Flash Mob Drawing: Mengajak Masyarakat Semangat Hidup Dengan Drawing

Pertemuan rutin Selasa sore Institut Drawing Bandung.
Foto: Ima


Flash Mob Drawing
Hari Minggu tanggal 29 September 2019, Institut Drawing Bandung (IDB) akan diselenggarakan Flash Mob Drawing di Car Free Day Dago.  Acara berlangsung dari jam 07.00-09.30 WIB.  Rencananya peserta berkumpul jam 07.00 WIB, lalu dibagi kertas ukuran A3 yang difasilitasi oleh Artmedia.  Peserta harus bawa alas gambar dan alat gambar sesuai kebutuhan.  Mereka yang sudah datang, bisa langsung mencari tempat duduk yang nyaman. 

Flash Mob Drawing ini dimulai dari pertemuan rutin setiap Selasa sore di YPK (Yayasan Pusat Kebudayaan Bandung) oleh IDB.  Beberapa kali seniman-seniman IDB, yaitu, Isa Perkasa, Yus Arwadinata, Rendra Santana, Ratman DS, Setiyono Wibowo, Hawe Setiawan, Andy Yudha, Ahmad Nurcholis, Nurlita Ita, Yoyo Hartanto kerap diskusi mengenai drawing, teknik drawing, hingga perkembangan drawing di era percepatan teknologi.  Sampai akhirnya menginisiasi acara Flash Mob Drawing karena banyak manfaat yang didapatkan dari aktifitas ini. 

Tujuan diadakannya Flash Mob Drawing ini menarik sekali. Mengajak orang-orang untuk mendapatkan manfaat aktifitas drawing.  Selain dapat mengasah kepekaan hati juga banyak yang melakukan aktifitas drawing ini untuk self healing.  Hidupnya jadi lebih seimbang dan merasa bahagia. 

Peserta tidak terbatas usia maupun profesi.  Mereka akan mengapresiasi model yang akan jadi objek gambar, yaitu Bapak Sariban.  Beliau adalah warga Bandung yang rajin mencabuti paku di pohon-pohon, menyapu jalanan, sehingga IDB terinspirasi menjadikan Bapak Sariban jadi objek gambar sebagai tokoh peduli lingkungan hidup.  

IDB mengajak masyarakat untuk merayakan kebebasan menggambar dalam mengapresiasi lingkungan terdekat.  Mengolah diri, merasakan lingkungan sekitar lalu dituangkan ke dalam media kertas. Selanjutnya gambar-gambar peserta ini, akan dipamerkan di Gedung YPK Naripan Bandung. 


Kisah Holis Menggambar
Rasa bahagia, gembira, terbukti pada Ayah-Holis.  Perubahan mental Ayah yang harus melakukan proses pengobatan panjang.  Bukan penyakit yang seminggu sembuh, tapi (ternyata) berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.  Jadi, di tengah pengobatan, bolak balik rawat inap dan rawat jalan, selain istirahat di rumah, drawing  menjadi kegiatan yang bisa mengalihkan pikiran, hati yang gelisah atas kesadaran diri bahwa di dalam tubuhnya ada penyakit. 

Semua dimulai dari Januari 2014,  Ayah terkena kejang dan sejak saat itu tidak ada yang bisa dikerjakan selain tidur, makan, nonton, mengaji, shalat. Tubuh dan mentalnya tidak bisa beraktifitas layaknya orang normal. Jalan kaki harus perlahan, kalau cepat sedikit nafasnya jadi pendek-pendek lalu muncul aura kejang.  Main-main sama anak-anak sama saja, berinteraksi dengan orang-orang tidak bisa terlalu lama karena bisa bikin lelah lalu drop bahkan ikut masak pun langsung lemas.  Pegang handphone dan laptop tidak bisa karena radiasi tinggi yang berpengaruh pada kondisi otak Ayah. Kondisi Ayah seperti telur mentah yang mudah retak. Harus diperlakukan hati-hati.

Proses mural di Cikapundung, Oktober 2018.
Foto: Ima

Aktifitas paling berat adalah baca buku, itupun isinya harus ringan dan jenis hurufnya besar-besar. Aktifitas yang paling lama bisa dikerjakan hanya mengaji, selebihnya nonton.  Melihatnya begitu terus setiap hari, berminggu hingga berbulan saya merasa gelisah dan khawatir. 

Saat itu saya merasa punya keyakinan, pasti ada deh aktifitas lain yang variatif dan bisa membuat hidupnya tidak monoton sekalipun kondisi fisiknya yang terbatas.  Saat itu coba distimulasi dengan memainkan gitar.  Kunci yang yang ringan-ringan dan sederhana.  Ternyata efeknya mudah lelah. 

Diajak menulis pun sama, dia tak bisa berfikir terlalu keras atau dibawah tekanan. Meski berdasar perkembangan kesehatan mingguannya, daya nalar maupun pemikirannya masih tajam.  Ayah suka diskusi, kritis malah, tapi untuk dituangkan ke dalam sebuah tulisan tidak membuatnya terlihat bersemangat.  Ayah suka juga menulis, tapi sekali-kali saja. 

Saya kembali menganalisa proses hidup Ayah, bidang yang dia suka.  Tidak berkaitan dengan teknologi, bukan aktifitas fisik berat, tentu bisa dikerjakan di rumah, kegiatan yang paling mungkin dikerjakan dengan kondisi fisik dan mental dia saat itu. 

Lalu saya ingat aktifitas dulu saat baru melahirkan anak pertama, yaitu membuat post card buatan sendiri dan saling kirim ke teman-teman yang punya passion yang sama.  Akhirnya, saya coba beli pensil warna, kertas tebal dipotong ukuran post card. Saya ajak dia bikin post card dengan gambar buatan sendiri.  Ya, tidak hanya Ayah, saya pun ikut menggambar agar dia merasa punya kekuatan mengerjakan kegiatan yang sama bersama-sama. 

Ya, Ayah berhasil menyelesaikan gambar itu dengan cukup tertatih-tatih.  Satu buah post card diselesaikan dalam waktu 2 hari.  Lalu, Ayah tertarik untuk menggambar di event Inktober, 1 hari 1 gambar yang di posting di instagram.  Dia terlihat bersemangat.  Tiap hari dia punya aktifitas memotret tangan dengan berbagai simbol bentuk tangan, lalu menggambarkannya ke dalam kertas ukuran A3. 

Berbulan-bulan kemudian, Ayah coba menggambar potrait dengan teknik grid. Rupanya, menggambar dengan cara ini membuat dia lebih enjoy dan bahagia. Ada kegembiraan tersendiri ketika dia menggambar, hidupnya terasa lebih bermakna.

Akhirnya, setelah operasi otak (Maret 2015), saya coba setting ruang tamu jadi studio dia dan saya. Biar ada semangat bahwa dia punya ruang berkarya, ruang hidup, ruang berdaya. Meski sering kepayahan kalau terpapar udara dingin dan situasi anak-anak kalau tidak kondusif.  Karena Ayah tidak memungkinkan beli bahan-bahan gambar, jadi saya yang pergi mencari kebutuhan Ayah atas media gambar seperti kertas, pensil, charcoal, dan lain-lain saya yang berangkat.  Setidaknya, saya jadi tahu tempat alat-alat gambar yang unik, beragam.  Mulai toko yang menyediakan alat gambar yang mahal hingga yang paling murah. 

Bertahun-tahun kemudian dengan kondisi fisik yang kerap naik turun, saya menemukan dia masih terus melakukan studi arsir di atas kertas dengan garis yang detil, bergaai objek ekspresi wajah.  Ayah terlihat lebih konsisten berkarya dan bahagia.

Ketika Ayah mulai menggambar, saya sebetulnya tidak pernah berharap lebih.  Ayah akan menjadi apa atau akan bagaimana hidup kedepan.  Saya hanya berfikir ketika dia ada aktifitas sudah merasa senang dan pencapaian yang luar biasa. Setidaknya Ayah ada jeda untuk melupakan sakitnya.

Kalau dibandingkan kondisi Ayah hari ini dibandingkan tahun 2014 hingga 2018, sangat jauh berbeda.  Kadang, ketika awal-awal Ayah mulai bisa ikut aktifitas di DKM Nurul Huda Ledeng, saya senang tapi khawatir kondisi fisik Ayah.  Bahkan makin lama, Ayah semakin mandiri bisa ikut terlibat ngemural di dinding Masjid Nurul Huda, ngemural di dinding sungai Cikapundung, diajak mengajar seminggu sekali di Indigrow, pameran drawing bertajuk Seniman Ngaji. 

Proses drawing dari tahun 2014.
Foto: Ima

Satu sisi tanggung jawab saya terasa lebih ringan, tapi satu sisi saya merasa kehilangan fungsi.  Karena ketika suami sakit, saya menyiapkan segala seuatunya.  Dari bangun tidur hingga tidur lagi.  Mulai obat hingga kebutuhan makan-minum, baju dan segala rupanya.  Kemana-mana Ayah harus ditemani, bahkan saya menemani dia di halaman masjid kalau harus shalat Jumat.  Sebuah proses adaptasi perubahan kebiasaan yang sudah berlangsung bertahun-tahun.  Lalu tiba-tiba Ayah kembali mandiri. 

Hari Minggu ini, Ayah kembali menggarap Flash Mob Drawing bareng Institut Drawing di Car Free Day Dago Bandung. Itu melampaui harapan saya, sangat menggembirakan.  Di Institu Drawing Bandung ini, Ayah dipertemukan dengan seniman-seminan yang hebat dan menyenangkan.  Sebuah situasi yang membuat Ayah berebergi dan semangat berkarya.

Saya takjub sendiri bisa mengikuti proses tubuhnya yang seperti bunga tumbuh. Seperti pohon layu lalu disiram, dipupuk, pohon itu kembali segar, daunnya lebat, dan berbuah.


Drawing adalah Terapi Hati
Rupanya dengan menggambar sambil tetap mengonsumsi obat rutin seumur hidup, semangat hidupnya bagus, emosinya terkendali dan keadaanya semakin membaik. Aktifitas drawing yang dia lakukan setiap hari, setiap saat, sambil diselingi shalat, mengaji, murajaah, makan, tidur, selebihnya menggambar dan menggambar. Menggambar membuka kehidupan yang lain, bertemu dan dipertemukan seniman-seniman drawing yang hebat, baik, terbuka, senang berbagi ilmu sehingga ikut membentuk wawasan proses berkarya.

Jadi, besok, kawan, tanggal 29 September 2019 di Car Free Day (depan SMAK Dago), kami mengajak siapapun untuk ikut serta menggambar bersama, ikut merasakan manfaat dari menggambar atau ikut menikmati orang-orang sedang menggambar: intinya bergembira, bahagia.

Ima. September2019

0 Comments