Performance Recycled Percussion di The Breeze

Minggu sore yang menyenangkan, akhirnya saya bisa menikmati sebuah pertunjukan perkusi.  Musik perkusi identik dengan seni khas negara timur, namun kali ini saya bisa lihat aksi langsung kelompok perkusi dari Amerika dan menang di kontes Amerika Got Talent, namanya “Recycled Percussion”.  Rasanya sudah lama sekali saya tidak nonton pertunjukan musik kontemporer seperti ini.  Kebetulan tempat pertunjukannya tidak jauh dari rumah, namanya The Breeze masih wilayah Bumi Serpong Damai (BSD-Tangerang Selatan), cuma memakan waktu 10 menit dari rumah kakak-tempat saya tinggal.  Jadi untuk memenuhi rasa haus, saya datang untuk menuntaskan rasa penasaran, ingin melihat secara langsung bule-bule ini mengeksekusi perkusinya seperti apa.

Di antar teteh ke lokasi dan tiba jam 16.00 WIB, saya berharap pertunjukannya belum mulai.  Tadinya agak cemas, tapi begitu menginjakan kaki di lokasi ini mengubah suasana hati dan mata menjadi tenang.  Konsep bangunan serba kayu, jendela-jendela yang besar, desain banyak pepohonan, ruang terbuka hijau mencuri perasaan saya menjadi tenang.  Ada jalan-jalan ramah untuk pejalan kaki mendominasi dan memberi kesan alami yang kental.  Toko-toko berdiri menggunakan bahan kayu, desain yang serba minimalis dan nyeni.  Jalan-jalan di sini tidak seperti di teror untuk shooping, tapi kita dimanjakan dengan visual bangunan yang ramah lingkungan, dan bisa berbagi kesenangan dengan orang tersayang tapi sangat enak juga untuk menyendiri.  Perhatian saya terenggut ke ruang-ruang terbuka yang asik ini. 

Rupanya panggung pertunjukan berada di ruang terbuka juga, ia ada di tengah-tengah pertokoan The Breeze.  Di depan panggung ada beberapa meja yang dikelilingi kursi-kursi, jadi penikmat musik bisa duduk-duduk, minum, makan, sambil menikmati musik gratis, ah,sempurna!.  Saya rasa, dengan konsep panggung pertunjukan dan desain ruang publik yang sebagus ini, masyarakat bisa menikmati hiburan murah dan asik tapi kualitas lingkungannya sangat berkelas.  Kita sebagai pengunjung sangat dihargai dengan konsep ruang yang bagus.   Di lokasi, apresiator sudah cukup banyak, asiknya ruang panggung terbuka, orang yang melek musik dan tidak melek musik bisa tertarik untuk menikmati pertunjukan.  Sehingga pertunjukan bisa menjadi milik publik, tak berjarak dan dinikmati oleh semua kalangan pengunjung.   Saya milih di depan panggung biar dapat foto yang bagus. 


Pertunjukan mulai jam 17.00 WIB, beberapa penonton diberi sebuah panci yang sudah rusak dengan stik drum.  Jadi kalau ada aba-aba dari pemain, kita penonton diajak untuk ikut memukul panci dengan stik itu.  Layar hitam dibuka, sebuah gimik dimunculkan dengan 4 orang pemain yang duduk di posisi 90 derajat, jadi kita melihat kepala-kepala mereka yang jungkir balik, mereka duduk di posisi melihat ke langit-langit sambil memainkan alat perkusi.  Layar lebar terpampang bertuliskan “Recycled Percussion” dengan bantuan multimedia.  Motion grafis di multimedia selama pertunjukan, berperan aktif menciptakan suasana panggung menjadi lebih kuat. 



Musik kontemporer terasa ketika salah satu personil mengiringi alat musik perkusi dengan gitar elektronik dan turntable dj. Alat musik yang dimainkan cukup banyak, ada drum plastik, drum besi di cat dengan warna meriah, tangga besi dan mesin pemotong kayu.  Setiap adegan, didukung dengan multimedia yang membuat suasana panggung menjadi lebih hidup.  Selain menunjukan keahlian mereka menciptakan nada-nada yang unik, sesekali menciptakan gimik yang menggiring kita untuk menikmati pertunjukan dengan serius lalu tiba-tiba tertawa.  Misalnya pas lagi serius dengan ketukan, tiba-tiba dimunculkan adegan suara nyamuk yang mengganggu mereka, sehingga harus berhenti dulu untuk menepuk nyamuknya.  Musik tidak hanya menggunakan alat-alat, salah satu pemain menggunakan tubuhnya sebagai media melahirkan ketukan-ketukan nada yang menarik, dengan menepuk dada, perut, kaki dan tari tap kaki sehingga pertunjukan menjadi lebih kaya warna.  Ada yang menarik lagi, mereka menciptakan nada dari pemotong kayu dan drum, jadi selain melahirkan wana nada yang menteror, kita bisa melihat percikan-percikan api yang keluar.  Dan cukup membuat penonton terkejut dan agak meringis.

Di tengah pertunjukan, kelompok ini kerap melibatkan penonton untuk menjadi bagian dari pertunjukan.  Seperti mengajak penonton untuk melemparkan stik drum, dan ketika penonton itu gagal melempar, salah satu personil memberi efek musik yang mengecewakan.  Adegan ini membuat penonton ikut tertawa bersama.  Kemudian, mengajak penonton untuk naik ke panggung pertunjukan dan menari dengan memakai topeng monyet. Penonton-penonton ini mau diajak kerjasama, sehingga adegannya saat itu menjadi lebih hidup.

Selain menunjukan keahlian permainan perkusi, mereka pun kerap menggunakan tubuh mereka untuk bergerak, menari, bahkan berakrobat, alur dramatisnya tetap terjaga.  Di akhir adegan, mereka memainkan potongan-potongan musik legendaris dengan latar multimedia yang menampilkan slide-slide seperti perang dunia ke-1, Michael Jackson, The Beatles, Elvis Presley, runtuhnya dinding yang membelah Jerman Barat dan Timur, pidatonya Malcolm X, musik grunge, yang memberi pesan bahwa musik memberi pengaruh pada perubahan dunia.  Jadi sepertinya dalam satu pertunjukan selama 45 menit ini mengolah script pertunjukan yang diolah dengan serius, karena kita bisa melihat berbagai adegan dan setiap adegan menawarkan aksi yang penuh dan tidak monoton.


45 menit kita diberi tampilan musik yang menarik dan unik.  Pertunjukan mereka seperti memberi gambaran, bahwa semua benda bisa menghasilkan kaya nada dan memberikan dialog dalam bentuk berbeda.  Memberikan informasi dan pesan dengan seni musik bisa memberi banyak pengaruh bagi apresiatornya.  Buat pencinta musik, penggiat musik, keluarga yang ingin mengenalkan anak-anaknya pada jenis musik perkusi, rasanya tepat diajak ke sini.  Selain bisa menikmati musik mereka kita pun merasa di beri pengetahuan jenis musik dengan kaya warna.


Jadwal pertunjukan mereka di The Breeze cukup lama, dari Sabtu-Minggu, 6-21 Desember 2014, durasi 45 menit, boleh dicatat:
Recycled Percussion-Acrobatic Recycled Percussion
From America’s Got Talent, Las Vegas
Hari Senin-Kamis, jam 19.00 WIB
Hari Jumat, jam 18.30 WIB dan 20.00 WIB
Hari Sabtu dan Minggu, jam 16.00, 18.30 dan 20.00 WIB
Selamat mengapresiasi, ya.

@imatakubesar
Serpong. 15 Desember 2014

Ima Rochmawati

15 comments:

  1. *pukul terus makkk pancinyaaaa

    keren yaaa ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihi... iyah, niat pisan si renyek renyek, biar tampak artistik kali yah :b

      Delete
  2. Wahhh kereeen... kapan2 mau mampir ke The Breeeze BSD klo ada kesempatan kesana :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyah, keren banget, Olin. Kita bisa kongkow sama keluarga atau temen sambil nonton performance, susana enak, terus kalo pengen mengunyah-ngunyah kan bisa aja beli donat 1/2 lusin sambil ngupi, kenyang ngemil dan dengerin musik. Seru!

      Delete
  3. Wah, seru banget. Mereka kreatif sekali, ya :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kreatif dan enerjik, Mba Indi

      Delete
  4. pengen banget nontooon...sampai kapan ya ima?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Mba Dedew, sampe tanggal 21 Desember 2014. Wah, saya ga lengkap ngasih infonya, Ima edit deh, makasih ya :)

      Delete
  5. saya suka bngt musik perkusi... pengen nonton ih...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berangkaaaaaat, maaaaakkkk...

      Delete
  6. seru ya grup itu..ngak rugi...asik tulisannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hey... baru liat ada komentarmu, tx Sariiiiii :*

      Delete
  7. Jangan cuma gedung atau bangunan lainnya yang ramah lingkungan. Tetapi pola hidup masyarakat juga harus berubah. Contohnya meminimalisirkan penggunaan produk yang terbuat dari plastik.

    Contoh, penggunaan Dus makanan yang terbuat dari kertas. Kertas dapat berbaur dengan lingkungan. Artinya kertas merupakan bahan yang ramah lingkungan.

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv