souvenir bikin hijau


Hari ini saya datang ke sebuah pernikahan teman suami. Berangkat setelah lewat shalat dzuhur merupakan waktu yang ditunggu-tunggu, karena dalam pikiran kami adalah siap-siap menyantap makanan enak. Kami datang dengan kostum yang seragam, baju andalan berwarna hitam termasuk anak kami yang baru 7,5 bulan kami pakaikan baju jumper hitam dengan tulisan “fuck beer drink milk”. Ketika keluar rumah rasanya keren sekali. Sampai di tempat pernikahan dan seperti biasa kami menulis daftar tamu, kami hanya di beri kartu ucapan lalu pagar ayu itu bilang: “Kartunya bisa ditukar dengan souvenir, bisa sekarang atau nanti pulangnya.” Pikir saya, apaan nih maksudnya. Rupanya souvenir itu berupa tanaman yang masih muda di dalam pot yang sangat mungil.
Ini adalah pengaman pertama yang unik, berikut seakan membius segala suasana menjadi tenang dan menginspirasi hidup. Datang ke pernikahan menjadi begitu berkesan dan mendapatkan pesan yang dalam. Lalu saya berfikir, ini bukan main-main. Ada sesuatu dibalik souvenir ini, misi yang dalam dan mampu memberikan kehidupan manusia yang lebih baik.
Bahkan ketika kami mulai bersalaman lalu makan makanan yang disajikan menjadi penuh keseimbangan, antara makanan dan kebutuhan tubuh, bercengkrama dengan teman-teman dan keseimbangan yang harus dijaga, asap rokok yang langsung terhisap oleh pepohonan yang mengelilingi bungalow itu. Sebuah simbolis pernikahan yang tepat.
Mengambil keputusan menikah seperti halnya menanam pohon. Pohon tumbuh perlahan-lahan, didukung oleh tanah yang subur, diberi pupuk, dipotong sani sini agar daunya lebih rimbun, disiram, jika ada hama maka dibuang. Begitu dan begitu berulang dan berulang seperti peputaran perawatan tanaman yang dijlaani dengan ketekunan dan kesabaran. Tanaman itupun tumbuh perlahan-lahan, sampai-sampai kita tidak sadar tanaman itu daunnya semakin subur, lebat, berbuah dan meninggi lalu memberikan kesuburan bagi tanah dan mengeluarkan oksigen yang segar bagi paru-paru kita. Alangkah senangnya anak-anak kita bermain diantaranya, sementara kita beryoga atau taichi sementara sekelompok yang lain berkumpul dan berdiskusi. Sebuah kehidupan romantis antara tumbuhan dan manusia. Betapa senangnya menjadi pohon yang bisa memberikan nafas jiwa yang tenang dan menyegarkan.
Menikah sudah seharusnya menjadi inspirasi dan saling mendorong agar pasangannya ada, hidup berkembang dan berubah menjadi lebih baik. Bukankah menikah itu agar hidup kita lebih berwarna, tenang, dan menularkan kasih sayang?

Ima Rochmawati

No comments:

Post a Comment

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv