Saat ini saya berusia 43 tahun, ya, ya, angka yang ajaib dilewati. Saya melewati proses panjang menata percaya diri karena tidak merasa cantik.  Tapi saya sendiri tidak nyaman menggunakan make up agar terlihat cantik, lalu lebih memilih perawatan sewajarnya agar wajah segar, berusaha cuek dalam kondisi wajah berjerawat. Alih-alih tidak mau memakai make up, saya memilih skincare dan rutin menggunakan serum wajah.  Merawat kulit muka sensitif yang saya miliki tidak mudah, ini dia petualangan saya menggunakan Green Glow Maresha Skincare agar kulit muka tetap segar tanpa make up. Selamat membaca. 

Sejak dulu, saya tidak pernah merasa cantik atau keren secara penampilan luar. Sehingga yang saya lakukan adalah merawat diri dan banyak kegiatan. Cara ini dilakukan pengaruh dari majalah remaja yang memberi tips cantik, katanya kalau bersih pasti akan terlihat cantik.  Lalu, katanya lagi, kalau kamu tidak cantik setidaknya harus pintar.  Masalahnya, kulit muka saya sangat sensitif sehingga berbagai skin care dicoba jerawat tetap hidup damai di atas kulit wajah saya.

Saya remaja punya masalah kulit muka yang panjang, yaitu berjerawat dan kusam. Kalau menggunakan sabun cuci muka, kulit pipi lama-lama menjadi kering sementara kulit hidung semakin mengkilat. Kalau pakai pelembab bedak padat, jerawat semakin makmur. Untuk jenis kulit berminyak dan sensitif seperti saya, harus hati-hati memilih skincare dan make up. 

Karena kulit muka saya tidak kunjung membaik, saat remaja/remaja-dewasa saya merasa jelek dan tidak ada yang bisa dibanggakan.  Tidak diam begitu saja, saya lebih milih aktif berkegiatan dengan ikut unit kegiatan siswa/mahasiswa. Setidaknya meskipun tidak cantik, hidup saya akan terasa lebih berarti karena melakukan sesuatu. 

Waktu SMP saya ikut paskibra, saat SMA ikut ekskul pecinta alam namun hanya setengah jalan karena Amih melarang saya ikut kegiatan ini. Meskipun sebentar semua materi sangat menyerap, mungkin karena saat itu saya sangat bahagia dan merasa berharga. Saat masuk pecinta alam, rasa percaya diri saya mulai naik. Tapi begitu berhenti, rasa itu turun lagi bahkan merasa bersalah.

Tidak berhenti disitu, saat kuliah saya memilih kegiatan teater kampus. Karena merasa lebih bisa bertanggung jawab, saya mempertahankan pilihan untuk tetap berkegiatan. Meskipun kendalanya masih sama yaitu tidak dapat izin dari Amih dan muncul berbagai stigma negatif karena sering pulang malam. Namun saat itu saya berfikir, dalam usia seperti ini saya harus memanfaatkan waktu untuk untuk hidup saya. Karena waktu tidak bisa diulang dan tidak bisa dibeli, jadi saya mempertahankan pilihan untuk tetap berkegiatan.

Sejak masuk teater kampus, saya lebih percaya diri, nyaman dan mengalami beberapa perubahan sikap.  Mungkin karena pikiran dan hati lebih tertuju pada proses berkarya, saya tidak terlalu risau dengan kondisi wajah. Ketika berhasil menyelesaikan satu pertunjukan, tumbuh percaya diri.  Pikiran saya hanya bagaimana cara mewujudkan pertunjukan, berhadapan dengan berbagai masalah yang harus diputuskan dalam program kegiatan.

Akhirnya saya lebih cuek sama penampilan dan lebih memikirkan kegiatan. Meski saya belajar make up untuk kebutuhan make up aktor panggung, dalam keseharian saya memilih polos tanpa lipstik sedikit pun. Ketika hampir semua teman perempuan saya merawat diri di salon dan mempercantik dengan make up, saya kemana-mana pakai sandal swallow, paduan celana jeans-kemeja kotak-kotak dan memakai bedak tabur secukupnya saja. Karena lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah, kemana-mana saya bawa alat mandi buat cuci tangan dan sesekali nebeng mandi. Buat saya penting merasa bersih, nyaman dengan sesuatu yang saya pakai, merasa menyatu dengan diri dan hati.

Meskipun begitu, saya tetap memilih melakukan skincare wajah dan tubuh karena kulit saya sangat sensitif. Salah makan atau perubahan cuaca maka kulit akan terasa gatal dan kering. Setiap hari tidak lupa menggunakan body lotion, sabun sabun muka dan menggunakan bedak tipis-tipis karena takut berjerawat. Meskipun jerawat tetap bermunculan, saya menyadari bahwa semua itu dipengaruhi karena masalah hormon. Namun begitu menikah entah bagaimana kulit muka saya lebih baik, padahal perawatan muka semua sama. Hanya sabun muka dan sesekali pakai face moisturiser. Jerawat lebih jarang tumbuh kecuali sedang stress dan menjelang hari haid.

Setelah berusia 40 tahun, saya memberanikan diri menggunakan rangkaian skin care agar kulit lebih terawat. Agak sedih juga melihat garis-garis tipis di sekitar mata dan jidat. Salah satu upaya saya yaitu mulai rutin menggunakan Green Glow dari Maresha. Saya melakukan ini saya percaya kondisi kulit kita tergantung pada proses perawatan luar dalam. 

Pertambahan usia akan terus berjalan, lama-lama akan berpengaruh penurunan fungsi tubuh. Semakin bertambah usia, tingkat stress berulang-ulang, pola makan yang tidak terkontrol, pola hidup dan jam tidur betul-betul memengaruhi kesehatan kulit wajah. Kondisi ini yang dapat memicu flek hitam, garis-garis halus akibat penuaan dini dan kantung mata yang semakin terlihat jelas.
 

Buat saya yang tidak terlalu suka menggunakan foundation dan rangkaian lapisan make up lainnya, saya lebih memilih menggunakan Green Glow by Maresha mencerahkan wajah sekaligus mencegah penuaan dini. Serum multifungsi ini merupakan rangkaian skin care yang ringan di kulit muka saya yang sensitif. Kata anak-anak saya, “Wah, muka Mama kelihatan lebih cerah dan dewy.” Bisa jadi betul penilaian anak-anak saya, karena katanya serum multifungsi dari Green Glow ini mencerahkan kulit sampai 3 kali lebih cepat bekerja sebagai anti aging.

Terkadang, kalau lihat foto saya zaman kuliah (tahun 1996-2001) muka saya terlihat kencang meskipun ada beberapa titik jerawat. Saat ini, saya yang sudah menginjak usia 43 tahun, merasa kagum pada saya yang saat itu berusia 20 tahunan. Ternyata saya cukup lucu dan menarik juga, saya membatin, kenapa saat itu saya tidak merasa cantik, ya? Kalau saja mental saya sekarang hadir saat usia 20 tahunan, mungkin masa depan saya yang sekarang berusia 43 tahun bisa jadi beda dan lebih asik.

Oke, itu hanya pikiran selintas, kita kembali lagi pada masa sekarang. Jadi sebetulnya, menggunakan serum seperti Green Glow dari Marisha ini sebaiknya dari usia 20 tahun. Kenapa? karena tingkatan radikal bebas zaman sekarang semakin tinggi, seperti pencemaran udara, obat-obatan,trauma, penyakit, kuman, dan pemicu stress yang cukup tinggi.

Rupanya kandungan yang terdapat dalam Green Glow memiliki fungsi anti aging untuk mengurangi garis-garis halus akibat penuaan, membantu meregenerasi sel dan mengencangkan kulit. Kandungan itu bernama Acetyl Glucosamine Phospate dan Acetyl Hexapeptide-3. Namanya agak rumit, ya. Meski asing pengucapannya di lidah kita, namun kandungan itu mujarab memelihara kulit muka kita yang mudah terkontaminasi akibat radikal bebas ini.

Sementara kandungan lainnya Tranexamic Acid membantu menghilangkan flek, mencerahkan, meratakan warna melindungi kulit dari sengatan sinar matahari. Lalu Sodium Hyaluronate berfungsi untuk melembabkan wajah sehingga wajah kenyal dan lembut.

Kenapa sih harus tahu kandungan serum, padahal Maresha Skincare sudah BPOM? Tentu saja, sesuatu yang kita konsumsi harus kita tahu kandungannya, karena benda itu akan menempel dan bereaksi dengan sel tubuh kita. Semua bisa kok dipelajari semudah kita mengetahui bahwa didalam kopi mengandung caffein dan kita faham reaksi yang akan muncul setelah menyesap segelas kopi. 

 


Kalau kita lihat jajaran kosmetik di supermarket, belakangan ini kita banyak menemukan serum untuk muka dan tubuh. Hanya tidak semua produk kecantikan boleh atau aman digunakan untuk perempuan hamil dan menyusui. Perempuan hamil penting lho merawat diri, agar tetap bersemangat dan berasa berarti. Maresha skincare aman untuk ibu hamil dan menyusui, sehingga ibu hebat ini tetap bisa asik merawat diri selain merawat bayi di perut dan di pangkuannya.

Sejak dulu saya mencintai kulitku, apapun keadaannya. Oleh karenanya saya selalu hati-hati memilih skincare dan makeup. Jangankan eye shadow dan pewarna pipi, untuk memilih lipstick saja bisa satu jam karena merasa tidak pas. Akhirnya, saya punya beberapa koleksi lipstick dengan warna senada: brown. Ya, ya, sesekali saya suka memakai make up (dalam hal ini eye shadow) untuk hadir dalam acara-acara khusus. Meski jadi sangat awet karena jarang digunakan. 

Saat ini saya lebih perhatian terhadap kesehatan kulit dan tubuh. Ya, saya selalu ingin di usia senja nanti menua tapi tetap terawat dan bahagia. Serum dan skin care jadi pilihan terbaik saya untuk pertahanan, agar kulit muka tetap segar sekalipun radikal bebas berkeliaran di sekitar kita.




Air.  Foto: Ima

Hidup adalah proses berdialog menangkap Langit.  
-Ima

Harapan besar? Banyak hal baik yang terlintas, membuat saya jatuh hati, dan menetap dalam hati saya. Tentu berkaitan tentang pencapaian materi, kebermanfaatan pilihan hidup dan pengakuan. Bertahun-tahun dipertahankan, diperjuangkan, sampai hampir titik puncak harus dilepaskan. Melangkah lagi, terus begitu hingga ambruk, jatuh, berulang-ulang. Harapan itu belum juga terwujud.

Sampai pada suatu titik, saat ini saya kesulitan memahami harapan besar saya apa. Bahkan sesekali saya menduga, jangan-jangan harapan itu tidak disukai oleh Allah. Sehingga yang muncul bukannya kebahagiaan dan kesuksesan, namun patah dan runtuh berulang-ulang. Ketika tema one day one post kali ini tentang harapan-harapan besar saya apa, mendadak kosong karena sekarang ini saya pada fase merasa cukup dan mempertahankan sisa-sisa keikhlasan (pinjam judul lagunya Payung Teduh).

Pertanyaan harapan besar ini nadanya sama dengan pertanyaan saya tentang kenapa harus saya yang harus tinggal di rumah ini? Saya yang punya harapan keluar dari rumah ini, segala upaya dilakukan untuk pindah, keluar, ternyata berbagai situasi selalu menarik saya kembali tinggal di rumah ini. Lagi-lagi, jangan-jangan harapan besar itu harus digali disini, di rumah ini. Jangan-jangan banyak yang harus diperbaiki dulu, rumah ini ibarat hati yang harus sering-sering dipelihara, dirawat dan diperbaiki.

Harapan itu ada, dia hadir seperti akar yang terus menerus mengalirkan energi ke setiap unsur sel otak dan hati. Kadang begitu realis tapi begitu surealis, keduanya hadir kadang-kadang semu kalau tidak ingat kekuatan Allah. Ya, tentu saja saat muncul harapan itu, sesekali kehabisan bahan bakar, kehabisan akal sehat, kehilangan frekuensi dengan Allah. Hidup saya selalu dikondisikan oleh semesta, ibarat benda yang bergantung pada hembusan angin dan aliran air. Mengalir mengayuh mengikuti setiap denyut jantungnya, bergerak menyatu menjadi bagian dari pergerakan itu.

Saat ini saya (kembali) belajar tidak mudah tergoda untuk mengerjakan yang lain. Cukup melakukan sesuatu yang saya bisa lalu terus melangkah menggunakan kemampuan yang ada. Apalagi yang bisa dilakukan oleh manusia selain terus berusaha. Meski kondisi saya tidak berlebihan tidak juga kekurangan (lebih banyak kekurangannya sih sebetulnya) tapi yang saya suka, hati saya tetap tenang.

Saat ini kami sedang menguatkan pikiran dari kekhawatiran yang dimunculkan oleh diri sendiri dan penilaian orang lain. Mengambil keputusan bergerak di dunia seni secara utuh, awalnya membuat saya panas dingin. Tentu hal ini berkaitan memenuhi kebutuhan pendidikan, sandang, pangan dan papan keluarga. Kehidupan kami sebelum Ayah sakit, meski masih beririsan dengan dunia kesenian namun ada usaha lain yang bisa mengimbangi kekurangan biaya.

Menangkap awan.  Foto: Ima

Ketika Ayah sakit, kami seolah diajarkan untuk fokus bergerak pada bidang yang kita kuasai dan biarkan semesta mengarahkan jalur-jalur dan pintu rezekinya seperti apa. Bertahun-tahun, saya dan Ayah tidak punya banyak pilihan, situasinya selalu kembali pada saya menulis dan Ayah menggambar..  Kesempatan usaha lain betul-betul tidak ada.  Sejak saat itu, saya selalu merasa bahwa harapan itu ya saat ini, percaya kita hanya perlu sadar setiap manusia memiliki fungsi dan keahlian masing-masing. Hal ini yang membuat manusia merasa cukup, ketika rasa cukup itu hadir selalu ada jalur yang dibuka. Masalahnya, kita ambil lalu bersikap amanah atau menolak jalur tersebut.

Saya harap Ayah bisa pameran karya drawing ke berbagai kota dan beberapa Negara. Mungkin diberi kesempatan juga bisa menggali ilmu lagi dengan cara apapun melalui jalan yang dibuka seperti apa. Seperti residensi atau apapun itu. Sementara saya sendiri menuliskan setiap proses keilmuannya, konsep dan berbagai dokumentasi lainnya. Semoga dicukupkan, menularkan manfaat dan menjadi amal yang terus mengalir hingga kehidupan kami kelak. Entah bagaimana, Allah maha tepat perhitunganNya.

Sebelumnya, saya mempunyai harapan bisa mewujudkan pameran drawing tunggal Ayah. Tidak hanya pameran, ingin dilengkapi dengan catatan proses art therapi yang kurang lebih 4 tahun dilakukan oleh Ayah. 

Saya ingin mewujudkan pameran ini diperuntukan bagi orang-orang baik yang terus mengalir, menambal setiap jalur kami yang ambrol dan bolong. Sebuah rasa syukur dan bentuk terima kasih, kebaikan yang teramat banyak yang tidak bisa kami balas dalam bentuk apapun. Dengan kami bertahan hidup, Ayah yang kembali sehat dan berkarya menjadi bentuk terima kasih yang ingin bisa segera kami wujudkan. Tanpa hati yang dianugerahkan pada mereka, rasanya tidak mungkin kami bisa bertahan sejauh ini.

Untuk saya sendiri, saya punya harapan meluaskan manfaat menulis sehingga bisa menjadi mata pencaharian yang mencukupkan segala kebutuhan anak-anak dan meluaskan kehidupan. Meski masih berjalan pelan menjalani proses menulis di blog dan media sosial, harapan saya langkah ini dapat menguatkan fondasi kehidupan kami. 

Kalau difikir-fikir proses hidup kami unik dan berliku, meremas dan tarik menarik berbagai unsur hati. Namun lama kelamaan, situasi ini membawa kami percaya bahwa setiap proses yang menghasilkan sesuatu yang menggembirakan ataupun yang mengecewakan sebagai bentuk mengolah mengaitkan rasa. Rasa yang terus mengait dan menggenggam Pemilik Hidup. Harapan itu ada, setiap proses yang dijalaninya memberi nilai hidup yang mahal. Ketika sampai, menjadi cukup, bukan kita yang kuasa tapi Dia yang menjadikannya.
Foto: Ima


Mengatur keuangan menjelang Lebaran selalu penuh kejutan, bikin hati senang namun juga membuat hati ketar ketir. Apalagi di tengah pandemi seperti sekarang.  Pemasukan dan kondisi keuangan yang serba tidak pasti, sementara kebutuhan dan biaya yang harus dibayar tetap jalan.  

Meski begitu, maunya hari Lebaran ini tetap diperlakukan spesial. Bagaimana kami bisa menggunakan baju yang istimewa, makanan yang lezat, menyediakan segala macam kudapan, minuman khas Lebaran dan rumah yang lebih bersih wangi. Artinya kita harus menyisihkan anggaran lebih untuk merayakan hari raya serta berbagi kebahagiaan bersama saudara dan tetangga.

Lalu bagaimana sih kita mengatur keuangan menjelang Lebaran? Sebetulnya mudah sih mengatur keuangan asal mau disiplin dan sepakat dengan pasangan kita. Karena seringkali ada pembelian diluar rencana padahal bisa jadi jamuan untuk hari raya sudah cukup. Saking senangnya merayakan hari Lebaran, sepertinya ada saja ingin nambah ini dan itu sehingga membeli sesuatu padahal tidak terlalu butuh. Cung yang seperti ini? (sayaaa…)

Nah, buat kita-kita yang tidak bergantung pada gaji dan THR, harus dicatat segala kebutuhan hari raya dan paska hari raya. Karena seringkali yang kita pikirkan adalah beli semua untuk Lebaran, bagi-bagi uang buat anak-anak, dan jalan-jalan/silaturahmi sambil bawa kiriman.  Seminggu kemudian tinggal makan serba tumis, makanan yang dihangatkan berkali-kali, kalau benar-benar habis baru beranjak pada semangkuk mie instan. Sepertinya kejadian seperti ini klise, ya.

Kudapan saat hari raya. Foto: Ima




Lalu apa yang harus dilakukan, sih? Hmmm, saya menulis ini bukan karena jago mengatur keuangan, ya, tapi berbagi pengalaman karena sering kebobolan karena ulah sendiri. Nah, untuk menghindari kekeliruan dalam menyediakan segala untuk menyambut hari raya bisa mencoba cara ini:

Pertama, catat menu makan untuk hari raya.

Catat mulai dari makanan berat, kudapan, teh, kopi, air galon. Setelah dapat menu makan, lanjut merinci biaya bahan baku yang dibutuhkan. Dari sini kita mendapatkan angka. Lalu simpan uang tersebut untuk sajian makanan. Perkirakan harga bahan baku lebih mahal dari hari-hari biasa untuk menghindari kekurangan anggaran.  Terlebih saat pandemi yang tidak menentu ini, atur menu yang tampak spesial namun jatuhnya akan lebih murah.  

Kedua, pertimbangkan lagi, apa perlu beli baju untuk kamu, pasanganmu dan anak-anak? Cek lemari baju, kalau untuk orang dewasa kaya saya dan suami, sepertinya bisa mix max baju lama jadi terlihat baru sudah cukup ya. Tinggal cuci bersih, kasih pewangi. Beres!

Tapi saya sendiri ingin membelikan baju buat anak biarpun hanya sepasang. Ingin membuat mereka terlihat bagus dan pantas saat merayakan hari yang spesial. Kalau hanya mau membeli baju untuk anak-anak, alokasikan berapa dan upayakan sesuai dengan yang kita siapkan.

Ketiga, rinci kebutuhan kebersihan rumah dan kesehatan. Catat mulai dari sabun mandi, sabun cuci tangan, pembersih lantai, sabun cuci, lap pel, lap piring, lap meja, hingga pewangi badan dan pewangi pakaian.

Keempat, hitung hari raya hingga 2-3 bulan berikut, biaya apa saja yang harus dikeluarkan. Cara ini sebagai bayangan agar kita harus melakukan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Kelima, anggarkan biaya kebutuhan untuk buka dan sahur disesuaikan dengan dana yang ada.

Pada dasarnya mengatur keuangan menjelang hari raya harus lebih disiplin. Meskipun keuangan rumah tangga, tetap harus menggunakan buku catatan. Nanti akan kelihatan keluar masuk keuangan agar lebih terkontrol pengunaan uang tersebut memang sesuai kebutuhan atau banyak digunakan diluar kebutuhan. Karena kita seringkali membeli jajanan yang harganya kadang terlihat murah. Tapi ternyata setelah dikalkulasi pengeluaran harian kita lebih banyak untuk jajan atau beli kebutuhan yang tidak perlu.

Beli sesuatu yang menyenangkan boleh saja, seperti beli minum botolan dan kripik.  Tapi kalau setiap hari dilakukan, anggaran jajan ini totalnya bisa sama untuk anggaran beli sayuran, teh bahkan setengah kilo gram telur. Dengan dicatat kita bisa memantau apa saja yang pernah kita beli dan merasa cukup. Setidaknya bisa nge-rem keinginan jajan lagi dan merasa cukup dengan makanan yang ada.

Jadi intinya, catat perkiraan setiap kebutuhan harian, kebutuhan untuk hari raya dan hari-hari setelah hari raya. Ketika ada sisa anggaran, uang itu bisa digunakan untuk jajan di luar atau beli camilan di mini market sebagai teman nonton atau ngemil selepas sahalat taraweh.  Semoga sesuai yang dibutuhkan, ya.

Foto: Ima


“Mah, Bacain!” Begitu permintaan Bayan (8 tahun) sebelum tidur. Salah satu bacaan pilihan Bayan yaitu Asterix. Iya, kadang-kadang dia minta bacain komik Asterix. Komik kesukaan saya ketika masih anak-anak (tahun 1986-an). Saya ingat betul, kayanya cuma komik Asterik yang bisa menghibur saya paska operasi usus buntu. Saat itu saya kelas 3 SD. Sekarang komik ini masih dibaca sama anak-anak, menghibur saat mau tidur atau mulai bosan mengerjakan ini itu.

Kalau dipikir-pikir, saya banyak terselamatkan karena membaca, saya belajar banyak hal. Kenapa? Karena saya hidup tumbuh dalam keluarga besar, anak bungsu dari anak ke-16. Iya, 16 bersaudara. Saat saya lahir, saya sudah mempunyai keponakan yang seumur bahkan usianya lebih tua dari saya. Tahu sendiri kan, mengurus 2 anak saja butuh segelas kopi dan setangkup roti agar hati tetap fokus dan riang gembira.

Tentu saja perhatian orang tua lebih banyak tersita pada masalah-masalah besar dalam keluarga. Atensi saya terhadap sesuatu tidak terlalu mendapat perhatian laiknya ortu milenial jaman now. Saya hanya mendengar kata jangan, marah, suruhan saja dari orang tua maupun kakak-kakak. Bayangkan, Ima kecil pernah melakukan tantangan tidak makan 3 hari bisa tidak ketahuan orang tua. Tidak ketahuan oleh Amih/Bapak tidak juga oleh kakak-kakak yang banyak itu. Sampai perut melilit dan senang karena menang tantangan.

Saya serumah tidak hanya dengan kakak dan orang tua, tapi ada beberapa kamar digunakan oleh kakak dan keluarganya. Belum saudara Amih yang sesekali menginap disini, bisa sepekan atau bahkan sebulan. Rumah ini penuh sekali. Tapi Ima kecil tidak peduli, dia lebih memilih menenggelamkan diri dengan bacaan, serodotan, dan bermain di sawah sampai senja. The balangsak girl pokoknya. Saat itu saya senang sekali membaca majalah Bobo. Sengaja saya sisihkan uang jajan harian agar bisa membeli majalah Bobo tiap hari Kamis di kios seberang rumah.

Bermain dari sejak pulang sekolah hingga magrib. Begitu magrib langsung pergi ke masjid untuk mengaji. Di Masjid pun saya seringkali menenggelamkan diri membaca komik-komik bernuansa “keagamaan”. Jangan bayangkan komik keagamaan itu sebagus sekarang, berwarna dan menstimulasi otak kita menjelajah ke berbagai nilai-nilai hidup dengan cara yang asik dan penuh cinta. Tapi imajinasi kita menjelajah ke negeri surga dan neraka dangan gambar-gambar yang mengerikan. Tantangan sekali mau baca komik seperti ini.

Pulang mengaji selepas shalat Isya saya lebih senang menunggu Dunia Dalam Berita. Soalnya saya selalu tertarik dengan berita perang Iran Irak, sampai-sampai saya berfikir kalau peperangan ini terjadi dari sejak dulu dan sebuah kejadian biasa. Begitu terus sampai ketiduran di atas kursi lalu dipindahkan ke kamar oleh kakak.

Selain majalah Bobo, kakak saya suka beli komik kolaborasi Goscinny dan Uderzo. Kisah tentang masyarakat kuat di sudut belahan Galia yang tidak tertaklukan oleh Romawi. Gaya bercandaan dan kelucuan dari tingkah karakter Asterix, Obelix dan berbagai tokoh unik di Galia muncul mempengaruhi gaya bercanda saya. Hanya saya jadi orang yang beda, karena agak sulit nyambung bercanda dan ngobrol dengan teman-teman. Ya sudahlah, saya simpan kegembiraan dan kenikmatan cerita Asterix oleh diri sendiri dan saudara saya yang suka membaca komik itu.

Mimpi saya bisa keliling dunia, menjadi penulis dan senang menganalisa itu ketika mulai baca Tintin. Bagaimana tokoh Tintin seorang wartawan yang bisa memecahkan berbagai kasus pencurian dan kejadian yang menjadi teka teki. Wow, saya selalu senang memakai sweater woll juga sepertinya karena pakaian yang suka dipakai Tintin.

Imajinasi mulai dimainkan ketika mendapat buku Alice in The Wonderland. Buku ini unik, ketika masuk ke halaman tertentu kita diberi plihan untuk melanjutkan ke halaman berapa. Pilihan halaman itu akan menentukan bagaimana cerita Alice berlanjut.

Keinginan saya bisa ke Eropa dan membayangkan menjadi seorang penari, keinginan bisa menggambar pun muncul ketika membaca karya-karya HC Andersen. Saya suka sekali dengan gambar-gambarnya yang berwarna lembut dan halus. Kisah-kisahnya sering mengangkat perjuangan orang-orang terpinggirkan yang terus bertahan berbuat kebaikan lalu hidupnya berakhir lebih baik. Imajinasi dan rasa suka itu merasa terlengkapi karena dulu sesekali meminjam kaset video kartun karya HC Andersen. Seperti Gadis Penjual Korek Api, Boneka Prajurit dan Boneka Balerina, Cinderella, Peter Pan, dan banyak lagi. Keinginan saya meledak-ledak dan ingin menguasai banyak hal. Ya, menulis, ya, menggambar, ya, menari. Saya suka semua.

Aha! Saya ingat komik dari Malaysia. Saat itu kakak saya punya komik terbitan Malaysia. Saya membaca berulang-ulang dan menyimpannya sampai kertasnya melipat-lipat saking sukanya. Tokohnya kemana-mana cuma pake seluar. Paling susah pakai baju. Bahagia rasanya kalau sudah baca komik ini. Judulnya The Kampung Boy bikinan Dato Lat. Aduh, itu komik kemana, ya, perginya. Huhu… 

Foto: akun Shopee

Saking sukanya membaca, kalau di sekolah, saya lebih senang masuk ke perpustakaan dan memilih buku cerita sendirian. Saya ingat perpustakaan saat saya SD itu tempatnya kecil, cahaya ke ruang itu lebih banyak cahaya matahari. Karena beberapa keeping atapnya memakai genting kaca. Sepi, kecil, sunyi dan bertumpuk. Ada kategori-kategori buku menempel di sisi rak. Kadang mejanya berdebu dan berdempetan.

Saking suka buku, saya simpan buku-buku itu ke dalam kantung belanja bekas. Buku-buku itu saya simpan di bawah ranjang, kadang di bawah lemari, kadang di dalam lemari, kadang di atas atap, karena takut hilang. Saking sukanya, kadang saya bawa kemana-mana. Sampai suatu hari saya susun buku-buku itu di teras rumah untuk saya sewakan. Buat mereka yang mau baca harus bayar.

Terus terang, sebetulnya saya lupa-lupa ingat pernah membuat perpustakaan di teras rumah. Ingatan ini dibangunkan oleh teman saya, dia suka meminjam komik. Oh, ya, teman saya ini koleksi boneka banyak sekali. Meski saya mau beli boneka juga, sampai dewasa saya tidak pernah punya boneka. Kemanapun perginya, saya lebih memilih beli komik.

Nah, kembali pada paragrap awal. Kenapa saya merasa terselamatkan oleh bacaan. Karena melalui komik-komik yang saya baca ini, secara tidak langsung menstimulasi otak, logika berfikir, lebih mudah menganalisa berbagai masalah. Banyak pelajaran merawat diri, mandiri, mengenal karakter orang “diajarkan” dari majalah dan komik-komik. Saya baru tahu perubahan biologis dari anak-anak menuju remaja pun dari bacaan. Bagaimana menjaga diri, merawat diri, bersikap dalam menghadapi masalah justru banyak tahu dari bacaan. Ya, karena di rumah banyak sekali orang, banyak saudara, tingkat perhatian, tingkat apresiasi orang tua juga kurang karena terbelah-belah. Jadi saya yang banyak keinginan dan katanya pemberani sepertinya banyak dipengaruhi oleh bacaan dan lingkungan teman-teman.

Intinya, Ima sekarang merasa sangat bersyukur saat kecil suka membaca komik dan bacaan anak lainnya. Meski sekarang sering sedih banyak koleksi yang hilang. Kalau ada yang meminjam bisa sangat sembarangan sampai akhirnya hilang entah kemana. Hanya saja, saat itu saya lebih sering kesulitan berbahasa sosial, karena kosa kata yang muncul ketika berbahasa dengan teman-teman lebih banyak kalimat baku/tidak umum.

Menuliskan ini rasanya senang sekali, memori bahagia masa kecil dengan berbagai bacaan ini membuat saya kembali bersemangat.

Foto: Ima


Bertahun-tahun saya hidup berorganisasi sampai akhirnya hidup berumah tangga selalu membuat target, rencana dan menciptakan sesuatu yang sifatnya jangka pendek dan jangka panjang. Ketika muncul masalah yang disebabkan diluar diri, seperti sakit, orang tua ikut ikut campur, atau hal-hal besar lain, maka hidup tanpa resolusi menjadi ruang berdamai dengan keadaan. Hal terpenting terus memelihara asset diri atau kemampuan diri, lalu terus bergerak di atas rel yang sama dengan amunisi yang kadang-kadang penuh, sedikit bahkan habis sama sekali.

Sampai kapan? Sampai merasa harus mengeksekusi ide meski sederhana.

Seperti tahun 2020, saya punya resolusi menghadirkan 1 buku perjalanan hidup. Ternyata situasi pandemi pada awal-awal bulan cukup menguras sebagian mental. Sehingga resolusi tahun 2020 yaitu lebih memilih melakukan sesuatu yang membuat tubuh sehat dan jiwa lebih bahagia saja, cukup. Karena buku yang tadinya mau saya susun bisa memicu psikosomatik dan lambung saya kembali bermasalah. Akhirnya saya memilih bersunyi-sunyi, mengikuti ritme alam dan mendengarkan kebutuhan tubuh dan hati. Memilih, mengeksekusi ide, mengisi diri yang tidak terlalu menekan diri sendiri. 

Foto: Ima

Tapi tunggu sebentar, kita harus bisa membedakan antara mendengarkan diri dan malas mengerjakan. Ketika sadar bahwa tidak mengerjakan karena malas, maka segera bangkit dan menyadari bahwa: kita hanya butuh waktu sebentar kok untuk menyelesaikan (tulisan/memasak/beres-beres rumah, mendampingi anak belajar atau apapun itu), lambat laun akan selesai juga dan semua orang akan mendapatkan manfaatnya.

Lanjut, ya. Nah, Lalu apa yang dilakukan hidup tanpa resolusi, bisa? Saya fokus pada satu kegiatan yang harus tetap di atas rel, yaitu: menulis. Selebihnya memilih mengikuti kegiatan yang ada, belajar bersama anak-anak, menulis, menonton, membuat roti, menonton drama korea, mendengarkan live IG, mengikuti program orang-orang secara online, memotret, mengambil kegiatan karena diajak orang. Kalau kegiatan itu membuat hati saya senang, saya ambil, kalau tidak sreg lebih baik melepaskan.

Ternyata dengan mendengarkan tubuh dan hati, pengaruh negatif lebih tersamarkan. Semesta mendukung berbagai kegiatan yang betul-betul kami butuhkan dan sungguh-sungguh kami kerjakan. Tak menyangka, tahun 2020 yang tengah dilanda ketegangan ternyata banyak kegiatan menarik dikerjakan selama tahun 2020.

Lalu bagaimana dengan tahun 2021? Saya kembali mendengarkan kebutuhan tubuh dan hati yang disesuaikan dengan asset yang dimiliki: saya menulis, Ayah melukis dan anak-anak mengamalkan tugas belajar PJJ dan bermain dengan gembira. Intinya terus bergerak, terus berkarya, setia dan disiplin pada bidang yang kami kerjakan.

Ternyata ketika saya mengerjakan yang lain, selalu kembali pada dunia menulis di blog. Godaan untuk berhenti banyak, terutama saat kami kehabisan uang. Terlebih masuk 2020 situasi betul-betul tidak dapat diprediksi. Ketika godaan itu muncul, yang kami lakukan adalah terus berkarya, berdoa, mengasah diri dan meluruskan dari niat.

Karena rel yang kami jalani adalah menulis, melukis dan dunia anak, jadi resolusi tahun 2021 melakukan kegiatan yang sifatnya self healing alias ngobatan maneh. Mengikuti kebutuhan pikiran, hati dan tubuh. Mengikuti program yang ada dan menghadirkan kegiatan yang sesuai apresiasi diri, seperti:

1. Menulis. Menulis. Menulis. Dengan kesadaran penuh bahwa menulis di blog matakubesar sebagai media menabung amal. Sehingga ketika banyak orang yang mendapatkan manfaat dari tulisan kita, bisa menjadi amal jariah yang terus mengalir.

2. Menjadi orang tua bermain.

Memenuhi kebutuhan anak-anak, seperti, menggambar bersama, membuat puisi, membuat lirik dan musik, menghafal quran, becanda.

3. Menyiapkan anak lebih mandiri:

Seperti, mengaji dan shalat bersama, melibatkan anak-anak merawat rumah, dan memasak

4. Menyusun tulisan-tulisan di blog untuk dibukukan

5. Menyusun rencana pameran tunggal

6. Kolaborasi Live IG baca buku mingguan bareng Ayah

7. Menghindari lingkungan yang menyebabkan melukai diri 


Jadi tahun ini berjalan tanpa resolusi, hanya meletakan diri sesuai kapasitas sambil terus menerus diperbaiki dan terus menerus mengasah "asset" yang dimiliki dengan kecepatan lari marathon. Pelan tapi terus, lama-lama akan sampai pada yang kita inginkan atau bahkan melampaui pada apa yang kita rencanakan, Saya percaya, apa yang dilakukan dengan hati akan sampai pada orang-orang yang memang membutuhkan. Setiap kata, setiap langkah, akan bertemu dengan lingkungan yang satu ritme, satu vibrasi.
Saya baru dengar istilah burnout begitu Komunitas ISB memberi tema untuk one day one post (ODOP) hari ketiga. Ini apa, ya, sejenis makanan, kah? Bukan, bukan. Ternyata begitu cari-cari saya dapat penjelasannya. Burnout syndrome adalah kondisi stress kronis akibat pekerjaan yang ditandai dengan rasa lelah, kesal dengan pekerjaan dan merasakan ketidakpuasan. Kondisi ini bisa dirasakan secara fisik maupun emosional. 


Kalau membaca dari beberapa referensi yang terpercaya, sepertinya saya pernah mengalami hal yang serupa. Dalam kondisi tertentu, otak saya jadi agak sulit mencerna sesuatu yang baru. Pernah saya mencoba ikut kelas asuransi, semua materi seperti mantul entah kemana. Tapi begitu dipelajari lagi kemudian dalam keadaan hati dan pikiran lebih slow, ternyata apa yang disampaikan di kelas itu materi yang sangat mudah. Saat itu, ketika saya pelajari dalam keadaan tertekan, rasanya cepat lelah, cemas, merasa tertekan, ingin muntah dan dada terasa pengap. Menyadari pilihan yang saya ambil ditolak oleh tubuh sendiri akhirnya memutuskan untuk berhenti dan mengerjakan pekerjaan yang saya suka dan kuasai.

Lalu apa sih kaitannya burnout di tengah pandemi? Situasi pandemi banyak memungkinkan memicu burnout. Alasannya, pertama, kita harus beradaptasi bekerja dari rumah, kegiatan yang menimbulkan kerumunan diberhentikan, mengajarkan anak-anak belajar di rumah, dengan berbagai perubahan pola interaksi. Setiap hari begitu, berulang. Manusia terbiasa berinteraksi langsung dengan manusia, biasa bertemu tatap muka, kemungkinan besar akan kesulitan beradaptasi mengatasi perubahan pola hidup. Begitupun orang-orang yang masih harus bekerja keluar, mengalami dilemma antara mengerjakan kewajiban dan cemas dengan kondisi kesehatannya.

Sebetulnya saya tidak merasakan burnout selama pandemi, justru saya merasa lebih menerima mengikuti semua protokol kesehatan ditengah pro kontra dan tarik menarik situasi pandemi. Bukan menikmati ketegangannya, hanya saja semakin merasa baik-baik saja bekerja di rumah saja tanpa perlu perlawanan lagi. Meski beberapa situasi pandemi ini cukup menekan, jadi saya fikir yang perlu kami lakukan yaitu mengerjakan sesuatu yang menggembirakan, yang paling mungkin, yang paling bisa. Nikmati apa yang paling bisa dikerjakan dalam berbagai situasi yang serba terbatas.  Ya, mirip-mirip konsep bermain sambil belajar, bermain sambil bekerja. 

Kami berdua, saya menulis dan Ayah menggambar.  Setiap anak-anak belajar,  kami pun ikut belajar bersama anak-anak, saat kami merawat rumah maka anak-anak pun ikut terlibat juga. Agar suasana rumah bervariasi, kami melakukan berbagai kegiatan yang disepakati bersama.

Semesta seperti membuka jendela hidup bahwa bekerja, bermain, menikmati hal sederhana jadi istimewa dari rumah itu sangat mungkin. Walaupun sering kotar katir kekurangan, tapi ya kan rezeki kita semua sudah dijamin sama Allah. Jadi ya sudah keep it on aja, terus menulis, terus menggambar, terus mempromosikan usaha orang-orang lewat tulisan saya. Percaya The power of aksara dan the power of medsos bisa jadi bagian dari amal jariah yang terus mengalir (amin) dan rezeki mah insyaAllah ada, Allah pasti mengapresiasi semua usaha kita. Jadi gimana nih, tentang burnout? Oke, sebentar.

Katanya stress itu wajar, karena dengan stress membantu otak kita berfikir cepat dan bersegera mengambil langkah/keputusan-keputusan. Namun jika stress terus menerus tanpa jeda, lama-lama sistem syaraf akan terluka. Dalam kondisi kita bekerja pada bidang yang kita cinta pun ada masanya mengalami burnout. Saya fikir wajar, tapi akan menjadi tidak wajar jika situasi burnout berlarut-larut dan tidak segera teratasi.

Jadi saya mau berbagi sedikit pengalaman upaya self healing untuk menyelamatkan dari burnout yang ya mungkin bisa saja cocok sama teman-teman:

1. Beri jeda antara diri sendiri dengan pekerjaan kita.

Beri waktu pada diri untuk bernafas lega dengan cara mengalihkan pikiran pada hal lain. Caranya, olah nafas, lalu kerjakan sesuatu yang membuat kamu rehat sebentar. Katakanlah kamu sudah merasa enek ditengah pekerjaan yang tak kunjung selesai, maka hentikan saja, beri waktu 30 menit untuk betul-betul buat diri sendiri.

Katakanlah ambil kopi arabika kesukaan kamu, lalu seduh kopi, nikmati dengan menyadari penuh rasa kopi, pada proses seduh membayangkan pegunungan pepohonan kopi, lalu duduk tenang menikmati pepohonan di teras rumah. Sambil tutup mata dan nikmati berbagai suara di sekita tanpa perlu melawan atau merespons balik

                                         

2. Kerjakan hobi yang kamu suka.

Hobi setiap orang beda-beda, ada yang nonton film, merawat bunga, membaca buku, membuat kue, menggambar, membuat puisi, olah raga, dll. Lakukan tanpa perlu merasa bersalah, tubuh kamu butuh “nutrisi” agar bisa beraktifitas dengan riang gembira dan penuh energi.

Kalau kamu suka jalan kaki, maka lakukan. Nikmati diri sendiri sambil bawa handphone. Ketika jalan kaki menemukan objek menarik, maka tak perlu segan mengambil fotonya, dengarkan keinginan tubuh dan hati kamu. Ketika merasa sudah cukup puas, pulang dan susun lagi rencana hari itu, lalu kerjakan satu satu pekerjaan. Dengan kesadaran penuh bahwa lama-lama semua pekerjaan itu akan selesai juga.

3. Bersyukur atas tubuh yang sehat

Di tengah pandemic seperti ini apa yang paling kita syukuri? Ya, udara dan tubuh yang mampu mengerjakan sesuatu. Baik itu pekerjaan orang ataupun pekerjaan rumah. Tidak semua orang mendapat kesempatan seperti itu. Hari ini berarti, lalu kerjakan apapun sisa-sisa yang kita bisa kita lakukan.

4. Tulis atau ingat-ingat hal menyenangkan meski sederhana

Seringkali kita merasa lelah dan perasaan cemas lainnya karena berfikir berlebih bahkan berfikir pada sesuatu yang belum tentu akan terjadi. Cobalah untuk mengingat kejadian lucu, asik, sederhana namun sering kita abaikan karena ingatan negative kerap menguasai pikiran. Misalnya anak-anak bisa mandi sendiri dan menyimpan baju kotor di tempatnya, lalu ketika beli sayur mendapat diskon 1000, senang bisa menjemur badan sambil ngobrol dengan Ibu, senang karena berhasil membersihkan kulkas, dan sebagainya. Tanpa disadari ternyata persoalan kita hanya 1 dan situasi yang menyenangkan bisa jadi lebih banyak.

5. Tidur

TIdur? Iya, tidak semua orang bisa tidur dalam keadaan banyak masalah. Maka upayakan tidur sekitar 30 menitan saja. Nyalakan alarm agar tidak terlalu lama. Katanya, tidur adalah obat meredakan stress yang paling mujarab, karena syaraf kita akan dibuat istirahat.

6. Lakukan permainan anak-anak

Gunting, batu, kertas! Bikin permainan anak-anak dengan orang rumah, gunakan waktu secukupnya, biarkan jiwa anak-anak kamu keluar lalu gunakan kesempatan untuk bergembira.

7. Berhenti ingin di apresiasi oleh rekan kerja

Lakukan saja pekerjaan kamu semampu kita, karena tanpa kamu semua itu tidak akan terwujud.

Ketika pikiran kita kembali santai dan sederhana, pekerjaan yang setumpuk dan penuh tekanan itu jadi terasa ringan dan kembali berenergi. Perlu disadari juga, bahwa setiap manusia memiliki fungsi masing-masing. Ketika salah satu berfungsi, maka tujuan bersama akan terwujud dengan baik. 


Foto: Ima


Seorang guru ngaji saya pernah bilang, bahwa ilmu yang kita ketahui itu ibarat setetes air di lautan. Saya mendengar petuah ini saat masih sekolah dasar, belum ngerti maksud Kang Guru itu apa. Karena pernyataannya ini unik dan menimbulkan imajinasi visual di kepala. Lama saya selalu ingat kalimat ini, “Setetes di lautan, setetes di lautan,” saat melamun kalimat ini cukup sering mengusik sistem syaraf ingatan saya.

Ternyata kalimat ini maknanya luas sekali, tidak sekadar bermakna ilmu yang kita tahu itu sangat sedikit dibandingkan ilmu yang terkandung di alam semesta ini. Tapi kalimat ini mengajarkan pula untuk meneguhkan diri agar tetap buka hati, buka mata, buka telinga untuk memahami segala sisi. Karena kita bisa belajar dari siapapun ketika berada dalam lingkungan sosial yang beragam. Disini hati kita diuji untuk menangkap setiap “ilmu” dari siapapun itu.

Kadang-kadang merasa remuk karena merasa sudah belajar banyak, rupanya semakin melangkah lebih jauh, ilmu ini seperti tak berbatas. Selalu ada yang baru, selalu ada situasi yang mengejutkan yang menyadarkan bahwa bumi ini sungguh luas. Sepertinya tak ada ruang untuk membanggakan diri, tidak juga merendahkan diri atau bahkan merasa paling berilmu.  

Foto: Ima



Kebetulan saya pernah aktif dalam organisasi teater saat kuliah dulu, sehingga sampai sekarang komunikasi masih terjalin untuk sesekali berbagi pikiran. Melalui teman-teman pengurus itu, saya menemukan bagaimana mereka mengelola masalah dan memecahkan solusi dalam bentuk karya. Energi ini seperti menular dan selalu mengingatkan saya agar terus berkarya berapapun usia dan kondisi kita saat ini. Melalui pergerakan dan program kegiatan yang mereka lakukan, saya sering menemukan ilmunya yang luas dan meluaskan, pergerakannya selalu segar dan inspiratif. Pelan-pelan saya pelajari dan serap disesuaikan dengan kondisi saya saat ini.

Lalu saat kami membangun studio desain bersama teman-teman Ayah yang lebih muda, kami belajar memiliki sikap saat harus bekerja sama dalam mengeksekusi pekerjaan. Meski usia terpaut cukup jauh, pola komunikasi kami terasa cair. Karena komunikasi cair, proses kreatif lebih dikerjakan dengan professional dan menyenangkan. Tidak ada yang merasa lebih tua maka dia lebih jago begitupun sebaliknya. Semua proses dan ide dikomunikasikan untuk mendapatkan kesan hasil desain yang disepakati bersama.

Begitupun ketika saya masuk pada dunia tulis menulis, saya belajar banyak dari penulis yang usianya lebih muda namun kaya ilmu menulis. Saya menyadari hobi menulis saya tidak disertai dengan ilmu kepenulisan. Sehingga ketika pelan-pelan masuk dunia blog lalu menemukan komunitas blogger, disini berbagai “tuntutan” keilmuan menulis, etika bermedia sosial, keahlian mengambil foto, mengatur aplikasi blog, membangun branding, memelihara disiplin berkarya dan banyak lagi cabang lain harus dipelajari. Melalui beberapa teman yang lebih muda, saya belajar teknis mengelola blog dan bagaimana mensikapi dunia blogger yang dinamis dan penuh kejutan.

Situasi yang sering terjadi ketika kita tahu ada lingkungan lain dengan percepatan ilmu yang kita miliki, kita memilih berhenti. Atau tak jarang merasa tidak perlu belajar lagi karena sudah merasa lebih dulu berkiprah. Keadaan ini yang membuat kita terjebak karena merasa cukup banyak tahu dan besar sendiri.

Perlu disadari, pertumbuhan dan pergerakan ilmu di era sekarang ini sangat cepat. Oleh karena itu, mau tidak mau, buat saya yang melewati fase belum ada internet hingga fase informasi itu ada di smart phone menjadi tantangan tersendiri untuk membuka diri untuk terus belajar pada siapapun. Bagaimana dulu kita kesulitan mencari referensi, sekarang anak-anak muda jauh lebih memahami bagaimana mendapatkannya dan mengelolanya menjadi industri. Pergerakan hobi lalu mengoptimasi menjadi penghasilan menjadi pergerakan sosial yang lumrah. Jadi, dalam mempelajari sesuatu tidak ada kata terlambat meski dari anak muda, masalahnya adalah mau atau tidak.

Foto: Ima

Rasanya semua merasakan hal yang sama, bulan Ramadan selalu terasa beda. Tentu saja berbeda, karena setiap muslim wajib melakukan puasa pada siang selama 1 bulan penuh. Menjalani puasa sambil melakukan aktivitas seperti biasa menjadi tantangan sendiri. Seringkali hilang konsentrasi dan semangat saat mengerjakan berbagai pekerjaan. Lapar dan mengantuk sering menjadi alasan kita mengurangi aktivitas karena khawatir kelelahan lalu batal puasa.

Namun pernah tidak disadari, upaya mengurangi aktivitas itu karena dipengaruhi oleh pikiran sendiri. Muncul perasaan khawatir dan takut beraktivitas saat puasa. Padahal bisa jadi tubuh dan kesehatan kita jauh lebih baik dari yang kita perkirakan saat tubuh menjalani puasa. Oleh karena itu ada bagusnya mengolah mindset dengan mengisi energi keinginan untuk makan dengan membuat kegiatan yang menyenangkan.

Belajar pada anak-anak, mereka selalu membebaskan pikiran untuk melakukan kegiatan yang menyenangkan. Kita yang bejibun tanggung jawab bisa mulai mengisi kegiatan itu dengan energi yang menyenangkan. Hal yang harus disadari, setiap orang punya kapasitas dan keahlian yang berbeda-beda. Itulah sebabnya, apapun aktivitas yang kita lakukan sekarang, harus dilakukan dengan luas hati. Puasa merupakan ibadah yang wajib dikerjakan oleh umat muslim, sayang sekali jika kesempatan ini dijalani dengan beban dan keluh. Tanpa disadari waktu dan energi akan terlewat tanpa isi.

Puasa itu tidak mengisi perut dan menahan emosi negatif. Secara tidak sadar, umat muslim sedang diisi ulang dari rutinitas yang seringkali melupakan tujuan hidup sebagai pemelihara di muka bumi. Setidaknya menjadi pemelihara untuk lingkungan terdekat kita: keluarga. 

Foto: Ima



Ramadan waktunya menghidupkan ruang-ruang cinta yang terabaikan. Dalam dua kali Ramadan ini, kita melewatinya dalam kondisi pandemic covid 19. Manusia seolah tengah diajarkan untuk pause emosional dan play mengikuti ritme alam. Seperti juga Ramadhan, ada waktunya puasa ada waktunya makan pada waktu yang sudah ditentukan. Belajar berserah diri secara penuh pada pemilik waktu juga pemilik semesta.

Lalu apa kebiasaan yang bisa kita bangun untuk membuat Ramadhan kamu jadi terasa menyenangkan. Karena pada bulan Ramadan, kegiatan kita bernilai ibadah mendapat pahala yang berlipat. Sebelum memulai kegiatan, baca basmallah, luruskan niat, agar setiap gerak gerik kita bernilai ibadah. Nah, jadi kamu boleh mencoba berbagai kegiatan kreatif saat Ramadan, sehingga membuat hidup kamu lebih berisi:

1. Taraweh

Taraweh merupakan peristiwa yang hanya bisa dinikmati satu bulan saja selama satu tahun. Biasanya muslim melakukan shalat malam sendiri saja di rumah masing-masing. Taraweh memberi energi tersendiri karena dilakukan secara bersama-sama (berjamaah) di masjid setelah shalat isya.

Menjadi ajang silaturahmi antar teman, tetangga, saudara. Suasana ini bisa menghidupkan hati dan inspirasi, memberi semangat hidup karena kita semua sama, menunduk di hadapan Allah SWT.


2. Melakukan Kegiatan Kreatif

Pada hari biasa, biasanya kita menyeduh kopi atau melahap camilan untuk menemani aktifitas sepanjang hari. Begitu puasa, kebiasaan ini berubah sehingga siklus tubuh beradaptasi dengan kebiasaan baru. Oleh karena itu, pikiran dan hati kita perlu dipelihara agar ritme harian tetap sama. Bedanya hanya tidak makan dan minum saja.

Untuk mengatasi pikiran dari lapar dan haus, kegiatan yang kreatif bisa membuat aktifitas harian tetap asik karena pikiran dan hati kita teralihkan pada kegiatan yang mencuri perhatian. Kamu bisa membuat teknik baru menggambar, lalu praktikan bersama anak-anak.  Selain keahlian menggambar bisa terasah, anak-anak merasa senang, perasaan menyenangkan perlahan akan melupakan rasa haus dan lapar.


3. Mencoba Memasak Menu Baru Untuk Buka dan Sahur

Waktu buka merupakan saat yang ditunggu-tunggu, sementara waktu sahur merupakan waktu makan yang penting namun sering terganggu oleh rasa kantuk. Kamu bisa mulai buka-buka aplikasi menu olahan baru untuk menemani waktu makan yang special itu.

Tapi makan special disini bukan berarti harus mahal dan banyak, ya. Kita bisa mengolah makan enak tapi murah. Seperti mencoba bikin roti pita dengan cocolan saus mayonnaise, tahu diberi tepung krispi diolesi kecap dan cabe. Atau kita bisa mencoba bahan baku biasa jadi tidak biasa. Kalau kamu suka bala-bala, bisa coba bala-bala dengan saus korea agar terasa beda.

 
Foto: Ima


4. Jalan Sore

Memilih jalan sore sepertinya pilihan baik dibandingkan memilih jalan pagi. Kalau kita mulai haus, waktu menjelang buka tidak akan menunggu terlalu lama.

Jalan sore terasa menyenangkan setelah seharian kita bekerja. Buat yang bekerja di luar rumah bisa lebih rileks begitu melihat langit berwarna orange. Begitupun buat yang bekerja di rumah, jalan sore akan menumbuhkan persepsi dan inspirasi baru. Selain itu, saat Ramadan suka ada pasar sore yang menyediakan berbagai macam tajil dari masyarakat setempat. Suasana ini yang menyenangkan, kita bisa memilih berbagai aneka camilan dan menjadi ruang temu dengan tetangga.


5. Kuliner Malam Hari

Kuliner malam hari bisa jadi salah satu variasi mengisi hari-hari di bulan Ramadan. Kita bisa leluasa makan baso, burger, ayam krispi, roti bakar di tempat-tempat kuliner. Hanya perlu diingat saat pandemic seperti ini harus lebih waspada.

Memilih kuliner di rumah tentu pilihan tepat saat situasi pandemic belum kembali baik, cobalah memesan makanan melalui aplikasi online. Suasana makan di rumah pun bisa ditata sedemikian rupa, misal makannya di teras rumah, di balkon, sambil menonton film kesukaan, dan sebagainya. Apapun bisa dibikin senang apapun situasinya.


Sebetulnya kebiasaan menyenangkan itu sangat dekat dengan keseharian kita. Ketika kita masuk bulan puasa, kegiatan yang biasa kita kerjakan pada bulan-bulan lain jadi terasa istimewa karena ada waktu yang membatasi kita menjalankan kegiatan yang biasa itu jadi terasa special. Jadi, setiap waktu itu memberi kesempatan untuk kita melakukan hal-hal yang kreatif sehingga setiap waktu menjadi terasa menyenangkan apapun kondisinya. Ramadan menjadi proses “vaksinasi” yang menarik untuk membuat mental dan tubuh kita menjadi lebih baik.

Foto: Ima. Maret 2021
                                              

Perjalanan pulang kampung bertemu keluarga suami beberapa minggu lalu terasa istimewa. Tentu saja rasanya beragam karena hampir dua tahun tidak pulang terhalang pandemic. Ketika adiknya suami mengatakan akan mengirim mobil dari Pandeglang (Banten) menuju Bandung jadi kabar yang menyenangkan buat anak-anak. Itu artinya mereka dapat ketemu Bunde (nenek), melakukan perjalanan lagi, bermain di tengah lapang, sawah dan tentu bisa bermain bersama sepupu-sepupunya.

Paling seru ketika anak-anak mulai packing tas mereka masing-masing dengan membawa perbekalan. Anak-anak bersemangat sekali, kami pun beli perbekalan ke mini market yang lokasinya terselang beberapa rumah saja. Mereka memilih perbekalan sendiri, mulai dari masker, vitamin, hand sanitizer, susu Morinaga Chil Go, roti, kripik dan permen. Begitu tiba di rumah langsung packing sendiri dan segera menyimpannya di ruang depan, alasannya,”Biar cepat sampai.”

Mereka begitu bersemangat sampai membawa segala, seperti buku gambar, pensil warna, buku bacaan kesukaan mereka dan dede dino (boneka dinosaurus), sehingga setengah tas Bayan ditempati dede dino.

Saya dan anak-anak (11 dan 8 tahun) ngobrol-ngobrol kegiatan apa saja yang mau dilakukan. Lalu tercetus ingin mencari tutut ke sawah dan menggambar bersama sepupu-sepupu yang dipandu oleh Ayah. Oh, ya, kebetulan Ayah ini pengajar seni rupa untuk melatih executif function anak-anak dyslexia. Mereka anak-anak istimewa yang biasanya kemampuan IQ nya tinggi namun sering terbolak balik mengidentifikasi aksara dan kesulitan berbahasa. Nah, saat itu kami berencana akan membuat kolase bareng anak-anak dan keponakan. Sepertinya akan seru sekali.

Menurut analisa para ahli, menjaga daya tahan tubuh itu ada dua faktor yang penting yaitu menjaga asupan nutrisi dan rasa bahagia yang bisa memelihara semangat.

Foto: Ima. Maret 2021

Ketika pandemic mulai masuk ke Indonesia, saya jadi lebih ekstra peduli kebutuhan nutrisi anak-anak. Setidaknya berusaha tetap mengolah makanan yang bergizi, tetap enak dan menggembirakan anak-anak. Tentu disesuaikan dengan budget yang dimiliki dengan mengolah makanan yang murmer tapi tetap kaya gizi. Untuk mengantisipasi resiko kurang zat gizi karena kesalahan pengolahan bahan baku, saya memberi mereka tambahan madu, vitamin maupun susu seperti Morinaga Chil Go. Susu ini menarik, karena mengandung serat inulin, 9 vitamin dan 5 mineral untuk mendukung daya tahan tubuh. Kualitasnya teruji di laboratorium kalbe nutrition dan morinaga Jepang.

Nah, sedangkan untuk memelihara rasa bahagia, kami lebih banyak melakukan bersama aktivitas sehari-hari. Situasi pandemic, mau tidak mau cukup mempengaruhi kondisi anak-anak. Oleh karenanya, saya dan Ayah berusaha membuat suasana di rumah tetap asik meskipun banyak tugas sekolah dan menjaga kebiasaan anak-anak tidak tergantung pada permainan game saat jenuh. Ritmenya masih sama, pagi-pagi belajar hingga jam 12.00 siang, setelah dzuhur semacam bermain sambil belajar dan menerapkan beberapa kebiasaan baik memediasi kultur sekolah.

Kami mulai hari dengan mandi agar segar, lalu makan pagi bersama. Aktivitas mandi dan sarapan pagi ini dasar. Selanjutnya banyak yang bisa kami lakukan agar sehari-hari terasa beda, seperti merapikan kamar, bersih-bersih rumah, mendampingi belajar PJJ (pembelajaran jarak jauh), menggambar bersama, menanam tanaman bareng, menyalakan musik, download film lalu menonton bersama, mencoba resep baru. Meskipun di rumah saja, sebisa mungkin memindahkan aktivitas luar dipindahkan ke dalam rumah agar executive function anak-anak dapat terolah dengan baik.

Beberapa hari saja kami tinggal di Pandeglang, menikmati udara segar pegunungan, bersilaturahmi ke rumah Bunde dan menikmati kopi pagi di rumah adik. Sesuai rencana, selain bermain menyusur jalan perkampungan, kami jalan mengikuti pematang sawah dan mengmabil beberapa tutut yang hidup di antara padi. Anak-anak sangat antusias, apalagi Bayan (8 tahun) bersemangat mengambil sendiri tututnya lalu memasukannya ke dalam wadah.


Foto: Ahmad Nurcholis. 2021

Lalu kami membuat kolase bersama para keponakan (anak-anak adiknya Ayah) yang kebetulan seumuran dengan Aden dan Bayan. Sehingga proses pembuatan kolase begitu menyenangkan. Masing-masing membuat kolase sendiri yang diarahkan oleh Ayah. Hasilnya sangat menarik, tiap anak punya imajinasi sehingga menghasilkan karya yang berbeda-beda.

Situasi pandemi ini sepertinya semakin menyadarkan banyak orang tua. Selama ini porsi hidup lebih menjaga kewajiban mencari nafkah, kali ini kita diajak untuk menjaga pertumbuhan anak-anak dengan menstimulasi kemampuan anak-anak. Menjaga bukan berarti “ngintil” terus menerus, tapi dengan kesadaran penuh mengajarkan keahlian dasar agar menjadi pribadi mandiri. Karena suatu hari mereka akan terus tumbuh dan melangkah lebih jauh.

Anak-anak kita merupakan generasi platinum, akan berhadapan dengan perbagai perubahan zaman yang berpengaruh pada prilaku. Mereka akan beradaptasi dengan percepatan informasi, perubahan alam, situasi sosial dan beragam budaya.

Oleh karenanya, situasi pandemi ini menjadi menjaga kesempatan baik untuk membekali diri dan mengejar kteretinggalan ilmu pengasuhan yang baik. Anak-anak merupakan penerus estafet kehidupan, mereka akan melangkah dan berlaku atas “bekal” yang ditularkan melalui orang tua dan bagaimana menyerap prilaku sosial di lingkungannya.


Foto: Ima. 2021

Beberapa hari di Pandeglang merupakan kesempatan yang berharga. Ya, kami datang ke Pandeglang dan kembali ke Bandung dalam keadaan sehat. Hal yang disyukuri paling disyukuri (akhirnya) bisa menengok keluarga Ayah adalah kami bisa bertemu lagi dalam keadaan sehat. Hampir dua tahun kami sekeluarga berusaha menjaga daya tahan tubuh, memelihara mental dan mengikuti 5M (menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan, mengurangi mobilitas dan mengurangi kerumunan). Perlu kreativitas yang tinggi agar tubuh, hati dan pikiran memiliki daya tahan yang baik sehingga tetap berdaya dalam berbagai situasi.
Foto: Ima. 2021

Pernah pada suatu titik yang berulang-ulang saya merasa buruk rupa dan tidak bisa berharap pada siapapun. Karena buruk rupa dan tidak ada yang bisa diandalkan, saat itu saya merasa harus memperjuangkan sesuatu yang membuat saya bahagia dan berharga. Yaitu memperjuangkan bidang yang saya suka dan saya harus mendapatkan pasangan hidup yang menerima saya apa adanya, menganggap saya manusia yang ada.

Bisa jadi proses imun itu hadir karena sejak kecil saya kurang apresiasi, sering dibandingkan sebagai subjek yang kalah, lemah, jelek, bodoh. Tapi satu sisi sebagai anak bungsu, saya juga sering mendapat prilaku iri dari sekeliling. Situasi yang kontradiktif. Harus lemah ditengah kalang kabut rasa percaya diri yang kusut. Sesekali mendapatkan rezeki atau prestasi atau apapun yang baik-baik, rasanya jadi biasa saja, meski sesekali saya mencuri-curi untuk merasa senang dan bangga sebentar saja.

Kita tidak pernah minta dilahirkan melalui orang tua mana maupun hidup dilingkungan mana. Karena kita tidak pernah tahu ada misteri apa dibalik pintu dan jalan yang kita tempuh. Hingga lama-lama saya percaya setiap keanehan, kekacauan, situasi dalam tiap tahap proses hidup menjadi personal immunity (kalau boleh meminjam istilah itu).

Satu hal yang menyelamatkan saya adalah bacaan. Saat sekolah hingga kuliah (bahkan sekarang), tempat “bersembunyi” dari kekacauan mental saya adalah perpustakaan dan toko buku. Datang diam-diam, membiarkan tubuh dan mata terkoneksi pada kebutuhan hati. Setiap buku yang saya ambil dan habiskan biasanya menyembuhkan infeksi pada hati saya. Setiap kata, kalimat dalam quran, buku, komik, majalah, puisi, potongan quote perlahan menumbuhkan kembali ranting-ranting yang terpatahkan satu persatu.

Lambat laun masing-masing akan memahami bahwa setiap proses kejadian yang baik-buruk menjadi imun tersendiri. Tak perlu lagi berharap orang selain diri bersikap seperti yang diharapkan, terus saja bertahan lalu cari jalan yang membuat diri berharga. Itu cukup.

Jadi, simpulkan sendiri lalu tumbuhlah.

Masuk bulan Maret 2021, artinya sudah setahun kita semua mengalami masa pandemi yang panjang. Membiasakan diri memangkas kegiatan keluar rumah, tidak mudik saat liburan dan hari raya menjadi pilihan yang harus dilakukan. Sehingga kita semua "dipaksa" mencari jalan keluar, memaksimalkan perangkat yang ada untuk tetap berkegiatan, berkarya, bersilaturahmi, menggerakan roda ekonomi dengan fasilitas yang ada.

Saat melewati masa pandemi, berkegiatan di rumah saja menjadi situasi yang tidak normal, tentu saja demikian. Tapi buat kami yang sudah lama memutuskan segala kegiatan berpusat di rumah saja menjadi situasi yang cukup mudah. Saya pribadi tidak terlalu kaget ataupun berat menjalaninya. Hanya saja agak sedikit waspada ketika memutuskan belanja dan kontrol ke rumah sakit. Paling kesal kalau ingin jalan-jalan tapi tidak bisa ujug-ujug dan seenaknya seperti biasa. Karena memutuskan keluar rumah betul-betul harus dipertimbangan jarak, tempatnya sepi, bersih, masih banyak pohon.



Hampir 2 tahun tidak silaturahmi ke keluarga besar Ayah di Kadupandak Pandeglang. Terakhir pulang pas Idul Fitri tahun 2019 lalu, masuk bulan Maret 2020 negara Indonesia terpapar pandemi covid 19 juga. Alhasil, 2 tahun kami tidak silaturahmi ke Pandeglang.

Meskipun ingin dan kangen suasana Pandeglang, memutuskan untuk pulang ke kampung halaman Ayah menempuh 5 jam perjalanan, melewati berbagai kota (meski lewat jalan tol), banyak yang saya pertimbangkan. Sampai akhirnya kami merasa oke dan yakin untuk menempuh perjalanan dan beberapa hari tinggal di rumah Bunde-panggilan nenek di Banten.

Sekian lama, akhirnya, 11 Maret 2021, kami pulang perdana mudik ke Pandeglang ditengah pandemi. Tadinya yang pulang hanya Ayah saja menggunakan bis, karena memang ada urusan yang harus diselesaikan. Tapi saya khawatir ada apa-apa di jalan. Saya masih belum bisa lepas membiarkan dia pergi sendiri terutama kalau harus keluar kota. Karena Bi Neng-adik Ayah-mengirim Kang Asep untuk menjemput Ayah pulang menggunakan mobilnya, kami pun akhirnya bisa pulang. Senang sekali!


Suasana langit sore perjalanan di jalan tol Bandung-Serang
Foto: Ima. Maret 2021

Ya, selama ini kami biasanya pulang pakai bus, namun masa pandemi seperti ini belum berani naik kendaraan umum terlebih melakukan perjalanan antar kota. Apalagi Bandung kota yang kami tinggali ini banyak warga terpapar covid. Saya fikir selama ini mending tidak pulang itu demi keamanan bersama.

Yeah! Ditengah perasaan senang dan khawatir, saya senang bisa melakukan perjalanan antar kota lagi. Kangen suasana yang adem, pepohonan, gunung, sawah, suara ramai ngaji anak-anak santri, orang-orang yang conggah-saling tanya-, ramai suara binatang saat masuk magrib hingga malam. Subuh hari Bunde yang sudah menghangatkan dapur. Dan meneguk air kelapa yang dipetik langsung dari pohon kelapa depan rumah sebelum jam 11.00 pagi, ini enak dan seger banget. Ingat ya, katanya kelapa yang dipetik sebelum jam 11.00 pagi, rasanya lebih segar dan manis.

Sebelum kami pulang, cukup sering saya mengingatkan anak-anak dan juga Ayah untuk tetap bermasker, bawa handsanitizer dan tisue basah kemana-mana. Jangan tanya sepanjang perjalanan, tak berhenti doa, dzikir minta sehat, minta selamat, tetap sehat dan terutama tidak terkena virus itu. Ikhitar menyiapkan perlengkapan obat, vitamin, handsanitizer, tisue kering-tisue basah, sabun, masker, diberi porsi lebih banyak.


Suasana pesantren Darul Iman Kadupandak Pandeglang.
Foto: Ima. Maret 2021

Lokasi rumah keluarga Ayah itu jauh dari kota, daerah pegunungan dan ada pesantrennya. Meski perkampungan, banyak pepohonan dan pesawahan, sekarang ini penduduknya sudah semakin padat. Pola kehidupan disana, banyak yang merantau ke Jakarta,Depok, Tangerang untuk mencari nafkah lalu membangun rumah di kampung halamannya. Meskipun semakin banyak penduduknya, segala aktivitas masih biasa. Kecuali kalau harus pergi ke kota, mereka tetap menjaga dengan menerapkan protokol kesehatan yang berlaku.

Begitupun ketika pesantren mulai diaktifkan kembali, setiap santri yang masuk ke lang pesantren harus tes dulu dan melalui karantina sebelum masuk mondok sebagai upaya preventif. Beda dengan sekolah dasar negeri, tetap memberlakukan anjuran pemeritah untuk sekolah jarak jauh.

Memahami situasi ini, saya sendiri berusaha tetap mematuhi protokol kesehatan. Tidak bersentuhan ketika harus bersalaman, tetap menjaga jarak, tidak menyentuh dan menggendong anak kecil. Meski rada kagok dan saya juga sedikit merasakan ada beberapa yang kurang nyaman. Karena kehidupan sosial disana biasa saja, tidak menggunakan masker, tetap ada hajat nikahan, berbagai aktivitas kerumunan lainnya berjalan biasa saja. Meskipun begitu, karena saya dari luar kota, mau tidak mau tetap memutuskan 3M dan berusaha tidak menyentuh anak kecil maupun menggendong mereka. Itu saya lakukan demi keamanan bersama. Saya seperti elien sih (hahaha...) tapi ya bae lah, lanjut saja bermasker, kemana-mana bawa handsanitizer, dan seterusnya dan seterusnya.

Kami pulang ke Pandeglang, tepatnya di Kampung Kadupandak memberi nafas segar setelah berbulan tidak menghirup udara bebas tanpa bermasker. Eh, katanya tadi tetap bermasker sekarang tidak bermasker. Ya, kami tetap bawa masker, tapi begitu jalan ke sawah dan kebun, begitu ada orang lain, kami segera pasang masker kembali. Jalan melewati pematang sawah, berjalan di atas tanah, di bawah langit dan awan tanpa masker itu rasanya luas...
Selama ini sering lupa betapa berartinya udara bebas dan pertemuan dengan orang-orang tersayang. Pandemi mengingatkan untuk semakin dekat, mengenal, menerima lebih dalam pada yang terdekat.


Domdoman kesukaan Bayan.
Tanaman wajib petik kalau pulang ke Kadupandak adalah main domdoman.
Foto: Ima. Maret 2021

Anak-anak sudah lama merindukan suasana seperti ini. Jadi mereka berburu domdoman (ilalang), kodok, siput, melihat petani yang sedang panen, melihat lebih dekat proses pembuatan nasi yang selama ini mereka makan. Jalan kaki dari rumah Bunde ke sawah di Cakur sangat dekat, pelan kami berjalan, menikmati setiap yang dilewati. Rumah-rumah, pepohonan, jalanan, pertemuan. Ada rumah tempat jemur dan penggilingan beras, mengingatkan saya pada suasana Cigondewah tahun 1980-an. Sawah yang menghampar, air selokan jernih dan riuh, bunyi pepohonan bambu yang tertimpa angin. Benar-benar membangun mimpi. Akankah kami tinggal di sini. Membangun rumah, galeri, berkarya, diantara kebun dan sawah.
Setiap pagi Kak Dede dan Bi Neng menelepon agar sarapan dirumahnya. Dia membuatkan roti pitta lengkap dengan cocolan khas makanan Mesir. Kami menyeduh kopi, sengaja kami bawa kopi Sunda Hejo serta alat seduh dari Bandung. Kami datang setelah mandi agar segar. Karena setelah itu biasanya akan main ke tengah lapang rumput lalu jajan.

Rumah Bi Neng ini nyaman tinggal nyebrang saja dari rumah Bunde. Ruang tamu dibiarkan menggunakan karpet, karena rumah mereka pun sering dipergunakan untuk rapat dan berbagai urusan pesantren. Segala urusan langsung dan ritme pesantren dikelola dan diputuskan langsung oleh mereka berdua dan Kak Ola-adik Ayah. Hebat, ya. Tentu saja mereka mampu melewatinya, karena selain lama hidup di pesantren, juga sama-sama menggali ilmu di Mesir dan Tunisia. Namanya mengurus ritme organisasi maupun lembaga pendidikan, sudah menjadi makanan sehari-hari.

Hari Sabtu, adik dan kakaknya Ayah datang bersama keluarganya. Teh Embay sekeluarga datang dari Serpong, Bi Ade sekeluarga datang dari Tangerang. Begitu mereka datang, kami ziarah dulu ke makam Abah- Kyai Aminudin Ibrahim. Makamnya di belakang Pesantren Darul Iman, hanya melewati lapang rumput diantara pesantren, menyusur jalan kecil di belakang pesantren, kami pun sampai. Sambil berjalan saya merasa waas dengan proses Abah membangun pesantren ini sehingga bisa membangun peradaban pendidikan dilingkungannya.




Meski hanya sehari kami bisa bertemu bersama, kesempatan itu makan bersama nasi kebuli, ikan bakar, cumi-cumi dan berbagai panganan yang istimewa di rumah Bi Neng. Kerinduan dilengkapi oleh Kak Udong dengan membelikan kami setumpuk durian. Kami makan sama-sama di rumah Bunde. Sayang sekali, anak kami belum menyukai durian karena wanginya yang cukup kuat.

Pertemuan yang mahal. Ya, tentu saja mahal, karena hampir 2 tahun terhalang oleh situasi pandemi yang tidak juga berakhir. Saat memutuskan pulang tidak berharap apapun, bisa bertemu lagi kembali ditengah pelbagai pemberitaan kesehatan, membuat saya banyak bersyukur kita semua bisa bertemu kembali dalam keadaan sehat. Apapun masalah masing-masing, bisa kembali bertemu dalam keadaan sehat itu rasanya luar biasa.

Kami tidak bisa berlama-lama disana, Ayah harus kontrol lagi. Mobil Neng-Si Iteung-siap membawa kami kembali pulang. Perjalanan juga pertemuan, membekali kami untuk terus memelihara dan membangun mimpi. Tentang hidup dan cinta.

Ima. Hari kedua bulan Ramadhan 2021


Bolu Cinta Siliwangi hadir memperkaya kuliner di masyarakat kita.  Ini karena Indonesia memiliki tanah yang subur dan individu yang kreatif.  Sehingga menumbuhkan beragam sumber pangan yang dapat menghadirkan beragam cita rasa.  Cita rasa ini seringkali mencairkan perbedaan hati dan pikiran, meredakan diri lalu muncul inspirasi.


Beberapa bulan ini saya dan Ayah lagi asik sekali nonton drama Korea. Serial yang kami pilih biasanya cerita dengan latar kerajaan era Joseon. Kebetuan kami berdua suka nonton gendre drama dan action film Indonesia, film Amerika, film festival, film dokumenter dan sekarang film-film Korea. Untuk menikmatinya, biasanya suasana suka di-setting sedemikian rupa terutama menyediakan konsumsi seperti pisang goreng, mie rebus, keripik, bolu, atau camilan semacamnya, lalu kopi tentu tidak ketinggalan. Biar nyaman dan asik.

Ditengah seri kesekian drama yang kami tonton, saya dapat kabar dari kawan kalau tanggal 7 Februari 2021 Bolu Siliwangi mengeluarkan bolu dalam bentuk cinta. Saya suka Bolu siliwangi karena rasa lokal olahan modern.  Perpaduan budaya yang menghasilkan bolu yang penuh cita rasa.  

Bolu cinta ini bentuknya menggoda sekali, seperti Bolu Siliwangi berbentuk persegi panjang, harganya terbilang terjangkau.  Bisa dipesan lewat aplikasi Bolu Siliwangi dan free delivery pula. Jadi, biar suasana rumah terasa lebih beragam, asik dan penuh cinta, jadi saya pesan bolu cinta biar suasana rumah terasa beda.

Sesuai harapan, begitu Bolu Cinta Siliwangi tiba di rumah, anak-anak senang sekali melihat bentuk bolu yang unik dan rasanya yang penuh di mulut. Manisnya pas, tebal dan lumer isiannya. Anak-anak semangat, wajahnya sumringah, melahap terus menerus. Sementara suami saya langsung seduh kopi Sunda Hejo tanpa gula, sementara kopi saya tambah cream dan gula. Suasananya pas sekali dinikmati sambil nonton drama korea, kebetuan lagi nonton drama Shine or Go Crazy, karena kami sedang suka sekali dengan gaya akting Jang Hyuk. 




Saat saya menikmati kopi dan Bolu Cinta, saya ingat penjelasan seorang pecinta kopi. Katanya, yang membuat lambung kembung itu bukan kopi tapi kue penyertanya seperti bolu, brownies. Kebetulan saat itu saya melahap Bolu Cinta Siliwangi rasa brownies cokelat sambil menyeruput kopi. Buat lambung saya yang sensitif, ternyata perut saya tetap nyaman menikmati kopi dan bolu cinta secara bersamaan. Rupanya kawan saya bilang, bolu ini tidak mengandung bahan pengawet. Sangat menyenangkan.

Kemudian saya baru ngeh kalau bulan ini adalah bulan cinta, semacam waktu yang tepat untuk merespons orang-orang tersayang. Bolu Siliwangi menghadirkan bolu karakter dengan tema Bolu Cinta. Unik sekali. Bolu berbentuk hati dengan beragam rasa. Karya terbarunya ini menarik, karena bisa jadi ide buat kita untuk saling berkirim rindu dengan mengirim Bolu Cinta kepada orang tersayang. Karena bentuknya mewakili hati, kemasannya menarik, rapi dan harganya pun sesuai berbagai segmen sosial. Tak hanya itu,ukurannya banyak pilihan, ada yang berisi 4, 8 dan 12 bolu cinta. Secara visual menarik dan berkesan eksklusif untuk berkirim makanan. Jadi kita bisa mengirimkan Bolu Cinta disesuaikan dengan kondisi.

Saya fikir berkirim Bolu Cinta saat ini jadi momen yang tepat untuk menambal momen berbagi rasa dengan orang-orang tercinta.  Terlebih ketika kita semua kehilangan kebersamaan saat virus corona melanda berbagai daerah secara cepat bahkan menyeluruh hampir tiap pelosok Negara mengalaminya. Sehingga kesempatan bertemu muka maupun saling mengunjungi menjadi serba dilematis dan was was. Sebagai alternatif, komunikasi dan beradu rindu pun menggunakan media online. Hanya saja komunikasi seringkali belum merasa terpuaskan jika belum makan dan foto bersama. Ketika saya lihat bentuk, kemasan dan rasa dari Bolu Cinta ini,rasanya sangat pas untuk dikirim ke mereka yang kita sayang untuk mewakili rasa rindu. 

Belajar pada ibu mertua (Bunde) yang tinggal di Kadupandak Pandeglang, kami biasanya suka saling berkunjung dengan membawa buah tangan. Tidak hanya pada hari raya dan liburan sekolah, namun menyempatkan beberapa bulan sekali untuk pulang bertemu muka lalu jalan-jalan ke pantai. 

Kali ini hampir setiap bulan Bunde mengirim camilan khas buatannya sendiri, diantaranya keripik pisang, rengginang mentah,dan beberapa pisang tanduk hasil kebun. Tak hanya itu, ada pula camilan anak-anak seperti cokelat, permen, dan balon. Cara ini kerap dilakukan Bunde untuk menyampaikan rindunya pada anak dan cucunya. Bisa jadi sederhana namun rasanya begitu mewah dan menghangatkan hati. 





Menyampaikan rindu bisa dengan berbagai cara, salah satunya saling berkirim seperti yang dilakukan oleh Bunde. Cara ini dapat memelihara cinta. Cinta kerap memberi kekuatan hidup. Bergerak, melangkah beradaptasi pada perbedaan dan perubahan. Cinta yang menyatukan perbedaan dan memberi kekuatan pada individu-individu dalam mengatasi satu persatu persoalan. Salah satu cara yang kerap dilakukan dalam budaya kita yaitu saling berkirim. Upaya ini menjadi salah satu langkah untuk merekatkan perbedaan, meredakan kegelisahan dan menumbuhkan semangat.

Dalam situasi pandemic, mau tidak mau harus terbiasa dengan keterbatasan. Tapi bukan berarti terbatas untuk memberi perhatian. Selalu ada solusi dan mengubah cara untuk menyampaikan perhatian. Karena diterima atau tidak diterima, setidaknya kita harus menyadari penuh untuk tidak keluar wilayah maupun masuk ke dalam wilayah yang sedang tinggi angka yang terkena penyakit menular. 

Upaya yang dilakukan oleh Bolu Cinta Siliwangi patut diapresiasi, mereka tidak hanya melayani pembelian secara langsung dengan waktu yang ditentukan. Tapi  kita pun bisa memanfaatkan pembelian Bolu Cinta secara online melalui aplikasi maupun nomor whatsapp.

Ini bulan cinta, saya fikir sangat menarik menuntaskan rindu dengan berkirim Bolu Cinta dan doa. Bolu berbentuk cinta ini mampu mewakili perasaan dan perhatian meski jarak jauh. Masing-masing beraktivitas berjauhan, lebih dari setahun tidak bertemu muka. Namun kebersamaannya hadir saat melahap kiriman  meski berjauhan namun memiliki perasaan yang sama: cinta. 







Dengan menambah modal printer paling bagus untuk cetak foto yaitu HP Deskjet Series 2336, pasangan muda-Toni dan Tini- menyulap ruang tamunya menjadi studio desain dan printing. Berbekal ilmu desain grafis dan komputer miliknya sejak kuliah, mereka mengeksekusi mimpi dengan membuka usaha digital printing. Memaksimalkan aset yang paling ada yang paling mungkin, menjadi awal untuk terus membangun mimpi.

Mereka menata meja dan kursi yang ada menjadi ruang usaha menjadi tampak hommy meski sederhana untuk layanan print sehari-hari. Layanan utamanya membangun studio desain, seperti membuat media marketing, logo, kartu undangan, layout buku. Fase ini menjadi fragmen ruang hidup keduanya memulai usaha digital printing dengan memanfaatkan printer yang multiguna.

Matahari pagi kala itu terasa lebih bening dan cerah dari biasanya, mereka memulai hari membuat berbagai schedule desain. Hari-hari dijalani dengan menyenangkan diantara situasi lingkungannya yang beragam. Begitu hidup, begitu produktif. Beberapa warung nasi menyemburkan wangi rempah, pemilik warung grosir sibuk melayani pelanggan, penjual panganan hangat memberi semangat, begitupun usaha print dan desainnya ikut merayap menjadi bagian kehidupan.

Satu persatu masyarakat setempat mulai datang untuk print foto dengan berbagai macam ukuran. Macam-macam keinginannya, ada yang minta diedit jadi lebih bersih, putih, hingga diberi corak ini itu. Seperti pagi itu, seorang ibu datang ke studio menyerahkan flashdisc sambil menjelaskan keinginannya foto-foto tersebut disusun sedemikian rupa dan diberi hiasan dalam ukuran 8R. Toni mulai mendesain, Tini menyiapkan kertas dan mengecek kondisi tinta printer HP Deskjet Series 2336.

Selesai menentukan foto, menyusun dan mendesainnya, Ibu menunggu dengan tenang sambil memainkan handphone-nya. Hanya menunggu 18 detik saja dengan kerapatan warna 4800 x 1200 dpi, Ibu itu mendapatkan hasil foto dalam bentuk print di atas kertas glossy. Hasilnya bening dan tajam sesuai file. Untuk sentuhan terakhir, hati-hati Tini memberi laminasi agar warna foto awet. Wajah ibu itu terlihat ceria, pulang membawa beberapa lembar foto anaknya yang hendak ia beri pigura.

Pelanggan datang silih berganti, kali ini para remaja dan beberapa mahasiswa memberikan file untuk di print dalam bentuk book fold dan dijilid seperti biasa. Dengan adanya HP Deskjet Series 2336 Toni terbantu karena proses print cepat, warna tinta yang tegas, sehingga pelanggan tak perlu menunggu lama untuk menunggu hasilnya.

Seiring dengan waktu, beberapa pelanggan lain memesan media marketing untuk pameran seni rupa di galeri. Media marketing ini berupa desain yang diaplikasikan dalam berbagai kepentingan marketing. Seperti logo, print proposal, surat-surat, poster, katalog, walltext dan caption karya. Toni dan Tini biasanya memberi 3 alternatif desain dalam bentuk digital dan mockup agar mudah memilihnya. 





Mockup dibuat dari hasil print HP Deskjet Series 2336 agar warnanya jelas mendekati hasil cetak. Selain itu dibantu dengan menggunakan color index CMYK untuk memformulasi warna agar sesuai mesin cetak besar. Panitia penyelenggara pameran senang mendapatkan media marketing dengan hasil yang maksimal. Kesan yang dihadirkan dalam sebuah visual ikut mewakili pesan pameran.

Kebutuhan orang-orang mendapatkan hasil print yang bagus berpengaruh sekali untuk hasil akhir dan memenuhi permintaan pelanggan. Oleh karenanya, Toni dan Tini memilih printer yang multifungsi, kualitas hasil printnya bagus, proses waktu print yang cepat. Selain itu hasil dilihat sumber penyedia bahan bakunya dalam hal ini tinta mudah didapatkan dan kemudahan konsultasi jika terjadi kerusakan. Sehingga produktivitas orang-orang akan lebih lancar, kreativitas dan pekerjaan mereka akan terpenuhi.

Aplikasi digital printing.


Situasi saat ini interaksi secara langsung masih dibatasi akibat pandemi, namun pertumbuhan teknologi komunikasi semakin canggih dan proses yang cepat. Permintaan print dan desain tetap ada, hanya saja komunikasi melalui media digital harus lebih ditingkatkan. Sehingga pelanggan bisa terus berkomunikasi dengan mengirim pemesanan lewat whatsapp, e-mail bahkan aplikasi. Hasil jadi bisa dikirim lewat kurir maupun penyedia aplikasi pengiriman barang. Jadi kemungkinan untuk terus berinovasi dan melakukan strategi usaha selalu ada jalan.

Memulai dan membangun usaha studio desain dan digital printing bisa sangat mungkin jadi solusi usaha dengan memaksimalkan perangkat digital. Perangkat digital ini mulai dari alat print, fungsi penggunaannya bisa cepat dan maksimal untuk mendapatkan hasil instan. 
Perlu juga mengembangkan layanan melalui aplikasi yang terhubung dengan nomor layanan khusus dan surat digital. Upaya ini bisa meringkas waktu dan memaksimalkan komunikasi dengan pelanggan.

Zaman seperti sekarang dengan berbagai fasilitas teknologi menjadikan tempat bukan lagi halangan. Tapi membangun komunikasi dan visual menjadi ruang dialog untuk mendapatkan solusi pelanggan.  Sehingga yang dibutuhkan adalah kreativitas dan keberanian untuk terus mempelajari perkembangan dan terus berkarya.