Mestakung, Untuk Setangkup Nikmat Hati


Foto: Holis, 2017

1

Sore ini, lebih lega dari biasanya. Awalnya sudah lama saya ingin ikut kajian seperti di Percikan Iman, Daarut Tauhid dan beberapa kajian khusus tentang ilmu-ilmu agama. Baik dari segi ilmu ketuhanan, ilmu sosial, adab/etika, hukum Islam. Akhirnya saya mulai mencari jadwal-jadwal kajian yang posisinya dekat dari rumah. Saya mau banyak tahu dan mendapatkan nikmat agama yang saya anut. Ingat sepotong dialog dengan Pak Djohari Zein-CEO Paxel, dia bilang, saya tidak hanya ingin menjadi islam tapi seorang muslim, jadi saya dekati dan perdalam isi Quran.



2

Kegelisahan itu selalu saja muncul, naik turun, bergelombang mereda. Obat hati yang kerap saya lakukan adalah browsing kajian di YouTube tentang sesuatu yang saya gelisahkan. Mulai dari rezeki, menghadapi masalah dan cara membuat hati lebih tenang. Biasanya ketika saya gelisah, menganalisa masalah yang sedang saya hadapi, ada saja jawaban dari berbagai sisi lalu diperkuat dengan pertemuan ilmu hidup dari isi Quran, hasil analisa disampaikan oleh para ahli agama menjadi ruang kontemplasi sendiri dalam memecahkan masalah dan langkah yang harus dijalankan.

Karena situasi yang kurang memungkinkan, biasanya saya mencai kajian tentang ilmu fiqh, akhlak dan tauhid hasil ceramah para ahli agama di Youtube. Seperti Ustd. Hanan Attaki, Ustd. Adi Hidayat, yang kerap saya ulang-ulang setiap pagi. Kajiannya menarik, memelihara hati yang banyak gelisahnya jadi lebih slow dan lebih berani mengambil beberapa keputusan.

3

Beberapa hari yang lalu, saya menguatkan niat ingin ikut kajian secara langsung. Browsing sana sini mencari jadwal pengajian, sampai akhirnya jatuh di kajian Percikan Iman (PI). Biasanya rutin berlangsung setiap hari Minggu dari jam 7.30-10.30 WIB. Kebetulan kali ini jadwal kajian berlangsung di dekat rumah, di Masjid Darul Ihsan-Telkom Gerlong. Pengumuman kajian itu saya dapat di facebook lalu saya klik “going”, memberi tanda saya akan datang ke acara tersebut.

Saya ingat, hari Minggu pagi ini harus mereview tempat kecantikan di sudut kota Bandung. Jadwal bentrok, tapi saya usahakan bicara ke teman-teman untuk ganti jadwal di hari Sabtu, Minggu siang atau Senin siang. Ternyata tidak bisa. Keinginan saya kuat sekali sampai saya katakan dalam hati, ya sudah, tidak apa-apa meskipun keinginan itu masih menggelantung di pikiran saya.

Lalu, hari Sabtu pagi kemarin cukup menyibukan, kakak ipar saya masuk ICU karena stroke dan keponakan saya operasi kista di rahimnya. Saya harus menengok-bisik saya. Sementara di hari yang sama pun, saya harus ambil surat pengantar untuk suami saya dari dokter syaraf di Santosa. Waktunya dari jam 08.30 – 12.00 WIB. Artinya saya harus ngebut bergrilya, mulai antar anak ke sekolah yang sedang ujian jam 08.30 WIB, menengok teteh dan keponakan di RS Salamun, lalu ambil surat rekomendasi ke Santosa.

Tiba-tiba Teh Dey menghubungi saya, dia dapat pesan dari salon kecantikan itu apa saya bisa datang ke Salon hari itu jam 11.00 WIB untuk melakukan perawatan? Saya langsung lihat jam, saat itu menunjukan pukul 09.10 WIB posisi saya sudah ada di jalan sedang naik ojek online menuju ke RS. Salamun. Itu artinya saya punya waktu 2 jam berkunjung ke beberapa titik. Saya sangggupi bisa datang tapi jam 11.30 WIB. Pikiran saya agar bisa datang ke kajian PI besok pagi jam 08.00 WIB. Bismillah, akhirnya Sabtu pagi dari pagi hingga tengah hari jadwal “ngider” saya padat merayap. Saya bisa datang menengok keponakan, teteh, ambil surat pengantar dokter dan makan batagor di depan RS Santosa (LAPAAAR, hehehe...). Sesuai perkiraan, saya pun bisa sampai Salon sesuai jadwal. Senang!

Itu artinya, saya bisa datang ke kajian PI di Masjid Darul Ihsan di Gerlong. Alhamdulillah...

Mestakung. Seperti ada sesuatu yang ingin Allah sampaikan. Ternyata benar, ilmu kajian hari itu menyembuhkan titik-titik luka saya (beuh!). Tentang ridho: kalau boleh diartikan versi saya-nya yaitu berdamai dengan keadaan. 



Foto: Ima

4

Minggu pagi, sebetulnya sudah sangat “kesal” sama persiapan pergi ke acara. Tapi jalan keluarnya cuma satu, berusaha menahan diri. Saya tidak mau segala sesuatu dimulai dengan marah-marah. Tapi, ya, hati saya tetap kesel, tapi, ya, sudahlah. Setelah anak-anak mandi dan makan, kami pun berangkat jam 08.10 WIB yang artinya telat datang ke acara kajian. Dari rumah naik grab car, karena dari jalan utama ke lokasi acara cukup jauh sementara lihat tarifnya sama saja kalau kami harus naik angkot. Naik Grab Car harganya tidak jauh dari naik angkot, malah kalau naik Grab Car lebih cepat dan langsung ke tujuan.

Tentu saja acara sudah berlangsung, ternyata kekesalan saya sungguh ‘mubadzir’. Acara utama yang saya tunggu ternyata belum mulai. Ada acara tambahan selain ceramah, yaitu ada penjelasan tentang kalender tahun 2019 langsung dipaparkan oleh desainernya, kemudian dilanjut acara pelantikan. Saya jadi ingat nasehat suami saya beberapa tahun lampau, katanya: “Apa yang kamu fikirkan belum tentu serumit apa yang terjadi.”

Kebiasaan jelek saya nih, sering sekali mengira-ngira sesuatu yang belum terjadi. Seperti kejadian pagi itu, saya berfikir sudah telat datang ke acara kajian PI dan telat menyimak pembahasan dari Pak Aam Amirudin. Itu artinya saya bakal terima ilmunya sepotong-sepotong. Padahal kesempatan untuk datang sudah ada jalannya, tinggal pergi deh istilahnya. Eh, ternyata acara kajiannya dimulai dulu dengan acara yang lain. Alhamdulillah. Mestakung



5

Ceramah utama dimulai jam 09.45 WIB, saya masih belum paham maksud Allah memberi kesempatan kami bisa datang ke acara PI dengan proses yang unik. Pertama tadinya waktu review bentrok, tiba-tiba diajak ganti waktu review dan itu pun pihak salonnya yang minta, kemudian kami telat datang ke acara tapi ternyata kajiannya belum mulai. Untuk apa? Ternyata uraian kajian hari ini menembus hati dan merangkum segala kegelisahan saya tentang proses masalah yang datang dan pergi dan keadaan pola rezeki saya yang luar biasa unik.

Awalnya begitu dengar tema yang akan disampaikan tanggapan saya biasa saja, tapi begitu mendengarkan dan mencatat uraian Pak Aam hasilnya menarik. Tema yang kontemplatif tentang makna rezeki dan proses aplikasinya yang tidak sederhana. Tapi saya percaya, setiap masalah pasti mudah dijalani karena ada Allah.

Menurut Pak Aam, mengartikan rezeki yang ridho dalam genggaman itu tidak melulu masalah harta, tapi termasuk di dalamnya adalah ilmu yang diamalkan, anak yang soleh, teman-teman yang soleh, umur yang berkah, harta halal, jodoh.

Ada 5 cara membuka pintu rezeki:

1. Ridho dengan pemberian-Nya.

Saya baru tahu, bahwa makna RIDHO yaitu menerima segala pemberian dari Allah dan biasanya konteks ridha itu berhubungan dengan keadaan yang tidak enak.

Misalnya, seorang istri mempunyai suami yang tidak soleh. Tapi istri tersebut ridha, maka Allah akan membukakan pintu rezeki yang lain. Misalnya usaha jual beli baju si-istri disukai banyak orang dan laku di pasaran. Itu artinya si-istri dibukakan rezekinya dari pintu yang lain.



Berdasarkan hadis Imam Ahmad:

“Sesungguhnya Allah menguji hambanya melalui apa yang diberikan kepadanya. Jika ia ridha dengan pemberian-Nya (Allah) maka rezeki orang itu akan diluaskan dan diberkahi.”



Rezeki setiap orang itu beda-beda, rezeki sehat, tenaga, ilmu, harta. Allah akan menguji hamba dengan pemberian-Nya.



2. Bersyukur atas pemberian-Nya.

Sementara konteks BERSYUKUR, berhubungan dengan sesuatu yang menyenangkan. Ada 3 nikmat yang Allah berikan kepada manusia:

- Nikmat umur

- Nikmat kesehatan, termasuk di dalamnya nikmat kemampuan berfikir.

- Nikmat hidayah



3. Istiqomah dalam kebaikan

4. Membantu orang-orang lemah (meringankan orang-orang lemah)

Bukan berarti hanya membantu orang-orang miskin, tapi maksud lemah ini suka meringankan beban orang-orang yang lemah. Contoh sederhana dengan membantu orang tua yang mau menyeberang jalan.



Contoh sifat Rasulullah yang tertuang dalam hadist Bukhari:

“Carilah (keridaan)ku melalui orang-orang lemah diantara kalian diberi rizki dan ditolong dengan sebab orang-orang lemah diantara kalian.”



5. Memperbanyak silaturahmi

Sepertinya poin-poin ini tampak sederhana dan sering sekali disampaikan oleh berbagai para ahli agama. Sederhana tapi aplikasinya itu luar biasa kompleks, melibatkan organ tubuh yang paling utama: hati. Tapi, tidak tahu, ya, kali ini upaya yang berusaha disampaikan Pa Aam lebih ‘nancleb’ ke hati, begitu mudah setiap kalimat-kalimat dan makna yang disampaikannya masuk dan mengobati setiap luka-luka hati. Pelan-pelan syaraf-syaraf melembut, saya menarik nafas panjang, betapa keberadaan anak-anak, suami, Amih, keluarga, sahabat, begitu berharga.

“Ikhlas, Ma, Ikhlas. Gak perlu lagi risau, ada Allah yang selalu menolong dengan cara-Nya yang nanti bakal kamu paham. Sayangi hidupmu hari ini, mereka adalah kesempatanmu yang berharga.” Bisik saya ke hati.

Kadang, memang, di satu titik saya pernah sama sekali tidak bisa (lagi) manangis, saya sudah tidak bisa lagi berdoa selain berbisik menyebut nama “Allah” berulang-ulang, duduk di atas sajadah setelah shalat tanpa berdoa apa-apa selain diam dan menutup mata, benar-benar tak ada harapan, tapi saya terus bergerak, pelan, melemah. Dalam keadaan seperti ini tiba-tiba ada saja bantuan kiri kanan dari arah yang tidak terduga-duga. Apapun itu bentuknya.

Meski rasa yakin ini naik turun dengan muncul perasaan takut, khawatir, bingung, gelisah, rasa syukur sering berkurang. Tapi ditengah perasaan itu saya selalu berusaha mengingat-ingat berbagai kejadian yang luar biasa. Bersama kesulitan ada saja kemudahanan, saya hanya harus lebih menguatkan diri untuk terus sabar. Maksudnya terus doa dan ikhtiar.

Sehingga tumbuh lagi keyakinan, Allah bersama kita, Allah selalu ada, Allah selalu memberi jalan yang terbaik sekalipun kita harus melewati kejadian-kejadian yang menyakitkan. Allah tahu, kita bisa melewati rasa-rasa gelisah itu sehingga kita semakin mengejar Allah, mengikuti pola hidup yang luar biasa dan semakin menikmati keindahan hidup dari sudut pandang-Nya.

Lahaola walakuwata illabillah...

0 Comments