Hidup Itu Pilihan

Seperti biasa kami pergi membeli produk rumah tangga, untuk mandi dan makanan konsumsi sehari-hari.  Kali ini Shampoo yang saya ambil tidak  produk biasanya tapi produk yang model iklanya Dian Sastro Wardoyo yaitu L’ORÉAL Paris.  Sayapun memasukan produk itu keranjang sambil nyengir ke suami,
“Biar seperti Dian Santro hahhaaa…”
 Suami saya tersenyum sambil berkomentar
“Garila… dasar!”
Sore tiba saya mandi dan mencoba produk yang dipakai Dian Sastro ini, dan mulai membanggakan pada suami, keponakan dan kakak yang kebetulan nengok ke rumah.
“Bagaimana… bagaimana… rambut saya melambai-lambai seperti punya Dian Sastro kan, aura Dian sudah mulai terlihat kan hehehee…”
Tentunya hal ini memancing beragam komentar yang tidak kalah serunya.

Oke, sebelumnya saya beli shampoo keluarga dan coock untuk sekeluarga.  Dulu kalau melirik shampoo ini tumbuh kesan shampoo yang biasa di gunakan di tempat salon dan rasanya terlalu berat untuk dikonsumsi sehari-hari mengingat harganya diatas rata-rata shampoo yang lain.  Anehnya figure Dian Sastro mempunyai kekuatan lebih untuk membuat tangan saya menggapai shampoo tersebut, kesan hargapun menjadi terasa manusiawi dan masuk akal, apalagi ketika mencobanya ternyata harum dan hasilnya memuaskan.  Suami saya sih tidak merasa seperti Dian Sastro, tapi dia selalu merasa asik-asik saja apapun produknya.

Siapa yang tidak kenal Dian Sastro, kesan perempuan cantik, aktif, pintar, kreatif yang membooming zaman film remaja “Ada Apa Dengan Cinta” (AADC) sebagai ikon remaja yang super.  Apapun yang dia lakukan menjadi panutan para perempuan.  Cantik, pintar, keren, senang buku dan berkarya.  Sepertinya saat itu remaja dan remaja dewasa dicuci otaknya bahwa standar perempuan dambaan semua laki-laki adalah Dian, bahwa perempuan cantik itu adalah Dian Sastro, maka kamu akan terlihat sangat keren .  Perempuan-perempuanpun berlomba agar seperti Dian versi Cinta, rambut panjang, ber-puisi ria, bergerombol ke toko buku, dan tentunya mempunyai gank yang jadi lirikan laki-laki di sekolahnya.  Berharap laki-laki versi Rangga akan datang dan mengirimkan puisi yang aneh dan mampu membuat hidupnya semakin complicated.  Makin complicated maka hidup kamu makin berkesan keren. 

Citra Dian Sastro sebagai Cinta yang cantik, pintar dan keren demikian kuat melekat.  Apalagi ketika Dian masuk ke Universitas Indonesia dan mengambil jurusan Filsafat.  Hmmm… beberapa orang akan menyela, bidang apaan tuh? Dan sebagian yang lain akan berdecak kagum.  Sebuah bidang kuliah kajian studi budaya yang berat bagi ukuran secantik Dian yang tumbuh dari lingkungan glamour.  Makin kuatlah citra “cantik dan pintar” di dalam kepribadian Dian.  Belum ungkapan iri muncul dari para perempuan yang merasa “tidak  beruntung” saat Dian mendapatkan suami  yang ganteng, kaya raya, masa depan terjamin dan kemanapun dia ingin pergi rasanya tidak perlu mengotret dulu jumlah tabunganya.  Dunia dan segala kenyamanannya seolah tinggal menjentikan jarinya yang manis.  Betapa beruntungnya menjadi perempuan seperti Dian.

Saya yakin, Dian pasti berusaha keras untuk menjadi “seseorang” dan mau tidak mau diapun melewati beragam proses sentilan hidup.  Saya percaya bahwa hidup itu adalah proses dan hasil akhir adalah bagian dari bagian kerjakeras masing-masing.  Karena berusaha keras bagian dari bagaimana cara setiap orang bertahan hidup.  Seperti Mahatma Ghandi bilang katanya, “Kepuasan terletak pada usaha, bukan pada hasil.  Berusaha dengan keras adalah kemenangan yang hakiki.”  Setiap orang mempunya Base of Superstructure Production-begitu kata orang media-, unsur-unsur yang mempengaruhi pola landasan dasar itu diantaranya agama, keluarga, pendidikan, politik dan media.  Dari pola unsur dasar inilah yang menghasilkan sudut pandang, pola dan karya hidupnya. 

Hidup itu adalah pilihan, sekalipun seolah tidak ada pilihan tapi ketika kita berusaha keras dan mencari solusi atas sesuatu pasti ada jalan keluarnya.  Apapun keputusan yang kita ambil selalu menyeret dan lengkap dengan segala resiko dan keuntungannya.  Namun, pola hidup yang tumbuh dimasyarakat mengarahkan segalanya begitu berkotak-kotak.  Seringkali hal ini menjebak dan menyempitkan pandangan hidup, runtuhnya semangat hidup  dan tidak luas.  Seolah bahwa hidup harus diterima apa danya, pasrah, menyalahkan pihak-pihak tertentu dan tetap berada di kubang kemelaratan.  


Setiap masalah pasti ada solusianya, seperti  halnya penyakit pasti ada penyembuhnya, lalu kita di tuntut untuk mencari ilmu untuk mendapatkan obatnya.  Kehebatan manusia terletak pada kelengkapan semua unsur yang dibutuhkan untuk kemajuan juga kerusakan dunia.  Ia mempunyai akal dan hati, sekalipun ada yang tidak lengkap secara fisik tapi manusia adalah makhluk yang paling bisa beradaptasi dalam kondisi apapun.  Ilmu bisa menjadi perbaikan dan kemajuan dunia jika dipegang oleh orang yang berhati baik tapi sebaliknya jika dipegang oleh orang yang berhati jahat malah akan membuat kerusakan.  Banyak contoh seperti orang yang tidak mempunyai tangan namun bisa menghasilkan karya lukisnya oleh kaki, ada yang tidak bisa melihat namun kejeniusan berfikirnya tidak membuatnya buta lalu pemikiranya dituliskan oleh orang lain.  Dan banyak lagi manusia-manusia lain yang seolah tidak sempurna namun menjadi sempurna berkat semangat dan sudut pandang hidupnya yang maju.  


Sementara kita yang secara fisik sangat lengkap seringkali membatasi/menahan atau bersikap underestimate pada diri sendiri untuk mengolah diri padahal bisa jadi kita mempunyai kemampuan yang tidak disangka-sangka.  Bahkan seringkali –secara tidak sadar- bersikap tidak adil untuk melangkah pada sesuatu yang lebih maju. 

Tak ada yang tahu tentang kehidupan seseorang satu dengan yang lain.  Seringkali kita melihat keberhasilan seseorang hanya sebatas visual saja.  Tapi bagaimana proses dan perasaan hidup masing-masing adalah pilihan untuk merasa hidup dan bahagia.  Karena kebahagiaan dan kepuasan berasal dari hati, sikap kita dalam menghormati hidup adalah bagian dari penghargaan kita pada proses seberapapun pencapaian hidup yang diperoleh.  Setiap orang mempunyai orientasi dalam membagun diri dan mendesain hidupnya seperti apa.  Karena hidup adalah pilihan, pilihan untuk merasa bahagia atau selalu merasa kurang.

Full of Love,
Ima, 11 Juli 2011

Ima Rochmawati

No comments:

Post a Comment

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv