Tentang Rezeki #dirumahaja


Tentang #dirumahaja #lockdown atau apapun itu.  Saya pernah menjalani itu selama 5 tahun.  Ya, kurang lebih selama itu lah.  Jangan bilang hebat, karena engga hebat-hebat amat, payah sebenarnya.  Saya sampe kena psikosomatik yang berefek ke lambung.  Udah lama pengen bikin status ini, tapi cari tuturan yang tepat biar tidak berkesan heroik atau tampak soleh 🤪😅.  Engga gitu.  

Saat awal suami sakit berhari-hari, berminggu eh ternyata berbulan lalu bertahun-tahun, rasanya semua pintu-pintu rezeki tertutup. Lockdown aslina.  Saya engga bisa kemana-mana, harus ngurus suami dan anak-anak tapi kebutuhan bertambah banyak. Edun, lieur pisan, dilematis aslina.  

Efek benda yang menempel di syaraf otak kiri Ayah ini bikin semua fungsi fisik Ayah engga bisa beraktifitas lagi menjadi seorang desainer grafis. Engga boleh deket sama laptop, handphone dan bersosialisasi. 😅 Lockdown dumay dan nyata!

Mengganti fungsi Ayah untuk kerja keluar rumah pun tidak mungkin, karena suami dan anak-anak hanya bisa diurus langsung oleh saya.  Sementara saya harus mencari celah aliran rezeki materi yang bisa dikendalikan dari rumah: celah itu dapat! Meneruskan hobi saya menulis di blog dan meng-optimasi fungsi media sosial jadi salah satu kesempatan saya paling mungkin dikerjakan.  

Apa memenuhi kebutuhan rumah tangga dengan kondisi suami yang kebutuhan medisnya tidak terprediksi dari pemasukan aktivitas menulis? Engga juga, sebagai penulis blog biasa-biasa ini juga udah uyuhan pisan lah bisa bertahan.  




Ketika pada titik berhenti berharap pada manusia, kami kerap di supply langsung oleh Allah melalui pintu-pintu rezeki yang tidak diduga-duga.  Allah selalu menggerakan hati yang dikehendakiNya disaat yang tepat untuk menjadi jalan dan memudahkan jalan kami di tengah kesulitan.  Banyak keindahan yang saya lihat dari sudut ini. Eh, iya, Allah teh deket pisaaaan. 

Iya, saya tetap ikhtiar denan menulis, tetap jualan, tetap ngurusin berobat sana sini, tetap mengurus urusan domestik rumah tangga yang berlapis-lapis, kalau berdasarkan perhitungan manusia, rezeki materi/pemasukan seringkali memenuhi kebutuhan bulanan yang jumlahnya sering tidak terduga.   Bahkan jauh lebih besar dari upaya kami dulu  yang kerja siang malam waktu sebelum sakit.

Setiap saya memulai hari (bikin obat, ngasih obat, beberes, masak, dll), mulai menulis, membuka medsos dengan niat shadaqoh, bekerja, minta jadi berkah, mendapat ilmu yang bermanfaat, dan segala niat baik lainnya, Allah seringkali "membayar"/memberi gaji dari upaya itu lewat cara-Nya yang engga bisa diterima oleh logika kita sebagai manusia, tapi sangat mungkin dilakukan oleh Allah.  

Kejadian yang super bikin shock ini rupanya melatih saya berhenti berharap/meminta terhadap siapapun bahkan terhadap diri sendiri dan suami.  Meski kondisi mental ini naik turun, tarik ulur.  Ketika kegelisahan itu muncul karena tubuh saya capek, mental kacau, hingga kurang uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang menipis, harus keluar masuk rumah sakit tiap bulan, melakukan perjalanan antar kota, yang saya lakukan adalah bilang langsung sama Allah. 

Iya, bilang, ngomong langsung, curhat seperti yang sedang berusaha pinjem uang ke seseorang atau sedang curhat ke seseorang atau seperti yang curhat ke teman ketika hati kita disakiti seseorang.  Kalau sedang insyaf, saya sering terbangun oleh kalimat ini, bahwa Allah itu lebih dekat dari urat leher. Dekat sekali.  

Apa dengan menuntut/berharap kebaikan manusia akan jadi solusi?  Engga selalu jadi jalan keluar, malah nambah beban hati dan menumpuk pikiran ketika mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan kita.  

Duh, saya ngomong apa sih?  Intinya, ditengah pandemi yang bikin aktifitas kita jadi terbatas secara fisik, lakukan apa yang paling kita bisa, lakukan saja tanpa banyak perhitungan, kalau mulai berhitung cepat sadar, lalu lepaskan segala urusan sama Allah, semua kejadian ini atas izin Allah kok.  Pasti ada hikmahnya, pasti ada sesuatu yang baik bagi kehidupan kita.  Jadi biarkan Allah ngasih rezeki dengan caranya dan biarkan Allah memberi ruang rahmat dengan caraNya.

*efek hujan, secangkir kopi dan iteawon class 🤪🤣

0 Comments