Jatuh Cinta Pada Kreasi Masakan Minahasa






Makanan adalah cita rasa kehidupan. 



Disana lahir segala kemungkinan dan melahirkan peradaban. 



Saya orang Bandung. Saya selalu merasa beruntung lahir dan hidup di Bandung. Selain karena cuaca dan suasana kreatifitas yang kental, di kota ini kamu bakal menemukan berbagai jenis makanan khas dari berbagai daerah, termasuk makanan khas Minahasa atau kalau kamu mengenal Manado, nah, Manado ada di Minahasa, tepatnya di Sulawesi Utara. Menarik, ya.

Lingkungan sekitar saya tumbuh sedikit banyak menyukai hal yang berbau seni dan makanan. Boleh dibilang kami sangat bergairah jika bahas dua hal itu. Bisa jadi kondisi ini yang menyebabkan situasi di Bandung jadi dinamis. Fasilitas pendidikan di kota ini sangat kondusif membuat masyarakatnya lebih terbuka dan mudah menerima berbagai kemungkinan. Sekolah dan suasana Bandung lahir dengan daya pikat tersendiri, menarik pendatang dari berbagai daerah untuk sekolah, belajar dan bersosialisasi. Situasi ini menyebabkan orang-orang yang hidup di Kota Bandung saling menularkan kebudayaannya, baik cara pandang, kesukuan, bahasa, kesenian, agama, termasuk saling mengenalkan makanan khas daerah masing-masing. Kemungkinan ini yang membuat Bandung menjadi kota dengan kaya cita rasa terhadap makanan. 



Olahan makanan laut, udang tepung.
Foto: Ima

Di Bandung kamu bisa menemukan makanan khas Eropa, Sulawesi, Cina, Sumatra, Kalimantan, Bali, dll. Rasanya nyaris semua makanan khas daerah di Indonesia ada, tidak ada sesuatu yang aneh jika tiba-tiba ada menu baru dijual di Bandung, karena penduduk disini berani mencoba dan mudah beradaptasi. Seringkali saya beranggapan bahwa makanan yang biasa saya makan sedari kecil adalah makanan khas Bandung. Katakanlah, seperti klapertaart, ikan bumbu, sarikaya, bagelen, croissant, roti bagel, spaghetti, dll. Sedari kecil saya pecinta kuliner, alasannya karena Bapak saya seorang pedagang ayam di Pasar Baru. Nah, di seputar pasar ini adalah surganya makanan, saja “belajar” langsung beragam jenis makanan dan karakter orang-orang yang berbeda. Kadang saya tidak terlalu kaget dengan ada makanan yang aneh-aneh hingga jenis makanan yang tidak boleh kami makan, seperti daging anjing, daging babi, kelelawar. Di pasar baru, semua agama dan keyakinan melebur dan semua kebutuhan makanan sangat terbuka memenuhi semua orang.

Saya dan kakak perempuan seringkali ke los makanan basah, kue kering dari jaman Belanda, hunting bahan kue, mencoba masakan khas daerah tertentu di kios-kios makanan. Ini pengalaman yang mengasah kepekaan saya. Saya senang sekali kalau diajak mencoba dan mengenal makanan baru. Kebiasaan ini terbawa sampai dewasa, kadang arti jalan-jalan itu buat saya adalah jelajah kuliner. 





Ikan krapu goreng, salah satu ikan laut
yang didapatkan di salah satu tempat kuliner.
Foto: Ima

Semakin besar, banyak yang dilihat dan banyak yang baca, sedikit berkumpul dan mendengar cerita dari teman-teman yang suka jalan-jalan. Salah satu makanan yang baru saya tahu bahwa klapertaart ternyata bukan makanan camilan khas Bandung. Makanan camilan berisi daging kelapa muda, bertabur kayu manis dan kismis itu biasa saya beli di toko roti daerah Braga, rupanya berasal dari Minahasa atau Menado. Oke, saya salah dan cetek banget wawasan tentang makanan, tahunya dimana saya mendapatkan makanan itu dan melahapnya, huft!

Ternyata makanan khas Minahasa ini banyak juga, seperti: tinutuan (bubur Manado), klapertaart, saut, nasi jaha, tinoransak, kawok (tikus hutan), paniki (kelelawar), mujiar bakar dan woku, cakalang fufu (cakalang asap) dan woku, pangi, sate palangka, kombi, mie cakalang, rica rodo. Merasa asing dengan nama-nama makanan itu?, sama. Tapi diantara 15 jenis makanan khas Minahasa itu, saya pernah coba klapertaart, cakalang fufu, beberapa yang tidak saya coba karena tidak boleh memakannya. Meskipun baru mencoba 2 jenis makanan itu, saya penasaran ingin datang ke sana dan menikmati makanan langsung di tempat aslinya. Kenapa? Alasannya sederhana, karena biasanya makanan yang dijual bukan di tempat aslinya sudah mengalami pengadaptasian rasa agar bisa diterima oleh lidah masyarakat setempat.

Seperti pengalaman saya makan di rumah makan khas Manado di wilayah Jl. Sultan Agung 9 Bandung. Di rumah makan ini, menjual beragam jenis makanan khas Manado dengan bahan dasar bebek, ikan lele, ikan cakalang, sayur cah kangkung, nasi goreng, semua diolah dengan bumbu bercitarasa Menado. Sambalnya? Ini sih juaranya sambal Menado. Segar, enak dan pedasnya ada tiga pilihan, rendah, sedang dan tinggi. Di rumah makan khas Manado ini, awalnya tersedia daging babi (nama aslinya RW). Saya fikir, rumah makan khas Manado wajar menyediakan menu ini, karena memang makanan khas Manado salah satunya daging babi. Mereka biasa mengolah makanan khusus itu, beda tempat cuci dan alat masaknya juga dipisahkan untuk menghormati konsumen yang muslim. Kalau sekarang, menu khusus ini sudah tidak ada, mengingat menu itu menjadi viral dan membuat banyak orang merasa khawatir.

Di rumah makan Manado itu, saya makan nasi goreng hitam (nasi goreng cumi) dan mencoba cakalang cabe hijau yang rasanya juara tiada tara. Ternyata rasa bumbu Manado itu unik, banyak rempah bikin segar. Kalau kamu menyebutkan satu nasi rempah khas india, ini beda rasanya. Untuk menyesuaikan selera orang-orang di Bandung, jadi cita rasa masakanan rumah makan Manado ini disesuaikan dengan lidah orang Jawa kebanyakan. Auch! Enaknya tidak terkira. 



Nasi goreng hitam (olahan cumi-cumi) dan nasi goreng
daging cuka. Foto: Ima


Sejak saya coba makan-makanan khas Minahasa, saya jadi mempelajari kondisi dan budaya disana. Ternyata di Minahasa merupakan daerah bekas jajahan Spanyol, Potugis dan Belanda. Bahkan ada yang sampai menikah dan beranak pinak. Saya fikir, ini sangat menarik. Pasti banyak budaya Spanyol, Portugis maupun Belanda yang diserap oleh penduduk setempat begitu pun sebaliknya, ciri khas yang paling mudah terjadinya percampuran budaya terdapat pada hasil olahan makanannya. Nah, dengan alasan itu, juga, saya tertarik untuk langsung datang ke Minahasa dan mencoba makanan olahan asli dan mengenal gaya hidup di sana.  Katanya, melahap makanan atau minuman khas suatu tempat akan lebih lezat jika kita datang langsung ke tempatnya.  Sensasinya akan beda.



Caklang Cabe Ijo khas Rumah Makan Manado di Bandung.
Sumber Foto: Di sini

Kalau memperhatikan 3 jenis makanan yang pernah saya coba diantaranya Klapertaart, Cakalang Cabai Hijau dan Nasi Goreng Hitam. Makanan khas Minahasa banyak menggunakan bahan dasar dari laut, yaitu ikan dan cumi-cumi. Dominasi olahan rasanya yang cenderung pedas segar membuat ikan maupun cumi-cumi menjadi lebih enak. Sekalipun binatang laut ini cukup dioseng dengan bumbu sekedarnya sudah enak, tapi tidak dengan bumbu khas Minahasa yang kaya rempah seperti jahe, laos, daun jeruk, cabe merah, tomat, sereh dan lainnya, membuat penikmatnya kalang kabut. Lebih konsentrasi dalam menikmati makanan khas Manado. Semua makanan ini seperti memberi energi positif dan mengandung banyak protein, bagus untuk memelihara stamina tubuh manusia dan otak.

Camilannya tak lepas dari daging kelapa muda, seperti es kelapa muda, es kelapa muda dan alpukat kerok, katakanlah klapertaart merupakan menu camilan andalan paling enak yang pernah saya coba. Sayangnya, sajian klapertaart ini biasanya untuk beberapa sendok makan saja. Bisa jadi dalam satu wadah kecil klapertaart ini mengadung banyak gizi, jadi porsi makannya sangat diperhatikan agar tidak kelebihan gizi. Dalam klapertaart ini mengandung kelapa muda segar, telur putih mengandung protein tinggi, air kelapa yang meningkatkan ion tubuh. Belum ditambah susu, gula, maizena dan tepung terigu memberi zat karbohidrat.

Nah, sementara dalam nasi goreng cumi-cumi, selain rasanya yang gurih dan lezat. Nasi mengandung banyak karbohidrat dan cumi-cumi segar memberi protein bagi tubuh. Minyak goreng memberi mengandung lemak nabati yang baik untuk tubuh. Bumbu-bumbu dasar sperti daun jeruk, bawang putih, jahe, merupakan bumbu obat yang bisa menyegarkan badan.

Saya membayangkan, bisa mencoba makanan khas Minahasa langsung di tempatnya. Kecuali makanan yang berbahan dasar yang memang tidak boleh dimakan, seperti babi dan binatang liar lainnya. Saya mau tahu bumbu asli bagaimana mereka mengolah bahan dasarnya seperti apa. Biasanya, beda sedikit aja tahapan cara pembuatan dan beda satu jenis bahan dasar suka mempengaruhi rasa. Belum lagi ikan dan cumi-cumi segar yang yang diambil tak jauh dari laut. Minahasa daerah iklim tropis, punya garis pantai yang panjang, dikelilingi perbukitan dan pegunungan. Karena subur Minahasa subur oleh pohon kelapa, pohon pala dan berbagai sayuran lainnya. Ini tercermin dari jenis makanan bernama tinutan atau bubur Manado yang mengandung banyak sayuran. Seperti ubi jalar, labu kuning, bayam, kangkung, kacang panjang, daun kemangi, jagung dan bumbu-bumbu seperti bawang merah.

Tinutuan atau Bubur Manado.
Sumber foto: di sini.

Saya kira, makanan khas Minahasa boleh dibilang makanan lengkap gizi. Kondisi geografis

alamnya yang baik, membuat ikan dan tumbuhan tumbuh subur dan berkembang baik.  Masyarakat terpenuhi kebutuhan nutrisi bagi tubuhnya.  Hasil kreatifitas dan memanfaatkan kekayaan alam, membuat hasil olahan makanannya pun kaya rasa dan menciptakan budaya dan pola hidup yang unik dan kaya rasa.     

#JelajahGizi, JelajahGiziMinahasa, #NutrisiUntukBangsa, #SariHusada

Bandung, 6 Nopember 2016

Ima Rochmawati

16 comments:

  1. aku tuh paling sukaaa makanan menado.. krn pedas. :).. tp 1 yg ga bisa kemakan ampe skr, bubur menadonya.. ntahlah, ngeliat sayuran dlm bubur lembek gitu aku lgs ga napsu mbak... tp menu2 lainnya, ky roa, cakalang, panada, iakn bakarnya, pisang goreng sambalnya, semua aku suka ;D.. untungnya di jkt ada resto menado yg enak.. memang sih agak mahal, tp sebanding ama rasanya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo Ima paling penasaran sama pisang sambalnya, belom nemu, euy. Sambal roa juga enak dan segar, dicocol sama nasi rempak dan ikan bakar. Itu susah berhenti makan, deh, hahahaaa... Tapi, saya engga terlalu suka sama rasa pedes, sarat doang dan ini udah cukup enaaaaak.

      Delete
  2. udang memang enak digoreng tepungda n bumbu asam amnis yummy

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yummy bangeeet, jadi mau bikin. Makasih ya sudah mampir :)

      Delete
  3. Saya suka ikan cakalang. Enak.
    Tapi banyak juga yak khas lainnya. Tertarik dengan bubur manadonya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sama, saya juga penasaramn sama bubur Manado. Mungkin agak asin manisnya jadi natural gitu ya karena ada ubinya.

      Delete
  4. Bandung tu.seperti jogja ya..segala masakan dari daerah ada. Pengaruh banyak orang luar yang kuliah di sana mgkn ya...dan sejujurnya belum pernah sampai Bandung..he3...salam kenal mb...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ah, Jogja. Saya suka Jogja, maju tapi tetap mempertahankan tradisi kraton. Itu keren banget. Salut! Pernah punya mimpi pengen pindah ke Jogja. Asik kayanya.

      Delete
  5. Ada masakan Manado yang unik bunga pepaya dhuuuh maksa naggiih di pasang dengan cakalang bakar wow.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bunga pepaya? wah, unik ini, baru tahu bunga pepaya bisa diolah. Hmmm... harus coba, nih.

      Delete
  6. Wah ikutan juga ternyata... baru nyoba Bubur Manado saja saia mah hihi.. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya teh, temanya seru. soalnya pas nyoba makanan khas Manado/Minahasa itu cocok banget di mulut.

      Penasaran sama rasa bubur Manado, gimana itu rasanya banyak bahan-bahan dalam satu mangkuk. =)

      Delete
  7. enak betul itu makanannya jo..
    kangen sma masakan desa jadinya

    ReplyDelete
  8. Ulasan yang menarik, mesti coba nih menu-menunya. Thanks for sharing mbak Ima.

    Salam,
    Syanu.

    ReplyDelete
  9. Minahasaaa, selalu berhasil bikin jatuh hati, huuuuuu

    Salam,
    ROza.

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv