Perhatian kita saat ini, interaksi manusia satu sama lain saat ini seperti ilusi. Seseorang hadir dibalik nama akun, foto profil yang seolah menggambarkan dirinya, teks-teks singkat yang dilengkapi dengan foto estetik dan video singkat.
Bisa jadi situasi ini yang membuat perubahan budaya, banyak yang "gagap" bersosialisasi langsung. Seperti, seenaknya share link kelas zoom untuk peserta berbayar, mengambil konten orang lalu post ulang tanpa izin, kesulitan minta izin parkir motor di halaman rumah orang, bebas berkomentar di berbagai akun pribadi hanya untuk menghakimi sesuai standar etis masing-masing, beraktivitas tidak mengenal waktu, dan banyak lagi. Bahkan kita berada ditengah situasi sosial begitu terasa akrab di whatsapp tapi jadi kaku atau bahkan berjarak ketika berhadapan langsung.
Iya, kita hidup di era kesulitan komunikasi langsung, hidup individualis ini bisa jadi dipengaruhi media komunikasi digital yang serba singkat dan menghadirkan karakter diri versi permukaan.
Di tengah fenomena perubahan interaksi dan etika sosial ini, beberapa pekan lalu tepatnya tanggal 31 Mei 2026 ada kegiatan membaca senyap di Balai Kota Bandung. Kegiatan ini muncul di beranda dengan nama akun IG @bacadibandung. Akun ini mengumumkan ada kegiatan membaca bareng yang berlangsung dari jam 10.00-11.00 WIB. Rupanya, kegiatan baca senyap ini sudah berlangsung dari tahun 2024 yang diinisiasi oleh Balebat Buana Puspa atau Kak Ebat.
Alasan yang membuat saya yang melompat ingin datang ke acaranya, karena kita semua yang ingin datang cukup hadir ke lokasi yang ditentukan, bawa buku yang mau dibaca, tidak ada pendaftaran, peserta langsung duduk dan menikmati bacaanya masing-masing. Dalam satu jam, semua peserta baca buku bareng dalam senyap. Cocok buat kita yang menginginkan aktivitas yang hadir secara nyata.
Hari itu aku datang bareng suami, Kang Holis, menuju lokasi yang ditentukan yaitu dekat patung badak di Balai Kota Bandung. Kami menyiapkan buku masing-masing dan bekal air mineral. Menarik sekali, hari Minggu dengan cuaca Bandung yang hangat, di bawah pohon rimbun kita semua menikmati isi buku masing-masing. Begitu kami sampai ke lokasi, peserta lain sudah mulai duduk dan asik dengan bacaannya masing-masing.
Sesuai arahan dari akun Baca di Bandung, kami berdua mencari posisi duduk yang nyaman bersama peserta lain lalu menyesuaikan diri. Rasanya ada degup kencang, perasaan yang menyegarkan sekaligus bahagia. Ketika duduk, membuka buku setiap kata, membaca buku halaman demi halaman terasa lebih mudah dimengerti dan menyenangkan. Sepertinya satu sama lain saling memberi energi isi buku dalam diam.
Di tengah kota, kiri kanan deru mobil, suara air di kolam, rindang pohon memberi ruang hening, jiwa kita menjeda di tengah ujian hidup yang datang pergi. Makin bertambah usia, makin mudah menerima masalah meski lebih rumit dan di luar kendali kita. Membaca buku di acara ini, jadi ruang sejuk, memperbaiki sel, energi, ada rasa lega, yang padat jadi memuai.
Setelah selesai satu jam, tidak ada diskusi, kami semua boleh melanjutkan baca atau boleh melanjutkan aktivitas masing-masing. Tidak ada kewajiban apa-apa selain baca bareng.
Ah, 2026 rasa tahun 2002, iklim Bandung hari itu seperti membawa aku ke masa bertumbuhnya berbagai komunitas buku di Bandung. Di tengah percepatan tempat kuliner, wisata, tempat estetik sana sini di setiap sudut, suara klakson bus memenuhi keriuhan kota. Rupanya di Bandung masih memelihara titik-titik literasi yang bersentuhan langsung.
Pertemuan, sentuhan benda ke benda, orang ke orang, tangan yang menyentuh kumpulan kertas, mata membaca kata per kata, suara kertas yang mendesis ketika membaca ke halaman berikutnya. Ada ruang hidup yang menggerakan seluruh unsur tubuh dan kehidupan di sekelilingnya.
Meski beberapa ada yang berpendapat bahwa baca buku dianggap akan hilang. Tapi ternyata fitrah manusia tidak hilang. Literasi dalam sosok nyata tetap masih ada, tetap dibutuhkan sebagai panduan hidup. Ada yang bergerak untuk kebutuhan dapur, keluarga, dalam bentuk toko buku alternatif, perpustakaan alternatif, komunitas fotografi. Lokasi yang dihidupkan pun di tengah padatnya aktivitas masyarakat, seperti di tengah hiruk pikuk pasar makanan mentah dan pasar barang bekas. Bentuk fisiknya pun hadir, dapat disentuh.
Meski beberapa kegiatan literasi buku banyak tergerus oleh literasi digital, tapi masih ada orang-orang yang setia pada buku.





0 komentar:
Posting Komentar
Silakan meninggalkan komentar Anda. adv