Hari Alzheimer Sedunia: Menghindari dan Mengobati Pikun

Aplikasi Deteksi Dini Alzheimer

“Yah, wajar lah udah sering banyak lupa lupa, lagian kan umurnya sudah tua.”  Begitu lontaran ringan yang sering terjadi antara teman.  Untuk beberapa orang yang sudah mulai menginjak usia di atas 40, 50 bahkan lebih, pikun ini menjadi situasi yang dikhawatirkan.  Siapa yang tidak mau tetap sehat dan hidup berkualitas di usia senja, rasanya menjadi salah satu keinginan semua orang.  Pasti nikmat jika di usia senja punya dana pensiun, melakukan hal yang asik, produktif dan sehat.   

Amih dan keluarga kecilku.

Aku tinggal bersama ibuku yang sudah berusia 90 tahun, mungkin saja lebih.  Karena seringkali orang tua zaman dulu banyak yang tidak mencatat tanggal lahirnya.  Kemungkinan besar Amih ibu lahir sekitar tahun 1930-an ketika Gedung Baretty dibangun, sekarang kita mengenalnya Villa ISOLA UPI (Universitas Pendidikan Indonesia).   


Berada di usia senja, kualitas hidup Amih cukup baik.  Betul kata hadist Nabi, bahwa kita harus  memelihara hati diri sendiri dan memperlakukan orang tua kita dengan baik.  Rupanya kualitas hati ini berpengaruh banyak pada pemeliharaan syaraf otak.  Hal ini diperkuat oleh para dokter syaraf, bahwa meningkatkan kualitas hidup seseorang itu dengan memelihara hatinya bahagia, melakukan kegiatan yang menyenangkan, rupanya cara ini dapat memperlambat penyakit alzheimer bahkan tidak akan terkena penyakit lupa.


Seringkali kita menganggap sepele dan wajar pada penyakit pikun ini.  Padahal gejalanya berpengaruh pada berbagai pola kehidupan pasien maupun orang-orang disekitar kita.  Bagi orang dalam pikun akan menambah beban fisik , psikologi, stigma dan beban ekonomi.  Tak jarang orang yang terkena alzheimer di usia produktif dapat berdampak pada daya personal tersebut dan menjadi beban Negara. 


Memahami situasi ini, perlu buat kita untuk deteksi dini tanpa memandang usia.  Kini upaya deteksi dini alzheimer dapat menggunakan aplikasi IMS Sahabat.  Aplikasi ini merupakan E-memory screening yang baru saja diluncurkan di acara Hari Alzheimer Sedunia.  Semakin dini terdeteksi potensi alzheimer, semakin berpeluang mencegah kepikunan.


Langkah responsif yang dilakukan oleh PERDOSSI  yang di support oleh PT Eisai Indonesia ini menjadi strategi menarik sehingga patut diapresiasi oleh masyarakat.  Kini semakin banyak masyarakat yang peduli dan mendengarkan kesehatan tubuh dan jiwanya.  Aplikasi IMS Sahabat ini menarik, pemilik akun bisa mendeteksi diri dan orang lain bahkan dapat mendeteksi satu kampung.  Artinya, aplikasi ini tidak hanya digunakan untuk screening pemilik akun, namun bisa membantu saudara, sahabat, tetangga untuk deteksi dini sebagai upaya pencegahan.

 

Mengenal Pikun

Alzheimer ini merupakan penurunan kemampuan kognitif secara berangsur-angsur, sering bermula dengan lupa atau kehilangan daya ingat.  Lupa yang tidak normal ini kita kenal dengan istilah pikun.  Pikun seringkali dikaitkan dengan orang yang sudah tua, padahal bisa jadi terkena pada usia yang lebih muda karena kurang mengelola gaya hidupnya. 


“Jangan ada lagi pernyataan pikun itu wajar bagi orang tua, kita harus sepakati itu.  Karena pikun adalah penyakit yang bisa diobati.”  Ungkap Direktur Keswa Kemenkes-Siti Khalimah (spesialis kesehatan jiwa).


Meskipun pada umumnya orang tua mengidap penyakit alzheimer, saya memerhatikan Amih tidak pikun meski sesekali suka lupa.  Amih pun masih bisa jalan kaki normal meski sudah lambat, bisa merawat diri bahkan masih sering minum kopi dan reaksinya masih bagus ketika ada sesuatu.  Dia masih selalu ingat hari, jam waktu shalat, suka menceritakan masa lalu, analisa masalah masih kuat dan cepat berhitung. 




Menurutku sifat lupa pada Amih masih kategori normal.  Misalnya sesekali lupa pada orang yang sudah lama tidak menemuinya, lupa menyimpan dompet dan printilan lainnya.  Sifat pelupa Amih dan aku tidak jauh berbeda, padahal usia saya jauh dibawah Amih.


Bisa jadi karena Amih sering melakukan aktifitas yang dapat mencegah penyakit pikun, diantaranya:

 M 1.    Menjaga kesehatan jantung
2.       Berolahraga
3.       Rajin mengonsumsi buah dan sayur
4.       Menstimulasi fisik, otak, spiritual
5.       Bersosialisasi dan beraktivitas positif

Meskipun ibuku tidak rajin olah raga, namun beliau orangnya aktif.  Dia selalu bergerak, aktif membuat acara pengajian, suka beres-beres, cepat respon jika ada yang kesulitan, disiplin dalam menjalani hidup sehari-hari, otaknya selalu diolah dan selalu semangat. 


Nah, rupanya teka teki ini terjawab melalui acara Festival Digital Alzheimer Sedunia.  Acara ini menjadi alarm buat kita lebih mendengarkan reaksi tubuh dan jiwa kita.  Karena pikun ini adalah jenis penyakit yang bisa terkena pada siapapun dan beragam usia, seperti yang punya masalah otak (seperti tumor otak) dan kurang nutrisi pada tubuh.  Nutrisi tubuh ini bisa jadi dipengaruhi gaya hidup yang tidak sehat, tidak memerhatikan asupan makan gizi seimbang sehingga berpotensi untuk merusak otak. 


Karena aku punya sifat pelupa,  tadinya merasa khawatir, jangan-jangan aku sudah ada gejala alzheimer.  Tapi menurut dr.S.B. Rianawati, SpS (K) tidak sama antara pelupa dan pikun.  Pikun adalah ketika seseorang butuh waktu lama untuk mengingat atau lupa dengan apa yang mereka lakukan sebelumnya.  Dalam dunia medis disebut demensia, yaitu penurunan fungsi otak seperti menurunnya daya ingat dan kecepatan berpikir serta berprilaku. 


Ini adalah gejala pikun yang mesti kamu ketahui:

1.     1.        Gangguan daya ingat atau sering lupa
2.       Disorientasi, bingung dan sering lupa waktu dan tidak tahu pulang
3.       Menarik diri dari pergaulan
4.       Perubahan prilaku
5.       Sulit melakukan pekerjaan yang familier
6.       Sulit fokus
7.       Kesulitan memahami visuospatial (sulit mengukur jarak dan tidak dapat membedakan warna)
8.       Gangguan komunikasi
9.       Salah membuat keputusan
10.   Menaruh barang tidak pada tempatnya

 

Cara Mengobati Pikun

Aku baru mengerti begitu dr. Junita Maja Pertiwi memaparkan pentingnya deteksi dini alzheimer.  Manusia merupakan makhluk yang mempunyai kelebihan dibanding makhluk lainnya  dari kemampuan berfikirnya.  Menghasilkan cipta, karya, rasa sehingga menghasilkan pelbagai peradaban.


Banyak potensi seseorang akan terhambat jika seseorang terkena alzheimer.  Gangguan ini  akan terjadi perubahan prilaku, seperti:   

1.      1.       Melihat sesuatu tetapi tanpa realita.
2.       Sering  berlebihan tanpa alasan/euforia.
3.       Perilaku yang menyimpang.
4.       Gelisah dan mudah marah
5.       Halusinasi
6.       Depresi
7.       Apatis
8.       Cemas

Agar situasi tersebut tidak bertambah parah, penderita tidak boleh dianggap sepele dan tidak boleh dibiarkan.  Dia harus melakukan diobati layaknya penyakit fisik lainnya.  Upaya ini dilakukan untuk mengurangi gejala alzheimer, memperlambat perkembangan penyakit, membuat penderita dapat hidup semandiri mungkin.  Beberapa penanganan meliputi: mengatasi penyebab pikun, memberikan obat-obatan, terapi stimulasi kognitif, memberikan perawatan paliatif.




Situasi ini mau tidak mau akan dihadapi oleh para pasien alzheimer dan pihak yang merawatnya.  Namun ada berbagai cara berhadapan dengan pasien seperti ini.  Karena gangguan otak ini, maka pasien sering mengangap kita sebagai pengganggu, drama menjadi nyata, takut akan malam hari, wajah asing di cermin, mudah berubah pikiran, momen normal.


Cara menghadapi situasi orang yang kita sayang yang mengalami alzheimer, tentu kita harus lebih sabar dan memahami orang yang pikun dengan banyak cinta dan banyak mengalah.  Bantu dia dalam menyelesaikan masalahnya dan mengatasi ketakutannya. Seringkali dia merasa asing dengan dirinya ketika melihat cermin karena wajahnya terlihat tua sementara dia ingatnya pada wajahnya yang masih muda.  Maka bantulah dengan tidak memasang cermin disekitarnya agar dia nyaman dengan dirinya.


Jika dibiarkan, gangguan otak itu berpengaruh banyak pada sisi kognitif dan prilaku.  Seperti tingkat atensi, konsentrasi, memori, bahasa, orientasi, berfikir abstrak, menilai diri sendiri, berprilaku dan berwawasan/pengertian.  Selain perubahan cara pandang pasien dalam menyikapi hidupnya, sudut pandang masyarakat terhadap pasien pun akan berubah.  Oleh karena, keadaan ini harus di support oleh lingkungan terdekat, keluarga maupun sahabat agar jiwa pasien tetap terpelihara.

0 komentar:

Post a Comment

Silakan meninggalkan komentar Anda. adv