pada proses berkarya, saya tidak terlalu risau dengan kondisi wajah. Ketika berhasil menyelesaikan satu pertunjukan, tumbuh percaya diri.  Pikiran saya hanya bagaimana cara mewujudkan pertunjukan, berhadapan dengan berbagai masalah yang harus diputuskan dalam program kegiatan.

Akhirnya saya lebih cuek sama penampilan dan lebih memikirkan kegiatan. Meski saya belajar make up untuk kebutuhan make up aktor panggung, dalam keseharian saya memilih polos tanpa lipstik sedikit pun. Ketika hampir semua teman perempuan saya merawat diri di salon dan mempercantik dengan make up, saya kemana-mana pakai sandal swallow, paduan celana jeans-kemeja kotak-kotak dan memakai bedak tabur secukupnya saja. Karena lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, kemana-mana saya bawa alat mandi buat cuci tangan dan sesekali nebeng mandi. Buat saya penting merasa bersih, nyaman dengan sesuatu yang saya pakai, merasa menyatu dengan diri dan hati.

Meskipun begitu, saya tetap memilih melakukan skincare wajah dan tubuh karena kulit saya sangat sensitif. Salah makan atau perubahan cuaca maka kulit akan terasa gatal dan kering. Setiap hari tidak lupa menggunakan body lotion, sabun sabun muka dan menggunakan bedak tipis-tipis karena takut berjerawat. Meskipun jerawat tetap bermunculan, saya menyadari bahwa semua itu dipengaruhi karena masalah hormon. Namun begitu menikah entah bagaimana kulit muka saya lebih baik, padahal perawatan muka semua sama. Hanya sabun muka dan sesekali pakai face moisturiser. Jerawat lebih jarang tumbuh kecuali sedang stress dan menjelang hari haid.

Setelah berusia 40 tahun, saya memberanikan diri menggunakan rangkaian skin care agar kulit lebih terawat. Agak sedih juga melihat garis-garis tipis di sekitar mata dan jidat. Salah satu upaya saya yaitu mulai rutin menggunakan Green Glow dari Maresha. Saya melakukan ini saya percaya kondisi kulit kita tergantung pada proses perawatan luar dalam. 

Pertambahan usia akan terus berjalan, lama-lama akan berpengaruh penurunan fungsi tubuh. Semakin bertambah usia, tingkat stress berulang-ulang, pola makan yang tidak terkontrol, pola hidup dan jam tidur betul-betul memengaruhi kesehatan kulit wajah. Kondisi ini yang dapat memicu flek hitam, garis-garis halus akibat penuaan dini dan kantung mata yang semakin terlihat jelas.
 

Buat saya yang tidak terlalu suka menggunakan foundation dan rangkaian lapisan make up lainnya, saya lebih memilih menggunakan Green Glow by Maresha mencerahkan wajah sekaligus mencegah penuaan dini. Serum multifungsi ini merupakan rangkaian skin care yang ringan di kulit muka saya yang sensitif. Kata anak-anak saya, “Wah, muka Mama kelihatan lebih cerah dan dewy.” Bisa jadi betul penilaian anak-anak saya, karena katanya serum multifungsi dari Green Glow ini mencerahkan kulit sampai 3 kali lebih cepat bekerja sebagai anti aging.

Terkadang, kalau lihat foto saya zaman kuliah (tahun 1996-2001) muka saya terlihat kencang meskipun ada beberapa titik jerawat. Saat ini, saya yang sudah menginjak usia 43 tahun, merasa kagum pada saya yang saat itu berusia 20 tahunan. Ternyata saya cukup lucu dan menarik juga, saya membatin, kenapa saat itu saya tidak merasa cantik, ya? Kalau saja mental saya sekarang hadir saat usia 20 tahunan, mungkin masa depan saya yang sekarang berusia 43 tahun bisa jadi beda dan lebih asik.

Oke, itu hanya pikiran selintas, kita kembali lagi pada masa sekarang. Jadi sebetulnya, menggunakan serum seperti Green Glow dari Marisha ini sebaiknya dari usia 20 tahun. Kenapa? karena tingkatan radikal bebas zaman sekarang semakin tinggi, seperti pencemaran udara, obat-obatan,trauma, penyakit, kuman, dan pemicu stress yang cukup tinggi.

Rupanya kandungan yang terdapat dalam Green Glow memiliki fungsi anti aging untuk mengurangi garis-garis halus akibat penuaan, membantu meregenerasi sel dan mengencangkan kulit. Kandungan itu bernama Acetyl Glucosamine Phospate dan Acetyl Hexapeptide-3. Namanya agak rumit, ya. Meski asing pengucapannya di lidah kita, namun kandungan itu mujarab memelihara kulit muka kita yang mudah terkontaminasi akibat radikal bebas ini.

Sementara kandungan lainnya Tranexamic Acid membantu menghilangkan flek, mencerahkan, meratakan warna melindungi kulit dari sengatan sinar matahari. Lalu Sodium Hyaluronate berfungsi untuk melembabkan wajah sehingga wajah kenyal dan lembut.

Kenapa sih harus tahu kandungan serum, padahal Maresha Skincare sudah BPOM? Tentu saja, sesuatu yang kita konsumsi harus kita tahu kandungannya, karena benda itu akan menempel dan bereaksi dengan sel tubuh kita. Semua bisa kok dipelajari semudah kita mengetahui bahwa didalam kopi mengandung caffein dan kita faham reaksi yang akan muncul setelah menyesap segelas kopi. 

 


Kalau kita lihat jajaran kosmetik di supermarket, belakangan ini kita banyak menemukan serum untuk muka dan tubuh. Hanya tidak semua produk kecantikan boleh atau aman digunakan untuk perempuan hamil dan menyusui. Perempuan hamil penting lho merawat diri, agar tetap bersemangat dan berasa berarti. Maresha skincare aman untuk ibu hamil dan menyusui, sehingga ibu hebat ini tetap bisa asik merawat diri selain merawat bayi di perut dan di pangkuannya.

Sejak dulu saya mencintai kulitku, apapun keadaannya. Oleh karenanya saya selalu hati-hati memilih skincare dan makeup. Jangankan eye shadow dan pewarna pipi, untuk memilih lipstick saja bisa satu jam karena merasa tidak pas. Akhirnya, saya punya beberapa koleksi lipstick dengan warna senada: brown. Ya, ya, sesekali saya suka memakai make up (dalam hal ini eye shadow) untuk hadir dalam acara-acara khusus. Meski jadi sangat awet karena jarang digunakan. 

Saat ini saya lebih perhatian terhadap kesehatan kulit dan tubuh. Ya, saya selalu ingin di usia senja nanti menua tapi tetap terawat dan bahagia. Serum dan skin care jadi pilihan terbaik saya untuk pertahanan, agar kulit muka tetap segar sekalipun radikal bebas berkeliaran di sekitar kita.




Air.  Foto: Ima

Hidup adalah proses berdialog menangkap Langit.  
-Ima

Harapan besar? Banyak hal baik yang terlintas, membuat saya jatuh hati, dan menetap dalam hati saya. Tentu berkaitan tentang pencapaian materi, kebermanfaatan pilihan hidup dan pengakuan. Bertahun-tahun dipertahankan, diperjuangkan, sampai hampir titik puncak harus dilepaskan. Melangkah lagi, terus begitu hingga ambruk, jatuh, berulang-ulang. Harapan itu belum juga terwujud.

Sampai pada suatu titik, saat ini saya kesulitan memahami harapan besar saya apa. Bahkan sesekali saya menduga, jangan-jangan harapan itu tidak disukai oleh Allah. Sehingga yang muncul bukannya kebahagiaan dan kesuksesan, namun patah dan runtuh berulang-ulang. Ketika tema one day one post kali ini tentang harapan-harapan besar saya apa, mendadak kosong karena sekarang ini saya pada fase merasa cukup dan mempertahankan sisa-sisa keikhlasan (pinjam judul lagunya Payung Teduh).

Pertanyaan harapan besar ini nadanya sama dengan pertanyaan saya tentang kenapa harus saya yang harus tinggal di rumah ini? Saya yang punya harapan keluar dari rumah ini, segala upaya dilakukan untuk pindah, keluar, ternyata berbagai situasi selalu menarik saya kembali tinggal di rumah ini. Lagi-lagi, jangan-jangan harapan besar itu harus digali disini, di rumah ini. Jangan-jangan banyak yang harus diperbaiki dulu, rumah ini ibarat hati yang harus sering-sering dipelihara, dirawat dan diperbaiki.

Harapan itu ada, dia hadir seperti akar yang terus menerus mengalirkan energi ke setiap unsur sel otak dan hati. Kadang begitu realis tapi begitu surealis, keduanya hadir kadang-kadang semu kalau tidak ingat kekuatan Allah. Ya, tentu saja saat muncul harapan itu, sesekali kehabisan bahan bakar, kehabisan akal sehat, kehilangan frekuensi dengan Allah. Hidup saya selalu dikondisikan oleh semesta, ibarat benda yang bergantung pada hembusan angin dan aliran air. Mengalir mengayuh mengikuti setiap denyut jantungnya, bergerak menyatu menjadi bagian dari pergerakan itu.

Saat ini saya (kembali) belajar tidak mudah tergoda untuk mengerjakan yang lain. Cukup melakukan sesuatu yang saya bisa lalu terus melangkah menggunakan kemampuan yang ada. Apalagi yang bisa dilakukan oleh manusia selain terus berusaha. Meski kondisi saya tidak berlebihan tidak juga kekurangan (lebih banyak kekurangannya sih sebetulnya) tapi yang saya suka, hati saya tetap tenang.

Saat ini kami sedang menguatkan pikiran dari kekhawatiran yang dimunculkan oleh diri sendiri dan penilaian orang lain. Mengambil keputusan bergerak di dunia seni secara utuh, awalnya membuat saya panas dingin. Tentu hal ini berkaitan memenuhi kebutuhan pendidikan, sandang, pangan dan papan keluarga. Kehidupan kami sebelum Ayah sakit, meski masih beririsan dengan dunia kesenian namun ada usaha lain yang bisa mengimbangi kekurangan biaya.

Menangkap awan.  Foto: Ima

Ketika Ayah sakit, kami seolah diajarkan untuk fokus bergerak pada bidang yang kita kuasai dan biarkan semesta mengarahkan jalur-jalur dan pintu rezekinya seperti apa. Bertahun-tahun, saya dan Ayah tidak punya banyak pilihan, situasinya selalu kembali pada saya menulis dan Ayah menggambar..  Kesempatan usaha lain betul-betul tidak ada.  Sejak saat itu, saya selalu merasa bahwa harapan itu ya saat ini, percaya kita hanya perlu sadar setiap manusia memiliki fungsi dan keahlian masing-masing. Hal ini yang membuat manusia merasa cukup, ketika rasa cukup itu hadir selalu ada jalur yang dibuka. Masalahnya, kita ambil lalu bersikap amanah atau menolak jalur tersebut.

Saya harap Ayah bisa pameran karya drawing ke berbagai kota dan beberapa Negara. Mungkin diberi kesempatan juga bisa menggali ilmu lagi dengan cara apapun melalui jalan yang dibuka seperti apa. Seperti residensi atau apapun itu. Sementara saya sendiri menuliskan setiap proses keilmuannya, konsep dan berbagai dokumentasi lainnya. Semoga dicukupkan, menularkan manfaat dan menjadi amal yang terus mengalir hingga kehidupan kami kelak. Entah bagaimana, Allah maha tepat perhitunganNya.

Sebelumnya, saya mempunyai harapan bisa mewujudkan pameran drawing tunggal Ayah. Tidak hanya pameran, ingin dilengkapi dengan catatan proses art therapi yang kurang lebih 4 tahun dilakukan oleh Ayah. 

Saya ingin mewujudkan pameran ini diperuntukan bagi orang-orang baik yang terus mengalir, menambal setiap jalur kami yang ambrol dan bolong. Sebuah rasa syukur dan bentuk terima kasih, kebaikan yang teramat banyak yang tidak bisa kami balas dalam bentuk apapun. Dengan kami bertahan hidup, Ayah yang kembali sehat dan berkarya menjadi bentuk terima kasih yang ingin bisa segera kami wujudkan. Tanpa hati yang dianugerahkan pada mereka, rasanya tidak mungkin kami bisa bertahan sejauh ini.

Untuk saya sendiri, saya punya harapan meluaskan manfaat menulis sehingga bisa menjadi mata pencaharian yang mencukupkan segala kebutuhan anak-anak dan meluaskan kehidupan. Meski masih berjalan pelan menjalani proses menulis di blog dan media sosial, harapan saya langkah ini dapat menguatkan fondasi kehidupan kami. 

Kalau difikir-fikir proses hidup kami unik dan berliku, meremas dan tarik menarik berbagai unsur hati. Namun lama kelamaan, situasi ini membawa kami percaya bahwa setiap proses yang menghasilkan sesuatu yang menggembirakan ataupun yang mengecewakan sebagai bentuk mengolah mengaitkan rasa. Rasa yang terus mengait dan menggenggam Pemilik Hidup. Harapan itu ada, setiap proses yang dijalaninya memberi nilai hidup yang mahal. Ketika sampai, menjadi cukup, bukan kita yang kuasa tapi Dia yang menjadikannya.
Foto: Ima


Mengatur keuangan menjelang Lebaran selalu penuh kejutan, bikin hati senang namun juga membuat hati ketar ketir. Apalagi di tengah pandemi seperti sekarang.  Pemasukan dan kondisi keuangan yang serba tidak pasti, sementara kebutuhan dan biaya yang harus dibayar tetap jalan.  

Meski begitu, maunya hari Lebaran ini tetap diperlakukan spesial. Bagaimana kami bisa menggunakan baju yang istimewa, makanan yang lezat, menyediakan segala macam kudapan, minuman khas Lebaran dan rumah yang lebih bersih wangi. Artinya kita harus menyisihkan anggaran lebih untuk merayakan hari raya serta berbagi kebahagiaan bersama saudara dan tetangga.

Lalu bagaimana sih kita mengatur keuangan menjelang Lebaran? Sebetulnya mudah sih mengatur keuangan asal mau disiplin dan sepakat dengan pasangan kita. Karena seringkali ada pembelian diluar rencana padahal bisa jadi jamuan untuk hari raya sudah cukup. Saking senangnya merayakan hari Lebaran, sepertinya ada saja ingin nambah ini dan itu sehingga membeli sesuatu padahal tidak terlalu butuh. Cung yang seperti ini? (sayaaa…)

Nah, buat kita-kita yang tidak bergantung pada gaji dan THR, harus dicatat segala kebutuhan hari raya dan paska hari raya. Karena seringkali yang kita pikirkan adalah beli semua untuk Lebaran, bagi-bagi uang buat anak-anak, dan jalan-jalan/silaturahmi sambil bawa kiriman.  Seminggu kemudian tinggal makan serba tumis, makanan yang dihangatkan berkali-kali, kalau benar-benar habis baru beranjak pada semangkuk mie instan. Sepertinya kejadian seperti ini klise, ya.

Kudapan saat hari raya. Foto: Ima




Lalu apa yang harus dilakukan, sih? Hmmm, saya menulis ini bukan karena jago mengatur keuangan, ya, tapi berbagi pengalaman karena sering kebobolan karena ulah sendiri. Nah, untuk menghindari kekeliruan dalam menyediakan segala untuk menyambut hari raya bisa mencoba cara ini:

Pertama, catat menu makan untuk hari raya.

Catat mulai dari makanan berat, kudapan, teh, kopi, air galon. Setelah dapat menu makan, lanjut merinci biaya bahan baku yang dibutuhkan. Dari sini kita mendapatkan angka. Lalu simpan uang tersebut untuk sajian makanan. Perkirakan harga bahan baku lebih mahal dari hari-hari biasa untuk menghindari kekurangan anggaran.  Terlebih saat pandemi yang tidak menentu ini, atur menu yang tampak spesial namun jatuhnya akan lebih murah.  

Kedua, pertimbangkan lagi, apa perlu beli baju untuk kamu, pasanganmu dan anak-anak? Cek lemari baju, kalau untuk orang dewasa kaya saya dan suami, sepertinya bisa mix max baju lama jadi terlihat baru sudah cukup ya. Tinggal cuci bersih, kasih pewangi. Beres!

Tapi saya sendiri ingin membelikan baju buat anak biarpun hanya sepasang. Ingin membuat mereka terlihat bagus dan pantas saat merayakan hari yang spesial. Kalau hanya mau membeli baju untuk anak-anak, alokasikan berapa dan upayakan sesuai dengan yang kita siapkan.

Ketiga, rinci kebutuhan kebersihan rumah dan kesehatan. Catat mulai dari sabun mandi, sabun cuci tangan, pembersih lantai, sabun cuci, lap pel, lap piring, lap meja, hingga pewangi badan dan pewangi pakaian.

Keempat, hitung hari raya hingga 2-3 bulan berikut, biaya apa saja yang harus dikeluarkan. Cara ini sebagai bayangan agar kita harus melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kelima, anggarkan biaya kebutuhan untuk buka dan sahur disesuaikan dengan dana yang ada.

Pada dasarnya mengatur keuangan menjelang hari raya harus lebih disiplin. Meskipun keuangan rumah tangga, tetap harus menggunakan buku catatan. Nanti akan kelihatan keluar masuk keuangan agar lebih terkontrol pengunaan uang tersebut memang sesuai kebutuhan atau banyak digunakan diluar kebutuhan. Karena kita seringkali membeli jajanan yang harganya kadang terlihat murah. Tapi ternyata setelah dikalkulasi pengeluaran harian kita lebih banyak untuk jajan atau beli kebutuhan yang tidak perlu.

Beli sesuatu yang menyenangkan boleh saja, seperti beli minum botolan dan kripik.  Tapi kalau setiap hari dilakukan, anggaran jajan ini totalnya bisa sama untuk anggaran beli sayuran, teh bahkan setengah kilo gram telur. Dengan dicatat kita bisa memantau apa saja yang pernah kita beli dan merasa cukup. Setidaknya bisa nge-rem keinginan jajan lagi dan merasa cukup dengan makanan yang ada.

Jadi intinya, catat perkiraan setiap kebutuhan harian, kebutuhan untuk hari raya dan hari-hari setelah hari raya. Ketika ada sisa anggaran, uang itu bisa digunakan untuk jajan di luar atau beli camilan di mini market sebagai teman nonton atau ngemil selepas sahalat taraweh.  Semoga sesuai yang dibutuhkan, ya.

Foto: Ima


“Mah, Bacain!” Begitu permintaan Bayan (8 tahun) sebelum tidur. Salah satu bacaan pilihan Bayan yaitu Asterix. Iya, kadang-kadang dia minta bacain komik Asterix. Komik kesukaan saya ketika masih anak-anak (tahun 1986-an). Saya ingat betul, kayanya cuma komik Asterik yang bisa menghibur saya paska operasi usus buntu. Saat itu saya kelas 3 SD. Sekarang komik ini masih dibaca sama anak-anak, menghibur saat mau tidur atau mulai bosan mengerjakan ini itu.

Kalau dipikir-pikir, saya banyak terselamatkan karena membaca, saya belajar banyak hal. Kenapa? Karena saya hidup tumbuh dalam keluarga besar, anak bungsu dari anak ke-16. Iya, 16 bersaudara. Saat saya lahir, saya sudah mempunyai keponakan yang seumur bahkan usianya lebih tua dari saya. Tahu sendiri kan, mengurus 2 anak saja butuh segelas kopi dan setangkup roti agar hati tetap fokus dan riang gembira.

Tentu saja perhatian orang tua lebih banyak tersita pada masalah-masalah besar dalam keluarga. Atensi saya terhadap sesuatu tidak terlalu mendapat perhatian laiknya ortu milenial jaman now. Saya hanya mendengar kata jangan, marah, suruhan saja dari orang tua maupun kakak-kakak. Bayangkan, Ima kecil pernah melakukan tantangan tidak makan 3 hari bisa tidak ketahuan orang tua. Tidak ketahuan oleh Amih/Bapak tidak juga oleh kakak-kakak yang banyak itu. Sampai perut melilit dan senang karena menang tantangan.

Saya serumah tidak hanya dengan kakak dan orang tua, tapi ada beberapa kamar digunakan oleh kakak dan keluarganya. Belum saudara Amih yang sesekali menginap disini, bisa sepekan atau bahkan sebulan. Rumah ini penuh sekali. Tapi Ima kecil tidak peduli, dia lebih memilih menenggelamkan diri dengan bacaan, serodotan, dan bermain di sawah sampai senja. The balangsak girl pokoknya. Saat itu saya senang sekali membaca majalah Bobo. Sengaja saya sisihkan uang jajan harian agar bisa membeli majalah Bobo tiap hari Kamis di kios seberang rumah.

Bermain dari sejak pulang sekolah hingga magrib. Begitu magrib langsung pergi ke masjid untuk mengaji. Di Masjid pun saya seringkali menenggelamkan diri membaca komik-komik bernuansa “keagamaan”. Jangan bayangkan komik keagamaan itu sebagus sekarang, berwarna dan menstimulasi otak kita menjelajah ke berbagai nilai-nilai hidup dengan cara yang asik dan penuh cinta. Tapi imajinasi kita menjelajah ke negeri surga dan neraka dangan gambar-gambar yang mengerikan. Tantangan sekali mau baca komik seperti ini.

Pulang mengaji selepas shalat Isya saya lebih senang menunggu Dunia Dalam Berita. Soalnya saya selalu tertarik dengan berita perang Iran Irak, sampai-sampai saya berfikir kalau peperangan ini terjadi dari sejak dulu dan sebuah kejadian biasa. Begitu terus sampai ketiduran di atas kursi lalu dipindahkan ke kamar oleh kakak.

Selain majalah Bobo, kakak saya suka beli komik kolaborasi Goscinny dan Uderzo. Kisah tentang masyarakat kuat di sudut belahan Galia yang tidak tertaklukan oleh Romawi. Gaya bercandaan dan kelucuan dari tingkah karakter Asterix, Obelix dan berbagai tokoh unik di Galia muncul mempengaruhi gaya bercanda saya. Hanya saya jadi orang yang beda, karena agak sulit nyambung bercanda dan ngobrol dengan teman-teman. Ya sudahlah, saya simpan kegembiraan dan kenikmatan cerita Asterix oleh diri sendiri dan saudara saya yang suka membaca komik itu.

Mimpi saya bisa keliling dunia, menjadi penulis dan senang menganalisa itu ketika mulai baca Tintin. Bagaimana tokoh Tintin seorang wartawan yang bisa memecahkan berbagai kasus pencurian dan kejadian yang menjadi teka teki. Wow, saya selalu senang memakai sweater woll juga sepertinya karena pakaian yang suka dipakai Tintin.

Imajinasi mulai dimainkan ketika mendapat buku Alice in The Wonderland. Buku ini unik, ketika masuk ke halaman tertentu kita diberi plihan untuk melanjutkan ke halaman berapa. Pilihan halaman itu akan menentukan bagaimana cerita Alice berlanjut.

Keinginan saya bisa ke Eropa dan membayangkan menjadi seorang penari, keinginan bisa menggambar pun muncul ketika membaca karya-karya HC Andersen. Saya suka sekali dengan gambar-gambarnya yang berwarna lembut dan halus. Kisah-kisahnya sering mengangkat perjuangan orang-orang terpinggirkan yang terus bertahan berbuat kebaikan lalu hidupnya berakhir lebih baik. Imajinasi dan rasa suka itu merasa terlengkapi karena dulu sesekali meminjam kaset video kartun karya HC Andersen. Seperti Gadis Penjual Korek Api, Boneka Prajurit dan Boneka Balerina, Cinderella, Peter Pan, dan banyak lagi. Keinginan saya meledak-ledak dan ingin menguasai banyak hal. Ya, menulis, ya, menggambar, ya, menari. Saya suka semua.

Aha! Saya ingat komik dari Malaysia. Saat itu kakak saya punya komik terbitan Malaysia. Saya membaca berulang-ulang dan menyimpannya sampai kertasnya melipat-lipat saking sukanya. Tokohnya kemana-mana cuma pake seluar. Paling susah pakai baju. Bahagia rasanya kalau sudah baca komik ini. Judulnya The Kampung Boy bikinan Dato Lat. Aduh, itu komik kemana, ya, perginya. Huhu… 

Foto: akun Shopee

Saking sukanya membaca, kalau di sekolah, saya lebih senang masuk ke perpustakaan dan memilih buku cerita sendirian. Saya ingat perpustakaan saat saya SD itu tempatnya kecil, cahaya ke ruang itu lebih banyak cahaya matahari. Karena beberapa keeping atapnya memakai genting kaca. Sepi, kecil, sunyi dan bertumpuk. Ada kategori-kategori buku menempel di sisi rak. Kadang mejanya berdebu dan berdempetan.

Saking suka buku, saya simpan buku-buku itu ke dalam kantung belanja bekas. Buku-buku itu saya simpan di bawah ranjang, kadang di bawah lemari, kadang di dalam lemari, kadang di atas atap, karena takut hilang. Saking sukanya, kadang saya bawa kemana-mana. Sampai suatu hari saya susun buku-buku itu di teras rumah untuk saya sewakan. Buat mereka yang mau baca harus bayar.

Terus terang, sebetulnya saya lupa-lupa ingat pernah membuat perpustakaan di teras rumah. Ingatan ini dibangunkan oleh teman saya, dia suka meminjam komik. Oh, ya, teman saya ini koleksi boneka banyak sekali. Meski saya mau beli boneka juga, sampai dewasa saya tidak pernah punya boneka. Kemanapun perginya, saya lebih memilih beli komik.

Nah, kembali pada paragrap awal. Kenapa saya merasa terselamatkan oleh bacaan. Karena melalui komik-komik yang saya baca ini, secara tidak langsung menstimulasi otak, logika berfikir, lebih mudah menganalisa berbagai masalah. Banyak pelajaran merawat diri, mandiri, mengenal karakter orang “diajarkan” dari majalah dan komik-komik. Saya baru tahu perubahan biologis dari anak-anak menuju remaja pun dari bacaan. Bagaimana menjaga diri, merawat diri, bersikap dalam menghadapi masalah justru banyak tahu dari bacaan. Ya, karena di rumah banyak sekali orang, banyak saudara, tingkat perhatian, tingkat apresiasi orang tua juga kurang karena terbelah-belah. Jadi saya yang banyak keinginan dan katanya pemberani sepertinya banyak dipengaruhi oleh bacaan dan lingkungan teman-teman.

Intinya, Ima sekarang merasa sangat bersyukur saat kecil suka membaca komik dan bacaan anak lainnya. Meski sekarang sering sedih banyak koleksi yang hilang. Kalau ada yang meminjam bisa sangat sembarangan sampai akhirnya hilang entah kemana. Hanya saja, saat itu saya lebih sering kesulitan berbahasa sosial, karena kosa kata yang muncul ketika berbahasa dengan teman-teman lebih banyak kalimat baku/tidak umum.

Menuliskan ini rasanya senang sekali, memori bahagia masa kecil dengan berbagai bacaan ini membuat saya kembali bersemangat.

Foto: Ima


Bertahun-tahun saya hidup berorganisasi sampai akhirnya hidup berumah tangga selalu membuat target, rencana dan menciptakan sesuatu yang sifatnya jangka pendek dan jangka panjang. Ketika muncul masalah yang disebabkan diluar diri, seperti sakit, orang tua ikut ikut campur, atau hal-hal besar lain, maka hidup tanpa resolusi menjadi ruang berdamai dengan keadaan. Hal terpenting terus memelihara asset diri atau kemampuan diri, lalu terus bergerak di atas rel yang sama dengan amunisi yang kadang-kadang penuh, sedikit bahkan habis sama sekali.

Sampai kapan? Sampai merasa harus mengeksekusi ide meski sederhana.

Seperti tahun 2020, saya punya resolusi menghadirkan 1 buku perjalanan hidup. Ternyata situasi pandemi pada awal-awal bulan cukup menguras sebagian mental. Sehingga resolusi tahun 2020 yaitu lebih memilih melakukan sesuatu yang membuat tubuh sehat dan jiwa lebih bahagia saja, cukup. Karena buku yang tadinya mau saya susun bisa memicu psikosomatik dan lambung saya kembali bermasalah. Akhirnya saya memilih bersunyi-sunyi, mengikuti ritme alam dan mendengarkan kebutuhan tubuh dan hati. Memilih, mengeksekusi ide, mengisi diri yang tidak terlalu menekan diri sendiri. 

Foto: Ima

Tapi tunggu sebentar, kita harus bisa membedakan antara mendengarkan diri dan malas mengerjakan. Ketika sadar bahwa tidak mengerjakan karena malas, maka segera bangkit dan menyadari bahwa: kita hanya butuh waktu sebentar kok untuk menyelesaikan (tulisan/memasak/beres-beres rumah, mendampingi anak belajar atau apapun itu), lambat laun akan selesai juga dan semua orang akan mendapatkan manfaatnya.

Lanjut, ya. Nah, Lalu apa yang dilakukan hidup tanpa resolusi, bisa? Saya fokus pada satu kegiatan yang harus tetap di atas rel, yaitu: menulis. Selebihnya memilih mengikuti kegiatan yang ada, belajar bersama anak-anak, menulis, menonton, membuat roti, menonton drama korea, mendengarkan live IG, mengikuti program orang-orang secara online, memotret, mengambil kegiatan karena diajak orang. Kalau kegiatan itu membuat hati saya senang, saya ambil, kalau tidak sreg lebih baik melepaskan.

Ternyata dengan mendengarkan tubuh dan hati, pengaruh negatif lebih tersamarkan. Semesta mendukung berbagai kegiatan yang betul-betul kami butuhkan dan sungguh-sungguh kami kerjakan. Tak menyangka, tahun 2020 yang tengah dilanda ketegangan ternyata banyak kegiatan menarik dikerjakan selama tahun 2020.

Lalu bagaimana dengan tahun 2021? Saya kembali mendengarkan kebutuhan tubuh dan hati yang disesuaikan dengan asset yang dimiliki: saya menulis, Ayah melukis dan anak-anak mengamalkan tugas belajar PJJ dan bermain dengan gembira. Intinya terus bergerak, terus berkarya, setia dan disiplin pada bidang yang kami kerjakan.

Ternyata ketika saya mengerjakan yang lain, selalu kembali pada dunia menulis di blog. Godaan untuk berhenti banyak, terutama saat kami kehabisan uang. Terlebih masuk 2020 situasi betul-betul tidak dapat diprediksi. Ketika godaan itu muncul, yang kami lakukan adalah terus berkarya, berdoa, mengasah diri dan meluruskan dari niat.

Karena rel yang kami jalani adalah menulis, melukis dan dunia anak, jadi resolusi tahun 2021 melakukan kegiatan yang sifatnya self healing alias ngobatan maneh. Mengikuti kebutuhan pikiran, hati dan tubuh. Mengikuti program yang ada dan menghadirkan kegiatan yang sesuai apresiasi diri, seperti:

1. Menulis. Menulis. Menulis. Dengan kesadaran penuh bahwa menulis di blog matakubesar sebagai media menabung amal. Sehingga ketika banyak orang yang mendapatkan manfaat dari tulisan kita, bisa menjadi amal jariah yang terus mengalir.

2. Menjadi orang tua bermain.

Memenuhi kebutuhan anak-anak, seperti, menggambar bersama, membuat puisi, membuat lirik dan musik, menghafal quran, becanda.

3. Menyiapkan anak lebih mandiri:

Seperti, mengaji dan shalat bersama, melibatkan anak-anak merawat rumah, dan memasak

4. Menyusun tulisan-tulisan di blog untuk dibukukan

5. Menyusun rencana pameran tunggal

6. Kolaborasi Live IG baca buku mingguan bareng Ayah

7. Menghindari lingkungan yang menyebabkan melukai diri 


Jadi tahun ini berjalan tanpa resolusi, hanya meletakan diri sesuai kapasitas sambil terus menerus diperbaiki dan terus menerus mengasah "asset" yang dimiliki dengan kecepatan lari marathon. Pelan tapi terus, lama-lama akan sampai pada yang kita inginkan atau bahkan melampaui pada apa yang kita rencanakan, Saya percaya, apa yang dilakukan dengan hati akan sampai pada orang-orang yang memang membutuhkan. Setiap kata, setiap langkah, akan bertemu dengan lingkungan yang satu ritme, satu vibrasi.