Memeluk Semesta



Sore. Pukul 16.52 wib. Tongeret mengeluarkan bunyinya diantara sirine dan angin tipis-tipis yang bergelantungan dari daun ke daun. Mengikuti pergerakan semesta pada setiap kejadian yang kerap membuat hati terkesima. Seringkali rasa tenang itu hadir ketika kita terjebak pada situasi yang memakan perasaan, lalu muncul kejadian yang biasa jadi terasa luar biasa. Atau bahkan pertolongan dari arah yang tidak diduga-duga. Rasanya seperti ketika naik tebing lalu menemukan pegangan.

Serupa keramaian di tengah kota, di tengah kerumitan itu selalu menyajikan sisi keindahan. Dia tersembunyi dibalik lampu, diantara pepohonan, tarian burung yang menghindari asap knalpot, seorang anak muda yang menyebrangkan jalan, menikmati roti bakar hangat di atas jembatan. Kita adalah bagian dari kehidupan yang terus bergerak. Kerap mencuri ketentraman di tengah keriuhan. Melangkah, menjejak atau hilang oleh jejak lain, lalu kembali menjejak dengan tubuh yang lebih kokoh dan bertambah kokoh. Tidak karena diri, tapi karena semesta membuatnya begitu.

Kadang, seringkali saya bersyukur atas segala persoalan yang datang di masa lalu. Allah selalu memberi cara untuk memahami hidup dengan memaksa kita masuk dan menjalani setiap persoalan, agar kita mendapat pelajaran yang luas. Memalui persoalan itu, kita memahami hidup satu persatu. Meski sambil terbata, tertekan hingga terasa lelah dan bertambah lelah. Meski, kadang, saya selalu ingin “protes” bahwa apa yang kita lakukan dengan kesungguhan kerap terpatahkan. Mungkin seperti memahami segelas kopi, pahit awalnya, penuh misteri, tapi lama kelamaan dia menjadi begitu akrab. Perasaan itu berbalik menjadi menentramkan diri. Yah, gitu.

Tapi protes ini kemudian reda sendiri berubah jadi penerang. Meski dalam prosesnya, saya kerap tergesa seperti Musa yang belajar pada Hidir. Serba ingin cepat mengerti dan cepat menerima. 


Kontemplasi ini muncul begitu merunut apa yang terjadi ketika saya membuat keputusan membuka warung kopi. Semua proses ini memang sudah dirancang rapi sama Allah, buka link ini biar tidak mengulang-ulang cerita. Bermula dari menulis di blog, bertemu dengan food blogger-Ratri- melalui dia saya dapat kesempatan meliput sebuah sekolah barista. Kemudian di lain kesempatan bertemu juga dengan blogger kopi-Restu yang kemudian mempunyai irama yang sama. Atau bisa jadi semesta bekerja itu jauh sebelum itu, ketika saya ikut pertemuan menyeduh kopi di rumah kakak yang diadakan oleh Ulu. Penyajinya Teh Dian Warung Kopi Udin Wati. Suasana yang sangat lembut dan menyejukan itu membangun mimpi saya kembali membuat warung kopi. Mimpi yang sangat lama ini sekitar tahun 2015.

Akhir tahun 2019, dalam waktu dua bulan kebelakang ini, saya berada di tengah masalah yang klise. Kerap berulang. Lalu dengan segala tanda yang muncul dan berbagai penyadaran, saya memutuskan membuat warung kopi dari nol. Holis mengizinkan mewujudkan warung kopi ini, dia hanya terus mengingatkan agar perbanyak istigfar dan selalu mengingatkan pesan temannya yang Kyai tentang manfaat istigfar ini.

Berproses pelan-pelan dengan memanfaatkan uang yang ada untuk kebutuhan yang paling penting dan menggunakan peralatan yang ada. Isi dapur pindah ke warung. Untuk nambah-nambah kebutuhan lain dari warung seperti kursi, meja, dan unak anik lainnya, saya fikir sambil jalan saja. Hampir semua peralatan menggunakan yang dimiliki. Rak buku jadi tempat gelas, meja gambar jadi alat kopor, rak buku yang lainnya jadi meja saji kopi. Ternyata lucu dan unik.

Bercermin pada proses yang sama ketika membuat warung digital printing 12 tahun lalu. Semua berawal dari memanfaatkan rumah Amih yang kosong, menggunakan komputer yang kami punya dan menggunakan uang yang ada untuk beli printer. Modal berputar dan nambah kebutuhan warung dari keuntungan lebih.

Sekarang situasi berulang, saya pun melangkah lagi, buka jendela ruang tamu untuk membuka lapak warung kopi. Saya bertekad tidak akan melakukan promosi gencar-gencaran di medsos maupun media lain, dengan maksud meyakinkan dan membiasakan diri selama 30 hari. Ternyata, berhasil! Saya sangat menikmatinya.

Beberapa hari ini, saya memikirkan packaging untuk roti bakar. Saat itu masih kurang efektif karena harus pakai kertas roti yang di bungkus manual. Saya pun pergi ke supermarket dekat rumah yang menjual roti bakar. Saya suka bungkusnya, jadi saya beli dengan maksud punya contoh bungkus untuk dilihatkan ke warung plastik di pasar. Di supermarket itu, alat pembakaran roti-nya cukup besar, hati saya langsung tersentuh dan ingin punya alat pemanggang roti seperti itu agar bisa panggang roti dengan jumlah yang banyak. Karena sementara ini menggunakan teflon yang cukup untuk 2 roti saja. Lalu saya pulang.

Beberapa jam kemudian, keponakan saya kirim pesan singkat, dia mau nelepon. Kami ngobrol banyak dan membicarakan tentang warung kopi. Menyenangkan sekali. Ternyata dia bermaksud membelikan pemanggang roti yang menggunakan listrik. Saya senang menyambut baik maksud baiknya. Tapi saya fikir lebih baik pemanggang manual saja, harganya lebih murah namun selain itu lebih sesuai kebutuhan.

Kemudian dia menitip pesan, agar jangan bilang siapa-siapa, jangan share di grup keluarga, jangan share di medsos karena untuk menjaga keikhlasan dia. Satu sisi saya bahagia banget dan ingin bilang ke orang-orang terdekat saya. Jadi mangkanya saya tidak menyebutkan namanya di tulisan ini.

Beberapa hari kemudian, pemanggang datang dengan barang yang lain. Kata keponakan saya, nanti akan ada barang-barang yang lain, jadi dia mau nitip sekalian di rumah saya. Selang 2 hari, datang paket lain dengan atas nama saya isinya grinder kopi. Keponakan saya nelepon lagi, katanya nitip dulu dan nanti akan ada barang-barang yang lain. Lalu dia bilang, grinder kopi itu punya dia, nitip. Tapi tidak tahu mau dipakai buat kapan. Jadi, katanya lagi, grinder kopinya pakai saja, kalau sampai rusak juga tidak apa-apa. Karena dia tidak tahu kapan mau menggunakan alat kopi tersebut. Bahkan mau saya kirim ke rumah kakak saya (ibunya) dia menolak, katanya lebih baik dipakai oleh saya.

Lalu kataya lagi, dia mencari-cari informasi tentang mesin kopi di youtube. Mesin kopi itu sudah dia beli dan katanya nitip di rumah saya. Mesinnya boleh dipakai, mau buat jualan atau apa saja. Kalau adik-adiknya mau belajar, tolong ajarin. Kalau mesin itu ada kerusakan, katanya saya tinggal bilang aja, nanti dia yang akan memperbaikinya.

Dada saya penuh.

Haru luar biasa.

Semesta memeluk hangat.

Dia begitu dekat.

Aku malu.

Lalu selang 2 hari kemudian, datang mesin kopi espresso.

Saya sampai bertanya-tanya, apa yang sudah pernah saya perbuat sampai dia begitu punya perhatian lebih. Dia cuma menjawab, karena saya adik Mamanya, itu artinya saya adalah ibu buat dia. Duh! Ini anak, baik banget! Saya bingung harus bagaimana membalas kebaikan dia. Dia hanya minta didoain dan kalau adik-adiknya mau belajar seduh kopi tolong ajarkan seduh kopi yang benar. Itu aja. Dan saya pun cirambay.

Di depan jendela yang terbuka, susunan kopi dan berbagai peralatan lain di atas rak buku, dinding penuh lukisan. Menjadi jiwa yang mengantarkan jiwa, membuka frame menuju frame yang lain. Proses suami yang sakit bertahun-tahun, proses masalah yang datang bertubi-tubi, harus melepaskan barang berharga untuk kelangsungan hidup, diam pada dugaan-dugaan, menahan diri dari penolakan, juga melepaskan kesempatan mengajarkan saya untuk tidak keukeuh pada apapun. Termasuk tidak lagi berharap kebaikan yang datang dari teman juga saudara.

Hidup menjadi tidak banyak pilihan. Tapi konsisten pada apa yang mungkin dikerjakan, amanah pada apa yang ada, apa yang bisa.

Terluka itu jadi biasa, tapi jadi mudah sembuh, mudah melepaskan, mudah menerima. Membiarkan Pemilik Semesta bergerak membuka jalan, waktu, kebaikan dari apapun dari siapapun dengan cara-Nya. Dia Maha Tahu, apa, siapa, bagaimana, lingkungan mana yang akan memelukmu.

0 Comments