I am Hope: Dalam Harapan ada Kehidupan






“Setiap mahluk hidup pasti mati tapi kita tidak pernah tahu kapan, selama kita masih bernafas, saat itu pula kita wajib memaksimalkan upaya, masalah hasil terserah Allah.“ Suatu hari disebuah perbincangan kecil saya pada suami.

Tanggal 18 Februari 2016, Indonesia akan melahirkan kembali sebuah film berjudul “I am Hope” dan dapat segera diapresiasi di bioskop-bioskop ternama. Sebuah film yang menyentuh dan mengasah kepekaan pada sesama manusia.  Film ini terinspirasi dari gerakan solidaritas yang dilakukan oleh “Gelang Harapan”, sebuah upaya membangkitkan harapan hidup dalam segala hal. Berdasarkan info dari media Uplek, saya bisa melihat teaser film “I am Hope”di youtube.  Setiap adegan di teaser ini berhasil memeras hati dan mengambil ingatan saya kembali ke masa lalu ketika dokter menyatakan bahwa suami saya kena cancer otak. Sebuah kasus yang nyaris sama, karena dalam film I am Hope menceritakan tentang perempuan muda bernama Mia yang terkena cancer. Dia perempuan kreatif yang sedang menggarap pertunjukan teater, begitu mendengar dirinya terkena penyakit berat, seolah semua mimpinya terenggut, seluruh hidupnya seolah selesai. Pertunjukannya tidak akan terwujud, dan kondisi keluarga pun ikut merasa terluka seolah tinggal menunggu waktu berpisah.
Teaser film I am Hope bisa dilihat disini:



Terinpisirasi melihat satu persatu adegan dalam teaser tersebut, saya hanya ingin sedikit berbagi pengalaman harapan dan keyakinan untuk terus bertahan, berjuang dan memaksimalkan upaya selama suami sakit.  Ketika, seketika kehidupan kami berubah dan sangat dramatis, yang membuat kami tetap bertahan adalah harapan, doa, yakin. 

Pada adegan pertama, diperlihatkan Mia seorang perempuan kreatif tiba-tiba jatuh pingsan dan begitu diperiksa ke dokter bagian dalam, hasilnya tenyata cancer.

Suami saya adalah seorang dosen DKV, pembuat web desain dan gitaris. Bulan Januari 2014, suami saya terserang kejang mendadak, kejadiannya baru beberapa menit tidur, ia pun kejang dalam keadaan tak sadar. Awalnya dia tidak mau tes karena takut dan menganggap penyakitnya ini akan sembuh dengan sendirinya. Akhirnya, saya membawanya ke dokter syaraf di rumah sakit terdekat dan disarankan untuk segera tes CT Scan dan CT Scan Contras di bagian radiology. Ditemukan ada benjolan di permukaan otak tapi tidak bisa dipastikan jenisnya apa, lalu kami disarankan untuk MRI dan MRI contras, tapi kami tidak melakukannya. Lalu, satu persatu kejadian terjadi, suami saya kejang berulang-ulang hingga dia tidak sanggup mengatasinya lagi sampai ia masuk ICU dalam keadaan koma. Keluar ICU, ia tidak bisa jalan dan suaranya hilang, volume suaranya hanya sanggup berbisik.

Karena kejadian ini, suami pun baru melakukannya MRI bulan Februari 2014. Ketika hasil radiology keluar, ternyata benjolan di permukaan otak suami ini suami terdapat high grade glioma, sejenis kanker yang tidak jinak tapi tidak juga ganas. Tapi untuk lebih pasti lagi, benjolan ini harus dikeluarkan dan diperiksa di laboratorium. Solusi yang mereka tawarkan adalah operasi otak namun resiko paska operasi adalah kelumpuhan di organ tubuh sebelah kanan dan tak mampu berkomunikasi. Saat saya dengar penjelasannya, baru kali itu lutut saya bergetar, tubuh dan hati hampa, rasanya angin topan meratakan seluruh kehidupan kami. Rasanya semua kehidupan selesai dan kami terjebak dalam sebuah cerita yang tak juga usai. Suara sekitar seperti senyap dan waktu seperti tak bergerak. Sampai dokter bedah syaraf mengatakan,

”Silahkan duduk disekitar sana dan fikirkan dulu. Hmm… sebaiknya, beri tahu keluarga suami Ibu dan segera datang menghubungi saya, agar saya bisa menjelaskan juga.” Tanpa banyak kata, saya pun melangkah menelusuri lorong, satu persatu orang yang tengah besuk menjadi seperti angin, mendengar hasil diagnosanya rasanya harapan begitu tipis, seolah tinggal menunggu waktu perpisahan. Saya merasa, lorong rumah sakit ini lebih panjang, orang-orang tersenyum pun terasa pahit dan hampa. Tak mudah membangun keyakinan ketika antara hidup dan mati terasa begitu tipis.

Dalam adegan berikutnya, ketika bapaknya Mia marah pada David agar dia tidak memupuk harapan pada Mia. 

Teringat ketika kami memutuskan untuk membawa suami ke Tangerang Selatan untuk melakukan perawatan dan pengobatan. Bukan tak ada rumah sakit di Bandung, tapi cuaca dingin di Bandung sangat mengganggu kondisi fisik suami saya. Ketika saya memutuskan membawanya pergi, pro kontra keluarga sangat tinggi. Hal ini membuat beban saya bertambah berat karena menumbuhkan pandangan ini itu karena tiba-tiba pergi dari rumah.

Dalam teaser berikutnya terjadi adu mulut antara Maia dan Mia ketika Mia memilih untuk menyerah.  Sementara Mia harus melewati proses pengobatan dan harus semangat hidup. Terlihat Sekali dukungan dari Maia agar Mia tetap kuat. Maia mengatakan, kalau memang Mia tahu akan mati, seharusnya dia bisa memanfaatkan hidup.  Meskipun kita tidak pernah tahu kapan tubuh kita berhenti menunaikan tugasnya untuk hidup. 

Adegan itu terjadi pada kami, saat itu saya bilang ke suami,”Ayah, sebenarnya hal yang paling kita takutkan sekarang adalah perpisahan, tapi setiap yang hidup pasti mati, tapi apapun kondisi kita, kita tidak pernah tahu kapan kita meninggal dan dengan cara apa, bisa jadi bukan karena penyakit ini. Berdoa terus menerus, ikhtiar sedang dijalankan, sudah!.  Masalah hasilnya seperti apa bebaskan ke Allah. Sekarang, saya-kamu masih bernafas, itu artinya kita masih dikasih ruang untuk memaksimalkan kesempatan hidup, memperbaiki segala hal. Lakukan apapun yang paling bisa dan paling mungkin dilakukan. Apakah ngulik gitar, motret, menggambar. Ayah bilang, hidup harus bermanfaat, lakukan apapun yang membuat Ayah bahagia. Dengan bahagia, tubuh kita akan ikut sehat.” Sebenarnya, saya tidak hanya memberi semangat suami, tapi sedang menguatkan diri dari ketakutan kehilangan dirinya.

Dialog di akhir teaser, sangat menyentuh, “Dalam harapan terdapat keberanian.” Gelang yang tersemat di tangannya, sebuah simbol keberanian pan. Ketika ia takut, ia melihat gelang lalu tumbuh keberanian dan harapan. 

Gelang harapan dalam film ini, mengingatkan saya pada sahabat-sahabat pengajarnya dan mahasiswanya di DKV UNIKOM. Mereka melakukan gerakan “Solidaritas Untuk Sahabat”, kegiatannya berupa pasar semut dan seminar yang dilakukan oleh para teman-teman dosen sebagai bentuk rasa peduli pada suami saya. Seorang sahabatnya membuat sebuah gelang yang terbuat dari kulit dengan tulisan “Pasar Semut” . Setiap kami pergi ke rumah sakit, gelang ini tak lupa saya pasangkan di pergelangan tangannya. Entahlah, saya merasa kekuatan dan kehangatan sahabat-sahabatnya terkumpul di gelang itu. Kadang, kami bergantian memakainya, saya merasa, mereka ikut mengantar kami dan menjadi pilar semangat dan harapan hidup.  Seperti theme song I am Hope ini, memberi kekuatan untuk percaya bahwa dalam gelap harapan kan datang:




Seringkali dalam setiap proses perjalanan pengobatan, saya bertanya tanya tentang akhir cerita kami yang seperti menaiki wahana halilintar yang tak juga usai. Ketika mulai membaik ada saja benturan lagi dan lagi yang menguras pikiran dan hati kami. Dua tahun kami mejalankan proses upaya pengobatan dan mengontrolan di rumah sakit Borromeus di Bandung, pengobatan herbal di Jakarta, akupunktur di Depok, akupunktur dan herbal di Ciledug. Hampir setiap hari kami bolak balik dari Serpong ke tempat-tempat itu mengupayakan pengobatan. Sampai akhirnya melakukan operasi di RSCM Jakarta dan hasil laboratorium menyatakan bahwa benjolan itu bukanlan jenis cancer tapi tuberkulosa otak dan bisa diobati. Bahagia ini teramat sulit diungkapkan.

Saya berharap, akhir cerita film I am Hope ini pun mempunyai akhir cerita yang menyenangkan. Dengan kekuatan harapan dan kesungguhannya untuk sembuh, bisa membuahkan hasil yang manis. Dengan kehidupan barunya, Mia menjadi pribadi yang lebih tangguh dan menjadi perempuan yang menghasilkan karya-karya seni pertunjukan yang inspiratif bagi kehidupan.  Bahkan, Mia membuat komunitas yang mengedukasi pasien yang terkena cancer.  Seperti banyak cerita teman-teman yang mengidap penyakit cancer, dia mampu memaksimalkan kehidupannya, bermanfaat untuk orang bahkan sembuh sama sekali. Dengan kekuatan hope-harapan, tubuh pun akan ikut mendukung ke arah sehat. Bahkan bisa jadi, dia lebih sehat dan lebih hidup dari orang yang tampak sehat dan baik-baik saja. 


Saya berharap kita dapat kesempatan dan meluangkan waktu untuk mengapresiasi film ini tanggal 18 Februari 2016.  Banyak kesempatan amal dan berbagi kebahagiaan.  Mengingat jalan ceritanya yang inspiratif, memberi makna hidup yang tinggi sehingga kita bisa memanfaatkan hidup lebih berarti.

“Selama kita masih bernafas, saat itu pula Tuhan memberi kita kesempatan untuk memaksimalkan waktu. Sakit bukan hambatan, karena dengan semangat dan harapan, jalan kehidupan pun akan mendekati dan kita akan memetik buah manis makna kehidupan.”

Peluk hangat,

@imatakubesar


“PRE SALE @IAmHopeTheMovie yang akan tayang di bioskop mulai 18 februari 2016. Dapatkan @GelangHarapan special edition #IAmHope hanya dengan membeli pre sale ini seharga Rp.150.000,- (untuk 1 gelang & 1 tiket menonton) di http://bit.ly/iamhoperk Dari #BraceletOfHope 100% & sebagian dari profit film akan disumbangkan untuk yayasan & penderita kanker sekaligus membantu kami membangun rumah singgah .
Follow Twitter @Gelangharapan dan @Iamhopethemovie
Follow Instagram @Gelangharapan dan @iamhopethemovie
Follow Twitter @infouplek dan Instagram @Uplekpedia
#GelangHarapan #IamHOPETheMovie #BraceletofHOPE #WarriorOfHOPE #OneMillionHOPE #SpreadHope”

Ima Rochmawati

1 comment:

  1. wahh bulan depan banyak film Indonesia bagus yang mau tayang sepertinya..

    makasih reviewnya ya, jadi pengen nonton deh..

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv