Kue Keju Hari Raya

Foto: Ima. Kue Keju bikinan Ida.
Di awal-awal puasa, sahabat saya sejak SMA-Ida datang ke rumah bareng anak-anaknya yang cantik.  Dia bawakan kue keju dan kue salju, karena tanggal 5 harus sudah mudik ke Padang.  Aduh, pikirku, gawat, kue keringnya sudah datang.  Usianya pasti tidak akan lama karena saya bakal tergoda buat mengicip-icip lalu habis.  Tapi saya bertekad, pengaman toples kue kering ini mau saya buka nanti di hari raya.  Hari raya itu masih lama dan sampai suatu malam, perut tidak tertahankan dan mencari berbagai cemilan.  Ternyata yang ada cumu dua toples kue ini yang masih di plastik dan berpita.  Tekad itu kalah, saya bongkar plastik dan hiasan pita pink yang lucu lalu dilahap beberapa bongkah saja.  Malam berikutnya, rasanya sulit dilupakan, jadi saya pun menyicip dan akhirnya jadi teman menulis disetiap malam. 

Di bulan Ramadhan, malam menjadi ajang seru untuk menyicipi makanan yang tidak bisa dimakan di siang hari karena siang hari tidak boleh makan dan minum.  Setelah pulang taraweh, menjadi momen asik buat ngobrol dengan keluarga sambil melahap beberapa camilan sisa berbuka.  Tinggal di gang itu selalu hangat dengan penjaja makanan seperti cuanki dan baso tahu, jadi, kadang-kadang makanan ini sering menjadi incaran buat jajan.  Nah, kalau sedang tidak ada makanan yang bisa disantap akhirnya kue kering itu menjadi korban. Sepertinya saya tidak akan berhasil mempertahankan kue keju ini sampai hari idul fitri tiba.

Dari kecil saya selalu suka kue keju, dari rasa biasa sampai yang diolah dengan bahan-bahan yang serius.  Itulah sebabnya saya pesan kue keju ke Ida karena saya suka kue keju.  Saya jadi pengen menjelajah kue-keu keju yang pernah saya makan dan rasanya sulit dilupakan. 

Pengolah pertama adalah bikinan Rani.  Rani ini sahabat saya waktu SMA, keluarganya pintar memasak.  Kue keringnya tak terlupakan.  Pernah saya silaturahmi setelah hari idul fitri lalu disuguhkan kue keju.  Tak sadar sambil ngobrol ngalor ngidul menghabiskan ¼ toples kaca yang besar.  Toplesnya langsung diamankan karena dia tahu saya penjajah makanan.  Amankan, Ran! Hahaha… Saya jadi ingat, suatu hari pernah mengantarnya membeli isi selai di daerah veteran.  Tempatnya jauh sekali dari rumah Rani, juga rumah saya.  Kami berdua naik angkot dan jalan kaki mencari rumah pembuat selai nanas untuk nastar.  Rani bilang, Cuma selai disitu yang paling enak dan menjaga keasliannya.  Pantes saja, kue-kue bikinan keluarganya Rani enak.

Lalu, pengalaman kedua kue kering yang enak adalah bikinan mamanya Teh Reina.  Beberapa tahun silam, saya kerja di sebuah toko buku berbasis komunitas dan bermarkas di rumahnya pasangan Gustaff dan Reina daerah Dago.  Ibunya Reina punya usaha bikin kue kering musiman, beliau membuka pesanan kue kering buat menyambut hari raya Idul Fitri dan Natal.  Produksi kue ini di dapur tepatnya belakang toko, produksinya setiap hari sampai bulan puasa.  Kata Reina, mamanya memakai resep asli Belanda, tidak ada satu bahan pun yang dikurangi atau ditambah.  Jadi beliau menjaga cita rasa dan keaslian resep kue kering itu.  Kami para penjaga sering tergoda iman oleh harum dan hangat kue keju, lidah kucing, kue salju dan ada beberapa yang lain, saya lupa.  Akhirnya saya pesan, kue keju kesukaan.  Kue ini saya simpan rapi di kamar dan sengaja di buka saat hari raya.  Rasanya? Benar-benar enak, sampai saya putuskan untuk memakannya satu per satu, mirip-mirip bikinan Rani tapi lebih enak.  Rasa kejunya lebih legit dan dalam.  Sampai sekarang, saya belum menemukan rasa kue keju seenak itu.

Ketiga, kue keju bikinan Mamanya Lisa.  Ini juga jagoaaaan.  Rasanya mirip-mirip punya Rani dan Mamanya Teh Reina yang dahsyat itu.  Lagi-lagi, saya pesan kue keju buat hari raya.  Mamanya Lisa ini selain jago bikin kue kering, jago bikin kue-kue tradisional dan idealis sama bahan-bahan yang digunakannya.  Selain bahan, beliau juga sangat apik menggukana orang dalam membantunya, karena bentuk kue nanti akan berbeda. Bahkan untuk menyusun kue di toples hanya mempercayakan pada Lisa anaknya.  Dia lebih enjoy dan bahagia saat mengerjakannya sendiri.

Kue keju ini akhirnya jadi teman menulis di malah hari.
Tiap kue keju yang saya makan dari masing-masing pembuat memang beda-beda tapi rasanya tetap enak dan punya ciri kahs yang berbeda-beda, barangkali memang jenis dan jumlah penggunaan keju yang membuat rasa kue keju itu berbeda.  Katanya pakai keju Belanda, bentuknya bulat dan warnanya kuning.  Harganya pasti mahal.  Saya penasan berburu keju Belanda ini atau mereka bilang keju edam.  Saya Cuma berburu ke swalayan yang dekat rumah karena kebetulan di daerah setiabudhi ini ada swalayan yang menyediakan berbagai bumbu mancanegara.  Salah satu swalayan favorit pas butuh bahan-bahan masakan yang rada aneh.  Semua ada. Akhirnya dapat juga, tapi benar dugaan saya harganya mahal.  Karena resiko keberhasilan membuat kue kering sendiri ini rendah, jadi saya mengurungkan niat membuat kue keju sendiri dan lebih memilih bikin kari ayam saja.  Jauh pisan dari kue keju ke kari ayam. 

Ehm, dari sedikit cerita para pembuat kue keju itu saya mengerti mengapa mereka bisa menghasilkan kue keju yang enak.  Karena mereka serius memilih bahan, taat pada bahan resep dan menikmati setiap pengolahan.  Jadi datang orang-orang yang loyal penikmat kue kering mereka karena rasa yang bisa mengikatnya.  Saya jadi belajar dari para pembuat kue keju ini, didalam loyalitas dan kesungguhan bisa melahirkan kesungguhan cinta dan keterikatan. 

@imatakubesar

Bandung, 6 Juli 2015
#CatatanRamadhan2015

Ima Rochmawati

8 comments:

  1. Kue keju sejenis kastengel itu kue wajib di rumahku ketika Lebaran.. Dulu waktu mamaku msd hidup kami bikin sendiri kue2 kering Lebaran.. Bahannya bisa milih sendiri dan mencari bahan2 kue terbaik agar citarasanya lezat di lidah..

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bahagianya punya mama pintar membuat kue, InsyaAllah jadi 'bekal' Mama di alamnya sekarang karena telah membagi kebahagiaan untuk keluarga.

      Delete
  2. Betul sekali mba, ada rasa ada harga. Kaastengels termasuk kue yang bahannya ngga murah tapi rasanya juga enak puol ! Kue ini termasuk favorit di rumah kami. Salam Fun Blogging ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Uwow, makasih udah berkunjung Mba Ratna, salam fun blogging jugaaa ;)

      Delete
  3. Kue keju, dimana-mana menjadi favorit ya. Tahun ini mencoba membuat sendiri kue lebaran bersama adik-adik

    ReplyDelete
  4. Harga gak bohong sih mbak :P
    Aku pernah bikin dengan bahan2 bagus, kalo mau dijual harganya lumayan sih, tapi gak dijual sih hehehe..
    Cuma aku pernah bandingin sama harga murah, gak enak, huhu.
    Kue keju ini jadi favorit loh mba dirumahku

    ReplyDelete
  5. Kaastengels memang termasuk deretan kue kering yang mahal ya. Walau aku gak begitu suka keju, tapi untuk melengkapi kue lebaran di rumah harus dicicipi dulu saat belinya. Dan, gak semuanya gurih ya ternyata. Tergantung bahan yang digunakan. :)

    ReplyDelete
  6. hmmm...kue keju yang menggoda dan selamat lebaran mbak ^^

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv