Edisi Balada di Rumah Sakit Serang



Sepenggal luka,
Seribu Cinta

1
Pagi ini saya berada di halaman rumah Mama, lengkap dengan gunung, awan, udara dingin dan beragam suara binatang yang sudah langka di perkotaan.  Riuh suara santri melantunkan ayat-ayat Tuhan menjadi denyut jantung pagi itu.  Tuhan betul-betul punya rencana yang seringkali sulit untuk difahami.  Tak ada lagi gelisah, tak ada lagi perlawanan, tak ada lagi pertanyaan atas kejadian.

2
Seminggu lalu saya pergi ke Serang begitu mendengar kabar Ayah masuk rumah sakit.  Dengan modal keyakinan, pasti Allah punya maksud dibalik kejadian ini.  Akhirnya, saya titip anak-anak ke Teh Ida dan Amih, mereka membesarkan hatiku, Allah membesarkan hati mereka, kalau tidak, saya pasti bingung antara harus pergi ke Serang untuk merawat suami atau mengurus anak-anak di Bandung.  Sementara itu, begitu Ayah sakit di Pandeglang, dia langsung dibawa Neng ke  RS Sari Asih Serang sambil bawa Tanisa-anaknya yang masih balita dan ditemani ustadzah.

3
Selepas magrib, suara mesin bis membawa saya pada satu kota, kota dengan denyut jantung yang berbeda.  Beberapa pedagang asongan datang hilir mudik, aku beli permen tolak angin dan lontong.  Sebisa mungkin, selama perjalanan saya memilih tidur di kursi penumpang agar kepalaku tetap tenang, menyimpan energi untuk nanti dengan istirahat.  Memikirkan anak-anak di Bandung dan kondisi Ayah di Serang adalah berat, jadi saya memilih melepaskan diri untuk percaya bahwa setiap orang-termasuk saya-ada yang jaga.  Melakukan apa yang paling bisa dilakukan dan prioritas mana yang paling mungkin dilakukan sekarang.

Pas keluar tol pukul 22.30 wib, saya turun di dekat patung.  Disana banyak taksi dan ojek yang siap mengantar ke berbagai tempat. Dengan menggunakan ojek, sampailah saya di rumah sakit yang jaraknya tak jauh dari pintu keluar tol Serang.  Saya bersegera menuju ruang rawat B12.  Begitu tiba, kondisi tubuh Ayah sedang menggigil, seluruh badannya bergetar dan seperti kedinginan.  Suster bilang, dia kena demam, katanya sudah diberi obat demam dan antibiotik.  Saya hanya bisa memijat kaki dan mengompres bagian-badan tertentu.  Seperti sela tangan dan sela kaki.  Pertolongan ini cukup membantu menurunkan temperatur badan Ayah yang panas tinggi.



Demam berlangsung cukup lama, lalu reda.  Disusul suhu badan yang mulai menurun, dia merasa kegerahanan.  Keringat keluar deras hingga kaos yang dia pakai dibuka, agar udara dingin yang menyerap ke kaos tidak membalik menyerang badannya jadi masuk angin.  Punggungnya diselumuti dengan kain pantai, perbekalan yang saya bawa dari Bandung, agar keringatnya menyerap ke kain itu sampai kain itu basah kuyup dan diganti dengan kain yang lain.  Keringat mulai reda, Ayah mulai bisa istirahat, dia lupa doa tidur,
"Ma, doa tidur Ma apa?  Doa tidur, Ma."  Saya pun membimbingnya, dia mendengus lalu tertidur.  Menjelang tengah malam, Neng pun pulang.  

4
Kembali ke rumah sakit, untuk yang kesekian kali saya membiasakan diri lagi dengan suasana rumah sakit.  Saya berusaha senyaman mungkin dan tetap beraktifitas seperti di rumah.  Dalam satu ruang ini, ada 6 pasien.  Masing-masing bed dibatasi dengan tirai, luasnya sekitar 2 m x 1 m.  Ada suara kecil, besar, suara oksigen di balik pasien sebelah, doa-doa yang tak berhenti, keluhan suara kakek pada istrinya yang sama-sama tua menimbulkan perdebatan, suara ibu-ibu yang kencang  tak bosan selalu menanyakan waktu pulang anaknya yang tengah dirawat, suara keluar masuk orang ke toilet, bunyi air di toilet, batuk-batuk dan obrolan-obrolan kecil.  Segala macam suara, harum obat dan bau tubuh bercampur.  Doa-doa dan keluhan masing-masing pasien beragam.  Ada kekuatan cinta dimasing-masing tirai.




5
Saya kembali mengolah dan membebaskan pikiran pada anak-anak dan kondisi fisik Ayah.  Seperti mandi pagi, sarapan pagi, merapikan pakaian, menyuapi suami dan bolak balik ke bagian perawat kalau ada keluhan.  Hari itu, perut sebelah kanan Ayah sakit.  Katanya, seperti ditusuk dan dicengkram.  Alhasil, sepanjang pagi itu Ayah tidak enak duduk, tidak enak dalam berbagai posisi.  Kelihatan suster tampak kewalahan, saya bolak balik bagian perawatan dan suster selalu bilang sudah diberi obat tinggal nunggu reaksinya.  Tapi badan suami terlihat semakin kesakitan.

Suster datang, membawa suntikan dan entah isinya apa yang dia masukan ke selang infuse.  Suster memberi petunjuk,"Luruskan kakinya, turunkan kepalanya ke atas bantal, tenang, tenang, tenang, tidur."  Ayah pun tidur,"Bu, Pa Ahmad diberi obat yang sudah dikonsultasikan ke dokter anestesi." Glek, dalam hati saya, ya ampun suami saya beri obat penenang.  Meskipun masih bertanya-tanya tentang beberapa hal dalam penanganannya, saya memutuskan tidak banyak bertanya,"Terima kasih, Kang."  Suster itu pun pergi.

6
Merebahkan kepala pada ujung ranjang, melihat-lihat berita di media sosial agar kepala tetap terbuka pada yang ada di luar sana.  Ketika sedang baca-baca, teman kami-Ulfi- datang menjenguk.  Kebetulan Ulfi tinggal di Serang.  Dia mengajak saya makan siang, tapi saya sudah makan jadi kami ngobrol di kamar.  Tak lama, datang teman Teh Imas-kakak saya, namanya Kang Kodrat.  Dia menengok karena Teh Imas memberi kabar saya ada di Serang.  Dia bawa 4 dus nasi komplit dari warungnya-Warung Nasi Ciganea.






Rasanya lega ada yang menengok dan menganggap kami saudara.  Obrolan berlangsung dinamis karena keduanya, Ulfi dan Kang Kodrat punya passion yang sama yaitu senang wirausaha.  Ulfi baru resign sebagai kepala cabang JNE, sementara Kang Kodrat ini pensiun dini dari PNS dan membuka usaha warung nasi.  Salah satunya Warung Nasi Ciganea dan Warung Nasi Sambal Hedjo di Serang.  Tak lama, datang Yudi Ayu Budhi, dia teman kami di unit kegiatan Teater kampus Unisba (stuba).  Setelah dia lulus tahun 2000, kami tak pernah bertemu lagi.  Hari itu, situasi yang tak terduga Yudi datang menengok kami di RS Sari Asih.  Suasana hati tambah senang, menghibur hati yang duka.  Ternyata, Yudi punya hubungan baik dengan Almarhum bapak mertua di NU dan MUI Banten.  Kami terlibat obrolan yang asik tentang seluk beluk dunia wirausaha, sementara Ayah tidur nyenyak tapi sempat bangun sebentar, tersenyum lalu tudur lagi akibat efek obat bius yang dimasukan ke dalam tubuhnya.  Obrolan sangat menyenangkan namun waktu besuk terbatas, jadi mereka pun pulang.

7
Jam 14.00 wib, suami saya masuk ke ruang radiologi.  Disusul kemudian kami kedatangan Om Ola (adiknya Ayah) bersama Teh Umroh (istrinya), mereka tak bisa masuk bersama-sama karena bukan waktu besuk.  Waktu besuk di Rumah Sakit Sari Asih dari jam 11.00-13.00 wib dan 17.00-19.00 wib, sementara mereka datang jam 14.00 wib.  Jadi kami ngobrol di Cafetaria sambil nunggu proses tes USG di Radiologi.  Tes USG di ruangan cukup lama, alhasil Om Ola dan Teh Umrah pulang, karena hari mau hujan.  Kami cukup senang bisa bertemu dan saling menguatkan.  Saya pun kembali ke ruang rawat inap, menunggu di sana.

Selesai tes di radiologi, datang Teh Mumu.  Teh Mumu ini teman Ila-kakak saya, dulu Teh Mumu kos di tempat kami.  Tapi komunikasi tetap baik. Hubungan dengan saya pun baik, bahkan sangat baik.  Begitu  saya menikah dengan Ayah dari Banten, komunikasi terjalin lagi.  Kami pernah menginap di rumahnya, makan duren sama-sama, kuliner ikan bakar di Serang, main ke Ancol menikmati Sea World dan menginap semalam di cotage itu.  Banyak kenangan manis dengan Teh Mumu.  Kalau ada temannya bertanya tentang saya, dia selalu bilang bahwa saya adalah adiknya.  Ada rasa hangat dan haru atas pengakuan yang kerap dilakukan Teh Mumu.

8
Pas di rumah sakit, Kang Ade Truna kirim pesan, dia mau kirim madu untuk Ayah.  Tapi mengingat kondisi, kami belum bisa memastikan kapan kami pulang.  Jadi madu Brazil dia kirim ke rumah sakit saja.  Saya coba konsul ke Ulfi, kalau teman saya mau kirim madu.  Kata Ulfi, kirim ke kantor JNE cabang Serang saja atas nama Ulfi, nanti dipantau posisinya.  Betul saja, sore dikirim, pagi sampai di Jakarta dan siang kurir kiriman Ulfi sampai di Rumah Sakit.  Tangan-tangan sahabat yang ajaib seperti berbaur mengantarkan cinta.  Madu sampai dan segera saya buka.  Rasanya enak, hangat di perut dan Ayah langsung mencampur madu dengan potongan marie sebagai cemilan, bahkan begitu menu makan malamnya tidak nyaman di perut.  Dia mengganti makan malam dengan melahap campuran potongan marie yang diseduh air dan sesendok madu.  Senang.

9
Rasanya, seperti mimpi kami berada di rumah sakit lagi.  Terakhir waktu Alif dan Ayah harus dirawat di RS Salamun 5 bulan lalu.  Berarti, suami saya keluar masuk rumah sakit sudah ke-8 kali.  Saya jadi punya pengalaman kultur dan sikap pelayanan masing-masing rumah sakit.  Dalam setiap kejadian berat seperti ini, saya selalu merasa yakin, bahwa setiap kejadian pasti ada maksud didalamnya.  Satu masalah, selalu diikuti oleh dua kemudahan.  Kebaikan-kebaikan, perhatian-perhatian yang datang dari orang-orang tidak kita duga, datang dan pergi saling bergantian.  Dan satu hal, jangan pernah berharap kebaikan dari siapapun, biarkan Allah menggerakan hati siapapun datang mengulurkan kebaikan melalui caraNya.  Let it flow, ikuti saja,  kita hanya butuh waktu untuk memahami Ilmu Hidup Nya.



Hatur Nuhun anu kasuhun atas cinta, doa, perhatian, pertolongan yang menggerakan kita semua.  Hanya Allah yang mampu membalas kebaikan kalian.

Pandeglang, 3 Oktober 2016
@imatakubesar

Ima Rochmawati

4 comments:

  1. selalu banyak cerita saat berada di RS..semoga lekas pulih dan kita sehat selalu ya mbaaa

    ReplyDelete
  2. Semoga diberi kesabaran ke mba Ima, salam kenal mba

    ReplyDelete
  3. aku doakan mba, semoga senantiasa diberikan kesehatan baik untuk mba maupun untuk keluarga dan semoga kembali dikumpulkan oleh Allah di surgaNya kelak, Aamiin

    ReplyDelete
  4. semoga mbak selalu diberi kesabaran dan ketabahan

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv