Pagi Tetaplah Pagi

Pagi ini redup. Perempuan-perempuan muda juga paruh baya, melebur diri di trotoar sekolah negeri. Menanti bumi, menanti rindu, menanti harapan. Parempuan-perempuan dengan sejuta harap dan sabar, melahap malam menggerus pagi, menata siang.




Perempuan, menanti sambil menyebarkan tawa, bercerita tentang rumah, anak, suami, harga bahan baku yang kian mengeringkan isi kepala. Segumpal doa perlahan merayap, menyebar pada tiap serpih, hangatkan mentari yang tengah istirahat di balik awan, tebal. Pagi ini sendu, meski sepanjang jalan, bunga bermekaran.

Anak-anak berseragam putih merah, satu persatu keluar kelas. Sebagian berlari menuju pedagang jalanan, memainkan bola, saling berteriak, sebagian lain memainkan dedaunan.

Para perempuan menyambut anak-anaknya. Ada yang menggenggam, memarahi, ada yang tertawa-tawa, ada yang memeluk erat tubuh si anak. Sementara, seorang anak berperawakan kecil, bermain-main di pagar halaman sekolah, perempuan yang ditunggunya tak juga datang menjemput.

Anak-anak dan para perempuan, pulang. Kembali menyusun hari yang berulang-ulang.

Musim berganti.

Pagi tetaplah pagi meski tanpa matahari.

Dengan nama pemilik hidup. Dengan nama pagi. Dengan gerimis. Ssaling bersahutan. Disini, angin bergerak lambat, begitupun matahari. Atap basah, wangi tanah basah, anak-anak sibuk dengan mainannya, satu anak lainnya duduk-duduk dipangkuan Ibu.

Ada musik sendu mengalun di balik tirai. Disana, lelaki seperepat abad memainkan arang di atas kertas coklat. Meleburkan hitam dan putih. Ribuan cerita dibalik garis dan arsiran raut mukanya. Tentang doa dan pergerakannya di hari ini.

Tak ada lagi tuntutan, hanya berusaha, tidak berhenti dan ikuti nurani.

Segala, bergerak tanpa paksaan lagi. Tangan, hati, tubuh bergerak mengikuti irama hidup. Dengan, tanpa tawa. Dengan, tanpa tangis. Dengan, tanpa ringkihan. Hidup tetaplah hidup. Bergerak bersama irama yang ada.

28 September 2017
@imatakubesar

Ima Rochmawati

6 comments:

  1. Ini narasinya dalem banget, ya, Teh. Jadi inget masa-masa kuliah dulu pas Teteh n fren mentas di arena parkir atau aula kampus:)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, Efi suka nonton. Makasih, yaaaa... Jadi terharu. Nuhun, nuhuuun...

      Delete
  2. Hanyut dalam tulisan ini. Serasa saya yg sedang membacakan puisi dengan hati.

    ReplyDelete
  3. Barakallahu dlm tiap cerita ya Ima^^

    ReplyDelete
  4. Aaamiiin,,, doanya, Teh.

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv