Kelas Menulis CAN Termin 2 di Lapas Anak

Suasana ruang kelas menulis di perpustakaan lapas anak.
Foto: Ima, 2017

Siang itu, saya dan teman-teman mulai berkegiatan kelas menulis lagi di lapas anak (sekarang LPKA, Lembaga Pendidikan Khusus Anak). Setiap hari Senin, kami bergantian mengisi materi untuk berbagi cara membuat tulisan, fiksi dan non fiksi. Dari menulis spontan hingga menulis dengan kerangka, menulis puisi hingga dibikin lagu, menulis cerpen, juga tulisan reflektif anak-anak tentang kehidupannya di dalam penjara.

Beberapa orang bertanya, kenapa saya mau berbagi ke lapas anak ini. Mungkin buat beberapa orang agak mengherankan karena mereka yang ada di lapas itu anak-anak "nakal", sampah masyarakat, melakukan kesalahan, bla, bla, bla. Baik ringan maupun berat, dari kasus narkoba hingga pembunuhan. Sama, saya juga heran.  Malah saya belum pernah menjadi pemateri atau pengalaman lain dalam mengajar dunia literasi selain menulis di blog dan beberapa tulisan di beberapa kompilasi buku. 

Ga tau ya, ketika dapat tawaran itu, hati saya tergerak begitu saja. Saya percaya ada sesuatu yang bisa saya petik dari proses yang bakal saya jalani, saya tidak tahu apa. Tapi saya percaya hati saya bergerak karena ada sesuatu yang menarik dan bermanfaat.  

Foto: Ima, 2017

Rupanya, anak-anak yang ikut kelas menulis ini ada, lho.  Sangat jarang anak remaja suka menulis, mereka lebih banyak melakukan kegitan-kegiatan fisik.  Herannya lagi mereka sangat rajin mencatat manual.  Catatan mereka berbuku-buku dan ditulis diatas kertas dengan pena.  Hari gini, menulis manual menjadi kegiatan yang jarang.   Mereka cukup antusias dan tidak menunjukan kegarangan maupun ciri-ciri kelakuan yang mengkhawatirkan.  Bahkan terlihat santun.  

Pertemuan Senin pertama termin ke-2 program kelas menulis CAN (Cerita Anak Negeri) di lapas anak ini, dimulai dengan membahas Zines. Jadi projek latihan menulis ini hasil akhirnya adalah mereka akan diberi pengalaman membuat zines sendiri. Alasan sederhananya, mereka tidak boleh menggunakan komputer, jadi media/zines ini sepertinya akan cocok. Mereka mengisi konten dan membuat desain secara manual, pakai kertas A4 kemudian dilipat dua.  Covernya dibuat sendiri hingga font judul Zines.  

Mirip majalah ukuran kecil dengan menggunakan alat-alat yang ada dan kesempatan yang paling mungkin.  Sehingga mereka ada pengalaman berekspresi membuat sesuatu dari awal sampai akhir.  Karena di lapas tidak ada alat foto kopi maupun alat cetak, jadi zines akan diperbanyak oleh pementor di luar lapas.

Foto: Ima, 2017

Sayangnya, dari 10 peserta kelas di bulan-bulan lalu, hanya 5 orang yang datang ke kelas menulis siang itu. Tapi katanya itu karena mereka ikut kegiatan yang lain. Tak apa, yang jelas dari 5 orang ini tampak lebih bersemangat.

Kami menggiring mereka untuk mengenal apa itu zines dan bagaimana proses pembuatan zines. Diawali dengan memberi padangan tentang zines kemudian diteruskan dengan mencari nama Zines bersama. Anak-anak melontarkan banyak nama yang unik dan segar. Dari semua list, ada yang unik dan menggelitik sehingga membuat kami banyak tawa. Dari beberapa nama yang terkumpul, kami mengarahkan nama-nama yang cocok menjadi nama zines-nya dan rubrik-rubrik apa saja yang mengisi halaman zines tersebut. Tak hanya itu, dilanjut dengan berbagi tugas menjadi pimpinan redaksi, tim redaksi dan masing-masing tanggung jawabnya. 

Foto: Ima, 2017

Mulai hari ini, anak-anak akan terlibat langsung belajar kerja kolektif dan tanggung jawab mengelola Zines sendiri. Mau jadi seperti apa nantinya, kita lihat di awal bulan November.

Dalam proses pencarian nama daan rubrik, tidak terlalu dibawa njelimet. Karena kondisi anak-anak pun saat ini sudah merasa tertekan. Kami cari nama sambil ketawa-ketawa, sambil bermain gitar dan bernyanyi-nyanyi dari puisi yang mereka buat.

Kebetulan hari itu, dari 4 mentor, 3 orang mentor bisa datang untuk mengawali kelas, melepas rindu dan beradaptasi lagi untuk memulai kelas. Saya, Evi Sri Rezeki, Kang Adew Habtsa, Adhimas dari ASAS UPI Bandung, akan berbagi tugas di Senin-Senin berikutnya.

Mencari nama dan berbagi tugas membuat Zines sudah selesai, tapi masih cukup waktu untuk melakukan aktifitas . Untunglah Kang Adew bawa gitar, beberapa anak memperlihatkan puisinya dan ingin dibuat nada untuk dijadikan lagu. Ada yang nyanyi-nyanyi, ada yang memperhatikan dan ada juga yang tanya-tanya cara menulis naskah drama.

Seorang anak bilang,”Teh, kelas menulisnya tambah lagi dong waktunya biar saya ada kegiatan, males kalau harus di blok aja.”

@imatakubesar
Bandung, 9 Agustus 2017

Ima Rochmawati

8 comments:

  1. Pengalaman yang seru, dan pastinya sangat berharga buat anak2... Titip salam buat mereka ya Teh

    ReplyDelete
  2. Mereka masih anak2, masih bisa merubah image "nakal" menjadi seseorang yg lebih baik dan bermanfaat untuk semua....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nah ini banget, saya percaya setiap orang punya kesempatan untuk berubah.

      Delete
  3. Wah seneng banget bisa bermanfaat ilmunya :) Ajak-ajak dong :D

    ReplyDelete
  4. Pengalaman nya keren ya teh, pasti bakalan selalu diingat nih. Saya suka sedih kalau liat para pesakitan anak - anak,

    ReplyDelete
  5. Teh, saya jadi terharu. :')

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv