Banyaknya media baca di media digital yang singkat-singkat dan visualnya menarik, apakah kamu masih baca buku?  


Sekarang ini ditemukan podcast, konten medsos mengedukasi kita. Setelah dipelajari, lain halnya dengan podcast, konten reels menjelaskan sesuatu dalam 1 menit seringkali banyak yang salah faham. Selain tidak menyeluruh, proses setiap orang dalam mencerna konten pasti dipengaruhi oleh pengalaman, latar belakang pendidikan, komunitas yang diikutinya hingga kondisi masalahnya saat ini.


Di tengah gelombang informasi, kita tetap harus baca buku fisik agar bisa memegang kendali dan memiliki prinsip. Proses membaca lembar demi lembar buku melatih kesabaran, kesadaran karena si pembaca akan melalui proses perenungan.


Setiap kata, setiap kalimat saling kait mengait menggiring pola pikir kita dalam menganalisa masalah secara komprehensif. Meskipun saya masih suka baca buku mecla mencle, satu buku belum tuntas sudah baca buku yang lain. Proses membaca langsung dalam bentuk fisik memberi benteng tersendiri. 


Sekarang memilih buku lebih pada kebutuhan situasi saat ini. Untuk kebutuhan mencari solusi dari masalah yang sedang muncul, merapikan sisi mental, mengolah fisik, spiritual, intinya meluaskan hati dan mind set aga tidak mudah amburadul.


Seorang ahli sel (akun IG dr. Iqbal Musyaffa) memperlihatkan bentuk neutron otak yang sedang bekerja. Dia menjelaskan bahwa:

“Neutron di otakmu akan kehilangan koneksi ketika kamu berhenti belajar. Otak bekerja dengan prinsip use it or lose it. Saat jarang distimulasi, koneksi antar neutron melemag dan perlahan hilang. Belajar hal baru-sekecil apa pun-membantu menjaga otak tetap aktif dan berkembang, Belajar bukan soal usia, tapi soal bertahan hidup secara mental,” Penjelasan ini dikutip dari akun @solehah2id.



Keren banget, kan. Salah satu cara melatih dan menjaga otak tetap aktif yaitu dengan membaca buku.


Untuk tahun ini (2026), saya sebetulnya ingin nyicil membaca buku bacaan anak saya yang sedang pesantren.  Devdan anak pertama saya, setiap kirim surat suka mencantumkan judul buku yang ingin dikirim. Kebanyakan novel, sekarang buku-buku gendre tentang perang dunia dan politik.


Buku yang dikirim cepat sekali selesai dibaca, dari satu novel ke novel yang lain.  Devdan bacanya cepat, katanya bukunya bisa selesai dibaca sekitar 2-3 hari. Kalau jadwal libur, setidaknya kami menjadwalkan ke toko buku buat baca dan beli buku. Waktu masih SD, dia juga suka baca tapi tidak sebanyak waktu di pesantren. Dulu lebih tertarik nonton youtube, reels dan main game. Bisa jadi minat bacanya meningkat karena di sana lebih konsentrasi dan bertemu dengan teman yang sama-sama punya minat baca.



Beberapa hari lalu, pesantrennya mengadakan acara perdana TADIB (Tadabbur Isi Buku). Santri dilibatkan langsung sebagai pemateri, moderator, mc.  Beberapa ustadz tetap memantau dan mendampingi proses diskusi.


Rupanya acara perdana TADIB pematerinya adalah Devdan, kami sebagai wali santri bisa lihat live di akun medsosnya. Memperhatikan pembawaan Devdan dalam menyampaikan materi isi buku, saya cukup terkejut.  Banyak kosa kata dan istilah baru yang disampaikan oleh Devdan. Selain itu, saya juga melihat dia percaya diri dalam membawakan materi. Tenang, penyampaiannya lancar, sesekali bercanda. Sebagai pembedah buku dia bisa menyampaikan garis besar isi novel dan pesan yang ingin disampaikan novel tersebut.


Salah satu alasan saya pengen nyicil membaca buku-buku yang dibaca oleh anak saya yaitu agar saya bisa memahami sudut pandangnya. Sedikit banyak buku bacaan itu biasanya cukup mempengaruhi pilihan hidupnya.  Apa yang dirasakan akan keluar dalam bentuk sikap.


Selain itu, saya mencoba bertahap menjalani nasihat pimpinan pondok. Katanya, kalau anak kita bisa belajar di pondok, maka orang tuanya di rumah juga menjalani rutinitas yang sama jadwal di pondok.  Meskipun tidak semua jadwal dapat saya lakukan, ada beberapa pola dan jadwal yang coba saya terapkan juga untuk dijalani sehari-hari.  Salah satunya jadwal baca dilakukan Devdan hampir setiap sore. Biasanya, sore hari adalah jadwal kegiatan ekstrakurikuler, anak saya menggunakan waktu ini untuk membaca buku bareng temannya.  


Sebagai Ibu, saya sendiri selama ini membaca buku bisa kapan saja, tapi ternyata cara random seperti ini membuat pekerjaan lain jadi terbengkalai. Banyak buku yang dibacanya tidak tuntas, pekerjaan rumah semakin menumpuk. Karena terbengkalai, muncul rasa bersalah contohnya belum bikin nasi. 


Solusi untuk menghindari situasi berulang seperti ini, saya coba membuat to do list harian di sebuah note book. Semakin dijadwal dan diperkirakan waktunya ternyata lebih efektif dan menenangkan.


Jadwal harian dicatat diantara per waktu shalat.  Berarti membagi 4 waktu dan bisa mengisi list kegiatan di waktu pagi (jam 05.00-12.00), siang (12.00-15.00), sore (15.00-18.00), malam (19.30-21.30). 


Dengan begini, kita menentukan kegiatan disesuaikan dengan kondisi fisik kita.  Hal ini akan berpengaruh pada tangki energi kita.  Karena daya serap memahami bacaan setiap orang beda-beda, bisa dipengaruhi dari tingkat aktivitas, masalah yang ada.


Dari jam 05.00-09.00 WIB lebih banyak kegiatan bersih-bersih rumah, cuci jemur pakaian, memasak buat sarapan dan makan siang. Baru di atas jam 09.30 WIB  dilanjut shalat dhuha, dzikir pagi lalu lanjut membuat karya menulis atau menggambar sampai jam 12.00 wib.   Diantara jam 12.00-15.00 ada waktu istirahat siang, makan siang dan aktivitas lain. Sore, jam 15.00-18.00 di sini ada waktu sholat asyar, dzikir sore, baca buku, jalan kaki dan masak sore.


Baca buku dengan durasi sekitar 20 menit tapi terus menerus setiap hari, membuat satu per satu buku bisa selesai. Dengan begitu, kita bisa mengulang pemahaman dengan mencatat untuk membuat review. Durasi baca buku seperti ini, berlaku untuk jenis buku populer yang bisa dibolak balik. Tapi kadang-kadang tidak berlaku untuk bacaan novel, karena maunya pengen cepat tuntas.


Membaca buku sore ternyata menenangkan, meskipun hanya beberapa lembar, bisa menambah energi dan memperkuat hati dalam menjalani sesuatu. Ibu Aisyah Dahlan menjelaskan dari sisi dokter praktisi neuroparenting, bahwa seorang perempuan itu merupakan makhluk pembelajar. Otaknya terus bergerak, entah memikirkan anak-anak, rumah yang sering bocor, mengelola keuangan untuk memenuhi segala kebutuhan dan banyak lagi.


Oleh karena itu, selain baca buku, perempuan disarankan oleh Ibu Aisyah Dahlan untuk terus belajar, salah satunya ikut kajian. Kajian sebuah kegiatan yang mengajak perempuan untuk mengisi pikiran dengan pengetahuan. Langkah ini juga salah satu cara mencerna masalah dengan ilmu.  Sehingga hati tidak mudah gelisah, tidak grasa grusu dan bisa memilah berbagai informasi. Mana yang bisa kita serap dan mana yang bisa kita singkirkan.