"Kamu harus hati-hati, masalah lambung karena psikosomatis ini bisa jadi kanker, lho." dr Elvine Gunawan mengingatkan aku saat rawat jalan di poli psikiatri awal tahun 2019. 



Betul saja, bulan Juni 2023 tepat di hari ulang tahun ke-45 aku kena kanker (ca). Posisi benjolannya ada di payudara, tepat di bawah puting. Ukurannya sangat kecil tapi matil. 


Sebenernya aku cukup lama maju mundur  menuliskan kembali proses menjalani hidup sebagai penyintas ca. Mengingat makin ke sini makin banyak yang kena ca di lingkaran terdekat. Hanya selang beberapa bulan aku menjalani kemoterapi, saudara aku kena kanker hati. Tahun lalu saudara suami pun kena kanker tenggorokan, tetangga aku juga ada yang kena kanker paru-paru, ada juga yang kena kanker payudara, sahabat kakak mengalami situasi yang sama. Lalu terakhir ini aku dapat kabar lagi, ada teman kena kanker rahim. Jadi aku coba tulis mengalir saja.


Beberapa yang terkena ca menghubungi untuk berbagi pandangan, pengalaman dan melepas rasa takut, khawatir melewati proses pengobatan, takut botak, apa yang boleh dan tidak boleh dimakan, aktivitas apa saja yang harus dihindari, dan banyak lagi.


Terlebih ketika mendapat diagnosa dokter, memang seperti mimpi buruk, ya.  Tapi mau gimana lagi kita jalani saja prosesnya berobat yang panjang pada orang yang ahli di bidangnya. Memang ada sedikit rasa tidak menerima, melewati fase denial, melewati kebingungan-kebingungan, mendapat stigma pendosa, sampai akhirnya hingga bisa menerima situasi. Proses penerimaan ini berproses bertahap, terima rasa takutnya, sedihnya sampai pada titik menerima dan berani pulih.  Semoga proses sakit dan berobat ini jadi amal baik, cara Allah SWT mendekap kita.




Memang, awalnya berada di tengah situasi ini cukup membingungkan, kenapa ca ini bisa muncul akibat psikosomatik?


Psikosomatik ini yaitu kondisi pikiran dan emosi memperburuk kondisi fisik. Stress dan cemas berlebih yang tidak disalurkan memicu sistem syaraf dan menyalurkan informasi ke dalam tubuh. Sehingga muncul reaksi fisik yang muncul seperti, masalah pencernaan, pernafasan, nyeri otot, pegal-pegal, dll.


Begitu dapat diagnosa ca mammae dari dokter spesialis onkologi, aku jadi paham bahwa proses munculnya tumor jinak dan ganas itu berawal dari  sel yang menolak mati. Sel ini membelah dan membentuk tumor. Sel ini ada yang bermutasi jadi tumor jinak atau menjadi ganas. Mahluk ini lalu menyusup ke jaringan sehat di sekitarnya, serta menyebar ke organ.


Padahal tadinya aku pikir aku sudah merasa baik-baik saja dengan menjalani hidup dengan menikmati hal sekecil apa pun di berbagai situasi, menjalankan solusi ketika ada masalah. Bahkan awal pandemi aku seperti membangunkan impian masa kecil dengan mengasah kemampuan menggambar dengan tujuan art theraphi pada suami.  Setiap suami mengajar gambar kelas online untuk para pasien anak ABK, aku pun ikut berlatih juga. 





Mundur sedikit ke belakang lagi, sekitar tahun 2016. Sebelum dirujuk konsul ke psikiatri, aku mengalami gastritis kronis cukup lama. Hampir beberapa bulan sekali keluar masuk IGD dan sempat beberapa kali dirawat. Dengan ciri-ciri kalau ada pemantik baik dari makanan, cemas berlebihan, maupun ingatan traumatis, aku akan sendawa terus menerus. 


Untuk kesekian kali aku konsul ke dokter bagian dalam di rumah sakit S. Dokter Poli Dalam menganalisa mata aku, disuruh duduk di kasur, lalu punggung aku ditepuk-tepuk.  Beliau bilang,

"Waaah, tegang banget ini punggungnya. Gasnya juga penuh. Nih, ya, kamu mau menjalani endoskopi, lambungnya diobati pakai obat sebagus apapun kalau pikirannya engga dibenerin, lambungnya bakal kena terus.  Begitupun sebaliknya, kalau lambung kena karena masalah makanan, pikiran akan mudah terpicu, seperti rasa cemas. Terus aja begitu bolak balik. Gak akan beres-beres." 


Dokter menyarankan aku untuk konsul ke poli psikiatri untuk mendapatkan perawatan secara holistik: diperbaiki psikis dan fisiknya.


Tentu saja aku denial mendapat analisa begini dari dokter bagian dalam.  Karena "perasaan" selama ini aku terus berusaha mengelola diri, mulai dari jalan kaki, yoga, menulis, berusaha menerima dan menjalani merawat suami yang saat itu masih butuh perawatan karena sakit, mencari uang untuk kebutuhan sehari-hari.


Tentu masalah yang menimbulkan stress tentu ada saja, baik dari internal maupun eksternal. Rupanya aku masih kesulitan mengelola emosi dengan baik. Masih sering memendam, mengabaikan perasaan sendiri, kesulitan meminta tolong, gak enakan, kurang mengapresiasi diri sendiri dan sejenisnya. 


Pelan pelan aku terima kondisi karena aku ingin berdaya lagi dalam keadaan sehat. Jadi aku jalanin tiap bulan bolak balik poli psikiatri RS S. Rupanya banyak kemajuan, aku jadi enak minum kopi lagi, pikiran lebih terang, masih terus aktif menulis di blog, terus belajar memahami, menerima berbagai job menulis di blog, ikut kelas-kelas menulis, workshop ini itu dan bergabung dengan beberapa komunitas blogger, sambil terus merawat suami yang saat itu masih sakit, anak-anak masih berusia 7 dan 4 tahun, hidup bersama Ibu yang mungkin saat itu menjelang 90 tahun. Semua kondisi mengarah ke arah yang lebih baik.


Sampai suatu hari, obat yang biasa aku konsumsi habis lalu diganti sama merk yang lain.  Tidak menunggu berhari-hari, aku mengalami sendawa berulang dan kembali ke IGD.  Rupanya obat tersebut yang menyebabkan lambung aku bermasalah. Aku pun menghentikan penggunaan obat tersebut atas arahan dokter jaga IGD.  Tapi masalah kesehatan lambung ini masih ada.


Setelah berpikir ulang, berdiskusi dengan suami. Aku pun mulai lagi ke faskes 1 lalu menceritakan situasi pengobatan aku.  Ternyata kali ini aku dirujuk ke poli psikiatri Rumah Sakit M.  Di sana saya bertemu dengan dr Elvine Gunawan. Dengan proses makan obat rutin dan konsultasi masalah selama 6 bulan yang tadinya target 9 bulan.


Kontrol kesehatan di rumah sakit M ini ternyata lebih menarik, aku digali untuk menceritakan keresahan-keresahan hati yang rasanya tidak mungkin aku ceritakan ke saudara maupun teman-teman.  Lalu obat yang harus dikonsumsi ini berguna untuk memberi nutrisi ke otak. Sebetulnya stress ini merupakan respons alami yang mendorong kita berpikir mendapatkan solusi. Tapi kalau stress yang berlangsung terus menerus tanpa pengelolaan yang baik, maka otak kita akan terluka yang menyalurkan luka ke tubuh yang lain. Jadi obat ini berfungsi memberi nutrisi meringankan beban luka tersebut.


Asiknya konsul ke orang ahli dibidang kejiwaan atau psikiatri, ketika aku menceritakan masalah yang terdalam, psikiater menganalisa dan memetakan masalahnya dengan ilmu prilaku manusia.  Seperti mengurai benang kusut, pelan pelan aku jadi memahami diri, mengenali diri sendiri lagi dan bagaimana harus bersikap pada diri dan orang lain dalam menghadapi berbagai situasi.


Saat konsul pun, aku mendapat pandangan, solusi-solusi yang membuka mata dan hati tentang karakter aku yang menghambat dalam hubungan sosial yang menyebabkan persoalan psikosomatis yaitu masalah fisik yang ditimbulkan oleh pikiran dan kurangnya mengelola emosi.





Ketika aku didiagnosa ca di bulan Juni 2023, jadi menggiring ingatan kembali peringatan dari dr. Elvine. Pelan-pelan kontemplasi, instropeksi memetakan berbagai situasi dari berbagai sisi.  Berusaha tidak terlalu mempertanyakan "kenapa" tapi "bagaimana" langkah yang harus dilakukan.  


Berbekal berusaha di rel yang udah Allah kasih, membaca situasi ini dengan tidak memberi celah pikiran negatif, lebih hati-hati mengolah sudut pandang menghadapi masalah ini. Dengan begini kita jadi sadar penuh, tenang/tidak tergesa-gesa dan logis dalam mengambil keputusan berobat dan menjalaninya. Melihat segala sisi dari sudut pandang yang baik.


Hasil instropeksi tersebut mengerucut pada kesulitan aku menghadapi masalah yang cukup berat dan berulang, belum bisa berdamai dengan beberapa situasi yang harusnya diterima. Akhirnya disadari semua pertahanan jiwa seperti jebol dan kembali amburadul.  Bisa jadi karena kelelahan sampai aku tidak membaca keluhan tubuh sendiri akibat tidak tidur malam, kurang nutrisi, kurang memberi waktu untuk diri sendiri dan tentu saja tidak enak/sulit minta tolong.


Semua situasi yang tidak bisa dihindari harusnya bisa dikendalikan. Tapi situasinya cukup berat, sehingga mau tidak mau memancing emosi yang memang jadi alasan kuat aku kena ca. Meski sempat disesali, tapi situasi ini terjadi juga. Aku harus menghadapinya dan belajar beradaptasi dengan perubahan prilaku diri sendiri demi kebaikan dan memaafkan diri sendiri agar misi sehat terwujud.


Ya, situasi ini yang harus diterima. Situasi ini juga yang pada akhirnya aku bisa lebih bersikap toleran, lebih respek dan bersikap baik/tidak terlalu keras sama diri sendiri.


Tentu muncul beberapa pertanyaan, tapi rasanya itu bukan kuasa kita.  Aku hanya berharap masalah ini jadi berkah bukan musibah dengan cara tidak berpikir gegabah sama Allah SWT yang Maha Tahu jalan terbaik untuk kita.


بِسْمِ اللَّهِ الَّذِي لَا يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (×٣)


Artinya:"Dengan nama Allah, yang dengan nama-Nya tidak ada mudharat sedikit pun baik di bumi dan di langit, dan Ia Maha Mendengar dan Maha Mengetahui."

 
(Sumber: Hadits Riwayat (HR) Abu Dawud dan Tirmidzi.)