Reuni di Tengah Keindahan Puncak Bogor


Semangatnya Hadir di Reuni 

Puncak Bogor sore itu sendu, musim hujan, ada kabut di ujung sana. Kiri kanan pohon-pohon cemara, lengkap dengan kebun teh, tempat peristirahatan seperti villa dan hotel-hotel yang disediakan untuk para pelancong yang mau berlibur. Cocok sekali buat kita yang ingin meredakan diri dari riuh rendah suasana perkotaan.

Beberapa tahun lalu, tepatnya tahun 2016, saya ikut reuni pesantren angkatan suami saya di Puncak Bogor. Saat itu mereka menyewa satu Villa yang besar untuk menampung puluhan orang. Suasana reuni saat itu masih berkesan di hati saya, menyenangkan, ceria, dan ada kedekatan emosional yang tinggi antar masing-masing teman. Bisa jadi bukan lagi teman atau sahabat, hubungan mereka tidak lagi teman tapi berubah jadi keluarga kedua. 





Bagaimana tidak, mereka tinggal bersama mulai dari tsanawiah kelas 1 (setingkat SMP) hingga aliyah kelas 3 (setingkat SMA). Bentuknya mondok, belajar dan tinggal bersama dalam satu bangunan selama bertahun-tahun. Menjalani hidup susah senang ditanggung bersama, kalau dapat kiriman makanan dari Bunde untuk 1 bulan tapi yang terjadi habis hanya dalam beberapa hari saja. Karena persediaan tidak dimakan sendiri tapi paket akan dibongkar dan dimakan bersama-sama.

Suasana itu yang terasa, meskipun saya tidak mondok dan bukan teman mereka, tapi saya merasa jadi bagian hidup mereka. Seolah tidak ada jarak, teman-teman suami yang perempuan selalu bertanya dan mengajak ngobrol. Menanyakan dan bercerita tentang banyak hal prihal kondisi keluarga dan khususnya kesehatan suami.

Ya, tahun itu sebetulnya kondisi suami saya masih belum stabil. Tubuhnya mudah lemas kalau cuaca dingin dan tidak bisa berinteraksi terlalu lama dengan banyak orang dan menguras emosi. Baik emosi terlalu senang maupun sebaliknya maka tubuhnya cepat lemas. 



Saat suami saya bilang ingin ikut gabung di acara reuni Ash Shidiqiyyah Islamic Collage (AIC) Jakarta angkatan ’96. Karena dari sejak lulus tahun 1996 baru kali ini ada reuni lagi tahun 2016 dengan skala besar.  Yang saya rasakan, reuni kerap membuat kita bersemangat datang, apalagi kalau bukan untuk melepas rindu setelah bertahun-tahun terpisah. Begitu suami saya mendengar kabar dari temannya bahwa akan ada Reuni Ash Shidiqiyyah Islamic Collage (AIC) angkatan ’96, dia tampak antusias dan ingin menghadiri acaranya.

Saya agak khawatir karena saat itu musim hujan dan bisa di pastikan udara di Puncak Bogor sangat dingin. Keinginannya kuat ketika ingin ikut reuni, tapi saya lihat dia begitu semangat. Jadi saya fikir tak apa, bisa jadi dengan suasana puncak yang indah dan pertemuan dengan teman-temannya lebih bisa mencerahkan hatinya dan lebih semangat sembuh.  Selain itu pemandangan perjalanan dan lokasi disana akan memanjakan mata dan hatinya.

Keputusannya untuk datang ternyata disambut hangat oleh panitia dan teman-temannya. Suami saya sampai dikasih kamar khusus kalau-kalau butuh ruang tenang. Karena mereka sudah paham sekali dengan kondisi kesehatan suami saya. Betul saja, di acara itu dia terlihat tenang dan cerah. Lihat interaksi suami dengan teman-temannya, saya sangat terharu.



Menuju Puncak Bogor

Saya lupa bagaimana ceritanya, kenapa sebelum reuni posisi saya ada di Bandung dan suami saya sedang ada di Pandeglang. Tapi yang saya ingat, kalau dia sedang ingin tinggal di Pandeglang (rumah ibunya) atau Serpong (rumah kakaknya) alasannya karena masalah cuaca yang sedang musim hujan di Bandung. Dia butuh cuaca panas agar kondisi tubuhnya lebih stabil. Meskipun di Pandeglang dan Serpong hujan juga, tapi cuacanya tidak sedingin di rumah kami di Bandung.

Tapi saya ingat betul, saya ajak anak saya Aden untuk ikut ke Puncak dengan menggunakan Bis sampai Cibinong. Lalu dijemput oleh sahabat kami Iskandar untuk pergi bersama keluarganya. Sementara suami saya pergi dari Pandeglang menggunakan mobil, diantar supir dan ikut gabung beberapa temannya. Jadi kami pun bertemu di puncak Bogor. 





Acara berlangsung di akhir pekan, kalau weekend orang-orang sudah mafhum, kalau jalan ke Puncak Bogor selalu macet. Lokasi cantik selalu jadi tujuan wisatawan lokal maupun asing, disana banyak sekali Villa dan hotel-hotel bertumbuhan di seputar Puncak Bogor untuk refreshing maupun gathering. Bisa kita lihat di portal pegipegi berbagai jenis hotel di Puncak Bogor lengkap dengan harganya. Tarifnya beragam diatas IDR1 juta hingga IDR 200 pun tersedia dengan kondisi penginapan yang disesuaikan kebutuhan masing-masing.



Tutup Buka Menuju Puncak Bogor

Saking banyaknya pelancong ke arah puncak Bogor, setiap akhir pekan atau liburan selalu diberlakukan sistem tutup buka untuk jalur ke puncak. Ada yang tertahan 1-3 jam karena menunggu giliran naik maupun turun. Ya, tinggal sabar saja, karena lokasinya memang indah jadi begitu tiba di puncak bogor, semua lelah dan proses antri, macet terobati dengan keindahan alamnya.

Menurut perkiraan Iskandar, kita akan terkena sistem tutup buka jam 14.00 wib. Tapi saya pikir tidak apa-apa, jadi kita bisa ngopi-ngopi dulu atau tidur sampai nunggu jalur ke Puncak Bogor dibuka. Jadi nikmati saja. Perjalanan dari Cibinong ke Bogor tidak terlalu jauh. Bersama Ai-istri Iskandar dan kedua anaknya cukup membuat suasana di mobil ceria. Kebetulan anak Iskandar dan anak saya umurnya tidak jauh berbeda, jadi mereka main bersama sambil sesekali lihat youtube untuk menghibur diri. 





Begitu tiba di pintu masuk menuju puncak Bogor, hanya selang satu mobil pintu ditutup. Jadi kami pun terpaksa menunggu giliran. Banyak yang menawarkan jalur khusus dengan tarif tertentu, tapi dipikir-pikir tak perlu lah, santai saja. Ternyata, waktu tutup buka pintu tidak terlalu lama. Kami pun segera berangkat ke puncak. Begitu masuk jalanan puncak, waaah! Indah sekali. AC langsung dimatikan, jendela kiri kanan dibuka, wangi daun, sisa hujan, merebak ke udara. Pepohonan hijau mengisi setiap lekukan puncak gunung. Tenang sekali.

Jalan ke lokasi villa di Puncak Bogor cukup jauh, menanjak dan kerkelok-kelok. Tadinya saya khawatir nyasar melihat jalur ke lokasi, tapi ternyata ada beberapa mobil lain melewati jalur yang lebih naik. Jadi kami pun merasa tenang dan geli melihat kekhawatiran sendiri.



Kami Pun Tiba

Sampailah kami di villa tempat reuni AIC’96, sudah banyak mobil yang parkir, beberapa peserta sedang ikut lomba, anak-anak main game beregu, seru sekali. Ini semacam family gathering. Kiri kanan tawa anak-anak dan para ibu-bapak terdengar renyah. Suami saya menyambut dengan tenang, dia tidak bisa terlalu larut dalam emosi suka maupun duka, jadi dia berusaha senang secukupnya. 





Kamipun menyipan segala tas di kamar yang sudah sediakan, saya ajak Ai, Iskandar dan anak-anaknya satu ruangan untuk menyimpan tas dan istirahat. Tak hanya kami saja yang bawa keluarga, ada salah satu teman suami membawa mertuanya dan barang-barang jualannya. Unik dan seru sekali. Alhamdulillah... 


Vila ini ukurannya besar sekali, ada kamar-kamar, ruang makan, dapur, ruang pertemuan, kolam renang, tempat parkir yang luas, ruang bermain di depan dan di belakang. Pemandangan puncak Bogornya dapat banget, kiri kanan  puncak dan lembah menghampar hijau.  Dihiasi kabut-kabut menyelinap disetiap pohon.  Hati dan paru-paru serasa dapat refil. Segar!


Untuk memenuhi makan, panitia reuni AIC menyewa jasa katering villa tersebut. Kita tidak perlu memasak sendiri sehingga bisa intens komunikasi, kangen-kangenan, mengikuti games-games dan rangkaian acara lainnya. Rupanya tim katering ini orang lokal, jika kita sewa villa kita bisa kontak mereka untuk mengatur masak memasak dan memenuhi kebutuhan ransum.

Ada adegan seru pas giliran makan, mereka (teman-teman suami) antri seolah sedang antri makan sewaktu di pondok.  Ungkapan dan saling lempar becandaan satu dengan yang lain.  Suasana tambah rame karena antri sambil menambuh piring.  Ada beberapa yang menggunakan satu piring makan berdua, saling potong-potongan kerupuk dan tempe goreng.  



Karena ada kolam renang, anak-anak pun semangat berenang meskipun air kolam terasa dingin. Beberapa teman suami menyapa dan berbincang tengang segala hal, termasuk menanyakan kondisi kesehatan suami saya. Sambil makan dan ngemil sana sini. Beberapa ada yang bawa berbagai cemilan, jadi kami saling coba dan saling comot.

Acara reuni yang menyenangkan, ada kedekatan secara emosional antara suami dan teman-temannya terlihat sekali.  Tidak ada rasa canggung maupun sekat pemisah antara satu dengan yang lain apapun kondisinya saat itu.  Pertemuan itu seolah-olah melihat interaksi mereka kembali pada zaman anak-anak - remaja tapi dalam tubuh dewasa.


Perpisahan beberapa tahun ternyata tidak menghilangkan rasa, masing-masing sudah tumbuh dewasa, bahkan berkeluarga.  Semua bertumbuh dengan pilihan jalan hidup yang harus diambil dengan beragam resiko dan proses yang tidak sederhana.  Tak ada sakit, tak ada duka, tak ada lelah, semua terobati dalam suasana alam dan pertemuan yang menyejukan.



0 Comments