COZY NIGHT, SOOOOO COZY

Sabtu malam, 28 Mei 2005 di Kopi Selasar Soenaryo yang tak terasa dingin menyentuh suasana hangat dengan warna-warna cempor kecil menghiasi sekaligus membatasi ruang menonton. Daun-daun kering memenuhi alas panggung menampung kicau gitar, dendang jimbe, drum atau semacam beduk besar, kendang, flute, kecrek, eksotiknya bunyi rebana, conga, harmonika dan mirisnya biola bergantian dari satu lantunan pada lantunan yang lain. Sementara layar putih terpampang lebar di bagian belakang sebagai sentuhan artistik yang memvisualkan pertunjukan dengan multimedia sehingga memperkuat karakter Cozy Street Corner yang terdiri dari tiga orang personil diantaranya Boby Priambodo, Christian Buana Takarbessy dan Petrus Briyanto Adi dalam acara Paparan Musikal Cozy Street Corner dengan tema Hutan Hujan “Detak Nadi Musik Bumi”.

Penonton memenuhi tempat duduk batu yang mempunyai perpaduan gaya panggung Roma namun lebih di sentuh gaya etnik, sambil menikmati snack dan kopinya yang khas membuat suasana akrab dan cair. Beragam orang dengan keanekaannya seakan tersihir terbawa kehangatan paparan musik Cozy Street Corner yang sangat membumi dan mempunyai warna berbeda dan membuat pendengarnya jatuh hati.

Mereka hadir dalam dua sesi dalam memainkan musik-musiknya. Pada sesi pertama yaitu sesi introduce mereka bermain dengan alat musik gitar akustik dimasing-masing pangkuan tiga personil tersebut namun nada yang keluar begitu hidup, riang, ringan dan begitu mudah diterima. Lalu diantara dua sesi tersebut diselingi dengan pembagian door prize berupa produk kosmetik dari Body Shop yang terkenal dengan pengolahan produknya yang ramah lingkungan dan tanpa animal tester alias pencobaan produk pada binatang yang seringkali dilakukan oleh beberapa perusahaan kosmetik. Sekian banyak penonton mendapatkan kenang-kenangan yang manis dari Body Shop yang dituntun secara enak oleh dua orang mc membuat suasana ringan dan menyenangkan.

Sesi kedua dilanjutkan lagi dengan beberapa musik lagi lalu diselingi dengan pengenalan WWF (World Wild Foundation) sebagai rekan kerja dalam mewujudkan acara ini. Dimana WWF membawa misi pencegahan dan perlindungan ekosistem hutan dari tangan-tangan manusia yang jahil. Tujuan utamanya yaitu melakukan perlindungan Mega-Biodiversity, fungsi ekosistem kawasan Heart of Borneo dan sumber kehidupan berdasarkan pemanfaatan berkelanjutan. Yeah… sooo COZY! Kerjasama WWF dengan CSC merupakan peraduan yang … pas sekali. CSC mampu menterjemahkan bahasa alam dalam susunan syair yang sederhana namun aransemen musiknya begitu cerdas sehingga menjadi hidup dan unik. Sehingga musik CSC menjadi melewati batas pendengar apakah itu anak kecil, remaja, dewasa menjadi satu kesatuan utuh manusia itu sendiri. Dimana jenis musiknya menghormati dan menyentuh titik-titik kecil kerinduan hati manusia yang tersembunyi oleh keangkuhan karakter manusia yang begitu ribet. CSC membawa kita jeli tehadap hal-hal yang kecil namun menggerakkan hati untuk menikmati hidup dengan “sederhana”. Seakan mengajak siapapun tanpa peduli ras yang berbeda untuk selalu membuka mata dan hati pada apapun.


Lagu-lagu yang dinyanyikan seperti I Miss You, Two Blocks Away, Melata Hati, Cinta, Siul daun, Me & Mr. Bumble Bee, Ingin Bercerita, Bulan dan Bintang, Ulat Bulu, Rangkum Jemari, Berlayar di Siang Hari, Delman, Dendang Bersahutan, Hutan Hujan, We Nana Na Yo, Punyaku Sendiri, Gayung Bersambut (Apa Iya…??) kolaborasi bareng Bonita yang memiliki suara sangat menarik lalu dilanjutkan dengan lagu Penuh Dengan Cinta, Kira Di Dada, saya nonton sampai mereka menyanyi ini karena waktu beranjat larut. Karya-karya Cozy Street Corner benar-benar membuat hati dan mata terbuka pada segenap karya semesta yang begini luar biasa.

Kebersamaan malam itu dengan CSC terkadang diselingi dengan perbincangan antar personil dan penonton dengan bahasa yang sederhana dan menyenangkan dalam mengantarkan pada musik berikutnya. Sesuai karakter musiknya, mereka begitu low profile dan mampu membangun suasana hangat dan matang. Sehingga kurang lebih 3 (tiga) jam penampilan mereka tak membuat diri beranjak dari peraduan malam. Betapa hangat dan menyenangkannya. Suasana hangat terbangun juga atas kerjasama penonton yang cukup antusias dan reaktif pada tiap-tiap lantunan nada. Kadang mengikuti ketukan lagu dengan tepuk tangan, gerak-gerak bahu, lentikan jari, menyanyi bersama, dan reaksi-reaksi spontan atas lagu-lagu CSC yang membawa kita pada beragam suasana.

Musik-musik mereka begitu detil dan enak dalam memainkan kata-kata dalam ketukan nada ditambah sentuhan alat-alat musik menyambung cita rasa tradisi. Alat-alat musik seperti flute, kendang, rembang, jimbe mampu mengantarkan sentuhan yang etnik namun terasa akrab dan mudah diterima. Disini CSC mempunyai jenis musik yang terasing dari jenis-jenis musik pada umumnya. Namun mampu juga mengasingkan pendengarnya sendiri dalam melihat “kehidupan” pada sudut pandang yang berbeda. Penikmat CSC seakan dicuri dari peradaban kota Bandung yang semakin semrawut dan rakus. Lalu diantara acara ini pula Komunitas Bebenah Bandung ikut meramaikan acara dengan membagikan bibit pohon ke penonton dan atusiasme penonton cukup bagus dalam menanggapinya.

Ada banyak cinta yang ingin disampaikan oleh CSC dari setiap karyanya. Cinta pada manusia, pasangan, binatang, alam semesta, pepohonan baik yang tersentuh maupun yang tak tersentuh oleh mata dengan gaya bahasa puitis yang sederhana dan ringan bahkan ada pula yang sangat naif. Beberapa lagu tak mereka mainkan bertiga saja, namun ada beberapa musisi tambahan. Musisi tambahan itulah yang memainkan alat-alat musik tradisi/akustik membuat ketukan musik berasa beragam dan kental . Para musisi tambahan itu diantaranya Bonita sebagai vocal perempuan dalam lagu Penuh dengan Cinta dan Gayung bersambut. Kang Harry Pocang memainkan Harmonika dalam lagu Tak Berarti dan Bunda Piara. Lalu di sesi introduce tiga remaja memainkan biola diantaranya Sisilia,Asti dan Bimo membuat suasana semakin terlena. Lalu decak kagumpun semakin riuh ketika beberapa lagu diiringi oleh permainan Barata Gusmao, Indra, Nelden saat memainkan percussion, kendang, rebana, conga, jembe. Seterusnya CSC terasa lelaki sekali karena personil backing vocal yang mengiringi beberapa lagunya terdiri dari lelaki semua diantaranya Hiram, Bernardus, Deo, Michael, Delfitri Said, Bisma, Roby, Johan, David, Iman.

Sayang, saya tak menikmati CSC sampai akhir. Tapi walaupun begitu saya sangat puas dan tidak berasa rugi beli tiket masuk senilai Rp 22.500,00. Selain itu uang tiket itu juga dipergunakan untuk menyumbang aktifitas peduli lingkungan hidup (saya harap saya dapat memberikan lebih … ).

Open Your Heart, Eyes, Ear, Hand To Be Cozy, Be Calm and Wonderfull Life !!!

Ima Rochmawati

2 comments:

  1. rupanya ibu ima terbuai sama paparan kemarin yaks? bikin reviewnya sampe dua kli bow... hehehe ;-)

    ReplyDelete
  2. Anonymous2:42 AM

    matakubesar.blogspot.com is very informative. The article is very professionally written. I enjoy reading matakubesar.blogspot.com every day.
    cash advance
    payday loans in canada

    ReplyDelete

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv