TBC Otak? Oh, ada ya

Ternyata banyak juga orang yang belum tahu tentang penyakit TBC otak (tuberculosa otak), temasuk saya. Mungkin tidak sepopuler penyakit lainnya, itupun saya tahu karena suami saya kena penyakit itu. Kasus tbc otak termasuk jenis langka karena kebanyakan tbc itu biasanya berkaitan dengan paru-paru. Penularan TBC sangat mudah, karena penularannya melalui pernafasan/udara dan air liur. Tapi, untuk kasus tbc otak ini lain, bahwa-katanya penyakit tbc otak ini tidak dapat menular, ia tumbuh sendiri. Penyakit tbc ini bisa disembuhkan meskipun termasuk kategori penyakit yang mematikan. Penyakit ini tidak berbahaya, asal segera diobati dan disiplin melalui proses pengobatannya sampai tuntas. Penyakit tbc ini akan sembuh dengan mengonsumsi obat OAT selama 6 bulan, 9 bulan bahkan 12 bulan, tergantung kondisinya seperti apa. Sebagai catatan, jika obat itu tidak dimakan sehari saja, penyakit ini akan semakin kuat/resistan terhadap obat. Kalau ini terjadi, dosis obatnya harus bertambah dan proses pengobatannya dimulai dari nol. Dari banyak kasus, orang yang melewatkan obat karena merasa lelah, sudah malas, tidak disiplin makan obat karena dianggap pengobatannya memakan waktu lama. Sehingga, pasien tbc memerlukan motivasi dan dukungan kuat dari lingkungan sekitar, baik teman maupun keluarga agar semangat sembuhnya tinggi. 



Menurut dokter di RSCM, TBC otak dan meningitis itu dua jenis penyakit yang berbeda. Oh, ya, suami saya kontrol ke poliklinik paru RSCM Jakarta, jadwal praktek poliklinik hanya seminggu 3 kali yaitu setiap hari Senin, Rabu dan Jumat saja. Uniknya, setiap hari Rabu ada edukasi tentang penyakit tbc selama 1 jam untuk pasien dan pengantarnya. Kami wajib ikut kelas edukasi tbc ini agar wawasan tentang tbc semakin meluas dan bukan dikenal sebagai penyakit ‘kutukan’ yang sudah menerap di masyarakat selama ini. Karena kurangnya pengetahuan, seringkali orang yang kena tbc suka diasingkan dan dijauhkan dari lingkungan. 





Rupanya, kenapa ada yang ahli radiologi salah menganalisa jenis benda yang diduga kanker, ternyata sifat TBC ini bisa MENIRU penyakit berat seperti radang usus, tumor/kanker. Jadi, sebaiknya kita tak perlu khawatir dulu jika ada benda asing yang menempel di otak atau tumbuh dimana saja, karena itu tidak bisa hanya dilihat dari hasil CT Scan maupun MRI saja. Artinya, benda itu harus dipastikan dengan cara dibedah, dikeluarkan agar tidak mengganggu fungsi syaraf lainnya lalu harus masuk lab untuk uji patologi. Sama seperti kasus suami saya, hasil pembacaan MRI dan MRI Contras adalah high grade glioma (semacam kanker yang jenis tidak ganas juga tidak jinak), namun setelah benjolannya dilepaskan dari otaknya, barulah diketahui bahwa benda itu tidak tampak ciri-ciri glioma tapi tuberculosa.



Apa sih ciri-ciri penyakit TBC otak?


Banyak yang nanya begitu. Kalau kasus suami saya, dia tiba-tiba dapat serangan kejang sesaat setelah tidur. Sejak pertama kejang, tubuhnya menjadi rentan dapat serangan kejang sampai berulang-ulang bahkan pernah sampai koma. Ciri-ciri yang lain, setiap malam suka keluar keringat dingin dan setiap pagi keluar dahak yang ada darahnya. Namun, untuk kasus suami saya, sama sekali tidak ada ciri-ciri yang mencurigakan selain langsung mendapat serangan kejang. Lalu, apa yang kami lakukan begitu suami terserang kejang?

1. Kami pergi ke dokter syaraf untuk mengetahui kondisi fisik dibalik kepala yang bisa memicu kejang tersebut.

2. Suami saya lalu diarahkan untuk tes CT Scan dan CT Scan Contras, tes EEG, tes darah dan Thorax. Semua tes yang mengidentifikasikan ada sesuatu di balik kepalanya hanya di tes CT Scan, disana terlihat benda asing menempel di otak sebelah kiri depan. EEG adalah sebuah tes yang menunjukan kondisi lonjakan-lonjakan aliran distrik di otak, dari pembacaan ini akan terlihat akan ada kemungkinan kejang susulan. Sementara hasil thorax, darah, semua bersih tidak ada ciri-ciri kehidupan bakteri tbc.

3. Selanjutnya, suami mendapat obat anti kejang bernama Phenytoin di hari pertama, makan 300 mg x 3, hari kedua 200 mg x 3, hari ketiga 100 mg x 3, sampai seterusnya makan obat ini sebanyak 100 mg x 3. Lalu dianjurkan untuk melakukan operasi, tapi resikonya akan terjadi kelumpuhan bagian kanan dan masalah bahasa.

4. Selanjutnya diarahkan ke dokter bedah syaraf untuk melakukan konsultasi dan pembedahan. Dokter memberi alternatif tehnik operasi yaitu dengan tehnik awake craniotomy yaitu operasi otak dalam keadaan bangun. Tehnik operasi ini dilakukan untuk mengurangi resiko masalah operasi pada syaraf otak yaitu terjadi masalah fungsi tubuh bagian kanan dan kesulitan dalam identifikasi bahasa.

5. Setelah operasi, menunggu hasil patolology untuk menentukan pengobatan selanjutnya. Rupanya, hasil dari bagian patology menyatakan bahwa benda itu merupakan tuberculosa. Selanjutnya suami diarahkan ke poliklinik paru untuk melakukan pengobatannya.

6. Bakteri yang menempel di bagian otak ini beresiko kejang. Jadi selama pengobatan dan paska pengobatan, obat anti kejang yaitu phenytoin tetap harus dikonsumsi dalam pantauan dokter. Jadi, penggunaan obat phenytoin ini tidak boleh diberhentikan tiba-tiba sampai kondisi fisik pasien benar-benar aman. Jika kita menghentikan tiba-tiba, akan terjadi serangan kejang berulang.

7. Jika pasien kejang, hal yang harus dilakukan adalah masukan obat Stesolid agar dia berhenti kejang. Karena kalau dibiarkan akan berbahaya, tubuhnya akan kekurangan fungsi, karena ketika kejang ada beberapa syaraf yang putus. Lalu segera bawa ke rumah sakit agar mendapat pantauan khusus atau dilakukan observasi. Biasanya 1-2 hari sampai kondisi pasien benar-benar aman baru boleh dibawa pulang lagi.



Proses pengobatan TBC otak

Paska operasi otak, pengobatan selanjutnya kami diarahkan ke poliklinik paru. Sebenarnya, kalau dari awal diketahui penyakit ini adalah tbc, maka tidak perlu di operasi tapi bisa langsung konsumsi obat tbc maka benjolan itu akan kecil sendiri. Tapi karena posisinya di kepala jadi tidak teridentifikasi secara pasti, maka tak ada jalan lain untuk memastikannya dengan melakukan bedah sayaraf. Meskipun penyakit tbc ini di otak, obat tbc tetap saja sama jenisnya dengan obat tbc pada umumnya. Di tempat poliklinik paru, kami ketemu dengan beberapa orang dengan keluhan TBC lain. Ada yang kena tbc tulang, tbc usus, tbc getah bening, pas di poliklini ada pasien yang cerita, kalau dulu kedua kakinya tiba-tiba lumpuh begitu makan obat tbc, beberapa bulan kemudian semua fungsi kakinya sembuh bertahap sampai ia benar-benar bisa jalan sendiri bahkan kontrolpun sendiri saja karena lebih bugar.

TBC ini sebenarnya bisa di obati apapun jenis tbc-nya, asal disiplin. Jika dalam konsumsi obat ini lewat satu kali saja, maka penyakitnya akan semakin kuat dan dosis obatnya semakin tinggi. Ada disuntik, disedot dari tulang punggung, bahkan ada yang disuruh datang tiap hari ke rumah sakit dan obatnya diberi oleh dokter langsung. Hal ini diupayakan agar pasien benar-benar bisa dipastikan mengkonsumsi obatnya.

Ini tahapan proses pengobatan tbc obat yang suami saya lewati:

Biasanya, pengobatan tbc paru berlangsung selama 6 bulan. Tapi untuk kasus khusus seperti tbc otak, usus, tulang, proses pengobatannya lebih lama, yaitu 9 bulan hingga 12 bulan.

1. Tahap Intensif

Minggu pertama dia mengonsumsi obat setiap hari sebanyak 4 butir dan selama 1 (satu) jam setelah makan obat perut harus kosong. Jam makan obat ditentukan oleh kita, jika makan jam 05.00, maka makan obatnya harus terus jam segitu. Pengobatan intensif ini berlangusung selama 2 (dua) bulan. Lalu, setiap 2 minggu sekali, suami saya tes darah dan dilihat hasilnya.

2. Tahap lanjutan

Dalam tahap lanjutna ini, pada bulan ke-3 pasien makan obat seminggu tiga kali yaitu hari Senin, Rabu dan Jumat. Ini berlangsung selama 7-10 bulan.

Saat proses pengobatan, suami saya diberi kartu berobat untuk memantau kondisi. Kartunya seperti ini:



Nah, selain obat yang disediakan dokter, pasien harus banyak makan yang mengandung protein. Pasien TB butuh asupan makan yang banyak, sehingga selain obat TB pasien diberi vitamin B6 agar nafsu makannya tinggi, Kenapa? Karena bakteri TB memakan suplai makanan di dalam tubuh kita, itu sebabnya pasien TB punya kecenderungan kurus drastis.



Dimana sih TBC ini berkeliaran?

Pengindap penyakit tbc ini termasuk jenis penyakit terbanyak di dunia, Indonesia termasuk Negara terbanyak yang mengindap penyakit tbc. Bakteri ini ada dimana-mana, melayang dan menempel dimana saja. Karena, tbc ini termasuk penyakit yang mudah berkembang biak di daerah lembab jadi Indonesia dengan cuaca yang tropis dan lembab cenderung disukai oleh bakteri ini. Dan kota terbanyak pengidap tbc yaitu Kota Bandung, ya, kota saya. Difikir-fikir masuk akal juga, soalnya kondisi tanah yang cekung, dikelilingi gunung membuat cuaca di Bandung: dingin dan lembab.

Tapi, kita tak perlu khawatir, selama tubuh kita fit dan menjaga kebersihan, penyakit ini tidak akan menyerang tubuh kita. Jadi tbc ini akan menyerang pada orang dengan kondisi fisik dengan daya tahan tubuh yang menurun. Bahkan dari beberapa kasus, orang yang mengurus pasien yang sakit dia tetap sehat. Tapi ada orang yang ketemu sekali dengan orang yang kena penyakit tbc, ia bisa kena begitu saja. Penyakit ini bisa kena ke siapa saja, bakterinya ada di mana-mana dan sangat mudah menular. Di pasar, restoran, mall, sekolah, kampus, tempat-tempat berkumpulnya banyak orang.

Tbc termasuk penyakit yang endemic karena sifat penularannya yang sangat mudah, sampai pemerintah melakukan program TB Nasional untuk menangani penyakit ini agar tidak semakin meluas. Program yang diupayakan pemerintah untuk menangani penyakit tbc ini adalah obat tbc bisa diperoleh secara gratis dan pasien pun dipantau khusus. Obat tbc pemerintah ini bisa dipetoleh gratis, asal kita datang ke rumah sakit maupun puskemas yang ada pelayanan dengan tanda DOTS. Contoh menarik di puskesmas Rawa Buntu (Tangerang Selatan), jika ada pasien yang hampir habis obatnya, pekerja kesehatan di sana aktif bertindak, seperti meneleponnya bahkan didatangi ke rumah agar obatnya tidak terputus. Karena jika terputus, tubuh pasien akan mengandung penyakit tbc yang lebih berat dan jika menular ke orang lain akan lebih berbahaya.

Untuk mencegah agar kita tidak ikut terkena penyakit tbc sebtulnya mudah aja, jagalah agar rumah tetap hangat. Bakteri tbc akan mudah mati kalau terkena paparan sinar matahari. Sebaiknya, di siang hari bukalah jendela, pintu, agar sinar matahari dapat masuk. Jemur kasur, selimut, bantal, kursi, misalnya seminggu sekali agar bakteri-bakteri didalamnya mati.

Buat yang merawat pasien tbc, sebaiknya gunakan masker dan jagalah tangan selalu bersih. Siapkan sabun antiseptic dan cairan antiseptic, karena dari tangan bisa menularkan beragam kemungkinan. Jaga asupan makanan yang menguatkan daya tahan tubuh seperti buah-buahan dan sayuran.


Dukungan keluarga dan sahabat sangat diperlukan
agar semangat sehatnya tetap tinggi.

Segitu sedikit pengalaman pengobatan yang dilalui suami saya. Yakinlah, semua penyakit itu ada obatnya dan terus jalankan proses pengobatan dan beri stimulus lingkungan yang menyenangkan agar semangat hidupnya bagus. Karena orang yang mempunyai hati yang postif, kecenderungan sehatnya akan lebih tinggi. Meskipun tubuh sakit, jika semangat hidupnya tinggi maka ia akan lebih banyak memanfaatkan waktunya untuk melakukan hal-hal yang produktif.


Bandung, 3 April 2016
@Imatakubesar

Ima Rochmawati

9 comments:

  1. Wah.. Baru tahu saya detil-detil penyakit ini. Tfs, Ima. Semoga Kang Cholis sembuh total dan sehat seperti sediakala...

    ReplyDelete
  2. Aku baru tau sejak mengikuti cerita Teh Ima di FB dan blog. Dulu adikku juga kena TBC paru, minum obat 6 bulan rutin Alhamdulillah sembuh. Untuk kasus TBC otak ini terus terang saya juga baru tau dari kisah Teh Ima dan keluarga. Tetaplah menulis Teh Ima, pasti banyak yang membutuhkan cerita-cerita inspiratif seperti ini.

    ReplyDelete
  3. Teh Nia: Makasih,Teh Nia.
    Mita: InsyaAllah,aaamiiin... Maksih udah baca tulisan Ima, Mit. Berarti banget.

    ReplyDelete
  4. Mba Ima, istri saya juga sebelumnya terkena tb otak. Dari januari - Dec 2015 minum obat tb. Dan sudah sembuh.. Tapi obat kejang nya masih berlanjut, karena jika tidak di minum akan kejang. Apakah suaminya masih minum obat kejang seperti Keppra?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Halo, suami saya masih minum Phenitoin obat anti kejangnya. Kata dokter kalau 5 tahun tidak ada kejang, sudah bisa dikurangi obatnya perlahan-lahan.

      Delete
  5. Makasih udah sharing mbak, mudah-mudahan suami mbak bisa pulih kembali, aamiin aamiin aamiin.

    Salam,
    Aci

    ReplyDelete
  6. Syafakallah untuk suaminya Teh Ima. Kalau TB Paru saya juga pernah mengalaminya. Memang pengobatannya susah-susah gampang, harus disiplin

    ReplyDelete
  7. Anonymous2:34 PM

    Assalamualaikum mbak ima,semoga mbak dan suami sehat ya. Ibu saya juga terkena tb otak,baru 2 minggu yang lalu di operasi dan minum obat tb. Tapi ibu saya ditambah obat suntikan setiap hari selama 2 bulan. Trus ada ga mbak efek samping obat tb yang muncul pada suami mbak?

    ReplyDelete
  8. Anonymous3:50 PM

    semoga lekas sembuh yaa mba buat suaminya

    dulu saya juga kena TB Otak (waktu kelas 1 sd sekitar tahun 98-99
    saya baru tau detailnya kaya gini
    yang saya inget cuman saya tiap hari makan obat gitu
    ada beberapa macem obat, dan tiap bulan ga tau tiap minggu (udah lupa soalnya masih bocah) kontrol ke RSHS

    alhamdulillah sekarang sehat bugar


    -ute-

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv