STATUS

Menikah, begitu yang tertulis di KTP.  Penting untuk beragam birokrasi dan sistem bersosial.  Kini kata “status” menjadi berbeda makna ketika facebook dilemparkan pada masyarakat.  Isi Status semakin terasa penting dan menyenangkan ketika jaringan sosial di dunia maya semakin menggurita.  Sebagai ajang seru-seruan, mengungkapkan sesuatu yang memang sedang kita fikirkan, ajang nyela, iseng, hal yang serius, doktrin, propaganda atau berbagi informasi yang menarik, tergantung masing-masing orang memanfaatkanya.

Facebook, begitu membuat addict seperti minum kopi yang sulit dihentikan dan makan duren (request heheh), nyammm…. Pertama kali mengenal facebook rasanya sulit sekali mengoperasikanya, karena ada beberapa hal yang tidak biasa dari cara kerjanya.   Semakin lama dipelajari dan sistemnya malah jadi ketagihan.  Sebelumnya saya ikut dengan jejaring sosial friendster, dan makin kurang nyaman karena dominasi list teman yang kurang di kenal.  Di facebook penuh kejutan, banyak sekali teman-teman yang sudah lama dan sulit bertemu ternyata mempunyai id facebook.  Tiap hari selalu buka facebook, lihat-lihat beranda teman, foto-fotonya yang bercerita banyak hal menjadi bagian dari proses hidup, baca tulisan mereka dan isi status, kalau tidak melakukanya rasanya ada yang kurang.  Persis seperti sehari tidak mandi atau sehari hanya makan satu kali, pasti ada yang kurang.  Proses ini menjadi hal yang menyenangkan karena berasa bertemu dengan teman-teman.  Dengan beragam fasilitas facebook, saya seolah bisa bertemu muka, bercerita banyak, diskusi, berbagi ilmu, dan membaca kehidupan mereka.  Seperti membaca foto-foto kegiatan mereka seperti ada acara keluarga, kumpul dengan teman, aktifitas kerja, foto-foto pertunjukan dan banyak hal lainnya.  Hal ini mampu menyembuhkan kerinduan dan selalu menghadirkan banyak kejutan.

Isi status menjadi sesuatu yang begitu menyenangkan, rasanya apapun yang sedang terjadi, difikirkan ingin segera dituliskan di status atau sekedar iseng bahkan bisa jadi tidak menjadi diri sendiri.  Dari urusan dapur, makanan, kondisi macet, curhat, sosial, politik dan banyak lagi.  Ketika ada komentar dari teman sepertinya kita sedang berdialog, merasa lebih intim seolah bertatap muka dan bisa mengobati kebutuhan kita sebagai makhluk sosial.  Kita menjadi tahu ketika status berisi tentang “A” maka yang mengomentarinya tidak akan jauh dari minat dan background  teman-teman, begitu seterusnya.

Makin lama saya sendiri merasa monoton dan tidak ada perkembangan dalam menggunakan fasilitas yang satu ini.  Selain digunakan untuk menuntaskan rasa kangen pada teman-teman dan main game, ingin rasanya fasilitas ini bisa membuat perubahan pada hidup saya.  Semakin dicari, rupanya di fasilitas jejaring ini semakin menarik karena banyak juga yang menawarkan aktivitas dalam pengembangan hobi dan usaha.  Disini semakin mengerti bahwa facebook bentuk lain dari upaya kita tetap terkoneksi dengan teman dan bersosialisasi, facebook menjadi sebuah pembangunan identitas, citra dan pengembangan diri.  Dan yang jelas cukup membantu mengurangi jatah pulsa handphone, hehehe…

Melalui status teman-teman, notes dan poster kegiatan yang di bagi di wall mereka memberikan banjir informasi.  Pergerakan teman-teman semakin kelihatan, seolah kita melihat diatas bukit dan melihat ribuan aktifitas yang tidak mengenal henti.  Ada yang berlari, ada yang jalan cepat, ada yang tertidur, ada yang terduduk di ruang nyamanya, ada yang selalu menggali.

Facebook seperti dunia, waktu, ruang, dan pertemuan yang dilipat.  Kita bisa berkomunikasi dan melakukan banyak hal disatu waktu.  Seperti sambil merendam baju, menunggu nasi matang, kita bisa browsing, nunggu downloadan, bahkan ikut kursus menulis online dan chating dengan teman.  Kenyang bukan, dan waktu semakin terasa panjang.  Bahkan disaat awal-awal beres melahirkan, disini kebutuhan saya tentang pengetahuan asi, ilmu mengurus anak dan ribuan hal yang ingin diketahui tinggal menekan satu tombol maka dunia akan memberikan banyak informasi tanpa harus ngingkig ke toko buku.  Lalu kita bisa bertemu teman di dunia maya, becanda, saling menguatkan dan tiba-tiba saja mengurangi rasa sakit yang sedang dialami.

Dari beberapa teman yang lain ada yang merasa bahwa fasilitas ini mengganggu ketenangan rumah tangganya. Karena banyak kejadian yang pada akhirnya karena facebook menjembatani seseorang untuk melakukan perselingkuhan.  Pertemuan dan dialog dengan mantan pacar, atau seseorang yang sudah lama dikagumi seolah membuka celah kesempatan dan menghibur, disaat bersamaan masalah keluarga yang semakin menekan.  Bahkan MUI pernah mau meng-haramkan, mengingat banyak konten dan aktifitas facebook mengarah pada mendekati maksiat/maksiat. 

Tapi pada akhirnya saya berkesimpulan bahwa setiap orang mengarahkan dan mengelola ilmu yang dimilikinya tergantung fungsi dan kebutuhan masing-masing.  Persoalan menjadi manfaat atau sebaliknya ada ditangan masing-masing.  Seperti golok bisa menjadi manfaat untuk memotong daging tapi golok juga bisa menjadi berbahaya dan merusak jika digunakan untuk berkelahi.

Be you and happier,
Ima, 12 Juli 2011

Ima Rochmawati

No comments:

Post a Comment

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv