Mengkaji Rumah Tanpa Luka Bareng Dr Aisah Dahlan
Pagi, Salman...
Rumah Tanpa Luka, begitu judul acara pengajian di Masjid Salman ITB. Aku diajak kakak, Teh Bibo, untuk datang bareng ke acara pengajian akhwat (perempuan, arti). Wah, aku senang sekali, karena sudah lama juga kita sebagai adik kakak tidak pergi bareng seperti masih single.
Pergi pakai ojek motor, tampak halaman masjid di tengah riuh pepohonan Jalan Ganesha. Masjid Salman sendiri punya kenangan tersendiri, waktu SMA saya ikut les fisika di sana, pengajarnya mahasiswa ITB. Rupanya bentuk bangunan masih sama, baik halaman, lantai kayu, tangga batu yang khas. Halaman masjid hijau rerumputan. Nyaman dan tenang.
Ternyata, jamaah yang hadir sangat banyak, duduk cukup berdempetan. Mungkin karena temanya yang menarik dan pembicaranya Dr Aisah Dahlan. Sebelum pengajian dimulai, kami diberi pengarahan oleh pengelola masjid mengenai cara membuang sampah. Pengurus masjid menjelaskan bahwa mereka melakukan program pemilahan sampah, diharapkan jamaah bisa disiplin membuang sampah sesuai kondisi sampahnya. Jamaah juga diberi pengetahuan tentang organisasi yang menyalurkan shadaqoh untuk anak-anak yang sedang sakit. Tim mereka lalu berkeliling diantara jamaah, lalu beberapa jamaah memasukan uang shadaqoh.
Sambil shalawat bersama, dr Aisah Dahlan pun hadir di tengah jamaah. Akhirnya bisa menghadiri ceramahnya langsung, selama ini aku suka dengar paparan beliau tentang parenting, komunikasi rumah tangga yang dijelaskan melalui ilmu neuro science (cara kerja otak) laki-laki dan perempuan.
Aku ambil posisi duduk enak di paling belakang, bisa nyender, kaki selonjor. Teh Bibo ternyata sengaja bawa bantal duduk, agar pinggul & paha aku yang lagi sakit terasa lebih nyaman.
Mengenal Emosi
Biasanya luka pertama itu bermula dari rumah. Baik dari orang tua, mertua, saudara maupun pasangan bahkan anak-anak. Luka yang tersimpan maupun yang terungkapkan akan berpengaruh pada bagaimana individu membangun hubungan, seperti: cara berinteraksi, cara menghadapi masalah, menyikapi berbagai persoalan rumah dan mencari solusi masalah. Untuk memahami diri dan situasi orang sekitar, tentu harus dicari ilmunya agar kita lebih lugas dalam menyikapi situasi dan mengelola emosi agar tepat dalam berlaku.
Luka hadir dari emosi yang mempengaruhi perasaan dan pikiran yang lahir dalam bentuk prilaku. Dr Aisah Dahlan seringkali mengedukasi jamaah dari sisi ilmiah tentang kaitan emosi dengan sistem syaraf di otak, syaraf, hormon, energi yang akan mempengaruhi qolbu dan prilaku individu. Dengan begitu, aku sendiri jadi lebih memahami reaksi tubuh dan hati ketika mendapat respons dari situasi di luar diri.
Kalau diingat-ingat, rupanya selama ini saat kita merasakan sesuatu, reaksi tangan kita langsung memegang dada. Sedangkan kalau ada sesuatu yang dipikirkan, reaksi tangan kita memegang kepala.
Jantung akan berdetak kuat ketika muncul emosi tertentu karena ada respons syaraf yang mengarah ke jantung. Emosi negatif maupun positif akan mengeluarkan hormon tertentu yang memberi respons pada detak jantung. Detak jantung akan berbeda-beda tergantung emosi yang muncul, seperti, sedih, marah, bahagia, penuh cinta, nyaman.
Emosi positif, letaknya ada di antara pertemuan dua alis. Disana ada kelenjar hormon pertumbuhan dan hormon positif. Sehingga kalau kita sedang kesal, marah pada pasangan yang menyebabkan rasa cinta berkurang, maka ketuk-ketuk di pelipis. Lalu keluarkan kata-kata baik agar cinta tidak pernah padam. Kata-kata baik ini akan berkumpul di jantung yang frekuensinya sangat lembut.
Hormon yang membuat deg-deg an tapi kasar yaitu emosi kesal, cemas, marah, khawatir yang letaknya di atas ginjal. Emosi-emosi tersebut ada kelenjar adrenal yang mengeluarkan hormon stress yang berkumpul di jantung.
Untuk melepaskan emosi negatif ini adalah dengan memaafkan.
Cara memaafkan ini bisa kita praktikan sehari-hari, yaitu, selesai shalat lanjut dengan shalawat, dzikir lalu ceritakan pada Allah SWT situasi yang membuat kita sangat marah, sangat sedih, sangat kecewa, sangat merasa tersakiti tersebut. Sebutkan orang yang menyakiti tersebut, misalnya, sebutkan saudara, orang tua kita, mertua, ipar, tetangga yang menyakiti kita. Lalu minta pada Allah bahwa aku memaafkan dia. Kalau masih sulit, minta bimbingan Allah agar kita bisa memaafkan dia yang menyakiti kita seperti kita yang ingin dimaafkan orang lain.
Biasanya ada respons seperti nangis, badan lemas, bahkan muntah. Iya, kondisi ini biasanya muncul karena seringkali kita menyimpan emosi ini sudah terlampau lama. Begitu kita mempraktekan memaafkan ini, biasanya hati lebih terasa lega, lapang, dan jika menceritakan situasi yang menyakitkan kembali, hati kita terasa biasa saja tidak ada rasa rasa yang membuat kita terluka kembali.
Dear, Hormon Kasih Sayang...
Menurut dr Aisah Dahlan, cara mengelola emosi dengan memulai apa pun dengan "Bismillahirrahmanirrahim" yang artinya, dengan menyebut nama Allah, yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Dengan begitu akan keluar hormon kasih sayang. Bayangkan, hormon kasih sayang itu berkeliling mengalir di tubuh.
Tubuh kita, sel kita sebenarnya bisa mengerti semua zikrullah. Kalimat "hamdallah" pun mengeluarkan hormon kasih sayang. Yang artinya, segala puji bagi Allah SWT. Ketika kita cemas, marah, khawatir maka langsung ucapkan "Allah". Kalau ada kesusahan langsung di otak kita pikirkan,"InsyaAllah ada kemudahan."
Satu detik otak kita ada 2 juta sambungan kerja otak (koneksi neutron), satu sel otak sambungannya 20 ribu yang menghasilkan listrik, hormon, cahaya.
Bahkan, kata ahli otak, sebetulnya di kepala kita sambungan di otak belum tersambung semua.
Di jantung ditemukan sel otak juga sebanyak 40 ribu. Ada 40 ribu komputer dan di jantung ini ada sambungan. Jantung punya otak khusus yaitu QOLBU. Qolbu ini bisa belajar, menyimpan memori, memberi tahu/mengambil keputusan pada otak.
Hai, Qolbu...
Tahun 1998 ada dua universitas Arab dan Inggris bekerja sama meneliti tentang qolbu. Hasil proses penelitian ini ditemukan bahwa di jantung ada qolbu sebesar mata. Posisinya ada di sebelah kiri. Di situ suara Tuhan. Di otak qolbu ada lafadz adzan (telinga kanan, biasanya diucapkan ketika bayi lahir) dan qomat (telinga kiri).
Menurut Imam Al Gahazali, ada titik qolbu di jantung, ukurannya sebesar bola mata, bukan titik mata. Sehingga orang tua dulu suka ada istilah: mata hati, mata batin, mata qolbu. Ternyata, qolbu ini memang sebesar ukuran mata.
Emosi-emosi positif maupun negatif, seperti, sangat bahagia, sangat senang, sangat jengkel, sangat marah, dll, semua emosi yang sangat ini tersimpan di qolbu.
Jadi solusi untuk mengatasi situasi yang memunculkan emosi tertentu, maka ingat kalimat ini:
"Ingatlah kepada-Ku, maka Allah akan mengingatmu." Al Baqarah ayat 152
Maksudnya, sebutlah lafadz Allah sambil terus merasa bersyukur, maka akan muncul respons jalan di sistem syaraf akan berjalan pun jantung akan bergetar.
Qolbu itu sudah ada di dalam Al Qur'an, makanya harus diulang-ulang, baca dengan tahsin agar nyambung dan qolbu bergetar.
Baca dengan benar supaya bacaan Qur'an sampai qolbu. Kadang sambil dipegang dadanya agar getarannya sampai ke qolbu. Dengar, tangkap lewat telinga, lalu arahkan ke qolbu.
Kalau kita baca Al Qur'an tanpa tahu artinya, maka Al Qur'an itu akan nyambung ke hati dibawa ke qolbu. Kalau kita sudah tahu isi dan artinya, maka akan mengisi otak dan lebih menghayati.
Jika suara Tuhan ini sering terisi oleh perasaan-perasaan negatif, maka suara Tuhan akan tenggelam.
Sebenarnya, badan kita ada cahayanya, cahaya itu keluar dari pori-pori (badan bioplasmik). Kita bisa membuat menghadirkan ikatan qolbu ke qolbu. Di qolbu kita dapat mengeluarkan vibrasi. Hadirkan dia di hati, seolah ada sinar yang menyangkut ke qolbu seseorang lalu kirim Al Fatihah.
Ibarat jaringan provider, sinyal Ibu dan anak itu memiliki satu provider. Artinya, sinyal Ibu dan anak itu cepat terkoneksi atau nyambungnya. Jadi kalau bicara ke anak, jangan langsung nge gas. Tapi, kirim sinyal ke Allah sebagai "gadget" alam semesta,
"Ya Allah, fulan bin fulan mengalami ini... (sampaikan situasinya), sampaikan salamku pada anakku... (sampaikan sesuatu pada Allah)." Lalu kirim Al Fatihah, Shalawat lalu kirim doa.
Bisa dengan cara membayangkan wajah anak kita, suami, atau siapa pun, kalau sulit membayangkan bisa lihat foto lalu kirim Al Fatihah. Doa bisa menarik energi tersebut.
Dengan ilmu ini kita bisa jadi lebih mengimani bahwa dengan mengenal emosi dan bagaimana proses respons qolbu dan reaksi tubuh, kita menjadi lebih mengenal diri dan mengenal Allah SWT. Sehingga kita dapat merespons segala sesuatu dengan baik dengan cara mengelola qolbu dalam menghadapi berbagai masalah yang hadir.





MasyaAllah, terimakasih share ilmu nya, Barakallahufiik...
BalasHapusAlhamdullah, semoga bermanfaat
HapusMenarik sekali pembahasan dr Aisah
BalasHapusMasya Allah akhirnya bisa mendengarkan kajian Ibu Aisyah Dahlan secara langsung ya mbaa...selama ini kita tahunya kalo di podcast2 saja..
BalasHapusDatang kajian secara langsung rasanya memang beda sama online soalnya kita jadi merasa terkoneksi juga dengan penceramah dan ini ilmunya bener2 bermanfaat banget unutk pengembangan diri
Saya pun setuju dengan kalimat ini "mengenal emosi dan bagaimana proses respons qolbu dan reaksi tubuh, kita menjadi lebih mengenal diri dan mengenal Allah SWT."
BalasHapusSaya belum pernah mendengar ceramah dri Dr Aisyah ini baik di podcast atau di televisi. Tapi pas baca artikel ini, saya menjadi suka dengan gaya penyampaian beliau. Jelas, lugas dan langsung mengambil contoh di kehidupan sehari-hari. Gimana cara mengatur emosi agar gak berlarut-larut
BalasHapusSelalu adem ya penjelasan Dr. Aisyah Dahlan. Proses memaafkan seringkali terasa sulit. Tapi, kalau sudah mampu memaafkan rasanya lega.
BalasHapusMenyimak penjelasan Bu Aisah Dahlan ini memang selalu menarik yaa, kadang bikin tersentil, kadang tersenyum, sampai sadar atau terharu. Banyak pembelajaran yang beliau bagikan dan biasanya disertai juga dengan solusi praktis untuk kita jalankan. Termasuk soal hubungan antara perasaan dengan fisik kita yang ternyata begitu menakjubkan.
BalasHapusMasyaAllah tabarakallah, sebuah acara yang sangat bagus. Tema nya sangat related untuk banyak orang.
BalasHapusSelalu suka dengan cara penyampaian materi oleh Dr Aisah Dahlan, ngena banget. Kenali emosi itu basic yang penting banget ya. Dari situ bisa lanjutkan ke part berikutnya.
Suka banget cara penyampaian Ustadzah Aisyah kalo lagi isi kajian, terasa dekat dan banyak yang relate sama kehidupan sehari-hari. Apalagi kalau sudah bahas tentang rumah, pasangan dan keluarga, kadang ada aja bagian yang bikin refleksi ke diri sendiri
BalasHapusMenarik sekali kajiannya, aku kayanya udah lama ga hadir di acara kajian seperti ini. Suka dengan pembahasannya dimaan dalam hidup ini ketenangan jiwa dan kedekatan dengan Allah menjadi dambaan kita semua. Salah satu yang bisa diupayakan adalah denganmengoptimalkan qolbu untuk selalu dekat pada-NYA
BalasHapusMengenyahkan energi negatif dan membentuknya menjadi emosi positif.
Bagian tentang melepaskan emosi dengan memaafkan dan mengirimkan sinyal Al-Fatihah untuk anak atau pasangan benar-benar jadi pengingat yang berharga.
BalasHapusmemang sebagai muslim kita itu harus selalu menyertakan Allah ya dalam setiap tindakan kita. Bahkan untuk bisa mendidik anak menjadi anak yang soleh juga takkan berhasil tanpa ada izin dari Allah swt.
BalasHapusMasya Allah yaa...betapa banyak manfaat yang bisa dirasakan kita bisa membiasakan mengucap kalimat zikrullah. Dan perihal parenting, ajaran agama, semuanya itu pastinya satu kesatuan yang tidak terpisahkan
BalasHapusWah ada Dr. Aisha Dahlan, beliau mah kalo udah kasih materi daging semua dan bikin merenung setelahnya.
BalasHapusAku izin save tulisannya Ka. Aku pernah lihat juga di postingan mana gitu, ada orang juga yang merekomendasikan untuk mengetuk-ngetuk area tengah antara kedua alis sembari menyebutkan afirmasi-afirmasi baik dengan jari telunjuk dan jari tengah kanan
BalasHapusTopik tentang rumah dan keluarga selalu menarik karena rumah idealnya memang menjadi tempat paling aman untuk pulang. Tapi ternyata rumah juga bisa menyimpan luka kalau komunikasi, pola asuh, atau hubungan antaranggota keluarga nggak sehat. Menurutku pembahasan seperti ini penting karena mengajak kita melihat kembali: sudahkah rumah menjadi tempat yang nyaman secara emosional, bukan cuma nyaman secara fisik?
BalasHapusPembahasan dr Aisyah Dahlan selalu relate dengan kehidupan sehari-hari. Beruntung banget jika bisa hadir dan menyaksikan kajian beliau secara langsung ya mbak.
BalasHapusMasya Allah....seneng banget kaak bisa mengikuti langsung kajian DR Aisyah Dahlan....seneng saya mengikuti kajian beliau meski belum pernah ikut langsung tapi di Tv dan yutub aja. Semoga berkah ilmunya kaak.
BalasHapus