Pesan Kuat dari Film Bait Surau

Two Synergy Pictures didukung oleh Asy Syaamil Publisher meluncurkan film Bait Surau di bioskop-bioskop tanggal 20 Oktober 2015.  Menyimak film ini menarik, penonton dimanjakan berbagai situasi khas, seperti kondisi kendaraan umum, keindahan visual alam pedesaan, sinar matahari pagi, perahu  dan laut.  Selain itu, berbagai karakter dalam cerita ini, memberi gambaran tentang kondisi masyarakat desa menghadapi kehidupan sosialnya.  Menonton Bait Surau dalam beberapa adegan terasa Indonesia sekali.  Kemewahan alam tropis dan situasi sosial yang sederhana menjelaskan kondisi ekonomi dan pemimpin lokal.

Foto bareng Ihsan Tarore di acara meet and greet.
Nonton bareng di Ampire 21 BIP Bandung.
Film ini diluncurkan tidak hanya sekedar menghibur dan dinikmati oleh penonton, tapi mempunyai misi yang patut kita apresiasi.  Yaitu, 2,5% hasil penjualan tiket Bait Surau, akan dipergunakan untuk memperbaiki surau-surau di beberapa pelosok desa.  Hal ini dilakukan mengingat kondisi surau di pedesaan yang memprihatinkan.  Informasi itu didapatkan ketika meet and greet dengan Ihsan Tarore dan para creator film ini.  Rasanya, ini salah satu kesempatan baik buat apresiator film, selain bisa menikmati karya, berikut beramal.


Tentang Film

Alur cerita sederhana, namun memberi beberapa pesan tentang arti diri, arti kebahagiaan dan Tuhan.  Rasanya hampir setiap manusia perlu di “tampar” terlebih dulu, agar bisa lebih memahami dan bersyukur atas hidup yang sedang dijalaninya.  Begitupun dalam cerita ini, Rommy (diperankan oleh Rio Dewanto) mencari ketenangan dan makna hidup, dengan melakukan perjalanan ke sebuah desa kecil, jauh dari hingar bingar kota asalnya: Jakarta.  Pencarian ini yang membuatnya merasa hidup dan semakin mendapatkan arti kebahagiaan.

Rommy mendapatkan peruntungan kehidupan dari segi ekonomi, hanya saja sifatnya yang sombong, temperamen dan keras kepala,  merusak kehidupan keluarganya.  Perjalanan Rommy ke sebuah desa bukan tanpa tujuan, ia mencari Ramdhan (diperankan oleh Ihsan Tarore) mantan pekerjanya sewaktu di Jakarta.  Rupanya, melalui kehidupan keluarga Ramdhan; Abah (diperankan oleh Cok Simbara) dan kakaknya-Siti (diperankan oleh Astri Nurdin), Rommy merasakan ketenangan dan keindahan dibalik kesederhanaan hidupnya.  Ramdhan adalah pelaut, Abah seorang seniman patung pembuat nisan,sementara kakaknya mengurus rumah tangga dengan keadaan tuna rungu.  Secara ekonomi, jauh dari kemewahan hidup, tapi selama Rommy tinggal sementara di rumah Ramdhan, ia belajar makna hidup.  

Salah satu adegan film Bait Surau.  Sumber foto disini.
Di desa inilah, semacam titik balik kehidupan yang membuat Rommy merasa dilahirkan kembali, pertemuan dengan keluarga Ramdhan mengantarkannya belajar dan mengenal kembali ibadah-ibadah dalam Islam.  Sampai akhirnya ia menemukan Surau yang membuatnya berkeinginan kuat belajar mengaji.  Hari demi hari, ia jalani proses belajar Quran dari nol sampai hatinya semakin melembut.  Usahanya berbuah hasil, ia merasa lebih berarti dan mendapatkan kebahagiaan yang sesungguhnya.

Film sebuah cara yang istimewa dalam menyentuh hati penonton untuk menyampaikan sebuah pesan.  Karena kekuatan dialog, adegan, akting, seni pengambilan gambar, musik, bisa melengkapi kekuatan rasa dan jiwa keseluruhan dari isi film itu.  Sehingga penonton seolah masuk ke dalam adegan per adegan.  Menyimak beberapa adegan, menarik, rumah pedesaan yang khas seperti samak (tikar) untuk shalat, tempat wudhu, batu-batu nisan, tingkah orang kaya di desa, film ini jadi kaya rasa dan simbolis. 

Gambaran orang-orang baik dan tidak baik di pola kehidupan sederhana desa tersebut menjadi cerminan buat Rommy.  Sayangnya, kedua sisi kelompok orang ini, tidak menimbulkan kegelisahan yang bisa membuat jalan cerita lebih ‘greget’.  Jiwa dari proses romantisme Rommy dan surau menarik, tapi rasanya proses pergulatan dan kegelisahan Rommy di Surau kurang tergarap, sehingga seperti ada yang menggantung.  Bisa jadi karena banyak situasi yang ingin dimunculkan tapi masing-masing berdiri sendiri dan tidak menimbulkan masalah.  

Dibalik keindahan dan kekurangan dari eksekusi film ini, lebih menarik dan tersentuh jika pembaca menyaksikan langsung film ini.  Karena kaya pesan dan membuat kita selalu merasa memanfaatkan hidup untuk berbuat baik selagi ada kesempatan. 


Proses

Mengikuti film Indonesia, semakin menarik dan berenergi.  Saya sendiri merasa ikut senang karena kreatifitas sineas Indonesia yang semakin berani dan tangguh, sehingga karya film tetap tumbuh dan ada.  Begitupun dibalik proses yang dilakukan Synergy Picture, Anita Aulia (produser) menjelaskan bahwa film ini syuting pada tahun 2012, lokasi pengambilan gambar di Malingping Banten.  Sebuah lokasi yang sangat jauh dan daerah pelosok.  Sehingga selama 15 hari, mereka harus tinggal di tempat karena jika bolak balik Jakarta tidak mungkin dilakukan karena jarak yang jauh.  Situasi ini membuat pendekatan dan mengenal warga menjadi cukup intens.

Setelah syuting dan editing selesai, mereka mulai menggarap soundtrack dan siap launcing.  Namun ada hal yang terjadi, mereka harus menghadapi kenyataan, tiba-tiba kantor Synergy kebakaran.  Efek dari kebakaran itu, beberapa file ada yang ikut terbakar.  Tapi, proses harus tetap dijalankan, sampai akhirnya projek ini baru bisa dilemparkan ke masyarakat tahun 2015.  Artinya, para sineas ini tetap bertahan dan harus menunggu 3 tahun agar film ini tetap bisa tayang.  Salut!

Blogger Bandung foto bareng penulis 'Bait Surau'-Kang Rakha Wahyu.

Salam berkarya dan terus maju film Indonesiaku.

Para pendukung Film Bait Surau:
Penulis: Yus R Ismail dan Rakha Wahyu
Sutradara: Kuswara Sastra Permana
Photografi: Handi F Liberto
Penata Musik: Andy Ayunir dan S. Richyana
Produser: Anita Aulia

Pemain:
Rio Dewanto
Astri Nurdin
Cok Simbara
Ihsan Tarore
Nadia Vella
Tahta Perlawanan
Wiwing
Leo Nardi
Taufan Purbo
Wenny
Melisa
Nurul
Muksin
Erwan
Cak Margo

Bandung, 2 Nopember 2015
@imatakubesar

Ima Rochmawati

7 comments:

  1. Wah, ada Akang Rio Dewanto rupanya. Rindu nonton film yang punya pesan mendalam ttg kehidupan. Semoga bisa nonton filmnya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kang Rio tampak unyu di film ini, Mba ;)

      Delete
  2. Semoga semakin banyak film yang menginspirasi ya Mak ;)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, makin banyak sebenernya, seneng mengaoresiasinya.

      Delete
  3. Malah belom pernah nonton filmnya :D

    Kami menyediakan beberapa info tentang Pagar Rumah Minimalis || Desain Rumah Sederhana || Modern Interior Design || Rumah Minimalis Sederhana || Model Rumah Sederhana || Teras Rumah Minimalis . Jika anda berminat silahkan kunjungi web tersebut.

    ReplyDelete
    Replies
    1. wah jangan dinbiarkan komentar kaya gini mak... ini namanya dispam habis-habisan :P

      Delete
  4. sayangnya film ini lemah dalam pengeksekusian gagasan, serta alur yang tidak rapih membuat saya menontonya jadi capek, xixiii

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv