Receh Si Penyelamat


Di Indonesia kita mengenal 5 (lima) jenis uang koin atau uang receh, diantaranya Rp 50,00, Rp 100,00, Rp 200,00, Rp 500,00 dan Rp 1000,00. Alat transaksi jenis ini biasa digunakan untuk alat kembalian, bayar tol –biasanya tempat membayar tol selalu ada tulisan”bayar denga uang pas”-, bayar parkir, bayar wc umum yang rata-rata memberi tarif Rp 1000,00 – Rp 2000,00, bayar angkutan umum, bayar bis kota, dan banyak lagi transaksi dengan nilai kecil namun sering dilakukan.

Bagi pedagang uang receh adalah salah satu hal yang penting sebagai alat kembalian.  Karena banyak produk maupun tarif masuk diberi harga murah maupun memberi nilai ganjil, seperti mie instan harganya Rp 1.600,00.  Bisa jadi cara ini merupakan strategi harga suatu produk agar terlihat murah atau bisa jadi jika harga mie tersebut dibulatkan akan menjadi terlalu mahal.  Efeknya, di beberapa supermarket mereka sering memberlakukan permen sebagai alat kembalian.  Karena mereka anggap boleh mengambil keputusan sepihak dengan memberi 1-2 butir permen untuk alat kembalian.  Berbeda dengan warung-warung kecil, kios rokok, mereka selalu menyediakan berbagai uang recehan untuk persiapan alat kembalian.  Justru keuntungan sebuah produk itu terdapat pada beberapa digit dibelakang titik.  Sehingga tidak ada yang dirugikan.  Kadang bisa ditemukan beberapa pedagang yang sering memberi kelonggaran pada pembeli dengan alasan tidak ada kembalian.  Cara ini justru salah satu celah yang bisa merugikan perdagangan dan usahanya akan cepat gulung tikar.


Selain itu receh si penyelamat ini bisa menyelamatkan kita dari urusan “belakang”.  Di Bandung-khususnya, kebanyakan WC umum memberi tarif masuk Rp 1000,00 – Rp 2000,00.  Bahkan ada yang memberi keterangan dengan harga yang berbeda untuk buang air kecil, buang air besar dan mandi-dalam benak saya, setiap orang yang masuk ke wc tentunya sebuah kegiatan yang sangat pribadi, bagaimana mereka bisa tahu kalau kita melakukan sesuatu dengan menggunakan air yang melimpah sementara membayar tarif yang paling kecil-.  Kita kesampingkan dulu fikiran itu, kembali ke tarif wc.  Nah, biasanya pas kita mau masuk wc atau keluar wc, uang akan dimasukan ke kotak dengan lubang yang kecil.  Seperti kotak celengan atau kotak amal.  Dengan begitu, kita harus meyediakan uang recehan disaku kita.  Kalau uang kita agak besar memang agak merepotkan si penjaga WC umum, karena harus membuka gembok kotak uang itu untuk memberi kembalian.  Eits, jangan salah usaha WC umum  dengan tarif recehan ini bisa menghasilkan gepokan.  Enaknya usaha WC umum, mereka tidak perlu memasang iklan, cukup memasang sign sistem di wilayah strategis bertuliskan “TOILET” maka orang-orang akan memburunya. 

Sekarang situasinya terbalik, saya pernah membayar Rp 100,00 dengan senyuman dan ribuan permintaan maaf.  Situasi ini terjadi ketika harus membayar tunggakan telepon rumah dan speedy.  Pertama, saya bayar dulu tunggakan telepon karena takut uang yang saya bawa  kurang.  Setelah mendapat kembalian, dengan sisa uangnya, saya perkirakan akan cukup membayar jaringan internet bulanan.  Ketika pegawai sedang melakukan print out dan saya mulali menghitung uang yang harus dibayarkan ternyata kurang Rp 100,00 saja. Saya tertawa –karena merasa bodor sendiri, biasanya situasi ini hanya candaan saja tapi jadi kenyataan- dan tentunya malu sekali, lalu minta izin untuk mengambil uangnya dulu di ATM yang kebetulan jaraknya dekat.  Tapi rupanya pegawai yang cantik dan budiman ini mengerti dan dianggap lunas.  Malu dan senang bercampur saat itu, tapi… ya sudahlah.

Nah, ada satu lagi cerita tentang receh penyelamat ini.  Pernah kita dalam situasi bokek kering kerontang? Saya pernah, cukup sering malah.  Saya punya kebiasaan menyimpan uang recehan sisa kembalian belanja maupun ongkos di masukan ke dalam kaleng.  Receh ajaib ini terus terang bisa sangat membatu disaat situasi yang cekak.  Receh-receh itu mulai di sortir, dihitung lalu di ikat dengan plester. Seringkali jumlahnya selalu tak terduga, bahkan sangat membantu untuk urusan dapur dan jajan si kecil. Jadi, jangan pernah menyepelekan uang receh meskipun kecil ia termasuk lincah dan mengisi setiap elemen transaksi.

Ima Rochmawati

No comments:

Post a Comment

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv