Senyum

Senyum itu bisa menjadi sangat murah dan bisa menjadi sangat mahal.  Kamu bisa mendapatkan ratusan senyuman di daerah tertentu tapi jangan harap bisa mendapatkannya di perkotaan.  

Sore itu Shinta keliling komplek, beberapa ibu-ibu saling berbicang-bincang di halaman rumah, anak-anaknya bermain bersama.  Shinta berusaha sopan dengan melemparkan sebuah senyuman, dan menyapa.  Tapi sayangnya tak ada satupun diantara mereka yang membalas senyuman dan sapaan Shinta.  Langkah berlanjut ke sudut yang lain, situasi yang sama pun berulang.  Shinta berfikir, barangkali mereka tidak berusaha membalas senyuman Shinta karena mereka tidak mengenalnya.  Shinta tidak anggap ini sebuah persoalan tapi mengganggap sebuah budaya yang berbeda.  Berbeda ketika Shinta baru saja berkunjung ke kampung suaminya, setiap dia lewat rasanya hampir semua orang menyapa dan minimal melemparkan senyum.  Barangkali situasi ini dipengaruhi tingkat keamanan dan was-was seseorang dipengaruhi dimana mereka tinggal.  Atau dipengaruhi oleh gender?  Gender?  Ya, bisa jadi begitu.


Kalau masalah daerah, bisa jadi lingkungan kompleks memberi pilihan pada penghuninya untuk berusaha bersikap hati-hati.  Karena masing-masing datang dengan pengalaman dan asal yang beragam.  Semua kenal satu sama lain bukan pada titik nol, ketika masing-masing sudah melewati banyak langkah dan pengalaman.   Sementara di daerah/kampung, satu sama lain sudah mengenal baik dan buruknya seseorang sehingga tingkat toleransi dan cara berkomunikasi tidak menjadi hambatan lagi.


Bisa jadi pengaruh gender mempunyai peran dalam kenyamanan berkomunikasi.  Perempuan yang baru kenal perempuan yang lain, bisanya mereka lebih kaku dan menilai dengan hati-hati.  Sementara ketika laki-laki bertemu dengan laki-laki yang baru dikenalnya lebih berusaha bersikap cair dan akrab.  Ini pengalaman yang sering saya alami, saya lebih sering melihat suami yang bisa lebih cepat akrab dalam lingkungan barunya.  Sementara, lingkungan ibu-ibu lebih terlihat berusaha tenang dan jaim. 

Shinta hanya contoh kasus perempuan yang baru datang ke 2 daerah barunya.  Masing-masing daerah mempunyai pola dan khas yang berbeda.  Lingkungan komplek yang masih menerka-nerka satu sama lain, sementara lingkungan komplek yang tumbuh bersama dengan tetangganya bahkan melewati banyak masalah bersama.  Meskipun begitu, Shinta harus berusaha dekat dan baik dengan lingkungan terdekatnya: tetangga.  Tetangga ibarat pengganti keluarga, meraka harus saling memperhatikan, melindungi dan saling menghormati.  

Mari mulai dengan senyum, lalu mulai saling menyapa, lalu sedikit-sedikit mengobrol dan saling mengunjungi.  Coba liat anak kecil yang dengan mudah berteman, cepat juga berantem tapi dengan cepat bisa akrab lagi, dan cepat saling merindukan.  Keep happy and smile.



Ima Rochmawati

2 comments:

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv