Vitamin Fiksi Kuliner

Goes to Writing Clinic
Tanggal 7 Desember adalah waktu yang tunggu-tunggu, ada Writing Clinic bertajuk “Bermain Kata dengan Tema Kuliner” diselenggarakan oleh Femina.  Rupanya, Writing Clinic ini di dalam acara besar Festival Pembaca Indonesia di Museum Nasional (Museum Gajah) di Jl. Medan Merdeka Barat 12, Jakpus, DKI Jakarta 10110.  Lihat-lihat daftar peserta di web Femina, saya menemukan beberapa nama teman-teman dari Bandung.  Ada Efi Fitriyah, Dydie Prameswarie, Bu Yayu, Rina Susanti, ternyata si kembar Eva-Evi bakal hadir di ajang buku pilihan pembaca.  Selain senang bisa dapat ilmu dari acara menulis ini, saya bisa ketemu dengan teman-teman yang suka berbagi ilmu dan semangat menulis.  Pertemuan dengan teman-teman mempunyai minat yang sama, sering memberi vitamin baik untuk hati.





Agak terlambat kami masuk ruang workshop, acara sudah dibuka, ada 2 pembicara yang sudah duduk manis di depan, ada Ficky Yusrini (editor majalah Femina) dan Tria (penulis).  Keterlambatan saya masuk ruang workshop menyelamatkan saya, karena dipaksa duduk di barisan depan dekat speaker, pas di depan layar dan colokan kabel.  Hasilnya?  Saya bisa leluasa memotret layar presentasi dan merekam materi-materi pembicara dengan handphone sambil di carge. 


Vitamin Fiksi Kuliner
Kiri-Kanan: Ficky, moderator, Tria
Kuliner atau makanan sebuah alasan kita untuk bertahan hidup, dari sana makanan mempunyai peran penting dan memperkaya proses budaya itu sendiri.   Namun, seringkali sudut pandang kita pada pembuat makanan katakanlah lingkungan terdekat “Ibu” sering dianggap sebuah pekerjaan yang biasa saja.  Efeknya, kesadaran kita memahami pentingnya memelihara (mempelajari cara memasak) makanan khas, melestarikan tumbuhan bumbu lokal menjadi ikut terabaikan, bisa jadi terlambat. 

Bisa jadi, hal ini kurang dipahami oleh pemerintah-pemerintah jaman dulu yang kurang pro aktif memelihara dan melestarikan makanan lokal.  Efeknya masyarakat lebih euforia dengan makanan non-lokal karena berkesan keren, berkelas dan update.  Entahlah, saya merasa pemerintah kita dulu kurang percaya diri memberi pencitraan makanan lokal menjadi bergengsi dan mengangkat harga diri bangsa.  Padahal makanan bisa memberi pengaruh untuk mengenalkan bumi Indonesia pada dunia, kekuatan kita ada disini: makanan dan alamnya.  Karena mereka berfikir yang bisa mengangkat martabat negara hanya seputar dunia industri dan pembangunan di bidang teknologi saja.  Padahal, Indonesia surganya kuliner dan tumbuh-tumbuhan rempah, ia punya keunikan dan membuat negara Eropa menguasai Indonesia karena rempah dan beragam tanamannya.  Membuat para penguasa industri kuliner dan kesehatan membidik Indonesia mendapatkan dan mengolah bahan baku yang dibutuhkan bagi para ilmuwannya.

Tria, penulis (foto: imatakubesar)
Fiksi kuliner salah satu cara yang ramah dan mudah di resap untuk mengkomunikasikan keunggulan kuliner ke kancah dunia, karena melalui seni salah satunya seni cerita-fiksi- orang-orang akan lebih mudah mengunyahnya tanpa beban sehingga mudah menularkan perhatian pada suatu objek. Kalau menurut Mba Ficky (editor Femina), food fiction atau fiksi kuliner adalah rangkaian personifikasi makanan pada sebuah cerita.  Melalui cara ini, pembaca secara tidak langsung akan diedukasi tentang kuliner yang diangkat oleh penulis yang mempunyai pengaruh kuat atau memberi jiwa pada cerita kehidupan.  Selain seni visual (film, tanyangan liputan tv), karya sastra mempunyai wilayah konsumen sendiri yang bisa dibidik sebagai sebuah bentuk pengkayaan wawasan dan kecintaan pada Indonesia melalui tulisan.

Editor majalah Femina Ficky memberi banyak contoh cerita-cerita berbau kuliner, seperti: Kitchen (novel kontemporer Jepang), a Moveable Feast-karya yang kuat dari Ernest Hemingway, Tender at The Bone-memoar kehidupan pribadi si penulis, Like Water for Chocolate, dll. Kalau boleh saya tambahkan mungkin teman-teman tahu filosofi kopi-nya Dewi Lestari, Eat Pray Love.  Saya sendiri lebih banyak tahu film-film kuliner seperti Chocolate, Julie and Julia, Rattatoille, Dee Jang Geum dan banyak lagi.  Kalau kamu coba browsing film-film bertajuk kuliner, orang film di negara lain sudah melahirkan banyak karya seni bertema kuliner. 

Untuk melahirkan sebuh fiksi kuliner yang maknyos, kaya rasa serta tersimpan di hati pembaca dan dapat memberi banyak pengaruh pada kehidupan sosial, kebudayaan bahkan politik, menurut Tria (penulis Femina) caranya latihan tidak ada cara lain, harus dilatih terus.  Sekarang,  tema kuliner ini semakin banyak diminati, semakin banyak penulis yang menaruh perhatian makanan sebagai inti cerita yang dihubungkan dengan kehidupan:
1.       Makanan bisa menjadi unsur sensuality, maksudnya, kelima indera perasa kita bisa hidup, semua bisa merasakan.
2.       Makanan bisa membukan jendela kita melihat dunia lain, mengenal budaya melalui kuliner.

Lalu, Tria sebagai penulis, membagi ilmunya tentang proses kreatifnya menulis fiksi kuliner, ada beberapa poin yang saya catat dan dapat menjadi pegangan:
-          Menulis makanan tidak harus memiliki latar belakang sebagai ahli kuliner.  Tapi penulis kuliner harus mempunyai pengetahuan tentang kuliner yang akan kita angkat.
-          Indonesia sebagai gudangnya kuliner
-          Munculkan konflik dalam cerita, konflik itu seperti puzzle, kita bisa mengolahnya menjadi cerita yang menarik

Agar cerita tetap terjaga garis merahnya, kita harus membuat plot cerita Cara membuat fiksi kuliner.  Fiksi kuliner tetap harus ada outlinenya, agar cerita tetap terjaga dan tidak melompat-lompat.  Ada 3 unsur untuk membuat plot:
1.       Pembuka
2.       Konflik
3.       Penutup

Plot (foto: Imatakubesar)
Sesederhana ini, dan kita bisa mengembangkan cerita sesuai jiwanya agar tidak melenceng kamana-mana.  Dari sana, dari awal sampai akhir kita bisa memunculkan benang merahnya apa.  Itu saja, simple.  Misalnya kita akan mengangkat sebuah makanan kayu manis sebagai elemen kuliner, apakah kayu manis ini akan menjadi jiwa atau sekedar tempelan saja.  Fiksi kuliner yang bagus, kayu manis ini harus menjadi jiwa dan menceritakan pengaruh kayu manis pada rangkaian cerita.  Artinya, bagi penulis kuliner harus banyak meneliti tentang makanan yang akan kita angkat dan berbagai problemanya.  Jadi cerita dan proses pembuatan makanan bisa menjadi proses pembelajaran dan pengetahuan bagi pembacanya.  Pembaca bisa mempraktekan menu makanan atau proses pengggunaan kayu manis.

Lalu, cari angle dari unsur kuliner, misalnya bunga kelang.  Dari mana bunga kelang ini berasal, bagaimana si karakter menghidupkan si bunga kelang.  Lalu, bisa dihubungkan dengan trend dan isu yang inovatif, misalnya, bunga kelang itu selain untuk membuat pewarna makanan ternyata bisa memberi warna juga pada pakaian.  Munculkan konflik yang mungkin terjadi dari proses menciptaan fungsi bunga kelang ini.  Angkat tema-tema sederhana, tinggal kita mengeksekusi cerita itu akan berkembang menjadi cerita yang penuh dan punya cita rasa yang lama. 

Kalau mau membuat fiksi yang tidak tempelan, pusat cerita itu memang pada kuliner itu , contoh cerita yang berhasil pada Madre, semua karakter berpusat dan bergerak pada roti itu, atau Secret of Spice juga salah contoh semua karakter yang bergerak pada rempah itu sendiri.

Mayoritas cerita kuliner masih banyak menghubungkan kuliner dengan romance, kehidupan kisah cinta, kehidupan perkotaan, cerpen-cerpen dari daerah.  Tema cerita sebetulnya bukan daya tarik dari cerita, tapi justru yang terpenting dari segi eksekusinya.  Gaya bertutur penulis dalam mengembangkan tema itu menjadi bagus dan enak dibaca, kita seperti didongengi dan mudah dipahami sehingga seolah kita masuk pada cerita itu. Biasanya jika satu halaman bagus, maka cerita berikutnya akan menajdi lebih menarik.
Ini sedikit catatan buat diri sendiri agar bisa jadi pegangan dan diingat terus, selamat bersenang-senang dengan fiksi kulinermu dan racik dengan bahan yang sehat dan enak, ya.

@imatakubesar
Ima. Serpong. 12 Desember 2014 

Ima Rochmawati

8 comments:

  1. Uuh, susah2 gampang :D Ayo Mak Ima, kasih contoh dong heheh

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waduh, waduuuh... Ima juga masih belajar dan berlatih terus mak Helda, hayu atuh kita saling tukeran cerita :)

      Delete
  2. Fiksi kuliner, ah bisa dicoba nih, tapi bisa bikin laper kayaknya kalau nulis soal ini :3

    ReplyDelete
  3. pernah dibisikin sama mba hartari, salah satu pemenang cerpen femina, katanya kans utk menang lomba cerpen femina lebih gede kalau fiksi kuliner gitu say temanya..jadi pengen nyoba nulis..tahu baxo kenangan...lumpia cinta..hihihi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, pembicaranya kemarin juga bilang begitu, kesempatan untu menulis tentang fiksi kuliner masih sangat banyak. Jadi kayanya mereka mau memposisikan cerpen2nya lebih ke kuliner, ya

      Delete
  4. Kompllit pisan teteh. Ih, posisi menentukan IPK ya eh bukaaaan, bukan itu. maksudnya posisi menentukan foto dan colokan charger hehehe :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tah eta, Fi, posisi menentukan colokan hp, hohoooo...

      Delete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv