Dari Cinta Ati Sriati Pada Nada Untuk Generasi Penerus



Usia 72 tahun bagi Ati Sriati seolah hanya sekadar angka. Karena di usianya yang terbilang tidak muda lagi, membuat beliau tetap produktif berkarya di dunia seni dan budaya. Alunan suara soprano memenuhi ruang. Tiap nada menari-nari seolah melipat garis-garis senja. Suara lengking dan gurat-gurat matang dalam setiap fibrasinya memberi energi dan imajinasi personal pada setiap penonton. 

Hari Minggu tanggal 3 November 2019 lalu, di tengah udara dingin Bandung IFI begitu ramai oleh pecinta musik klasik atau bahkan pecinta Ibu Ati (panggilan akrab Ibu Ati Sriati). Pertunjukan Konser Amal malam itu menarik dengan tajuk Nada-Nada Nan Tak Bertepi rupanya menjadi magnet dan menyentuh hati pecinta musik klasik, selain menikmati musik penonton pun tergerak melakukan amal.

Melalui kecintaannya Bu Ati pada seni ini, memberi jalan menggerakan masyarakat melakukan penggalangan dana untuk membantu Pusat Pengembangan Potensi Anak (PUSPPA) Surya Kanti Bandung. Lembaga ini merupakan badan sosial non-profit yang bergerak di bidang kesehatan anak, khusus bidang deteksi dan intervensi dini pada anak 0-5 tahun yang mengalami gangguan kesulitan belajar sehingga dapat meningkatkan potensi anak. Kegiatan utama PUSPPA Surya Kanti ini diantaranya melakukan sosialisasi konsep, seminar bagi orang tua dan penyuluhan bagi tenaga TK juga kelompok bermain.

Kita mengetahui Ibu Ati merupakan salah satu tokoh pemain teater perempuan yang aktif dan kerap menghidupkan pertunjukan-pertunjukan teater. Di bawah Studi Klub Teater Bandung (STB), beliau menjadi energi dan memberi daya lebih memelihara seni-budaya di tengah kehidupan masyarakat. 



Seni teater memiliki ikatan yang intim dengan seni musik. Seseorang pernah mengatakan bahwa seni teater adalah seni ‘rakus’. Karena ketika kamu berada di lingkungan teater, kamu akan mempelajari berbagai unsur kesenian agar menjadi satu pertunjukan panggung yang utuh. Semua unsur seni hadir, mulai dari kebutuhan make up, kostum, musik, pencahayaan, artistik, hingga kekuatan vokal-jiwa-tubuh akting si-aktor.

Dalam pertunjukan konser musik klasik yang dibawakan oleh Bu Ati, penonton mendapatkan kenikmatan semua unsur panggung itu. Kerjasama konser Bu Ati dengan Main Teater menjadi satu kesatuan kemasan pertunjukan musik yang indah. Setiap satu lagu ke lagu yang lain memberi kisah dan membawa imajinasi penonton dari satu ruang menuju ruang emosi yang berbeda-beda. Karena setiap sesi penyajian lagu, dilengkapi dengan tampilan multimedia, pergantian artistik pada setiap lagu dan pencahayaan yang membuat energi panggung menjadi berenergi. Sehingga penonton mendapatkan panggung pertunjukan musik yang berkisah.

Kesetiaan dan konsistensi Bu Ati pada musik klasik selama puluhan tahun patut mendapat apresiasi dan dukungan berbagai pihak. Prestasinya sejak remaja sebagai bintang radio dan televisi zaman ’70-an masih terjaga ketika saya mendengarkan setiap lagu yang dibawakan sebanyak 13 judul. Seperti mendengarkan satu buah album dalam satu momen dan merasakan langsung lagu-lagu yang dibawakan tanpa mixing maupun editing.

Dalam beberapa lagu, Bu Ati tidak tampil sendiri. Beliau duet dengan penyanyi yang serius mempelajari seni pertunjukan musik klasik di Belanda. Dengan suara tenornya, Farman Purnama kolaborasi dengan Bu Ati membawakan lagu Un Di, Felice, Eterea (Giuseppe Verdi) kemudian All I Ask of You (musical The Phnatom of The Opera-Andrew Lloyd Webber) dan Musica Proibita (Forbidden Music-Stanislao Gastaldon).

Bagai lengkingan burung kutilang, suara Bu Ati memeluk rasa rindu para pecinta musik seriosa. Dengan dentingan piano jemari lihai Yohanes Siem memberi jiwa. Ikut membahasakan setiap lagu lewat permainan pianonya yang khas. Dari lagu ke lagu, Heliana Sinaga berperan membawakan narasi yang mampu membuat penonton berkontemplasi pada kisah yang terjadi pada setiap lagu. 



Sebuah judul pertunjukan Nada-Nada Nan Tak Bertepi ini seperti mencerminkan proses Bu Ati yang tidak ada habisnya. Gerakan yang beliau lakukan tidak hanya sebagai bentuk karya seni, namun bisa memberi pengaruh baik pada lingkungan dan siapapun yang terlibat disekelilingnya.

Langkahnya melakukan amal pada Pusat Pengembangan Potensi Anak Surya Kanti Bandung memberi pesan yang kuat, bahwa melalui anak-anak lah kehidupan akan diteruskan. Sehingga perhatian dan pendidikan pada perkembangan anak harus mendapat perhatian lebih. Dengan cinta, kehidupan dapat dipelihara melalui potensi dan kemampuan yang kita miliki, bahkan melalui seni.

0 Comments