Tiang listrik.
Foto: Ima
Suara alarm jam tangan bunyi tiba-tiba, berulang-ulang dengan cepat. Ingatan dibawa seperti ke sebuah suasana alam “mimpi”, saat saya dan suami tinggal darurat di Serpong-rumah kakaknya suami. Perumahan dengan wajah yang sama berjajar, tertata apik dengan desain yang modern minimalis. Biasanya malam-malam seperti ini, suasana sudah senyap, anak-anak kakak sudah istirahat di kamarnya masing-masing. Seperti biasa, saya sulit tidur, merapikan sofa dengan menurunkan beberapa tumpukan bantal ruang tamu, lalu aku rebah disana, suara televisi dikecilkan meskipun tidak ditonton. Dengung suara kulkas, mesin air yang kadang-kadang menyala dan suara yang paling diingat adalah bunyi token listrik rumah yang kerap nyala di beberapa rumah.

Sejak tinggal di perumahan mewah itu, saya baru tahu bahwa sekarang sistem pemasangan listrik menggunakan token listrik. Jadi sistemnya bukan bayar listrik disesuaikan dengan penggunaan selama sebulan, tapi sekarang kita bisa beli pulsa listrik untuk penggunaan sesuai kebutuhan. Satu sisi cara ini lebih praktis dan kita sendiri yang bakal mengatur penggunaan listrik sehemat mungkin. Tapi kadang kala kita lupa, sehingga saat malam hari, tiba-tiba bunyi suara dari mesin token berulang-ulang, nyaring seperti bunyi tongeret, menandakan bahwa pulsa listrik akan habis. Suara ini cukup mengganggu, seperti bunyi mesin denyut jantung di ruang ICU rumah sakit tapi lebih nyaring. Kadang membuat saya terganggu, sulit tidur dan membawa ingatan pada suasana-suasana di rumah sakit. Semua rumah di perumahan itu menggunakan token listrik, jadi bisa dibayangkan jika ada 2-3 rumah ada tanda pulsa listriknya hampir habis. Rame dan menggema.

Entah alasan apa, suatu hari tanda alarm token listrik di rumah kakak tidak diaktifkan. Satu sisi, saya tidak dengar suara alarm itu, meskipun masih sering terdengar suasaranya di beberapa rumah tetangga. Bunyi alarm ini bisa seharian karena orang rumah tidak ada di tempat. Tapi sisi lain, sisa pulsa listrik tidak bisa diketahui dan tiba-tiba saja “pret” listrik mati. Artinya, lampu, televisi, kulkas, wifi, air jet pump, dispenser dan ac rumah akan mati. Sekejap, suasana rumah akan terasa panas dan sunyi. Masih untung kalau mati lampunya pas siang hari, kita masih bisa mendadak beli pulsa ke mini market yang jaraknya cukup jauh. Tapi tak jarang kejadian mati lampu itu pas malam hari menjelang tengah malam, bahkan pernah mati lampu di sepertiga malam. Saya paling sulit tidur jika lampu dalam keadaan mati, redup masih bisa. Jadi, ketika mati lampu sekalipun dalam keadaan tidur, mata akan tiba-tiba terbangun.

Pernah kejadian, pulsa listrik habis pada jam 23.00-an. Kakak turun dari kamarnya di lantai 2 melihat keadaan di lantai bawah. Saya yang setengah tertidur menjadi bangun dan mulai menyalakan senter smartphone. Saat itu juga kakak akhirnya pergi ke mini market dan mengintruksikan saya kalau sudah dapat nomornya agar segera dimasukan kodenya ke alat token listrik. Kakak pun segera pergi dengan menggunakan mobilnya menuju mini market terdekat. Tak lama kemudian masuk telepon, kakak saya bukan memberitahukan kode pulsa listrik, tapi dia bilang harus nunggu jam 01.00 malam karena jam 00.00 wib pembelian pulsa listrik di mini market tidak bisa dilakukan. Jadi kakak saya memutuskan untuk menunggu sambil tiduran di dalam mobilnya, sementara saya harus menjaga pintu tetap terbuka mengingat rumah jika tanpa ada ac akan terasa pengap.

Setelah mati lampu mendadak berulang-ulang trejadi, akhirnya kakak saya langganan beli pulsa melalui temannya. Sehingga saat butuh, jam berapapun kode pulsa listrik akan segera dikirim melalui sms maupun media pesan singkat lainnya. Tapi, kadang-kadang disaat darurat, nomor kontak teman kakak ini tidak bisa dihubungi dan menjadi ganjalan lain ketika harus segera isi pulsa listrik. Cerita ini beberapa pengalaman saya hidup di rumah kakak yang menggunakan token listrik. Tapi syukurlah, beberapa fasilitas untuk beli kode isi ulang listrik semakin berkembang dan menyebar, termasuk isi ulang token listrik online. Tak hanya di satu web saja, tapi menyebar dimana-mana termasuk salah satu web jual beli terbesar di Indonesia. Karena kepintaran manusia dalam mengembangan teknologi untuk memenuhi kebutuhan manusia.





Setelah lihat-lihat ke web yang menyediakan isi ulang token listrik online, ternyata di web itu tidak hanya bisa beli pulsa PLN tapi kebutuhan lain yang harus dipenuhi seperti paket data, pulsa handphone, bahkan pembayaran BPJS.


Melihat tampilannya mudah dan enak difahami. Dalam kondisi seperti sekarang ini, saya rasa, fasilitas-fasilitas yang ada ini harus kita pelajari. Karena suatu waktu, kita akan membutuhkannya sebagai media utama untuk membeli pulsa listrik online maupun beli secara langsung. Karena disituasi tertentu, beberapa tindakan manual harus dilakukan karena terjadi masalah teknis. Begitupun sebaliknya, dalam keadaan tertentu kita sulit pergi ke suatu tempat untuk membeli pulsa dan bisa memanfaatkan fasilitas online untuk kebutuhan sehari-hari. Fasilitas online ini bisa sangat bermanfaat, tergantung siapa dan bagaimana kita mensikapi teknologi internet ini.

Bandung, 9 September 2016
@imatakubesar
Buah-buahan segar dari hasil kebun Sunpride.
Foto: Ima

Hidup Sehat itu Mudah

Hidup ini terlalu menyenangkan jika dilewati begitu saja, tapi semua ini berawal dari sudut pandang kita terhadap hidup yang kita jalani. Pikiran yang sehat berawal dari kesehatan otak dan jiwa kita, konsumsi makanan dan minuman yang berkualitas, akan menyeimbangkan fungsi tubuh kita. Lalu bagaimana sih cara agar tubuh kita sehat? Salah satunya dengan konsumsi buah segar, karena buah bisa memperbaiki kondisi organ tubuh, mengandung banyak anti oksidan, menyeimbangkan enzim di dalam perut, sehingga tubuh menjadi lebih segar, produktif dan produktif.  Tentu saja tidak hanya asupan makanan, ada aktifitas fisik lain yang harus dilakukan seperti olah raga yang cukup, istirahat yang cukup, selalu menggali ilmu dan pelihara faktor spiritual.

Tubuh sehat itu sangat berarti, kita bisa melakukan apa saja jika tubuh sehat. Tapi seringkali kesadaran hidup sehat itu selalu dilakukan ketika kita sudah sakit. Sebenarnya untuk sehat itu mudah, tapi menahan “godaan” pola hidup ini yang sulit. Padahal dengan melakukan olah raga yang cukup, istirahat yang cukup, makan makanan yang segar seperti sayuran dan buah-buahan dan selalu berfikir positif, tubuh kita akan lebih terpelihara. Jaga kesehatan, kebersihan dan keseimbangan hidup itu “hukumnya” wajib, agar kualitas hidup kita pun lebih menarik dan menyenangkan.



Pisang, kiwi, apel, jambu batu, jeruk.
Foto: Ima
Sebenarnya, cukup dengan konsumsi satu mangkuk pepaya, satu buah apel segar, satu buah pear segar atau 1 buah pisang sehari, tubuh kita akan lebih seimbang. Buah-buahan ini bisa melancarkan pencernaan dan membuat tubuh berfungsi dengan baik. Makanan sampah akan dibuang dan yang baik akan terserap ke dalam tubuh. Kalau kamu sedang dalam keadaan lelah, kamu bisa konsumsi 1 buah apel segar atau 1 buah pisang sunpride, setiap sel yang ada di tubuh seperti kembali muda, terasa lebih segar. Proses ini saya alami sendiri bahkan saya pernah mencoba melakukan pola makan food combining. Begitu saya melakukan makan bersih sehat terutama mengurangi bahkan meniadakan makanan yang banyak proses pengolahannya, badan seperti kembali muda. Memulai kebiasaan baik ini tidak akan langsung ujug-ujug efeknya, tapi kondisi tubuh akan berproses menjadi lebih baik jika kita melakukan pola hidup baik dengan konsisten. Saya punya keluhan sering pegal-pegal kaki sejak kecil, sejak saya konsisten makan buah tiap pagi, mengurangi karbo, banyak minum air putih, olah raga yang cukup, pegal-pegal itu hilang, kulit lebih segar dan bercahaya dan tidak mudah lelah.



Bicara tentang sehat, saya dapat catatan ini hasil renungan (tsaah…) acara Sunpride tanggal 3 Sepetember lalu di Cups Coffee and Kitchen, saya dan teman-teman dapat undangan dari Sunpride penghasil buah-buahan segar. Pertemuan ini mendorong saya untuk konsisten melakukan gaya hidup sehat, karena di acara ini banyak penjelasan panjang lebar tentang fungsi buah-buahan bagi tubuh dan tentu saja menstimulus otak saya untuk “mengagungkan” buah-buahan surga ini. Terus terang saja, saya baru pertama kali makan nenas dengan rasa manis yang luar biasa dan segar, buah jambu batu tanpa biji yang renyah dan ini menarik minat saya untuk selalu memelihara diri dengan mengkonsumsi buah-buahan. 



Suasana depan Cups Coffee and Kitchen, adem dan nyaman.
Foto: Ima
Sunpride #Fresh Everyday

Sabtu lalu, untuk pertama kali Sunpride membuat acara di Bandung dalam rangka merayakan Costumer’s Appreciation Day, Sunpride mengadakan acara pengenalan jenis buah-buahan hasil kebunnya, workshop videographi bareng Om Bolang @lostpacker dan workshop berkreasi dengan buah-buahan bareng Kang Leon @RMLegoh.

Begitu masuk ke pintu ruang Cups Coffe and Kitchen, setiap sudut di-distorsi oleh beragam buah-buahan yang membuat kamu terasa segar. Bisa jadi karena warna dan tampilan buah hasil kebun Sunpride ini benar-benar cantik, ada apel hijau cerah, apel merah kuat, jeruk baby dengan warna kuning segar, papaya, nenas dengan ukuran jumbo, jambu batu warna hijau daun dengan ukuran besar, pisang dengan warna kuning yang sangat cantik. Baru disana saya lihat ukuran nenas ukurannya sangat besar, nama jenis ini nenas honi atau nenas madu. 



Bandingkan sepotong nenas ini dengan tangan saya.
Ukurannya besar, tak seperti nenas biasanya, rasanya sangat manis.
Foto: Ade Truna.
Saya sempat ingin melahap satu persatu sajian buah-buahan segar di tiap meja dan sudut-sudut lainnya, seperti masuk surga (hahaaa…). Situasi ruang di Cups Coffe and Kitchen juga sangat mendukung dengan gaya interior bangunan yang mengeksplore suasana gaya pedesaan dengan ekspose dinding dan kayu, membuat kamu lupa kalau posisi ini ada di tengah kota Bandung. Saya seperti berada di rumah peristirahatan para petani di kebun buah. Saya merasa segar, energi buah-buahan ini memberi energi yang sangat positif. Kalau saja tiap hari tersedia buah-buahan di rumah,bakal segar tiap hari.

Suasana ruang pedesaan dan perkebunan yang nyaman.
Foto: Ima
Nah, kalau kamu sering ke supermarket, disana kamu akan kenal dengan buah-buahan dengan label Sunpride. Buahnya selalu terlihat lebih bersih dan menggiurkan. Biasanya jenis buah-buahan seperti ini hasil import, tapi sebenarnya Sunpride ini kebunnya di Lampung Indonesia. Semua dipelihara dengan sangat apik dan serius. Kalau kamu pernah lihat pisang dengan ukuran besar, warna kuning kuat dan segar, nah itu pisang hasil tani Sunpride. Berdasarkan penjelasan mereka, ketika pisang di panen, buahnya tidak boleh kena tanah. 


Satu piring di tangan kanan saya nenas honi dan sebelah kiri potongan jambu batu.
Sebenarnya, kedua piring ini berat sekali.
Foto: Ade Truna.
Tak semua buah-buahan yang disediakan Sunpride dari hasil kebun sendiri, beberapa buah-buahan lain ada yang bekerjasama dengan petani lokal, seperti papaya dan kiwi. Untuk buah kiwi, Sunpride tidak punya kebun kiwi. Karena beberapa kali uji coba, kiwi ini tidak berhasil dibudi dayakan di tanah tropis seperti Indonesia. Jadi hanya buah kiwi yang dilakukan kerjasama dengan petani bukan Indonesia. Lalu, untuk buah pepaya, selain memelihara hasil kebun sendiri juga melakukan kerjasama dengan petani lain tapi dilakukan edukasi pemeliharaan dan pengontrolan. Dan yang lebih penting lagi, dalam penanaman dan pemeliharaan kebun, Sunpride menggunakan pupuk organik sehingga tanahnya terbebas dari bahan-bahan kimia sehingga menumbuhkan buah-buahan yang lebih segar dan terjaga dari zat-zat kimia yang berbahaya.

Ketika akan panen, buah-buahan itu dibungkus plastik agar tidak dimakan oleh binatang. Itu sebabnya kulit buah hasil tani Sunpride tampilannya mulus. Keuntungan lain dari perawatan yang baik ini, ketika kita akan memakan buah yang langsung dimakan, kamu cukup mencuci sekadarnya. Karena kondisi buahnya memang sudah bersih. Acara yang digelar Sunpride kemarin, menstimulus saya untuk kembali merapikan gaya hidup sehat. Apa lagi yang kita cari dalam hidup selain tetap memelihara kesahatan agar bisa lebih berdaya dan bermanfaat untuk kehidupan. 



Foto: Ima

Tubuh, hati yang sehat dan passion yang kuat, membawa Om Bolang travelling kemana-mana dan Kang Leon bisa menyediakan makanan-makanan enak untuk penikmatnya di RM Legoh. Om Bolang, dengan modal pengetahuan dan latar belakang di dunia penerbangan, membuatnya menjadi traveller. Lalu, dia mulai mempelajari cara mengambil foto dan video yang bagus agar perjalanannya bisa diabadikan. Sementara, Kang Leon mengekspresikan passion memasaknya dengan mengekspresikan dalam bentuk usaha kuliner khas Manado di Bandung. Di acara kali ini, Om Bolang membagi pengalaman memberi tips membuat video yang bagus dan berkolaborasi dengan Kang Leon melakukan demo membuat makanan segar dengan menggunakan buah-buahan dari Sunpride. Sementara peserta ada yang 2 fokus, ada yang belajar memotret, coba mengambil video Kang Leon yang tengah berkerasi dengan buah-buahan dan ada yang fokus mencatat menu racikan buah ala Kang Leon. Suasana menjadi lebih hidup dan menarik. 



Om Bolang +Lostpacker (kiri) berkolaborasi dengan Kang Leon +Rumah Makan Legoh (kanan).
Foto: Ima
Akhir acara, semua peserta bisa membawa pulang semua buah-buahan yang tersedia di acara itu. Saya dan teman-teman memasukan satu persatu ke keranjang buah, seperti panen dan petik di kebun sendiri. Kalau tiap hari kita bisa petik buah di kebun sendiri pasti rasanya menyenangkan, karena manusia dan tumbuh-tumbuhan hidup berdampingan saling memlihara kehidupan yang lebih baik.

Bandung, 9 September 2016
@imatakubesar



Kreasi buah ala Kang Leon +Rumah Makan Legoh
Foto: Ima


Leon.

“Kalau ingin buka rumah makan dengan modal karena masakan kamu enak, itu engga cukup. Kalau ingin buka usaha kuliner dengan alasan itu, sebaiknya lupakan saja.” Begitu kata Leon salah seorang pemilik rumah makan Legoh yang sudah memelihara usahanya selama 12 tahun. 


Di rumah makan Legoh, saya bersama teman-teman berbincang sedikit tentang cara mengelola usaha kuliner. Kang Leon tidak sendiri, dia bersama teman-teman band Koil membangun usaha kuliner sebagai pilihan usaha yang bisa menghidupkan mereka. Begitu ide membuka usaha kulinet tercetus, Kang Leon mulai mencari resep masakan khas keluarga ke ibunya, lahirlah sebuah rumah makan dengan menu khas Menado di tahun 2004. Ternyata, membuka usaha kuliner ini tidak sesederhana yang dia fikirkan. Terutama masalah naik turun harga dan dalam pengelolaan stok. Rasa masakan Menado ini unik dan segar, banyak asam dan pedas, tapi karena beberapa alasan maka cita rasanya sedikit disesuaikan dengan lidah masyarakat di Bandung. Terutama lidah Sunda dan Jawa.

Sambil menguyah menu camilan khas Legoh yaitu keju aroma dan kelapa muda yang segar, obrolan tambah mengalir, asik dan cair. Suasana di Jl. Sultan Agung no. 9 Bandung terasa adem, pohon-pohon besar lengkap dengan angin segar, bawaanya betah dan ingin coba pesan menu yang lain. Selain drummer band koil, Kang Leon menjadi juru kunci kelezatan makanannya, karena dia sendiri yang masak dan belanja bahan baku ke pasar. 


Keju aroma, alpukat kerok dan es kelapa muda.
Foto: Ima
Legoh ini tempatnya tidak jauh dari pusat kota, pusat kota disini maksudnya BIP (Bandung Indah Plasa) maupun Balai Kota Bandung yang ada di jalan Merdeka. Tepatnya, kalau dari BIP, kamu bisa jalan kaki ke Jl. Juanda tak jauh dari perempatan ada patung orang yang sedang menambang minyak. Tinggal belok kanan, nah kamu sudah masuk ke Jl. Sultan Agung, hanya beberapa rumah dari awal jalan sudah tampak rumah makan Legoh, posisinya di seberang sekolah Aloysius. Tapi, kamu tidak akan lihat plang rumah makan legoh, yang ada tulisan Sultan Agung 9.


Untuk kesekian kalinya saya datang maupun pesan makanan yang dipesan pasti nasi goreng, menu disaat bingung memilih apa sehingga yang dipilih adalah nasi goreng. Tapi… nasi goreng di Legoh ini istimewa karena warna nasinya hitam. Bukan berasnya yang hitam, tapi nasi goreng ini ada campuran tinta cumi dan potongan cumi segar. Jadi rasa yang muncul gurih, ada daun jeruknya yang memelihara rasa yang nyaman di mulut. Legoh menyediakan beragam menu masakan, untuk nasi goreng saja ada 9 jenis, sambal ada 9 jenis, masakan ayam juga ada 9 jenis, masakan berbahan dasar sapi ada 6 jenis, jenis cumi dan ikan ada 12 jenis, menu olahan bebek ada 5 jenis, tak ketinggalan menu sayuran segarnya. Itu jumlah jenis makanan berat, belum camilan, minuman, soft drink dan kopi-teh. Jadi kalau ingin makan berat, banyak sekali pilihannya, tapi kalau hanya ingin mengemil dan minum kopi pun tersedia.

Rumah makan Legoh sempat jadi kontroversial karena menyediakan menu daging babi. Menu daging ini disediakan dan terbuka bagi para pelanggannya yang beragam. Meskipun menyediakan daging yang tidak diperbolehkan oleh kaum muslim, cara penanganan, alat-alat masak, tempat cuci dan penyimpanan dipisahkan. Meskipun sudah diatur sedemikian rupa, tetap saja pelanggan dan orang-orang yang peduli pada makanan halal tetap ragu-ragu. Sehingga untuk meminimalisir ketakutan diantara penikmat kuliner, sejak bulan lalu menu “khusus” ini ditiadakan dan diganti dengan menu baru dengan menjamin makanan itu aman dikonsumsi oleh orang muslim. Keputusan ini dibuat untuk memelihara dan menciptakan kepercayaan konsumen kembali, meskipun banyak juga beberapa konsumen yang suka menu itu, menyayangkan keputusan Legoh menghilangkan menu spesial ini. 


Nasi daun jeruk dan cumi tepung goreng.
Foto: Ima
Seminggu yang lalu, saya datang lagi ke Legoh karena ada menu baru yaitu mie baso dengan berbagai olahan. Ada mie yamin manis/asin, mie baso kuah, yahun yamin, bihun kuah dengan tambahan ceker maupun pangsit. Tampaknya setelah menu berbahan dasar babi ini ditiadakan, diciptakan menu baru dengan harapan bisa bertahan dan membangun kepercayaan konsumen lagi. Pemilihan menu baru ini rasanya tepat, hampir setiap orang suka mie baso, dan saya pun akhirnya pesan menu yamie baso pangsit dengan es kelapa muda.

Mie baso yamin manis.
Fot0: Ima

Sambil menunggu pesanan datang, saya coba makanan pesanan saudara yaitu brokoli jamur, daging sapi cuka dan nasi daun jeruk. Daging sapi cuka ini menu terbaru dan khas menado, sayur brokoli jamur ini sepertinya sederhana membuatnya, kedua bahan disatukan dengan cara dioseng. Sayurannya tetap segar dengan saus warna kecoklatan dan gurih, sepertinya ada bumbu saus tiram atau yang lain karena rasanya lebih enak dari saus tiram yang biasa saya pakai untuk mengoseng sayuran. Di menu, nyaris semua makanannya pedas, tapi rasa pedas ini ada beberapa level kepedasan dari yang biasa saja hingga sangat pedas.

Begitu mie baso ini datang, saya langsung melahap mienya yang panjang, tipis dan lembut. Bumbunya lebih terasa oriental mungkin karena ada minyak wijen. Seperti biasa saya melahap habis mie yamin manis dengan taburan pangsit goreng dengan potongan panjang-panjang. Basonya juga membuat sendiri, begitu di gigit teksturna rangu dan terasa dagingnya dengan kuah yang segar. Menurut Ratri, Kang Leon tidak pelit memberi bumbu selalu maksimal, karena kunci enaknya sebuah masakan ada di bumbu. 


Kwetiau hitam.
Foto: Ima
Kang Leon berbagi cerita tentang proses memelihara usaha kuliner yang sudah menginjak 12 tahun. Salah satu resepnya adalah selalu mendengar pendapat dan tanggapan dari konsumen. Bahkan, tak jarang Legoh membuat makanan hasil ide dari pelanggannya. Seperti kwetiaw goreng hitam, karena ada pelanggan yang biasa pesan kwetiaw dan ingin bumbunya hitam seperti nasi goreng hitam. Begitupun ketika rumah makan ini mulai sepi karena pelanggannya mulai ragu dengan masakan halalnya, Kang leon dan teman-teman tidak lantas berhenti, terus dicoba dengan segala kemungkinan. Begitu ada masalah cari solusi dan dicoba terus dan terus sampai akhirnya bisa bertahan selama ini. Resep usaha kuliner yang lain yaitu belanja sendiri, karena kunci usaha kuliner berawal dari pasar. Kita bisa memilih bahan baku yang terbaik, mendapatkan bahan dasar murah dan bisa menciptakan komunikasi yang baik dengan para pedagang di pasar. Dengan begitu, kita bisa tahu kondisi naik turun harga pasar dan prilaku konsumen saat ini.

Saya salut dengan komitmen yang dipegang Kang Leon, dia bisa menjalankan rumah makan Legoh berikut kelompok band Koil yang tetap ada . Sangat jarang sebuah kelompok band bisa bertahan lama apalagi ada usaha kuliner yang digarap bersama-sama. Persoalan visi dan ego masing-masing orang kerap menjadi masalah. Tapi begitu pertanyaan ini dilontarkan, ternyata kata Kang Leon mengungkapkan, kayanya kuncinya karena mereka kurang komunikasi, tepatnya jarang ngobrol. Mereka akan ngobrol begitu ada perlu untuk latihan, pentas atau urusan rumah makan. Seperti saat itu kami berbincang-bincang, temannya, Otong vokalis Koil, ada di ruang yang lain dengan urusannya. Bisa jadi ini salah satu cara untuk memelihara kelompok band dan usaha kulinernya.

Saya dapat rangkuman pengalaman dari Kang Leon: ketika ada masalah harus terus berusaha dan dicoba, sampai akhirnya semua masalah bisa dilewati. Nuhun, Kang! Akhir cerita, saya foto bareng sama Kang Leon buat pamer ke suami, karena dia nge-fans sama Koil. Haha…

Bandung, 6 September 2016

@imatakubesar

Indo Wisata Permata Bandung.
Foto: Ima
Pohon, dingin, gunung, tas selempang dan sebotol air mineral.  Melewati jajan-jalan kota yang mulai menua, kepul dari gerobak makanan, deretan angkutan umum dan ruang-ruang kuliner yang menarik untuk disinggahi menjamur dimana-mana.  Dago menjadi salah satu destinasi wisata di Bandung yang asik untuk ditelusuri.  Satu lagi tumbuh tempat wisata yang unik dan sarat edukasi ada di Dago, yaitu tempat untuk pembuatan permata dari bentuk bongkahan sampai menjadi perhiasan.  Hmmm… Ini pertama kali saya lihat langsung di Indo Wisata Permata yang berlokasi di Citra Green Dago Blok N 1-10, lokasinya tak jauh dari pusat kota.  Pas sekali setelah terminal Dago, jalan langsung terbagi 3, ke atas, tengah, kiri dengan turunan yang tajam.  Nah, kamu tinggal belok kiri dengan turunan tajam itu dan mengikuti plang tulisan Skylight. 

Di Cafe-nya ada manual brewing.  Asoy lah.
Jadi, ceritanya saya mau coba makan di Skyligt dan ternyata restoran ini satu bangunan dengan tempat wisata permata.  Rupanya tempatnya tenang, tertata apik, suasana alamnya terawat, enak buat menenangkan diri dari keriuhan kota.  Begitu masuk, yang saya cari adalah apakah mereka menyediakan kopi di menunya, ternyata ada, ah, terasa di surga.  Yang pasti, saya ingin minum kopi sambil menikmati pohon-pohon di atas sana.  Nah, saya mau cerita satu-satu tentang... permatanya dulu. 




Permata, oh…

Indo Wisata Permata tampak depan.
Foto: Ima
Baru kali ini, saya diajak teman berwisata ke tempat pembuatan perhiasan permata terbesar se-Indonesia.  Rasanya, baru kali ini saya dengar tempat wisata permata, bisa jadi ini yang pertama.  Tempat itu merupakan satu-satunya tempat wisata permata yang dibuka untuk siapapun yang mau melihat proses pembuatan permata.  Para pengunjung bakal diajak keliling, diperlihatkan langkah-langkah pembuatan permata dan menikmati hasil karya seni berupa perhiasan yang indah.  Benda kecil yang berkilauan, indah dan menambah cantik pemakainya.  Tak perlu khawatir, tempat ini terbuka untuk siapapun, yang datang ke sana tak hanya yang ingin “serius” berbelanja permata.  Diharapkan sekelompok anak-anak, remaja sekolahan maupun komunitas mau datang mengapresiasi sumber daya alam Indonesia yang kaya.  Disana pun, kita dijelaskan proses hulu ke hilir permata ini, sehingga setiap pengunjung semakin terbuka wawasannya tentang sumber daya yang ada di negeri Indonesia yang melimpah ruah.



Hasil karya seni permata yang indah.
Foto: Ima
 Kalau bicara permata, rasanya hanya kalangan tertentu saja yang sanggup memilikinya.  Tapi sebenarnya di Indo Wisata Permata tidak hanya untuk memikat para pengunjung membeli perhiasan, tapi konsep yang ditawarkan adalah sebuah wisata edukasi pembuatan permata.  Jadi siapapun boleh datang bila ingin mengetahui proses pembuatan permata dari bentuk bongkahan hingga menjadi batu permata yang indah. Orang-orang yang datang akan dipandu beberapa ruang, ada ruang menikmati sebuah film dokumenter bagaimana kondisi pencarian permata di hulu dan kondisi alam Indonesia yang kaya.  Selanjutnya para peserta wisata diajak masuk ke ruang produksi, disana kita akan diperlihatkan bagaimana orang-orang bekerja dengan mesin yang bisa membelah dengan presisi sehingga menghasilkan kilau yang sempurna.  Terakhir, kami diajak ke sebuah ruang yang besar, berisi rak-rak penuh dengan perhiasan dari permata. 

Melihat permata di balik kaca, desain yang bagus, kaya seni, detil dan berkilauan.  Saya cuma sanggup menarik nafas panjang, menikmati sampai batas mata dan dirasakan oleh hati.  Hangat. Saya harap, suatu hari saya bisa mendapatkannya, tak ada yang tak mungkin, kan.  Jadi ingat lagunya The Beatles "Lucy in The Sky With Diamond."  Saat melakukan wisata permata ini, bagian yang paling saya suka adalah ketika melihat para pengrajin permata ‘bermain-main’ dengan permata kecil dan proses pemotongan dengan mesin potong paling canggih dan presisi karena menggunakan komputer dan perhitungan yang tepat.  Para ahli seni memotong ini adalah orang India semua, alasannya, karena belum ada tenaga ahli permata orang Indonesia.   Satu alasan menarik lainnya perusahaan ini menggunakan tenaga ahli dari India karena mereka suka yoga dan vegetarian.  Dari pola hidup seperti itu, biasanya karakter yang tumbuh menjadi sabar.  Seorang tenaga ahli pembuat permata harus sabar agar pemotongan permatanya tepat sehingga kilau yang dihasilkan batunya banyak dan indah.  Karena yang dicari dari batu permata adalah kilaunya.  Jika salah potong, maka kilaunya akan hilang dan bongkahan batu itu tidak akan bernilai lagi.

Ruang pemotongan permata.  Foto: Ima
Sebelum ke ruang pemotongan, kita dibawa ke ruangan untuk menikmati film dokumenter.  Disana kita jadi tahu kalau batu permata paling banyak dan bagus itu ada di Indonesia, tapi sayangnya tidak banyak tenaga ahli pembuat permata sehingga kita menjual permata dalam bentuk bongkahan (intan) lalu di proses menjadi hiasan di Singapura-kebanyakan begitu. 

Galeri Indo Wisata Permata di Dago.
Foto: Ima

Kuliner


Foto: Ima.
Model: Fauzia.
Seperti halnya tempat wisata pada umumnya, kuliner menjadi salah satu bagian penting dari wisata.  Di Indo Wisata Permata ada tempat kuliner yang menarik, di lobi dan di lantai 3, namanya Skylight, masih satu gedung dengan Indo Wisata Diamond.  Kita bisa menikmati pemandangan Bandung yang “berkilauan” dari ketinggian sambil menikmati hidangan ala Skylight.  Ya, bisa jadi dinamakan Skylight seolah-olah kita bisa melihat Bandung dari langit.  Menunya beragam, makanan khas Indonesia dan Eropa.  Seperti Iga bakar, Soto, Pizza, steak, spaghetty, kopi, minuman segar dan banyak lagi. 

Pizza khas Skylight, rasa lezat dengan harga standar.
Foto: Ima
Begitu masuk ke lantai 3, sekeliling ruang restoran dibungkus oleh jendela kaca.  Berjajar tempat duduk yang membuat pengunjung merasa nyaman.  Semua pemandangan di tangkap, pemandangan kota yang menghampar juga rangkaian pepohonan yang berjajar rapi melingkar pegunungan.  Kalau kita datang malam hari, tentu kilauan lampu-lampu kota atan terasa mewah dan seperti kunang-kunang yang berkilauan.  Kemarin, saya datang siang hari, jadi semua pemandangan tampak jelas dan menarik perhatian.

Sop Iga yang lezat, bersih dan kaya rempah.
Foto: Ima
Menu restoran disini, memenuhi kebutuhan pengunjung artinya jenis makanan, harga makanan dan suasana yang disediakan cukup sesuai.  Dengan rasa dan tempat yang nyaman, sebenarnya kita tak perlu cemas dengan harganya, karena harganya sesuai dengan standar tempat makan lainnya yang menyebar di tempat kuliner lainnya.  Kadang pengunjung datang ke restoran tidak hanya untuk memenuhi rasa lapar tapi menikmati makanan enak, ngemil dan ingin mendapat suasana yang menyenangkan untuk menghadiahkan suasana terbaik untuk diri sendiri dan orang yang kita sayang.  Rasanya, di Skylight ini, cukup bisa menentramkan pengunjungnya.  Sebagai tempat kontemplatif sekaligus menikmati makanan yang enak. 


Mochachino khas Skylight.
Foto: Ima



Alamat dan kontak Indo Wisata Galeri dan Skylight:
Citra Green Dago Blok N 1-10 Bandung
Telp. 022.204505888

@imatakubesar

Bandung, 2 September 2016
Setelah setahun lebih saya tidak minum kopi, kerinduan itu kembali muncul,”Aku ingin minum kopi lagi, tapi yang tidak berbahaya ke lambung malah inginnya membuat tubuh jadi sehat.” Keinginan ini mengarahkan saya pada satu persatu pertemuan pada pertemuan lain yang penuh kejutan dengan para peracik kopi. Sebagai penikmat kopi, saya seperti mendapat berkah tersendiri karena dipertemukan dengan orang-orang yang mengerti dunia kopi.



 Saya minum kopi bisa 1-4 gelas per hari, sampai muncul keinginan punya warung kopi yang ada toko bukunya, perpustakaan, menyediakan camilan semacam pisang goreng, dan kue-kue buatan sendiri. Tapi salah satu impian itu saya urungkan karena lambung sakit sekali kalau minum kopi, susu dan mie instan. Rasanya lucu, jika saya menjual sesuatu tapi saya sendiri tidak mengkonsumsinya. Seperti yang saya ceritakan di postingan link ini, saya bertemu dengan seorang teman yang keluar dari pekerjaan mapannya lalu mengejar passionnya sebagai penyeduh kopi. Mungkin kamu menganggap itu tindakan “gila”, tapi buat saya keputusan mereka keren, sangat. Katanya, mereka lebih bahagia. Iya, teman saya itu suami istri yang bekerja di suatu lembaga, lalu keluar karena ada sesuatu yang tidak sesuai dengan nurani. Lalu mereka mendalami segala hal tentang kopi, suami istri yang keren pokoknya. Melalui mereka, saya jadi tahu jika mengkonsumsi kopi yang diolah dengan benar tidak akan menimbulkan masalah di lambung. Melalui dia, saya semakin tahu tentang dunia seduh menyeduh kopi, sampai ada kesempatan bisa membuat beberapa kali workshop kopi dan dapat jadi peserta kelas kopi di 5758 Coffee Lab Jl. Rusa Pinus Raya No. E-1D Komplek Pondok Hijau Indah, Gegerkalong Bandung. Bisa menjadi peserta di 5758 Coffee Lab menjadi salah satu keberkahan sendiri, saya jadi sedikit bisa manual brewing dan punya satu alat seduh pertama saya yaitu V60. (Yeee!)


Nah…

Sekarang saya mau cerita-cerita tentang pengalaman yang berharga ini. Di kelas 5758 Coffee Lab, kami mendapatkan paparan teori dasar seluk beluk dunia kopi.  Semua peserta dapat terjun langsung bereksperimen menyeduh kopi. Semua kemungkinan dicoba, dari temperature air, jumlah takaran kopi, tingkat kekasaran gilingan, penggunaan jenis alat seduh, hingga cara menyeduh kopi dan mencoba setiap hasil seduhan masing-masing peserta sampai kami agak “sedikit” mabuk kafein (hehe…). Pengalaman yang sangat melekat, energi yang luar biasa dari butiran kopi.

Jam 09.00 WIB

Acara dimulai, saya disambut oleh barista bernama Mas Adi W. Taroepratjeka yang tengah menyeduh kopi dengan mesin kopinya. Menyeruak harum biji kopi menghidupkan seisi ruangan dan ketukan ketukan bunyi mesin kopi jadi musik yang menggiring degupan jantung dan imajinasi saya. Beberapa orang berdiri di pinggir meja memperhatikan cara barista itu menyajikan kopi. Saya mulai cari penyelenggara acara, Mba Desianti, rupanya acara kelas kopi belum dimulai jadi kami bisa menikmati kopi yang dibuat langsung oleh Mas Ari dan camilan yang tersaji.


Saya mulai beradaptasi dengan ruang yang baru dibuka pada bulan Maret 2016 ini, setiap sudut ditata dengan penuh rasa. Di dinding ruang, ada foto-foto perkebunan kopi, biji kopi, seolah menggiring pengunjung membangun imajinasinya ke perkebunan kopi. Setiap sudut ruang tertata apik, kursi, meja, cahaya lampu, kehangatan yang melebur jadi satu dari segelas kopi. Lebih dari itu, Mas Ari menyajikan hasil seduhannya, kopi cappuchino dan kopi hitam, semua peserta mencoba hasil seduhan Mas Ari. Rasanya? Jangan ditanya, kamu harus coba langsung untuk menikmati sajian kopi di 5758 Coffee Lab. Mau segelas atau lebih, kopi seduhan ini tidak akan membuat lambung kamu kumat, asal isi dulu perut dulu dengan nasi atau roti.



Jam 10.00 WIB

Para peserta kelas Basic Manual Brewing berkumpul ke lantai 2. Tangga kayu mengantarkan kami pada sebuah laboratorium kopi, di sebelah kiri ada tempat praktik, sebelah kanan kelas teori dan tempat diskusi. Kelas kopi yang istimewa karena kelas ini sesuai standar Coffe Quality Institute (USA), namun ada yang sedikit diadaptasi, yaitu tinggi meja praktik yang mendapat izin direndahkan sedikit untuk mengikuti postur tinggi badan orang asia.

Suasana kelas manual brewing di 5758 Coffee Lab.

Kursi dan meja yang tinggi menjadi kelas pertama yang kami duduki untuk mendengarkan teori dan seluk beluk dunia kopi oleh Mas Adi sendiri. Mas Adi W. Taroepratjeka ini, selain instruktur Q Grander di 5758 Coffee Lab, beliau adalah direktur PT. Belajar Kopi Bersama. Sejak tahun 1993, beliau sudah tertarik pada dunia kopi dan mempelajarinya dengan serius. Saya masuk kelas Basic Manual Brew Class Batch #4, satu jam pertama saya mendengarkan paparan teori dasar kopi yang penuh kejutan. Dari jenis kopi, sejarah, alat seduh, cara seduh dan proses kimia dari biji kopi. Barangkali, bisa jadi yang dijelaskan oleh Mas Ari baru dipermukaan saja, tapi buat saya sudah sangat kaya dan teramat menarik. Saya beruntung berada di kelas ini. Sangat beruntung.

Di kelas…

Saya dikenalkan berbagai alat seduh, ternyata jenisnya banyak sekali dan selalu berkembang. Di kelas ini, kami diberi kesempatan untuk mencoba 3 jenis alat seduh kopi untuk membuktikan perbedaan rasa yang dihasilkan.

Jenis alat seduh itu, diantaranya:

1. V60

2. Kalita Wave

3. Aeropress

4. French Press

5. Syphon

6. Vietnam Drip

7. Glinder

8. Gelas

Diantara jenis-jenis alat seduh di atas, kami diajak untuk observasi rasa kopi dengan mencoba menggunakan 3 jenis alat seduh, diantaranya: V60, Kalita Wave dan Aeropress.

Alat seduh V60

Aero Press


Dari ketiga jenis alat seduh ini bisa menghasilkan beragam rasa kopi. Masalah menarik dalam seduh menyeduh manual adalah, tiap seduhan akan sulit mendapatkan konsistensi rasa. Oleh karena itu, kita harus sering berlatih dan berani mencoba berbagai tehnik manual brew untuk mendapatkan rasa yang kita harapkan. Dalam menyeduh manual, bisa jadi seduhan hari ini akan berbeda dengan hasil seduhan besok dan seterusnya. Karena dalam seduh manual ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi rasa kopi itu sendiri, salah satunya faktor si penyeduh. Bahkan istrinya Mas Ari berpendapat, bahwa rasa kopi itu tergantung dalam mengalirkan air pada kopinya.

”Seduh manual itu laksana meditasi, karena salah nafas hasilnya bisa beda.”

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi rasa kopi. Diantaranya:

1. Jenis Kopi

2. Alat Seduh

3. Temperatur air

4. Tingkat gilingan kopi

5. Rentang kekasaran

6. Waktu seduh

7. Kadar mineral air (TDS)

Karena itu di cafe 5758 Coffee Lab, tidak ada seduh manual alasannya mereka belum bisa memecahkan problem konsistensinya. Para peminum kopi biasanya yang mereka tahu hanya enak dan tidak enak.  Kesulitan dalam tehnik seduh manual yaitu mendapatkan rasa yang konsisten. Kalau kita melakukan seduh manual di rumah, problem ini malah menyenangkan, karena kita akan menemukan rasa yang enak atau tidak. Tapi ketika konteksnya jualan, ketika konsumen mendumel karena rasa yang tidak enak, itu efeknya akan besar-besaran.

Seperti yang saya ceritakan di atas, begitu kami datang, para peserta melihat proses penyeduhan kopi jenis robusta dengan menggunakan mesin kopi. Dalam dunia perkopian, robusta ini laksana anak tiri, dianggap sebagai anak buangan, dianggap sebelah mata, tapi kondisi itu berubah begitu ada konsep fine robusta.

Bicara tentang jenis kopi, di dunia ini ada banyak sekali jenis kopi, ada sekitar 80 spesies. Tapi masalahnya, pertama, kopi itu di produksi secara massif atau tidak. Lalu kedua, rasanya enak atau tidak. Sehingga dunia bersepakat bahwa ada 2 spesies kopi yang di produksi secara masal, diantaranya:

1. Robusta (dikenal dengan kata lain Canefora)

2. Arabika

Sebetulnya ada 3 jenis, satu lagi namanya exelsa/liberika. Spesies Exelsa ini bisa kita dapat di Banyuwangi, Jambi dan Jawa Tengah, tapi sudah sangat jarang. Satu hal mengenai arabika dan robusta, di Indonesia sepakat bahwa ini adalah kopinya orang Indonesia, alasannya simple karena rasanya pahit, kental dan tidak asam. Karena generasi yang lalu menganggap bahwa rasa asam itu bisa menimbulkan sakit perut.

Kalau kita mau bicara tentang asam, ph kopi itu 5,5, semakin kecil ph maka akan semakin asam. Yang membuat perut yang membuat perut melintir ada 2 hal, yang membuat perut melintir itu (sampai saat ini masih butuh dibuktikan):

1. Kafein

2. Asam Clorogenat

Kenapa kafein diatas asam clorogenat, pada dasarnya kafein itu adalah racun. Kafein yang kita cari dari secangkir kopi dan minuman energi itu adalah titik yang paling murni adalah racun. Kafein itu dalam jumlah sedikit itu bisa membantu kita untuk merasa kita lebih baik. 6 mg kafein itu bisa menghasilkan racun, sementara untuk menghasilkan kafein sebanyak itu, bisa diperoleh dari 20 liter kopi.  Jadi, jika kita mengonsumsi dalam jumlah banyak, bisa menghasilkan racun. Tapi pada kenyataanya, kafein jika dikonsumsi dalam jumlah yang sedikit bisa memompa jantung lebih cepat, jantung yang lebih cepat bisa menyebarkan oksigen lebih cepat dan membuat tubuh lebih segar.

Jam 11.00 WIB sekian

Kami mulai praktek dan mencoba 2 jenis kopi jenis arabika dari Sibirok dan Toba (keduanya dari Sumatera Utara). Di ruang kelas disedikan 3 meja persegi panjang, masing-masing meja ada 1 jenis alas seduh (V6, kalita wave dan aero press), cerek, gelas, kopi, timbangan digital. Glinder dan air panas dengan temperature 88 derajat dipakai sama-sama oleh semua peserta. Semua peserta dibagi tiga kelompok dan setiap peserta mendapat kesempatan menyeduh. 


Ilmu manual brew itu sebuah ilmu seduh manual yang berkembang terus. Dibandingkan dengan menggunakan mesin espresso, tehnik seduh manual mempunyai tata cara yang berkembang pesat. Ketika main di rumah, eksperimen orang berubah-ubah. Karena apabila kita mau menyeduh kopi dengan manual, ada beberapa paremeter yang harus diperhatikan. Sehingga kali ini, para peserta bermain-main dengan temperature air, kekasaran gilingan, waktu seduh, dan alat seduhnya. 

Seduh manual dengan menggunakan
kalita wave.

Nah, lalu bagaimana sih cara menyeduh kopi itu? Caranya sedikit ribet buat pemula seperti saya lama-lama menyenangkan dan hasilnya pun penuh kejutan.  Kami mendapat pengalaman seru mencoba berbagai rasa dan efeknya.  Ini perbandingan kopi dan volume air juga temperaturnya:

Bahan:

· 10 gr Biji kopi

· 150 ml air

· Temperature air 88ᵒc

· Alat seduh yang digunakan: V60

Cara menyeduh kopi manual:

Langkah pertama, saya timbang dulu kopi sebanyak 10 gr di atas timbangan digital.

Kedua, Memasukan ke alat glinder, atur tingkat kekasaran gilingan. Di mesin glinder ukurannya 1-8, jika angkanya kecil maka hasil gilingan kopi semakin halus, jika angkanya besar hasil gilingannya kopi semakin kasar.

Ketiga, Kopi bubuk sudah siap, lalu jangan lupa flush alat gilingan untuk membersihkan sisa bubuk kopi. Flush itu adalah memasukan sedikit kopi untuk digiling lalu buang, gunanya agar tidak mencemari rasa kopi yang akan kita giling.

Keempat, siapkan gelas, alat seduh dan filter coffee, masukan bubuk kopi ke dalamnya lalu ratakan. Simpan diatas timbangan digital lalu jangan lupa mengubah ukuran timbangan jadi 0.

Kelima, siapkan air panas 88ᵒc-95ᵒc ke dalam cerek dengan leher angsa. Lalu mulailah menyeduh dengan cara membuat lingkaran /memutar hingga sedikit menutupi tumpukan kopi itu.

Keenam, biarkan selama 30 detik hingga air menetes ke dalam gelas. Disaat seperti ini, kulit ari-ari akan terbuka.

Ketujuh, seduh lagi kopi dengan gerakan melingkar dan aliran yang sangat perlahan dan konsisten hingga hingga beratnya mencapai 150 ml. Setelah selesai, silahkan dicoba.

Mengatur cara seduh yang paling mudah adalah pada tingkat gilingan. Jika gilingannya halus akan menghasilkan rasa pahit, sedangkan agak kasar akan menghasilkan acidity. Lalu rentang temperature air sekitar 88ᵒc-95ᵒc. Kalau air mendidih, sebagus apapun jenis kopi, rasa yang muncul akan terasa gosong. Jika bubuk kopi halus, temperaturnya tinggi dan diseduh lama akan menghasilkan rasa pahit yang terlalu tinggi. Dalam hal cuping, kita mengenal flow rate (istilah untuk manual brew), bermain-main dengan flow rate bisa menghasilkan rasa yang berbeda. Semakin lambat flow rate maka rasanya akan pahit, semakin cepat flow rate maka rasanya akan asam. 

Perbandingan kopi dan volume air adalah 10:15. Jadi jika mau buat sedikit banyak misalnya 15 gr maka jumlah airnya 225 ml. Begitu seterusnya.

Kelas lab manual brewing untuk pemula ini memberi banyak energi dan kenyang dengan teori, cerita dan praktek yang tak berhenti-berhenti. Bisa jadi, pengaruh kopi yang bekerja sehingga membuat pergerakan oksigen di tubuh kami begitu cepat dan membuat kami tak berhenti tertawa, rasanya ingin bergerak terus dan selalu bolak balik toilet untuk buang air kecil. Lho, apa hubungannya? Hubungannya adalah, ketika air mineral dicampur dengan kopi, maka TDS (kadar mineral air) dalam segelas kopi itu akan bertambah banyak. 

Kelas Basic Manual Brew di 5758 Coffee Lab yang seharusnya selesai jam 16.00 WIB jadi molor karena saking asiknya mencoba berbagai takaran, menggiling dengan tingkat kekasaran yang berbeda-beda hingga cara flow rate.  Rasa yang menarik dan pengalaman yang tak terlupakan.  Dunia kopi yang indah dibalik segelas kopi.
Tips: 
Setelah minum kopi sebaiknya banyak minum air putih dan makan pisang agar racun kafein terbuang.

Bandung, 8 Agustus 2016
@imatakubesar