Coffee Coaching Clinic bareng Bitter Sweet



Ada wangi dan rasa di setiap olahan jenis kopi, jenis Robusta pun Arabika. Dalam setiap cangkir, bercampur dengan tawa dan dialog yang tak pernah surut. Menemani pagi atau siang atau sore atau malam sambil kerja atau sekedar berbincang panjang. Ruang-ruang hati dan kehidupan seperti terbuka perlahan. Dari satu ruang ke ruang, dari satu kota ke kota, dari negara ke negara. Denyut musim bertambah riuh, kopi menjadi satu kesatuan hidup dan membudaya. Berputar bersama waktu dan ketukan hidup. 
29 oktober 2017 lalu, di The Luxton Bandung ada acara Coffee Coaching Clinic bersama Bitter Sweet. Sebuah workshop bagi para penikmat kopi yang ingin professional di bidang kopi atau yang ingin menjadi pengusaha di bisnis kopi.

Ruangan yang didominasi warna hitam, para peserta Coffee Coaching Clinic duduk berjajar. Laki-laki, perempuan, anak muda juga dewasa, mendengarkan dengan tenang mulai dari sejarah, jenis kopi, cara menyeduh, cara menikmati kopi hingga kami mengenal beragam rasa kopi. Unik.

Melalui proses Coaching Clinic ini, peserta diajak untuk mendapatkan pengalaman merasakan variasi rasa kopi. Hal ini disebabkan beda jenis kopi beda rasa, tak hanya itu jenis kopi dan cara menyeduh kopi pun menghasilkan rasa kopi yang berbeda. Dari sini saya semakin mengerti, untuk mendapatkan rasa kopi yang kita harapkan tidak bisa sekali dua kali menyeduh kopi. Perlu sering menyeduh dan menggunakan rasa.

Seperti ungkapan Elaine dalam film Filosofi Kopi #1:

“Bikin kopi tuh emang gak cuma pake kepala ya, tapi emang harus pake hati.”

Ini terbukti ketika setiap peserta mencoba menyeduh 2 ragam kopi (rubusta dan arabika) dengan cara tubruk dan V60, rasa seduhan kopi pun berbeda-beda.

Sejak pagi, sekitar jam 09.00 WIB, beberapa barista dengan sigap menyiapkan biji-biji kopi, menggilingnya, menuangkan ke dalam cangkir. Ada beberapa cangkir kopi yang disiapkan lalu dialirkan air panas. Metode pertama, kami dikenalkan dengan kopi Robusta yang diseduh dengan cara tubruk. Menyeduh kopi yang lumrah dilakukan orang Indonesia ini membuat ruangan tempat pelatihan wangi kopi.

Setelah di seduh, kami semua diajak untuk mendekat ke arah meja oleh Kang Rizki dari Bitter Sweet, lalu diarahkan cara menikmati kopi tubruk. Rupanya, cara menikmati kopi ini ada caranya:

1. Setelah kopi diseduh air panas, biarkan sekitar 3 menit (jangan diaduk karena rasanya akan beda).

2. Kemudian tehnik kedua, dihirup wanginya.

3. Break: ampas yang emngambang dikepinggirkan lalu ambil dengan sendok pelan-pelan.

4. Cupping: mengambil air kopi dengan sendok lalu seruput.

5. Tahan sebentar di lidah.

6. Baru di telan.


Kopi terasa lebih nikmat di lidah, ada sensasi yang berbeda. Penikmat kopi bisa merasakan bedanya. Beberapa diantara kami, begitupun saya coba beberapa kali untuk mendapatkan hasil rasa yang dimaksud.

Untuk mencoba seduhan kopi selanjutnya yaitu kopi Arabika, kami dipaparkan sejarah kopi Indonesia. Kopi Indonesia ini punya sejarah yang panjang. Dengan kondisi alam yang bagus, kopi menjadi tumbuh subur di tanah Jawa Priangan. Ada sejarah penuh luka dibalik biji kopi Jawa Priangan yang dinikmati dan disukai dunia. Ada luka yang tergores, pertempuran dan sejarah yang panjang di tiap biji kopi, untuk mendapatkan cinta dan rasa.

Sebagai orang Priangan, satu sisi saya bangga karena kopi tanah kelahiran ini disukai oleh dunia. Tapi ternyata dibalik semua itu ada sejarah panjang yang dilakukan oleh VOC terhadap penduduk Jawa. Mereka harus menanam kopi (tanam paksa) hasil panennya diserahkan ke VOC. Awalnya dibeli tapi lama-lama penduduk menjual dengan harga yang sangat rendah.

Dalam Coaching Clinic ini, kami diajak untuk belajar menikmati kopi yang disukai oleh dunia. Kopi Ciwidey yang bebrapa tahun lalu merupakan kopi perinkat keempat trebaik di dunia. Jadi sudah seharusnya sebagai masyarakat Indonesia, dapat menikmati kopi terbaiknya dari para petani Indonesia.

Pada seduhan kedua, lagi-lagi dengan tekhnik tubruk. Kopi Arabika ini punya rasa yang berbeda dengan kopi Robusta yang kami coba di awal. Kopi Robusta terasa lebih legam dan pahit, sementara Kopi Arabika cenderung agak asam, pahit sedikit dan kuat. Untuk seduhan yang ketiga, kami mencoba dengan menggunakan alat manual brew, namanya V 60. Dengan alat ini, para peserta mencoba menyeduh satu persatu. Rasanya juga berbeda lagi dari semua kopi yang sebelumnya. Menarik sekali.


Peserta yang hadir cukup antusias, satu sama lain saling diskusi dan menyimpulkan rasa kopi. Tak hanya dewasa para anak muda hadir dengan penuh pertanyaan. Ruang bertambah hangat dan nyata. Orang-orang dengan passion yang sama, bersatu dalam satu ruang untuk mendalami satu jenis minuman yang memikat. Secangkir kopi.

Di lantai 6 The Luxton Coffee, kami tak hanya menikmati kopi. Pemandangan langit dan Kota Bandung tampak indah. Kekuatan rasa kopi seperti menyatu dengan hijau pepohonan yang saling menumpuk dan awan yang bergumpalan di atas langit. Sesekali pesawat terbang lewat diantara atap-atap kota. Dalam segelas kopi, semua keindahan itu menjadi terlihat jelas.

Bandung, 14 November 2017



@imatakubesar

Ima Rochmawati

6 comments:

  1. Surganya pecinta kopi ini mah. Aku aja kadang iri banget liat org-org yang addict sama kopi yang bisa sampe segitunya. Naha atuh nyak teh, aku ga suka kopi 😂😂

    ReplyDelete
  2. Saya bukan pecinta kopi tapi seneng baca2 tentang kopi. Para pecinta kopi bakalan seneng kesini

    ReplyDelete
  3. Oh gitu cara nikmatin kopi yang baik dan benar, mantaff infonya Teh

    ReplyDelete
  4. Acara kayak gini cucok meong buat suami aku. kalau aku mah nggak pake filosofi kalau minum kopi, yg penting manis. Hehehe

    ReplyDelete
  5. Selain rasa dari kopi yang ngangenin itu aromanya. Ga tau kenapa, pokoknya kayak aroma terapi gitu lah. Eh tapi kalau kopi pait aku belum terbiasa sih hehehe

    ReplyDelete
  6. Duuh kebayang nikmatnya ngopi di lobi hotel bagus sambil ngobrol..mmh

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv