Oleh-Oleh dari Malang

Hampir 3 minggu Amih tinggal di Kota Malang.  Dia berkunjung ke rumah teteh yang baru saja melahirkan seorang putri.  Kakakku yang lain menyambut kedatangan Amih di Bandara Husein Bandung, sementara di rumah sudah disiapkan menu makanan yang special.  Kebetulan Hari Jumat ini banyak yang memutuskan harpitnas, jadi suasana rumah terasa rame menyambut kedatangan Amih.  Sambil makan, Amih tidak sabar membuka koper dan mengeluarkan isi yang dipenuhi oleh-oleh, ada mobil-mobilan, baju bayi, keripik Malang, kaos yang berlipat-lipat. 
“Ini buat Alif, sesaat lihat mainan mobil ini Ibu langsung membayangkan Alif pasti senang sekali.” Alif langsung menyambutnya dan takjub melihat mobil yang bergerak-gerak disertai musik yang ramai. 
“Nah, kalau yang ini buat Syawa, baju merah motif strawberry.”  Cocok buat Syawa bayi yang berkulit putih dan bulat.  Lalu tangannya mulai merogoh-rogoh yang lain,
“Ada kaos bola dari Malang. Ini buat Dauf, Jalu,Makky, Adin …”
Mata kami tercengang melihat tumpukan kaos bertuliskan AREMA, kaos-kaos itu dikeluarkan sambil mengabsen satu persatu cucu yang akan diberinya.  Raut muka Amih terlihat cerah dan bangga, tawa kamipun pecah antara lucu, kaget dan senang.  Ibu memotong,
”Eh ini PERSIB ngga akan marah kan?  Takutnya amih beli ini malah jadi masalah”
Kamipun menjawab sambil memegang, melebarkan dan mencoba kaosnya,
”Ah engga, engga ko mih hehehee… ini kan hanya kaos, masalah tanding sih beda” Berusaha menyenangkan hati Amih, padahal dalam benak, jangan-jangan orang-orang akan menganggap murtad.  Apalagi kalau kaos ini dipakai keluar lalu berjalan menuju ke kampung sebelah yaitu ke Jl. Sersan Surip atau daerah UPI.  Hmmm… siap-siap saja banyak sepasang mata mengarahkan panahnya atau tik… tik… tik… blug, gedebam, dag, dzig, dassss, gubrax! Kamu tahu kan maksudnya.  Tapi anehnya, ketika kaos itu diterima oleh kakak ternyata anaknya yang masih kecil sudah menolak untuk memakainya. 
“Bapak mah, ga mau ah ini mah Arema.” Hmm.. ini bukti kebencian pada lawan dan kecintaan pada klab sepak bolanya yang tak sengaja dipupuk dan menular dari satu generasi menuju generasi berikutnya.  Anak-anak melihat, membaca, menelaah, menjiwai dan meniru agar diterima lingkungan lalu hadir dan hidup bersamanya.  Sesaat tertegun, sepertinya pertempuran memang tidak akan pernah usai selama para orang dewasa mampu mengendalikan diri dan bersikap sportif.  
Sepakbola sudah menjadi bagian dari hidup, bahkan sudah seperti agama kedua.  Ada yang nyolek dikit klab kecintaanya, maka siap-siap saja mendapatkan perlawanan dari pendukung fanatiknya.  Mau kalah atau menang mereka tetap menjadi pendukung setia.  Bahkan ada istilah jika kulit di belah maka darahnya berwarna biru.  Biru Persib yang membiru mengalir di darah dagingnya. 
Asah kepekaan jika bicara sepak bola, apalagi kalau berwisata ke sebuah kota lalu tak sengaja membuka perbincangan tentang sepak bola dengan orang yang baru dikenal.  Karena ini persoalan yang menggairahkan, menyenangkan berikut sensitif.  Jadi masalah ras itu tidak hanya agama, suku, warna kulit namun sepak bola menjadi nomor berikutnya.
Saat pertandingan sepakbola diputar di televisi maka semua orang akan menyambut dan tidak akan melewatkan satu detikpun untuk menyaksikannya.  Waktu kerja bisa sangat leluasa, acara pengajian, pertunjukan kesenian, pernikahan, pertokoan bisa sepi jika klab sepakbolanya sedang bertanding.  Ini semua karena sepak bola yang melahirkan strategi, seni permainan menendang, melempar dan melahirkan kejutan-kejutan menuju gol yang indah. 
Tapi dalam benak Amih sederhana saja, permainan sepakbola adalah kesukaan anak-anaknya jadi mereka pasti senang jika dapat oleh-oleh kaos bola. Sebuah permainan yang disukai banyak orang bahkan kami selalu membuat pertandingan sepakbola antar kelompok para ayah-anak di hari lebaran.  Sepakbola itu kegemaran masal, bahkan lebih baik tutup warung untuk menyaksikannya atau mengeluarkan televisinya agar bisa ditonton rame-rame.  Wajah menjadi riang gembira, jiwa lepas dan semua menjadi satu.  Tidak memandang kelas, status sosial, usia, semua bisa berekspresi saat pertandingan berlangsung.  Sepakbola adalah kegemaran sejati yang mampu menyatukan semua kalangan atau membuat pertikaian hingga berdarah-darah. Contohnya ketika Tim Nasional bertanding maka tak ada lagi identitas klab.  Semua satu.  Berbeda saat kembali bertanding antar klab lokal, penggemar menunjukan identitasnya lalu setelah pertandingan maka kerusuhan, pertikaian dengan dalih membela klab menjadi sesuatu yang wajar.
Lalu apa hubunganya kaos dengan sepak bola? Kaos adalah pakaian yang kita pakai sehari-hari.  Dekat dihati dan mampu mengkampanyekan topik oleh badannya.  Dengan memakai pakaian tertentu menggambarkan kepribadiannya dan antusias seseorang seperti apa.  Bahkan ketika seseorang memakai pakaian tertentu, maka seolah tumbuh dalam dirinya sebuah energi yang melahirkan karakter tertentu. Kaos mewakili kedekatan dengan kehidupan pribadi si pemakainya atau bahkan menciptakan pribadi baru. 
Lalu bagaimana dengan oleh-oleh dari Amih ini? Sepertinya patut ditiru, karena bisa jadi ini sebuah indikasi bahwa kita bisa jadi bersikap wajar saja sebagai fans dan bahkan bisa saling bertukar souvenir.  Masalah terjadi di lapangan, cukup mati-matian di lapangan, tapi ketika keluar lapang studion semua kembali tenang, baik-baik saja bahkan bisa saling diskusi di warung kopi dan menguatkan fans yang kecewa karena klab-nya kalah.  Semua orang sama-sama menyukai sepak bola, kenapa harus ada kekerasan ketika mendapat kekalahan.  Bukankan bertanding memang beresiko kalah dan salah satunya pasti menang.  
Hidup Persib! Hidup Sepak Bola Indonesia!

Ima Rochmawati

1 comment:

  1. betul betul...

    ujutes!
    nawak AREMANIA..
    (bacanya dibalik yah?! maklum arek malang)

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv