Seni adalah Doa

Foto: Imatakubesar

Di sudut halaman Kang Tisna Sanjaya yang hijau, terdapat plastik-plastik besar bening diisi udara sehingga masing-masing membentuk balon.  Semua disusun, digantung-gantung di besi tower,setiap balon plastik bening itu ada tulisan singkat, diantaranya,”Seni adalah Doa”, “Agama adalah helaan Nafas”, “Yang Maha Suci”, “Yang Maha Penyayang”, dan banyak lagi.  Kata Kang Tisna, udara-udara yang memenuhi balon plastik ini berisi hembusan doa-doa dari orang-orang.  Performingnya dilakukan di Singapura beberapa minggu yang lalu, ikatannya dibuka dan udara doa ini pun akan terbang dan dibebaskan ke langit secara bersamaan.  Diharapkan doa-doa ini akan menyebar dan sampai pada Zat-nya.  Ini sebuah proses spiritual simbolik keprihatinan Kang Tisna pada kejadian beberapa bulan lalu tentang penembakan pada pimpinan redaksi Charlie Hebdo.  Dia menjelaskan, bahwa dia tidak setuju tindakan kekerasan yang selalu mengatas namakan agama, begitupun dengan Charlie Hebdo yang kerap melakukan lelucon dan mengusik kepercayaan sebuah agama.  Menurutnya, kedua nya salah, pihak Charlie Hebdo melecehkan setiap kepercayaan tapi bukan berarti tindakan menegur dengan kekerasan bisa dibenarkan.

Saya kembali berfikir ulang tentang “seni adalah doa” ini, tingkat kedekatannya dari mana.  Akhirnya, coba-coba browsing tentang arti seni dan arti doa dan proses spitualnya seperti apa.  Bagaimana orang memperlakuan doa maupun seni dalam kehidupan sehari-harinya.  Penyambung kata “adalah” diantara seni dan doa, bukan seni atau doa, keduanya tidak ada pilihan, tapi keduanya menjadi satu jiwa, satu tindakan, satu rasa, satu kehidupan. 

Foto: Imatakubesar

Seni asal kata dari kata sani (Sanskerta) yang berarti pemujaan, persembahan dan pelayanan.   Seni, lahir dari kesungguhan.  Sebuah karya lahir dari refleksi dan merangkum keadaan yang terjadi di sekitarnya lalu muncul menjadi sebuah bentuk yang memberi sebuah pesan, cerita maupun berita.  Dalam bentuk karya ini ada harapan dan suara yang ditebarkan ke bumi, seperti benih-benih yang ditanamkan pada ladang.  Seni lahir dari cinta, ia mengirim pesan dan mengikat ingatan.  Melalui seni, kita bisa memahami kehidupan, meluaskan sudut pandang, mampu menghimpun kebaikan juga kejahatan.  Karena seni menyatukan energi yang sama.  Seni adalah hati, dapat merangkul, memahami, merangkum, meramu kegelisahan sekelompok manusia lalu membungkus dan menyatukan energi.  Seni seperti untaian doa, ia keluar dari setiap “rumah-rumah” manusia dan membentuk semesta. 
Dalam Islam, doa adalah memohon, sebuah permintaan langsung kepada Allah agar diberikan kebaikan, keberkahan, kemudahan, kesehatan, jalan keluar dari kesulitan dan lain-lain.  Bisa berarti pengharapan dan perubahan kearah lebih baik. Doa, lahir dari kesungguhan diri manusia, pemeliharaan dan penghargaan agar bisa berkolaborasi dengan semesta membentuk sebuah kehidupan. 

Seni adalah Doa.  Doa adalah Seni.  Dalam seni ada proses hidup, refleksi, harapan dan kesungguhan, dalam doa pun ada proses, refleksi, lalu muncul harapan diri pada kebaikan. Ketika doa mengalir, disana manusia berada dalam titik sadar ada kekuatan diatas kekuatan, bahwa kekuatan manusia ada zat penentu. Melalui seni ada komunikasi antar diri dan lingkungannya, melepaskan semua batas untuk mencapai sebuah harapan yang menyebar dan menular.  Seni dan doa lahir dari kesungguhan, kesungguhan adalah cinta, cinta dapat menjadi fondasi dan menumbuhkan karakter.  Cinta tentulah mestinya menebarkan benih dan melahirkan sesuatu yang baik, menumbuhkan kehidupan dan kebahagiaan dari kesungguhan dalam menjalankan setiap dentingnya. 

Dalam karya Kang Tisna ini, melahirkan simbol kesederhanaan namun tangguh dan mengikat harapan.  Karyanya seperti merangkum jejak waktu dan perjalanan yang menjadi fondasi tumbuh kuat, lalu menyebar sari-sari harapan bermuara dari hati dan pikiran. 

Sumber:

http://www.alquran-syaamil.com/2013/11/arti-dan-kekuatan-doa-menurut-islam.html

@Imatakubesar
Serpong, Maret 2015


Foto: Imatakubesar

Ima Rochmawati

24 comments:

  1. Sebuah seni kadang bisa digambarkan sebagai doa-doa :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena dalam pembuatannya selalu dibarengi dengan hati, cinta. :)

      Delete
  2. Waahh filosofi tingkat tinggi ya mak

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bisa jadi bahan perenungan buat yang mengapresianya, Mak Maya

      Delete
  3. ajiiib, digantung sampe kapan itu?

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalo di halamannya hga tau, tapi kemaren ini ada seminggu baru di pamerkan di Paris.

      Delete
  4. Dari kejauhan tulisan tàmpak seperti bunga. Seni yang sederhana, pesan besarnya sampai.

    ReplyDelete
    Replies
    1. pesannya dapet banget, yah

      Delete
  5. Dari kejauhan tulisan tàmpak seperti bunga. Seni yang sederhana, pesan besarnya sampai.

    ReplyDelete
  6. Ya ampun, suka banget sama idenya. Jadi pengen buat di kamar sendiri *lho*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bikin, quote buat diri sendiri asik juga Mba Putri ;)

      Delete
  7. Keren idenya, mba. Tulisan itu dicetak satu perstu di atas plastik bening, ya ?

    ReplyDelete
  8. Dari gelembung plastik itu keliatan banget, ide dan kreatifnya ya.
    Taman jg jadi keliatan cantik.
    Tp terlepas dr itu, doa2 didalamnya yang membuat indah.

    ReplyDelete
  9. seni suka unik, ya :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hatinya kelewat lembut dia, jadi bisa menangkap harapan2 sekitar dan melahirkan simbol karya seperti ini.

      Delete
  10. Nyeni sekali idenya. Pun begitu dgn tulisannya, bagus bgt Mba :)

    ReplyDelete
  11. Seni adalah doa, doa adalah seni *sukaaa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seni seperti merapihkan mimpi, merapihkan cita-cita :)

      Delete
  12. Ide plastik yang menggelembung itu sederhana ya Mbak, tapi ngga kepikiran sama orang biasa kayak aku.. :D

    ReplyDelete
  13. sederhana tetapi sangat kreatif

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv