Merawat Ruang Publik: Informasi di Dunia Maya

Pembicara, Enda Nasution
menjelaskan tentang pertumbuhan dunia literasi (Blogging)
dari masa ke masa.
Foto: Ima



Sensistifitas Budaya


Dunia komunikasi dan informasi di media sosial sangat tinggi, informasi negatif dan positif saling berkejaran. Satu sisi masyarakat suka cepat merespons berita-berita negatif dari pada berita positif. Respons masyarakat lebih mudah tersentuh ketika melihat dan mendengar kejadian-kejadian yang negatif. Sehingga banyak sekali sisi sosial yang baik menjadi tertutup karena kejadian-kejadian yang negatif.


Dulu ada keyakinan, kalau ingin menguasai dunia, maka kuasailah daratan. Kemudian persepsi itu bergeser, bahwa kalau ingin menguasai dunia maka kuasailah lautan. Sekarang, jika ingin menguasai dunia maka kuasailah dunia maya.


Tak dipungkiri kini manusia lebih senang berselancar di dunia maya.  Berdasarkan penelitian, ketika orang berselancar di dunia maya dia akan keluar hormon oksitosin yaitu hormon yang membuat nyaman.  Hormon yang sama seperti bayi yang menyusui. Ada kenyamanan tersendiri ketika kita mencari informasi-informasi di dunia maya.

Kini, masyarakat Indonesia begitu mudah mencari dan mendapatkan beragam informasi dari dunia maya. Sayangnya bertebaran informasi di dunia maya berita bohong (hoax) dan orang-orang yang mendapatkan info itu dengan mudah membagikannya di media sosial tanpa mencari kebenarannya.

Oleh karena itu, kita sebagai pelaku media maya, harus ikut menulis dan berbagi konten dengan bahan yang akurat.



Kebhinekaan: Beragam Itu Indah

Pada dasarnya beragam itu indah. Di dunia ini ada ratusan bahasa, suku bangsa, bahasa, agama, budaya dan bagaimana masing-masing hadir dengan.  Seharusnya keberagaman ini bisa menjadi media belajar dan kaya. Justru dari keberagaman inilah muncul pola komunikasi yang menarik, bijak dan membuat cara pandang kita terhadap persoalan-persoalan sosial menjadi luas.

Katakanlah ketika ada kasus pemakaman, kita tidak bisa menyamakan persepsi orang Jakarta dalam menanggapi suku lain dalam melakukan kasus yang sama. Pertimbangan kondisi alam, kepercayaan dan budaya tiap suku berbeda-beda, jadi kita tidak bisa menerapkan persepsi sendiri dalam menyelesaikan suatu masalah suku lain.

Indonesia pada dasarnya sudah beragam, berbeda dengan negara Amerika yang tercipta karena orang-orang yang beragam datang ke negera itu untuk mendapatkan kebebasan. Demokrasi pun tercipta karena masing-masing suku bangsa yang datang ke Amerika berharap mendapat pengakuan, kebebasan dan hak yang sama. Sementara, di Indonesia tinggal dipelihara perbedaan ini menjadi ruang-ruang yang menarik untuk menciptakan bentuk komunikasi yang baik. 



Di era digital ini, Indonesia ini pada dasarnya seperti rumput kering yang mudah terbakar. Sehingga keberagaman ini harus dilihat secara radikal (berfikir yang berakar pada persoalan yang sesungguhnya). Jadi jika ada tudingan yang muncul di media sosial harus kita cari akar pesoalannya. Iklim sosial sering terjadi pergesekan, kalau ingin menghilangkan asap, maka hilangkan apinya.

Pada dasarnya, manusia merespons pola-pola budaya, dikembangkan dengan tatanan yang dihadapi. Jika menuntut kebudayaan yang seragam, itu sangat absurd karena respons tiap manusia makna berbeda-beda dalam menanggapi.

Bagaimana ruang publik tetap terbuka? Di media maya, kita bisa melahirkan berbagai gagasan. Cara ini mempengaruhi orang-orang untuk melakukan kegiatan yang lebih produktif, membangun kreatifitas dan menciptakan kesempatan membangun budaya yang lebih baik. Dengan terbangunnya budaya yang lebih baik, keberagaman akan menjadi referensi yang menarik untuk memperkaya wawasan dan terciptanya ruang berkarya.



Blogging di Indonesia dari Masa Ke Mas
a

Enda Nasution

Tanggal 22 Oktober tahun ini adalah 10 tahun dicanangkan hari blogger Indonesia. Makin kesini, dunia blogger di Indonesia semakin ramai dan diminati oleh banyak orang. Sayangnya tidak punya media sosial dengan flatform produk Indonesia sendiri. Sekarang muncul flatform Sebangsa, merupakan media sosial berbasis komunitas.

Perkembangan literasi manusia bergerak bertahap, mulai dari menulis di dinding-dinding gua, lalu lanjut ke kertas kemudian dalam bentuk buku. Kemudian dimasa-masa tertentu, buku pernah hanya dimiliki dan dibaca oleh kelas masyarakat tertentu karena harga buku yang mahal. Lalu, buku mulai bisa dicetak sendiri oleh penulisnya, sehingga buku semakin banyak terbit dan mudah dimiliki oleh pembacanya. 





Pada tahun 1997, weblog mulai muncul. Tapi blog yang kita kenal saat ini bukanlah blog yang kita isi dengan beragam cerita.  Saat itu, masih belum ada Google.  Jadi, fungsi blog lebih pada membagi link dan mengarahkan pada berbagai informasi yang kita butuhkan.

Saat ini, blog menjadi media yang bisa digunakan dan olah oleh siapapun.  Kita adalah konten creator untuk blog yang kita ciptakan.  Dan berdasarkan perkembangannya, web blog dan media sosial menjadi digital marketing yang dibutuhkan oleh semua perusahaan. 


Bahkan tantangan literasi di dunia digital semakin tinggi:

1.  Kebebasan berekspresi
2. Memanage hoax dan informasi yang tidak benar.
3. Banyak program literasi
4. Membantu pertumbuhan industri.

Hal yang dibutuhkan dalam anatomi blog, yaitu:

1. Informastif
2. Spesifik
3. Berguna
4. Personal
5. Unik/Khas
6. Bergaul

Agar pembaca bisa bertahan dan kembali lagi ke blog kita, upayakan konten dalam blog memberi anatoim diatas.


Tak hanya itu, Enda Nasution memberi gambaran dan tips menarik dalam enulis blog.  Sebaiknya, tulislah dengan piramida terbalik, bahkan dijelaskan dulu dari awal.


Bandung, 22 Agustus 2017
Imatakubesar

Tulisan ini diikutsertakan dalam acara Flash Blogging 72 RI Tahun #FlashBlog72RI

Ima Rochmawati

1 comment:

  1. Seruu yah ikut acara ini. Pemateri dan materinya ok bingiiits.
    Selamat jadi juara yah 😅😍👍

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv