Hati yang Nge-Blues atawa Baby Blues

Siapa yang menginginkan perasaan kusut saat mengurus anak? Bawaannya kesal, marah, takut, khawatir berlebih, tidak percaya diri, semua perasaan yang tidak menyenangkan itu menggelitik setiap waktu.  Saya kira semua orang tidak menginginkan perasaan ini mengganggu mentalnya. Kesabaran kita benar-benar diuji saat menghadapi beberapa kasus bayi.  Bahkan saat kita harus terbangun beberapa kali untuk menyusui di waktu malam, kesalnya melihat suami enak tidur dengan nyenyak.  Iri bercampur kesal yang luar biasa agak sulit dikendalikan. Semua perasaan negatif itu ditambah dengan sisa sakit kondisi fisik dan lelah yang kerap mengganggu.  Benar juga, bahwa anak selain memberikan kegembiraan tersendiri tapi merupakan bagian dari ujian juga.  Mental yang terus menerus saling tarik menarik muncul tidak ada hentinya.

Kemudian saya menemukan sebuah hadis, bahwa bangunnya seorang istri satu malam di malam hari untuk mengurus bayi sama nilainya dengan kesetiaan seorang suami seumur hidup.  Nyessss… hati ini rasanya diangkat ke langit ke tujuh dan didudukan disebuah kursi kehormatan.  Tapi emosi kembali tarik menarik jika lupa dan kemarahan lebih menguasai kesabaran.  Oh sabar… sabar…

Saat masih hamil, beberapa saudara dan berbagai media memberikan informasi bahwa setiap perempuan yang selesai melahirkan akan melalui “Baby Blues”.  Katanya, jika lebih dari 1 bulan tidak sembuh maka harus segera konsultasi pada ahli psikolog agar tidak berkelanjutan.  Sebuah perasaan yang hampa, tidak karuan, serba sensitif, merasa sendirian, bahagia yang berlebihan lalu tiba-tiba menjadi sedih berlebihan, bawaanya ingin marah, seolah perasaan bahagia ini di rampas dengan angkuhnya.  Seperti terjebak dipenjara di Film Harry Potter.  Perasaan muncul melebihi dari pra-menstruasi.  Dulu saya begitu percaya diri bahwa saya akan terhindar dari kondisi ini, tapi situasi tidak bisa dikompromi, perasaan “nge-blus” itu datang berloncat-loncat dengan riangnya. Siapa yang mau punya kondisi hati tidak enak begini, saya kira semua orang tidak mau. Pikiran buruk menyelinap, seolah setiap orang tidak mengerti dan menyumpahi agar kita memiliki situasi yang sama dengan mereka-mereka yang pernah melahirkan.  Seperti,”Begitu tuh, sekarang baru tahu rasa gimana rasanya ngurus anak.” Dan nada-nada seperti ini bermunculan dari beberapa orang.  Barangkali bisa jadi tidak disadari atau sekedar becanda tapi obrolan becandaan ini begitu “kena” pada si-penderita baby blues.

Masa-masa awal beradaptasi saat mengurus bayi adalah masa berkompromi dengan waktu; waktu tidur, makan, beres-beres, bersosialisasi, rasa lelah, mandi, baca, merajut, menulis, online, menyetrika, ke warung, semua harus penuh strategi dan serba cepat.  Karena waktu makan dan bangun bayi hampir 1 jam sekali.  Disela-sela tidur itulah, bisa dimanfaatkan untuk kebutuhan pribadi atau aktifitas rumah tangga lainnya.  Ajaibnya, perempuan bisa melakukan banyak hal disatu waktu dengan pola pikirnya yang serba logis dan cepat.  Misal, dia membuat air untuk mandi bayi, sambil menunggu panas merendam baju, sambil menunggu waktu dia bisa memasak sambil sambil bolak-balik kamar nge-cek bayi.  Beres masak bayipun bangun dengan perhitungan air sudah siap pakai untuk mandi.  Selesai memandikan lalu disusui dan bayipun kembali tertidur, disela tidur ini kami bisa makan, beres makan ada kemungkinan bayi bangun, lalu tertidur lagi selesai disusui, saat dia tidur ini kesempatan untuk mencuci baju yang tadi direndam.  Dan banyak hal lain lagi, jadi pada para suami tidak perlu takut istrinya berleha-leha karena pekerjaan perempuan itu tidak ada beresnya.
 
Saat masa-masa ini begitu berat dan setiap hari seperti gelombang air laut yang naik dan turun, membuat saya sendiri merasa lelah dan jenuh sendiri.  Ingin sekali keluar dari lingkaran dramatis ini lalu terbebas dari perasaan yang tidak nyaman.  Saya ingin merasa bahagia dan bersemangat saat menghadapi situasi apapun.  Ingin terbebas dari sikap yang saban waktu berkecamuk, saya ingin menikmati diri, anak dan suami dengan sungguh-sungguh.  Saya butuh energi positif dan memberikan hari-hari kehidupan baru ini begitu indah untuk dijalani.  Akhirnya saya lari ke jalan, beli tabloid keluarga, majalah keluarga, kembali membaca buku yang saya beli, baca-baca di website untuk tabungan referensi sebagai ibu baru yang saban waktu berhadapan dengan masalah baru.  Bahan ini saya baca setiap lembarnya dengan hati-hati dan berdiskusi yang cukup intens dengan orang-orang yang memberi energi positif dan sebisa mungkin menghindar dari orang-orang yang penuh keluh kesah.  Ini kehidupan saya, saya berhak memperoleh kehidupan yang menyenangkan dan luar biasa.  Buku, majalah dan diskusi menjadi vitamin yang luar biasa ampuh, saya yakin ini merupakan pengaruh dari keinginan untuk keluar dari lingkaran emosional negatif.  Saya merasa beruntung lahir di era informasi yang bertebaran dimana-mana, terutama bagi ibu pemula seperti saya yang serba gagap dalam mengurus bayi.
 
Tak ada keinginan yang tidak tercapai selama kita berusaha mencari ilmunya dengan kesungguhan hati.  Energi itu akhirnya didapatkan, rasa semangat dan energi positif itu seakan menular pada hati bayi kami yang bersifat seperti sponge. Kesanggupanya menerima informasi dan energi dari lingkungannya begitu besar.  Lebih dari satu hingga dua bulan kalau tidak salah, kembali emosi positif saya dapatkan kembali. Bayi yang pemurung itu berubah menjadi penuh senyum, gemar berceloteh dan bergerak aktif.  Kuncinya: berdamai dengan hati, perasaan bersalah ini saya maafkan karena keterbatasan mental dan ilmu yang dimiliki.  Tak apa, kehidupan itu proses menempa diri berapapun usia dan pengalaman yang dimiliki selalu saja ada kasus baru untuk kita pahami, diolah sebagai bagian dari pondasi kehidupan yang luar biasa.  Kita tidak bisa menghidari masalah yang datang atau masalah yang kita undang sendiri, karena jika dibiarkan ia akan menjadi bola salju.  Membesar dan menggunung.  Persoalan ada di diri, berusaha terbuka, keluar dari kotak, mencari vitaminya dan menanamkan mental untuk bersikap secara proporsional.  Karena hidup seperti efek domino, sekecil apapun tindakan kita akan mempengaruhi orang-orang disekitar, lingkungan terdekat terutama keluarga.  Kita bisa melewatinya, karena perempuan memiliki hati yang luar biasa seperti tanah liat sangat mudah dibentuk.  Terbentuk indah dan kuat atau sebaliknya.  Sebagian besar perempuan paska melahirkan mengalami ini, so… you are not alone honey J.

Ima Rochmawati

2 comments:

  1. haha btul emaknya alif gitu ya, saya uda baca artikelnya tapi baru baca pengalaman pribadinya emak jadi keingeut lagih... keren!

    ReplyDelete
  2. Anonymous2:30 AM

    memang perjuangan seorang ibu tak pernah berhenti, sapai yang kuasa menghentikannya. ibu juga ternyata seperti komputer bisa multi tasking ( mengerjakan banyak tugas dalam satu waktu ) wah memang wanita ditakdirkan menjadi mahluk yang kuat....blues untuk ibu ...

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv