PENTAS MONOLOG

PENTAS MONOLOG semakin menggeliat dimana-mana. Pentas dilangsungkan oleh kelompok teater umum sampai kelompok teater kampus. Bentuknyapun macam-macam dari pertunjukan realis sampai absurd dari kolaborasi sampai pertunjukan yang benar-benar tunggal dengan kemasan yang cukup menarik.
Kenapa harus MONOLOG?
Seakan lelah dengan konsekuensi kerja kolektif yang biasa di lakukan dalam menciptakan pertunjukan teater dengan melibatkan banyak pemain. Atau ingin menunjukan jati diri kemampuannya berakting karena selama ini selalu berating dengan karakter yang terbatas? Kalau dia bukan pemain inti barangkali sekian persen lebih banyak dari kemampuannya berakting tertutupi mengingat dialognyanya sedikit. Atau mungkin kesulitan untuk main dengan kelompok teater kenamaan. Atau hanya kebetulan saja, sebuah kelompok teater yang ingin mengeksistensikan diri dalam sebuah komuni seni dengan menarik para aktor dari berbagai kelompok. Ya, atau seakan "orang-orang" ini digiring mempunya "ide' yang sama untuk mensosialisasikan pertunjukan monolog. Bedanya, siapa yang cepat! dia yang mempunyai ide! siapa yang mementaskan di ruang yang lebih bernama! ia yang mempunyai nama!
MONOLOG sebuah pertunjukan menarik. Kita dapat menikmati pertunjukan itu jika pemain dapat memetakan tokoh yang ia perankan berikut tokoh-tokoh yang berada disekeliling tokoh itu. Sehingga seorang pemeran harus memerankan beberapa tokoh yang dapat menjadi sumber konflik dalam jalur cerita. Bayangkan, kamu bisanya memainkan satu tokoh dengan satu karakter itupun diberi kekuatan situasi oleh lawan main anda. Untuk bermain monolog kamu dituntut untuk memunculkan suasana sendiri dengan waktu yang cukup panjang sehingga penonton "deal" dengan permainan yang kamu sajikan. Berbagai karakter dengan kemungkinan latar belangkang yang berbeda pula tentunya suasana hati yang berbeda.
Barangkali ini merupakan salah satu alasan lain pula untuk para pemeran untuk bermain sendirian atas proses yang pernah dilewatinya. Atau bisa jadi sebagai sebuah langkah eksperimen diri atas eksistensi yang telah ia lewati.

Ima Rochmawati

No comments:

Post a Comment

Silakan meninggalkan pesan, masukan atau apapun. Terima kasih untuk apresianya. adv