Makanan, Menyatukanmu

Rumah adalah tempat kita tumbuh.  Makanan, selain unsur terpenting untuk pertumbuhan dan kesehatan, makanan ini sebagai alat pemersatu keluarga.  Setiap keluarga dan suku bangsa, pasti mempunyai makanan khas,akrab di lidah, menyatu dengan tubuh dan menetap di hati.  Seringkali, ini menjadi salah satu alasan kemanapun kaki melangkah, membawa ingatan kita kembali dan menumbuhkan kerinduan.  Makanan selalu menjadi alat untuk menuntaskan rindu.  Ketika kita jauh dari rumah, makanan selalu menjadi alasan dan obat yang bisa menghibur kehilangan dan rasa rindu. 



Bapak kami seorang pedagang ayam, ayam buat keluarga bukan hal yang mewah.  Bukan apa-apa, biasanya, kalau ada sisa jualan ayam atau sengaja disisakan, pasti dibawa ke rumah untuk dimasak.  Bahkan uniknya cara berdagang bapak, bapak suka menerima ayam matang langganannya yang tidak laku, lalu ditukar dengan ayam mentah.  Jadi, kadang-kadang kami bisa makan ayam bikinan warung nasi/rumah makan X yang enak.  Jadi, setiap hari menu makanan tidak jauh-jauh dari ayam.  Dari ayam kecap, ayam kuning, ayam oseng, ayam pepes, ayam goreng, ayam serundeng.  Teman makannya yang khas dan selalu dirindukan adalah sayur kacang merah dan sambal.  Pooolll !!!!  jadilah kami makhluk karnivora agak sulit makan sayur-sayuran karena terbiasa disuguhi ayam. 

Saya berasal dari keluarga besar, sangat besar, jadi seringkali sekali masak bisa untuk seharian.  Terutama untuk makan siang dan makan malam.  Di meja selalu tersedia makanan, seringkali Amih menyisihkan beberapa disimpan ke lemari.  Karena katanya, kalau semua disimpan dimeja, mau sedikit atau banyak tetap bakal habis.  Yang makan di rumah kadang-kadang, tidak hanya anggota keluarga, sering juga teman-teman kakak yang sedang main ke rumah, bahkan mahasiswa yang kehabisan ongkos sudah biasa ikut makan bareng di rumah.  Jadi, waktu saya kecil rumah itu terasa sangat ramai dan hangat.  Orang-orang datang dan pergi sambil bertukar cerita dan tawa.  Di meja makan selalu ada makanan, karena kebiasaan Amih, siapapun yang datang mereka harus makan sebuah bentuk hormat Amih pada tamunya.  Siapapun.

Waktu makan memang bisa kapan saja, tapi ketika ada satu orang yang makan, kita semua terpanggil untuk ngumpul makan dan ngobrol.  Kalau sudah begini, agak sulit untuk pergi karena obrolan bisa jadi panjang lebar. 

Belajar dari itu, saya percaya bahwa makanan rumah adalah salah satu alat yang membuatmu ingin pulang.  Kebetulan kebanyakan kakak-kakak suka dan jago masak, saya belajar banyak dari mereka dan dari acara masak memasak di televisi.  Saya jadi bisa masak dikit-dikit seperti tempe kering, ayam kecap, sup ikan, semur daging, tahu kukus, capcay, nasi kebuli, nasi uduk dan beberapa cemilan lainnya.  Terutama ketika sudah punya suami, rupanya dia sangat detil dan experimentalis dengan beragam bumbu, dari sereh, daun jeruk dan rempah-rempah lainnya yang bisa menambah cita rasa dari masakannya.  Rasanya menyenangkan. 

Seringkali saat saya menginginkan suami cepat pulang, salah satu jurus yang membuatnya segera datang adalah saya memancingnya dengan memasakkan makanan yang dia suka.  Dan, cukup berhasil membuatnya pulang. 

Ada makanan penyelamat yang bisa membuatmu tidak perlu ribet saat sahur, yaitu tempe kering.  Bikinnya mudah bisa sekalian banyak dan awet.  Pas sahur, kita tinggal nambah menu yang lain seperti dadar telur atau telur ceplok ditambah tempe kering.  Ini sudah sangat enak, puas dan kenyang.  Kata keponakan saya, katanya dia selalu ingat tempe kering Bi Ima karena enak.  Hore! 



Waktu di Bandung, dulu kita serumah dengan beberapa keponakan.  Suka masak dan bikin-bikin camilan yang praktis-praktis.  Biasanya kalau saya masak, makanannya akan habis dengan singkat, padat, tanpa merayap.  Entah karena doyan entah karena lapar, kalau cepat habis begitu, rasanya senang, apapun lah alasannya, yang jelas makanan yang saya masak suka habis. 

Apakah makananmu membuat keluargamu ingin pulang?  Kamu telah berhasil menjadi pahlawan kuliner, si pemersatu hati.

#Pahlawan6
Ima. Serpong. 17/11/2014





Ima Rochmawati

6 comments:

  1. Sama berarti Mbak :). Mama saya walaupun tidak terlalu mahir memasak, tapi masakannya selalu dirindukan sama saya dan adik2 saya :), Tiap pulang ke rumah, yg saya tanya "Mama masak apa?" hehehe

    ReplyDelete
  2. mama memang pahlawan kuliner keluarga ya mak :)

    ReplyDelete
  3. masakan mama memang paing enak ya rasanya,apalagi kl udah jauhan kayak saya..pasti kl pulang kampung udah request yg macam2 hehe

    ReplyDelete
  4. suka ama kata2nya mba Ima, makanan itu efektif bgt untuk menuntaskan rindu, *jd kangen emak :)

    ReplyDelete
  5. Saya nggak pinter masak. Tapi itulah... Allah kasih diantara sekian masakan yg biasa, ada yg luar biasa buat keluarga. Hihihi...mungkin lidah mrk udah di setel sm Allah yaa...:)

    ReplyDelete
  6. Mamaku juga gak terlalu jago masak, tapi gulai ayamnya suka bikin rindu buat pulang ke Medan. Hikks....

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv