Refleksi Film I don’t Know How She Does It


Film I Don't Know How She Does It menceritakan perempuan berkeluarga bernama Kate Reddy telah mempunyai dua orang anak, anak pertama menginjak usia kanak-kanak yang kedua usia balita.  Suaminya, Richard, bekerja sebagai arsitek.  Dia sangat memahami dan mendukung kemajuan pekerjaan istrinya.  Kate adalah seorang perempuan yang mampu menyeimbangkan pekerjaan dan tanggungjawabnya sebagai ibu rumah tangga.  Anak dan keluarga adalah segala-galanya, sehingga apapun kondisinya ia selalu menjaga komunikasi. Namun, selalu saja ada situasi yang dilematis, ketika pilihan harus ditentukan saat ada acara keluarga dan pekerjaan di waktu yang bersamaan.  Silahkan menonton sendiri bagaimana mereka menghadapinya.

Setelah menonton, ada yang menarik dari film tersebut.  Perempuan (berkeluarga) memiliki pekerjaan di luar rumah selalu merasa bersalah ketika meninggalkan sesuatu yang berhubungan dengan rumah tangga.  Terutama mengenai anak, dari segala kebutuhan fisik maupun perkembangan emosinya.  Dan perempuan yang memutuskan menjadi full day mom, menumpahkan waktu dan kehidupannya mengurus dan mengelola segala kebutuhan keluarga.  Keduanya adalah pilihan hidup masing-masing.  Hanya saja, seolah terjadi sebuah persaingan cukup ketat dari kedua belah kubu ini untuk meraih keunggulan identitas.

Kubu satu (perempuan pekerja) tetap bekerja di luar rumah dan terus mengupayakan dengan berbagai macam cara agar tetap mempunyai hubungan yang berkualitas dengan keluarganya, khususnya dengan anak.  Sementara kubu dua (perempuan full day mom) berupaya semaksimal mungkin memanfaatkan waktu untuk keluarga sepenuhnya.  Maksud kedua kubu ini sebenarnnya sama, mempunyai tujuan memberikan kehidupan yang lebih baik untuk keluarga. Herannya, kenapa perempuan-perempuan yang sudah berumah tangga selalu merasa gelisah dengan pilihan bekerja dan tidak bekerja?. Seolah muncul stigma di tengah masyarakat, perempuan bekerja selalu dianggap “bersalah”, jika terjadi suatu hal “buruk” menimpa (khususnya) anak dan keluarga.  Dan perempuan tidak bekerja selalu dianggap “bersalah” (juga) karena dianggap tidak membantu urusan keuangan keluarga, tidak cukup wawasan dan keahlian untuk berkecimpung di dunia kerja.  Perempuan (menikah) selalu dinilai salah dan cenderung menyalahkan diri sendiri.  Hmmm…

Ini contoh kasus komentar untuk perempuan pekerja:
Ny.X bekerja dari pagi sampai sore, anaknya di titip ke neneknya (ibunya Ny. X).  Tanggapan yang muncul seperti ini, 
“Kasihan anaknya, padahal kualitas anak jika dididik oleh ibunya sendiri akan jauh lebih baik dibandingkan oleh neneknya.  Pengetahuan neneknya kan berbeda dengan ibunya.”

Ini contoh kasus komentar untuk perempuan full day mom pun tidak kalah menarik, begini tanggapan yang muncul, 
“Jadi Ny.Y tidak bekerja yah, lalu buat apa kuliah tinggi-tinggi dan mahal pula jika akhirnya jadi ibu rumah tangga juga.  Ah, jangan-jangan kurang pintar ya. Enak dong tinggal nunggu setoran dari suami.”  Komentarnya akan bertambah jika Ny. Y ternyata pernah kuliah di universitas ternama.  Bisa anda bayangkan?

Pada intinya sama, pilihan perempuan (berkeluarga) memiliki tujuan sama saja yaitu memberikan hidup yang terbaik/bahagia-menurut versi pemikirannya- untuk dirinya dan keluarga.  Hanya saja mengambil pihan bekerja/tidak bekerja, masing-masing selalu melahirkan opini yang negatif, sampai seolah-olah perlu kerja keras untuk mendapat pengakuan dari lingkungannya bahwa pilihan hidupnya adalah sangatlah menarik.  Dalam film ini, seperti juga yang terjadi di tengah masyarakat, perempuan mempunyai keunggulan yang tidak biasa, dia bisa mengerjakan banyak hal dalam satu waktu.  Manajemen hidup dan pemikiranya sangat detil, kompleks bahkan ada yang jatuhnya menjadi perfectionis.  Mengenai pilihan hidup mana yang "benar"? biarkan mereka menentukan apapun pilihanya tanpa menjadi merasa bersalah, karena hatinya tetaplah milik keluarga.

Selamat menonton dan peluk hangat untuk perempuan di seluruh bumi.

i.am ima I 20 Januari 2012

Ima Rochmawati

5 comments:

  1. aku sukaaa deh mbak dengan post ini, jadi pengen nonton film nya

    ReplyDelete
  2. Asiiiiiik, ah senangnya :)

    ReplyDelete
  3. dilema perempuan semua, tapi kita punya pilihan terbaik kan ? tema yang menarik yah, jd pengen nonton jg

    ReplyDelete
  4. Salam kenal Gerbang matahari :) tengkiyu udah mampir. Yups, ima suka tema film yang mengangkat proses perempuan. Film ini dari sisi mom yang bekerja, ada film yang lain tentang mom yang bekerja di rumah yang meninggalkan kehidupan menulis untuk keluarganya, judulnya motherhood. keren deh

    ReplyDelete
  5. kurennnnn resensinya..

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv