Hasil Karya Berkarakter Tercermin Dari Hidup Apa Adanya


Berkarya, ikuti kata hati, jadi diri sendiri.
Foto: Ima, 2019

Saya selalu merasa jalan hidup setiap orang unik sesuai kondisi zaman. Berkelok-kelok dan penuh “kejutan”. Salah satu keunikan itu kerap  dipertemukan dengan orang-orang yang berani menjalani hidup apa adanya, berkarya dan berekspresi tanpa kepura-puraan. Kenapa berani? Karena orang-orang yang berani menjalani hidup apa adanya, biasanya mereka punya karakter, visi yang jelas, state of mind, selalu berkarya pada bidang yang disukainya, berekspresi tanpa kepura-puraan dan tanpa syarat ketentuan. Mereka adalah orang-orang yang berani hidup dan berkomitmen pada pilihan hidupnya.

Perlu diakui, tidak semua generasi muda tahu pilihan hidup yang diinginkannya apa. Mudah goyah dan kerap menciptakan ruang hidup yang mudah diterima oleh lingkungannya. Sehingga berkesan terburu-buru dan instan dalam berkarya, hasilnya pun tidak sesuai dengan pribadinya. Apalagi zaman media sosial seperti sekarang ini, banyak yang memanipulasi diri, penuh kepura-puraan, mendapatkan follower palsu untuk menciptakan hidup semu. Padahal setiap orang punya potensi yang beragam dan masing-masing bisa menciptakan karya sesuai kapasitas. 

Jadi diri sendiri dan nikmati setiap momen.
Foto: Cholis


Di era media sosial, setiap orang seolah berburu pengakuan. Perlu diakui, mendapatkan pengakuan dari teman-teman di jejaring media sosial itu menyenangkan. Sayangnya, tak sedikit orang-orang membuat pencitraan tanpa kapasitas diri yang sesungguhnya. Pencitraan dalam frame tertentu memang dibutuhkan, namun kondisi ini akan menjebak diri sendiri jika tidak sesuai kapasitas, melakukan kepura-puraan, banyak basa basi, ada modus, bahkan mendapatkan follower palsu untuk tujuan tertentu.

Era sekarang adalah era keterbukaan informasi yang tanpa tedeng eling-eling. Semua permasalahan bisa ditelisik dan bisa ditelusuri dengan mudah jejaknya. Hal yang harus disadari sepenuhnya bahwa setiap orang bisa menjadi apreasiator, komentator yang artifisial atau jujur dalam menyikapi karya kita. Lebih jauh lagi kumpulan komentator ini ketika bersatu bisa saja menyebarkan “petisi” untuk menjatuhkan siapapun. Mungkin itulah netizen, ruang yang samar tapi ada.

Oleh karena itu, sangat penting jujur menjalani, mengasah dan mempelajari bidang yang kita minat agar menghasilkan karya-karya yang punya karakter. Selain itu, kita mesti memahami pola komunikasi di ranah media sosial agar mental tidak mudah patah ketika menghadapi iklim tuntutan dan pencapaian orang-orang sekeliling kita. 


Jalani pilihan hidup yang kita minati dan jangan berhenti.  Lihatlah, satu persatu setiap pintu akan terbuka menuju jalan yang tidak disangka-sangka sesuai kapasitas diri.

Mungkin kamu merasa, saat ini bidang yang kita jalani seolah kecil dan tidak bermakna.  Tapi suatu hari kita akan mengerti, bahwa hari ini dipersiapkan untuk sesuatu yang lebih besar. Mungkin bukan besar, tapi berharga dan memberi ruang penuh di hati: bahagia dan rasa tenang.  Kita tidak tahu ada perubahan zaman apa di masa depan, berkaitan dengan sosial, budaya, politik, bahkan kondisi alam yang bisa berpengaruh pada kehidupan sosial. 

Wall text pertama untuk sebuah pameran di Galeri Pusat Kebudayaan.
Foto: Cholis, 2019


Tahun 1996 ketika media informasi masih terbatas, banyak pilihan profesi yang sepi peminat namun kini punya ruang hidup, dinamis dan membuka banyak kesempatan yang menjanjikan. Seperti profesi penulis, pelukis, wartawan, photografer, pemain teater, pemain longser, pembuat film, musisi dan bidang kreatif lainnya. Jangan tanya pembuat iklan, saat itu masih terbatas dan rumah produksi pun hanya dikuasai oleh beberapa kalangan. Karena saat itu orang yang menguasai seni kreatif banyak yang belajar di luar negeri, karena di Indonesia tidak ada sekolah yang memfasilitasi bidang studi seni kreatif yang bisa diterima oleh industri seperti sekarang.

Namun saat itu, muncul orang-orang yang tangguh, terus belajar meskipun otodidak sehingga menghasilkan karya-karya yang menarik. Meski bidang yang mereka pilih menjadi golongan minoritas dikalangan masyarakat. Energi itu rupanya menciptakan jejaring kelompok kecil yang membuat pola “belajar” dengan ruang diskusi namun kaya energi yang melahirkan karya-karya keren dari orang-orang yang punya dedikasi tinggi. Karya dan gerakannya kerap hadir, tumbuh dan menumbuhkan meski saat itu hanya dinikmati dan fahami oleh kalangan terbatas. 



Sebuah acara Festival Reader Festival yang lahir
sekelompok minoritas komunitas yang cinta pada dunia literasi.
Foto: Ima


Sehingga sekitar tahun 2000-an, muncul komunitas-komunitas kecil yang terus bergerak dan memberi nafas pada kaum minor.  Saat itu perlahan muncul penerbit buku indie, mereka (para penulis) menerbitkan buku sendiri mulai dari menulis, editing, cetak hingga distribusi yang disebarkan melalui jaringan terdekatnya. Biasanya buku ini disebar melalui jejaring tertentu. Lalu muncul zines/majalah kecil yang diproduksi dengan di foto kopi. Saat itu dikeuarkan oleh komunitas sebagai upaya mendokumentasikan gerakan, campaign, maupun aktifitas yang dilakukan untuk visi sosial, perdamaian, DIY, dll. Muncul juga film indie dengan durasi sekitar 15 menit yang bisa dinikmati di ruang-ruang galeri, komunitas maupun ruang budaya. Pertunjukan-pertunjukan kecil pun kerap menghangatkan tiap sudut penikmatnya, mulai dari longser, monolog perempuan, performance art hingga pertunjukan-pertunjukan yang kerap menghangatkan gedung pertunjukan.

Gerakan dan langkah-langkah kecil terus dipelihara oleh orang-orang ini, percaya pada bidang yang dipilihnya akan terus hidup, bergerak apa adanya sehingga lahir karya-karya jujur yang inspiratif dan memberi energi lebih. Energi ini agak sulit diterima lingkungan masyarakat kita, namun berdasarkan bergerakan waktu dan jiwa yang terus berkarya dan percaya pada apa yang dilakukannya, langkah ini dapat menembus jejaring antar negara yang mempunyai visi dan perhatian yang sama.

Saat itu bidang studi yang minoritas begitu sulit dimengerti pola kerjanya oleh orang-orang terdekat kita. Baik oleh keluarga, saudara, teman bahkan tetangga. Karena kita mudah menerima pekerjaan maupun hasil karya dengan pola-pola kerja yang hitungan penghasilan yang jelas dan waktu kerja tetap. Ketika pola kerja dan pendapatan hasil kerja tidak jelas dengan waktu kerja tidak menentu, terlalu sulit meyakinkan orang terdekat bahwa bidang yang dipilih bisa menjamin hidup kita. 

Karya jujur mudah menyentuh hati.  
Foto ini di sebuah pameran di Galeri Nasional Jakarta
Foto: Cholis, 2018

Namun percayalah ketika kamu menjalani hidup apa adanya lebih fokus berkarya maka semesta akan mendukungmu. Saat ini mungkin kamu akan merasa sendirian. Suatu saat nanti, semakin diselami bersama proses dan berjalannya waktu akan banyak pintu yang akan membawa karya kamu pada orang-orang yang tepat.

Zaman sekarang bergerak begitu cepat, berbeda dari 20 tahun yang lalu dimana proses efek domino pencitraan diri maupun karya bergerak begitu lamban. Sejak adanya internet dan maraknya berbagai aplikasi media sosial, siapapun menjadi sangat mungkin bergerak menciptakan diri atau mengekspresikan diri tanpa kepura-puraan.  Dengan sendirinya karya yang berkarakter dan jujur, akan mendatangkan followers yang mengapresiasi karya kita dengan tulus dan suka rela.  Kita bahagia mengerjakannya, followers pun senang dan menanti karya/postingan selanjutnya.  Jadi, setiap karya akan bertemu tempatnya.

Tulisan ini terinspirasi dari tema yang digaungkan oleh IM3 Ooredoo untuk anak-anak muda sekarang. Tidak mudah menjadi diri sendiri di tengah iklim pencitraan dan selera umum. Padahal setiap anak muda itu unik dan harus berani mengungkapkan identitas diri apa adanya sehingga karya-karya yang dihasilkannya pun terasa jujur, beragam dan unik. Seperti yang bisa kamu lihat di link ini:







Video art ini menarik sekali, sangat berenergi. Seolah ingin mengajak generasi muda lebih mengenal diri sendiri lalu berani mengekspresikan dalam karya dan menikmatit prosesnya.


Zaman sekarang beragam kemudahan fasilitas yang tersedia, karya bisa terhubung ke berbagai titik dengan menggunakan media layanan telekomunikasi yang simple, bebas syarat ketentuan berlaku seperti Freedom Internet. Media telekomunikasi menjadi bagian yang penting dan tak terpisahkan. Agar karya-karya kita mendapat perhatian luas, sangat penting memilih media telekomunikasi yang tepat agar lebih produktif.

Banyak hal yang bisa kita manfaatkan dengan jaringan internet diantaranya kita bisa mendapatkan informasi yang sesuai dengan kebutuhan karya, jejaring yang tepat hingga proses komunikasi dengan berbagai komunitas yang bisa saling support dan memajukan satu sama lain.


Teruslah berkarya sesuai kata hati, berani hidup apa adanya, kelak karyamu akan menemukan tempatnya sendiri.

Ima, 2020

10 Comments

  1. Kusuka banget videonya yang memberikan informasi tapi nendang banget langsung ke ulu hati, kuy ah jalanin hidup apa adanya.
    Mari berkarya sesuka hati dibidangnya masing2, bener banget ima bakalan menemukan tempatnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, teh, menjalani hidup apa adanya membuat hati nyaman, dengan sendirinya akan melahirkan sikap yang tulus.

      Delete
  2. Jujur menghasilkan kebersihan hati tanpa tipu2 tanpa pura2 ya teh..salfok.sama baju kuning kok jd mirip si eneng banding diary..xixixi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hahahaaaaa... eneng kw 2 Teh Idaaaa.

      Delete
  3. Selalu mengispirasi Teh 😁👍

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aih, nuhun, Kang Sugeng. Sehat-sehat, yah.

      Delete
  4. Aduh, mengisnpirasi sekali. Tetap jadi diri sendiri ya. Salam kenal.

    ReplyDelete
  5. Adem banget blogpostnya berasa berkaca pada diri sendiri, dulu awal umur 20an bingung sama tujuan hidup, kadang juga merasa minder, apa yg dilakukan kok kayaknya nggak se-wow teman-teman

    ReplyDelete
  6. Kalo kita percaya diri sendiri, semesta akan mendukung ya. Nice banget :)

    ReplyDelete
  7. Tetap berkarya dan jadi diri sendiri ya mbak, semangat

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan komentar Anda. adv