Nusantara Bertutur: Membangun Karakter Anak



Tanggal 15 Januari 2015, jam 09.00-12.00 WIB, ada kesempatan untuk menghadiri sebuah seminar “Nusantara Bertutur” dengan tema “Menggali Jati Diri Bangsa”, tempatnya di Auditorium Gedung Elnusa, Jl. Simatupang, Jakarta Selatan.  Dari judulnya saya langsung ngeh, pasti ini ada hubungannya dengan mendongeng dan budaya kita.  Pembicaranya pun bagus-bagus, pada sesi  pertama mengulas “Karakter Masyarakat Indonesia” ada Prof. Dr. Kacung Marijan MA, Dr. Megawati Santoso, Garin Nugroho, Prita Kemal Gani, Gilarsi (moderator).  Sementara pada sesi kedua mengulas “Menuju Bangsa yang Bermartabat”, ada Dr. Ratna Megawangi, Maya Noviasari, Farhan, Januarani Razak dengan moderator Chris Pudjiastuti.  Ternyata efek dongeng dan budaya dongeng ini digali sangat dalam, bagaimana dongeng memberi pengaruh pada karakter pendengarnya (anak) dan bisa melahirkan jati diri bangsanya. 

Semua pembicara memberi banyak pandangan yang menarik sesuai dengan latar belakang bidangnya.  Seluruh pembicaraan sungguh menarik dan membuka sudut pandang kita terhadap pentingnya karakter anak untuk mempertajam karakter sebuah bangsa.  Saya merasa bahwa kita hidup di negeri yang menarik sekali dengan keberagaman garis pendidikan, tontonan sehingga pemahaman terhadap hidup yang berbeda.  Namun memiliki garis merah yang sama yaitu senang  bercerita.  Dengan pembiasaan bercerita ke anak inilah, kesempatan kita bisa membangun karakter dan jati diri mereka.  Kenapa bertutur ini begitu penting?  Ini pembahasannya.


(Hilangnya) Karakter Masyarakat Indonesia
Bertutur adalah tradisi yang dilakukan para orang tua kita jaman dulu.  Mereka selalu memberi nasihat dan nilai-nilai sosial melalui dongeng-dongengnya agar anak-anak mudah memahami “aturan” hidup.  Ada yang baik dan buruk, ada sebab akibat dari setiap perbuatan kita.  Sepertinya setiap anak pernah menikmati didongengi oleh orang tuanya.  Orang tua disini bisa ibu bapaknya, guru, kakak, paman atau siapapun disekeliling si kecil.  Kalau anak-anak jaman dulu mendongeng itu sebuah proses yang biasa dan dianggap biasa-biasa saja.  Dianggap hal yang tidak memberi dampak yang luar biasa bagi perkembangan anak.  

Tapi sekarang begitu diteliti, rupanya proses mendongeng pada anak sangat membantu pertumbuhan otak dan mental anak.  Sayangnya, ketika teknologi semakin tumbuh dan maju, seperti kemajuan program televisi, film, handphone, game dan lain-lain, hal ini memanjakanan hampir semua orang dalam ruang sendiri, kurang interaksi langsung dan hidup di dunianya masing-masing, sehingga proses mendongeng atau bercerita menjadi berkurang.  Nusantara Bertutur menangkap gejala sosial ini sebuah masalah yang bisa berpegaruh pada perkembangan karakter anak, ya, tentunya karakter bangsa kita.




Tahun 1970-an, 95% bangsa kita buta huruf sehingga tumbuh tradisi lisan yang cukup kuat.  Jika ada cerita menarik, semua saling menceritakan sampai lahir cerita rakyat, dongeng fabel, bahkan bisa jadi melahirkan sebuah keyakinan dan dongeng yang menghubungan kejadian alam dengan mistis.  Budaya ini bisa jadi berawal dari tahun penjajahan disaat hanya kaum priyayi yang boleh sekolah dan kebanyakan masyarakat Indonesia kehilangan kesempatan untuk mendapatkan ilmu.    Melihat ini, kesempatan bangsa kita dalam menulaikan ilmunya melalui budaya bertutur, budaya yang senang bercerita (homonaratif), menceritakan dan pada akhirnya menurut Garin Nugroho bahwa bangsa kita termasuk bangsa “kepo”, mau tahu apa saja yang jang jadi urusan orang lain.  Seperti tumbuhnya masyarakat kepo di ruang diskusi warung kopi dan sinetron, karena pada dasarnya manusia itu senang  bercerita.  Keguncangan kita tradisi bertutur sudah ada, tinggal menata ruang publik komunikasi. 




Melalui cara bertutur inilah, para orang tua menyelipkan banyak nasihat dengan meminjam karakter binatang untuk memilah pemahaman nilai hidup dan sifat-sifat yang baik yang diterapkan untuk anak-anaknya.  Namun tahun 1990-an kondisi terbalik, 95% bangsa kita melek huruf dan sisanya buta huruf.  Tapi kondisi yang terjadi budaya lisan kita menjadi hilang, nilai-nilai hidup yang biasa disampaikan melalui dongeng tergantikan dengan film, televisi maupun media hiburan lainnya.  Sehingga membuat karakter bangsa kita menjadi masyarakat yang individualis.

Ada masalah lain, seringkali yang terjadi di dunia media kita, selalu pakai bahasa inggris saja.  Semua tidak percaya bahasa indonesia, bahkan pembawa beritapun tidak percaya bahasa Indonesia, mereka bilang, nanti tidak komunikatif.  Sehingga seringkali daya komunikasi bahasa ibu berkurang, karena dianggap bahasa Indonesia tidak cukup meyakinkan dijadikan alat komunikasi atau bersosialisasi.  Kita lihat kalau di televisi, para pendongeng ini berperan dalam sebuah iklan.  Iklan dalam 2 bulan harus mengeluarkan sekian milyar, dalam 1 minggu iklan dihitung tiap detik, menarik perhatian orang seperti apa, tiap detik.  Lalu rating memberi penilaian apakah triyunan uang yang diolah untuk iklan ini dapat menarik perhatian murid-murid, anak-anak, keluarga.  Dengan cara cantik itulah cara memasukan nilai-nilai.  Namun, pada dasarnya manusia mudah tertarik pada hal yang vulgar dan dramatis, sehingga tayangan dan pemberitaan seringkali menonjolkan hal yang disukai oleh orang-orang kebanyakan untuk mengejar rating. 

Hal ini yang menggugah para penggiat Nusantara Bertutur untuk memupuskan masalah klasik yang kian menjamur.  Dengan melahirkan dan menggiatkan kembali proses gerakan mendongeng pada anak di lingkungan keluarga dan di lingkungan sekolah.  Rupanya, dengan dongeng bisa membuat si-anak menjadi merasa dekat dengan guru maupun orang tuanya.  Katakanlah ketika akan memulai pelajaran, manfaatkan waktu 5 menit untuk mendongeng lalu selesaikan dan lanjut dengan pelajaran utama. 


Cara membentuk karakter anak

Rupanya menjadi bangsa yang kuat itu dimulai dari para Ibu.  Semua dimulai dari hal-hal yang sederhana, begitu kata nara sumbernya.  Ada beberapa hal yang mempengaruhi karakter anak.

Pertama karakter anak itu tumbuh tentunya punya pengaruh kuat dari keluarga.  Semisal, apakah setelah bangun tidur beresin tempat tidurnya atau tidak, lalu setelah makan piringnya di simpan ke tempat cuci piring atau tidak, lalu ketika berangkat sekolah, pamit tidak, apakah dia menghormati ibunya atau tidak. Kalau misalnya tidak latihan tidak seperti itu.  Kalau dia tidak pergi dan pamit begitu saja, kenapa habis makan kita harus angkat piring dan disimpan ke tempatnya.  Tujuannya adalah agar kita menyelesaikan pekerjaan sendiri dan menjadi mandiri.  Seperti contoh Ibu Marta Tilaar, kenapa dia berhasil, karena dia tekun, dan karakternya ini diikuti oleh anak-anaknya.

Karakter anak bisa di bentuk, bagaimana di rumah, bagaimana di sekolah. Tentunya keteladanan anak-anaknya bisa dilihat dari keteladanan orangtuanya.  Begitupun di sekolah, keteladanan bisa meniru guru-gurunya.

Ceritakan tokoh-tokoh di sekitar kita yang memberi pengaruh pada pertumbuhan karakter anak, seperti pemerintahan, tokoh politik, masyarakat sipil, media, pahlawan-pahlawan.  Melalui contoh para tokoh ini, kita bisa memberikan cerita-cerita yang hebat untuk anak kita, kita bisa meminjam sifat-sifat baik dari para tokoh ini.  Karakter-karakter para tokoh yang bisa menumbuhkan pribadi yang jujur, disiplin, tanggung jawab, sopan santun, tekun, gigih, mandiri dan unggul.  

Bangsa ini tumbuh karena karakternya, dengan karakter yang kuat bangsapun akan kuat.  Menurut Bu Megawati Santoso, kita dulu pernah punya karakter yang bisa dibanggakan, saking kecewanya dengan para pemimpin kita, sampai Bapak Taufik Ismail pernah menuliskan puisinya:

“Aku malu menjadi bangsa Indonesia.”

Jadi kita pernah mempunyai karakter yang luar biasa kita banggakan, lalu dimana karakter itu hilang?  Begitu kata Bu Megawati.  Kalau kita perhatikan pembangunan karakter tadi, kita mulai dari anak-anak.  Ditutur dan sebagainya.  Lalu kenakalan anak-anak itu seperti apa?  Apakah korupsi, tentu tidak.  Kenakalan anak seperti itu bullying, mencontek.  Pernah tidak sampai membunuh?   Ada kenakalan yang sangat, tapi tidak sampai seperti itu.  Tapi kejadiannya setelah orang itu dewasa, ketika orang itu menjadi usia produktif.  Padahal ketika mereka anak-anak ikut PAUD, dididik sedemikian rupa lalu kemudian ketika mereka masuk perguruan tinggi sudah jadi guru besar lalu malah masuk penjara katakanlah karena korupsi.  Dimana hilangnya karakter itu? 

Anak-anak itu tumbuh dengan tidak punya dosa, asal panutannya baik saja maka ia akan tumbuh baik.  Tapi yang terjadi karakter ini akan hilang pada saat usia mereka di usia produktif.  Ini yang harus kita fikirkan bersama.  Apakah ketika pendidikan remaja, perguruan tinggi?  Hilangnya ketika kita kehilangan sumber air keteladanan, semua media atau apapun itu membicarakan sesuatu yang vulgar.  Tapi sumber air keteladanan jarang sekali di ekspose.  Kenapa?    Pada dasarnya manusia senang sekali hal yang negatif.

 Semua media dan teknologi kita dibuat oleh manusia dan dipakai oleh manusia, jadi ketika manusia  tidak betul segala sesuatunya tidak betul.  Teknologi itu persis seperti pisau, akan dipakai untuk memotong buah atau membunuh itu sangat bisa.


Ada 4 golongan karakter manusia:

1. Orang plus-plus: karakternya positif dan pendidikanyanya juga postif.
2. Orang yang pendidikannya bagus tapi tidak berkarakter.  Ini golongan yang berbahaya.  Karena cerdas dan pintar tapi berbahaya sekali moralnya sehingga bisa melakukan hal merusak dengan ilmu yang dia miliki.
3. Tidak berpendidikan tapi karakternya baik.  Ini golongan orang yang jauh lebih baik.   Seperti golongan orang-orang tua kita jaman dulu, mereka tidak mempunyai pendidikan tapi luar biasa, mereka bukan akhli pedadogi tapi mereka mampu memberikan nilai-nilai karakter kehidupan. 
4. Orang yang tidak pendidikan dan tidak berkarakter.  Ini paling berbahaya dan karakter ini mayoritas hidup di negara kita.

Pendidikan IQ, kepandaian dan kecerdasan biasa itu bisa dibentuk, seperti mengajarkan membaca dan berhitung itu dapat dipelajari.  Tapi masalah kecerdasan karakter itu bermasalah sekali.  Bagaimana karakter ini bisa harus bisa dibentuk saat usia dini, masa paud itu usia 2-8 tahun.  Karena masa SMP, SMA seharusnya bangsa yang baik itu bukan masanya memikirkan pendidikan karakter di level itu.  

Sehingga masa Paud ini sebuah bentuk pembentukan karakter ini;

1. Terampil untuk dirinya sendiri, seperti pipis sendiri, makan dengan dirinya sendiri, tidak tantrum (teriak-teriak di lingkungan umum). 
2. Learning by playing.  Bagaimana proses keteladan betul-betul di kuasai oleh media.  Orang-orang media ini harus dididik untuk membentuk karakter baik untuk anak-anak kita.
3. Sumber air keteladanan, seeprti para pemimpin di negara ini, dosen, guru dan ulama.  Jika mereka tidak melakukannya dengan baik maka negara ini akan rusak.



Pulang dari acara ini, mendapat ilmu yang sangat banyak dari para pemerhati budaya dan kehidupan sosial.  Sungguh kehidupan bangsa ini berawal dari rumah, sekolah dan lingkungannya.  Sementara informasi, teknologi memberi banyak peluang masuk ke dalam diri karakter anak.  Pondasinya adalah membangun karakter anak dan dimulai dari usia dini dengan cara yang mudah dimengerti oleh anak dengan kapasitas usianya.  Kita yang wajib memahami mereka dan mencari cara yang tepat untuk menerapkan nilai-nilai moral dan karakter yang kuat.

@imatakubesar
Serpong, 6 Februari 2015

Ima Rochmawati

2 comments:

  1. Komplet, Mbak. Bermanfaat banget. Segala sesuatunya memang diawali dari rumah, ya. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aih, Mba Hayya, makasih udah membaca. :*

      Delete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv